
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjam tanpa izin
Ide cerita asli milik thor yang terinspirasi dari pengalaman pribadi
Genre : guru, murid, cinta, persahabatan
Pair : sasufemnaru and others
Sifat para tokoh beda dari versi anime dan terkadang ooc
Banyak typo meski telah diedit
Happy reading
Di depan layar ponsel yang sedang menampilkan video anime Touken Ranbu, seorang gadis bersurai pirang yang dikuncir kuda masih betah dalam posisi duduknya. Ponsel yang dari setengah jam lalu ia pegangi tak berniat ia lepaskan dari genggamannya. Terkadang ia menjeda video yang ia tonton. Lalu membuka galeri yang berisi ribuan foto anime, idola dan dirinya sendiri bahkan baru - baru ini galeri di ponselnya telah dipenuhi oleh penghuni lain. Maksudnya gambar lain.
Beberapa hari lalu, Gaara dan Sakura mengirimkan beberapa foto dan video via whatsapp. Foto dan video di kolam renang 2 minggu lalu. Kebanyakan foto gurunya dan dirinya. Ada foto di saat ia hendak jatuh ditolong sang guru, lalu diajari berenang, makan bersama bahkan foto sesaat sebelum pulang saja juga ada. Teman - temannya benar - benar kurang kerjaan. Tapi Naruto bersyukur. Ia jadi punya kenang - kenangan manis bersama teman - temannya terutama guru kesayangannya. Seorang pemuda yang ia sukai secara diam - diam.
Ketika sedang asyik melamun, suara ketukan pintu kamar mengejutkan dirinya. Naruto terkejut. Ia segera membuka pintu. Ternyata orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah tiga teman perempuannya, yakni Ino, Hinata dan Sakura.
"Halo..Naruto.." sapa ketiga gadis berbeda surai dan kepribadian itu.
"Halo. Ayo masuk," ucap Naruto. Ia masih terkejut tapi juga senang ada yang berkunjung ke rumahnya.
Ino, Hinata dan Sakura pun memasuki kamar Naruto. Sakura takjub melihat isi kamar Naruto. Ia dapat melihat beberapa poster jumbo idola favorit Naruto yang tertempel di dinding. Kamar khas seorang otaku.
"Wow. Tak ku sangka kamarmu benar - benar otaku sekali, Naru!" ucap Sakura. Ia tidak tahu harus kagum atau apa terhadap teman maniak animenya itu.
"Segini mah masih mending. Dulu mah parah banget. Setelah patah hati, si dango malah pacaran sama karakter 2 dimensi ," tambah Ino bermaksud mengejek dan becanda.
"Apa?!" seru Sakura terkejut. "Benarkah itu, Naruto?"
"Bohong. Masa iya aku pacaran sama karakter anime? Gak bisa dijadikan pacar beneran. Meski aku gulingku sarungnya gambar karakter anime. Hehe," bantah Naruto sebari tertawa garing.
Sakura sweatdrop. 'Sama aja kali,' batin Sakura.
Mereka duduk di atas karpet. Sementara sang pemilik kamar duduk di atas tempat tidur.
"Kalian mau minum apa? Aku ambilin ya. Tunggu bentar," ujar Naruto. Ia kemudian ke luar dari kamar menuju dapur. Ino dan kedua temannya malah asyik membaca diary Naruto. Bukan diary, tapi hanya catatan biasa yang isinya tentang teme sensei. Berarti Naruto sudah menyukai wali kelasnya dari dulu. Hanya saja ia tidak berani mengaku. Makanya ketiga teman baiknya ditambah dengan pasangan masing - masing akan menyembuhkan patah hati Naruto yang belum bisa move on dari teman SMPnya.
Cekrek. Naruto membuka pintu. Ino segera meletakkan catatan yang tadi dibaca ke tempat semula.
"Silakan diminum semuanya. Pasti di luar panas banget. Kebetulan kemarin kaasan bikin keripik ubi ungu. Jadi ini cemilannya. Harus dimakan," ucap Naruto. Ia membawa 4 gelas minuman, 1 botol sirup dan satu wadah besar keripik ubi ungu hasil kebun ibunya.
"Beres. Soal makanan mah pasti dimakan," jawab Sakura tanpa merasa malu ia meminum sirup yang Naruto bawa dan mencicipi keripik ubi itu. "Enak."
Ino dan Hinata juga mengikuti Sakura. Naruto diam memerhatikan kegiatan makan ketiga temannya.
"Oh iya. Kalian ke sini pasti ada perlu. Apa ada yang bisa ku bantu?" tanya Naruto masih dengan sikap ramahnya.
"Ya memang ada. Kami mau ngebahas rencana 3 hari mendatang." jawab Hinata.
"Memangnya ada acara apa 3 hari lagi? Festival kembang api kan minggu depan." ujar Naruto. Kemudian ia melihat ke kalender. "Ooh malam minggu. Pantas saja. Kalian yang udah punya pasangan mah enak bisa malam mingguan. Lah aku yang masih jomblo. Sendiri di kamar ditemani para husband khayalan." lirih Naruto. Meratapi nasib seorang jones di sudut kamar.
Ino, Sakura dan Hinata sweatdrop atas kelakuan si gadis pirang itu.
"Makanya, tembak tuh si guru tampan. Terus jadian. Gak jomblo lagi deh." ujar Ino.
"Dan patah hati lagi? Ogah." bantah Naruto memutar mata.
"Kamu tuh dobe banget ya. Harusnya tuh kamu tahu." sambung Ino. Ia gemas pada kepolosan Naruto yang melebihi batas.
"Tahu apa? Si teme sensei suka sama aku karena ngasih perhatian lebih? Ayolah. Aku gak mau salah paham. Yang ada aku gak bakal bisa sama - sama lagi dengan si guru ayam itu. Kan jadi canggung." ujar Naruto. Ia malah bingung sendiri.
Sakura ingin memukul dinding kamar Naruto. Ia juga gemas ketika mendengar apa yang baru saja Naruto katakan.
"Ya sudah. Sabtu nanti kamu harus mastiin perasaanmu pada Mr. Sasuke. Jangan sampai menyesal. Ok. Aku kesal ngelihat kamu yang tersiksa sama masa lalumu itu!" seru Ino. Ia meluapkan semua yang ingin ia katakan.
"Memangnya Sabtu nanti ada apa? Apa hari penting?" beo Naruto. Ke luar lagi oonnya.
"Hari ulang tahun gebetan kamu, Naru dobe dango😣. Masa kamu lupa?" jawab Ino yang kesal pada Naruto.
Naruto tersentak. Ia lupa pada ulang tahun guru ayamnya itu. Ia belum beli hadiah. Ia jadi panik sendiri sampai melupakan keberadaan ketiga temannya.
"Stop, Naruto! Jangan bolak balik kayak nungguin kocokan arisan dong. Pusing lihatnya." ujar Sakura.
"Kita ke sini buat ngebahas hal itu. Mengenai ultah Mr. Sasuke." tambah Hinata.
Naruto yang tadi panik langsung tenang dan duduk menyandar di bahu Sakura.
"Kita harus membuat hari ulang tahun guru kita tahun ini lebih berkesan bahkan kalau perlu paling berkesan." ujar Ino.
Naruto berpikir sejenak. "Hm..apa ya yang bisa membuat teme sensei terkesan plus bahagia?" Naruto berpikir keras namun jawaban tak kunjung muncul. "Aku nyerah. Aku udah sering jadi asisten dia tapi gak tahu apa yang ia suka selain tomat dan ngejahili aku."
Ino, Sakura dan Hinata sweatdrop lagi. Mereka berpikir kalau Naruto hanya pintar soal pelajaran saja. Dalam perasaan dan cinta, ia masih nol.
"Mr. Sasuke suka manis gak?" tanya Ino pada Naruto.
"Nggak. Ia kalo ngopi juga ngopi item tanpa gula kayak mbah dukun." jawab Naruto. Ia ikut memakan cemilan dan duduk di antara teman - temannya.
"Terus kalo bukan kue ultah, kita bikin apa?" tanya Sakura. "Pantas saja coklatku dibuang." tambah Sakura.
"Bikin nasi tumpeng aja. Kayaknya teme sensei suka." ujar Naruto. Ia tiba - tiba mendapat ide.
"Boleh juga tuh." tambah Sakura.
"Aku setuju." tambah Hinata.
"Aku juga. Kita tinggal kabari Gaara dan yang lain untuk melancarkan rencana kita." sambung Ino. Kemudian ia mengirim pesan pada Gaara.
Jadilah mereka membuat nasi tumpeng dengan beraneka ragam toping untuk wali kelas tercinta mereka.
🍥🍡🍅🍥🍡🍅🍥🍡🍅🍥🍡🍅🍥
Tiga hari kemudian.
Hari yang dinanti - nanti telah tiba. Naruto telah bersiap - siap untuk pergi ke rumah pemuda pujaan hati. Wajahnya memerah saat ia melihat pantulan dirinya di cermin. Rasa percaya dirinya menghilang. Ia takut. Takut cintanya bertepuk sebelah tangan. Apa ia bisa menghadapinya? Apalagi ia selalu bersama guru ayamnya itu tiap sepulang sekolah. Ia tidak mau hubungan yang terjalin antara dirinya dengan sang guru pupus begitu saja. Ia sudah merasa nyaman dengan keadaannya saat ini meski terkadang ia cemburu jika ada siswi lain yang memasuki ruang guru untuk bertemu guru tampannya.
Naruto menghela nafas panjang. Sekarang ia tidak boleh mundur. Lagipula ia tidak berniat untuk menyatakan perasaannya pada wali kelasnya, Sasuke. Ia hanya berkunjung bersama teman - temannya ke kediaman wali kelasnya untuk memberikan kejutan ulang tahun. Tapi ia ingin tampil memukau dan berbeda saat bertemu dengan guru ayamnya.
Naruto pun ke luar dari kamar. Ia sudah ditunggu oleh ketiga teman perempuannya, Ino, Hinata dan Sakura. Nasi tumpeng telah siap. Mereka dijemput oleh mobil kakak sulung dari guru mereka, Uchiha Itachi dengan mobil. Tidak mungkin mereka membawa nasi tumpeng naik bus apalagi naik ojek online.
Mereka pun tiba di depan sebuah rumah yang sederhana tidak kecil dan tidak besar.
"Apa benar ini tempat tinggal Mr. Sasuke?" tanya Sakura pada Ino.
"Tidak tahu. Mungkin benar." jawab Ino.
Mereka turun satu per satu dari dalam mobil. Gaara, Sai dan Shikamaru juga ikut serta. Meski pada awalnya Shikamaru ingin menghabiskan waktu seharian di rumahnya untuk tidur.
"Ini kediaman Sasuke sekarang. Ia tinggal seorang diri." jelas Itachi.
"Ooh." Naruto dan kawan - kawan beroh ria.
"Kalian masuklah. Aku harus pergi." ujar Itachi setelah mengantar ketujuh murid kesayangan adik bungsunya.
"Itachi - nii tidak ikut acara kami?" tanya Naruto. "Sayang sekali lho."
"Lain kali saja. Ada urusan bisnis yang harus diselesaikan hari ini juga." jawab Itachi. Kemudian ia mengusap kepala dango Naruto. "Aku titip adikku padamu ya, Naruto - chan."
"A..i..iya.." jawab Naruto sebari menyentuh kepala dangonya.
"Selamat bersenang - senang, anak muda! Bye bye!" seru Itachi sebari melambaikan tangan pada Naruto dan kawan - kawan.
"Bye." balas semuanya.
Naruto berdiri termenung. 'Kok rasanya beda ya pas kepalaku diusap sama Itachi - nii dan teme sensei. Belaian Itachi - nii lebih mirip kasih sayang dari kakak ke adik. Andai aku punya kakak, aku ingin Itachi - nii yang jadi kakakku.' Naruto bermonolog dalam hati.
Tanpa Naruto sadari, teman - temannya sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah wali kelas mereka. Naruto ditinggal seorang diri.
"Hei! Jangan tinggalkan aku!" seru Naruto. Ia berjalan cepat menuju teras depan rumah wali kelasnya.
"Aku pikir ada apa. Pagi - pagi sudah ribut begini." ujar Sasuke membukakan pintu.
"Happy birthday to you, Mr. Sasuke!" seru teman - teman Naruto minus dirinya. Ia berdiri di belakang temannya.
"Hn?" gumam Sasuke. "Masuklah."
Semuanya masuk. Sasuke menoleh ke arah Naruto. Seperti biasa penampilan Naruto selalu terkesan imut dan manis. Mungkin karena ia pendek jadi tidak terkesan dewasa.
"Apa kau tidak mau masuk, dobe?" tanya Sasuke yang langsung membuat si gadis pirang terkejut. Sasuke berjalan mendekati Naruto yang masih berdiri mematung. "Teman - temanmu yang lain sudah di dalam." ujar Sasuke sebari memegang surai panjang Naruto dan menciumi baunya. "Wangi seperti biasa. Hn?"
"Ah..te..teme sen..sei. A..apa yang sedang kau lakukan di luar?" Naruto tidak bisa berbicara lancar. Padahal ia hendak mengucapkan selamat ulang tahun. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus.
"Kau tidak mau mengucapkan selamat ulang tahun padaku dan memberikan hadiah, hn?" tanya Sasuke dengan pandangan yang tak bisa Naruto cerna.
"Oh iya. A..aku lupa. " jawab Naruto. Ia segera mengambil sebuah bingkisan untuk diberikan kepada guru tampannya itu. "Happy birthday to you, Mr. Aku harap semua keinginan Mr terkabul. Ini kado dariku. Maaf jika tidak bernilai." ucap Naruto. Ia melupakan rasa gugup yang semakin menjalar di tubuhnya. Ia memberikam bingkisan itu kepada Sasuke dengan tangan gemetar.
"Thanks, Naruto." balas Sasuke. Ia menerima hadiah dari Naruto. Bukan cuma hadiah tapi ia malah menarik tangan Naruto dan sontak si gadis pirang yang sedang menormalkan detak jantungnya itu tertarik dan jatuh ke pelukan sang guru tampan itu. Seakan - akan ada magnet yang menarik tubuh mungil Naruto.
"A...aaah..!" seru Naruto yang kagetnya setengah mati.
"Aku ingin hadiah spesial darimu, dobe. Biarkan aku memelukmu meski hanya beberapa detik." ucap Sasuke yang lancang memeluk si gadis pirang dango tanpa izin.
Naruto mematung. Bukan hanya wajahnya yang merah tapi seluruh tubuhnya memerah dan panas bagai terbakar api. Api asmara.
Kedua tangan Naruto membalas pelukan dari sang guru padahal dalam pikirannya ia menolak. 'Ke..kenapa jadi begini? Apa yang harus ku lakukan? Si teme sensei malah memelukku. Aaargh!' teriak Naruto dalam hati. 'A..apa..teme sensei juga menyukaiku? Tapi kenapa dia tidak pernah bilang sih? A..aku jadi baper sendiri. Doshiyou.. ' batin Naruto. Ia merasa senang tapi juga menderita. Ia tipe gadis yang tidak mudah disentuh oleh lelaki lain. Pergerakan Sasuke yang begitu cepat membuat Naruto tidak bisa menghindar. Jadi dia nikmati saja. Hanya dipeluk jadi tidak apa - apa.
"Naruto, sebenarnya aku..." ucap Sasuke yang terdengar aneh di telinga Naruto. Ia berbicara tidak seperti biasanya. Ada rasa gugup ketika mengatakannya. Ekspresi wajahnya juga berbeda. Naruto semakin penasaran.
'A..apa..te..te..teme sensei mau nembak? Iie iie iie. Uso da. Masa sih mau nembak. Kyaaa.' batin Naruto bergejolak.
"Aku su.."
"Hei!! Kapan mau mulai acaranya? Udah pada lapar nih!" seru Ino yang muncul dari dalam dan nongol di balik pintu. "Eh? A..aku ganggu ya." Ino nongol dari balik pintu.
Sasuke dan Naruto segera melepaskan pelukan mereka. Semburat merah masih tampak di wajah mereka.
__ADS_1
"Hn. Ayo masuk dobe. Mereka sudah menunggu kita." ajak Sasuke dengan nada datar seperti tidak terjadi apa - apa.
"I..iya." jawab Naruto. Ia berjalan di belakang Sasuke. 'Mungkin yang tadi itu mimpi. Atau aku terkena mangekyou sharingannya sensei deh.' monolog Naruto dalam hati. Makin ngawur pikiran Naruto akibat dipeluk oleh pemuda idamannya.
'Ck....padahal tinggal sedikit lagi.' batin seseorang meratapi nasib.
Naruto dan kawan - kawan sudah berkumpul di dalam rumah guru mereka, di ruangan yang sangat pas - pasan untuk mereka berdelapan. Duduknya berdempetan membentuk lingkaran seperti orang yang sedang berkumpul mengelilingi api unggun. Posisinya Ino - Sai, Hinata - Shikamaru, Sakura - Gaara, Sasuke - Naruto dan Ino. Ada yang tidak rela gadisnya duduk menempel dengan laki - laki lain(udah tahu kan orangnya siapa?)
"Nah..ini dari kami, Mr. Nasi tumpeng ala four princess Konoha." ujar Sakura. Ia meletakkan nasi tumpeng di tengah - tengah mereka.
"Hn. Thank you." balas Sasuke tanpa ekspresi tapi sebenarnya ia merasa senang. Semua ekspresinya hanya ia perlihatkan pada Naruto seorang.
"Acara ulang tahun kan harus ada lilin." ujar Sai dengan senyum palsunya.
Naruto merogoh isi tasnya. Ia mengeluarkan dua buah lilin dengan angka 2. "Ini. Aku udah beli kemarin." ujar Naruto. Ia menyerahkan lilin kepada Ino tapi Ino menolak. Sasuke pun mengambil lilin berbentuk angka 2 yang Naruto bawa.
"Mau tancepin di mana lilinnya?" tanya Sakura.
"Lupa gak bawa kuenya." tambah Ino.
Sasuke beranjak dari duduknya menuju ruangan lain. Tak berselang lama ia datang sebari membawa sebuah kue tart berwarna coklat atau biasa disebut kue black forest.
"Ini ada kuenya." gumam Sasuke. Ia pun menancapkan kedua lilin berbentuk angka 2 di atas kue.
"Semuanya nyanyi selamat ulang tahun ya!" ajak Ino.
Dan semua tamu a.k.a para murid Sasuke menyanyikan lagu ulang tahun untuk guru mereka. Sasuke merasa aneh dan konyol. Ia seperti seorang guru tk yang sedang merayakan pesta ulang tahun bersama murid tknya.
Tiba di saat meniup lilin. "Mr. Make wish!" seru keempat gadis a.k.a Naruto, Ino, Sakura dan Hinata. Sasuke pun menutup kedua matanya kemudian berdoa dalam hati. Beberapa orang bisa menebak apa doa yang sedang guru mereka panjatkan. Kecuali Naruto yang pikirannya polos.
Sasuke pun meniup lilin yang bertuliskan angka 22. Dia baru berumur 22 tahun tapi sudah menjadi guru. Namanya juga orang pintar. Jadi apa saja juga bisa.
Sakura menyerahkan pisau pemotong kue dengan piring kertas tempat menaruh potongan kue pertama. Tanpa pikir panjang, Sasuke segera memotong kue ulang tahunnya. Naruto bertanya - tanya dalam hati, bukannya gurunya tidak suka kue yang manis? Mungkin ibunya yang mengirimkan kue itu.
Potongan kue pertama jatuh kepada jejreeeeeng tentu saja gadis pirang berkepala dango yang tak lain adalah Naruto.
"U..untukku, Mr?" beo Naruto. Wajahnya merona.
"Hn." jawab Sasuke.
Sebelum Naruto mengambil kue yang ada di piring kertas, tangan sang guru dengan lihai mengambil sepotong kue itu dan menyuapinya ke arah mulut Naruto. Karena Naruto tukang makan, mulutnya otomatis akan terbuka saat disuapi makanan.
Sasuke tersenyum puas. Naruto mengunyah kue yang Sasuke berikan dengan rasa malu dan grogi karena ia lengah. Teman - teman Naruto yang lain serasa jadi nyamuk.
"So sweet.." gumam Sakura dan Ino.
Naruto memalingkan wajah dari sang guru. Ia malu dan juga kesal namun sang guru malah menyeringai bahagia. Gaara dengan cekatan mengambil foto mereka. Tangan Gaara memang sudah siap memegang kamera. Kamera yang Itachi pinjamkan khusus mengambil gambar di acara ulang tahun adik bungsunya itu.
"Sekarang kita potong nasi tumpengnya ya." ujar Ino dengan penuh semangat. Sasuke juga bertugas memotong puncak nasi tumpeng. Dan lagi ia memberikan potongan pertamanya pada Naruto. Naruto sudah tidak kuat. Ia ingin kabur karena jantungnya sudah berdebar lebih kencang.
"Suapi aku." ujar Sasuke terkesan memerintah.
"Eh?" beo Naruto. Sakura berbisik pada Naruto untuk menyuapi gurunya dengan nasi tumpeng yang diberikan padanya. Naruto paham tapi ia masih gugup dan malu harus menyuapi bayi besar berkepala ayam berbulu raven itu.
"Ok. Nah..aaam.." ujar Naruto menyuapi sang guru manja itu. Sasuke memakan sesuap dari potongan nasi tumpeng yang dibawakan oleh para muridnya. "Enak." gumam Sasuke. "Kau yang bikin nasi dan topingnya kan?"
"Bu..bukan. Kami berempat yang bikin." jawab Naruto yang sudah malu.
Semua gadis yang ada di tempat tersenyum seketika. Pembuatan nasi tumpeng berhasil.
"Kalian makanlah!" perintah sang guru a.k.a Sasuke. Ia duduk diam di samping Naruto yang sedang asyik makan sisa potongan nasi tumpeng di piring tadi.
Para gadis memotong bagian nasi tumpeng dan menaruh toping di atas potongan tumpeng lalu memberikannya kepada pasangan mereka masing - masing yang sesuai dengan tempat duduk mereka.
Naruto melirik teman - temannya. Semuanya beradegan layaknya pasangan kekasih. Naas baginya yang masih jomblo dan seorang diri. Orang di sampingnya juga jomblo. Ia menoleh ke arah Sasuke yang duduk di sampingnya.
"Apa?" tanya Sasuke dingin dan datar.
Naruto bertanya dalam hati. Ke mana perginya gurunya yang tampan, baik dan romantis seperti tadi. Sepertinya ia memang bermimpi saat menyadari sikap Sasuke yang dingin kembali.
"Tolong ambilkan." gumam Sasuke pada Naruto.
Naruto menoleh. "Ambil apa?" tanya Naruto.
"Aku juga lapar. Orang yang ulang tahun juga ingin makan. Jadi ambilkan untukku, dobe!" perintah Sasuke mutlak.
"Ooh. Ok. Aku ambilkan." jawab Naruto yang selalu patuh pada perintah Sasuke.
"Istri idaman." gumam Sasuke yang hampir tak terdengar oleh telinga Naruto.
Naruto pun melakukan apa yang Sasuke perintahkan termasuk Sasuke yang minta disuapi meski awalnya Naruto menolak. "Kenapa gak makan sendiri aja? Teme sensei kan punya tangan." ujar Naruto. Ia merasa kesal atas tingkah sang guru tapi ia tetap melakukan perintahnya.
Sasuke menunjuk kepada pasangan lain yang merupakan keenam anak didiknya sendiri. "Sekarang aku yang ulang tahun jadi aku bebas minta apa saja. Ok." ucap Sasuke sukses membuat Naruto naik darah. "Huh. Dasar.". Sasuke tersenyum puas.
Naruto menyuapi guru tampannya dengan perlahan. Ia harus bisa menormalkan detak jantungnya yang selalu berdetak lebih cepat. Bagaimana tidak demikian, Sasuke memberikan tatapan tajam dan aneh bagi Naruto. Seperti ingin melahap gadis pirang itu.
"Kau juga makan. Aku tidak mau kau kelaparan, dobe." ujar Sasuke dengan lembut.
"Eh? Nanti saja." tolak Naruto.
"Kita makan berdua. Tidak ada penolakan!" titah Sasuke terkesan memaksa.
Kegiatan makan pun selesai. Naruto dan Sakura yang mencuci peralatan bekas makan yang kotor. Mereka sudah berada di dapur rumah Sasuke.
"Ne, Naruto. Apa yang terjadi ketika di luar tadi?" tanya Sakura memulai percakapan. Ia mengelap piring bersih yang telah Naruto cuci.
"Tidak terjadi apa - apa. Dia cuma meluk." jawab Naruto tanpa minat untuk menjawab. Ia merasa aneh setelah kejadian di luar rumah Sasuke tadi. Perasaannya begitu sensitif dan tidak tahu harus bagaimana.
"Ooh. Semangat ya. Aku ke dalam dulu. Nanti ke sini lagi. Jangan sedih." ujar Sakura menyemangati Naruto.
"Siapa yang sedih? Cuma aneh saja. Tiba - tiba sikapnya hangat, lembut dan beda. Eh kembali lagi ke sifat aslinya yang egois." gumam Naruto kesal. "Maunya ayam itu apa sih?! Ku potong rambutnya baru tahu rasa."
"Memangnya kau berani memotong rambutku?" ejek seseorang yang sedang Naruto bicarakan.
Prang. Tak sengaja Naruto menjatuhkan piring ke lantai karena terkejut. Ia segera memungut serpihan piring yang pecah. Jari manisnya terkena serpihan piring dan berdarah.
"Aw. Aku sungguh ceroboh." gerutu Naruto tanpa memedulikan kehadiran Sasuke. Sasuke segera meraih jari manis Naruto yang berdarah dan segera membawa dan mencucinya di wastafel. Naruto patuh saja saat diperlakukan seperti itu. Ia merasa hatinya dicubit dan berbunga - bunga.
"Hati - hati, dobe. Biar aku saja yang membereskan sisanya. Cepat obati lukamu. Ada kotak p3k di kamarku. Pakai plester juga. Jangan tidak. Ok!" titah Sasuke. Naruto mengangguk. Ia segera masuk ke kamar Sasuke tanpa rasa malu.
Ketika ia masuk ke kamar sang guru, ia segera mencari kotak p3k. Ia mengamati keadaan kamar sang guru yang tampak bersih, nyaman dan wangi. Tempat tidurnya juga rapih. Ia bergegas ke luar dari ruang kamar Sasuke.
Teman - teman Naruto sedang asyik dengan kegiatan mereka masing - masing. Shikamaru tengah tidur di atas paha Hinata. Naruto merona sendiri ketika melihat adegan Shikahina tapi Hinata santai saja. Ia malah tengah sibuk memainkan ponsel milik kekasihnya. Ino dan Sakura sedang berselfi ria berdua. Sai membaca novel. Mungkin novel milik guru mereka. Gaara sedang memainkan gitar. Naruto mendekati Gaara.
"Ne, Gaara. Gitar siapa?" tanya Naruto ingin tahu. Ia duduk di dekat Gaara.
"Milik kakaknya Mr. Sasuke." jawab Gaara sebari memetik senar gitar yang mengeluarkan bunyi khas gitar.
"Mainin satu lagu dong." pinta Naruto.
"Hm. Boleh. Mau lagu apa? Kamu pasti pengen lagu soundtrack anime." balas Gaara.
"Itu kamu tahu. Hehehe." sambung Naruto tertawa.
"Aku hanya bisa sedikit ya. Kamu yang nyanyi," ujar Gaara.
"Gak. Aku nggak bisa nyanyi," tolak Naruto.
"Terus? Aku yang nyanyi?" tanya Gaara. Naruto mengangguk. "Ok. Untung ini bukan lagu cinta."
"Lagu apa aja. Aku jadi serasa bernostalgia," gumam Naruto. Ia terlihat mengingat suatu hal. "Di zaman SMP, siswa yang pandai main gitar itu keren lho. Aku saja selalu terbius kalau dia main gitar sambil nyanyi." tambah Naruto.
Gaara penasaran lalu bertanya. "Siapa? Mantan pacarmu? Bukannya kamu gak pernah pacaran?"
"Emang belum. Kalau suka mah pernah. Dia cinta pertamaku. Nggak tahu kenapa aku selalu terpesona tiap dia nyanyi dan main gitar. Ah..jadi kangen." jelas Naruto. Tanpa ia sadari aura hitam pekat yang sangat gelap terpancar dari seseorang yang sedari tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan dirinya dan Gaara.
"Jadi, mainin satu lagu ya, Gaara." Naruto masih meminta tanpa sadar situasi. Sakura yang tahu keadaan segera menepak bahu si gadis pirang itu.
"Gaara, nyanyiin buat aku ya. Naruto biar Mr. Sasuke saja yang nyanyi." ujar Sakura dengan nada manja yang membuat muka Gaara merona. Naruto segera menoleh ke belakang. Sasuke sudah berdiri di belakangnya dengan rasa yang tidak Naruto pahami.
"Eh, Mr. Sudah beres - beresnya. Thanks ya buat plesternya." gumam Naruto tersenyum ke arah Sasuke. Namun Sasuke hanya diam tapi langsung mendudukkan diri di samping Naruto. Naruto mengendikkan bahu. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada guru tampannya itu. Padahal semua temannya mengerti apa yang sedang guru mereka rasakan saat ini. Cemburu. Satu rasa yang tidak pernah dialami dan ditujukan pada gadis dango itu.
Gaara pun memainkan gitar sebari bernyanyi duet dengan Sakura bak penyanyi dangdut H. Rhoma Irama dengan Rita Sugiarto. Suara keduanya sama - sama merdu.
Sai hendak mencoba memainkan gitar namun Ino melarangnya. Ino tahu bahwa suara Sai tidak cocok untuk bernyanyi a.k.a sumbang. Jadilah gitar itu diambil alih oleh Sasuke.
"Mr bisa main gitar?" tanya Naruto.
"Hn." jawab Sasuke singkat.
"Oh bisa. Coba buktiin." tantang Naruto dengan senyuman mengejek pada Sasuke.
"Ok. Tapi dengan satu syarat." balas Sasuke. Ia memasang ekspresi seperti hendak bertarung.
"Apa?" tanya Naruto tak kalah sinis.
"Kau harus mendengarkan lagu ini. Simak baik - baik. Jangan memotong lagu yang sedang ku bawakan." jelas Sasuke.
"Ok. Cuma itu? Kirain disuruh nerjemahin lagu." balas Naruto.
"Hn. Lagu ini khusus untukmu, Naruto. Jangan kabur saat aku mainkan lagu ini." jawab Sasuke dengan nada serius.
"Iiiya...asal jangan lagu serem atau lagu sedih. Nanti aku nangis. Hehe." ujar Naruto. Ia mengeluarkan ponselnya. "Rekam ya. Lumayan buat antivirus." ejek Naruto yang langsung dihadiahi jitakan di kepala dangonya oleh Ino dan Sakura. Jitakan ganda. Naruto hanya mengelus kedua dango di kepalanya. Hinata tersenyum maklum. Sai ikut memerhatikan permainan gitar Sasuke. Shikamaru terjaga meski belum bangun dari pangkuan Hinata. Gaara juga merekam aksi Sasuke yang terbilang langka.
Guru muda itu pun memulai permainan gitarnya. 🎶Treeeng. Suara senar gitar yang dipetik. Naruto memasang kedua telinganya dan ekspresinya sangat serius sampai membuat teman - temannya tertawa.
🎶Hadirnya dirimu
Berikan suasana baru
Kau mampu tenangkan aku
Di saat risau dalam hatiku
'Sepertinya guru ayam itu sudah memulai.' batin Shikamaru. Meski matanya tertutup, ia bisa mendengar dan merasakan lagu yang gurunya bawakan.
"Kau benar, Shika - kun." bisik Hinata tepat di telinga Shikamaru.
🎶Lembutnya sikapmu
__ADS_1
Meluluhkan hati ini
Terbuai aku terlena
Oleh dirimu
Oleh dirimu
Jantung pun bergetar
Saat engkau ada di dekatku
Mungkinkah diriku telah jatuh cinta
Pada dirimu
Detak jantung si gadis pirang dango bertambah cepat. Wajahnya sudah merona sampai ke telinga. Ia jadi gugup dan malu. Yang tadinya ia terus memandang wajah sang guru dengan tatapan menantang dan meremehkan langsung luluh. Ia jadi tidak bisa duduk tenang. Ia ingin kabur. Tidak tahan dengan aura yang gurunya pancarkan.
🎶Sebisa diriku
Mencoba untuk melupakanmu
Namun 'ku tak bisa
Kau pun selalu ada dalam hatiku
Dan biarkan semua
Mengalir apa adanya
Kuyakin kau pun pahami
Perasaanku
Perasaanku
Jantung pun bergetar
Saat engkau ada di dekatku
Mungkinkah diriku telah jatuh cinta
Pada dirimu
Sebisa diriku
Mencoba untuk…🎵
(Lirik lagu "Kehadiranmu" by Vagetoz)
"Daisuki da...Naruto."💕
💘Panah asmara telah melesat dan menusuk ke lubuk hati sang gadis pemilik nama tersebut. Gadis itu segera bangkit dari duduknya dan berlari meninggalkan ruangan yang dijadikan tempat pengungkapan cinta.
Sang pelaku terperanga. Ia sudah membulatkan tekadnya, menurunkan harga dirinya yang terlampau tinggi. Namun respon dari gadis yang dituju malah di luar dugaan. Gadis itu kabur. Apa ia salah cara dalam mengungkapkan perasaannya?
Teman para gadis hanya bisa menepak jidat memaklumi kondisi si gadis yang baru saja lari terbirit - birit meninggalkan ruangan mereka berkumpul.
"Mr, kejar dia!" ujar Gaara. Ia merasa prihatin atas kejadian yang menimpa guru bahasa Inggrisnya.
"Naruto tidak pernah disukai oleh seorang lelaki. Jadi ia tidak tahu harus merespon apa." tambah Ino.
"Jangan diam saja, Mr. Cepat kejar!" perintah Sakura. Ia merasa gemas pada pasangan guru dan murid itu.
"Jangan diam saja, Mr." gumam Shikamaru yang masih betah dengan posisinya.
"Menurut novel yang ku baca ini, gadis yang.." belum selesai Sai berbicara, Ino dan yang lainnya sudah menghadiahinya tatapan tajam untuk diam dan berhenti bicara. Sai pun diam.
Sasuke, sang pelaku penembakan segera berjalan ke luar menemui sang gadis yang menjadi korbannya.
Naruto terlihat tengah duduk di atas dinding pembatas bagian luar rumah sang guru(rumah Sasuke gak ada gerbangnya ada.kayak rumah kontrakan di kampung tapi lebih besar dan lebih bagus). Matanya tertuju pada jalanan sepi yang tak dilalui satu kendaraan apapun. Tangan kanannya menyentuh dada kirinya. Jantungnya terasa mau lepas. Wajahnya juga masih merona. Ia masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi.
Si gadis pirang dango itu masih berpikir keras. Padahal ia tahu maksud dari isi lagu yang gurunya nyanyikan untuknya. Tapi tetap saja ia tidak bisa percaya. Ia serasa berada di alam mimpi. Karena baginya mustahil wali kelasnya yang hobinya mengerjai dan menyuruh - nyuruh Naruto mempunyai rasa yang sama dengannya.
Naruto terus menyangkal namun ia juga merasa senang dan melayang. Pemuda yang ia sukai juga menyukainya. Tanpa sadar ia mengucapkan, "daisuki mo, Sasuke - sensei." sambil tersenyum.
"Daisuki mo, Naruto dobe dango," balas seseorang yang sedari beberapa menit lalu berdiri di belakangnya dengan senyuman penuh kemenangan layaknya menang dalam perang. Perang cinta maksudnya.
Naruto menoleh ke belakang ke arah sang guru berdiri. Ia sangat terkejut sampai - sampai tubuhnya limbung ke belakang. Untung saja ada Sasuke yang menahannya jadi ia tidak jadi jatuh.
Keduanya telah dalam posisi duduk di tempat Naruto duduk tadi. Wajah Naruto semakin merona merah. Sasuke duduk sangat menempel pada pinggang siswinya.
"Ge..geser..te..me!" seru Naruto. Ia kesal tapi tidak berani menatap wajah sang guru.
"Kalau ngomong, lihat orangnya, dobe. Kau membuatku kesal saja," gumam Sasuke. Ia merasa pernyataan cinta tadi tak berefek bagi sang gadis yang dituju.
"A..aku ti..dak tahu harus ngomong apa, Mr," jawab Naruto. Ia benar - benar grogi. Wajah sang guru sangat dekat dengannya.
"Kau hanya tinggal membalas pernyataan cintaku saja. Simpel kan," jelas Sasuke sontak membuat Naruto sweatdrop. Ia seperti bukan gurunya saja. Apa yang tadi nyanyi bukan gurunya yang asli? Timbul pikiran aneh Naruto yang memang pada dasarnya dia adalah seorang otaku. Sasuke yang tadi alien kah? Kembarannya kah? Atau mahluk apapun.
"Kau juga suka padaku kan, Naruto?" bukan pertanyaan yang Sasuke ajukan melainkan pernyataan. Naruto tambah tak berkutik. Dari mana Sasuke mengetahui perasaannya? Gadis pirang itu sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia benar - benar mati kutu. Mau kabur tapi jalannya sudah dihalangi oleh si guru ayamnya. Jadilah ia diam mematung dengan dipenuhi keringat dingin. Wajahnya masih ia alihkan. Ia masih tidak berani menatap gurunya.
"Lihat aku, dobe," gumam Sasuke. Ia merasa heran dan juga kesal akan sikap murid didiknya itu.
Naruto berpikir sejenak. Ia juga memiliki perasaan yang sama dengan gurunya tapi kenapa Naruto terkesan mau menolak dan selalu menghindar. Akhirnya ia memberanikan diri untuk menoleh tapi, 😚cup. Ketika ia memalingkan wajahnya, bibirnya tanpa sengaja bertemu dengan bibir sang pemuda yang sedang duduk di sampingnya. Terjadilah insiden romantis antara kedua sejoli berbeda gender dan usia itu.
Sasuke tersenyum di sela ciumannya. Kalau Naruto ia sudah merona bahkan hampir pingsan. Sang pemuda tampan berambut pantat ayam itu terus ******* bibir Naruto yang masih berasa nasi tumpeng. Jadi rasanya gurih, pedas dan asin namun menggairahkan.
'My first kiss..?!' teriak Naruto dalam hati. Ia malah pasrah menerima ciuman dan lumatan dari bibir sang guru yang ia sukai. Pikiran dan bibirnya berkata lain.
Sasuke masih enggan melepas Naruto. Ia merasa kesal pada sikap Naruto yang malu - malu tapi mau. Buktinya ia tidak menolak atau melawan saat Sasuke hendak menciumnya. Karena tidak tega, ia segera melepas ciumannya.
"Hosh..hosh..se..sak. Te..me!!" seru Naruto. Ia berteriak di telinga Sasuke. Sontak Sasuke menutup telinganya. "Berisik, dobe! Kalau mau lagi jangan teriak." gumam Sasuke memasang ekspresi mesumnya.
"Huh! Itu ciuman pertamaku, teme!" seru Naruto sebari menormalkan detak jantungnya. Ia juga berusaha untuk tidak gugup pada gurunya.
"Ciuman pertamaku juga," balas Sasuke dengan santai. "Jadi, kau harus bertanggung jawab, dobe."
"Eh? Kenapa aku? Mr duluan yang nyosor!" tolak Naruto tak mau dianggap salah. Bertanggung jawab? Dia kan perempuan. Mana bisa perempuan ngehamili? Dia kan tidak melakukan hal itu. Naruto mati kutu sampai - sampai pikirannya juga tidak waras.
"Kau harus jadi kekasihku, dobe. Kau juga sudah membuatku jatuh cinta. Tiap waktu aku memikirkanmu. Kau seperti hantu saja yang selalu menghantuiku, dobe," jelas Sasuke.
Naruto sweatdrop lagi😓apa benar pemuda di sampingnya adalah Uchiha Sasuke? Yang dingin dan irit bicara? Sementara itu pemuda di depannya banyak bicara dan sedang merayu dirinya.
"Hm..boleh. Tapi..." balas Naruto.
"Tapi apa? Aku akan minta restu pada orang tuamu. Tenang saja." jawab Sasuke santai.
'Wah..teme sensei itu peramal ya? Dia tahu yang kupikirkan. Atau dia diam - diam buka praktek dukun di rumah ini karena tidak mau tinggal bareng keluarganya,' batin Naruto.
"Aku bukan peramal. Aku juga nggak buka praktek dukun di sini, dobe." ujar Sasuke yang sama dengan di pikiran Naruto.
"Eh? Kok Mr bisa tahu apa yang kupikirkan?" beo Naruto dengan ekspresi polosnya yang minta dicium.
"Aku bisa baca dari ekspresi wajahmu, dobe." jawab Sasuke. Ia gemas pada ekspresi Naruto.
Naruto mengangguk tanda mengerti.
"Lalu?" tanya Sasuke yang meminta kepastian atas pernyataan cintanya.
"Lalu apa? Lalu lintas? Lalu lalang?" beo Naruto.
Sasuke ingin sekali menyerang Naruto. Membawanya ke kamar dan mengikatnya agar tidak bisa bergerak sehingga bisa ia gerayangi. Sasuke segera membuang pikiran mesumnya. Jika ia melakukan hal itu pada muridnya sekarang, bukan izin yang akan paman Minato berikan melainkan jurus seribu tendangan yang akan membuatnya koma.
"Hn. Say you love me again, babe. Can you say it?" pinta Sasuke dengan penuh kesabaran.
"Kan tadi sudah." jawab Naruto ngeles. Ia masih malu untuk mengatakan suka pada guru yang ia sukai.
"Say love again or i will eat you, dobe." paksa Sasuke dengan seringai licik dan mesumnya.
'Sejak kapan si teme sensei jadi mesum dan romantis gitu? Oh iya. Ayam ini emang mesum dan tukang maksa. Apa dia gak tahu kalau aku lagi gugup gini? Malu juga. Uuh..nyebelin!! Tapi aku suka. Kenapa aku bisa suka sama cowok kayak gini?!' teriak batin Naruto.
"Aku juga malu, dobe. Aku baru kali ini nembak cewek. Apalagi cewek itu muridku sendiri. Gak pernah kepikiran seumur hidupku. Biasanya para cewek yang nyatain cinta padaku. Ternyata rasanya malu juga. Mereka hebat. Tanpa malu menyatakan cintanya padaku." gumam Sasuke panjang lebar. Wajahnya juga sama merahnya dengan Naruto. Ia gugup tapi ia bisa menyembunyikannya dengan wajah datar dan dinginnya.
Naruto tersenyum tulus lalu berkata, "i love you my teme sensei." 💋cup. Pipi kiri sang guru dikecup oleh Naruto. Sasuke tambah merona, gugup dan tersenyum. Ia segera meraih tubuh sang gadis dan mendudukkan bokong si gadis di pangkuannya.
"Thank you, my dobe dango Naruto." balas Sasuke mengecup dahi Naruto. Keduanya saling pandang, tersenyum dan para pengintip bersuara.
"Akhirnya kalian bersatu juga." gumam Ino. Ia merasa lega dan senang.
"Apa ku bilang. Mereka pasti jadian kan." tambah Sai dengan senyum palsu yang selalu menghiasi wajah tampannya.
"Jangan lupa pajak jadiannya, Mr." ujar Gaara. Ia memegang ponsel Sasuke yang baru saja ia gunakan untuk memotret dan merekam kejadian tadi.
"Syukurlah, Naruto." ucap Hinata.
"Kalian memang cocok!" seru Sakura. Ia turut senang melihat Naruto dan Sasuke bersatu.
Sementara itu, sepasang sejoli yang masih sibuk dengan adegan mesra mereka. Hanya Sasuke yang senang. Naruto sudah malu setengah mati. Ia masih duduk di pangkuan gurunya.
"Mr, a..aku gak mau be..begini terus." pinta Naruto.
"Hn. Mr? Sekarang aku pacarmu. Bukan gurumu, dobe." ujar Sasuke. Ia masih nyaman dalam posisi itu.
"Kan tetap saja Mr guruku." balas Naruto. Ia ingin bangun tapi masih ditahan oleh Sasuke.
"Panggil aku dengan nama lain kalau di luar sekolah. Aku gurumu hanya di sekolah saja. Sekarang aku adalah pa-car-mu, Na-ru-to!" perintah mutlak dari pemuda ayam itu.
"Aku harus panggil Mr apa? Teme sensei gitu?" tanya Naruto.
"Panggil namaku! Sa su ke!" jawab Sasuke.
"Sa..Sa su ke - kun?" panggil Naruto. Wajahnya terlihat semakin imut yang tambah membuat Sasuke klepek - klepek.
"Hn. Begitu saja, dobe." gumam Sasuke merasa malu karena dipanggil namanya oleh sang gadis pujaan hatinya.
"Sasuke - kun!" seru Naruto dengan nada manja dan imut.💘Sasuke serasa jatuh cinta lagi pada gadisnya itu. "Lepaskan aku, teme!!" teriak Naruto yang mendadak jadi galak. Spontan Sasuke melepaskan Naruto. Naruto pun bangkit dan berjalan ke dalam rumah kekasihnya sebari menjulurkan lidahnya pada kekasih barunya itu😜.
"Do..be..😠!" seru Sasuke. Ia mengejar Naruto masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan keenam muridnya.
__ADS_1
Tbc