
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjam tanpa izin
Ide cerita asli milik thor
Genre : cinta, guru, murid
Pair : sasufemnaru
Banyak typo, sifat karakter beda dengan versi anime a.k.a ooc
Cerita gaje
Happy reading
Di balik pintu kamar bercat biru muda, seorang gadis muda yang masih mengenakan kimono handuk berwarna merah muda dan rambut basahnya yang juga berbalut handuk guna mengeringkan rambutnya yang basah setelah hampir tiga puluh menit ia keramas dan menghabiskan 4 sachet sampo. Gadis muda itu tengah asyik melantunkan lagu soundtrack anime kesukaannya. Dia menyanyi sebari merapihkan tempat tidurnya lalu ia berbaring di atas kasur yang telah ia rapihkan. Sungguh gadis yang sangat kurang kerjaan.
Tiba - tiba, si gadis pirang terkejut dengan suara panggilan ibunya yang begitu kencang.
"Naruto! Sampai kapan kau mau santai - santai di dalam?! Sasuke sudah menunggumu dari tadi?!" seru ibu Naruto a.k.a Kushina dari balik pintu kamar Naruto.
"Hah?!" seru Naruto. "Gawat! Aku lupa!!" Naruto segera melepas kimono handuknya. Ia lupa bahwa hari Minggu ini ia ada janji dengan sang kekasih. Yakni berkunjung ke kediaman Uchiha. Bertemu calon mertua.
"Kaasan! Tolong katakan pada Sasuke - kun, lima belas menit lagi aku turun," pinta sang gadis pirang yang punya sifat pelupa.
"Ok, sayang. Jangan lama - lama ya nak!" jawab Kushina dengan suara yang keras.
Naruto segera bersiap - siap. Ia benar - benar panik. Naruto pun mengeringkan lebih dulu rambutnya yang setengah basah. Lalu mengambil satu set dalaman di lemari dan juga baju yang akan ia pakai saat bertemu calon mertuanya.
Ia masih remaja kelas 2 SMA tapi memiliki pikiran seperti wanita dewasa. Ia tidak mau berhubungan dengan beberapa pria apalagi sampai harus memiliki mantan kekasih di setiap sudut kota Konoha. Bisa - bisa ia dicap sebagai perempuan yang pemilih atau playgirl. Sasuke sudah cukup baginya. Semua yang ia inginkan ada dalam diri pemuda berambut ekor ayam itu. Sasuke adalah suami idaman Naruto. Tampan, pintar, mencintainya, bertanggung jawab meski Sasuke terkadang egois, angkuh, dingin, jutek, datar dan yang paling parah adalah mesumnya yang tingkat dewa.
Si gadis pirang yang kini rambutnya sudah ditwintail tanpa dango, tersenyum sendiri memandangi pantulan dirinya di depan cermin besar. Ia bergumam sendiri. "Kamu punya pacar juga, Naruto. Ganteng pula. Aku gak nyangka lho. Dan sekarang mau ketemu sama orang tua pacarku. Kyaa...malu sekali!!" seru Naruto. Mukanya merona. Ia sudah gugup meski belum bertemu dengan orang tua Sasuke. Ia takut kedua orang tua kekasihnya tidak mengizinkan mereka berhubungan. Apalagi dengan status guru dan murid. "Haa..." Naruto menghela nafas panjang. "Yeah. Aku harus tetap semangat'ttebayo!!" seru Naruto. Ia mengedipkan sebelah matanya.
Si gadis pirang pun segera berjalan ke luar dari markas favoritnya, kamar tempat ia membaca manga, menonton anime, belajar dan melamunkan sosok pemuda yang ia cintai. Otaku dan budak cinta.
Sasuke sudah duduk menanti kedatangan sang kekasih pujaan hatinya yang baru turun melewati tangga. Kedua matanya tak pernah henti memandangi sang kekasih yang selalu tampak sempurna di matanya. Rambut twintail pirangnya yang keemasan, kulitnya yang berwarna kuning keputihan, matanya sebiru langit di musim panas dan terakhir bagian yang paling Sasuke sukai yaitu bibir pink tipis Naruto. Ingin sekali dirinya mencicipi manisnya bibir sang kekasih.
Naruto berjalan mendekati si pemuda yang masih takjub memandangi semua kelebihan dirinya. "Sa su ke - kun." Naruto menggoda kekasihnya. Ia mengedipkan sebelah matanya pada Sasuke. Sasuke tersadar. "Hn. Ayo berangkat, dobe," ucap Sasuke, datar, dingin dan tanpa ekspresi.
'Aku pikir bakal beda reaksinya. Ternyata masih seperti ice prince ya. Dasar si teme! Apa aku kurang dandan! Tapi.. Biasanya juga ia suka sama penampilanku. Dia malah bengong dan diam saja,' batin Naruto. Ia sedikit merasa kecewa dengan respon kekasihnya.
Di saat kedua sejoli masih sibuk dengan pikiran mereka masing - masing, sesosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usia yang sudah tak lagi muda, Namikaze Kushina, ibu kandung dari Naruto, calon ibu mertua si pemuda berambut ayam a.k.a Uchiha Sasuke. Ia berjalan menghampiri Naruto dan Sasuke sebari menjinjing sekeranjang buah tomat baru matang dan masih tampak segar juga beberapa buah lain yang baru ia petik dari kebun belakang rumah. Kushina sangat suka berkebun begitu pula dengan suaminya, Namikaze Minato. Jadi mereka terkadang tidak perlu membeli sayuran di pasar jika sedang dalam masa panen sayuran tertentu. Hemat dan kreatif. Prinsip hidup keluarga Namikaze. Namun putri semata wayang mereka sangat berbeda. Kesehariannya hanya dihabiskan di kamar untuk membaca manga atau menonton anime selain belajar.
"Kalian kenapa? Diam - diaman begitu? Gak lagi bertengkar kan?" tanya Kushina.
Seketika pasangan sasunaru menjawab secara bersamaan, "tidak kaasan/bi," jawab mereka.
Kushina tersenyum. "Kalian makin kompak saja. Kaasan jadi ingin cepat - cepat punya cucu deh," ujar Kushina dengan mata berbinar - binar.
"Kaasan.. Masih lama. Aku belum siap menikah apalagi punya bayi. Aku masih SMA. Iih..kaasan.." gumam Naruto manja. Wajahnya merona.
Wajah Sasuke juga merona. Naruto sudah bisa menebak apa yang sedang kekasih tampannya itu pikirkan. Ia menyenggol bahu kekasihnya. "Kapan kita berangkat? Sudah siang nih, te..eh..Sasuke - kun?" tanya Naruto. Ia tidak berani memanggil kekasihnya dengan sebutan "teme" karena ada ibunya. Bisa - bisa ia diceramahi hingga sore hari dan tak jadi pergi.
"Hn. Ayo, Naruto. Kita pergi naik susano'o!" ajak Sasuke. Ia sudah bangun dari duduknya.
"Su..susano'o? Apa? Nama motormu?" tanya Naruto yang dibalas dengan bahasa alien kekasihnya. "Ck. Ke luar lagi bahasa aliennya," gumam Naruto bosan.
Kushina menyerahkan sekeranjang buah tomat dan jeruk kepada putrinya. "Naruto, berikan ini pada ibunya Sasuke ya," ucap Kushina.
"Ya, kaasan," jawab Naruto.
"Bibi tidak perlu repot - repot," tolak Sasuke. Ia tidak enak hati terhadap calon ibu mertuanya yang memberinya buah kesukaannya.
"Hanya ini yang bisa bibi berikan, nak Sasuke. Salam untuk ibumu ya. Kapan - kapan ajak ibu dan ayahmu ke mari. Ok?" balas Kushina. Ia selalu tersenyum ramah terhadap calon menantunya yang super tampan.
"Baik, bi. Akan saya sampaikan. Terima kasih juga untuk tomat dan jeruknya," gumam Sasuke.
"Hm. Sama - sama. Hati - hati di jalan ya. Oh iya, sayang," Kushina berbisik pada putrinya. "Jangan bikin malu kaasanmu ya. Kau harus jadi anak perempuan yang baik. Ok."
"Iya, kaasan. Tenang saja. Aku bukan anak nakal kok," jawab Naruto.
Ctak. Kushina menjitak kepala putrinya. "Kaasan.. Kenapa kepalaku dijitak? Aku salah apa?" tanya Naruto dengan muka memelas.
"Kau terlalu pintar, Narutoπ’." Muncul perempatan di dahi Kushina. Putrinya sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataannya.
Naruto sangat tidak peka terhadap apa yang ibunya bicarakan.
Sasuke dan Naruto pun berangkat dengan naik motor kesayangannya. Seperti biasa Sasuke selalu memakaikan helm pada kekasihnya. Itu sudah jadi kebiasannya semenjak Naruto menjadi asistennya di sekolah.
Selama perjalanan menuju kediaman utama Uchiha, tidak ada yang memulai berbicara di antara sepasang sejoli berbeda surai itu. Naruto terlalu gugup untuk bertemu dengan calon mertuanya. Sedangkan Sasuke , ia memang pada dasarnya pendiam, tenang dan jarang bicara. Lagipula Sasuke kapok berbicara saat sedang mengendarai motor kesayangannya. Ia harus berteriak agar suaranya terdengar oleh kekasihnya yang duduk di belakangnya dan juga takut terjadi kecelakaan. Jadi keduanya memilih untuk diam.
Tibalah mereka di depan gerbang kediaman utama Uchiha dengan lambang kipas terlukis di gerbang besar tersebut.
Gerbang dibuka oleh satpam penjaga saat sang bungsu menekan bel dan mengatakan Uchiha Sasuke ingin masuk.
Pasangan sasunaru pun disambut oleh para pelayan dengan ramah. Naruto takjub dengan sambutan tersebut. Ini adalah kali kedua ia berkunjung ke kediaman Uchiha. Dulu ketika ia mengembalikan tas belanjanya yang tertukar dengan nyonya Uchiha a.k.a ibu Sasuke. Ia merasa rendah diri. Rasa gugup makin menjalar.
Sasuke menyerahkan kunci motor kepada penjaga untuk diparkirkan di garasi. Ia pun berjalan sambil menggenggam tangan kekasihnya yang gemetar akibat rasa gugup.
"Jangan gugup gitu, sayang. Tenang saja. Ada aku bersamamu," ujar Sasuke tersenyum hangat pada kekasihnya. Tangan Naruto ia genggam dengan erat.
"Ya," balas Naruto. Perasaannya menjadi tenang saat kekasihnya menggandeng tangannya.
Tak lama kemudian mereka tiba di ruang utama kediaman Uchiha. Itachi yang kebetulan sedang duduk di sofa besar menyambut kedatangan adik bungsunya serta calon adik iparnya dengan ramah dan suka cita. Bagaimana tidak senang, adik satu - satunya yang jarang pulang karena memang sudah tinggal sendiri dengan hati rela berkunjung ke rumah.
"Selamat datang, otouto tercinta dan calon adik iparku yang manis," sambut Itachi dengan senyum ramahnya. Ia ingin memeluk adiknya tapi ditolak mentah - mentah oleh adiknya. Ia pun mengusap kepala calon adik iparnya seraya berbisik, "pacarmu dingin sekali, Naruto."
Naruto membalas bisikan Itachi dengan tersenyum. Sasuke mendelik pada kakaknya. "Awas saja kau kalau berani menghasut Naruto," ujar Sasuke. Tidak suka.
Itachi tertawa melihat ekspresi adik bungsunya. "Hahaha. Silakan duduk, Naruto. Kau boleh duduk di mana saja," ucap Itachi dengan sangat ramah.
"Ah ya. Terima kasih, Itachi nii." Naruto pun duduk masih dengan jantungnya yang berdebar semakin cepat. Ia gugup sekali saat hendak bertemu orang tua kekasihnya.
Sasuke yang duduk di samping Naruto tetap menggenggam tangan kekasihnya agar rasa gugupnya hilang.
Tak lama kemudian, sesosok wanita paruh baya yang masih cantik berambut panjang datang menghampiri pasangan sasunaru. Sang wanita langsung menerjang Sasuke dan memeluknya.
"Kau ke mana saja, Sasuke? Kenapa baru pulang?" Sesosok wanita tersebut memeluk Uchiha bungsu dengan erat dan penuh kasih sayang.
"Maaf, kaasan. Aku baru bisa datang," ujar Sasuke kepada seseorang yang ia panggil ibu yaitu Uchiha Mikoto, ibu kandungnya sendiri.
Pletak. Kepala ekor ayam Sasuke dijitak oleh ibunya. "It...te..sakit, kaasan. Kenapa kaasan memukulku?" tanya Sasuke dengan manjanya.
Naruto tertawa. Ternyata kekasihnya sama dengannya. Memiliki ibu yang hobinya menjitak kepala anaknya.
"Eh ada Naruto - chan," sapa Mikoto dengan ramah.
"Konnichi wa, bibi," balas Naruto. Ia tidak tahu harus berkata apa. "A..apa kabar bibi?" Naruto tersenyum manis. Ia berdiri dari duduknya dan menyapa calon ibu mertua.
Mikoto langsung memeluk Naruto. "Kabar bibi baik, nak," jawab Mikoto. Ia menyambut kedatangan Naruto dengan sangat ramah dan baik.
"Bibi, ini ada titipan dari ibu. Maaf a..aku tidak bisa membawa apa - apa," ujar Naruto sebari menyerahkan bungkusan yang berisi buah tomat dan jeruk kepada nyonya Uchiha.
"Wah..terima kasih, Naruto - chan. Padahal tidak usah repot - repot lho," balas Mikoto. Ia menerima bingkisan dari calon menantunya dengan senang hati.
"Ibu juga titip salam, bibi," tambah Naruto. Ia masih berdiri di dekat sang calon ibi mertua. Naruto masih merasa gugup.
"Salam kembali, ya, nak. Oh iya. Silakan duduk lagi, Naruto - chan. Anggap saja seperti rumah sendiri. Kau belum diberi minum? Sebentar ya bibi ambilkan," ucap Mikoto. Ia terlihat sangat senang. "Sasuke, nanti ajak Naruto - chan keliling ya. Supaya tidak bosan duduk di sini."
"Ok, kaasan," jawab Sasuke. Patuh.
Sasuke pun mengajak gadisnya untuk berkeliling kediaman Uchiha. Ia menggandeng tangan kekasihnya seakan - akan takut kehilangan.
"Ne, teme. Kenapa kamu megang tanganku terus? Malu tahu?!" gumam Naruto dengan wajah merona.
"Rumah ini sangat luas. Aku tidak mau kau tersesat dan salah masuk kamar," balas Sasuke. Nadanya masih datar tapi ada rasa khawatir pada kekasihnya itu. Mengingat rumah orang tuanya memang sangat luas. Sasuke tidak mau Naruto tersesat apalagi salah masuk kamar. Bisa repot dirinya.
"Huh," Naruto kesal karena dianggap seperti anak kecil. Tapi ia sadar bahwa rumah yang ia pijak saat ini memang seperti yang dikatakan kekasihnya. Luas dan mirip labirin. Namanya juga rumah orang kaya. Mau dibuat seperti rumah apa saja juga bebas. Orang kaya ini. Begitu pikir Naruto. Ia tidak bisa membayangkan jika suatu saat dirinya dinikahi oleh kekasihnya dan harus tinggal di rumah sebesar ini. Dinikahi? Memangnya Sasuke mau menikahinya? Ah tentu saja mau. Muka Naruto merona. Ia senyum sendiri saat membayangkan dirinya akan dinikahi oleh kekasih tampannya itu.
Bruk. Wajah gadis pirang itu menabrak punggung kekasihnya. "Aduh. Ada apa, teme? Kamu berhenti mendadak kayak mau nabrak kucing saja," gumam Naruto sebari mengusap dahinya yang baru saja terkena punggung kekasihnya yang kekar.
Sasuke berdiri mematung. Ia sama sekali tak bergerak sedikit pun. Naruto menjadi heran atas sikap kekasihnya yang terlihat seperti sedang melihat hal yang menakutkan. Karena penasaran, ia pun melangkah melewati kekasihnya namun satu tangannya dicekal oleh kekasihnya.
"Kenapa, te..me?" tanya Naruto. Saat hendak berbalik, suara berat mengagetkan indera pendengarannya.
"Akhirnya kau datang juga, Sasuke. Aku pikir kau lupa dengan rumah ini dan juga dengan orang tuamu," ujar pria paruh baya yang memiliki wajah seram dan datar tak berekspresi. Sontak Naruto bersembunyi di balik tubuh kekasihnya. Ia merasa lebih takut dan gugup.
"Hn," gumam Sasuke. Ia menatap ayahnya Uchiha Fugaku tanpa rasa takut.
'Pria itu seram sekali! Mirip Sasuke. Jangan - jangan dia adalah ayahnya Sasuke,' batin Naruto. Ia masih memegang lengan kekasihnya dengan kuat.
"Tousan menakuti kekasihku," ujar Sasuke tanpa merasa takut.
Mata sang kepala keluarga Uchiha memicing dan menatap sinis pada si gadis pirang yang makin berpegang kuat pada lengan kokoh kekasihnya.
"Hm. Ayahmu tak menyangka kalau seleramu rendah sekali! Kau menyukai anak kecil yang menjadi anak didikmu," gumam Fugaku memandang rendah pada Naruto.
Seketika Sasuke langsung terpancing emosi namun Naruto menahannya. Ia berbisik kepada kekasihnya dengan berjinjit untuk meraih sebelah telinganya. "Jangan, Sasuke - kun. Dia ayahmu," bisik Naruto.
"Tapi.." Sasuke hendak membalas perkataan ayahnya yang menghina kekasihnya. Ia tidak terima kekasih pirangnya dihina dan dianggap rendah meski oleh ayahnya sendiri.
__ADS_1
Fugaku masih menatap tajam terhadap pasangan sasunaru yang masih berdiri di hadapannya. Ia tertarik pada gadis pirang yang mampu meluluhkan hati es batu putra bungsunya yang terkenal anti perempuan.
Naruto melangkah perlahan mendekati sang calon ayah mertua. Ia membulatkan tekad untuk bisa menghadapi sikap dingin ayah kekasihnya itu. Sikapnya sama dengan sikap kekasihnya. Sama - sama dingin dan mungkin juga kejam. Rasa gugup juga tak ia hiraukan. Ia hanya ingin hubungannya dengan putra bungsu Uchiha lancar dan atas restu orang tua kedua belah pihak.
Si gadis pirang menarik nafas dalam sebelum ia mulai berbicara. "Maafkan atas ketidak sopanan kami, Tuan Uchiha. Harusnya kami datang kemari lebih cepat untuk meminta izin pada tuan." Naruto menjeda perkataannya dan menarik nafas lagi. "Dan juga..mungkin saya memang bukan gadis yang baik yang sesuai dengan Sasuke - kun, tapi cinta kami tidak bisa disalahkan. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat memilih pada siapa hatinya berlabuh."
Sasuke terkejut dengan perkataan kekasihnya. Ia tidak menyangka jika kekasihnya yang baru saja merasa gugup mendadak bisa berbicara lantang dan malah menceramahi ayahnya yang sangat keras kepala.
"Termasuk juga dengan putra bungsu tuan Uchiha. Saya tidak pernah mengemis cinta kepada Sasuke - kun. Sasuke - kun sendiri yang menyatakan cinta pada saya. Padahal saya adalah muridnya. Dan juga banyak gadis yang menyukai putra tuan. Jika tuan mengatakan selera Sasuke - kun rendah, berarti tuan salah. Karena saya yakin jika saya adalah satu - satunya gadis yang dapat singgah dan menghadapi sifat keras kepala, dingin dan ketidak manusiaan putra bungsu tuan," jelas Naruto. Rasa gugupnya sudah sirna. Raut wajahnya juga tampak serius. Ia tidak terima dianggap rendah oleh orang kaya apalagi oleh seseorang yang memilili umur sama dengan ayahnya. Seorang ayah yang baik tidak harus berbicara merendahkan seorang anak perempuan. Apalagi anak perempuan itu adalah sosok yang disukai oleh putranya. Saya harap tuan besar Uchiha dapat memahami maksud Sasuke - kun membawa saya ke rumah ini," jelas Naruto yang diakhiri dengan menundukkan diri pada tuan besar Uchiha Fugaku.
Mikoto dan Itachi tak sengaja mendengar apa yang yang gadis pirang itu katakan. Sedangkan Sasuke was - was. Ia segera menggenggam kedua tangan kekasihnya dengan erat. Ekspresi Naruto saat ini sungguh tak bisa ia baca. Benar - benar tak seperti diri Naruto yang ia tahu.
"Hahaha.." Fugaku tertawa setelah mendengar kata - kata Naruto. Sontak semua orang yang ada di sana yakni Sasuke, Mikoto, Itachi dan juga Naruto terkejut melihat kepala keluarga Uchiha tertawa lepas. Padahal ia tidak pernah tertawa lepas. Hanya dengan sahabatnya ia bisa tertawa, Namikaze Minato. Ayah Naruto.
"Kau sangat berani, gadis kecil. Kau sangat mirip dengan ayahmu, Minato. Pantas saja putra bungsuku tergila - gila padamu," ucap Fugaku. Ia sudah tidak tertawa. Kembali dengan wajah datar Uchiha.
Mikoto berjalan menghampiri Naruto, Sasuke dan Fugaku yang masih berdiri. "Ayo duduk. Jangan berdiri saja. Nanti pegal lho," ujar Mikoto mencairkan suasana.
Fugaku dan Itachi pun duduk di atas kursi panjang yang terbuat dari bambu dan kayu berkualitas tinggi yang beralaskan busa empuk beserta bantal berbentuk persegi.
Naruto masih diam. Tiba - tiba badannya lemas dan hampir jatuh. Jika tidak ada kekasihnya mungkin ia akan jatuh. "Kau tidak apa - apa, Naruto?" tanya Sasuke. Ia kelihatan khawatir.
Wajah Naruto mendadak pucat. "Ti..tidak apa - apa, Sasuke - kun," jawab Naruto. Ia digandeng oleh Sasuke untuk duduk di atas kursi dekat dengan anggota keluarga Uchiha lainnya.
Mikoto tersenyum menyaksikan putranya yang bersikap hangat dan penuh perhatian kepada calon menantunya. Begitu pula dengan Itachi. Ia ingin tertawa dengan aksi adik kesayangannya tapi ia tahan. Ia juga terkejut atas sikap Sasuke yang telah berubah menjadi pemuda berhati lembut dan hangat. Kalau Fugaku, ia tak merasa terkejut. Ia merasa seperti sedang melihat dirinya di masa lalu. Hanya istrinya yang dapat mengubahnya dan membuat dirinya jatuh cinta. Pengalaman dan sifat yang sama dari perempuan yang disukai oleh Uchiha senior dan Uchiha junior. Itachi tidak termasuk karena ia belum pernah membawa seorang gadis ke kediaman Uchiha.
Sasuke segera memberikan segelas jus jeruk yang ibunya bawakan kepada gadis pirangnya yang sudah pucat, penuh keringat dan tak berdaya.
Naruto meminum jus jeruk seperti tidak minum selama seharian. Rasa hausnya telah hilang. Ia kelelahan menghadapi aura dominan dari sang kepala keluarga Uchiha. Naruto terus mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa dirinya berbicara begitu berani menghadapi tuan besar Uchiha? Apalagi suaranya ke luar begitu saja. Isi hatinya juga ia ke luarkan seakan - akan ayah Sasuke adalah ayahnya sendiri. Ia terus melamun hingga kekasihnya menepak bahu dan mengagetkannya.
"Kau baik - baik saja, Naruto? Apa kau sakit?" tanya Sasuke penuh perhatian.
Naruto mengangguk. Kemudian ia menundukkan kepalanya ke bawah. Ia merasa sangat malu pada anggota Uchiha karena telah berani melawan seorang Uchiha senior.
Mikoto tersenyum. Kemudian ia mencubit area perut suaminya yang langsung membuat Fugaku merasa sakit.
"Apa yang kau lakukan pada calon menantuku, suamiku? Lihat. Naruto - chan kan jadi ketakutan," ujar Mikoto. Ia merajuk. Sungguh hal yang paling ditakuti oleh seorang Uchiha senior ketika istrinya merajuk. Tipe suami takut istri. Takut tidak diberi jatah. Jatah makan. Dia orang kaya jadi bisa makan di mana saja. Maksudnya jatah begadang (???).
"Calon menantu kita tidak ketakutan, istriku. Apa tadi kau tidak lihat? Dia berbicara padaku dengan berani tanpa ada rasa takut dan gugup," jelas Fugaku. Ia membelai surai panjang istri tercintanya.
Itachi serasa menjadi mahluk dan pria paling tampan sedunia yang paling kesepian. Kedua pria Uchiha di depannya sedang bermesraan dengan pasangan masing - masing. Ia serasa menjadi nyamuk.
"Sepertinya keberadaanku tak dianggap. Serasa jadi nyamuk," gumam Itachi. Setelah meminum jus yang dibuat ibunya, sang sulung Uchiha segera melangkah meninggalkan kedua pasangan Uchiha yang membuat dirinya iri atas kesendiriannya yang belum memiliki calon pasangan hidup.
"Baka aniki. Keriput jones," gumam Sasuke angkuh.
Naruto segera mencubit lengan kiri Sasuke. "Sakit, dobe. Kenapa kau mencubitku?!"
Naruto memalingkan wajahnya. Sasuke sama sekali tidak paham dengan apa yang terjadi.
Pasangan fugamiko tersenyum. Hanya Mikoto yang tersenyum, sedangkan Fugaku tetap berwajah datar. Seakan - akan orang yang tadi tertawa keras bukan dia.
Situasi menjadi hening seketika. Kedua pasang Uchiha senior dan junior sibuk dengan pikiran masing - masing. Begitu pula dengan pasangan mereka. Naruto terlalu malu dan gugup. Padahal tadi ia sudah berbicara sangat lantang dan berani di depan ayah Sasuke. Entah apa yang merasukinya hingga dirinya bisa seberani itu. Mungkin ia menjadi jinchuriki kyubi dadakan. Gadis pirang itu mulai memikirkan hal yang tidak masuk akal karena gugupnya.
Si bungsu Uchiha malah asyik ponselnya. Ia memainkan game online yang belakangan ini tak ia mainkan karena sibuk mengajar dan bekerja membantu kakaknya.
Merasa bosan dan ngantuk, akhirnya Naruto berinisiatif untuk memulai pembicaraan. Ia harus menghormati dan menghargai kedua orang tua kekasihnya. Jadi ia harus mengambil tindakan untuk mencairkan dan meramaikan suasana kaku nan hening itu.
"A..ano..tuan dan nyonya Uchiha, sa..saya ingin meminta maaf. Tadi sudah mengatakan hal yang kurang sopan," ujar Naruto. Ia berdiri dari duduknya lalu menundukkan kepalanya.
Sasuke terkejut dengan apa yang dilakukan kekasih pirangnya itu.
"Tidak apa - apa, Naruto - chan. Bibi senang lho karena kamu bisa berbicara lantang pada suami bibi. Oh iya. Jangan panggil tuan dan nyonya. Kan bibi sudah bilang," balas Mikoto dengan senyum ramahnya. "Duduklah, sayang. Jangan berdiri dan menundukkan kepala begitu. Kau akan segera menjadi putri kami."
Naruto pun duduk kembali. Ia lega sudah meminta maaf pada pasangan Uchiha senior itu. "Terima kasih, bibi."
Fugaku sedang sibuk dengan koran yang ia baca. Namun diam - diam ia melirik ke arah calon menantunya itu. "Hei, Sasuke. Apa kau akan tetap menjadi guru? Kau sudah punya kekasih. Kau harus memikirkan masa depanmu. Meski kekasihmu masih SMA, tapi kau harus punya rencana ke depan," ujar Fugaku. Ia memberikan nasehat kepada putra bungsunya.
"Aku sudah punya rencana. Aku akan tetap mengajar meski tidak dengan jadwal penuh. Dan juga aku akan membantu Itachi - nii di kantor juga. Jadi sudah tidak ada masalah," jawab Sasuke santai dan tenang.
"Hn. Baguslah. Lalu dengan Naruto?" Fugaku kembali bertanya mengenai tindakan yang akan dilakukan putra bungsunya kepada kekasihnya. Naruto adalah putri semata sahabatnya jadi ia juga menganggap Naruto seperti putrinya sendiri. Mengingat istrinya yang ingin memiliki seorang anak perempuan. Namun dikarenakan kondisi rahimnya yang bermasalah maka Mikoto tidak bisa mengandung lagi.
"Aku sudah memiliki rencana, tousan. Tousan dan kaasan tinggal membantuku saja," jawab Sasuke.
"Rencana apa?" tanya Naruto. Ia sangat ingin tahu dengan apa yang kekasihnya rencanakan.
"Rahasia, dobe," jawab Sasuke dengan seringai andalannya yang selalu bisa membuat Naruto dongkol.
Sasuke mencubit pipi tembem gadisnya. "Sakit, te..eh Sasuke - kun!" jerit Naruto. Bukan karena sakit tapi karena tindakan kekasih rambut ayamnya yang membuat ia terkejut.
Mikoto tersenyum menyaksikan interaksi putra bungsunya dengan seorang gadis. Sasuke itu pemuda yang tidak pernah mau didekati oleh seorang perempuan. Tapi kalau dengan Naruto, ia rela hati mendekatkan dirinya. Naruto pembawa kebahagiaan bagi putra bungsu Uchiha. Ia sangat bersyukur karena gadis pirang itu telah mengisi hati putranya.
"Kalian akrab sekali ya. Kaasan jadi iri," gumam Mikoto dengan ekspresi pura - pura merajuk. "Tousan kalian sangat dingin lho sama kaasan. Gak ada romantis - romantisnya." Mikoto masih tetap merajuk dan mencari perhatian suaminya yang tengah sibuk dengan koran dan kopi pahitnya.
Sementara itu, Sasuke yang ditinggalkan oleh kekasihnya yang diseret sang ibu harus duduk berdua dan saling berhadapan dengan ayahnya.
Fugaku segera meletakkan koran di atas meja di samping kopinya. Kedua matanya menatap wajah putra bungsunya yang sama datar dengan dirinya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitu pula dengan anaknya sikap dan sifat anak bungsunya yang sangat mirip dengannya.
"Sasuke. Apa kau serius dengan gadis muda itu?" Fugaku memulai pembicaraan serius dengan Sasuke. "Usianya berbeda jauh denganmu. Dia juga muridmu. Kalian seperti adik kakak jika berjalan bersama seperti tadi," gumam Fugaku.
"Hn. Aku tidak peduli. Yang penting aku dan Naruto saling mencintai. Itu saja sudah cukup. Jika tousan tidak mau memberi restu, aku akan tetap mencintainya. Apapun yang terjadi," balas Sasuke dengan kesungguhan hati.
Fugaku tertegun melihat ekspresi putranya. Ia bisa merasakan kesungguhan hati dari putra bungsunya itu. Kini bebannya sudah mulai berkurang. Putra bungsunya harus segera ia tunangkan atau nikahkan sekalian agar tidak terjadi hal yang di luar dugaan mengingat hampir 90 % sikap dan sifatnya menurun pada putra bungsunya, yaitu kemesuman tingkat dewa yang hanya akan ia perlihatkan pada pasangannya. Naas nasib calon mantunya yang menjadi kekasih Uchiha bungsu itu.
"Tousan mengizinkan kalian. Lagipula Naruto adalah putri semata wayang sahabat tousan. Orang yang menjadi pahlawan bagi keluarga Uchiha. Jika ia tidak membantu kita maka keadaan kita tidak akan semakmur sekarang," tambah Fugaku. Pandangannya menerawang jauh ke depan.
Sasukenya mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak pernah tahu cerita mengenai sesosok pahlawan yang telah menolong keluarganya terutama ayahnya. "Siapa pahlawan itu? Apa paman Minato?" Sasuke menyimpulkan sendiri.
Fugaku mengangguk pelan. "Ya. Dia adalah Minato. Ayah dari kekasihmu. Tadinya tousan akan menjodohkan Itachi dengan gadis itu. Tapi sepertinya Itachi sudah keduluan olehmu," jelas Fugaku.
Muncul tanda perempatan di dahi sang bungsu Uchihaπ’. "Enak saja tousan mau menjodohkan Narutoku dengan si Itachi baka aniki itu!" gumam Sasuke tak terima. Sasuke tidak akan rela melepaskan gadisnya meski untuk kakaknya. Memangnya Naruto itu baju yang bisa ia lepaskan.
"Apa?! Naruto akan dijodohkan denganku?!" seru Itachi. Ia terkejut.
Itachi tiba - tiba muncul dan duduk di antara mereka berdua. "Hahaha. Tenang saja, otouto. Aku tidak akan mengambil gadismu. Aku lebih suka gadis dewasa yang bertubuh seksi dan berbibir tebal semerah darah," ujar Itachi yang tak peduli dengan delikan dan tatapan sinis dari sang bungsu Uchiha. "Narutomu itu masih kecil, Sasuke. Aku harap kau tidak akan menyesal setelah menikahinya nanti."
Bruk. Itachi mendapat bogem mentah dari sang adik. "Itu hadiah untukmu, baka nii - san," gumam Sasuke. Ia segera meninggalkan kakak dan ayahnya.
"Dasar sensitif," gumam Itachi. "Padahal aku hanya bercanda. Dia sampai memukulku. Orang bisa berubah karena cinta." Itachi yang jenius merasa terheran pada sikap Sasuke yang aneh. "Tapi Sasuke kan memang galak."
"Sana cari perempuan. Tousan harap kau bisa lebih dulu menikah dari adikmu dan memberikanku cucu yang tampan dan cantik," balas Fugaku. Ia kembali membaca koran. Sedangkan Itachi, ia bangun dari duduknya dan berjalan meninggalkan sang ayah yang sedang membaca koran.
"Otouto yang tak bisa diajak bercanda." Itachi masih mengumpat sebari menyentuh pipi bekas pukulan adik tercintanya yang teramat sakit. Sungguh naas nasib sang sulung Uchiha. Sudah tidak punya pasangan, dipukul pula oleh adiknya. Uchiha yang malang.
Sementara itu, sang bungsu Uchiha a.k.a Uchiha Sasuke tengah mencari keberadaan sosok kekasihnya yang dibawa pergi oleh ibunya sendiri. Kediaman Uchiha yang besar membuatnya kesulitan untuk menemukan sosok gadis yang ia cintai. Karena haus, ia berjalan ke dapur. Beberapa langkah sebelum sampai di dapur, Sasuke mendengar ocehan perempuan yang tak lain adalah suara dari sang ibu dan kekasihnya sendiri. Akhirnya ia menemukan si pirang kesayangannya yang sedang asyik mengobrol dan memasak dengan calon ibu mertua si gadis.
Mikoto menoleh ke belakang ke arah Sasuke datang. "Oh kau, Sasuke. Ada apa? Tidak biasanya ke dapur?" tanya Mikoto. Ia heran putra bungsunya masuk ke dapur.
"Aku mencari Naruto, kaasan. Tapi, mana dia? Tadi aku dengar suaranya." Sasuke malah celingak celinguk mencari gadisnya. Yang ia lihat adalah ibunya dan seorang gadis pirang yang mirip dengan kekasihnya. Penampilannya sangat berbeda. Wajah dan gaya rambutnya pun beda.
Si gadis tersenyum. "Aku di sini juga. Apa kau tidak mengenali pacarmu sendiri, Sa su ke - kun?" gumam gadis itu.
Sasuke terkejut. "Apa?! Ka..kau Naruto?!". Meski terkejut Sasuke masih berekspresi biasa. Ia tidak mengenali kekasihnya yang telah dimake over oleh ibunya Sasuke.
Mikoto tersenyum puas. Hasil make overnya berhasil. Ia ingin mendandani seorang anak perempuan dari dulu namun karena kedua anaknya adalah laki - laki maka pupus sudah harapan dan obsesinya. Meski terkadang Sasuke pernah menjadi korban dari kegiatan Mikoto saat dirinya masih SMP. Hasilnya Sasuke mogok ke luar kamar selama satu minggu dan harus dilarikan ke rumah sakit karena telat makan dan stres.
Sasuke memandangi dari atas sampai si gadis pirang tersebut yang mengaku sebagai kekasihnya. "Na..ruto?". Sasuke masih tak percaya kalau gadis cantik di depannya adalah kekasihnya.
Naruto mengangguk. "Ya ini aku, teme!" seru Naruto kesal. Sudah tidak dikenali ditambah kekasihnya malah memandangi dirinya dengan lekat.
"Ka..kau sungguh ber beda, dobe," gumam Sasuke. Mukanya yang merona ia alihkan asal jangan melihat si gadis pirang yang terlalu cantik tersebut. Ia tak menyangka jika kekasihnya bisa secantik itu. Pasti ibunya yang telah mendadani Naruto. "Kaasan, apa yang kaasan lakukan pada pacarku? Dia jadi berbeda dan.."
"Lebih cantik kan?" tanya Mikoto. Sasuke menggaruk sebelah pipinya. "Tuh kan Naruto - chan. Sasuke sangat menyukaimu. Kau sangat pangling!" sahut Mikoto. Ia sangat senang.
"Ah i..iya, bibi Mikoto," gumam Naruto. Mukanya juga merona.
Naruto awalnya menolak untuk didandani oleh Mikoto, namun ibu Sasuke itu terus memaksanya. Sifatnya mirip dengan ibunya. Ditambah ada ucapan mengancam segala. Ancaman dari Mikoto tidak sepedas ibunya, Kushina. Hanya dikatai kalau Naruto akan kehilangan Sasuke jika tidak pandai berdandan. Laki - laki senang melihat perempuan cantik termasuk kekasihnya meski Sasuke yang selalu digilai oleh puluhan gadis lebih cantik darinya. Tidak rugi jika Naruto mengantisipasi hal tersebut. Pria hanya bicara saja jika menyukai seorang perempuan yang apa adanya dan hanya cantik dari dalam. Bunyi Sasuke yang dingin saja merasa kagum dan senang melihat penampilan Naruto yang beda dan sangat pangling. Rambutnya yang biasanya ditwintail dango atau twintail biasa kini terurai dengan dihiasi kepang di belakang rambutnya. Pakaiannya pun lebih membuatnya dewasa. Ia memakai mini dress biru dengan balzer berwarna putih ditambah celemek berwarna pink berenda. Dengan pulasan make up tipis dan sedikit lip gloss berwarna pink bibir membuatnya tambah semakin dewasa dan mempesona. Sasuke tambah terpesona terhadap kekasihnya.
"Hn." Sasuke masih memalingkan wajahnya namun ia kembali menatap Naruto. "Jangan sering - sering berdandan seperti itu. Hanya di depanku saja kau boleh dandan secantik itu, Naruto," gumam Sasuke ketus. Mukanya masih merona. Jantungnya juga berdetak kencang dan lebih kencang.
"Hai 'ttebayo!" seru Naruto dengan cengiran lebarnya yang khas. Senyuman secerah mentari musim panas yang menyilaukan sekaligus menerangi kegelapan dunia Sasuke yang muram.
Mikoto tersenyum karena berhasil mendandani calon menantunya. Sedangkan Sasuke. Ia bergegas melangkah mundur lalu meninggalkan Naruto dan ibunya di dapur. Naruto bingung atas sikap kekasihnya yang menurutnya sangat tsundere. Naruto pun tersenyum dan tersipu malu. 'Bibi Mikoto sangat baik. Mau mendadaniku secantik ini. Si teme saja sampai malu dan tsundere. Kyaa...' batin Naruto yang terlalu narsis.
Kemudian kedua perempuan berbeda usia itu melanjutkan kegiatan mereka, yakni memasak. Naruto membantu calon ibu mertuanya memasak. Itung - itung belajar. Para pelayan yang bekerja di kediaman Uchiha tidak ditugaskan untuk memasak. Hanya mencuci baju, membersihkan rumah dan merawat taman.
Kepala keluarga Uchiha tidak mau memakan makanan buatan orang lain. Ia hanya ingin makan masakan yang dimasak oleh istrinya. Begitu pula dengan Itachi. Hanya Sasuke saja yang bersedia makan masakan orang lain. Karena dia terbiasa tinggal sendiri. Dulu dia pernah belajar di luar kota sehingga ia selalu makan makanan luar dan masak sendiri.
Skip acara masak memasak mertua dan menantunya. Masih calon tapi suatu saat nanti hubungan mereka akan menjadi mertua dan menantu yang sebenarnya.
Di ruang makan yang sangat luas. Meja makan yang berbentuk persegi panjang terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi beralaskan kaca tebal. Perabot yang digunakan pun berkualitas tinggi. Selera orang kaya memang beda. Begitu yang gadis pirang itu pikirkan.
'Kalo aku sampai nikah sama si teme pantat ayam itu, aku gak mau tinggal di rumah ini. Udah gede, luas, mewah. Isinya pada mahal. Ah..lebih nyaman rumah si teme yang ia tinggali sekarang,' batin Naruto.
Naruto membantu Mikoto meletakkan makanan di atas meja makan. Tak lama kemudian, ketiga pria Uchiha muncul dan bergegas duduk di kursi yang sudah menjadi tempat mereka duduk untuk menyantap makanan.
Mikoto dengan cekatan melayani suaminya. Mengambilkan nasi dan lauk pauk yang ada di atas meja. Begitu pula dengan Naruto. Sebenarnya Naruto malu dan enggan untuk melayani kekasihnya layaknya sebagai suami. Tapi ia sudah ditatap tajam oleh kekasihnya itu. Dengan sangat terpaksa si gadis pirang yang belum sah menjadi istri bungsu Uchiha itu melayani calon suaminya untuk mengambil makanan. Sang bungsu Uchiha menyeringai puas penuh kemenangan.
Fugaku diam - diam melirik ke arah putra bungsu beserta kekasihnya yang duduk di samping kirinya. Mikoto dan Itachi duduk di samping kanannya. Ia bersyukur karena gadis pilihan putra bungsunya bukan hanya cantik dan muda melainkan bisa menghadapi sikap Sasuke yang berbeda dari orang biasa. Super egois, angkuh, dingin dan kaku. Seperti dirinya.
Naruto makan dan duduk di samping kanan Sasuke berhadapan dengan Itachi. Itachi terlihat risih dan cemburu. Hanya dia yang belum memiliki pasangan. Padahal ia adalah putra sulung Uchiha. Adiknya yang tidak ramah saja sudah dapat kekasih. Kenapa dirinya yang lebih tampan, ramah dan jenius masih belum bisa punya pacar? Itachi terus berpikir. Hati perempuan lebih rumit daripada rumus matematika. Makanya ia belum bisa mendapatkan kekasih yang ia idamkan. Padahal ia juga tak kalah populer dan tampan dari adiknya.
__ADS_1
'Tuhan, sampai kapan aku harus jones gini? Derita orang tampan. Dipuja puluhan gadis tapi kagak ada yang cocok. Entah apa yang merasukiku hingga menjadi orang tampan yang sulit dapat jodoh,' batin Itachi, nelangsa.
Acara makan siang pun selesai. Naruto membantu calon ibu mertuanya mengambil piring dan gelas kotor lalu mencucinya. Awalnya Mikoto melarang namun Naruto bersikeras untuk melakukannya. Ia malu jika hanya duduk manis dan melihat calon ibu mertuanya membersihkan peralatan bekas ia makan.
"Naruto - chan, apa kau mau memanggiku dengan sebutan kaasan?" tanya Mikoto tiba - tiba. Untung saja piring yang ia pegang tidak jatuh ataupun pecah.
"A..ano..apa maksud bibi? Aku tidak mengerti?" Naruto bertanya balik.
Mikoto tersenyum. "Naruto - chan harus memanggil bibi dengan kaasan. Jangan bibi lagi. Bibi kan ibunya Sasuke. Jadi Naruto - chan mau kan memanggil bibi dengan kaasan?" pinta Mikoto.
"Ta..tapi..?" Naruto ingin menolak tapi itu mustahil baginya. Calon ibu mertuanya malah semakin memohon. Akhirnya ia pun setuju untuk memanggil Mikoto dengan sebutan ibu.
"Ka..kaasan.." ujar Naruto. Ia gugup.
"Naruto - chan!" seru Mikoto. Ia memeluk Naruto dengan erat. "Kaasan senang sekali! Akhirnya kaasan punya anak perempuan! Kedua anak kaasan kan laki - laki semua." Mikoto bersikap seperti anak kecil yang baru saja memperoleh hadiah.
"Naruto bukan anak perempuan kaasan. Kalau ia anak perempuan kaasan berarti ia adikku. Aku tidak mau jadi kakaknya!" tolak Sasuke. Entah sejak kapan ia ada di belakang mereka. Naruto dan Mikoto tidak menyadari keberadaannya.
"Eh, Sasuke. Itu kan hanya seandainya. Naruto - chan sudah kaasan anggap sebagai anak kaasan sendiri," jelas Mikoto.
"Hn. Terserah kaasan saja," balas Sasuke. Ia melirik ke arah Naruto. "Kaasan, apa Naruto sudah selesai?"
"Memang kenapa, Sasuke?" tanya Mikoto. "Kau posesif sekali. Nanti Naruto - chan kabur lho."
Naruto tersenyum menyaksikan interaksi ibu dan anak di depannya. Ia sangat senang karena kekasihnya tidak sekaku yang ia kira. Naruto pikir Sasuke jauh dari rumah akan membuat sikap kekasihnya berbeda pada ibunya tapi biasa - biasa saja. Malah sama seperti padanya.
'Aku lega ketika melihat si teme akrab sekali sama ibunya. Meski nggak tinggal serumah tapi mereka masih tetap dekat. Ternyata si teme bisa manja juga. Hihi,' batin Naruto. Ia tersenyum.
"Oh iya. Kaasan mau meminta bantuan Naruto - chan lagi. Apa Naruto - chan bersedia?" pinta Mikoto.
Naruto mengangguk. "Te..tentu saja bi eh kaasan. Maaf," jawab Naruto. Mukanya merona. Ia masih belum terbiasa menyebut ibu pada ibu Sasuke.
"Kaasan mau nyuruh pacarku apa lagi? Tahu gini aku gak bakal bawa Naruto. Kaasan memonopoli Naruto ku," ujar Sasuke. Terdengar seperti anak kecil yang mainannya direbut anak lain.
π Naruto tidak habis pikir dengan tingkah kekasihnya yang mirip bocah tk. Ke mana sikapnya yang dingin dan dewasa? Ibunya kan hanya meminta bantuannya. Naruto malah bersyukur dimintai tolong oleh ibu Sasuke. Jika tidak, kekasihnya yang baru mengenal cinta itu akan mengambil kesempatan dalam kebersamaan mereka. Lagipula rumah yang saat ini mereka berada sangat luas. Kamarnya pun banyak. Terbesit hal mesum yang akan dilakukan oleh kekasihnya pada Naruto. Jadi untuk saat ini si gadis pirang itu sangat bersyukur.
"Ck. Pelit sekali. Salahmu sendiri baru bawa pacarmu sekarang. Kaasan cuma mau minta dibantuin bikin salad buah. Kan seger tuh," jelas Mikoto.
Sasuke meninggalkan kedua perempuan berbeda surai dan usia itu begitu saja. "Aku ingin yang masam, kaasan. Kalo bisa pedas," gumam Sasuke sebelum meninggalkan mereka di dapur.
"Ok, sayang," jawab sang ibu. "Ayo, Naruto - chan. Kita buat salad buah. Eh rujak buah saja. Sepertinya enak. Manis, pedas dan asam."
"Rujak?" beo Naruto.
Mikoto melangkah ke dekat kulkas dan membuka pintunya. Ia mengeluarkan berbagai macam buah - buahan untuk dijadikan rujak. Naruto menganga melihat beragam buah yang calon ibu mertuanya ke luarkan.
'Itu kulkas apa kebun buah? Banyak banget! Namanya juga orang kaya,' batin Naruto. Ia segera bersikap biasa.
"Tolong cuci buahnya ya, Naru - chan. Biar kaasan yang membuat sambalnya," ujar Mikoto sebari menyerahkan sekeranjang aneka buah kepada Naruto.
"Baik, kaasan," jawab Naruto patuh.
Naruto pun bergegas mencuci buah - buahan. Sedangkan Mikoto membuat sambalnya. Dari aromanya saja sudah tercium bahwa sambal terus pasti pedas. Si gadis pirang itu jadi tak sabar untuk mencoba rujak buatan nyonya Uchiha.
"Ne, Naruto - chan. Kaasan jadi rindu sama kaasanmu lho, Kushina," gumam Mikoto. Ia serasa bernostalgia membuat rujak dengan putri temannya.
"Kaasan kenal ibuku?" tanya Naruto. Ia sudah selesai mencuci buah.
"Ya. Ibumu adalah teman kaasan semasa SMA dulu. Hanya saja kaasan menikah lebih dulu," jelas Mikoto. Ia juga sudah menyelesaikan kegiatan membuat sambal rujak. "Biar kaasan yang potong buahnya. Kau yang sajikan di piring ya, Naruto - chan."
"Iya, kaasan."
Kemudian Mikoto bercerita panjang lebar kepada calon menantunya tentang kehidupan dirinya, Kushina serta masa kecil Sasuke. Kini Naruto bisa mengenal kekasihnya lebih jauh. Ia merasa senang dan juga tenang bisa mengobrol lebih dekat dengan calon ibu mertuanya. Ia tidak menyangka jika seorang nyonya Uchiha sangat ramah, baik dan juga penyayang seperti ibunya. Apalagi ketika ia tahu jika kekasihnya tidak pernah membawa seorang gadis sekalipun. Hanya Naruto saja. Betapa senang rasanya. Tak henti - hentinya ia bersyukur di dalam hatinya. Naruto akan mempertahankan cintanya dan Sasuke. Sampai mati pun ia tidak akan ikhlas melepaskan kekasih tampannya itu.
οΏΌ
Rujak buah pun sudah siap untuk disajikan. Mikoto membagi rujak menjadi tiga tempat. Dirinya dan suaminya, Naruto dan Sasuke, yang terakhir satu tempat lagi untuk Itachi.
πππππππππππππππ
Acara makan rujak pun dimulai. Sang sulung Uchiha yang senang dengan makanan manis dan pedas seperti Naruto, sangat tidak sabar untuk segera mencicipi rujak buatan ibunya. Begitu pula dengan ayahnya. Hanya Sasuke saja yang tidak berminat. Ia kurang suka makanan pedas apalagi manis. Tapi khusus rujak yang dibuat oleh kekasih pirangnya, ia akan mencoba untuk mencicipinya sesuap saja.
"Rujaknya sudah jadi. Oh iya, bagaimana kalau kita buat tantangan?" ajak Mikoto. Ia terlihat bersemangat. Semangat si gadis pirang menular pada seorang nyonya besar Uchiha.
"Tantangan apa kaasan?" tanya Itachi ingin tahu. Ia sudah mencicipi rujak buah tersebut. "Mantap."
"Jangan minum sebelum rujak habis! Bagaimana? Hm?" sahut Mikoto.
"Ok. Aku ikut!" seru Naruto penuh semangat. Ia sudah mulai memasukkan potongan buah yang diolesi sambal ke dalam mulut mungilnya. "Hm..manis dan pedas. Enak," gumam Naruto menghayatiπ³
"Aku setuju!" jawab ayah dan anak bersamaan. Fugaku dan Itachi tak mau kalah. Meski Fugaku orang yang kaku tapi mengenai menghadapi tantangan, ia harus menang. Begitu pula dengan putra sulungnya, Itachi. Rujak makanan kesukaannya. Jadi ia yakin kalau ia pasti menang.
Mikoto melirik ke arah putra bungsunya. "Ya. Aku juga ikut," gumam Sasuke. Ia malas mengikuti tantangan aneh itu. Ia ikut serta karena malu pada kekasihnya yang sangat suka makan pedas.
Tantangan makan rujak tanpa minum pun dimulai. Itachi dan Fugaku tak mau kalah. Sedangkan Mikoto ia makan dengan tenang. Naruto malah asyik dan santai makan rujak. Sasuke lah yang paling menderita. Ia sudah tidak kuat makan rujak pedas tanpa minum. Mulutnya sudah bengkak dan merah. Naruto segera menuangkan air hangat ke dalam gelas dan memberikannya kepada kekasihnya yang dilanda rasa pedas luar biasa.
"Cepat minum, Sasuke - kun. Jangan maksain gitu," ujar Naruto. Namun Sasuke masih memaksakan dirinya meski sudah tidak kuat.
"A..aku.." gumam Sasuke. Ia tidak mau kalah.
π’Naruto sudah mulai kesal dengan sikap kekasihnya yang egois dan tinggi gengsi. "Ter se rah. Cepat minum, teme! Ce pat!" ujar Naruto. Ia menatap tajam kekasihnya. Reflek Sasuke segera meminum air yang kekasihnya berikan.
Rasa pedas yang menjalar di lidah dan bibir sang bungsu Uchiha masih terasa namun tidak seperti tadi. Tanpa pikir panjang ia segera menarik tangan gadisnya meninggalkan ketiga peserta makan rujak tanpa minum.
Sasuke menyeret gadisnya ke tempat yang sepi tepatnya ke dalam kamar tidurnya yang berada di lantai dua. Naruto merasa bingung, takut dan juga heran. Sasuke membuka laci meja belajar yang ada di ruangannya. Ia tersenyum melihat benda yang ia simpan masih ada.
"Apa itu, teme?" tanya Naruto ingin tahu.
Saat ini ia sedang duduk di atas kasur milik kekasihnya. Kasurnya sangat empuk dan nyaman. Naruto jadi mengantuk.
"Tolong makan permen ini!" pinta Sasuke dengan nada serius dan datar.
Naruto mendelik. "Gak. Takut permen itu kadaluarsa," tolak Naruto.
Namun Sasuke memaksanya. Awalnya Naruto menolak tapi karena kasihan, ia menurut pada kekasihnya yang tengah menderita oleh rasa pedas rujak.
Si gadis pirang segera membuka bungkus permen tersebut yang rasanya melon bukan rasa yang tak pernah ada. Ia pun memasukkan permen itu ke dalam mulutnya.πcup. Sang bungsu Uchiha mencium bibir merah kekasihnya yang berwarna merah akibat memakan rujak buah tadi. Bahkan Naruto lupa minum.
Kini sepasang kekasih itu tengah menikmati aksi ciuman dan saling *******. Sang pria selalu mendominasi kegiatan panas itu. Sasuke bisa merasakan manisnya permen rasa melon berkualitas tinggi itu. Ia meminta kepada kakaknya untuk membelikan permen rasa melon dan menyimpannya di dalam laci meja belajar di kamarnya. Jadi permen itu masih baru. Beruntung ia memiliki permen itu.
Sasuke terus ******* bibir merah kekasihnya. Melampiaskan rasa pedas yang telah menyiksanya.
"Kau sangat manis, dobe," gumam Sasuke setelah menghentikan aksi ciuman panasnya dengan kekasihnya.
"Dasar teme pantat ayam! Kenapa gak makan sendiri saja permennya?! Sesak tahu?!" seru Naruto jengkel. Sasuke mencium dan ******* bibirnya seakan - akan bibirnya adalah buah tomat kesukaannya. Sangat mesum.
"Pedas, sayang. Hanya bibir manismu yang bisa meredakan rasa pedas di bibirku ini. Kau harus tanggung jawab, dobe. Aku tidak suka makan pedas tapi karena kamu ikut membuat rujak jadi aku makan," ujar Sasuke dengan seringai mesumnya.
Naruto melangkah mundur tapi Sasuke malah melangkah maju mendekatinya. Alhasil tubuh mungil gadis pirang itu terkena dinding. Sasuke menghimpit tubuh kekasihnya hingga Naruto tidak bisa bergerak. Deru nafas si pemuda bisa Naruto rasakan. Wangi tubuhnya juga tercium jelas di hidung mancungnya. Wajah mereka sangat dekat. Sepasang mata segelap malam memandang intens terhadap sepasang mata sebiru langit musim panas.
Wajah Naruto merona. Jantungnya juga berdetak semakin kencang. Sang pemuda berambut emo itu memeluk gadisnya dengan erat lalu menciumi lehernya, dahi, pipi dan bibir. Ciuman yang terasa berbeda bagi sang gadis pirang. Sasuke seperti takut kehilangan dirinya. Tatapan matanya juga berbeda. Tajam namun sendu. Naruto tak tahu apa yang telah terjadi pada kekasih berparas tampan itu.
"Pedas se..kali, dobe," gumam Sasuke pelan. Wajahnya merona. Kepalanya menunduk ke bawah. Ia tak berani menatap kekasihnya.
Naruto tertawa. "Hahaha. A..aku pikir kau kenapa, teme?! Ternyata kau kepedasan! Hahaha!" tawa Naruto pecah.
Sasuke duduk di atas kasurnya. Ia merajuk dan malu karena ditertawakan oleh kekasihnya sendiri. Kelemahannya adalah ia tidak bisa makan pedas. Buktinya sekarang ia masih kepedasan.
"Ma..maaf. Ku pikir kenapa. Kalau gak kuat, jangan maksain. Kan kamu sendiri yang kesiksa. Dasar teme gengsian," ujar Naruto. Ia dengan santai duduk di dekat kekasihnya.
"Aku tidak mau kau tahu kekuranganku, dobe. Seorang Uchiha adalah sosok sempurna tanpa kekurangan," balas Sasuke.
Naruto memutar mata. Ia bosan dengan sikap angkuh kekasihnya yang selalu merasa sempurna. "Hei, teme. Setiap manusia punya kekurangan. Termasuk kita. Apa salahnya nerima kekurangan kita? Lagipula kau tetap keren, Sasuke - kun," tambah Naruto. Ia berusaha menasehati kekasihnya yang sangat keras kepala dan egois.
Sasuke menarik tubuh kekasihnya yang membuat tubuh mungil si gadis pirang itu menindihinya.
"A..apa yang a..akan kau lakukan, teme?!" seru Naruto. Ia gelagapan dan panik.
Kekasihnya malah tersenyum dan memeluknya tanpa berkata apa - apa. Muka Naruto sudah memerah bagaikan buah tomat matang. Wajahnya menempel di dada bidang Sasuke. Ia bisa mendengar debaran jantung yang sangat cepat di dadanya.
"Biarkan seperti ini, Naruto," ucap Sasuke pelan.
Naruto diam. Ia patuh dan pasrah saja tanpa memikirkan hal negatif. Bisa saja kekasihnya yang super mesum menyerangna tapi ia percaya jika Sasuke tak akan mungkin sampai melakukan hal di luar batas.
Beberapa menit kemudian dengan posisi yang masih sama. Tubuh Naruto yang ada di atas Sasuke. Ia bisa mendengar suara dengkuran. Naruto mengangkat kepalanya ke atas. Benar saja. Kekasihnya tertidur namun masih memeluk tubuhnya dengan kuat. Naruto jadi tidak bisa bergerak. Ia takut dilihat orang lain apalagi sampai dilihat oleh salah satu anggota keluarga Uchiha.
Naruto berusaha untuk lepas dari pelukan sang kekasih. "Kuat sekali sih! Si teme ini makan apa sih? Lagi tidur saja bisa meluk kenceng banget. Gimana pas lagi sadar. Duh," gumam Naruto. Ia tidak bisa lepas dari pelukan kekasihnya.
Mendadak posisi mereka berubah. Kini tubuh Naruto terbaring menyamping berhadapan dengan sang kekasih yang telah membuka mata. "Tidur saja, dobe. Aku tidak akan menyerangmu," gumam Sasuke. Ia bahkan memeluk Naruto semakin erat dan tubuhnya juga menempel.
Wajah Naruto semakin merah dan mengeluarkan asap dari kepalanya. "I..ya.." balas Naruto pelan. Kemudian ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang kekasih. Beberapa saat kemudian, keduanya tertidur.
π π π π π π π π π π π π π
Matahari hampir terbenam. Namun sang pemuda berambut mirip ekor ayam tak berniat kembali ke kediaman sederhana miliknya. Padahal seharian ini mereka telah menghabiskan waktu berdua di kediaman Uchiha. Tapi rasa rindu masih terasa di hati sang bungsu Uchiha. Terasa berat hanya untuk membiarkan kekasihnya masuk ke dalam rumahnya.
"Apa Sasuke - kun tak mau ikut masuk?" tanya Naruto dengan polosnya.
"Tidak. Aku buru - buru, dobe. Kalau masuk bisa - bisa aku betah dan tidak mau pulang," jawab Sasuke.
"Oh. Ya sudah. Aku masuk ya. Sampai jumpa besok, teme sensei!" ujar Naruto. Ia pun membuka gerbang pintu rumahnya. Lalu masuk.
__ADS_1
Sasuke pun memakai helm dan menghidupkan mesin motor. Ia tersenyum di balik kaca helm. Betapa menyenangkan seharian menghabiskan waktu bersama siswi kesayangannya yang telah menjadi kekasih resmi. Kedua keluarga telah mengetahui dan memberi restu pada mereka.
Tbc