Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
chapter 7


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjam tanpa izin


Ide cerita asli milik thor


Pair sasufemnaru


Genre murid, guru, cinta


Cerita gaje dan abal - abal, banyak typo dan karakter pada ooc


Happy reading


Di luar pintu kamar bercat warna biru langit seorang wanita paruh baya yang memiliki surai lurus panjang berwarna merah tengah mengetuk pintu kamar sang anak karena sudah saatnya untuk bangun dan sarapan. Namun tidak ada jawaban. Akhirnya Kushina, ibu sang pemilik kamar membuka pintu.


"Tumben Naruto tidak mengunci pintu kamarnya." gumam Kushina. Ia masuk ke dalam kamar putri semata wayangnya.


"Naruto. Ayo bangun, nak! Sudah siang. Nanti kau terlambat. Biasanya kau sudah bangun jam segini." ujar Kushina. Tubuh Naruto masih terbaring di atas tempat tidurnya dilapisi selimut tebalnya dengan keadaan yang tak biasa.


"Naruto.." kata Kushina. Ia menyentuh dahi sang anak yang tampak memerah.


"Ka..kau demam, Naruto!" seru Kushina. Ia sangat khawatir pada kondisi putrinya.


"Ng..ka..san.." gumam Naruto setengah sadar. "Dingin..selimutnya jangan ditarik. Dingin.." tambah Naruto. Ia demam tinggi dan meriang.


"Kaasan akan mengambilkan sarapan untukmu dan obat penurun panas. Kau berbaringlah." perintah Kushina. Ia segera berjalan ke luar dari kamar Naruto. Naruto masih tampak lemas tak bersemangat. Ia terkena flu.


"Mr. Maaf..a..ku ti..dak bi..sa ma..suk." ucap Naruto. Ia mengirim pesan suara pada guru tercintanya ralat belum jadi guru tercinta. Masih guru atau wali kelasnya.


Naruto mengirim pesan suara dengan tenaga yang sangat lemah sama sekali tak bergairah. Namanya orang sakit. Pasti lemah. Tapi ia merasa sakit itu merepotkan karena ia tak mau mengulang pelajaran dan belajar di rumah. Ia lebih senang belajar di sekolah bersama teman - temannya ketimbang diam di kamar meski banyak tumpukan manga yang menemaninya.


Di sekolah, tepatnya di kelas 2 ipa 2. Sasuke sudah berada di ruangan kelas. Ia tidak melihat siswi kesayangannya. Sepertinya ia belum melihat ponselnya.


"Apa ada yang tidak masuk hari ini?" tanya Sasuke kepada murid - muridnya.


"Namikaze, Mr." jawab Ino.


"Namikaze? Dia ke mana?" tanya Sasuke.


"Sakit flu, Mr." jawab Ino singkat.


Sasuke bermonolog dalam hati. Kemarin Naruto tidak apa - apa. Kenapa ia bisa sakit? Semalam juga ia terdengar baik - baik saja dari suaranya. Sejenak ia menatap seorang siswi yang duduk di bangku di hadapannya. Ia jadi teringat bahwa tadi ia sudah melapor pada guru bk, Tsunade - sensei atas kasus pembullyan yang dilakukan Sakura, Sara dan Shion pada Naruto. Ia juga meminta pada sang guru bk agar ketiganya dihukum dengan hukuman yang setimpal. Sebenarnya Sasuke ingin menghukum salah satu anak didiknya, Sakura tapi ia tak mau repot - repot mengurusi iblis merah muda itu. Apalagi iblis merah muda itu ada rasa lebih padanya dan sudah sering menyatakan cinta padanya pada hampir setiap jam istirahat. Merinding ketika membayangkan kejadian itu.


"Haruno, kau dipanggil guru bk, Tsunade - sensei. Aku sudah menyerahkan laporan kasusmu kemarin kepada beliau." ujar Sasuke dengan seringai licik dan rasa puasnya. Tatapan matanya pada Sakura begitu tajam. Aura yang terpancar dari tubuhnya juga sangat gelap dan menyeramkan. Shikamaru yang biasanya tertidur saja sampai merinding.


'Guru ini seperti mau membunuh Sakura saja.' batin Shikamaru yang tidak biasanya peduli pada orang lain.


'Kasus apa? Apa ada hubungannya dengan Naruto yang sedang sakit?' batin Ino dan Hinata.


'Wah..si gadis pink dalam masalah.' batin Sai.


'Mati aku. Aku pikir Mr. Sasuke lupa. Kenapa si dango itu malah memanggilnya? Awas saja kau, Naruto. Kalau sampai aku dihukum karenamu, aku pastikan kau pasti mendapatkan siksaan manis yang lebih buruk dari kemarin.' batin nista Sakura.


Sakura segera memasang ekspresi wajah merasa bersalah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi wali kelasnya bukan orang yang tidak pintar. Keturunan Uchiha dididik dari kecil untuk bisa membaca ekspresi seseorang. Jadi dengan mudah Sasuke dapat membaca pikirannya.


"Kau tetap akan dihukum, Haruno. Guru bk yang akan menghukummu. Silakan temui guru bk. Kau dapat izin tidak mengikuti pelajaran dariku." ujar Sasuke. Ia masih memasang ekspresi tadi sampai - sampai para murid merasa ketakutan dan terintimidasi.


"Ba..baik, Mr." jawab Sakura. Ia menuruti perintah sang wali kelas meski dalam hati ia mengutuk si korban bullyan, Naruto. Ia akan balas dendam lebih dari yang ia lakukan pada gadis pirang itu kemarin.


Kini Sakura dan kedua gadis berbeda surai lainnya yaitu Sara dan Shion selaku seniornya yang ikut andil dalam kasus pembullyan Naruto sudah berdiri di hadapan sang guru bk, Tsunade - sensei.


"Jadi, kalian berulah lagi. Apa belum cukup dengan penolakan dari guru yang kalian sukai, hah?!" gumam Tsunade yang terdengar seperti amarah.


Ketiga gadis itu hanya diam tak menjawab apapun. Mereka memang salah tapi kali ini mereka harus berhadapan dengan guru bk yang terkenal tegas dan keras juga sadis.


"Kali ini aku tidak akan tinggal diam. Kalian akan ku hukum. Aku yakin kalian pasti akan membalas dendam pada siswi yang telah kalian bully meski kalian sudah dihukum." tambah Tsunade. Ia bisa membaca pikiran mereka. Gadis seperti mereka tidak akan diam dan pasrah menerima hukuman tanpa membalas dendam.


Ekspresi ketiga siswi itu seketika menegang. Sekarang mereka hanya bisa pasrah menerima hukuman dari sang guru bk.


"Ini daftar hukuman kalian. Kerjakan setelah kalian makan siang. Guru kalian memberikan kalian keringanan untuk bisa mengisi perut kalian sebelum melaksanakan hukuman." ujar Tsunade sebari menyerahkan selembar kertas berisi daftar hukuman bagi ketiga siswi berupa secantik bidadari berhati iblis itu.


Seketika raut muka mereka berubah. Sudah tegang ditambah lagi jadi lebih tegang dan jijik saat membaca tulisan yang ada di atas kertas yang baru saja Tsunade berikan.


"Khusus untukmu, Haruno. Wali kelasmu sepertinya sangat menyayangimu." gumam Tsunade membuat Sakura tersenyum dan ekspresi yang tadinya tegang dan gelap menjadi rileks dan cerah. "Kau bisa memulai hukumanmu sekarang juga, Haruno." tambah Tsunade meneruskan perkataan yang tadi ia jeda.


Bagaikan petir di pagi hari. Itu yang saat ini sedang gadis gulali itu rasakan. Bukan sayang tapi benci. Setidaknya izinkan dirinya untuk melihat wajah tampan sang wali kelas meski cintanya selalu ditolak. Tapi dengan melihat wajahnya saja, Sakura jadi bersemangat untuk membuat Sasuke sang wali kelas nan tampan itu jatuh cinta padanya. Segala hal telah ia lakukan. Dari memberinya hadiah, membuatkan bekal makan siang, bahkan mendapatkan nilai tinggi meski ia selalu kalah pintar dari Naruto. Ia tidak akan menyerah begiti saja. Apa bagusnya Naruto? Cantik juga tidak. Dan juga gadis pirang itu tidak pernah disukai oleh seorang lelaki. Beda dengan dirinya yang pernah jadi rebutan beberapa seniornya. Ikan teri banyak yang beli karena murah tapi kalau ikan kakap kan yang beli sedikit. Kalimat yang cocok untuk gadis berdahi lebar itu(thor juga dahinya lebar lho tapi gak jahat ya).


"Ba..baik, Tsunade - sensei." jawab Sakura dengan sangat terpaksa. Kemudian ia berjalan ke luar dari ruang bk yang diikuti oleh kedua seniornya.


"Semua gara - gara si kuning sialan itu!" seru Sakura. Ia sangat kesal.


"Mungkin dia sudah memberikan mahkotanya pada Uchiha - sensei." tambah Shion memperparah keadaan.


"Bisa jadi. Tapi..aku yang lebih cantik saja ditolak sama Uchiha - sensei. Apa bagusnya sih gadis sialan itu." sambung Sara.


Mereka bertiga merasa kesal dan jengkel. Bukannya taubat mereka malah berniat akan membalas dendam pada gadis pirang itu. Tanpa sengaja pemuda bersurai merah mendengar percakapan mereka bertiga. "Aku harus memberi tahu Mr. Sasuke." gumam pemuda itu yang tak lain adalah Gaara. Sahabat Naruto sekaligus informan Sasuke.


Saat ini sang gadis bersurai merah muda yang lurus panjang sebahu sedang melaksanakan hukuman akibat membully teman sekelasnya sendiri. Ia harus membersihkan toilet laki - laki yang sangat kotor dan menjijikan seorang diri. Kedua rekannya dihukum saat jam istirahat. Sial sekali hari ini bagi Sakura. Tak bisa memandang wajah tampan wali kelasnya ditambah ia harus membersihkan toilet yang ukh menjijikan. Ia berniat untuk kabur namun ia teringat tulisan dengan huruf kapital yang isinya "BARANG SIAPA YANG LARI DARI HUKUMAN MAKA AKAN MENDAPATKAN HUKUMAN YANG LEBIH BERAT DAN TERANCAM DIKELUARKAN DARI SEKOLAH". Sakura bergidik ngeri. Ia masih betah di SMA Konoha apalagi ada wali kelasnya yang super tampan. Dengan berat hati ia melaksanakan hukuman yang ia terima atas tindakan buruknya itu.


Sementara itu, sang guru muda yang kini dilanda rasa cemas luar biasa tidak bisa fokus mengajar akibat siswi yang ia sukai tidak masuk kelas dikarenakan terkena flu, meriang, sakit kepala dan demam. Sasuke ingin sekali pergi menemui Naruto detik ini juga tapi ia harus menunaikan kewajibannya sebagai seorang guru. Jadilah ia gegana, gelisah, galau merana.


Mata pelajaran Sasuke diakhiri lebih cepat dengan memberikan latihan soal pada lembar kerja milik siswa masing - masing. Sasuke duduk di kursi tempatnya yang masih di ruang kelas 2 ipa 2. Siswi siswi diam - diam memerhatikan sang wali kelas. Karena jenuh dan risih, Sasuke segera melangkah meninggalkan muridnya dengan penuh tanda tanya.


'Ada apa dengan Mr. Sasuke?' batin beberapa murid.


'Apa mungkin karena si pirang dango itu?' batin murid yang lain.


Masing - masing siswa dan siswi saling berpendapat dalam hati tentang apa yang sedang dialami wali kelas tampan mereka. Mungkin sedang galau. Satu pendapat yang bisa menyatukan perbedaan dari setiap murid.


Sasuke sedang berdiri menyender di dinding depan ruang kelasnya. Ia membuka layar ponsel yang menjadikan foto siswi didiknya sebagai wallpaper ponsel pintarnya. Ia membuka aplikasi whatsapp. Ada pesan suara dari orang yang sedang ia cemaskan. Ternyata gadis pirang itu sudah memberinya kabar terlebih dulu sebelum ia pergi ke sekolah.


'Shit. Padahal dia sudah memberiku kabar. Akan ku pastikan tiga iblis betina itu mendapatkan imbalan yang setimpal karena telah membuat dobe dangoku menderita.' batin Sasuke. Ia benar - benar marah pada tiga siswi yang telah membully Naruto, ditambah Naruto sampai jatuh sakit.


Teng teng, bel ganti pelajaran berbunyi. Sasuke segera masuk kembali ke ruang kelasnya untuk mengambil peralatannya dan memberikan pekerjaan rumah kepada murid - murid tersayangnya ralat anak - anak didiknya. Mau nyebut anak - anak tapi mereka sudah bukan anak - anak. Sasuke terkadang bingung menyebut kepada siswa siswi didiknya. Setelah menyelesaikan tugasnya, Sasuke segera melangkah meninggalkan ruangan kelas 2 ipa 2 menuju kelas 2 ipa 4 yang tak jauh dari tempat ia berada.


Sesosok siswa berambut merah sudah berdiri menanti kedatangan sang guru bahasa Inggris yang masih sangat muda dan tampan. Sasuke pikir ada suatu hal yang hendak disampaikan oleh Gaara, nama pemuda yang sempat Sasuke anggap sebagai rival cintanya. Ternyata Gaara malah membantunya untuk mendekati siswi pujaan hatinya.


"Selamat siang, Mr." sapa Gaara tersenyum palsu.


"Hn. Apa yang hendak kau sampaikan padaku, Gaara?" tanya Sasuke to the point.


"Anda memang jenius. Aku hanya ingin menyampaikan pada Mr bahwa tiga siswi itu tetap akan menjahili dan membully Naruto." jelas Gaara dengan ekspresi datar.


"Sudah kuduga. Naruto tidak akan dibully lagi. Aku tidak akan tinggal diam." ujar Sasuke.


"Baguslah, Mr." gumam Gaara tersenyum.


Skip time


Di jam istirahat para siswa sedang asyik bermain bola basket. Tiba - tiba seorang gadis cantik bersurai merah panjang datang menghampiri para siswa tersebut. Semua orang yang ada di sekitar lapangan terkejut dan terheran. Siswi yang biasanya enggan turun ke lapangan yang panas dan berdebu ada di tempat tersebut.


"Wah..ada Sara senpai!" seru Kiba, teman sekelas Naruto.


"Untuk apa di ke sini?" tanya Sai.


Kiba, Sai dan siswa lainnya tengah bermain bola basket. Sara menghampiri mereka kemudian berkata, "sampaikan pada manager kalian kalau seminggu ini aku yang akan mencuci baju anggota tim basket, tim voli dan tim sepak bola." ujar Sara dengan wajah yang sangat memerah.


"Nani?!" seru para siswa yang dapat mendengar ucapannya.


"Cepat?! Bodoh!!" seru Sara dengan sangat kesal dan kelewat malu. Ia harus menjalani hukuman dari guru bk yang sangat aneh dan menjijikan. Dia harus mencuci baju latihan anggota tim basket, sepak bola dan voli selama satu minggu. Ia belum pernah mencuci bajunya sendiri. Ia putri semata wayang seorang pengusaha sekaligus pejabat. Ia ingin mengadu tapi ia urungkan. Bisa - bisa semua fasilitas yang orang tuanya berikan padanya diambil dan dicabut. Sara sangat sial. Untung hanya seminggu. Ia bersumpah akan membuat Naruto lebih menderita.


Sai diam - diam merekam video ketika Sara mengatakan hal memalukan yang baru saja ia katakan. Kiba hanya beroh ria sedangkan Shikamaru tidak peduli. Mungkin senior cantiknya sedang dihukum tapi sepertinya hukumannya agak aneh. Tak terbayang kaos yang bau keringat dan kaos kaki yang baunya tujuh rupa. Ingin muntah rasanya. Rasakan tuh.


Lain Sara lain lagi Shion. Ia juga mendapatkan hukuman yang tak kalah unik. Sekedar informasi, Konoha High School memang SMA biasa namun para murid juga diberikan pendidikan khusus yaitu tata boga, tata rias, berkebun, dan juga beternak.


Siswi cantik berambut pirang pucat itu harus mengalami kesialan yang lebih buruk daripada kedua rekan jahatnya yakni selama seminggu ia harus mengurus ternak ayam setelah pulang sekolah. Shion ingin sekali kabur dan bunuh diri tapi ia juga masih ingin hidup. Masih ingin meraih cinta dari sang guru tampan pujaan hatinya. Meski hal itu tidaklah mudah atau bisa dibilang mustahil. Dia kan dihukum oleh guru itu sendiri.


Dimulailah hukuman aneh yang terkesan menjijikan bagi trio iblis S³ Sakura, Sara dan Shion. Di balik derita mereka ada senyuman dan tawaan usil dan puas. Pelakunya adalah Ino dan Hinata. Mereka diam - diam merekam kejadian lucu ketika menjalani hukuman. Mereka juga dibantu oleh Sai, Kiba dan Shikamaru. Shikamaru sebenarnya tidak mau tapi kedua gadis cerewet itu memaksanya. Jadilah ia harus merekam saat Sara yang tak sengaja wajahnya terkena cipratan air sabun, rambutnya terkena kaos kaki super busuk akibat dilempar oleh Kiba. Kiba tidak sengaja melemparnya. Berakhirlah Sara yang ingin mengejar dan menghajar Kiba dengan tersandung ember tempat cucian baju kotor. Badannya terkena air sabun itu dan Sara pingsan. Pingsan?


Sepertinya Sakura lebih beruntung karena ia hanya membersihkan toilet pria tapi ia tak menduga akan datang kejadian yang sangat memalukan. Ia tak sengaja membuka pintu bilik toilet yang tertutup. Dia kira di dalamnya tidak ada orang, ternyata ada Rock Lee yang sedang memenuhi panggilan alamnya. Seketika Sakura pingsan di tempat.


Shion terlihat menikmati hukuman yang diberikan padanya. Mengurus ayam dan bebek tidaklah susah. Hanya memberinya makan. Tinggal tuangkan pakan unggas di kandang dan beres. Tinggal pulang. Namun karma selalu datang pada orang yang telah berbuat jahat. Ia menginjak kotoran ayam lalu terjatuh mengenai kandang ayam. Kepalanya terkena kandang ayam itu yang membuat rambutnya menjadi bau ayam.


Ketiga gadis itu menjerit kesal atas hukuman yang mereka terima. Mau ngadu pada orang tua, mustahil. Bisa - bisa mereka dihukum juga di rumah. Orang tua mana yang akan membiarkan anak kesayangan mereka berbuat tidak baik di sekolah apalagi sampai ada korban meski korban kenakalan mereka hanya terkena flu biasa. Menyiksa sesama murid dengan alasan merebutkan perhatian seorang guru muda yang sangat tampan. Taruh di mana wajah cantik mereka. Kayak perempuan tidak laku saja. Jadi biarlah hanya di sekolah mereka dihukum supaya rumah bisa menjadi tempat mereka beristirahat.


Malam itu Naruto masih sakit meski demamnya sudah turun. Nafsu makannya juga hilang. Badannya tambah lemas. Tidak ada tenaga untuk turun dari tempat tidur. Ponselnya saja belum sempat ia charge. Masih sakit tapi masih peduli dengan ponsel. Naruto ingin tidur saja tapi tidak bisa. Seharian tadi ia hanya tidur jadi malammya ia tidak bisa tidur. Ia pun berusaha untuk bangkit dari tempat tidur. Ia berhasil. Ia melirik ke sudut kamar, ponselnya sedang dicharge. Mungkin ibunya yang melakukannya.


Naruto hendak melangkah ke luar dari kamar namun ponselnya berdering. Ada panggilan telepon untuknya. Ia segera mencabut ponsel dan kabel chargenya. Ia melihat tulisan di layar ponsel. Ino memanggil. Ia pun duduk kembali di atas tempat tidurnya.


"Mo..shi..mo..shi.." sapa Naruto masih lemas. Suara orang bangun tidur.


"Naruto! Bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikan?" tanya Ino.


"Sedikit cuma masih pusing dan lemas." jawab Naruto dengan suara pelan.

__ADS_1


"Besok aku jenguk kamu ya. Aku akan mengajak Hinata dan yang lainnya juga. Tunggu saja ya. Bye. Selamat beristirahat. Minum obat. Ok." kata Ino


Ino berbicara panjang lebar. Naruto hanya bisa tersenyum. Ia merasa senang temannya meneleponnya.


'Semoga besok aku sudah sembuh. Tidak enak sakit begini. Makan apa - apa juga tidak enak. Jadi pengen melon.' batin Naruto. Ia membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia membuka aplikasi whatsapp. Ada pesan dari wali kelasnya.


"Istirahat yang cukup. Jangan lupa makan dan obatnya diminum. Ok. Lekas sembuh. By guru paling tampan seantero Konoha."


'Dasar narsis.' batin Naruto. Ia tersenyum ketika membaca pesan dari sang guru. Ia merasa seperti mendapatkan pesan dari pacarnya. Hatinya menjadi hangat dan ada rasa sesuatu yang sangat asing. Ia tidak tahu itu apa. Ia juga sempat berpikir, kapan ia dapat pacar yang tampan seperti wali kelasnya? Pacar 2d sih banyak yang tampan. Ia kan penggemar anime dan manga. Ia menghela nafas berat. Nanti juga dapat pacar. Ia lelah kalau harus jatuh cinta lebih dulu pada seorang pria, biar pria itu saja yang mengejar dia. Lagipula ia masih sekolah. Masih ingin menikmati masa muda bukan nikah muda(sama kayak thor nikah di usia matang).


Keesokan harinya, sang karakter utama dalam ff ini masih sakit. Meski tidak separah kemarin. Hari ini ia hanya lemas dan sedikit pusing karena kurang makan. Ia masih belum bisa pergi ke sekolah. Bosan juga diam di kamar. Ia memutuskan untuk membaca beberapa manga setelah ia sarapan dan minum obat. Tak berapa lama ia tertidur sambil duduk di kursi belajarnya.


Sementara itu, di Konoha High School. Ino dan Hinata sudah bersiap - siap. Siang ini mereka akan menjenguk teman pirang mereka yang masih sakit. Sai dan Gaara juga ikut serta. Jadilah mereka berangkat berempat dengan naik bus ke kediaman Namikaze.


Gaara diam - diam mengirim pesan pada Sasuke. Ia memberitahukan bahwa mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Naruto untuk menjenguknya. Sasuke kesal. Kenapa ia tak diberitahu? Ia juga ingin ikut. Kalau datang sendiri akan canggung. Jadi ia segera menyusul para muridnya pergi menjenguk sang siswi pujaan hati.


Tak lama mereka sampai di kediaman Namikaze. Sang tuan rumah, Namikaze Kushina menyambut kedatangan mereka dengan senang hati.


Sasuke tiba di kediaman Namikaze tak lama kedatangan Ino dan teman - temannya. Ia datang sambil membawa buah - buahan, melon dan jeruk. Buah kesukaan Naruto. Ia segera memberikan melon dan jeruk ia bawa pada sang calon ibu mertua. Kushina menerima pemberian Sasuke dengan senang hati.


Ino dan teman - temannya berjalan menuju kamar Naruto yang berada di lantai dua. Sasuke juga ikut serta. Mumpung ada kesempatan kenapa tidak digunakan sebaik mungkin.


Ino mengetuk pintu kamar Naruto, namun tidak ada jawaban. Ia pun membuka pintu kamar Naruto. Terlihat Naruto yang sedang tidur sambil duduk di kursi belajarnya.


"Naruto..?!" seru Ino. Ia segera melangkah mendekati Naruto. Naruto terbangun setelah mendengar suara Ino.


"Um..Ino..?? Ke..napa a..da di sini??" tanya Naruto yang masih belum sadar dari tidurnya. Ia sudah berdiri. Ekspresi teman - temannya beragam. Mereka ingin tertawa tapi tidak tega. Penampilan Naruto saat ini sungguh kacau. Ia masih memakai piyama daster pink bergambar kelinci yang panjangnya selutut dan tak berlengan. Karena tadi pagi ia berkeringat dan juga gerah jadi ia memakai baju seperti itu.


Ino dan teman - teman yang lain duduk di atas karpet di kamar Naruto. Naruto masih belum sadar. Ia malah tiduran di paha Hinata sebari bergumam, "aku tidur lagi ya. Kalian duduk saja. Ada banyak manga kok kalau kalian mau baca. Huam.." kata Naruto. Ia menguap lebar tapi ditutupi oleh telapak tangan kirinya.


"Oyasumi." ucap Naruto dengan polosnya. Ia pun memejamkan mata namun suara berat menyadarkannya.


"Hn. Dobe." gumam Sasuke. Sebenarnya ia cukup terpesona dengan tindakan polos Naruto. Naruto yang tidak menyadari kehadiran dirinya dan laki - laki lain di kamarnya.


"Ah..teme sensei. Jangan datang ke mimpiku. Aku ingin tidur dan bermimpi ketemu sama aktor tampan itu." gumam Naruto. Ia masih belum sepenuhnya sadar.


Muncul tanda marah di dahi sang guru. Kemudian ia menoleh ke seluruh sudut kamar Naruto. Dinding kamarnya dipenuhi poster sang aktor pujaan dan karakter anime yang selalu ia banggakan. Ingin sekali Sasuke mencabut poster tersebut. Rupanya ia cemburu. Ia kan belum jadi siapa - siapa bagi Naruto jadi belum berhak cemburu. Sasuke harus lebih sabar dan segera menjadikan gadis pirang itu sebagai pacarnya.


Ino gemas akan kelakuan dan ucapan Naruto. Ia pun menjitak kepala Naruto. Sontak Naruto langsung bangun dan memandangi sekitar. Ia melihat Hinata yang sedang tersenyum, Sai memasang senyum palsu, Gaara tak berekspresi dan juga Mr. Sasuke yang memasang ekspresi aneh. Tunggu. Mr. Sasuke? Naruto langsung salah tingkah. Ia sedang dalam keadaan kacau dan jadi kebingungan. Baju yang ia pakai juga sangat aneh.


Akhirnya tawa teman - teman Naruto lepas. Mereka menertawakan tingkah lucu Naruto. Naruto super tidak peka. Sasuke juga ingin tertawa tapi ia tahan. Jika ia tertawa, mau taruh di mana muka stoicnya yang tampan itu.


Wajah Naruto seketika merona karena malu. Malu pada teman - temannya terlebih lagi malu pada sang wali kelas.


Beberapa saat kemudian. Ino memperlihatkan video tentang trio S yang dihukum akibat membully Naruto.


"Harusnya kamu lihat mereka, Naruto. Mereka terlihat mengenaskan sekali. Padahal hanya dihukum ringan." ujar Ino. Ia tertawa melihat video yang Shikamaru dan Sai rekam.


"Memangnya mereka dihukum apa? Oh iya, kalian tahu dari mana kalau mereka membullyku?" tanya Naruto sebari melirik ke arah Sasuke yang sedang sibuk membaca manga Sunarto(plesetan dari Naruto shippuden ya). Sasuke mah anteng saja.


"Mr. Sasuke yang menghukum mereka secara tidak langsung lewat guru bk." jelas Gaara.


"Oh." Naruto hanya beroh ria.


"Tapi..kasihan mereka. Mereka kan anak orang kaya. Pasti kesusahan sekali." tambah Naruto. Ia tidak tega mendengar ketiga gadis pelaku pembullyan menderita akibat membullynya.


"Mereka pantas mendapatkan hukuman itu, dobe." sahut Sasuke. Ia menutup manga yang baru saja ia baca.


Naruto cengo. Sejak kapan guru ayamnya membaca manga miliknya? Ada tulisan pribadi di dalam setiap manganya. Bisa gawat kalau gurunya membaca tulisan itu. Itu yang Naruto pikirkan.


Naruto hendak berjalan ke tempat Sasuke duduk tapi ia masih lemas hingga tanpa sengaja tersandung kaki Sai dan jatuh menimpa paha sang guru.


"Sa..sakit. Ma..maaf, Mr." ucap Naruto. Ia langsung bangun dengan dibantu oleh sang guru.


"Kau tidak apa - apa, dobe?" tanya Sasuke. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Naruto.


"A..aku..tidak apa - apa." jawab Naruto. Wajahnya merona hingga telinganya. Naruto langsung gugup. Tangannya dipegang oleh tangan guru muda itu. Wajahnya juga sangat dekat dan tampan. Ya dia memang tampan. Pasangan guru dan murid itu saling memandang layaknya adegan di film romantis.


"Ehem. Di sini masih ada kami lho." gumam Gaara. Ia lupa mengambil gambar kedua pasang sejoli yang kini sedang merona malu.


Naruto sudah duduk di dekat Ino dan Hinata. Ia tidak mau jatuh lagi menimpa wali kelasnya. Ia juga melupakan tentang sesuatu yang ada di dalam manga. Toh bukan hal penting hanya tulisan tentang karakter manga yang ia sukai.


'Ukh..kenapa aku harus jatuh menimpa teme sensei sih..?! Aku kan jadi malu. Aku jatuh sampai mencium kakinya. Mau taruh di mana mukaku? Ah..' batin Naruto. Ia masih gugup. Karena sakit dan kurang makan ia jadi lemas dan jatuh.


'Jantungku masih berdebar kencang. Kalau copot bagaimana? Rasanya hampir sama saat bertemu dengan Toneri kalau di dekat teme sensei itu.' Naruto terus bermonolog dalam hati tapi matanya sesekali melirik pada sang guru.


'Si dobe dango memang lucu. Dia kan masih sakit dan lemas tapi malah mau berlari. Akhirnya dia jatuh menimpaku. Wajah dan ekspresinya sungguh menggemaskan. Ingin ku bawa pulang. Ah andai saja bisa begitu. Sampai kapan aku harus melakukan pendekatan padanya? Apa aku tembak dia saja? Ah jangan.' batin Sasuke. Ia jadi malu sendiri. Ia sudah bukan remaja lagi ataupun bocah SMA tapi ia sudah menjadi seorang guru SMA yang jatuh cinta pada siswi didiknya sendiri.


Tok tok. Suara ketukan pintu. Kushina datang sambil membawa cemilan dan juga buah yang Sasuke bawa. Setelah mengantarkan cemilan dan buah itu, Kushina segera meninggalkan Naruto bersama teman - temannya untuk berkumpul.


"Wah..ada melon! Kebetulan sekali. Aku memang sedang ingin makan buah melon!" seru Naruto. Ia sangat senang. Ia pun memakan potongan buah melon yang ibunya bawakan.


'Dia lebih manis dari melon.' batin seseorang yang mukanya merona sedikit.


Ino dan yang lainnya juga memakan potongan buah melon dan cemilan yang ibu Naruto sajikan.


"Siapa yang bawa melon? Kita gak beli kan?" tanya Ino kepada Hinata. Hinata menggelengkan kepalanya. "Lalu siapa?" Naruto yang bertanya.


Gaara melirik Sasuke yang sedang asyik membaca manga milik Naruto. Diam - diam sang wali kelas suka membaca manga juga.


"Eh? Mr. Sasuke yang bawa?" beo Naruto dengan ekspresi polosnya.


"Hn." jawab Sasuke. Matanya masih sibuk membaca manga.


"Arigatou, Mr. Mr. Sasuke seperti peramal saja. Tahu keinginanku. Hehehe." ucap Naruto yang terkesan malu - malu.


Semua temannya saling memandang dan bertelepati dalam hati.


'Itu kode buat Naruto.' batin Ino.


'Naruto masih belum peka juga.' batin Hinata.


'Mungkin kebanyakan baca manga dan nonton anime.' batin Sai.


'Padahal aku sudah memberikan informasi yang akurat pada Mr. Sasuke.' batin Gaara.


'Mendokusai..' batin keempat teman Naruto.


Naruto memandangi keempat temannya yang saling melirik. Sepertinya ada yang mereka rahasiakan dari dirinya. Naruto menepuk bahu Ino seraya bertanya, "ada apa dengan kalian?"


"Tidak. Oh iya, kami harus pulang, Naruto. Maaf ya tidak bisa lama." ujar Ino.


"Tak apa. Aku senang kalian mau menjengukku. Aku jadi tidak lemas lagi." balas Naruto. Ia sudah lebih baik dan tidak lemas seperti sebelum dijenguk oleh teman - temannya.


"Cepat sembuh ya." ujar Gaara.


"Semoga besok kau bisa masuk sekolah." tambah Sai.


"Jaga kesehatan ya." tambah Hinata.


"Ok. Arigatou minna." balas Naruto. Ia merasa sangat senang. Ia memeluk Ino dan Hinata. Sai juga minta dipeluk namun bukan pelukan yang ia dapatkan melainkan jitakan dari Ino dan Gaara serta pandangan mematikan dari sang wali kelas. Naruto yang melihat Sai dibully oleh Ino dan Gaara.


Sasuke masih dalam posisi duduknya. Sebenarnya ia masih betah berada di kamar Naruto. Maksudnya ia masih ingin bersama siswi didiknya tersebut tapi semua teman Naruto sudah mau pulang. Dengan sangat terpaksa dan berat hati, Sasuke juga ikut pulang.


"Jangan tidur terlalu malam. Minum obatmu. Kau harus segera sembuh. Kerjaanmu sudah menunggu." ucap Sasuke dengan lembut sebari mengelus kepala Naruto.


"I..iya, Mr. Besok juga aku sembuh." balas Naruto dengan muka memerah karena gurunya mengusap kepala Naruto.


"Kau terlihat berbeda tanpa dango di kepalamu. Sampai nanti." gumam Sasuke sambil tersenyum. Ia berjalan ke luar dari kamar Naruto dan menutup pintu kamarnya.


Naruto duduk di atas tempat tidurnya dengan perasaan tidak karuan. Jantungnya terus berdebar kencang. Ia merasa gelisah sekaligus senang.


Naruto pov


Ada apa denganku? Apa sakitku parah? Jantungku sampai berdebar kencang seperti ini. Apalagi ketika teme sensei mengusap kepalaku. Wuaah..kenapa aku begini?? Aku..aku tidak tahu lagi..


Aku membaringkan tubuhku ke atas kasur. Ku tutupi wajahku dengan bantal. Aku malu sekali tadi. Aaargh..!! Ku menjerit dalam hati. Terbayang wajah teme sensei ketika menolongku yang jatuh menimpa kakinya. Hidungku terkena pahanya. Ah..benar - benar memalukan. Mukaku pasti sudah semerah tomat. Bagaimana ini? Aku jadi tidak berani bertemu dan melihat teme sensei tapi tugasku sebagai asistennya mengharuskanku untuk selalu berada di dekatnya.


Padahal baru dua minggu aku mengenalnya. Sikapnya sungguh berbeda padaku. Terkadang iseng, memaksa, dingin, egois dan juga baik penuh perhatian. Apa aku bisa bersikap seperti biasa lagi padanya? Dulu ketika aku belum mempunyai rasa lebih pada Toneri, teman sekelasku waktu SMP, aku masih bisa bersikap biasa dan akrab dengannya. Apa harus terjadi lagi hal seperti itu? Dengan aku yang merasakan perasaan lebih pada Mr. Sasuke, apa akan menjauhkanku darinya? Aku sudah sangat senang bisa berada di dekatnya. Meski harus terkena bullyan tiga iblis betina itu.


Mereka kan cantik dan juga sempurna. Pasti mudah mendapatkan kekasih. Tinggal bilang mau tidak jadi pacarku? Aku yakin banyak pemuda yang menyukai mereka. Tidak sepertiku. Tampang pas - pasan. Tubuh pendek. Jauh dari kata ideal. Aku juga belum pernah disuka sama laki - laki apalagi sampai ditembak dan diajak pacaran. Jadi..mana mungkin Mr. Sasuke mau denganku. Ku kubur saja perasaan ini daripada harus terluka karena patah hati. Akan ku anggap semua tindakannya sebagai perhatian dari seorang guru kepada muridnya. Ya. Aku harus begitu. Semangat!! Jangan memikirkan cinta dulu. Perjalanan hidupku masih jauh. Jadi jangan karena cinta aku melupakan cita - citaku.


Naruto pov end


Malam yang begitu dingin namun tidak bagi seorang pemuda dengan rambut raven melawan gravitasi yang mendapat julukan rambut ekor ayam dari siswi tercintanya, Namikaze Naruto.


Uchiha Sasuke, nama pemuda itu. Memiliki wajah tampan nan sempurna yang selalu membuat semua lawan jenisnya tergila - gila padanya. Namun hanya satu gadis yang tak menaruh minat dan tak terpesona padanya yaitu murid didiknya sendiri, Naruto. Gadis pirang yang berhiaskan dua buah dango di atas kedua sisi kepalanya yang menambah kesan imut padanya. Ya gadis itu yang membuat seorang Uchiha Sasuke galau, jantungnya yang selalu berdebar lebih kencang saat di dekatnya, perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Sasuke yang telah menjadi guru dan wali kelas Naruto bisa lebih leluasa mendekati dan memerhatikannya. Makanya ia menjadikan Naruto sebagai asistennya, selain dia cukup pintar, Sasuke juga ada hati padanya. Jadi dia memanfaatkan kesempatan yang ada.


Sasuke pov


Capek sekali hari ini. Menjadi seorang guru sungguh berat. Harus banyak bicara saat menerangkan pelajaran. Untung saja bukan pelajaran matematika. Bisa mati aku karena kebanyakan bicara. Haah..aku hanya bisa menghela nafas. Tugas siswa sudah kuperiksa. Repot juga kalau si dobe dango itu tidak ada. Jadi kangen. Padahal tadi sudah ketemu meski hanya sebentar.


Masih terbayang wajah si dobe itu yang jatuh menimpa kakiku. Sangat imut. Apalagi pipinya yang merona merah. Ingin ku bawa pulang. Semoga saja besok ia sudah bisa masuk. Dari yang ku lihat ia dalam keadaan baik - baik saja hanya agak lemas. Apa ku chat saja ya? Aku penasaran dan juga khawatir tapi..tidak jadi. Ah chat saja. Aku kan pria jadi harus melangkah lebih dulu kalau mau gadis itu peka. Ok. Aku akan melakukannya.

__ADS_1


Sasuke pov end


Tuuut tuut. Ponsel Naruto bergetar. Ia segera mengambil ponsel yang ada di atas meja belajarnya. Ia baru menyelesaikan makan malam bersama ayah dan ibunya. Ia juga sudah lebih sehat dan tidak tampak lemas.


"Ada chat. Dari siapa ya?" gumam Naruto. Ia duduk di atas kasur sebari memainkan ponselnya.


Teme sensei


How are you tonight?


Kau sudah lebih baik kan?


Seketika wajah Naruto memerah dan tersenyum. Kemudian ia membalas pesan dari sang pengirim.


Dobe Dango


I'm better now, thank you, Mr


"Kok cuma segitu jawabannya?" gumam Sasuke tidak puas pada jawaban dari sang murid.


Teme sensei


Besok kau masuk kan?


Tugasmu sudah menumpuk di mejaku


"Cih. Dasar teme sensei otoriter! Aku kan bukan pembantunya. Huh." umpat Naruto. Ia kesal dengan pesan dari sang guru padahal tadi ia sempat senang.


Dobe Dango


Tergantung


Teme sensei


Apa maksud dengan tergantung?


Dobe Dango


Kalau sehat ya masuk


Kalau masih sakit ya tidak


Teme sensei


Kau sudah sehat juga


Tadi keadaanmu baik - baik saja


"Udah tahu malah nanya. Oh iya. Untung besok tidak ada pelajaran si teme sensei. Merdeka!" seru Naruto dengan nada senang.


Dobe Dango


Ya besok aku masuk


Lagipula aku kangen


Wajah Sasuke merona. Padahal maksud dari kata "kangen" Naruto bukan tertuju padanya.


Dobe Dango


Aku kangen sama teman - teman sekelasku.


Sasuke kecewa. Ia terlalu terbawa perasaan.


Teme sensei


Kau tidak kangen pada orang tampan ini?


Dobe Dango


Siapa?


Yang tampan kan cuma idola aku Ryuji Sato - sama😍💕💕


Teme sensei


Aku lebih tampan darinya


Malah 100 X lebih tampan dan menawan😏😎


Dobe Dango


😜tampan kalau dilihat dari atap gedung Konoha High School pakai sedotan


Teme sensei


Yang penting tampan😎


Dobe Dango


Gede rasa😑


Percaya diri sekali😜


Teme sensei


Harus dong😏


Kan memang tampan


"Kok rasanya kayak bukan chattingan sama teme sensei sih? Banyak emoticonnya?" gumam Naruto, bingung.


Dobe Dango


Kau bukan Mr. Sasuke ya?


Teme sensei


Bukan, tapi Uchiha Sasuke


The most handsome man in the world


Dobe Dango


😑😐up to you


Guru rambut ekor ayam


Teme sensei


Dobe Dango blonde


Dobe Dango


Aku tidak dobe😣


Teme sensei


😉


Dobe Dango


😮😝


Teme sensei


Manis


Dobe Dango


Apanya?


Teme sensei


Ya kamu😉


Dobe Dango


Aku bukan gula😣


Kalau manis nanti aku dikerumuni semut


Sasuke sweatdrop pada Naruto. Ia dirayu malah tidak peka. Memang dasar gadis bodoh tapi dia tidak bodoh. Hanya kurang peka saja. Kalau Naruto bodoh berarti Sasuke gagal menjadi guru.


Kedua sejoli itu saling kirim pesan. Tawa dan senyum tak henti dari pasangan guru dan murid tersebut. Akhirnya rasa kantuklah yang membubarkan sesi percakapan via whatsapp mereka.

__ADS_1


"I love you, my lovely dobe dango blonde Naruto. I will make you to be mine. Only mine." gumam Sasuke sebelum matanya terpejam.


Tbc


__ADS_2