
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor hanya pinjam tanpa izin
Ide cerita asli milik thor
Jika ada kesamaan itu hanya kebetulan semata
Genre : murid, guru, cinta
Pair : sasufemnaru and other
Sifat karakter di ff ini berbeda dengan versi anime dan manga
Terkadang ooc
Ff gaje, typo bertebaran
Happy reading
Hari - hari si gadis pirang berdango dan sang tunangan tercinta berambut ekor ayam tidak lagi damai seperti dulu. Kedatangan sosok wanita teman kuliah Sasuke dan ia menjadi guru magang di Konoha High School membuat hubungan mereka kembali kacau.
Seperti saat ini. Di jam istirahat, Naruto segera pergi ke tempat persembunyiannya. Seperti biasa, ia selalu membawa dua kotak bekal. Bangun lebih pagi sudah menjadi aktivitas rutinnya setelah bertunangan dengan wali kelasnya sendiri. Ia belajar masak dari ibunya. Menurut manga yang ia baca, laki - laki akan terpesona dengan makanan yang perempuan buatkan. Manga bergenre romance menjadi referensinya dalam percintaan. Begitulah Naruto manga pun bisa bermanfaat. Meski ia sudah bertunangan dengan Sasuke namun bisa saja kemungkinan lain terjadi. Misalnya ia ditinggalkan oleh tunangannya akibat dirinya yang gagal sebagai wanita. Jadi si gadis pirang berdango yang sudah berumur tujuh belas tahun itu mati - matian belajar memasak dan hal lainnya. Demi cintanya pada Sasuke, lautan pun akan disebrangi dengan naik kapal laut.
Duduk dengan posisi sefeminin mungkin. Senyum tak pudar dari wajah manisnya.
"Kalo si teme itu kagak datang, ku pangkas rambut ekor ayamnya. Awas saja kau," gumam Naruto menggerutu seorang diri. "Hn. Semoga guru magang itu gak gangguin sasu temeku," tambahnya. Mood Naruto mendadak berubah. Ia jadi tidak bersemangat. Mengingat kejadian beberapa hari lalu saat guru pujaannya selalu didekati oleh si guru magang yang bernama Uzumaki Karin.
"Kapan guru magang itu nyerah sama Sasu temeku? Aku harus segera bertindak. Kalo Sasu teme kepincut sama si merah itu kan, gawat," gumam Naruto. Ia masih menunggu kedatangan Sasuke.
Sepuluh menit pun berlalu. Sang guru muda tambatan hati si gadis pirang masih belum muncul. Ia pun berinisiatif untuk menghubunginya melalu ponselnya. Namun tidak ada jawaban.
Waktu semakin berlalu. Perut sang gadis sudah sangat lapar. Tanpa pikir panjang, ia menghabiskan makan siang miliknya seorang diri. Jatah milik tunangannya akan ia antarkan ke ruang guru. Mungkin Sasuke sedang sibuk hingga tidak sempat beristirahat makan siang. Naruto harus berpikir positif.
Setelah acara makan selesai, Naruto meninggalkan tempatnya beristirahat. Berjalan dengan santai dan tetap tersenyum walau perasaannya tengah gundah. Ruang guru adalah tempat tujuan utamanya sebelum ke ruang kelas.
"Permisi," ucap Naruto sebari membuka pintu ruang guru.
Jleb. Naruto sudah masuk ke dalam ruang guru beberapa langkah, namun ia urungkan niatnya. Ke luar dari ruang guru merupakan hal terbaik baginya saat ini. Tanpa melihat ke belakang pintu ia tutup.
"Wah, Naruto. Kenapa tidak masuk?" tanya Kakashi hendak masuk ke ruang guru.
"Ti..tidak apa - apa. Permisi sensei," sahut Naruto. Kepalanya menunduk ke bawah. Ia pun berjalan meninggalkan ruang guru.
Kakashi mengendikkan bahunya. "Gadis itu aneh sekali," gumam Kakashi. Ia pun masuk ke ruang guru. "Oh..pantas saja kelakuan Naruto aneh. Ternyata itu penyebabnya," tambah Kakashi menuju tempat duduknya. Ia baru saja menyaksikan adegan merusak mata.
Sementara itu, sang gadis pirang telah tiba di ruang kelasnya.
Brak. Meja digeser ke depan. Naruto langsung duduk tak lupa memasukkan kotak bekal makan siangnya. Ekspresi wajahnya sangat menyeramkan. Ia merogoh ponsel di saku roknya dan juga earphone. Aksi mengusir galau ala Naruto pun dimulai. Menonton anime dengan alur menyedihkan dan tragis. Naruto pun menangis akibat menonton anime itu.
"Hiks..hiks.. Menma..jangan pergi..hiks.." gumam Naruto berlinang air mata. Siswa siswi yang berada di ruang kelas yang sama sontak menghampiri teman sekelas mereka. Tak terkecuali Ino, Sakura dan Hinata yang kebetulan kembali dari kantin(Naruto nonton Ano hana).
"Na..Naruto kenapa?" tanya Ino. Awalnya ia khawatir tapi setelah melihat sahabat pirangnya sedang menyaksikan adegan dalam anime yang menguras air mata, ia kembali tenang. "Haa.. rupanya lagi nonton anime. Kamu udah bikin kita khawatir aja," ujar Ino mengusap dada. Ia duduk di tempatnya. Begitu pula dengan murid yang lain.
Sedangkan si pelaku tetap duduk dengan perasaan berkecamuk antara marah dan sedih. Menangis adalah obatnya saat ini. Dengan menonton anime sad ending menambahkan bumbu tangisa. Tapi ia tidak akan tinggal diam.
'Aku tidak akan melepaskan teme pantat ayam! Apalagi nyerahin sama tante - tante girang mata empat itu. Awas saja! Kau bisa tertawa kali ini. Untuk seterusnya, aku yang akan tertawa,' batin Naruto. Setelah mengeluarkan emosi dengan cara menangis agar hati dan pikirannya tenang.
"Yosh..semangat!!" seru Naruto sambil berdiri dan tertawa. Semua murid memandanginya. Sontak Naruto malu dan kembali duduk karena menjadi pusat perhatian teman - teman sekelasnya.
Ino dan geng saling memandang lalu mereka tersenyum. Di dalam hati mereka saling bertelepati dengan lirikan mata. Sahabat pirang mereka sudah kembali ceria dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Sepulang sekolah. Naruto bergegas pergi menuju ke ruang guru. Ia tidak mau tunangannya didekati oleh guru magang itu.
"Permisi," ucap Naruto sebari membuka pintu ruang guru. Tidak ada Karin sejauh memandang. Hanya ada beberapa guru lain yang ia sapa. Naruto duduk di tempat biasa sebagai asisten guru bahasa Inggris.
Beberapa saat kemudian, Sasuke datang. Naruto menoleh ke arahnya. Masih ada rasa kesal, cemburu dan sakit di dada ketika membayangkan kejadian saat istirahat tadi siang. Tapi ia tahan semua rasa sakit itu.
Sasuke berjalan ke tempat duduknya. Ia melirik ke arah sang gadis. Memberikan beberapa lembar tugas untuk Naruto periksa berserta kunci lembar jawaban.
"Maaf," gumam Sasuke dengan suara pelan yang hanya bisa Naruto dengar.
Naruto menghentikan kegiatannya sejenak, "maaf, Mr? Maaf untuk apa?" tanya gadis pirang itu sebari menoleh ke samping.
"Tadi aku tidak datang ke tempat istirahat. Ada hal yang tidak bisa ku tinggalkan," jelas Sasuke.
Naruto tersenyum getir. "Tak apa. Mr tenang saja. Lagipula.." Sebelum Naruto melanjutkan perkataannya, seseorang datang untuk mengganggu aktivitas sang siswi.
"Sasuke! Besok kita makan siang bersama lagi ya. Aku juga akan memasak yang banyak. Tadi sangat menyenangkan!" seru Karin dengan riang gembira.
Sasuke tak menanggapi perkataan guru magang itu. Ia lebih peduli terhadap siswi dangonya yang sedari tadi diam saja dengan kepala menunduk.
"Naruto," panggil Sasuke. Namun Naruto tak menjawab. "Naruto!"
"Ya? Maaf, Mr. Aku melamun. Hehe," jawab Naruto sambil tersenyum palsu. Karin masih betah berdiri di belakang pasangan sasunaru.
"Apa kau tidak enak badan, Namikaze?" tanya Karin pura - pura peduli. "Kau pulang saja kalau sakit. Biar aku yang mengerjakan sisa dari tugasmu," tambahnya.
Naruto menoleh ke arah Karin. "Aku tidak apa - apa, Karin - san. Malah sangat sehat," jawab Naruto santai.
"Ok. Tapi aku akan tetap membantumu sebagai guru magang yang baik," sahut Karin sambil tersenyum ramah dan cari perhatian. Ia duduk di sebelah kanan Sasuke.
Karin terus saja mengoceh seorang diri tanpa ada yang membalas semua ocehannya. Berhubung di ruang guru hanya ada Naruto, Sasuke dan Karin jadi tidak ada yang menegur guru magang yang sibuk mengoceh itu.
"Sasuke, apa kau ingat? Pesta dansa proom night pertama kita di kampus. Saat itu kau mengajakku berdansa. Padahal pemuda lain tidak ada yang mau mengajakku berdansa," ujar Karin. Matanya berbinar - binar saat membayangkan kejadian itu. "Aku senang sekali. Kau masih ingat kan?" sahut Karin. Ia menyender di bahu Sasuke dan sontak mendapat delikan dari sang empunya.
"Jangan dekat - dekat denganku!" perintah Sasuke dengan nada dingin. Namun Karin tidak memedulikannya. Ia masih tetap menyender bahkan menggelayuti tangan si guru muda tersebut.
Tiba - tiba Naruto merogoh saku roknya dan mengambil ponsel.
"Moshi moshi..ya? Ok kaa san. Aku akan segera pulang. Iya, kaa san," ujar Naruto. Ia baru saja menerima panggilan telepon dari ibunya.
"Ada apa, dobe?" tanya Sasuke ingin tahu.
"Bukan apa - apa. Aku hanya harus segera pulang. Maaf ya, Mr. Tugasnya aku bawa pulang saja," jawab Naruto sudah bersiap - siap untuk pulang.
"Biar aku saja yang mengerjakan sisa tugasmu, Namikaze," sambung Karin dengan penuh semangat. "Kau bisa pulang," tambahnya.
"Tidak, Karin - san. Aku akan membawanya ke rumah. Besok atau malam ini Mr. Sasuke akan mengambilnya ke rumahku," balas Naruto menantang Karin.
"Hah?" beo Karin. Ia bingung dengan apa yang dimaksud oleh siswi cebol itu. "Malam ini?"
"Mr, aku pulang dulu ya. Maaf sekali. Permisi," ucap Naruto. Ia segera berjalan ke luar dari ruang guru tanpa menghiraukan panggilan dari sang guru pujaan hati yang sedari tadi memanggil namanya.
Naruto berlari secepat mungkin. Berpura - pura kuat dan tidak peduli merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Apalagi gadis pirang berdango yang saat ini sedang menangis itu baru merasakan yang namanya cemburu. Rasanya sakit dan sesak di dada.
"Hiks..teme bodoh! Hiks. Gak peka. Hiks.. Aku pulang saja. Biarkan saja sepasang sejoli itu berbuat apapun di ruang guru. Aku tak peduli," ujar Naruto. Ia sudah berada di dekat gerbang sekolah. Tidak terasa ia berlari dari ruang guru sampai gerbang sekolah dengan perasaan galau. Jarak yang jauh menjadi dekat.
Set. "Tunggu, Naruto!" seru Sasuke. Ia menarik tangan Naruto. Namun Naruto meronta. Ia tidak ingin dipegang oleh Sasuke walaupun hanya tangannya. Bahkan pelukan dari Sasuke selalu saja ia tolak.
"Pergi sana! Jangan temui aku lagi! Aku ingin pulang. Sana saja sama wanita musang merah itu! Sudah cukup beberapa hari ini aku diam tapi sasu teme tidak mengerti. Malah diam dan membiarkan wanita itu menyentuh dan pegang - pegang. Kau sama sekali tak ambil tindakan! Bilang saja kalau kau menikmati disentuh olehnya..!" seru Naruto sebari berlinang air mata dan menahan emosi.
"Naru..dengarkanku.."
"Lepasin! Aku mau pulang! Lepasin, teme! Guru tukang bohong! Raja ngerayu! Sensei ayam teme! Sasu teme menyebalkan! Aku benci sasu teme! Aku benci!? Kau jahat..!!" teriak Naruto. Ia terus menolak dan menepis pelukan dari Sasuke.
Sasuke kesal karena gadisnya tidak bisa diajak bicara. Ia tetap menarik tubuh Naruto secara paksa dan melakukan satu hal yang tidak Naruto duga.
Cup. Sasuke mencium bibir gadisnya yang sedari tadi mengeluarkan kata - kata kasar dan ejekan untuk dirinya.
Mata Naruto melotot bulat. Ia sangat terkejut dengan tindakan Sasuke yang menciumnya. Di belakang mereka, seorang saksi mata tak sengaja melihat kejadian tersebut dengan ekspresi wajah tak percaya terhadap apa yang baru saja ia lihat.
"Sudah marah - marahnya?" tanya Sasuke selembut mungkin. Naruto memalingkan wajahnya. Tak mau melihat wajah tunangannya.
"Huh," gumam Naruto. Masih marah dan cemberut.
Sasuke menangkup wajah Naruto sehingga ia bisa memandanginya lebih dekat. Tampak kedua matanya yang masih berair dan ada bekas air mata yang menetes. Kemudian ia cium bekas air mata itu tanpa rasa jijik.
Wajah Naruto memerah. Bukan merah karena marah tapi karena malu dan tersipu dengan perlakuan dari guru kesayangannya.
"Masih mau marah? Masih mau mengumpat dan mengejek tunangan tampanmu?" tanya Sasuke sebari menggenggam kedua tangan Naruto.
"Mr. Sasuke rambut pantat ayam!" seru Naruto sebari mengembungkan pipinya๐ฃ membuatnya lebih imut dan menggemaskan. Ia masih malu.
Sasuke tersenyum lalu ia melakukan hal yang tak kalah mengejutkan. Sasuke tak tahu tempat. Hanya karena sepi tidak ada murid dan guru ia terus melakukan hal tak senonoh pada siswinya. Mencium bibir Naruto tanpa henti. Di dekat gerbang sekolah. Penjaga sedang tidak ada. Tidak ada orang yang berlalu lalang. Menambah
"Engh engh." Naruto memukul dada bidang tunangannya yang tertutupi kemeka dengan tangan kecilnya.
"Se..sak, te..me!" seru Naruto. Wajahnya tambah merah. Bibirnya juga sudah merah dan sedikit tebal akibat ciuman dari sang guru.
Sasuke menyeringai puas. Ia kembali memeluk gadis pirangnya. "Maafkan aku, Naruto. Aku selalu membuatmu kecewa dan menangis," ujar Sasuke. Ia merasa bersalah.
Naruto membalas pelukan dari Sasuke. Tak sengaja ia melihat seseorang di belakang dengan wajah pucat dan kecewa. Naruto pun menyeringai puas.
Setelah berpelukan, Naruto mencium pipi Sasuke. Tubuhnya yang pendek membuatnya kesusahan untuk meraih wajah tunangannya. Sasuke pun sedikit menundukkan kepalanya. Cup. Kedua pipinya disentuh oleh bibir peach dari sang gadis berambut dango.
"Na..nandemonai, Mr," jawab Naruto. Ia malu - malu setelah mencium Sasuke.
Sasuke tersenyum. "Ayo pulang, dobe!" ajak Sasuke sebari meraih tangan gadisnya.
"Karin - san bagaimana?" tanya Naruto.
"Biarkan saja. Aku tidak mau dobe dangoku cemburu, sedih dan menangis lagi," jawab Sasuke.
Naruto tersenyum puas. Ia merasa sangat senang mendengar Sasuke berbicara demikian apalagi saat melihat ekspresi Karin sang pengintip tampak kecewa dan terpukul setelah menyaksikan adegan ciuman dirinya dengan Sasuke di gerbang sekolah.
'Rasakan, nenek sihir! Sasu teme akan selalu mengejarku. Aku udah menang dari awal. Meski harus jadi korban perasaan juga tapi akhirnya aku hanya korban di awal. Yang jadi korban sebenarnya kan dia sendiri. Hn,' batin Naruto. Tidak sia - sia menangis dan marah - marah di depan tunangannya.
'Gadis cebol cepol itu sangat menyebalkan! Ia berani memeluk Sasuke! Bahkan mencium pipi dan bibir Sasuke - ku?! Sasuke juga diam saja. Dasar!! Aku harus bertindak lebih lanjut. Takkan ku serahkan babang tamvan pada gadis bau kencur itu,' batin Karin. Ia yang mengintip pasangan sasunaru berciuman.
Keesokan harinya.
Gara - gara semalam makan ramen terlalu pedas, sang gadis pirang berdango harus merasakan buah dari rasa pedas itu. Ia bolak balik toilet padahal sedang berada di sekolah.
"Mules banget. Kebanyakan ngasih sambal jadi mules deh. Minta obat ke ruang uks ah," gumam Naruto dengan suara sepelan mungkin.
Naruto ke luar dari bilik toilet. Tampak seorang wanita dewasa sedang sibuk merias diri di depan cermin.
"Lipstik warna merah apa pink ya? Hm.." gumam Karin tak sengaja didengar Naruto. "Yang manapun aku tetap cantik kok,"tambahnya.
Naruto tak peduli. Ia memilih ke luar dari toilet. Berlama - lama di tempat pembuangan itu membuatnya pusing. Apalagi ada seseorang yang sangat tidak ingin ia temui.
"Wah..aku pikir siapa. Ternyata Namikaze Naruto," ujar Karin sebari membalikkan badannya untuk berbicara dengan Naruto.
"Karin - san. Sedang apa di sini? Apa anda tidak salah tempat berdandan di toilet?" tanya Naruto tersenyum palsu. Akibat berteman lama - lama dengan Sai ia jadi ikut tersenyum palsu juga.
"Huh!" Karin memandangi gadis pirang itu dari atas kepala hingga ujung kaki. "Ckck. Badan kerempeng. Pendek. Pipi chubby. Gak ada daya tarik," ucap Karin dengan sinis.
"Hah?" beo Naruto. Ia heran karena ada seorang wanita yang mengkritik tubuhnya. "Memang kenapa, Karin - san? Aku masih dalam masa pertumbuhan ini," ujar Naruto tak kalah sinis dari Karin. "Nanti juga aku akan bohay dan lebih cantik darimu."
Karin mendorong tubuh Naruto ke lantai. "Dasar gadis murahan!" seru Karin.
"A..apa yang kau lakukan, Karin - san? A..apa sa..salahku? Aku kan tidak berbuat apa - apa?" tanya Naruto dengan wajah memelas minta dikasihani.
"Dasar murid tak tahu malu! Bisa - bisanya Sasuke tergoda oleh gadis cebol dan kerempeng sepertimu. Aku yang lebih dari kamu saja tak ia hiraukan!" bentak Karin. Ia hendak mendorong Naruto yang baru saja bangkit. Namun Naruto dapat menghindar. Pengalaman dibully membuatnya lebih hati - hati apalagi dalam masalah persaingan cinta. Dulu ia pasrah saja tapi sekarang beda. Naruto tunangan Sasuke. Hanya ia yang berhak atas cinta dan diri Sasuke.
"Oh. Anda melihat kejadian kemarin, Karin - san. Hn.." gumam Naruto dengan tenang. Ia berjalan mundur secara perlahan menuju pintu ke luar.
Karin semakin panas. Membayangkan kejadian kemarin saat Sasuke tengah berciuman dengan siswinya sendiri.
"Apa niatmu menggoda Sasuke?!" tanya Karin dengan tegas. "Oh iya." Karin sedikit merendahkan nada bicaranya. "Kau tergila - gila pada gurumu sendiri. Kau menggodanya supaya Sasuke mau padamu. Benar kan?" Karin melangkah maju dan Naruto mundur. Maju mundur.
"Menggoda? Untuk apa? Mr. Sasuke sendiri yang menyukaiku. Bahkan kami sudah.." ujar Naruto. Namun Karin memotong pembicaraannya.
__ADS_1
Plak bruk. Pipi mulus dan tembem Naruto ditampar oleh Karin sekuat tenaga hingga tubuh Naruto tersungkur ke lantai mengenai pintu toilet.
"Ka..Karin.." gumam Naruto. Beberapa saat kemudian dia pingsan.
Karin panik atas perbuatannya. Ia segera ke luar dari toilet meninggalkan Naruto yang sedang pingsan.
'Rasakan itu! Dasar gadis lemah. Mau bersaing denganku. Terlalu cepat 10 tahun, gadis cebol,' batin Karin. Tanpa rasa kemanusiaan ia meninggalkan Naruto seorang diri yang terkapar di lantai toilet perempuan.
*
*
*
*
"Ukh.." ringis seorang gadis bersurai pirang. Ia menyentuh kepalanya yang masih terasa sakit saat kedua matanya terbuka.
"Kau tidak apa - apa, Naruto?"
Naruto bangkit dari kasur uks. "Emh? Mr? Apa yang terjadi?" tanya Naruto. Ia bingung dengan apa yang telah terjadi padanya.
"Kau ditemukan pingsan di dalam toilet oleh seorang siswi," jawab Sasuke. Ia tampak cemas dengan keadaan siswinya.
Naruto ingat. Di toilet ia bertemu dengan Karin sang guru magang dan beradu mulut.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Naruto? Katakan padaku!" perintah Sasuke. Ia tahu jika gadis di depannya sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tidak ada apa - apa, Mr. Aku hanya terjatuh," jawab Naruto tersenyum.
"Jangan berbohong! Aku tahu kalau kau sedang berbohong!" seru Sasuke. Ia marah dengan ketidak jujuran Naruto.
"Sungguh. Aku tidak apa - apa," jelas Naruto. Ia berusaha setenang mungkin.
"Karin. Pasti dia yang melakukannya," ujar Sasuke. Firasatnya tidak pernah salah.
Naruto terkejut akan tebakan Sasuke. "Bu..bukan Karin - san, Mr," sahut Naruto.
Sasuke menatap tajam ke arahnya. "Masih mau ngebela juga," gumamnya membuat Naruto begidik ngeri.
Naruto menundukkan kepalanya. Tak berani memandang wajah tampan tunangannya yang makin hari makin tampan. Ia terkejut saat kepalanya diusap oleh sang wali kelas. "Mr.."
Sasuke tersenyum menenangkan. "Narutoku memang seperti ini. Selalu baik hati," ucap Sasuke sebari mengusap surai pirang panjang gadisnya yang terurai. "Bukan hanya wajahmu yang cantik, tapi hatimu juga cantik. Itu yang membuatku jatuh cinta padamu," tambahnya. "Tapi..jangan terlalu baik juga, sayang.."
Wajah si gadis pirang merona. Ia mengangkat kepalanya. Sasuke masih tersenyum kepadanya. Senyuman yang selalu bisa menenangkan dan menyejukkan hati si gadis.
"Ma..af, Mr," ucap Naruto. Ia tersenyum.
Sasuke mengecup dahi gadisnya. "Kau tenang saja, Naruto. Orang yang berani mengganggu dan mencelakaimu akan mendapatkan akibatnya. Maafkan aku. Kau selalu saja terluka," gumam Sasuke. Ia memeluk Naruto.
"Tidak. Mr tidak salah. Wanita itu terlalu bar - bar dan terobsesi pada Mr. Aku ngerti," balas Naruto. Perasaannya tenang, hangat, nyaman dan aman saat diperlakukan dengan baik dan hangat oleh wali kelasnya sekaligus tunangannya. 'Aku tarik perkataanku saat itu. Ternyata teme sensei nggak sedingin yang ku kira. Teme sensei baik dan selalu hangat padaku,' batin Naruto. Bersyukur dan bersuka cita atas tindakan tunangannya.
Sementara itu, sang stalker yang selalu ada dan muncul di saat pasangan sasunaru, mengepalkan kedua tangannya di kedua sisi pinggang.
'Tak akan ku biarkan kau menang, Namikaze sialan,' batin si stalker itu.
*
*
*
*
Suara nada notifikasi di ponsel menyadarkan pikiran si gadis pirang yang tengah merapihkan tempat tidurnya.
Sasu teme
Temani aku ke toko buku
Setengah jam lagi aku jemput
๐love you dobe dangoku
Naruto tersenyum saat membaca pesan singkat dari sang kekasihnya. Tapi beberapa saat kemudian. "Nani? Setengah jam lagi? A..aku harus segera turun dan mandi! Wuaa...!!" seru Naruto. Ia panik dan langsung berjalan cepat ke luar kamar untuk mandi.
"Naruto, tumben kau sudah bangun?" tanya sang ayah yang kebetulan sedang berjalan melewati tangga bawah.
"Si pantat ayam itu memintaku menemaninya ke toko buku," jawab Naruto. Ia melesat dengan cepat.
"Pantat ayam?" beo Minato.
"Mungkin Sasuke maksud putri kita, anata," jelas sang istri a.k.a Kushina muncul dari belakang.
"Haha. Karena rambutnya mirip ekor ayam mungkin," sahut sang kepala keluarga Namikaze itu.
"Ayah dan anak sama saja. Calon mantumu kan sangat tampan dengan gaya rambut anehnya. Tapi kalian malah menghinanya," sambung Kushina. Ia heran dengan sikap anak dan suaminya yang sama.
Tiga puluh menit kemudian.
Seorang gadis bersurai panjang dengan gaya rambut dikepang berbentuk bando dan sebagian rambutnya yang tidak terkepang ia biarkan terurai. Karena cuaca cukup dingin, rambut terurai membuatnya sedikit hangat dari hembusan angin musim gugur yang akan segera berganti ke musim dingin. Baju yang ia kenakan juga sangat berbeda. Tshirt putih polos di balik sweater biru dongkernya dengan bawahan rok rempel kotak - kotak berwarna merah, hitam di atas lutut, kaos kaki warna putih sepanjang lutut dan sneakers berwarna hitam. Tak lupa tas selempang berwarna putih tulang ia sematkan di bahu kanannya.
"Selesai. Aku harus cepat - cepat turun ke bawah. Sasu teme pasti sudah menungguku di bawah," gumam Naruto. Ia sudah siap untuk pergi berkencan dengan sang pujaan hati di akhir pekan. Bukan kencan melainkan menemani sang tunangan tercinta ke toko buku.
Naruto pun melangkah ke luar dari kamar. Menutup pintu kamarnya. Menuruni tangga dengan langkah cepat.
Sasuke sudah menunggu di ruang tamu. Kushina dan Minato juga menemaninya supaya sang calon mantu tidak bosan menunggu putri mereka yang sibuk merias diri. Dulu putri semata wayang mereka hanya mengurung diri seharian di kamar dengan tumpukan manga. Ke luar kamar di saat makan dan pergi ke toilet saja. Main dan hang out pun sangat jarang. Apalagi merias diri. Gadis secuek dan setomboy Naruto yang hanya bisa menata rambutnya menjadi dango. Itulah keahliannya selain di bidang akademis.
Kedua orang tuanya sangat bersyukur atas kehadiran pemuda tampan putra bungsu sahabat mereka. Berkat Sasuke, Naruto menjadi semakin hidup seperti gadis normal pada umumnya. Cinta memang bisa mengubah segalanya.
"Ayo, Sasuke - kun! Kita berangkat!" seru Naruto dengan penuh semangat dan ceria.
Sasuke menoleh ke arah gadisnya yang sedang tersenyum. Sasuke bengong bak tersambar petir dan langsung klepek - klepek.
"Ada apa?" tanya Naruto pada Sasuke. Sasuke masih mematung.
"Benar. Rasanya sayang jika diberikan kepada bocah ayam itu," sambung Minato sontak mendapat cubitan kecil nan menyakitkan dari sang istri.
"I..itte.." ringis Minato bak anak tk dicubit ibunya karena nakal.
"Biar bocah ayam juga dia itu anak sahabat kita, anata," gumam Kushina.
Sasuke tak henti memandangi gadis pirang di depannya. Naruto terheran - heran dan bingung dengan keadaan tunangannya yang seperti patung.
"Sasuke - kun? Sasu teme!!!" teriak Naruto dengan suara cemprengnya.
Suara Naruto yang menggelegar sontak membuyarkan lamunan sang pemuda.
"Hn."
Akhirnya Sasuke tersadar. Tapi ia masih memandangi gadis pirangnya yang berdiri tepat di depannya.
"Ka..kau sangat cantik, Naruto," ujar Sasuke. Masih tanpa ekspresi tapi Naruto bisa merasakan jika tunangannya sedang terpikat olehnya.
"Arigatou," balas Naruto tersenyum cantik.
๐Sasuke harus diperiksa ke dokter setelah dari toko buku. Jantungnya berdetak sangat cepat. Apalagi saat melihat Naruto dengan penampilannya yang berbeda. Rasanya ada yang mengeras di bawah sana. Lupakan. Sasuke tidak boleh berpikir yang tidak - tidak karena Naruto masih menjadi muridnya.
"Hn. Kita pergi sekarang!" ajak Sasuke.
"Ok," jawab Naruto yang selalu semangat.
Setelah berpamitan kepada sepasang suami istri Namikaze, pasangan sasunaru pun berangkat dengan naik mobil milik sang sulung Uchiha, Itachi.
"Aku pikir naik motor," ujar Naruto. Duduk di jok depan di samping Sasuke.
"Tadi Itachi nii minjemin mobil. Tumben banget," balas Sasuke sebari menghidupkan mesin mobil.
"Kenapa tumben? Apa ada alasannya?" tanya Naruto ingin tahu.
"Aku bilang akan membawamu ke rumah utama. Kaa san sangat senang hingga menyuruh Itachi nii meminjamkan mobilnya padaku," jelas Sasuke.
"Eh? Pu..pulang dari toko buku, ke rumah ibu Mikoto?" tanya Naruto. Ia terkejut.
Sasuke mengangguk. "Emang kenapa?"
"A..aku masih malu, Sasuke - kun," jawab Naruto dengan muka merona.
"Jangan malu, sayang. Ibu dan ayahku sangat menyukaimu. Tenang saja," ucap Sasuke sebari mengelus kepala pirang gadis yang duduk di sebelahnya dengan sebelah tangannya karena tangan yang lain Sasuke gunakan untuk menyetir.
"Em," gumam Naruto mengangguk. Ia merasa tenang dan senang saat Sasuke mengusap kepalanya. Tak lupa ia memberikan senyum termanisnya pada sang tunangan.
Skip time Naruto dan Sasuke di toko buku.
Senyum tak pernah luput dari wajah cantiknya. Naruto juga tertawa ketika membaca manga yang baru saja ia beli di toko buku. Matanya berbinar - binar. Aura yang dipancarkannya pun begitu cerah.
Sang pemuda yang sedang menyetir mobil serasa menjadi sopir pribadi sang gadis pirang tersebut. Ia juga tersenyum melihat tambatan hatinya tersenyum dan tertawa bahagia.
"Dobe, kau baca manga apa? Tunanganmu yang tampan ini sampai kamu cuekin," ujar Sasuke pura - pura merajuk.
"Ih, Sasuke - kun. Manga ini seru banget lho. Tentang jodoh dari masa kecil. Ada romantis sama komedinya juga," balas Naruto dengan senyum lebar. Sesekali menoleh ke samping.
"Hn. Aku gak suka manga gitu. Membosankan," sambung Sasuke. Lebih baik fokus menyetir daripada mengganggu tunangannya yang masih remaja labil dan seorang otaku. Lagipula mereka akan berada di kediaman Uchiha. Di sana Sasuke bebas melakukan aksi mesumnya.
Sepuluh menit kemudian mereka tiba di depan gerbang kediaman Uchiha. Setelah gerbang terbuka, Sasuke segera memasukkan mobil ke dalam dan ke luar dari mobil menyerahkan kunci mobil kepada security untuk disimpan di garasi.
Sasuke berjalan sambil menggandeng tangan Naruto. Para maid menyambut kedatangan sang bungsu Uchiha beserta calon istrinya dengan senyum ramah. Sasuke tak membalas sapaan dari para maid, sedangkan Naruto tersenyum sebagai balasan dari sapaan para maid.
Pasangan sasunaru terus berjalan sampai di ruang utama. Terlihat sang sulung Uchiha sedang duduk dan berbincang - bincang bersama seorang wanita bersurai merah panjang memakai kaca mata.
Sang wanita menoleh ke arah Sasuke dan langsung berlari untuk memeluknya, namun Naruto dengan cepat segera menghalangi tindakan wanita tersebut.
"Sasuke..!!" sahut Karin. Wanita itu adalah Karin. Tanpa sopan santun ia menghadang Sasuke. Naruto tak tinggal diam. Tak peduli harus menghadapi wanita dewasa yang lebih menawan darinya.
"Na mi ka ze!" seru Karin. Tak terima atas tindakan Naruto yang menghalanginya untuk memeluk sang pemuda idaman hati. Karin menatap tajam terhadap Naruto.
Naruto malah menjulurkan lidahnya kepada Karin. Sontak kedua Uchiha muda tertawa melihat aksi dua perempuan beda usia itu. Karin yang agresif ingin mendekati Sasuke, dan Naruto yang protektif menghalangi tubuh Sasuke yang akan Karin peluk.
Muncul percikan api dari kedua mata dari gadis berbeda surai dan usia itu.
Tiba - tiba sang nyonya besar Uchiha muncul. Naruto segera memberi hormat dan salam kepada calon mertuanya.
"Konnichi wa, bu," sapa Naruto tersenyum ramah disertai rasa gugup menggerayanginya.
"Wah Naruto!" seru Mikoto langsung memeluk gadis pirang tersebut. "Sudah lama tidak bertemu," tambahnya.
Karin terdiam menyaksikan interaksi ibu dari pemuda pujaannya dengan si gadis yang menjadi rivalnya berpelukan dan tampak sangat akrab. Timbul kecurigaan di dalam hati dan pikirannya.
'Kok si pirang cebol akrab banget sama ibunya Sasuke?,' batin Karin.
Mikoto menoleh ke arah Karin setelah melepas pelukannya. "Kau siapa, nona?" tanya Mikoto kepada Karin.
Karin tersenyum seraya memperkenalkan dirinya, "selamat siang, tante. Saya Uzumaki Karin. Teman kuliah Sasuke,"
"Oh. Silakan duduk. Itachi, suruh pelayan bawakan minuman dan makanan untuk Uzumaki - san!" perintah Mikoto. Kebetulan para maid sedang tidak ada di ruang tamu.
"Siap, kaa san," jawab Itachi. Ia pun memanggil pelayan dengan membunyikan lonceng.(??)
"Nah Karin - san, anggap saja rumah sendiri. Bibi ada urusan dengan Naruto dan Sasuke. Ayo, sayang," ujar Mikoto. Ia menggandeng tangan Naruto.
"Iya, bu," jawab Naruto. Sasuke berjalan mengekori kedua wanita tercintanya.
Karin duduk dengan perasaan aneh dan penuh tanda tanya. Ia heran dengan sikap ibunya Sasuke yang sangat akrab dengan Naruto sampai - sampai menggandeng tangan gadis pirang itu.
__ADS_1
'Cih. Gadis cepol itu cari muka sekali dan sok akrab banget sama calon ibu mertuaku. Harusnya aku yang di sana,' batin Karin tak rela ditinggalkan sendiri. Padahal ia sudah mengenal Sasuke lebih lama daripada Naruto. Itachi duduk menemani Karin. Sulung Uchiha tersenyum tampan namun Karin sama sekali tak terpesona.
'Pria ini sok ganteng banget sih! Mentang - mentang Uchiha sulung. Mana ada keriputnya pula,' batin Karin. Ia jutek pada Itachi.
'Hm. Untung saja otouto sukanya sama Naruto. Kalo sama perempuan macam nenek sihir ini, tak sudi aku. Punya adik ipar yang gak ada manis dan imutnya. Garang sih iya. Syukurlah otouto,' batin Itachi, penuh rasa syukur, lega dan bisa bernafas tenang.
Di dapur di dalam mansion Uchiha, Naruto membantu sang calon ibu mertua sekaligus belajar membuat kue. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Karena di rumahnya ia hanya baca manga, belajar. Naruto baru belajar memasak setelah mengenal Sasuke.
Sasuke duduk santai sebari memainkan game di ponsel milik tunangannya. Terkadang ia mengambil foto sang ibu dan juga Naruto. Melihat keduanya tampak akrab membuat Sasuke bahagia lahir batin.
Naruto memakai apron berwarna merah muda dan rambutnya diponytail. Sangat menggemaskan. Sasuke malah ingin menjadi fotografer dadakan untuk mengambil foto gadisnya. Hanya Naruto yang menjadi modelnya.
"Heh, dobe! Memangnya kau bisa membuat kue?" tanya Sasuke pura - pura tidak tahu. Padahal ia tahu jika Naruto tidak bisa membuat kue.
"Tidak. Maksudku belum bisa. Makanya aku belajar buat kue," jawab Naruto sebari memerhatikan oven untuk mengecek kematangan kue yang sedang dipanggang.
Mikoto sedang ke luar dari dapur melakukan hal lain karena ada Naruto dan Sasuke di dapur. Ia memberikan kesempatan kepada putra bungsunya untuk berduaanย tunangannya. Dan juga memberikan tugas kepada calon menantunya yang belum bisa membuat kue. Tugas Mikoto sebagai calon ibu mertua sangat besar. Meski Naruto masih remaja dan belum bisa menjadiย seorang istri, namun ia akan mengajarinya. Mikoto mantan otaku jadi tahu rasanya. Makanya saat melihat Naruto ia bisa merasakan aura otaku dari dalam dirinya. Meski begitu, sebagai seorang ibu, Mikoto akan melakukan hal yang terbaik demi putra - putranya termasuk mengenai wanita idaman putranya sendiri. Sasuke sangat mencintai Naruto. Kehadiran gadis itu mewarnai kehidupan putra bungsunya sehingga Sasuke menjadi lebih hidup layaknya manusia nyata.
Di dapur Naruto dan Sasuke malah asyik memainkan adonan kue seperti anak kecil. Tepung di mana - mana. Di lantai, di meja dan di dindinbg. Muka dan baju mereka pun dipenuhi tepung. Tawa tak henti menggema di dapur.
"Teme! Nanti kena rambutku!" seru Naruto dengan tangan penuh tepung.
"Hanya kena rambut, dobe! Harusnya kau jadi dango goreng!" balas Sasuke tak kalah jahil melempar gadisnya dengan taburan tepung.
"Aku bukan makanan, teme! Lagian di kepalaku gak ada dangonya!" sahut Naruto. Ia malah memegang kepalanya dengan tangannya yang berlumuran tepung sehingga kepalanya dipenuhi tepung. "Teme!" seru Naruto atas tingkah konyolnya.
"Hahaha. Kau benar - benar dobe!" seru Sasuke. Ia tertawa saat melihat wajah, rambut dan baju yang Naruto pakai dipenuhi tepung. Naruto cemberut melihat tunangannya malah menertawakannya. "Mo..teme ngejek terus," gumam Naruto dengan nada manjanya sambil mencubit pipi Sasuke.
Sasuke merasa bahagia saat bermain dengan gadisnya. Saling kejar - kejaran, melempari tubuh mereka dengan tepung, menghiasi permukaan atas kue. Hal kecil yang tak ia sangka membuatnya bahagia dan tertawa dari lubuk hatinya.
Naruto tersenyum sebari menangkup wajah tunangan tampannya dengan sedikit berjinjit. Tubuhnya pendek jadi ia kesusahan untuk meraih kepala Sasuke.
"Sasuke - kun benar - benar tampan ketika tersenyum dan tertawa seperti ini. Aku sangat menyukainya," ujar Naruto. Ia tersenyum dengan wajah merona.
Sasuke juga tersenyum. Wajahnya juga merona. Kemudian ia menundukkan kepalanya dan mencium bibir sang gadis pirang pendek tersebut.
Mikoto sweatdrop melihat tingkah putra bungsunya yang seperti anak - anak. Itachi tersenyum. Karin menganga. Selama Karin mengenal Sasuke dari zaman kuliah, ia tidak pernah melihat Sasuke tertawa sampai ke luar dari karakter aslinya.
"Hahaha.." Sasuke dan Naruto tertawa bersama. Menertawakan penampilan masing - masing hingga lupa dengan keberadaan tiga orang yang memerhatikan mereka.
Sasuke malah mengangkat tubuh mungil gadisnya dan berputar - putar hingga mereka sadar ada tiga orang yang sedari tadi berdiri memerhatikan tingkah konyol sepasang muda mudi itu.
"Emh. Jadi ini yang kalian lakukan saat kaa san tidak ada? Berantakan sekali," gumam Mikoto menggelengkan kepalanya. Tapi ia tersenyum melihat putra bungsunya tertawa bahagia. Sasuke menurunkan Naruto dari gendongannya.
"Ma..maafkan kami, bu," ucap Naruto. Ia merasa malu karena bertingkah seperti anak kecil. Apalagi sudah membuat dapur calon ibu mertuanya berantakan.
Itachi tertawa melihat adik bungsunya yang wajah dan sekujur tubuhnya dipenuhi tepung. "Hahaha.. Sasuke, kau seperti ayam tepung! Tinggal digoreng saja! Hahaha." Sang sulung Uchiha malah tertawa menistakan adiknya yang memang dalam kondisi berantakan dan putih akibat tepung.
"Naruto, mandilah. Badanmu penuh dengan tepung. Wajah dan rambutmu juga!" perintah Mikoto dengan lembut kepada Naruto sebari mengusap kepala kuningnya yang dipenuhi tepung akibat putra bungsunya.
"Baik, bu. Tapi aku beresin lantai dan meja dulu. Berantakan sekali," jawab Naruto. Namun Mikoto melarangnya dan memaksa gadis pirang itu untuk segera membersihkan sekujur tubuhnya.
"Biar pelayan yang membersihkan dapur. Kamu mandi saja, Naruto!" pinta Mikoto.
"Ba..baik, bu. Tapi..a..aku tidak tahu di mana kamar mandinya," sahut Naruto gugup dan malu.
"Sasuke, antar Naruto ke kamar mandi di kamarmu!" perintah Mikoto kepada Sasuke.
"Ok, kaa san. Sekalian mandi bersama ya," jawab Sasuke sebari merangkul bahu tunangannya.
Pletak. Mikoto menjitak kepala ayam si bungsu Uchiha yang berkata mesum.
"Enak saja! Naruto belum jadi istrimu, Sasuke! Awas kalau kau berani melakukan hal mesum pada menantu kesayangan kaa san!" ancam Mikoto sebari menarik Naruto ke dalam pelukan sang calon ibu mertua.
'Calon istri? Menantu?' batin Karin penuh tanda tanya.
"Kaa..san..mandi bersama boleh kali. Asal jangan gituan," sahut Sasuke sebari mengusap kepala bekas jitakan ibunya.
Pletak. Kali ini Itachi yang menjitak kepala Sasuke.
"Kau ooc sekali sih, Sasuke! Sejak kapan jadi mesum dan lolicon begitu?" tanya sang kakak. Itachi tak habis pikir dengan sikap dan sifat adiknya yang semakin hari semakin aneh, lucu dan lebih hidup.
"Hn. Sejak ketemu si pirang," jawab Sasuke sebari menunjuk ke arah Naruto dan tersenyum iblis.
"Ibu..Sasuke - kun nyeremin," gumam Naruto, sembunyi di belakang Mikoto.
'Shit. Dasar bocah cebol menyebalkan,' batin Karin. Ia mulai merasa kesal dan cemburu atas kedekatan Naruto dan Mikoto. Apalagi saat menyaksikan adegan mesra pasangan sasunaru yang terbilang mirip adegan di film negeri Shah Rukh Khan(wah, author malah jadi ke India alurnya.hehe). Karin semakin terbakar cemburu.
"Sudah, Sasuke. Cepat sana mandi! Biar ibu yang antar Naruto ke kamar mandi. Kalo diantar olehmu bisa - bisa kau berbuat aneh padanya," ujar Mikoto sebari menggandeng tangan Naruto.
"Kaa san. Sama tunangan sendiri juga gak boleh," balas Sasuke kecewa.
"We..". ๐Naruto menjulurkan lidah kepada Sasuke. "Rasain. Dimarahin ibu," gumam Naruto.
Mikoto dan Naruto pun meninggalkan dapur. Begitu pula Sasuke. Ia tak menganggap keberadaan orang lain di dekatnya. Berjalan santai dengan memasang wajah datarnya kembali. Karin hanya bisa diam tanpa kata.
"Sasu..ke.." panggil Karin tapi Sasuke tak menjawab. "Sial.." gerutunya.
Itachi melirik ke arah gadis berusia 23 tahun ini. Kemudian ia mengajak Karin untuk berbicara di tempat lain.
๐ ๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐
Seorang wanita bersurai merah a.k.a Uzumaki Karin tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut dari wajahnya. Lelaki yang selama ini ia cintai telah bertunangan dengan gadis lain. Sungguh kenyataan yang menyayat hati. Tapi Karin tetap tidak bisa mempercayai hal itu.
"Tak bisa dipercaya," gumam Karin. Matanya berkaca - kaca. Ia duduk di bangku taman belakang bersama Itachi.
"Begitulah kenyataannya," ucap Itachi. "Kau harusnya tahu kalo adikku sudah bertunangan."
"Mana ku tahu Itachi - san. Lagipula aku masih tidak bisa percaya. Pria setampan dan sesempurna Sasuke bertunangan dengan gadis cebol, kumuh dan ingusan macam Naruto. Pasti gadis itu main pelet," gumam Karin menahan emosi agar tidak meledak.
Itachi menaikkan sebelah alisnya seraya berkata, "hari gini masih main pelet? Emang adikku ikan?!Naruto itu gadis yang manis dan juga baik hati. Aku juga suka tapi sebagai adikku saja."
Karin tak terima dan semakin marah. "Aku lebih baik dari gadis cebol itu. Lebih cantik, lebih dewasa, lebih bohay dan lebih pintar. Aku juga jago masak!" seru Karin dengan bangga.
Itachi ingin tertawa namun ia tahan karena wanita di depannya sedang dalam mode monster ngamuk.
"Shit. Hanya lelaki bodoh dan gila saja yang mau sama gadis cebol dan idiot macam dia!!" tambah Karin dengan suara lantang yang membuat bebrapa pelayan terkejut.
"Ya. Aku adalah lelaki bodoh dan gila yang kau maksud, Karin," ucap seseorang dengan nada dingin dan tatapan tajam.
Karin dan Itachi menoleh ke sumber suara. Sasuke berjalan ke tempat Karin berada. Ia terlihat sangat marah dan tak terima Naruto dihina.Naruto memang tidak tinggi tapi ia juga tidak bodoh. Sasuke tersinggung bukan hanya sebagai seorang tunangan melainkan sebagai guru.
"Sa...Sasuke...aku..." Karin mendadak gugup di dekat Sasuke. "A..aku tidak bermaksud begitu. Tapi..memang benar kan? Gadis itu di bawah standar. Banyak gadis lain yang lebih pantas denganmu," sahut Karin.
"Siapa maksudmu?" tanya Sasuke masih menatap tajam Karin. Ekspresi wajah dan aura yang terpancar darinya sangat menakutkan.
Karin menunduk sesaat kemudian menatap pemuda berambut raven itu. "Aku! Aku lebih baik dari dia. Hanya aku yang pantas bersanding denganmu, Sasuke, bukan gadis otaku yang payah dan tidak berguna itu!" teriak Karin sejadi jadinya.
Plak. Tubuh Karin tersungkur ke tanah akibat tamparan keras dari sang bungsu Uchiha karena mulut Karin yang pedas dan menghina gadis pujaannya.
"Sa...Sasuke..?? A..apa yang kau lakukan?" tanya Karin dengan ekspresi memelas. Sebelah tangannya menyentuh pipi bekas tamparan keras dari Sasuke.
"Bicaramu sangat tidak sopan dan tak mencerminkan pendidikanmu! Siapapun yang berani menghina dan menganiaya Naruto, dia akan mendapatkan balasan yang lebih parah dariku!" bentak Sasuke. Sorot matanya begitu tajam menatap si wanita penghina gadisnya.
"Itu hanya tamparan ringan dariku!ย Sekali lagi kau menghina dan menyiksa Narutoku, ucapkan selamat tinggal kepada cahaya matahari!" tambah Sasuke. Ia begitu protektif kepada tunangannya hingga mampu melakukan segala hal untuk melindungi Naruto serta membalas orang - orang yang berani berbuat jahat kepadanya.
Karin memandang Sasuke dengan tatapan meminta belas kasihan, namun Sasuke tak menghiraukannya. Ia meninggalkan Karin yang masih tersungkur di rerumputan.
"Sasuke - kun, Karin - san kenapa?" tanya Naruto tiba - tiba datang dan menghampiri Karin. Ia berniat membantu Karin untuk bangun tapi tangannya ditepis.
"Aku tak butuh bantuanmu, gadis sialan!" bentak Karin memandang Naruto dengan penuh kebencian.
Sontak Naruto terkejut. Ia kembali berdiri dan menoleh ke arah Sasuke yang berdiri tak jauh darinya. "A..apa yang telah terjadi, Sasuke - kun?" tanya Naruto sangat ingin tahu. Ia juga mencemaskan Karin yang tersungkur di rerumputan.
Sasuke mengendikkan bahunya. "Tanya saja sendiri," jawab Sasuke sinis.
Itachi berjalan mendekati Naruto, "Tunanganmu sedang emosi. Tadi ia menampar wanita rambut merah itu hingga terjatuh," jelas Itachi sebari melirik ke arah Karin yang sedang berdiri sebari mengusap air mata dan pipi lebam akibat tamparan keras dari Sasuke.
"A..apa? Sa..Sasuke - kun menampar Karin? Kenapa bisa begitu, Itachi - nii?" tanya Naruto. Ia merasa bersalah kepada Karin.
"Karin menjelek - jelekkan tunangan Sasuke dan juga berbuat jahat padanya. Pantas saja kalau dia emosi," jelas Itachi. Ia berlalu meninggalkan ketiga manusia yang terlibat cinta segitiga.
Naruto semakin merasa bersalah kepada Karin. Ia sengaja tidak memberitahu Sasuke supaya ia tidak bertindak kasar dan menyakiti Karin. Tapi yang namanya Uchiha jenius, sudah mengetahui segala hal meski Naruto sembunyikan. Menghela nafas kemudian gadis pirang itu kembali mendekati Karin. Ia tidak ingin masalahnya menjadi rumit.
"A..ano, Karin - san. Aku sebenarnya.." ucap Naruto namun Karin malah memotong pembicaraannya lebih dulu. Sasuke pun waspada dengan berada di dekat gadisnya agar wanita bersurai merah itu tidak berbuat macam - macam padanya.
"Kau mau bilang apa? Tunangan Sasuke? Aku sudah tahu," ujar Karin menatap ke arah Naruto dengan tatapan penuh rasa benci. "Hanya tunangan saja bangga. Kau telah merebut Sasuke dariku. Selama empat tahun ini aku selalu menyukai Sasuke. Tapi Sasuke sama sekali tak pernah menganganggapku. Ia tak pernah menyukaiku," tambahnya. Ia terus saja mendelik terhadap Naruto. "Tapi padamu dia rela menjadi tunanganmu. Kau sungguh licik!"
Naruto paham yang dirasakan Karin. Cinta bertepuk sebelah tangan. Bedanya Naruto langsung menyerah masalah cinta dan tak mau memaksakan cinta jika orang yang dicintai tidak mencintainya. Juga saat dirinya menyukai Sasuke, wali kelasnya sendiri yang berbeda status dan usia yang jauh darinya. Ia akan mengubur perasaan sukanya sebelum menjadi cinta dan kembali patah hati. Namun takdir berkata lain. Percintaannya kali ini Naruto lebih beruntung karena laki - laki yang disukainya juga menyukainya. Jadi ia akan mempertahankan Sasuke asal ia sudah menjadi tunangannya.
"Kalo aku jadi Karin - san, aku akan menyerah. Menyerah dalam cinta tidaklah buruk daripada harus merasakan sakit hati secara terus menerus. Lagipula hidup tanpa cinta tidaklah buruk. Karena masih ada hal yang menyenangkan selain cinta kepada lawan jenis," ujar Naruto. Ia tersenyum cerah.
'Bukan cinta sesama jenis kan maksud dari si dobe?,' batin Sasuke. Tunangannya kan pintar pintar bodoh.
Naruto menatap tajam pada Sasuke. "Bukan cinta sesama jenis, teme!" seru Naruto tak terima dengan pemikiran Sasuke. Padahal pemuda berambut pantat ayam itu tidak berkata apa - apa.
"Aku tidak bicara apa - apa," jawab Sasuke dengan polosnya.
"Tadi Sasuke - kun kan pasti mikir cinta sesama jenis. Ngaku saja!" seru Naruto. Ia tak mau kalah karena merasa benar dengan tebakannya.
"Aku gak mikirin apa - apa, dobe," bantah Sasuke sambil tersenyum
"Bo hong! Aku tahu kok. Aku ini gak bodoh. Bukan cinta itu yang ku maksud, Sasu teme!" seru Naruto kukuh pada tebakannya.
Sasuke mengusap kepala Naruto seraya berkata, "kau tambah pintar ya, do be."
"Hn. Tentu saja," balas Naruto dengan bangga. "Jadi jangan panggil aku dobe lagi, Sasu teme!" seru Naruto nyolot.
"Iya iya," balas Sasuke. Ia tersenyum tampan sambil membelai surai pirang Naruto yang terhembus angin. Naruto tersipu malu melihat ketampanan sang tunangan tercinta.
Sementara itu, Karin menyaksikan adegan pasangan sasunaru yang semakin akrab. Ekspresi sang pujaan hatinya begitu berbeda saat bersama gadis pirang siswinya di sekolah. Sasuke begitu terlihat sangat bahagia dan selalu tersenyum. Naruto memang gadis spesial yang bisa mencairkan hati seorang Uchiha Sasuke yang membeku layaknya es di benua Antartika.
"Putraku sangat bahagia dengan gadis itu. Kau juga bisa lihat kan, Karin - san," ujar Mikoto. Tiba - tibe berada di samping Karin.
"Tante benar. Baru kali ini aku melihat Sasuke seperti itu. Tersenyum dan tertawa. Naruto gadis yang hebat. Aku kalah darinya," sahut Karin. Ia terharu. Semua rasa bencinya terhadap Naruto hilang seketika.
Mikoto tersenyum kepada Karin. "Suatu saat kau juga pasti menemukan seseorang yang menganggapmu istimewa. Percayalah pada dirimu sendiri," ucap Mikoto. Ia memeluk Karin. Begitu pula Karin membalas pelukannya.
"Terima kasih, tante," ucap Karin tersenyum tulus membalas pelukan dari ibu pujaan hatinya.
Beberapa saat kemudian. Kedua sejoli masih sibuk dengan aktivitas kekanakan dan saling canda.
"Lho? Karin - san mana?" tanya Naruto. Ia baru menyadari hanya ada mereka berdua di taman itu. Karin sudah pergi, tanpa pamit pula. Wanita mana yang ikhlas melihat lelaki pujaannya bersama wanita lain. Naruto menyadari hal itu.
"Dia sudah pulang," jawab Sasuke santai. Tapi tangannya masih betah memeluk Naruto dari belakang.
"Padahal masih ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya. Dia malah pergi," sahut Naruto. Ia tampak kecewa karena Karin pergi.
Sasuke membalikkan badan Naruto. "Ada apa? Kamu kayak keliatan kecewa pas dia pergi?" tanya Sasuke. Heran terhadap sikap tunangannya yang begitu baik tanpa menyimpan rasa dendam.
Naruto menghela nafas. "Aku kasihan padanya. Patah hati kan sakit banget. Saat tahu orang yang disuka tidak menyukai kita. Sesak banget," ujar Naruto.
"Hn."
"Kenapa hn?" tanya Naruto.
"Hn," jawab Sasuke.
"Sasu teme nyebelin! Awas ya kau! Dasar guru rambut ayam mesum!!" teriak Naruto kesal pada kata andalan Sasuke.
Sasuke tetap datar tapi ia senang bisa menggoda Naruto. "Do be," gumam Sasuke. Ia berjalan meninggalkan Naruto seorang diri di belakangnya.
"Te..me!! Jangan panggil aku dobe terus!! Iih!" teriak Naruto mengikuti Sasuke dari belakang.
__ADS_1
Sejak saat itu, Karin tidak pernah terlihat sedang menggoda Sasuke ataupun bergelayut manja padanya. Sikapnya pun mulai berubah. Ia lebih terlihat dewasa dan jauh lebih baik bahkan terkadang Naruto suka mengajak Karin makan siang bersama di kantin dan meninggalkan Sasuke. Sering mengisenginya. Karin dan Naruto menjadi sepasang murid dan guru magang kompak keturunan Uzumaki. Naruto juga keturunan Uzumaki karena marga ibunya sebelum menikah adalah Uzumaki.
To be continued