
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjam tanpa izin
Ide cerita murni milik sendiri meski ada bantuan lain
Genre : guru, murid, cinta
Pair : sasufemnaru, tonefemnaru and others
Karakter ooc, typo dan gaje
Happy reading
Sudah tiga hari ini Naruto belum bertemu dengan kekasih ayamnya a.k.a Uchiha Sasuke. Pesan juga tidak dibalas. Naruto terus menghela nafas berat. Ia tidak mau terus menerus gegana. Ia segera mengambil beberapa manga dari rak penyimpanan khusus koleksi manganya.
Gadis pirang itu sangat tidak bersemangat. Padahal tugasnya sebagai asisten telah dipermudah. Sekarang gadis pirang berdango itu telah memiliki waktu luang yang memadai untuk melakukan ritualnya sebagai seorang otaku. Namun, entah mengapa ia merasakan kehampaan yang luar biasa.
Saat dirinya tengah melamun, ponselnya yang sedari tadi tak bergetar kini bergetar berulang - ulang. Naruto segera mengambil ponselnya dan membaca notifikasi di ponselnya.
"Ada chat dari Koyuki? Gak biasanya. Panjang pula. Eh? Nomorku dimasukin ke grup reunian SMP? Ya gak apa - apa daripada bosan nunggu balesan pesan dan chat dari ayam geprek itu," gumam Naruto.
Grup chat "AQTHA" (angkatan tiga a)
KoyukiCute
Naruto, kamu ku masukin ke grup buat reuni
NarutoDango
Ok
ToneriKakoii
Wah ada Naruto
Halo๐
NarutoDango
Halo jugaโบ
DeidaraTamvan
Ada Si twintail juga ternyata
Hai Cayank Naru๐
NarutoDango
Hai Dei cantik
DeidaraTamvan
Aku tampan cayank
NarutoDango
๐๐๐๐
ToneriKakoii
Baru gabung Naru?
NarutoDango
Iya
Koyuki yang masukin
DeidaraTamvan
Naruto, kamu sekolah di mana?
NarutoDango
Konoha High School
ToneriKakoii
Deidara gak tahu
DeidaraTamvan
Tahu. Cuma pengen tanya aja
ToneriKakoii
Oh๐ฎ
NarutoDango
Bulat O-nya
ToneriKakoii
Kayak rambut dango kamu๐
NarutoDango
Oh juga ah
KoyukiCute
Mana ceweknya?
Kok cuma kita berdua?
DeidaraTamvan
Mungkin lagi pada sibuk nyari kostum
NarutoDango
Kostum buat apa, Deidara?
DeidaraTamvan
Buat reunian
Jangan bilang kalau kamu gak tahu
NarutoDango
Gak tahu๐
ToneriKakoii
Kelas kita ngadain pesta kostum
Jadi kita bebas bercosplay ria
NarutoDango
Hm..kayaknya asik
Bisa cosplay jadi Kashuu dong
ToneriKakoii
Siapa?
NarutoDango
My favorit chara
DeidaraTamvan
Masih suka anime, NarutoDango?
NarutoDango
Suka
Why?
DeidaraTamvan
Gak apa
Kayak Toneri
Suka kartun Spo********
ToneriKakoii
Diam kau, kuning!
NarutoDango
Aku juga kuning lho
Rambutku pirang kayak punya si Deidara
ToneriKakoii
Sorry, Naruto
Bukan ke kamu kok
DeidaraTamvan
Harap dikondisikan
Ini adalah obrolan dalam grup
Jika bersifat pribadi, silakan lewat chat masing - masing
NarutoDango
Wow
Kayak operator ngomong๐๐
ToneriKakoii
Operator bom dia mah๐ฃ๐ฃ๐ฃ
KoyukiCute
Obito - kun mana?
ObitoCool
Udah pada kumpul belum?
Kalian DeidaraTamvan, ToneriKakoii, NarutoDango malah ngobrol bertiga saja
TemujinIlfil
Temujin is coming
SoraAoi
Sora hadir๐
NarutoDango
Wah ada kalian juga
SoraAoi
Naruto, kamu mau pake kostum apa?
TemujinIlfil
Jangan ditanya!
Nanti dia ngasih tahu, terus gak ada kejutan lagi?!
NarutoDango
Gak tahu
Nanti cari dulu
Mungkin jadi samurai aja
ToneriKakoii
Bagus tuh
Samurai perempuan
NarutoDango
Gak jadi ah
Ribet harus bawa pedang
Nanti aku dikira mau tawuran
Gimana nanti aja
ObitoCool
Toneri, jangan bahas hal - hal pribadi di grup ini
Ini buat ngebahas reunian๐
ToneriKakoii
Baik, kapten
ObitoCool
Semua anggota lulusan SMP Hoshigaki harus datang!
Apalagi anggota grup AQTHA
Diwajibkan datang
Sekian dan terima gaji
__ADS_1
SoraAoi
Terima kasih, kapten
ObitoCool
Terserah
Orang tamvan mah selalu benar
Percakapan selesai
Naruto berpikir sejenak. Ia tidak tahu kalau harus memakai kostum ke acata reuni nanti. Ia jadi enggan untuk datang. Ia hanya ingin bertemu dengan tokoh idolanya saja. Toneri memberitahukan bahwa akan ada artis yang mengisi acara reuni tersebut.
Gadis pirang itu belum mendapatkan ide baju apa yang akan ia pakai nanti. Waktunya hanya tersisa dua hari dari malam ini. Naruto berpikir keras. Ia tidak ingin memakai kostum yang merepotkan dan terlalu mencolok. Warna pirang dan model rambut dangonya saja sudah membuatnya mencolok. Apalagi kalau harus memakai pakaian yang aneh.
Naruto mendapatkan ide. Ia pernah melihat seorang gadis memakai pakaian bergaya lolita gotic saat membagikan brosur di depan cafe makanan Eropa.
"Kayaknya..baju lolita lucu juga. Warna hitam putih bagus tuh," gumam Naruto sebari membayangkan dirinya memakai baju lolita yang penuh dengan renda dan pita.
"Kyaa..kawaii ne.." Naruto memuji dirinya sendiri. Ia teringat akan jumlah uang yang harus digunakan untuk membeli baju lolita itu. Uang tabungannya tidak cukup. Waktunya juga sudah sangat mendekati hari h reuni. Kostum yang Naruto pakai harus berbeda dengan teman - temannya. Seandainya ia punya pohon uang atau ia kerja sambilan saja. Tapi kedua orang tuanya tidak mengizinkan Naruto untuk bekerja paruh waktu. Naruto menghela nafas.
Getaran ponsel membuyarkan lamunannya. Ia segera melihat ponselnya. Ada nomor asing yang memanggilnya. Naruto ragu untuk menerima panggilan tersebut tapi ia berpikir kembali. Bisa saja nomor asing itu adalah nomor kekasihnya yang baru. Jadi ia menerima panggil itu.
"Moshi - moshi.." sapa Naruto kepada si pemanggil.
"Na..Naruto.." jawab sang pemanggil.
'Lho? Bukan teme ayam sensei sih? Siapa dong kalo bukan dia?' tanya Naruto pada dirinya sendiri.
Naruto kembali bertanya pada sang pemanggil, "i..ini siapa ya?"
Sang pemanggil terdiam sejenak. "Ini aku, Naruto."
Naruto terkejut. Orang yang meneleponnya adalah seseorang yang paling tidak ingin ia hadapi, temui dan dekati. Seseorang dari masa lalu yang masih bisa membuat dirinya berdebar. Padahal Naruto sudah menyukai kekasihnya tapi kenapa ia masih saja berdebar pada orang itu?
"Ah..iya, Toneri. Ada apa menelepon? Apa ada hal penting?" tanya Naruto gundah gulana dan terdengar jutek.
"A..aku hanya ingin tanya kabarmu saja dan juga..ku harap kau bisa datang ke acara reuni nanti, Naruto," jawab Toneri di balik telepon.
"Ya. Aku juga ingin datang. Kangen. Sama teman - teman yang lain. Terutama Tenten," tambah Naruto. Ia tidak tahu harus berkata apa saat berbicara dengan Toneri. Rasanya berbeda. Ia harus menjaga jarak dengan pemuda berambut perak itu. Dulu ia masih sendiri, namun sekarang ia sudah memiliki kekasih. Kekasih yang sangat tampan, baik dan menyayanginya.
"Aku juga kangen, Naruto. Jadi inget masa - masa SMP. Oh iya apa kau masih ingat pada Chocho?" Toneri mulai mengakrabkan diri terhadap gadis pirang itu melalui panggilan telepon. Ia tahu betul apa mengenai Naruto. Dua tahun menjadi teman SMPnya dan sekelas dengannya. Apalagi Naruto itu gadis yang baik, polos dan cukup manis baginya. Sayangnya ia merasakan sesuatu itu setelah menginjak bangku kelas 11 SMA.
"Ya aku masih ingat. Gadis yang suka membullymu. Dia selalu saja memarahimu seperti memarahi anaknya. Kau diam saja. Pasrah ketika Chocho berbuat apapun padamu," balas Naruto. Entah kenapa ia mulai merasa nyaman ketika berbicara dengan teman SMPnya itu.
Toneri tersenyum di balik telepon, "aku gak mau ngelawan perempuan. Apa kata orang kalau seorang Toneri yang tampan, alim dan baik hati ini bertengkar dengan perempuan? Malu dong, Naruto."
"Hahaha." Naruto tertawa mendengarnya. "Iya juga sih. Kamu kan siswa paling kalem di kelas. Nanti imagemu hancur dong."
"Makanya aku diem aja saat Chocho berbuat apapun padaku. Hah..kangen masa - masa itu."
"Aku juga kangen, Toneri."
"Kau kangen padaku?". Muka Toneri memerah.
"Gak. Siapa yang kangen? Aku hanya rindu masa - masa SMP meski aku kadang sendiri dan tak dipedulikan oleh teman - teman." Ekspresi Naruto berubah. Ia jadi teringat masa - masa kelam dirinya ketika masih menginjak bangku SMP. Dirinya yang selalu memberi pertolongan kepada teman - temannya. Padahal ia hanya dimanfaatkan oleh mereka. Ia juga kesepian di tiap acara festival sekolah. Ia selalu menyendiri di kantin atau di belakang gedung sekolah. Teman - temannya lupa padanya. Terakhir kali saat acara kelulusan. Ia benar - benar merasa dirinya terlupakan. Hingga dirinya menangis.
"Hei. Kenapa kau diam saja, Naruto?" tanya Toneri.
"Ah. Tidak. Maaf, Toneri. A..aku ingin tidur. Jadi.."
"Baiklah. Nanti ku telepon lagi. Sampai jumpa nanti, Naruto. Selamat tidur." panggilan tertutup. Naruto menangis.
"Hiks..teme.. Kau di mana sekarang? Kalau kau..hiks..hiks..tidak ada..hiks..aku bagaimana? A..aku takut. Hiks..takut.." Naruto menangis dalam keheningan malam. Ia mengeluarkan semua air matanya.
Kehadiran pemuda dari masa lalu yang ingin ia lupakan. Kini ia datang di saat dirinya mulai membuka lembaran baru. Dirinya tak menyangkal jika masih ada sedikit rasa pada pemuda berambut perak itu tapi ia juga menyukai kekasihnya. Rasa yang sangat berbeda yang ia rasakan. Namun ia tidak tahu perasaan apa yang kini ia sedang rasakan.
Satu hal yang pasti. Naruto akan tetap setia pada seorang pria yakni kekasih super tampannya, Uchiha Sasuke. Foto wajah tampannya yang selalu menjadi wallpaper ponselnya dan sedang memanggilnya. Naruto segera menerima panggilan dari sang penelepon yaitu Sasuke. Kekasihnya sendiri. Ia sangat senang. Saking senangnya, saat hendak berdiri dari duduknya, ia malah terjatuh. Untung saja ia terjatuh mengenai kasur tidurnya yang empuk.
"Moshi moshi.." ucap Naruto. Air matanya sudah berhenti menetes namun suaranya terdengar serak.
"Dobe, kau kenapa? Apa kau menangis, hn?" tanya Sasuke dari balik telepon.
"Ti..tidak. Aku hanya..hiks.." Naruto malah menangis lagi. Ia menangis karena senang. Kekasihnya yang lama hilang tanpa kabar akhirnya menelepon juga. Ia jadi terharu dan menangis. Naruto itu meski kadang tidak peka tapi ia sensitif juga.
"Tuh. Kau menangis, dobe. Ada apa? Cerita pada kekasih tampanmu ini," ujar Sasuke. Ia terdengar khawatir ketika mendengar suara kekasihnya yang serak.
Naruto menggelengkan kepalanya meski sang kekasih tidak dapat melihatnya. Ia tersenyum atas perhatian dari kekasihnya.
"Ceritakan padaku, sayang.. Aku tidak akan bisa tenang bekerja kalau Narutoku kenapa - kenapa," tambah Sasuke dengan nada bicara yang lembut dan hangat.
Naruto mulai bercerita. Ia meminta izin pada Sasuke untuk mengikuti acara reuni SMPnya. Sasuke mengizinkan dengan syarat ia akan mengantar dan menjemputnya. Tentu saja gadis pirang itu menyetujuinya.
"Ano..Sa..Sasuke - kun..sebenarnya.. Aku.." gumam Naruto terbata - bata.
"Apa, dobe? Kau mau apa? Kau butuh sesuatu? Kau butuh uang?" tanya Sasuke seakan tahu isi hati kekasihnya. "Katakan saja, sayang kalau kau sedang membutuhkan uang. Anggap saja sebagai upah menjadi asistenku di sekolah."
Naruto berpikir keras. Akhirnya ia memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan sang guru a.k.a kekasihnya sendiri. "Sa..Sasuke - kun. Semua tamu undangan reuni harus memakai kostum atau bercosplay. A..aku tidak punya kostum yang cocok. Jadi..a..aku.."
"Ooh... Gimana kalau kau pake kostum lolita saja yang tertutup. Kebetulan kemarin aku melakukan perjanjian dengan seorang pemilik butik lolita. Dia menawariku.."
"Eh? Kau mau memakainya, teme?!" seru Naruto mulai ngawur.
Sasuke menepak jidatnya. Kekasihnya benar - benar dobe. Untung cantik, manis, baik dan juga pintar. Pintar tapi sedikit dobe. "Orang itu memberikan satu set baju lolita. Aku menerimanya karena ingin memberikannya padamu, dobe."
"A..apa?"tanya Naruto. Wajahnya merona.
"Jadi..besok akan kukirimkan lewat pos. Pakai itu saja ya. Bajunya juga gak terbuka. Jadi kulit mulusmu tidak akan dilihat orang lain," ucap Sasuke, posesif.
Naruto tersenyum. "Arigatou, Sasuke - kun. Sasuke - kun memang hebat."
Wajah Sasuke merona. "Ti..tidak masalah, dobe.."
"Cepat tidur, dobe. Sudah malam. Ngerjain tugas asisten, nanti saja. Ok," ujar Sasuke.
"Ok, teme. Selamat tidur. Muach," balas Naruto. Mencium ponselnya. Sasuke tersenyum ketika gadisnya menciumnya lewat telepon. Ciuman dari ponsel tidak buruk juga.
"Muach juga. Love u."
Panggilan telepon selesai. Sepasang sejoli yang terpisah tampak tersenyum bahagia setelah mendengar suara dari orang yang mereka cintai.
Keesokan harinya. Naruto sudah tidak terlihat galau. Panggilan telepon dari kekasih ayamnya membuatnya ceria kembali. Hinata dan Ino yang melihatnya juga tidak merasa khawatir lagi. Teman pirang mereka kalau sedang gelisah, galau dan merana selalu terlihat kusut dan selalu ingin menangis. Makan bekal saja tidak habis. Biasanya makannya banyak tapi Naruto hanya makan bekal tiga perempatnya saja.
Sepulang sekolah, Naruto bertugas piket dan pulang agak terlambat. Jadi ia pulang seorang diri naik bus. Tak sengaja atau memang ditakdirkan, si gadis pirang dango itu bertemu lagi dengan mantan cinta pertamanya. Di dalam bus hanya ada mereka berdua. Suasana hening itu membuat keduanya merasa canggung.
Si gadis pirang memilih duduk di kursi penumpang yang berbeda dan jauh dari posisi si mantan cinta pertamanya. Naruto memilih untuk menyibukkan dirinya dengan menatap layar ponselnya. Sedangkan si pemuda berambut perak itu entah mengapa sudah ada di samping Naruto. Naruto sangat terkejut.
Naruto melirik sebentar ke samping ke arah Toneri yang dengan seenak jidatnya duduk di sampingnya tanpa izin. Bus kan fasilitas umum jadi penumpang boleh duduk di mana saja. Termasuk kedua sejoli itu.
"Ha..hai..Naruto.. Apa kabar? Sombong amat," gumam Toneri tersenyum tamvan. Sasuke paling tampan lho.
"Hai juga. Gak sombong. Kabarku baik. Kalo sakit mah gak akan pergi sekolah," balas Naruto. Jutek.
"Jutek amat, Naruto. Gak biasanya," gumam Toneri. Ia duduk sebari bersandar di kursi belakang.
Naruto terdiam. Toneri tidak punya salah padanya jadi untuk apa dia bersikap jutek dan dingin. Masa lalu hanyalah masa lalu. Lagipula karena ditolak Toneri, Naruto bisa mendapatkan kekasih super tampan yang sangat mencintainya.
"Ya. Gomen gomen. Ada apa, Toneri?" tanya Naruto mulai bersikap ramah dan tersenyum palsu.
Toneri tersenyum. Mukanya juga mendadak merona. Ia merasa canggung dengan situasi itu. Padahal dulu mereka sering mengobrol. Naruto juga merasakan hal yang sama dengan Toneri rasakan. Ingin kembali ke masa lalu di saat belum ada rasa suka yang telah membuat jarak di antara keduanya.
Flash back on
Hujan tengah turun meski tidak terlalu deras namun cukup mampu untuk membasahi seragam yang gadis pirang twintail itu pakai. Ia membawa payung tapi ia malas untuk berjalan menuju gerbang sekolah. Ia masih nyaman berdiri menatap tetesan air hujan yang turun dari langit di tengah musim panas(di Konoha hujan tuh cuaca bukan musim kayak di Indonesia).
Seseorang berjalan dan berdiri di samping gadis pirang twintail itu. Ia tersenyum menunjukkan wajah tampannya saat sedang tersenyum. Wajah Naruto merona saat ia menoleh kepada si pemuda yang tak lain adalah teman sekelasnya sendiri, Otsutsuki Toneri. Pemuda yang berambut perak, lebih tinggi dari Naruto. Tampangnya yang tidak terlalu tampan namun cukup membuat jantungnya berdebar kencang tak karuan.
Tiba - tiba Toneri angkat suara, "ne, Naruto. Kau bawa payung kan? Boleh gak aku ikut?" tanya Toneri. Ia masih tersenyum. Tak sadar dengan tingkah nya yang membuat si lawan bicara gelagapan.
"Ah..te..tentu saja boleh," jawab Naruto. Ia berbicara terbata - bata. Ia segera membuka payungnya yang berwarna merah muda yang bermotif bunga - bunga kecil berwarna ungu di bagian bawah payungnya.
Toneri mengambil maksudnya merebut payung yang tengah Naruto pegang. Toneri yang memegang gagang payung merah muda itu karena tubuh Naruto yang kurang tinggi.
"A..arigatou," ucap Naruto sangat pelan.
"Kamu bilang sesuatu?" tanya Toneri. Naruto menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Ayo. Aku ya yang pegang payungnya," gumam Toneri dengan suara lembut nan seraknya(thor meleleh).
"Ya." Naruto memegang tas ranselnya yang ia letakan di depan perutnya.
Kedua sejoli berbeda surai itupun berjalan menuju gerbang sekolah. Tampak penuh warna pemandangan dari kedua murid SMP angkatan akhir. Emas, perak dan merah muda. Warna yang sangat cerah di bawah langit yang dibasahi tetesan air hujan.
Jantung Naruto berdetak semakin kencang. Ia merasakan sesuatu yang aneh nan menggelitik di dalam dadanya. Perasaan senang dan gugup. Itu yang sedang ia rasakan.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang dan berjalan beriringan pula menuju halte bus terdekat. Sepanjang jalan tidak ada yang membuka suara hingga bus datang. Keduanya juga masuk ke dalam bus yang sama. Tak sengaja tangan Toneri menyentuh tangan Naruto. Naruto segera mengangkat tangannya. Ia benar - benar gugup dan tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Keduanya menaiki bus dengan Naruto yang lebih dulu naik. Toneri berjalan di belakangnya. Mereka juga duduk di kursi penumpang yang sama. Jantung si gadis pirang semakin berdetak lebih cepat. Bahunya juga menempel pada bahu Toneri. Rasanya Naruto ingin pingsan saja. Tapi ia tak mau. Bisa tambah malu dirinya pingsan akibat bersentuh bahu dengan seseorang yang ia sukai. Mau dikemanakan wajah imutnya itu.
Perjalanan terasa begitu lama bagi gadis pirang itu. Ia sama sekali tak bisa membuka mulutnya untuk sekedar berbasa - basi dengan pemuda berambut perak itu. Sampai akhirnya sang pemuda yang membuka suara terlebih dulu.
"Naruto, rumahmu searah dengan Koyuki kan? Kenapa kalian jarang pulang bareng?" tanya Toneri.
"Entah..lah. Aku dan Koyuki memang tidak terlalu akrab dari SD. A..aku gak tahu," jawab Naruto gelagapan.
"Oh. Padahal Naruto ramah lho gak kayak dia," tambah Toneri yang membuat Naruto melayang.
"Gak juga. Aku biasa aja," balas Naruto dengan degupan jantung yang kian meningkat.
"Jangan minder gitu, Naruto. Menurutku kamu luar biasa. Jarang lho ada cewek kayak kamu. Baik, ramah dan juga suka menolong orang lain. Meski orang yang ditolong selalu melupakanmu. Apa kamu gak dendam pada mereka?" tanya dan puji Naruto
Naruto semakin terbakar namun meleleh. "U..untuk apa dendam? Gak baik. Aku nolong juga ikhlas meski mereka jahat padaku. Mungkin aku emang gak pantas berteman dengan mereka." Naruto menjawab sambil menundukkan kepalanya.
"Lihat orang yang sedang berbicara padamu, Naruto. Kau harus percaya diri. Ok," ucap Toneri dengan nada lembut dan hangat.
Naruto mengangkat kepala dan menoleh ke arah samping kanannya. Toneri sedang tersenyum padanya. Naruto pun ikut tersenyum.
"Kau manis. Jadi lebih percaya diri ya, Naruto," gumam Toneri sebari mengusap kepala Naruto pelan.
Seketika wajah Naruto menjadi lebih merah. Ia belum pernah disentuh oleh laki - laki selain ayahnya sendiri. Ia menjadi semakin menyukai pemuda bermarga Otsutsuki itu.
Toneri tersenyum. Ia juga telah menghentikan kegiatannya dengan wajahnya yang juga merona meski tipis. Naruto tidak mengetahui ekspresi wajah Toneri.
Tak lama kemudian, bus berhenti tepat di gang rumah Naruto. Hujan telah berhenti. Naruto segera turun dari bus. Ia melewati Toneri dengan perasaan aneh yang tak bisa ia definisikan.
"Hati - hati, Naruto," ujar Toneri tersenyum.
"Ya. Jaa ne.." balas Naruto.
"Jaa..na.." balas Toneri.
Naruto turun dari bus. Ia melambaikan sebelah tangannya pada Toneri.
Perasaan Naruto terhadap Toneri semakin hari semakin besar. Ia juga terkadang melamunkan dan memimpikan pemuda berambut perak itu. Ia selalu tersenyum sendiri. Namun, kini ia merasa canggung. Ia lebih mudah gugup saat berpapasan dengan Toneri. Ketika berjabat tangan juga ia sangat gugup. Sampai jantungnya berdetak kencang.
Naruto selalu memerhatikan sosok Toneri dari jauh. Ia juga suka curi curi pandang terhadap pemuda pencuri hatinya itu. Sekarang ia tidak bisa seperti dulu lagi. Ia terkadang merasa gugup dan tidak berani menatap wajah Toneri. Ia juga mulai menghindari pemuda berambut perak itu. Ia tidak ingin perasaannya diketahui oleh Toneri. Ia merasa malu dan tidak pantas menyukai pemuda berbakat seperti Toneri.
Banyak siswi yang menyukainya. Mereka siswi yang cantik dan pintar. Tapi Toneri selalu menolak perasaan cinta para siswi itu. Naruto semakin rendah diri. Ia akan mengubur perasaan cintanya pada pemuda yang umurnya satu tahun di bawahnya. Meski sekelas, umur mereka berselisih satu tahun. Toneri lebih muda dari Naruto namun karena tubuh Naruto yang mungil membuatnya terlihat jadi lebih muda.
Pesta kelulusan hanya tinggal satu minggu lagi. Si gadis pirang mendapatkan nilai ujian akhir yang hampir sama dengan pemuda pujaannya. Toneri mendaftarkan diri di SMK jurusan kimia sedangkan Naruto hanya di SMA biasa. Karena ia ingin menjadi seorang penulis, animator dan desainer. Cita - cita yang sangat banyak bagi gadis bertubuh mungil itu.
Kedua gadis berbeda surai tengah duduk di bangku kantin. Naruto sedang makan ramen bersama Tenten. Tema perempuan sekelasnya yang rumahnya berada satu komplek dengan Toneri.
"Ne, Naruto. Apa benar kamu sangat menyukai Toneri?" tanya Tenten tiba - tiba yang membuat Naruto terkejut dan tersedak. Tenten langsung memberikan air minum pada Naruto yang tengah tersedak. "Kamu gak apa - apa, Naruto?" tanya Tenten khawatir.
"Gak. Aku kaget. Kamu nanya gitu tiba - tiba," jawab Naruto. Untung saja ramen yang tengah ia makan tidak ke luar dari mulutnya.
"Gomen gomen," ucao Tenten sebarj menepak bahu Naruto. "Jadi? Apa benar itu?"
"Apanya, Tenten?" beo Naruto. Tidak mengerti.
"Kamu suka sama Toneri? Kamu serius suka sama Toneri kan?" tanya Tenten lagi.
Wajah Naruto merona merah. Ia mengangguk pelan seraya berkata, "iya, Tenten. Kenapa? Aku gak boleh suka sama dia? Apa kamu juga menyukainya?" tanya balik Naruto.
Tenten tersenyum puas. "Oh. Aku hanya tanya. Syukurlah."
Naruto menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa, Tenten?"
"Katakan padanya sebelum acara kelulusan nanti, Naru. Aku akan membantumu," ujar Tenten sambil tersenyum. Ia merasa senang karena temannya yang otaku akut dan sering disangka penyuka sesama perempuan akhirnya merasakan perasaan istimewa itu juga.
"A..apa? Yang benar saja, Tenten? Aku malu," bantah Naruto dengan wajah merona.
"Jangan malu begitu. Nyatakan atau tidak. Sebentar lagi kita lulus, Naru. Apa kau mau menyesal? Apa kau tidak mau Toneri tahu perasaanmu?" tanya Tenten.
"Hm..entahlah. Aku takut ditolak," jawab Naruto. "Aku gak secantik perempuan yang pernah ditolak Toneri. Aku rendah diri sekali. Aku sangat takut." Naruto mendongakan kepalanya ke atas menatap langit hingga rambut panjangnya yang diikat twintail menyentuh bangku tempat ia duduk.
"Coba kau katakan. Mungkin dia juga menyukaimu. Aku merasa ada harapan untukmu, Naruto. Semangat lah!" seru Tenten.
Naruto berpikir. Terus berpikir. Masih berpikir. Tetap berpikir hingga membuat Tenten menguap karena bosan menunggu keputusan teman pirangnya.
"Ok! Namikaze Naruto akan menyatakan perasaan padanya. Semangat!" seru Naruto dengan suara cemprengnya.
"Gitu dong. Semangat, Naruto!" seru Tenten. Keduanya bertos ria.
Kehidupan seorang Namikaze Naruto akan segera berubah saat ini. Ia akan mengatakan perasaannya pada Toneri. Ia sudah bersiap - siap. Becermin dan membawa setangkai bunga mawar tiruan berwarna kuning pertanda sahabat. Jika dirinya ditolak, ia masih ingin bisa berteman dengannya.
Setangkai mawar kuning palsu yang ia beli di dekat rumah sepupunya telah ia pegang erat - erat. Hari ini ia akan menyatakan perasaannya pada Toneri karena tiga hari lagi adalah hari kelulusan mereka. Naruto tidak mau menyesal dengan lulus tanpa mengungkapkan perasaannya sendiri. Jadi ia dengan segenap hati dan mengumpulkan keberanian yang tinggi telah berada di depan pemuda berambut perak itu. Ia mengajak Toneri untuk berbicara empat mata di belakang taman sekolah.
Keringat dingin telah mengalir dan membasahi punggung gadis pirang itu di balik seragam putihnya. Jantungnya berdetak lebih kencang. Ia menarik nafas panjang dan akhirnya ia mengatakan hal yang mustahil dan membutuhkan keberanian tingkat tinggi.
"To..Toneri..a..aku menyukaimu," ucap Naruto. Wajahnya sudah merah merona hingga telinganya.
Toneri terkejut kemudian ia tersenyum. "Terima kasih, Naruto. Tapi.. Aku.."
"A..aku tahu. Kau pasti akan menolakku kan?" gumam Naruto. Ia sudah gugup dan jantungnya serasa ingin melompat.
"Bagaimana..kau tahu, Naruto?" tanya Toneri yang mendadak berekspresi datar dan tak berperasaan.
"A..aku tahu kok. Ja..jadi..ma..maafkan aku. Aku sudah mengganggu waktumu, Toneri. Tapi.. Bisakah kau menerima bunga mawar kuning palsu ini?" pinta Naruto. Matanya mulai berkaca - kaca. Ia menyerahkan setangkai mawar kuning dengan tangan bergemetar.
"Untuk apa? Bukankah kau sudah tahu perasaanku? Aku tidak punya perasaan apa - apa padamu, Naruto," ucap Toneri. Tapi ia tetap menerima mawar kuning itu tanpa memedulikan perasaan si gadis yang telah ia tolak.
Naruto tersenyum getir,"u..untuk..agar kau inget saja padaku. Sebagai teman sekelasmu. Tapi kau juga boleh membuang bunga mawar kuning itu. Bunga itu tanda pertemanan. Aku ingin seperti dulu lagi denganmu, Toneri. Becanda dan mengobrol seperti biasa." Naruto mulai mengeluarkan air mata.
"Ja..jadi..aku mohon terima bunga itu. Buang saat aku sudah tidak ada di sini. Sekali lagi, maafkan aku, Toneri," gumam Naruto. Ia mulai menangis.
"Na..Naruto.. Kau..menangis..?" tanya Toneri tanpa perasaan. Ia memegang bunga dari gadis pirang itu.
"Arigatou gozaimasu," ucap Naruto sambil menundukkan kepalanya. "Kau sudah menjadi teman yang baik untukku. Suki desu. Sayonara, Toneri." Naruto mengatakan hal itu sebari tersenyum dan mengeluarkan air mata.
"Na..Naruto.." gumam Toneri.
Naruto berjalan dan meninggalkan pemuda yang telah menghancurkan hatinya berkeping - keping. Perasaan yang belum pernah ia rasakan terhadap lawan jenisnya. Cinta pertama di masa SMP. Cinta monyet bagi remaja seumurannya. Hancur sudah perasaan dan hatinya.
Gadis pirang twintail itu terus berlari hingga menabrak seseorang yang tidak ia kenali.
"A..ah maaf," ujar Naruto. Ia segera berlari dan menjauh dari pemuda tampan itu.
"Hei, tunggu! Gadis yang aneh," gumam si pemuda tampan itu. "Mungkin sudah ditolak cintanya. Gadis zaman sekarang memang berani."
Seorang pria berambut panjang dan dikuncir bawah memanggil si pemuda. "Otouto, cepat!" panggil si pemuda berambut panjang.
__ADS_1
"Ya, nii," jawab si pemuda yang ditabrak Naruto.
Naruto terus berlari. Langkahnya terhenti di depan pohon pinus besar di depan gedung sekolah. Keadaan sekolah sedang sepi karena para murid dibebaskan untuk datang atau tidak ke sekolah. Naruto sudah membuat janji pada Toneri. Toneri memang memenuhi janjinya untuk datang tapi hati Naruto terasa sakit. Sangat sakit. Dadanya terasa ditusuk pedang milik "Kirito" dalam anime Sword Art Online. Sungguh sakit. Ia duduk di balik pohon pinus besar itu. Badannya tidak akan terlihat karena terhalang besarnya pohon.
Rasa takut akan mahluk tak kasat mata yang konon muncul sebelum tenggelamnya matahari ia abaikan. Ia hanya ingin menangis. Memeluk kedua lututnya dengan erat sambil duduk. Air matanya terus mengalir. Mungkin ia bisa disangka sebagai penunggu pohon. Suara tangisan yang terdengar di balik pohon. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Kini ia hanya seorang diri di luar gedung sekolah.
Sepasang mata saphirenya merah dan sembap akibat menangis selama setengah jam. Kini ia mulai merasa tenang dan lega. Perasaannya telah ia katakan. Ia juga sudah menangis sangat lama. Hingga kepalanya sakit dan tenggorokannya kering. Ia merasa haus.
Naruto berjalan meninggalkan pohon pinus dengan perasaan lega dan tenang. Meski ia masih sakit hati. Setidaknya ia sudah mengungkapkan semua yang ia rasakan pada teman sekelasnya itu.
Gadis pirang itu berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah jatuh cinta pada laki - laki kecuali laki - laki itu yang lebih dulu jatuh cinta padanya. Ia tidak akan merasa terbawa perasaan lagi dan juga tidak mau mengharapkan yang namanya harapan palsu. Toneri telah memberinya sebuah harapan. Sikapnya yang sangat baik dan penuh perhatian. Belaian tangannya saat mengusap rambut twintailnya. Naruto senang akan perlakuan dari pemuda itu. Namun, itu hanya keisengan semata. Naruto menyesal. Menyesal telah menyukai laki - laki itu.
Saat acara kelulusan pun, Toneri bersikap dingin pada Naruto. Naruto semakin merasa menyesal karena pernah menyukai laki -laki itu. Ia bertekad untuk menghilangkan rasa sukanya pada Toneri. Meski sampai tahun kedua di SMA, ia masih merasakan perasaan suka itu.
Flash back end
Naruto menghela nafas panjang. Ia merasa hubungannya dengan Toneri tidak akan bisa seperti dulu. Sebagai teman satu kelas yang bisa mengobrol dengan santaj seperti dirinya dengan Gaara, Shikamaru dan Sai. Ia pernah menaruh hati pada pemuda berambut perak itu. Meski saat ini hatinya telah dipenuhi oleh kekasih ayamnya yang super tampan dan super hn.
Ia tersenyum sendiri ketika membayangkan ekspresi konyol gurunya. Si gadis pirang semakin ingin bertemu dengan Sasukenya. Wajahnya merona.
Pemuda berambut perak itu diam - diam melirik gadis pirang yang sedang duduk di sampingnya. Toneri melihat wajah Naruto yang merona. Ia berpikir bahwa Naruto masih memiliki perasaan kepadanya. Ia tersenyum sendiri.
Berakhirlah perjalanan mereka dengan senyuman yang mereka pancarkan.ย
Senyuman salah paham dan senyuman melamunkan sang kekasih.
"Toneri, aku duluan ya. Jaa.." ujar Naruto. Ia turun dari bus lebih dulu dari Toneri.
"Jaa..Naruto," balas Toneri. Tersenyum tampan tapi bagi si gadis pirang, bukan senyuman tampan melainkan senyuman pembawa kesedihan.
Sudah beberapa hari ini Naruto selalu bertemu dengan pemuda mantan cinta pertamanya itu. Seperti hari ini. Di Sabtu siang nan panas, Naruto harus pergi ke pasar menggantikan ibunya membeli bahan - bahan untuk makan malam nanti. Sebenarnya ia enggan untuk pergi ke tempat umum nan ramai dikerumuni orang banyak. Tapi ibunya sangat memaksa. Ibunya mengancam akan membakar semua koleksi manganya dan juga poster - poster idolanya yang terlewat tampan.
Tanpa sengaja di tempat yang dipenuhi oleh berbagai macam sayuran, buah dan lauk - pauk lainnya, ia bertemu dengan Toneri. Si pemuda perak itu sedang menemani ibunya berbelanja ke pasar.
Awalnya Naruto berusaha untuk menghindar tapi Toneri sudah melihatnya lebih dulu. Keberadaan gadis pirang itu sungguh mencolok. Toneri memanggil Naruto, tentu saja Naruto menyahuti panggilannya. Ia tidak berniat menghampiri pasangan anak dan ibu itu. Ia lebih senang menawar harga sayuran pesanan ibunya yang sudah tertulis di daftar. Ibunya memintanya untuk menawar harga sayuran. Naruto menolak tapi dengan ancaman yang sama membuat nyalinya yang sudah kecil menjadi semakin kecil saat berhadapan dengan sifat galak ibunya yang berambut merah menyala itu.
"Yo, Naruto - chan!" sapa Toneri. Ia berjalan di belakang ibunya sambil membawa beberapa kantung berisi sayuran dan buah - buahan.
"Oh, hai, Toneri. Konnichi wa, bi," balas sapa dari Naruto. Ia merasa aneh dengan panggilan chan dari pemuda tampan itu.
"Konnichi wa, nak. Siapa gadis ini, Toneri. Apa dia temanmu?" tanya ibu Toneri. Ia memerhatikan penampilan Naruto yang terbilang aneh dan jauh dari kata feminin. Naruto memakai jumpsuit berwarna biru muda panjang dan kaos dalaman berwarna putih lengan pendek. Ia terlihat seperti anak SMP.
"Dia..pa..temanku, mom," jawab Toneri sedikit ragu dengan jawabannya pada sang ibu. Wajahnya merona karena panas dan melihat penampilan manis si gadis pirang.
"Wah..kamu gadis rajin ya. Zaman sekarang jarang lho ada anak gadis yang mau pergi ke pasar tradision macam kamu, neng," ujar ibu Toneri seraya tersenyum ramah pada si gadis pirang.
Naruto bingung membalas perkataan dari ibu temannya itu. Berakhirlah dirinya dengan raut wajah penuh tanda tanya dan sifat tidak pekanya muncul kembali.
Naruto berjalan beriringan dengan Toneri yang membawa sebagian barang belanja miliknya. Ibu Toneri berjalan di depan mereka dengan gaya khas ibu - ibu. Sesekali Toneri melirik pada si gadis pirang dango itu. Wajahnya penuh keringat. Bibirnya kering. Toneri berinisiatif untuk berhenti di depan penjual minum otomatis. Ia membeli 3 kaleng minuman berasa buah, rasa lemon, jeruk dan apel. Ia memberikan minuman rasa apel pada ibunya sedangkan rasa jeruk pada Naruto. Awalnya Naruto menolak tapi ia juga merasa haus, jadi ia menerimanya. Ia langsung meminum minuman kaleng itu. Tenggorokannya tetap kering dan masih terasa panas baginya.
Naruto merasa gerah dan panas. Perjalanan di pasar sungguh memakan waktu lama apalagi ada pemuda perak itu. Ia sadari kalau perlakuan sang pemuda yang pernah menghancurkan hatinya kini berubah. Perlakuannya sama seperti saat Naruto dibuat jatuh hati olehnya. Jujur saja ia merasa senang atas tindakan Toneri. Sedikit berdebar. Mungkin berdebar karena rasa lelah telah berbelanja dan tawar menawar harga sayuran. Bukan karena berada di dekat pemuda berambut perak itu.
Ketiga manusia berbeda surai, gender dan umum itu tengah menaiki bus. Naruto menyimpan barang belanjanya di bawah kursi penumpang yang ia duduki. Lagi - lagi ia harus duduk di samping Toneri. Ibu Toneri sudah duduk di depan mereka.
Kali ini gadis pirang berdango itu benar - benar merasa tidak nyaman dengan keberadaan sang pemuda berkulit kuning itu(Toneri dibuat berkulit kuning karena Naruto juga kulitnya kuning keputih - putihan khas kulit perempuan Indonesia). Jantungnya berdebar kencang. Ia merasa heran dan canggung dengan situasi yang sedang ia alami. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil ponselnya yang ada di dalam sakunya. Ia tersenyum melihat foto kekasihnya yang menjadi wallpaper ponselnya. Tiba - tiba ia merasa tenang dan detak jantungnya kembali berdetak normal.
'Teme. Aku sangat merindukanmu. Apa kau juga merindukanku di sana? Aku tidak ingin kekosongan ini membuatku berpaling darimu, teme. Aitakatta, Sasuke - kun,' batin Naruto. Ia memejamkan matanya beberapa detik sebelum suara berat membuyarkan lamunannya.
"Na..Naruto.. Naruto.." ujar Toneri tampak khawatir.
Naruto menoleh ke sampingnya. Kemudian ia tersenyum seraya berkata,"ada apa, Toneri? Kamu aneh sekali cara manggilnya. Kayak aku mau pingsan aja."
"Kau..seperti mau pingsan, Naruto. Kau tidak apa - apa kan? Aku perhatikan belakangan ini kamu terlihat kelelahan dan memikirkan sesuatu. Benar kan?" tanya Toneri panjang lebar.
Naruto malah membulatkan matanya lalu tersenyum sinis. Sikap juteknya ditulari oleh kekasihnya yang berambut ekor ayam tampan itu. "Terima kasih atas perhatianmu, Toneri. Tapi aku tidak apa - apa. Aku sehat dan baik - baik saja," jawab Naruto dengan nada bicara yang dingin dan datar menyamai Sasuke.
Toneri terkejut. Ia tidak menyangka jika Naruto yang dikenalnya dulu sangat berbeda dengan Naruto yang sekarang. Ia jadi merasa bersalah. Andai saja waktu bisa diulang kembali mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi.
"Ah..maaf. Sepertinya kau marah padaku ya. Haha.." ujar Toneri tertawa garing. Ia salah tingkah karena tidak mengenali Naruto.
"Tidak. Aku tidak marah kok. Kenapa harus marah," balas Naruto. Ia masih bersikap tsundere.
"Aku pikir kau masih dendam padaku atas kejadian tempo dulu," sambung Toneri. Ia gugup.
Naruto tersenyum tulus. "Aku sudah melupakan hari itu, tidak maksudku.." Naruto menjeda, "...aku tidak bisa melupakannya tapi..karena hal itu aku jadi bisa lebih dewasa. Arigatou ne, Toneri. Berkatmu aku jadi bisa merasakan apa yang namanya itu rasa suka." Naruto tersenyum. Entah mengapa ia merasa lega setelah mengatakan hal itu pada teman SMPnya.
Toneri tersenyum. "A..apa..aku.." Sebelum Toneri melanjutkan perkataannya, Naruto segera bangun dari duduknya dan meninggalkan Toneri. "Sampai besok, Toneri. Aku pasti datang ke acara reuni. Jaa.." gumam Naruto. Ia pun turun dari bus setelah memberi salam dan pamit pada ibu Toneri.
'Hampir saja..' batin seseorang.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Kedua wanita cantik berbeda surai dan usia namun sama rambut mereka sama panjang tengah bergelut di dapur. Sang gadis pemilik surai pirang itu sedang sibuk merapikan meja makan.
Tiba - tiba ponsel yang ia masukkan ke dalam kantong apron merah muda yang ia pakai bergetar dan berdering.
"Toneri? Untuk apa dia menelepon?" tanya Naruto pada dirinya sendiri. Ia segera menerima panggilan tersebut.
"Ya..dengan Namikaze Naruto. Ada yang perlu kami bantu?" sapa Naruto layaknya seorang sekretaris yang bekerja di kantor.
"Wah..kamu seperti pegawai kantoran saja, Naruto," balas Toneri. Ia tertawa.
"Ada apa, Toneri?" tanya Naruto. Kali ini ia bertanya dengan nada biasa namun datar.
"Ng..aku..mau mengajakmu.." kata Toneri yang terpotong oleh panggilan dari Kushina a.k.a ibunya Naruto.
"Maaf, Toneri. Aku dipanggil kaasanku. Kalau ada perlu, lewat chat grup saja ya. Bye," gumam Naruto. Ia segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong apron layaknya kantong ajaib milik robot kucing berwarna biru muda.
"Apa, kaasan?" tanya Naruto pada ibunya.
"Cepat mandi! Dandan yang cantik ya. Jangan pake celana training. Pake dress. Ok!" perintah sang ibu.
Naruto masih diam berdiri seperti patung manekin. Tapi teriakan sang ibu segera merubahnya kembali menjadi manusia lagi.
"Na ru to!!" teriak sang ibu lima oktaf.
"Ba..baik..kaasan!!" jawab Naruto dengan suara cemprengnya yang tak kalah kencang dari ibunya. Ia segera berlari dan menyimpan apron pada gantungan di pintu dapur. Ponsel ia ambil.
Naruto membaca pesan masuk sambil berjalan. "Banyak sekali pesan yang masuk. Hah? Semuanya dari Toneri? Waduh," gumam Naruto. Tak sengaja ia menabrak pintu masuk kamarnya karena tidak hati - hati berjalan. Matanya tertuju pada layar ponsel. Kebiasaan yang tidak baik untuk ditiru.
ToneriKakoii
Hai, Naruto
Apa malam ini ada waktu?
Naruto terkejut ketika membaca pesan dari mantan cinta monyetnya itu. "Ini orang mau ngapain? Kayak ngajak jalan aja," gumam Naruto tidak peka. Ia belum membalas pesan dari pemuda berambut perak itu. Ia malah berjalan menuju kamar mandi.
Ponsel Naruto terus bergetar. Kotak masuknya dipenuhi oleh pesan dari Toneri.
"Kenapa dia tidak membalas pesanku ya? Padahal niatku kan baik. Hanya ingin memulai sesuatu yang baru dari awal. Ah..mungkin dia sedang sibuk," gumam sang pengirim pesan.
Tak lama kemudian Naruto sudah menyelesaikan ritual mandinya. "Segarnya..wangi..rambutku juga udah bersih dan wangi," gumam Naruto. Ia pun mengeringkan rambut panjangnya yang basah dengan handuk lalu menyalakan kipas angin. Ia selalu menggunakan kipas angin sebagai alat untuk mengeringkan rambutnya yang sangat panjang.
Naruto menyisir rambutnya. Ia masih memakai handuk. "Hm..rambutku wangi juga. Kayaknya si teme bakalan suka sama wangi ini," ujar Naruto. Ia tersenyum dan malu sendiri. Ia semakin rindu pada kekasih berambut ekor ayam itu.
Ia melihat layar ponselnya. Pesan masuk dari Toneri sangat banyak. Ia hanya membacanya dan membalas satu kali.
ToneriKakoii
Naruto, ada hal penting yang ingin aku sampaikan
Apa bisa kita bertemu malam ini?
Tadi sebenarnya aku ingin mengatakannya tapi kamu keburu pulang
NarutoDango
Maaf. Aku tidak bisa
Besok juga ketemu
Katakan saja besok saat acara reuni
ToneriKakoii
Ok
Sampai besok๐๐๐๐๐
NarutoDango
๐๐๐๐๐
Naruto pun meletakkan ponselnya di atas kasur. Ia segera memakai dress yang diperintahkan ibunya. Rambutnya ia twintail tanpa dibuat dango.
"Seperti mau kencan saja. Andai saja kencan sama si teme sensei pantat ayam. Hehehe," ujar Naruto tertawa. Ia galau lagi.
Naruto berjalan ke luar kamar sambil membawa ponselnya. Ia melangkah menuju meja makan dengan penuh tanda tanya. Ia heran karena ia disuruh ibunya untuk memakai dress. Padahal hanya untuk makan malam di rumah.
Si gadis pirang twintail terus berjalan. Tanpa ia sadari, sebuah tangan besar, kekar dan putih menarik tubuhnya.
"Ah..te..teme?!" seru Naruto. Ia sangat terkejut. Orang yang menarik tubuhnya adalah Sasuke. Kekasihnya yang lama hilang tanpa memberinya kabar selama 3 hari.
"Hai, cantikku," ujar Sasuke tersenyum tampan sebari mencium telapak tangan kuning kekasih cantiknya itu.
"Te..teme..ta..tanganku.." Wajah Naruto memerah. Ia merasa gugup. Jantungnya juga berdebar lebih cepat. Sasuke pun memeluk kekasih pirangnya.
"Aitakatta, dobe. Aku sangat merindukanmu," ucap Sasuke sebari memeluk dan membelai rambut pirang kekasihnya.
"A..aku juga sa..sangat merindukanmu, Sasuke - kun," balas Naruto. Ia tersenyum bahagia. Ia juga membalas pelukan hangat nan nyaman yang kekasih tampannya berikan.
"Hn. Rambutmu wangi sekali, dobe. Habis keramas ya," gumam Sasuke. Ia membelai dan mencium surai pirang Naruto.
"I..iya," jawab Naruto. Ia sudah merona dan salah tingkah. Sasuke tersenyum. Ia melepaskan pelukannya lalu mengamati penampilan kekasihnya yang terbilang langka dan sangat manis. Ia menyukai penampilan Naruto. Ia akan mengajaknya makan malam di luar dan memberikan kejutan atas kedatangannya.
"Ayo, berangkat. Kita makan malam di luar, dobe!" ajak Sasuke. Naruto mengangguk. Kemudian ia berjalan untuk menemui kedua orang tuanya. Ponselnya jatuh namun tidak sampai retak dan rusak. Sasuke mengambil ponsel kekasihnya yang terjatuh. Tanpa sengaja jarinya menyentuh layar ponsel Naruto dan tepat mengenai menu aplikasi whatsapp.
Raut wajah Sasuke berubah. Sebelah tangannya mengepal kuat. Ia ingin membanting ponsel kekasihnya namun ia urungkan. Ia memasukkan ponsel Naruto ke dalam saku celananya. Kemudian ia berjalan seperti tak terjadi apa - apa. Padahal di dalam hatinya ia sudah dag dig dug tidak jelas.
Setelah berpamitan pada pasangan dua Namikaze, kedua sejoli itu berangkat dengan menaiki mobil pribadi milik sang kakak, Uchiha Itachi. Sasuke membukakan pintu untuk Naruto. Tetapi ekspresinya terlihat aneh bagi Naruto. Ia merasa kekasih tampannya itu sedang tidak enak hati. Gadis pirang itu duduk di samping kekasihnya.
Sasuke mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Selang 10 menit mereka berada di dalam mobil, Sasuke menepikan kendaraan milik kakaknya di dekat sebuah taman. Sasuke tidak berniat untuk turun dan ke luar dari dalam mobil.
Si gadis pirang yang terlihat cantik dan mengagumkan dengan dress birunya mulai merasakan hal aneh pada kekasihnya.
"A..ano..Sa..Sasuke - kun. Kau kenapa? Diam saja dari tadi?" tanya Naruto gugup.
Sasuke tak menjawab. Ia menyerahkan ponsel Naruto yang sedari tadi ia kantongi. Naruto terkejut karena ponselnya ada pada kekasih ayamnya. Ia menerimanya namun Sasuke segera menarik tengkuk leher Naruto secara paksa yang membuat si gadis pirang itu meringis kesakitan.
"Te..me! Apa yang kau lakukan?!" seru Naruto. Ia berlinang air mata.
"Ma..maaf, dobe. Ponselmu.." gumam Sasuke. Ia tak bisa berkata - kata.
Naruto membuka aplikasi whatsapp. Ia kemudian menyadari bahwa kekasihnya telah membaca pesan dari Toneri. Wajah Naruto memucat seketika.
"Sa..Sasuke - kun..a..aku bisa menjelaskan ini semua. Pesan itu.." gumam Naruto dengan bibir dan badan gemetar.
"Na ru to. Kau.." ujar Sasuke terputus. Ia menahan amarah. Tangannya ia pukulkan ke stir mobil. Naruto terkejut. Ia bingung harus menjelaskan apa pada kekasihnya yang sedang dilanda cemburu.
"Kenapa..kau melakukan itu semua padaku, Naruto?!" seru Sasuke. Ia benar - benar marah dan cemburu saat membaca pesan dari Toneri.
"A..aku tidak melakukan apa - apa. Kau bisa baca balasan chat dariku, teme!" seru Naruto. Ia tidak mau disangka dan dianggap melakukan hal yang tidak ia lakukan.
Sasuke menatap Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kau diam - diam bertemu dengan laki - laki brengsek itu?! Kalau kau masih menyukainya, katakan saja, Naruto! Jangan jadikan aku sebagai pelampiasan!" bentak Sasuke.
Naruto mematung. Ia serasa mendapat hantaman ombak besar. Ia tidak pernah menganggap Sasuke sebagai pelampiasan ataupun pelarian dari patah hatinya. Ia benar - benar menyukai gurunya. Perasaan yang Naruto rasakan sangat berbeda dengan perasaannya pada Toneri. Ia tidak terima dikatai oleh kekasihnya.
"Kau sangat kejam, teme!" seru Naruto. Matanya berkaca - kaca.
"Kau yang kejam, Naruto!" balas Sasuke. Ia segera menarik tubuh kekasih mungilnya. "Tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kalau perlu malam ini akan ku jadikan kau milikku seutuhnya, Namikaze Naruto," ucap Sasuke dengan seringai liciknya.
Sasuke melepaskan Naruto. Ia mulai mencium paksa kekasihnya. Mencumbu semua bagian wajahnya. Ia juga mulai melonggarkan bagian atas dress kekasih pirangnya. Lalu mengecup dada dan meremasnya.
"Ja..jangan..Sa..Sasuke - kun. Ku mohon. Aku sangat menyukaimu. Hanya kamu yang kusukai saat ini. Ja..jangan lakukan itu. Hiks..hiks.. Jangan...hiks.." ujar Naruto. Ia pun menangis.
Sasuke langsung menghentikan aktivitas mesumnya. Ia segera memeluk Naruto. Membenarkan bagian atas dress yang sempat terbuka atas tingkah mesumnya akibat cemburu buta.
"Ma..maafkan aku, dobe. Aku sangat mencintaimu. Aku takut kehilanganmu, sayang," ucap Sasuke. Ia pun mengelap air mata Naruto yang mengalir deras seperti air hujan. "Sekali lagi maafkan diriku yang bodoh ini. Aku tidak mau kau kembali menyukai laki - laki itu."
"A..aku sudah tidak menyukainya, Sa..Sasuke - kun. Kami bertemu secara kebetulan. Aku berdebar hanya karena kaget saja saat bertemu dengannya," balas Naruto. Wajahnya merona. Suaranya masih serak akibat menangis.
"Apa kau masih ada rasa pada laki - laki itu, dobe?" tanya Sasuke. Kali ini tidak dengan nada kasar dan amarah.
Naruto menggelengkan kepalanya. "A..aku sudah tidak menyukainya lagi, teme. Kenapa kau nanya gitu terus sih?!" seru Naruto. Ia merasa kesal atas sikap kekasihnya yang terlalu cemburu. "Aku sudah tidak ada rasa lebih padanya. Hanya sebatas teman dan bekas teman SMP. Itu saja. Cemburuan sekali!" seru Naruto. Ia ngambek pada kekasihnya. Mukanya ia palingkan. Ia juga membuat ekspresi lucu.
Sasuke membalikkan badan Naruto. "Aku wajar kan kalau cemburu? Aku ini kekasihmu, dobe. Aku hanya takut kau meninggalkanku," gumam Sasuke dengan nada lembut. Ia mengusap pipi kekasihnya dengan lembut. "Kau sangat berharga bagiku. Kau yang pertama membuatku jatuh cinta dan gila karenamu, sayang." Sasuke pun mencium kedua tangan mungil Naruto.
Wajah Naruto merona. Ia dapat melihat pancaran kejujuran dan takut kehilangan dari tatapan mata gelap kekasihnya itu. Hati gadis pirang itu menghangat. Jantungnya berdebar sangat cepat. Ia dapat merasakan kasih sayang kekasihnya. Ia juga merasa nyaman dalam pelukannya. Rasa aman dan terlindungi meski dirinya hampir dilecehkan.
"Kau jahat, teme!" seru Naruto. Ia masih ingat insiden tadi.
"Aku jahat kenapa, dobe? Hn?" beo Sasuke. Ia tidak mengerti.
"Kau hampir saja melakukan itu padaku. Aku laporkan ke KPAK(komisi perlindungan anak Konoha) nanti kau di bui baru tahu rasa! Hn!" seru Naruto. Ia tampak menggemaskan bagi si pemuda berambut ekor ayam itu.
"Aku tidak akan melakukan hal itu, sayang. Tenang saja. Kalau aku di bui, apa kau rela? Hn?" balas Sasuke. Ia tersenyum jahil. Ia masih menggenggam tangan Naruto.
"Ma..makanya.. Jangan kayak tadi. A..aku takut, teme!" seru Naruto. Mukanya masih merona.
"Aku janji. Ok. Aku sangat mencintaimu, my dango dobe blonde Naruto," ucap Sasuke. Kemudian ia mengecup bibir kekasihnya. Bukan kecupan nafsu tapi kecupan penuh kasih dan sayang.
"A..aku juga, Sa..Sasuke - kun," balas Naruto. Ia pun mengecup bibir Sasuke singkat lalu tersenyum. "Kau tampan sekali, teme."
Sasuke tersenyum. Mukanya juga merona. Hati Sasuke terasa hangat dan debaran jantungnya meningkat. Hanya pada gadis pirang itu ia merasakan perasaan yang menyenangkan sekaligus membingungkan ini.
"Oh iya. Besok kau jadi ikut reuni, Dobe?" tanya Sasuke. Kali ini giliran kepalanya yang ia sandarkan di bahu sang kekasih.
"Tentu saja ikut. Kau kan sudah memberikanku kostumnya. Sayang kalau tidak dipakai. Apalagi kostumnya sangat imut. Kya..." ujar Naruto. Ekspresinya sungguh menggemaskan.
Sasuke mencubit kedua pipi gadis pirang itu. "Kau lebih imut, dobeku," ucap Sasuke tersenyum tampan.
Blush. Naruto semakin merona. Kruyuk. Perutnya mengeluarkan suara. Sasuke tertawa. "Hahaha. Kau kenapa dobe? Belum makan."
"Cih. Aku kan memang belum makan. Ku pikir teme mesum ini mau mengajakku makan karena sudah menculikku di jam makan malam. Huh," gumam Naruto memanyunkan bibirnya.
Sasuke tersenyum. "Kalau gitu, ayo kita cari makan!" ajak Sasuke. Ia menjalankan kendaraannya.
"Aku ingin makan ramen ekstra naruto ya. Dipakein bakso, teme. Kayaknya enak tuh," gumam Naruto. Ia sudah tidak sabar untuk makan.
"Ternyata pacarku yang manis ini kanibal ya," balas Sasuke.
"Kanibal? Aku nggak makan daging manusia, teme!" seru Naruto tidak terima.
"Hahaha. Naruto makan naruto. Kan namamu sama," tambah Sasuke. Ia menertawakan kekasih pirangnya itu.
Naruto ikut tertawa. "Ternyata Sasuke - kun lebih tampan saat tertawa. Aku suka," ujar Naruto. Ia tersenyum lima jari dengan polosnya.
Blush. Sasuke merona dan salah tingkah. "Dobe."
Begitulah aktivitas Sabtu malam pasangan sasunaru. Bertengkar lalu berbaikan.
Tbc
__ADS_1