Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
chapter 16


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjam tanpa izin


Ide asli milik thor


Pair sasufemnaru and others


Genre murid, guru, cinta


Semua karakter ooc


Typo bertebaran


Happy reading


Beberapa hari sebelum acara reuni. Si gadis pirang berdango tengah sibuk bergelut dengan tumpukan kertas ulangan harian yang ada di meja milik wali kelasnya a.k.a kekasih barunya Uchiha Sasuke. Sasuke terkenal sebagai seorang guru yang sangat dingin, irit bicara dan selalu berekspresi datar. Ia juga dikenal sebagai seorang guru tampan namun berbahaya. Setiap ia mengajar, maka ia akan memberikan pekerjaan rumah yang sangat banyak kepada para muridnya seusai mengajar dan akan melakukan ujian bahasa Inggris dadakan.


Naruto tak henti menatap layar ponselnya. Ia sudah berjanji pada teman SMPnya, Tenten untuk bertemu di tempat reuni nanti. Tenten mengajaknya untuk melihat kegiatan persiapan sebelum hari reuni diselenggarakan. Namun, sang guru malah memberinya pekerjaan banyak yang tidak bisa ia selesaikan dengan cepat.


"Ukh..kapan beresnya nih? Tenten pasti udah nunggu. Dasar teme sensei," gumam Naruto. Ia menempelkan sebelah pipinya ke atas meja yang dipenuhi tumpukan kertas. Matanya terpejam. Kedua kakinya ia hentakkan.


"Aku ingin ketemu Tenten. Kangen," keluhnya.


"Bertemu Tenten apa bertemu Toneri, hn," ujar Sasuke. Ia tiba - tiba sudah berdiri di belakang Naruto. Gadis pirang itu terkejut. Kekasih datarnya itu selalu saja membuatnya terkejut.


Naruto bangun dari duduknya. Ia mendongak ke atas menatap tajam pada kekasihnya yang over cemburu.


"Mr, besok ku kerjakan di rumah ya. Atau malam kubereskan. Aku sudah janji pada temanku untuk bertemu, Mr. Please, give me a break, sir," ujar Naruto. Ia sudah bosan dan jengkel dengan sikap gurunya. Padahal ia hanya ingin bertemu teman SMPnya. Perempuan pula bukan laki - laki yang harus ia cemburui.


Si gadis pirang berdango memejamkan mata lalu mengambil nafas panjang, dengan tekad bulat ia melangkahkan kaki kirinya untuk meninggalkan pekerjaannya yang masih menumpuk.


"Kau mau ke mana, hn?" tanya Sasuke. Tanpa ekspresi namun aura yang terpancar benar - benar menyeramkan hingga membuat bulu kuduk Naruto merinding.


Glekh. Naruto menelan ludah. Nyalinya langsung menciut. Ia tertawa renyah. "Ano, Mr. Kan aku tadi udah bilang kalau aku sudah ada janji. Jadi, please..izinkan aku pulang ya. Onegai.." pinta Naruto sambil memohon. Kedua tangannya ia rapatkan seperti sedang berdoa di kuil.


"Hn." Hanya itu yang sang guru ucapkan. Masih tanpa ekspresi.


"Yes!" seru Naruto. Ia pikir gurunya akan membiarkannya pulang. Padahal ia sudah salah paham dengan gumaman ambigu kekasihnya itu.


"Si apa yang me ngizinkanmu untuk pulang, hah?! Namikaze Naruto?!" seru Sasuke. Sorot matanya dingin dan kejam.


"Huh. Kau menyebalkan, teme sensei!" seru Naruto. Ia menantang kekasihnya. Matanya melotot besar pada kekasihnya.


"Aku mau pulang!" seru Naruto sebari menghentakkan kakinya. Sasuke masih diam. Naruto pun melangkahkan kakinya namun tangannya ditarik oleh sang kekasih.


"Biar ku antarkan ke tempat bertemu dengan temanmu, dobe," ujar Sasuke tanpa ekspresi.


"Gak usah. Aku mau langsung pulang. Jaa.." Naruto terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Rasa kesalnya kepada sang guru semakin meningkat. Hanya kejadian kecil saja membuat dirinya dan sang guru bertengkar berhari - hari.


Flash back on


Hari Minggu lalu, Sasuke sudah berjanji pada kekasih dangonya, Naruto, untuk mengajaknya ke taman bermain pusat Konoha. Namun, si pemuda berambut ekor ayam itu membatalkannya dengan alasan ia harus membantu urusan pekerjaan kakaknya, Uchiha Itachi. Karena Itachi mendadak terserang flu dan masuk angin yang membuatnya tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya. Jadilah dengan sangat terpaksa Sasuke harus menggantikan kakaknya untuk menemani ayahnya dalam urusan bisnis tersebut.


Si gadis pirang yang sudah menunggu di stasiun tempat mereka bertemu, harus batal pergi dengan kekasih tampannya itu. Sudah menunggu selama 1 jam hingga kedua kakinya mati rasa, kencan pun dibatalkan lewat pesan. Naruto sangat marah. Ia tidak pulang ke rumahnya melainkan pergi ke rumah teman SMPnya, Tenten. Kebetulan rumah Tenten tidak jauh dari stasiun. Daripada pulang dengan hati galau dan kecewa, ia berkunjung ke rumah temannya.


Setibanya di depan gerbang rumah Tenten, ia melihat sesosok pemuda yang menjadi kenangan cinta pertamanya di zaman smp. Otsutsuki Toneri. Tengah duduk di teras depan rumah Tenten yang kebetulan pintu gerbangnya terbuka. Naruto berniat untuk pulang namun pemuda berambut perak itu memanggil namanya.


"Na..Naruto!" panggil Toneri sebari melambaikan sebelah tangannya pada gadis pirang itu.


Glekh. Naruto tidak bisa kembali. Ia pun berjalan dan memasuki kediaman Tenten dengan perasaan tak karuan dan jantungnya berdetak kencang karena ia terkejut Toneri melihat dan memanggil namanya.


"Yo!" seru Naruto menyapa Tenten. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.


Tenten ke luar dari balik pintu rumahnya. Ia terkejut ketika melihat kedatangan teman SMPnya itu.


"Na..Naruto?!" seru Tenten terkejut dan juga senang. Ia berlari dan langsung memeluk Naruto. "Kamu ke mana saja? Ganti nomor hp ya?"


Naruto merasa sesak akibat pelukan dari temannya yang berambut dango juga. "Aku ada kok di rumah. Masih sama nomor ponselku," ujar Naruto. Tenten melepas pelukannya.


"Ayo masuk. Biarkan saja si Toneri di luar," ajak Tenten. Ia menarik tangan Naruto dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Toneri hanya duduk di luar rumah Tenten sebari memainkan game online pada ponselnya.


Kedua gadis berdango itu menghabiskan waktu seharian untuk melepas rasa rindu mereka. Mereka terus membicarakan hal - hal menarik dan semua yang terjadi pada mereka selama tidak bertemu.


"Sudah sore, Tenten. Aku harus pulang. Takut ibuku khawatir. Padahal aku masih kangen lho," ujar Naruto. Ia bersiap - siap untuk pulang.


"Ya udah. Hati - hati di jalan ya. Mau ku anterin sampai halte gak?" tanya Tenten menawarkan diri.


"Boleh," jawab Naruto. Keduanya sudah berada di teras depan rumah Tenten. Si pemuda berambut perak masih ada di tempat itu.


"Kalian mau ke mana? Kenapa aku gak diajak masuk juga? Aku sampai harus pulang dulu tadi, lalu ke sini lagi," gumam Toneri. Ia merasakan hawa keberadaannya tidak dianggap oleh kedua gadis berdango itu.


Naruto dan Tenten tertawa bersama. "Kami ngomongin masalah perempuan!" seru mereka secara bersamaan. "Kamu kan laki - laki," tambah kedua gadis dango itu.


"Cih. Aku tak diajak." Toneri melirik ke arah Naruto. Tanpa sengaja kedua mata mereka bertemu. Naruto sontak membuang wajahnya. Ia tak mau matanya bertemu pandang dengan Toneri. Ia takut perasaannya yang mulai hilang akan muncul kembali.


Jadilah ketiga remaja berbeda gender itu berjalan beriringan. Tenten, Naruto dan Toneri. Toneri selalu diabaikan oleh kedua gadis yang berjalan di sampingnya sampai mereka berada di halte bus.


"Arigatou ne. Udah nganterin aku sampai halte," ucap Naruto. Ia duduk di bangku tempat menunggu kedatangan bus.


"Gak masalah. Oh iya, Jumat nanti kamu datang ya ke gedung SMP tempat reuni nanti. Ok," ujar Tenten.


"Ok. Aku usahakan datang ya," balas Naruto.


Sebelum Naruto berpisah dengan kedua temannya, ia berfoto terlebih dahulu bersama mereka menggunakan kamera milik Toneri. Awalnya Naruto menolak tapi Tenten memaksanya. Akhirnya mereka bertiga berfoto ria. Tak lama bus datang dan Naruto segera menaiki bus tersebut.


Masalah sebenarnya bukan karena Naruto berkunjung ke rumah gadis berdango warna coklat itu, melainkan sejumlah foto yang Tenten unggah ke media sosialnya. Ia menandai gadis pirang itu pula. Itu adalah foto mereka ketika sedang menunggu bus. Ada foto Naruto sedang duduk menunggu, Tenten yang melompat, Toneri yang sedang main game, mereka duduk bertiga, Tenten menggandeng tangan Naruto dan foto yang terakhir adalah penyebab utama pertengkaran pasangan sasunaru yaitu foto di saat Naruto hendak terjatuh dan Toneri menolongnya. Naruto tidak bisa mencegah insiden tersebut. Ditambah dengan banyaknya komentar panas dari para teman SMPnya.


Berakhirlah si gadis pirang itu yang tiap pagi dan sore selalu diantar jemput oleh kekasih tampannya yang sangat cemburu dan posesif. Sampai - sampai, ia dilarang bertemu dengan temannya, Tenten. Karena Tenten merupakan pelaku pengunggah foto akrab dirinya dengan Toneri.


Flash back end


Si gadis pirang berdango tengah berdiri di depan halte menunggu kedatangan bus dengan wajah kusut bak baju belum disetrika. Naruto merasa sangat lama menunggu kedatangan bus. Biasanya ia tidak pernah terburu - buru menunggu kedatangan bus. Ia sedang menghindari kekasihnya. Ia malas beradu bicara. Hanya bicara seperlunya sebagai murid dan guru. Sudah 5 hari ini ia marah pada Sasuke karena sikap kekasihnya yang menurutnya terlalu cemburu. Padahal saat itu Toneri hanya berniat menolongnya. Tapi tetap saja teme senseinya cemburu berat.


Secepat kilat Sasuke menghentikan laju motornya di depan kekasih pirangnya. Naruto membuang wajahnya. Ia masih marah. Namun Sasuke bersikeras memaksa Naruto untuk ikut pulang bersamanya. Pulang ke rumah orang tua Naruto.


"Cepat naik, dobe!" perintah Sasuke mutlak. Namun sang gadis yang dipanggil dobe tidak berkutik sama sekali. Sasuke menarik tangan Naruto sebari berbisik tepat di telinga kirinya. "Kalau kau tak mau naik, i will kiss you right here right now. Hn," bisik Sasuke menyeringai licik.


Bulu kuduk Naruto merinding. Guru tampannya itu selalu serius mengenai akitivitas mesumnya. Ia sudah 2 kali dimesumi oleh gurunya. Di antaranya saat di ruang uks kepala Naruto tertimpa bola basket. Saat itu Sasuke sedang memerhatikan kegiatan olahraga kekasihnya dari balik jendela ruang kelas lantai dua, ia segera menemui Naruto ke ruang uks. Keadaan kekasih pirangnya tak separah yang ia khawatirkan. Sasuke merasa lega setelah mengetahui kondisi kekasihnya.


Sasuke merasa lega. Naruto senang karena sang kekasih mengkhawatirkannya. Tapi tindakan mendadak dari Sasuke membuatnya marah seketika. Sasuke yang menjadi gurunya di sekolah tiba - tiba mencium bibirnya begitu saja. Untungnya tidak ada yang melihat kejadian mesum yang dilakukan wali kelasnya itu.


Yang kedua saat di ruang guru di sore hari. Keadaan ruang guru memang sedang sepi hanya ada Sasuke dan Naruto. Jadi Sasuke mendapatkan kesempatan untuk berduaan dengan siswi kesayangannya. Ia menarik tengkuk sang gadis lalu mencium bibirnya penuh nafsu. Naruto memberontak dengan menendang tumit sang pelaku pelecehan tersebut.


Dengan terpaksa Naruto menuruti perintah dari sang kekasih. Sasuke menyeringai puas. Ia selalu saja menang. Lagipula kekasih mana yang tidak akan cemburu melihat pasangannya dipeluk oleh lelaki lain apalagi lelaki itu mantan cinta pertama kekasihnya. Sungguh tragis nasib si gadis berambut pirang. Dirinya selalu saja dijahili kekasihnya.


🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Pagi ini Namikaze Naruto sudah bersiap - siap untuk pergi ke tempat reuni. Teman - teman SMPnya sudah memintanya untuk datang dari kemarin namun kekasihnya malah melarangnya untuk pergi. Hari ini ia pergi karena kekasih tampannya tidak mengajaknya jalan - jalan akhir pekan.


"Ne, teme. Gomen. Aku harus pergi ke tempat reunian. Aku dimintai bantuan untuk membuat hiasan ruangan. Kirim ah ke si teme sensei itu. Pacar cemburuan kayak gitu. Pantes aja dia jomblo terus," gumam Naruto. Setelah mengetik pesan ia segera memakai tas selempang cokelatnya. Lalu ia ke luar dari kamarnya. Setelah pamit pada sang ibu, ia pun pergi dengan wajah berseri - seri.


Skip perjalanan


Si gadis pirang yang saat ini rambutnya tidak sedang dibuat dango melainkan dibuat ponytail, tengah berjalan seorang diri menuju gedung sekolah tempat diselenggarakan acara reuni SMP angkatannya.


Teriknya matahari tidak mengganggu aktivitas Naruto. Ia sedang bernostalgia dengan perjalanannya saat ini. Ia berjalan kaki setelah turun dari bus. Kepalanya melenggak lenggok ke kanan dan ke kiri yang membuat rambut ponytailnya panjangnya bergerak ke sana ke mari. Senyum dari wajah manisnya tak pernah pudar. Kenangan akan semua hal yang terjadi dua tahun lalu masih teringat jelas di pikirannya.


Naruto berdiri menatap sebuah pohon pinus yang masih berdiri kokoh di depan gedung sekolah. Ia menyentuh dahan pohon dengan jari lentik mungilnya. Ia tersenyum getir. Saksi hidup yang seandainya pohon pinus itu bisa berbicara maka si pohon akan menyapanya dan mengatakan, hai gadis patah hati yang cengeng dua tahun lalu.


"Ne, tuan pohon. Apa kau ingat? Kalau aku pernah menangis di balik dahan besarmu?" tanya Naruto pada sebuah pohon yang tentu saja tidak akan dijawab karena pohon tidak bisa berbicara.


"Banyak kenangan manis dan pahit yang ku lalui di sini. Ah..jadi kangen masa - masa itu. Sahabat yang ku sukai yang membuatku harus melepaskan dan menghilangkan perasaan yang pertama kali ku rasakan saat itu. Seandainya waktu bisa terulang kembali.." gumam Naruto. Ia memotret pohon pinus tersebut. Tak lupa ia berselfi juga dengan pohon pinus sebagai latar belakangnya.


Tanpa ia sadari, seorang pemuda berambut perak memerhatikan semua kegiatan yang Naruto lakukan sedari awal ia datang dan berbicara dengan pohon pinus besar tersebut. Ia memberanikan diri untuk berjalan mendekati sang gadis.


Selangkah demi selangkah Toneri menuju tempat sang gadis yang pernah ia sakiti dan hancurkan dua tahun lalu. Ia berharap di tempat ini ia bisa memperbaiki kesalahan yang telah ia perbuat pada sang gadis pirang. Selama dua tahun pula ia merasakan perasaan yang tidak menyenangkan itu. Padahal ia juga memiliki perasaan yang sama pada Naruto saat itu namun keadaan dan keegoisan dirinya yang tidak mampu ia tahan untuk menerima perasaan cinta dari Naruto. Kali ini ia berharap bisa memperbaiki keadaan itu.


Naruto terlalu sibuk dengan kegiatan memotret pohon pinus itu hingga tidak menyadari kedatangan Toneri.


"Na..ruto," gumam Toneri sebari menyentuh bahu gadis berambut pirang ponytail itu.


Naruto sontak melompat ke depan karena kaget setengah mati. "Kyaa..!!"

__ADS_1


Toneri juga terkejut tapi ia tersenyum dengan tingkah konyol sang gadis. "Ini aku, Naruto. Bukan hantu."


Naruto menoleh ke belakang. "To..Toneri? Kau?" beo Naruto. Ia segera berjalan menjauhi pemuda berambut perak itu.


"Kau kenapa, Naruto? Seperti melihat hantu saja?" tanya Toneri. Ia berjalan semakin dekat dengan Naruto. Naruto berjalan mundur menjauhi Toneri. Dan duk. Kepala belakang Naruto terbentur mengenai dahan pohon pinus yang besar.


"It..ittai.." gumam Naruto kesakitan. Tangan Toneri menyentuh kepala Naruto yang terbentur pohon. "Kau tidak apa - apa?" tanya Toneri dengan ramah dan penuh perhatian. Wajah Naruto merona. Namun ia menggelengkan kepalanya dan segera membuang perasaan aneh itu. 'Gak boleh. Gak boleh terjadi lagi. Inget Naruto. Kamu udah punya si teme ayam sensei. Yang lebih ganteng dari Toneri dan sangat menyukaiku. Tapi.. Kenapa tiba - tiba Toneri jadi keren begini? Kuatkan imanmu, Naruto,' batin Naruto bergejolak.


"Tidak apa - apa," jawab Naruto jutek. Ia menepis tangan Toneri.


"Maafkan aku, Naruto," gumam Toneri. Ada rasa sakit di dadanya ketika Naruto menolak sentuhan dari tangannya.


"Apa aku terlambat untuk membantu? Kemarin kan aku gak datang," ujar Naruto dengan nada biasa. Ia berjalan di depan Toneri.


"Gak. Baru pada datang yang lain juga," balas Toneri. Ia merasa kecewa karena penolakan sentuhan darinya oleh si gadis pirang itu.


"Oh." Naruto hanya beroh saja.


Kedua manusia berbeda gender dan surai itu berjalan menuju ke dalam aula tempat reuni yang ada di dalam gedung SMP Hoshigaki.


Setibanya di aula, Naruto bisa melihat teman - teman seangkatannya sedang menyiapkan dekorasi dan lain - lain untuk reuni besok.


Tenten berlari ke arah Naruto dan Toneri. Ia pun memeluk Naruto. "Hei, Naruto. Kemarin kamu ke mana? Aku tunggu tapi gak datang," gumam Tenten.


"Ng..kemarin ada masalah sedikit. Sekarang juga aku kabur. Kabur dari kandang ayam jago kekurangan pakan. Hehehe," jawab Naruto sebari tersenyum lebar. "Wah..ramai sekali! Besok pasti lebih ramai lagi!" seru Naruto. Ia berjalan merdeka Temujin dan Sora yang sedang mengecat papan penanda tulisan kelas 3A. Kelasnya waktu di SMP dulu.


"Yo, Naruto!" sapa Sora pada si gadis pirang berambut ponytail itu.


"Hei, semuanya. Gomen. Aku baru bisa datang hari ini," ujar Naruto. Ia menyapa semua temannya dan berjabat tangan dengan mereka satu persatu. Kemudian si gadis pirang itu turut serta membantu kegiatan teman - temannya. Awalnya ia ragu harus berbuat apa, tapi Tenten mengajaknya. Akhirnya Naruto kembali dekat dan akrab lagi bersama teman - teman SMPnya.


Naruto serasa bernostalgia. Ia merasa sangat senang karena bisa berkumpul lagi dengan teman - temannya meski tidak semua temannya datang. Besoklah hari reuni yang sebenarnya.


Siang ini Naruto masih sibuk membantu teman - temannya. Perutnya sudah terasa lapar. Ia ingin segera mengisi perutnya namun keadaan tidak meyakinkan. Ia lupa membawa bekal, kantin sekolah sedang tutup. Poor Naruto. Harus kelaparan.


Keberuntungan kali ini memihak si gadis pirang bermata saphire itu. Toneri datang menghampirinya sebari membawa beberapa bungkusan nasi kotak. Toneri segera memberikan sebungkus nasi kotak itu kepada Naruto. Awalnya Naruto menolak namun perutnya yang mengeluarkan suara kelaparan memaksanya harus menerima pemberian dari pemuda berambut perak itu.


Dengan wajah merona akibat rasa malu, Naruto memakan nasi kotak itu dengan lahapnya ditemani oleh Toneri yang ikut memakannya juga.


"Naruto, a..apa aku masih punya kesempatan?" tanya Toneri secara tiba - tiba yang sontak membuat lawan bicaranya tersedak saat tengah makan. Dengan sigap Toneri memberikan Naruto segelas air mineral dan Naruto langsung meminum air itu.


"Ah..kau mengagetkanku saja, Toneri. Kenapa kau bertanya demikian?" Naruto sudah selesai makan. Ia memasukkan kotak bekas makannya dan juga milik Toneri pun ia masukkan dan segera membuang bekas mereka makan.


Toneri mengekori Naruto yang berjalan menuju ke luar untuk membuang sampah. Naruto merasa risih karena Toneri selalu mengekorinya bak anak ayam yang selalu mengikuti induknya.


Mereka berdua kini terdampar di ruang kelas mereka dulu yang hening. Entah mengapa kedua kaki Naruto membawanya ke tempat penuh kenangan manis dan pahit.


Si gadis pirang duduk di bangku paling depan. Ia heran kenapa ia bisa berada di ruang kelas ini. Ia hanya mengikuti instingnya saja. Toneri juga mengikuti Naruto. Ia duduk di samping Naruto. Ia menghela nafas lalu tersenyum.


"Naruto. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ujar Toneri. Wajahnya terlihat serius. Sekarang ia berdiri di depan Naruto yang sedang duduk. Naruto mendongak ke atas karena tubuh Toneri yang lebih tinggi darinya tapi Sasuke lebih tinggi.


Mendadak wajah Naruto merona. Jantungnya berdetak lebih cepat. "Ka..katakan saja," balas Naruto. Entah mengapa saat ini ia juga merasakan gugup. Ia kembali terkenang akan kenangan masa lalu itu.


Naruto berdiri, sedangkan Toneri membungkukkan setengah badannya. Ia menggenggam kedua tangan gadis pirang yang berada di depannya. Keringat dingin ke luar dari dahi dan juga tengkuk lehernya.


"Se..sepertinya aku kena karma, Naruto," ujar Toneri salah tingkah.


"Karma?" beo Naruto. "Karma apa? Apa kau sudah berbuat salah? Harusnya kamu tuh minta maaf sama orang yang udah kamu sakitin supaya karmanya gak berlanjut. Kamu kan orang yang paham sama hal begituan."


Toneri tersenyum. Semangatnya meningkat. "Sekarang aku akan melakukannya, Naruto," ujar Toneri.


Naruto masih belum bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Nah, Naruto. Apa kau mau memaafkanku dan memulai dari awal?" tanya Toneri. Ia menggenggam erat tangan Naruto.


"Eh? A..aku kan sudah memaafkanmu, Toneri. Bukannya kita sudah memulainya dari awal, hn? Kita kan sedang melakukannya," jelas Naruto tersenyum manis.


"Ja..jadi..a..aku diterima?" tanya Toneri. Ia ingin memastikannya.


"Iya." Naruto mengangguk.


"Yes!" seru Toneri. Ia langsung memeluk Naruto dengan erat kemudian menarik tengkuknya dan mengecup dahi, pipi dan terakhir bibirnya. "I love you," ucap Toneri tersenyum bahagia. "I love you too," balas Naruto juga tersenyum bahagia.


"..suke..Sasuke..Sasuke!!! Woi..Uchiha Sasuke!! Bangun!!" teriak Shikadai. Ia tengah membangunkan sahabat ayamnya yang tertidur di saat mereka berdiskusi mengenai bisnis.


"Hah?! Kau mimpi di tengah siang bolong gini, Sasuke?" gumam Shikadai. Ia menaikkan alisnya dan terheran melihat sahabat kuliahnya dulu yang selalu bersikap dingin namun setelah memiliki kekasih yang tak lain adalah siswinya di sekolah tempat mengajar, membuat pemuda tak berperasaan itu menjadi aneh dan lebih memiliki hati. Shikadai tersenyum tulus kemudian ia mengusap punggung Sasuke. "Hubungi dia. Tidak baik kalian marahan terus. Kau kan sudah dewasa, Sasuke," ujar Shikadai.


Sasuke berpikir sejenak. Ia langsung mengambil ponsel di saku celananya kemudian mencari nama kekasihnya.


"Ayo angkat, dobe. A..aku sangat khawatir. Aku tidak mau kau meninggalkanku, dobe," gumam Sasuke. Ia mendadak merasa panik dan juga gelisah akibat mimpi buruk yang baru saja ia alami.


Shikadai tersenyum tapi ia juga turut gelisah melihat Sasuke yang dilanda kepanikan luar biasa. Tak lama kemudian, Naruto, kekasih sahabatnya mengangkat panggilan telepon dari Sasuke.


"Moshi..moshi.." ucap Sasuke. Ia masih merasa gelisah. "Kau..masih di sekolah? Apa kau..? Eh..jangan diputus, dobe! Hei.." panggilan terputus. Sasuke gelisah kembali. Ia mulai berkeringat dingin. Shikadai yang melihatnya ingin tertawa tapi tidak tega. Sekali - kali sahabat esnya itu harus dikerjain dan merasakan gelisah juga seperti manusia lainnya.


Di tempat lain, Naruto masih menunggu kelanjutan perkataan Toneri mengenai karma. Ia penasaran karma akan yang dialami oleh mantan cinta pertamanya itu tapi kekasihnya malah menelepon di saat yang penting. Naruto semakin penasaran. Akhirnya ia meminta si pemuda perak untuk melanjutkan perkataannya lain waktu. Ia harus menelepon seseorang.


"Ne, nanti saja ya terusin soal karmamu, Toneri. Aku harus nelepon seseorang dulu. Aku gak mau dia kenapa - kenapa. Aku telepon dulu ya. Bilangin sama teman - teman, nanti aku ke sana. Ok. Jaa..aku masih di area sekolah kok," ucap Naruto. Ia segera berjalan meninggalkan Toneri yang berdiri mematung dengan penuh tanda tanya dan perasaan tidak karuan.


"Ya. Lain kali saja. Mungkin besok," gumam Toneri. Ia sedikit kecewa tapi masih ada hari esok. Ia harus bisa mengatakan hal penting itu besok pada saat acara reuni.


Si gadis pirang terus berjalan mengelilingi area gedung sekolah. Ia menghentikan langkahnya di bawah tangga dekat pohon yang tertutupi rindangnya dedaunan pohon yang terasa sejuk. Naruto pun duduk. Ia mengambil headset di tas selempangnya kemudian memasangkannya ke ponselnya. Ia mengirim pesan kepada kekasihnya untuk melakukan video calling. Tidak menunggu satu menit, sang kekasih a.k.a Sasuke menelepon si gadis pirang a.k.a Naruto.


"Kau lama sekali, dobe!" seru Sasuke. Ekspresi wajahnya sungguh langka dan membuat Naruto tertawa. "Kenapa kau tertawa, dobe?! Hah?!"


"Hahaha.. Kau lucu sekali, teme! Seperti anak ayam kehilangan induknya! Haha.. Kau membuatku jadi tidak bisa marah lagi. Haha.." ujar Naruto. Ia terus tertawa. Sasuke kemudian tersenyum melihat wajah kekasihnya yang sedang tertawa karena tingkah absurdnya.


"Kau induk ayamku, dobe. Kalau aku tidak bersamamu rasanya seperti ini," gumam Sasuke. Ia tersenyum. Naruto sudah tidak tertawa. Wajahnya mendadak merona karena melihat senyum tampan kekasihnya.


"Te..me." gumam Naruto. Sikap tsunderenya kambuh. Ia memalingkan wajahnya karena tidak tahan melihat wajah tampan kekasihnya di layar ponselnya.


"Lihat ke sini, dobe. Kau tidak kangen padaku, hn?" tanya Sasuke. Ia mulai berbicara manis pada gadisnya.


"Teme!" seru Naruto. Ia paling tidak tahan diperlakukan manis oleh kekasihnya meski lewat telepon. "A..pa?" ia memanyunkan bibir kecilnya yang semakin membuatnya bertambah imut.


"Aku ingin memakanmu. Untung saja kau jauh," gumam Sasuke dengan seringai mesumnya.


Wajah Naruto makin merona. "Iih..aku bukan tomat, teme!" seru Naruto. Ia merasa gugup. Jantungnya berdebar lebih cepat. Tidak. Lebih cepat daripada saat bersama Toneri tadi. "A..ada apa Sa..Sasuke - kun meneleponku?"


Sasuke semakin tidak tahan untuk bertemu dengan gadisnya. Perubahan sikap Naruto yang mendadak membuat pemuda berambut emo itu bertambah gemas. Wajar saja ia merasa khawatir dan takut kehilangan gadisnya. Naruto kan cantik, manis dan juga baik hati. Meskipun Naruto terkadang marah padanya tapi dengan dia yang mengalah dan bersikap lembut maka sikap Naruto tersebut akan segera luluh. Sasuke memang hebat dan mengagumkan.


"Kau masih di sekolah, dobe?" tanya Sasuke.


"Ya. Memang kenapa?" Naruto bertanya balik pada kekasih tampannya itu.


"Tidak. Kau tidak boleh macam - macam ya di sana. Jangan selingkuh! Jangan lirik - lirik laki - laki lain!" perintah mutlak dari Sasuke. Naruto memutar matanya karena bosan mendengar perkataan dari kekasihnya yang menurutnya terlalu berlebihan. Tapi ada benarnya. Baru saja ia melirik, saling pandang dan tangannya digenggam oleh laki - laki lain. Kalau Sasuke tahu, tamat sudah riwayat dirinya dan pemuda itu. "Ok, teme. Aku gak akan kayak gitu. Tenang saja ya. Hehehe," balas Naruto. Sasuke meragukan jawaban Naruto.


"Ok. Aku percaya padamu. Kalau mau pulang, sms aku. Aku akan menjemputmu," ujar Sasuke.


"Iya, teme. Sampai nanti. Jaa.." ucap Naruto.


"Jaa.. Ingat! Kalau kau selingkuh, hn," tambah Sasuke mengeluarkan aura hitam pekat yang bisa Naruto rasakan seakan - akan kekasihnya ada di hadapannya.


"Baik, Sa su ke - kyun. Bye.." jawab Naruto dengan ekspresi imutnya yang khas.


Panggilan pun terputus. Naruto menghela nafas. Ia jadi merasa bersalah pada kekasih tampannya itu. Ia hampir saja membuka luka yang telah tertutupi oleh Sasuke dengan dekat dan kembali akrab pada Toneri. Akhirnya ia memutuskan untuk menghindar dan menjauhi pemuda penghancur perasaannya itu. Ia tidak mau merasakan dilema dan juga kesalah pahaman lagi yang ia dapatkan dari Toneri.


Ia berjalan dan kembali ke tempat teman - temannya berada.


Toneri melangkah menghampiri Naruto yang baru saja datang dengan wajah cerianya. Sepertinya Naruto sedang bahagia jika dilihat dari ekspresi wajahnya. Ia selalu tersenyum.


"Kau kenapa, Naruto?" tanya Toneri penasaran. Ia berdiri di hadapan Naruto yang sedang membawa beberapa gulungan kertas berwarna warni yang baru saja Sora serahkan padanya.


"Hn." Naruto meniru gumaman ambigu milik kekasihnya. Toneri diam tidak mengerti maksud ucapan teman SMPnya itu. "Hn?" beo Toneri.


"Ah..gak apa - apa. Hanya sedang.. Hn..rahasia. Mau tau saja," jelas Naruto. Ia pun berjalan meninggalkan Toneri yang masih menunggu jawaban dari gadis pirang itu.


Sore pun tiba. Naruto dan teman - temannya telah menyelesaikan semua persiapan untuk acara reuni esok hari. Saat ini Naruto tengah berdiri di samping Toneri yang sedari tadi terus menempel padanya. Naruto terus menghela nafas. Ketidak pekaannya membuat teman - teman SMPnya menepak jidat mereka karena gemas akan sikap si gadis pirang ponytail itu.


Tenten bisa merasakan dan mengetahui bahwa Toneri memiliki perasaan lebih pada Naruto. Bahkan Toneri sudah memberi kode padanya namun Naruto masih saja tidak peka.


"Naruto, apa kau tidak mau main dulu bareng kami?" ajak Tenten. Ia berdiri di samping Naruto.


"Nggak. Aku capek sekali hari ini. Ingin tidur saja," tolak Naruto.

__ADS_1


"Wah..padahal Toneri juga ikut lho.." bujuk Tenten.


"Oh. Maaf. Aku gak berminat, Tenten," jawab Naruto membuat Tenten dan Toneri serasa ditusuk pedang.


Tak lama kemudian, seorang pemuda tampan tapi wajahnya tertutupi helm, datang ke arah mereka menaiki motor hitam jagoannya berhenti tepat di depan si gadis pirang. Betapa terkejutnya mereka yang berada di tempat itu, tak terkecuali Naruto.


"Te..teme!" seru Naruto. "Kau mau menabrakku?!". Ia merasa dejavu.


Sasuke turun dari motor dan membuka helmnya. Seketika muncul bunga - bunga bermekaran menjadi latar belakang Sasuke.


"Hn. Aku tidak akan menabrakmu, dobe. Ayo kita pulang. Di sini sangat panas," ujar Sasuke sebari memberikan helm pada kekasihnya itu. Ia memasang ekspresi tak bersahabat apalagi terhadap pemuda perak yang tak lain adalah Toneri.


"Kau kan dari dulu mau nabrak aku terus. Dasar," balas Naruto. Wajahnya merona. Ia menerima helm dari Sasuke.


Tenten menganga melihat teman pirangnya berinteraksi dengan seorang pemuda yang terlalu tampan itu. Kemudian Tenten menoleh ke arah Toneri. Ia bisa melihat jika tetangganya itu sedang merasa panas dan juga cemburu melihat adegan Naruto dengan si pemuda tampan yang terlihat lebih dewasa daru mereka.


"Na..Naruto.. Dia siapa?" tanya Tenten. Namun sebelum menjawab, Naruto keburu ditarik Sasuke dan langsung pergi meninggalkan Tenten, Toneri dan yang lainnya dengan dipenuhi tanda tanya beserta pertanyaan. "Siapa pemuda dewasa nan tampan itu ya? Apa hubungannya dengan si gadis pirang yang jauh dari kata cantik itu?" gumam teman - teman SMP satu angkatan dengan Naruto.


Seandainya Naruto bisa mendengar suara hati teman - temannya maka ia akan segera menjawab kalau pemuda tampan itu adalah wali kelasnya yang masih muda sekaligus kekasihnya sendiri.


Toneri masih mematung dengan rasa sakit di dada. Ia tidak akan pernah bisa percaya jika pemuda itu yang menjadi senior dan lulusan dari sekolahnya sekarang punya hubungan dekat dengan Naruto. Karena ia harus mendapatkan Naruto. Apapun yamg terjadi. Besok ia akan membuat si gadis pirang itu menjadi miliknya. Karma yang selama ini ia dapatkan harus segera berakhir dengan menjadikan Naruto sebagai miliknya. Harusnya Toneri bisa mengetahui apa hubungan si gadis pujaannya dengan pemuda seniornya itu. Karma akibat penolakan cinta yang pernah ia lakukan pada Naruto telah membutakan mata dan hatinya(poor you, ToneriπŸ˜’).


Sasuke tidak pulang setelah mengantarkan Naruto pulang ke rumahnya. Ia khawatir jika kekasihnya akan pergi. Pergi jalan - jalan dengan laki - laki beruban a.k.a Toneri.


Si gadis pirang yang baru selesai mandi harus mengganti pakaiannya di kamar mandi karena kekasihnya tertidur di kamarnya. Ibunya sama sekali tidak melarang guru mudanya itu untuk tidak tidur di kamarnya. Mungkin guru ayamnya sudah menghipnotis sang ibu supaya percaya padanya.


"Kaasan kok percaya sekali ya sama teme sensei? Apa kaasan lupa kalo aku tuh anak gadis? Gimana kalo aku diapa - apakan sama si guru ayam itu? Ah..aneh. Kaasan terlalu percaya sama dia," gumam Naruto. Ia sudah berpakaian santai. Hanya memakai kaos oblong putih bergambar karakter anime dan celana training berwarna navy. Sangat santai bagi seorang gadis seumurannya. Tidak memikirkan penampilannya sama sekali.


Dengan ragu Naruto melangkah memasuki kamar tidurnya. Kekasih tampannya sedang tertidur lelap. Naruto diam - diam memandangi wajah tampan kekasihnya yang sedang terlelap. Ia membelai wajah Sasuke yang sangat putih.


"Si teme memang tampan ya. Kenapa ia mau jadi pacarku? Hn," gumam Naruto. Ia tersenyum sebari merapihkan rambut kekasihnya yang menutupi matanya yang masih terpejam.


Tanpa Naruto sadari, kekasihnya sudah bangun sejak ia masuk ke kamarnya. Hanya saja Sasuke pura - pura tidur. Ia ingin menjahili gadisnya sekalian dimanja. Benar - benar pintar dan licik.


"Aku memang tampan, dobe," gumam Sasuke masih dengan mata tertutup. Kedua tangannya menarik pinggang Naruto dan langsung menindihnya di atas tempat tidur.


"Sa..Sasuke - kun.." gumam Naruto. Ia terkejut dengan posisinya saat ini. Sasuke menindihi tubuhnya. Tatapan matanya begitu tajam dan menakutkan. "A..apa yang akan kau lakukan, teme?! Ja..!"


"Sst..aku tidak akan melakukan itu padamu, dobe. Aku hanya kesal saja kau berada di dekat si uban itu seharian ini. Hn," ujar Sasuke. Ia menciumi leher dan rambut pirang kekasihnya.


"Ta..tapi..bi..bisa..saja..kan.." Naruto terbata - bata. Wajahnya sudah merona dan ia sangat malu dengan posisinya saat ini. Ia juga takut kekasihnya akan melakukan sesuatu padanya.


"Hn." Hanya itu yang Sasuke katakan. Ia segera mengubah posisinya. Kali ini Naruto duduk di atas sebelah pahanya. Wajah tampannya sangat dekat dekat wajah Naruto yang masih merona karena malu, gugup dan sejenisnya. Naruto juga bisa merasakan hembusan nafas kekasihnya. Ingin pingsan rasanya berada sedekat itu bagi si gadis pirang. Belum lagi jantungnya yang tak berhenti berdetak cepat.


"Kau sangat manis, dobe. Wangi pula. Aku cemburu karena seharian ini kau berada di dekat si brengsek itu," gumam Sasuke. Naruto ingin menjawab tapi bibir Naruto langsung disumpal oleh bibir Sasuke. Terjadilah insiden saling ******* yang menggairahkan.


Saat mereka sedang asyik melakukan kegiatan mesum antara guru dan murid, sang ibu memanggil putrinya dari bawah. Kamar Naruto ada di lantai kedua. Suara Kushina sangat kencang sehingga Naruto bisa mendengar panggilan ibunya dengan sangat jelas meski tidak memakai mikrofon.


"Naruto..!!" seru Kushina a.k.a ibunya Naruto dengan suara super kencang.


"Kaasan manggil aku, Sasuke - kun," ujar Naruto. Ia tidak bisa bergerak akibat pelukan erat dari sang kekasih.


"Hn." Sasuke masih menahan kepergian kekasihnya.


"Bukan hn, teme! Kaasan manggil." Naruto memberontak supaya dapat terlepas dari pelukan kekasih mesumnya.


Sasuke pun segera melepaskan pelukannya sebelum kekasih pirangnya berteriak. Naruto langsung berlari menjauhi kekasih mesumnya itu sebari menjulurkan lidah padanya😝 dan tersenyum manis. Kemudian ia menghilang dari pandangan Sasuke.


"Sepertinya dia ingin ku makan. Hn," gumam Sasuke pelan.


Tiba - tiba ponsel Naruto berdering. Terpampang nama Otsutsuki Toneri sedang memanggil. Ingin rasanya pemuda berstatus kekasih Naruto membanting ponselnya tapi hal itu ia urungkan. Sasuke penasaran dan menerima panggilan itu namun ia tidak mengeluarkan suaranya. Hampir satu menit Sasuke mengacuhkan panggilan telepon tersebut.


Tut. Panggilan terputus. Sasuke tersenyum puas. Namun senyuman tersebut segera berganti. Toneri mengirimi pesan pada kekasihnya. Sasuke pun membuka kunci layar ponsel Naruto namun kata kuncinya salah. Ia sudah dua kali mencoba tapi selalu saja salah.


'Sial. Si dobe pintar juga ganti password ponsel. Ah.. Coba namaku saja. U chi ha Sa su ke,' batin Sasuke. Layar ponsel pun berubah. Tampak wajah tampan dirinya terpampang di layar ponsel Naruto sebagai wallpaper ponselnya. Sasuke tersenyum. Bukan hanya status, semua yang ada pada diri Naruto hanyalah dirinya saja. Dari kata kunci ponsel, wallpaper dan hatinya juga milik Sasuke. Terbesit ide jahil dari pikiran pemuda tampan berusia 22 tahun itu. Ia ingin mengorek semua informasi mengenai hubungan kekasihnya dengan pemuda beruban itu.


Seringai licik terpasang di wajah tampan Sasuke. Ia membalas pesan yang Toneri kirimkan pada gadisnya.


ToneriKakoii


Malam Naruto


NarutoDango


Malam juga


Ada apa?


ToneriKakoii


Mengenai masalah karma yang siang tadi kita bicarakan


'Hn. Mereka berduaan. Si dobe harus ku hukum,' batin Sasuke. Ia membalas pesan berikutnya.


NarutoDango


Bagaimana kalau besok saja?


ToneriKakoii


Sebenarnya aku ingin malam ini, tapi besok saja


Jadi, sampai besok ya


Aku harap kau bisa datang, Naruto😊


NarutoDango


Hn..ok


Jaa...


'.........' batin seseorang.


Tap tap. Sasuke segera meletakkan ponsel gadisnya ke tempat semula dengan menghapus semua pesan terlebih dulu sebelum kekasihnya mengetahuinya.


"Sasuke - kun. Makan malam sudah siap. Ayo turun!" ajak Naruto. Namun kekasih rambut ayamnya tidak bergerak. Ia pun menarik tangan Sasuke karena kekasihnya diam tak merespon. "Cepat, teme!" seru Naruto. Sasuke pasrah saja saat gadis pirangnya menarik tangannya.


Makan malam berlangsung secara khidmat. Kini sang pemuda tampan berstatus sebagai kekasih dari putri Namikaze itu tengah memandangi album foto milik keluarga kekasihnya. Wajah Sasuke masih datar tak berekspresi tapi Naruto bisa melihat ada sedikit senyuman yang tersirat dari wajah tampan kekasihnya.


"Hei, Sasuke - kun," ujar Naruto. Ia duduk di samping Sasuke sebari bersandar di bahunya.


"Hn," balas Sasuke yang selalu membuat Naruto kesal.


"Jangan cuma hn. Ngomong apa aja asal jangan hn. Aku gak suka sepi kayak gini. Mirip di kuburan jadinya," gumam Naruto.


"Mana ada kuburan kayak gini?" tanya Sasuke. Tiba - tiba tangannya berbuat sesuatu. Seringai mesumnya kembali muncul.


"Te..me!" seru Naruto. Ia segera menjauh namun secepat kilat Sasuke menarik pinggang Naruto dan mendudukkan pantat gadisnya ke atas pangkuannya.


"Hn. Kau harus ku hukum, dobe," gumam Sasuke sontak membuat Naruto begidik ngeri. "A..aku akan menyelesaikan tugas bahasa Inggrisnya besok malam saja ya. Aku capek sekali sekarang, teme," balas Naruto. Kekasih Sasuke sungguh dobe.


"Bukan soal tugas itu, dobe!" seru Sasuke. Ia gemas pada kedobean kekasihnya. Ia pun mencubit pipi tembem Naruto. "Gemes banget."


"Hn," gumam Naruto meniru gaya kekasihnya. Ia meraba pipi bekas cubitan kekasih tampannya.


"Kau berani menemui si laki - laki ubanan itu ya. Hn? Kau harus ku hukum malam ini, Namikaze Naruto. Kau sudah membuatku bermimpi buruk di siang hari. Kau harus mendapat akibatnya," jelas Sasuke. Ia semakin erat memeluk Naruto dan menciumi tengkuk dan lehernya.


"Geli..te..me.." gumam Naruto. Mukanya sudah merona. "Ma..af..jangan te..me.." Naruto benar - benar tak berkutik.


"Aku akan menandaimu sebagai milikku. Kau tahu? Aku sangat cemburu, dobe," tambah Sasuke. Naruto habis dimakan kekasih mesumnya malam itu. Kedua orang tuanya sedang berada di kamar mereka. Jadi si guru mesum itu mendapatkan kesempatan untuk bertindak seenaknya.


"Ja..jangan.. Sa..Sa su ke - kun." Mata Naruto sudah berkaca - kaca. Ia sangat takut kekasihnya akan bertindak di lewat jalur.


Sasuke mengecup dahi Naruto. "Tenang saja, sayang. Bagaimanapun aku tidak akan sampai melakukan hal itu padamu. Aku sangat mencintaimu. Naruto adalah gadis yang berharga bagiku. Aku ini kekasih dan juga gurumu. MuachπŸ’‹," ujar Sasuke. Ia pun mengecup bibir Naruto. Bukan dengan nafsu tapi dengan rasa kasih sayang. "Gomen ne, Naru dangoku." Sasuke tersenyum tampan.


"Hn. Aku juga menyayangimu, Sasuke - kun. MuachπŸ’‹," balas Naruto. Ia juga mengecup bibir Sasuke. Keduanya pun tersenyum. Posisi mereka masih sama. Naruto duduk di pangkuan Sasuke.


Sementara itu di tempat lain.


"Besok, ku pastikan kau akan jadi milikku, Namikaze Naruto," gumam seseorang dengan penuh percaya diri.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2