Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
chapter 17


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor hanya pinjam tanpa izin


Ide cerita asli milik thor meski terkadang dapat bantuan


Pair : sasufemnaru, tonefemnaru


Genre : guru, murid, cinta


Sifat karakter sangat berbeda dan terkadang ooc dari karakter asli versi anime dan manga


Typo di mana - mana


Happy reading


Hari yang Naruto tunggu - tunggu pun tiba. Saat ini ia sedang bersiap - siap untuk pergi mengikuti acara reuni SMP angkatannya. Tak memakan waktu lama, hanya tiga puluh menit ia sudah selesai menata rambut dangonya yang sangat panjang. Tak lupa ia sematkan pita berwarna putih di rambut dangonya. Baju lolita berwarna putih dan pink yang ia pakai sangat cocok untuk tubuh mungilnya yang berkulit kuning(silakan reader bayangkan Naruto pake baju lolita). Lengannya berbentuk balon, memakai sarung tangan pendek warna putih berenda, rok bawah lolitanya menggelembung atau megar seperti gaun princess dengan panjang hingga lutut. Ia juga memakai stoking lace berwarna putih dan sepatu pantofel berhak setinggi 7 cm berwarna pink. Bibirnya ia polesi lipglos berwarna pink pucat.


Naruto masih becermin. "Hm..lumayan kawaii juga ya Namikaze Naruto," ujar Naruto. Ia tersenyum puas memandangi dirinya sendiri dari atas kepala hingga ujung kaki yang membuatnya merasa menjadi seperti boneka barbie. "Hehe. Aku percaya diri sekali ya. Tapi..aku beneran manis juga. Si teme sensei saja mau jadi pacarku. Kyaa.." kumat penyakit alaynya Naruto.


Si gadis pirang yang telah selesai berdandan pun akhirnya ke luar dari kamar riasnya maksudnya dari kamar pribadinya.


Dengan langkah pelan Naruto berjalan menuruni tangga. Selama belasan tahun ia hidup, ia tidak pernah memakai sepatu berhak tinggi. Alhasil ia selalu saja hampir terjatuh jika tidak memegang pinggiran tangga. Serasa lama dan tinggi tangga yang ia turuni. Ada rasa menyesal karena memilih kostum lolita tapi ia tidak munafik. Ia juga senang atas kostum pilihan kekasih rambut ekor ayamnya itu.


"Fuuh..gimana pas nanti aku jalan di tempat reuni ya? Kalo jatuh kan malu sekali," gumam Naruto. Ia berjalan ke luar rumah. Di teras depan rumahnya, sang kekasih telah menanti. Sasuke akan mengantarkan Naruto ke tempat reuni dengan menggunakan mobil pinjaman dari Itachi.


"Kau lama sekali, do..be.." gumam Sasuke. Ia terpesona melihat kecantikan sang kekasih bersurai pirangnya. Ekspresinya benar - benar membuat seorang Uchiha Sasuke menjadi ke luar dari karakter aslinya yang dingin dan datar.


Sepasang mata kelamnya tak henti - hentinya memandangi si gadis pirang dari atas rambut hingga ujung kaki. Penampilan Naruto yang sangat manis bak boneka barbie itu mengalihkan dunia Sasuke. Waktu berhenti seketika. Sasuke tak menyangka jika kekasihnya yang memang sudah manis, cantik dan mempesona menjadi sangat luar biasa.


"A..amazing..Na..ru..to.." gumam Sasuke. Ada semburat merah di pipi putih bersihnya. Ia jadi malu sendiri melihat penampilan Naruto. Naruto hanya tersenyum dengan wajah yang tak kalah merah seperti buah tomat kesukaan kekasih tampannya itu.


"A..arigatou.." balas Naruto. Ia tahu bahwa kekasihnya tadi memuji penampilannya. Naruto memang kadang tidak peka tapi dia hafal betul gerak gerik kekasihnya itu.


Sasuke berjalan mendekati Naruto. Ia pun meraih tangan kiri sang gadis lalu menciumnya. "Let's go, princess." Naruto pun berjalan di belakang Sasuke setelah berpamitan pada ibunya yang ada di samping rumahnya yang sedang menjemur pakaian.


Sasuke membukakan pintu depan supaya kekasihnya naik dan duduk di sampingnya. Dia kan bukan supir tetapi kekasih Naruto. Naruto patuh akan segala perintah dari Sasuke.


Tak lama mereka pun berangkat. Di sepanjang perjalanan, Sasuke selalu melirik ke samping. Ia tidak habis pikir. Mengapa kekasihnya itu terlalu manis? Bahkan lebih manis daripada permen kapas yang dijual di pasar malam.


Timbul rasa cemburu dan posesif di dalam hati Sasuke. Rasanya ia ingin mengikat kekasih pirangnya di dalam mobil tapi apa daya. Ia tidak ingin masuk buih hanya karena nafsu sesaat. Sasuke itu seorang pria terhormat dan juga seorang guru meski terkadang ia berbuat mesum pada muridnya sendiri, maksudnya Naruto. Hanya Naruto yang bisa membangunkan sesuatu yang berada di bawah menjadi bersemangat dan bergejolak. Sebegitu besarnya pesona seorang Namikaze Naruto bagi Uchiha Sasuke.


Sampailah mereka di depan gerbang sekolah. Sasuke menghentikan mobil di tempat parkir khusus mobil. Sebelum ia membukakan pintu untuk kekasihnya, ia terlebih dulu mengecup dahi gadisnya. Sang gadis terkejut ketika Sasuke berlaku demikian.


Sasuke pun membukakan pintu mobil untuk kekasih cantiknya, Naruto. Ia meraih tangan kanan Naruto untuk membantunya ke luar dari dalam mobil. Naruto merona akibat tindakan romantis yang dilakukan Sasuke. Ternyata pemuda yang selalu tak berekspresi dan bersikap dingin itu bisa melakukan hal yang membuat Naruto berdebar.


"Apa perlu ku antar, Naruto - hime?" Sasuke menawarkan bantuan ala seorang pengawal kerajaan terhadap seorang putri.


Naruto tersenyum. "Aku bisa sendiri, Sasuke - kun," ujar Naruto. Ia sudah terbiasa memakai sepatu pantofel berhak. Gaya berjalannya juga sudah terlihat normal dan tidak kaku.


"Ok. Have fun, sayang. Kalo ada apa - apa kau bisa menghubungi kekasih tampanmu ini," ujar Sasuke. Ia tersenyum tampan lalu mengecup dahi Naruto.


"Ah..teme! Gimana kalo ada yang lihat?!" seru Naruto. Wajahnya selalu merona tiap Sasuke menciumnya.


"Gak ada tuh," balas Sasuke ringan dan cuek. Ia tidak peduli jika ada orang yang melihat adegan itu. Malah ia sangat berharap ada yang melihatnya.


Naruto menggelengkan kepalanya. Kelakuan kekasih berambut ayamnya sungguh aneh dan di luar dugaan. Tanpa pikir panjang, Naruto segera berjalan meninggalkan sang kekasih yang melambaikan tangan padanya. Ia juga membalas lambaian tangan dari Sasuke. "Nanti jemput ya teme! Jaa..!" seru Naruto.


'Hn...' batin Sasuke. Ia menyeringai licik. 'It's show time..'


πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑


Naruto sampai di dalam aula pertemuan reuni SMPnya. Ia terpukau melihat dekorasi dalam aula dan juga teman - teman seangkatannya yang memakai kostum beraneka ragam dan warna. Ia berjalan sebari melirik dan menoleh ke kanan ke kiri. Ia juga tidak lupa menyapa teman - temannya yang tidak ia kenal.


"Naruto..!" panggil seorang gadis berambut coklat panjang. Ia memakai kostum Mikasa dari anime Shingeki no Kyojin. Ia terlihat sangat cantik dan berbeda dengan Naruto. Naruto memerhatikan dirinya sendiri. Ia kemudian menghela nafas. "Wah..penampilanmu pangling banget, Tenten! Aku hampir gak kenal lho.." ucap Naruto.


"Kamu juga pangling. Rambutmu lucu banget, Naruto! Kayak boneka aja. Rambut pirang dan mata biru. Cantik," balas Tenten. Ia kagum melihat penampilan Naruto.


Naruto tersenyum. Ia merasa tersipu. "Ah..kamu berlebihan sekali, Tenten. Hehe," ujar Naruto.


"Kita selfie dulu ya. Tunggu bentar. Aku panggil dulu yang lain ya. Mereka udah ada di ruang kelas lho," kata Tenten.


"Aku ikut ke sana, Tenten," ujar Naruto. Ia segera berjalan mengekori Tenten. Keduanya pun berjalan bersamaan menuju ruang kelas mereka dua tahun lalu.


Ruang kelas 3A atau biasa disebut "AQTHA" untuk lulusan SMP Hoshigaki angkatan Naruto. Seisi ruangan sudah dihias meski acara reuni hanya satu hari tapi para alumni sangat ingin menghiasi ruang kelas mereka agar lebih berkesan.


Naruto melongo ketika mendapati ruangan kelasnya dulu tempat ia belajar dua tahun silam. Ia terheran - heran. Dari mana teman - temannya mendapatkan dana untuk acara reuni yang sangat mewah baginya. Ia hanya bisa menepak jidat dan merasa kagum.


"Oh, Tenten. Siapa gadis ini?" tanya Toneri. Ia tiba - tiba muncul di depan Naruto. Penampilannya sungguh menawan. Ia mengenakan pakaian samurai ala anime Touken Ranbu sebagai Yasusada Yamatonokami. Naruto kagum dan terpesona akan penampilan mantan cinta pertamanya itu.


"Eh? Kau tidak mengenalnya, Toneri?" tanya Tenten. Ia memerhatikan penampilan Naruto dari atas sampai bawah kemudian ia berpose ala detektif. "Coba kau tebak. Masa sih tidak kenal?" ejek Tenten. Ia menyikut lengan Toneri.


"Ka..kau..Naru..to?!" seru Toneri. Ia sangat terkejut melihat penampilan teman sekelasnya dulu yang tidak semanis sekarang. "Ma..manis sekali.." gumam Toneri. Wajahnya merona saat melihat Naruto yang begitu manis berdiri di hadapannya.


Naruto tersenyum kaku dengan muka yang sedikit merona. Ia tidak tahu harus merespon apa. Sebenarnya ia merasa malu tapi ia menikmati kostum yang kekasihnya pilihkan untuknya. Selain nyaman, kostum itu membuatnya menjadi diri yang berbeda.


Semua teman - teman Naruto yang berada di ruangan itu juga terkejut melihat penampilan Naruto yang mirip boneka barbie. Mereka mengerumuni Naruto dan memuji atas penampilannya yang berbeda dengan gadis - gadis seusianya. Naruto itu tidak tinggi jadi dia masih bisa disebut seperti loli. Cocok dengan kostum yang sedang ia kenakan sekarang.


Gadis pirang berkostum lolita itu tampak kewalahan menghadapi teman - temannya. Toneri tidak diam saja. Ia berinisiatif menarik tangan Naruto dan membawanya meninggalkan ruangan kelas menuju ruang aula. Keduanya berlari layaknya pasangan kekasih yang sedang dikejar oleh rombongan penjahat padahal tidak ada seorangpun yang mengejar mereka. Seperti adegan di film - film saja.


Kedua manusia berbeda gender dan penampilan itu pun tiba di dalam aula utama. Naruto tampak kelelahan. Toneri segera mengambilkan segelas air minum yang ada di meja prasmanan memberikannya kepada Naruto yang kelelahan akibat berlari bersama Toneri.


"Ini untukmu, Naruto," ucap Toneri sebari menyerahkan segelas air pada Naruto.


"Hn. Arigatou," balas Naruto. Ia segera meminum air yang Toneri berikan. "Segar. Capek sekali. Lari pake sepatu kayak gini sungguh menyiksaku," gumam Naruto. Ia meletakkan gelas bekas minumnya di atas meja.


"Sama - sama. Oh iya. Kamu cantik sekali, Naruto. Sangat berbeda dan memu-kau," ujar Toneri. Wajahnya merona. Ia juga menggaruk sebelah pipinya yang tidak gatal.


"Hn? Kau juga keren kok, Toneri. Mirip sama Yasusada Yamatonokami yang asli," balas Naruto. Ia tersenyum biasa. Entah mengapa rasanya dipuji oleh Toneri tidak membuatnya senang. Ia hanya bertingkah wajar.


"Oh iya. Sebentar lagi acara akan dimulai. Reuni kali ini spesial sekali karena disponsori oleh Uchiha corp," tambah Toneri. Ia memulai percakapan untuk mengakrabkan kembali terhadap gadis pirang itu.


"Uchi..ha corp?" beo Naruto. Penyakit loading lamanya kumat kembali. 'Oh iya. Tousan kan kerja di Uchiha corp. Itachi nii yang jadi direkturnya. Kok bisa yang Itachi nii jadi sponsornya?' tanya Naruto pada dirinya sendiri dan di dalam hatinya.


Toneri heran melihat ekspresi Naruto yang tampak sedang berpikir . "Ada apa, Naruto? Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Toneri.


Naruto menggelengkan kepalanya. "Tidak. Uchiha corp adalah tempat ayahku bekerja," jawab Naruto singkat dan jelas.


"Oh begitu. Direktur Uchiha corp akan datang sebagai bintang tamu spesial. Artis Ryuji Sato tidak bisa datang. Sayang sekali ya," tambah Toneri. Ia berdiri tepat di samping Naruto.


"Apa? My lovely husband gak bisa datang?! Oh no?!" seru Naruto ke luar dari karakter. Sifat otakunya ke luar. "Padahal..aku ingin bertemu dengannya dan minta foto bareng. Pa..yah. Hn.." Naruto pundung di sudut aula.


Toneri merasa iba dan tidak enak. Sebenarnya rencana kedatangan artis itu hanyalah kebohongan semata supaya gadis pirang yang sedang ia dekati datang ke acara reuni ini. Mungkin ia harus meminta maaf kepada Naruto. Tapi tidak sekarang.


"Apa kau menyesal sudah datang ke acara reuni ini?" tanya Toneri. Ia berjalan mendekati Naruto. Dan meraih tangan Naruto yang tadi jongkok pundung di sudut aula.


"Ti dak," jawab Naruto. Ia menerima tangan Toneri dengan polosnya.


Saat sedang terjadi momen manis antara pasangan Toneri Naruto, Koyuki tiba - tiba datang sebari memberikan buket bunga kepada Naruto.


"Apa ini?" beo Naruto. Ia memerhatikan buket bunga yang baru saja Koyuki berikan.


"Nanti perwakilan dari perusahaan Uchiha akan datang dan naik ke atas panggung. Kau yang menjadi perwakilan kami untuk memberikan bunga itu padanya," jelas Koyuki panjang lebar. Gadis berambut gelap dan berkulit putih itu mengenakan baju China look(baju berkerah ala China) berwarna merah keoranye tanpa lengan dengan bagian bawah bajunya yang span dengan potongan panjang memperlihatkan pahanya yang sangat putih.


Naruto membelalak melihat penampilan Koyuki yang begitu dewasa dan seksi. 'Enak ya punya badan tinggi ideal. Gak kayak diriku yang pendek. Apalah daya? Ah syukuri saja apa yang ada. Hidup adalah anugerah,' batin Naruto nelangsa dengan keadaan badannya yang mungil.


"Ah iya ,Koyuki," balas Naruto. Ia menerima buket bunganya. Ia memerhatikan buket bunga yang ia pegang. "Bunga palsu ya," gumam Naruto.


"Acara mau dimulai, Naruto," ujar Toneri. Ia mengajak Naruto untuk berdiri di tempat paling depan dekat panggung(aula gedung telah diubah sedemikian rupa menjadi tempat kumpul dengan sebuah panggung mini dan tempat prasmanan juga beberapa kursi yang di letakkan di dalam aula. Ada panitia yang bertugas untuk bersih - bersih).


Naruto patuh saja. Ia mengikuti langkah Toneri. Ia masih merasa kagum melihat penampilan Toneri sebagai Yasusada Yamatonokami. Rambut palsu berwarna biru langit yang dipakai Toneri sungguh mencolok tapi tidak semencolok warna rambut Naruto yang pirang keemasan bergaya dua dango di kedua sisi kiri dan kanan di atas kepalanya.


Naruto dan Toneri duduk di kursi paling depan. Obito dan Koyuki telah berdiri di atas panggung. Mereka menyambut para tamu dan alumnus satu angkatan dengan mereka. Sambutan yang pertama adalah dari kepala sekolah, para guru dan yang terakhir adalah dari pihak sponsor.


'Kalo bukan Itachi nii yang datang berarti ayahnya si teme dong. Oh no! Aku belum siap bertemu dengan calon ayah mertua,' batin Naruto. Ia merasa malu dan juga salah tingkah.


Toneri terus memerhatikan Naruto dari samping. Ia tersenyum dan berharap waktu akan berhenti untuk membiarkan dirinya bisa bersama si gadis pirang cantik nan imut.


"Silakan Tuan Uchiha naik ke atas panggung," ujar Obito.


Seseorang yang tidak Naruto sangka - sangka sedang berjalan lalu berdiri di depan matanya. Penampilannya sungguh membuat Naruto tak bisa berkedip. Jika di anime dan di manga mungkin saat ini kedua matanya telah berbentuk hati. Love love.


"Ta..tampannya.." gumam Naruto. Ia tak bisa berhenti memandangi pemuda di depannya yang berpenampilan seperti karakter anime kesukaannya, Kashuu Kyomitsu. "Ka..shuu..!" seru Naruto. Ia kelepasan berbicara secara lantang. Si pemuda menoleh ke arahnya kemudian ia tersenyum sebari bergumam pelan tidak jelas.


"Beliau adalah perwakilan dari Uchiha corp, adik bungsu dari tuan Uchiha Itachi. Uchiha Sasuke san," ujar Koyuki.


"Nani?!" seru Naruto. Ia begitu terkejut saat mendengar nama kekasihnya disebut. Dengan kata lain pemuda berkostum sebagai Kashuu Kyomitsu adalah kekasihnya sendiri. Pantas saja ia bisa terpesona kepada sang pemuda begitu dalam dan tergila - gila. 'Pantas saja. Si teme tampan dan cocok banget bercosplay jadi Kashuu,' batin Naruto.


Naruto berdiri namun ia segera duduk kembali. Toneri juga tak kalah terkejut. Namun ia lebih terkejut dengan respon Naruto.


"Salah satu teman kami akan menyerahkan sebuket bunga sebagai pertanda terima kasih kami, tuan Uchiha," ujar Obito.


Si pemuda yang tak lain adalah Sasuke hanya berdiri diam mematung tanpa suara dengan ekspresi wajahnya yang khas. Tampan, dingin dan datar.


Toneri menyenggol lengan Naruto. "Naruto, cepat naik," bisik Toneri. Naruto segera berdiri dan berjalan menuju atas panggung.


"Bukannya laki - laki itu yang kita temui di festival musim panas kemarin?" tanya Sora pada Temujin yang kebetulan duduk di samping Toneri.


"Hm? Ah iya. Mirip sekali, Sora. Laki - laki itu selalu ada di setiap Naruto ada," jawab Temujin. Ia memerhatikan Sasuke dengan seksama.


"Yang jemput kemarin juga dia kan?" sambung Deidara.


"Jangan - jangan pemuda itu..pa..car..Na.." jawab ketiga pemuda yakni Deidara, Sora dan Temujin.

__ADS_1


"Mus ta hil," bantah Toneri. Tiba - tiba dadanya sesak, sakit dan panas. 'Tidak mungkin pria di atas panggung itu adalah pacar Naruto. Naruto itu tergila - gila padaku,' batin Toneri nista.


Naruto terus melangkah naik ke atas panggung. Kepalanya menunduk karena takut jatuh namun ia segera menegakkan kepalanya karena penasaran dengan penampilan kekasihnya yang sedang bercosplay.


Koyuki tersenyum sinis. Ia menghalangi langkah Naruto dan membuatnya terjatuh. Secepat kilat Sasuke menangkap Naruto yang kebetulan arah terjatuhnya memang disengaja supaya menimpa Sasuke.


'Berhasil,' batin seseorang.


"A..arigatou.. Sa..Sasuke - kun.." gumam Naruto. Mukanya merona karena saling pandang dengan kekasihnya sendiri. 'Si teme tampan sekali! Duuh.. Untung saja dia pacarku,' batin Naruto. Ia menjadi salah tingkah.


"Hn," balas Sasuke. Ia tersenyum. Posisi mereka masih sama. Sasuke masih memeluk Naruto dari depan yang terhalangi oleh buket bunga yang tengah Naruto pegang.


"Suit suit!" seru para laki - laki di dalam aula yang melihat kejadian romantis itu. Para gadis merona merah melihat adegan itu.


"Serasi sekali ya mereka," ujar Sora tanpa memedulikan perasaan teman di sampingnya.


"Kau benar, Sora. Mereka sepertinya ditakdirkan bersama," tambah Temujin.


"So sweet ya.." sambung Deidara.


"Dasar tiga pria pecinta sinetron," gumam Toneri dengan nada sinis. Timbul rasa sakit di dada. 'Shit! Laki - laki itu perusak pemandangan saja. Aku yang harusnya di posisi itu,' batin Toneri. Ia benar - benar kesal dengan adegan romantis sasunaru.


"Ehkem," Obito berdehem. Seketika adegan romantis sasunaru bubar. Kedua pelaku berdiri berdampingan setelah Naruto menyerahkan buket bunga pada Sasuke. "Silakan kepada tuan Uchiha untuk menyampaikan satu patah dua patah kata kepada para alumnus. Mungkin bisa membuat kami termotivasi," ujar Obito. Ia menyerahkan mikrofon pada Sasuke. Sasuke pun menerima mikrofon itu. "Hn. Aku tidak akan berkata panjang lebar. Jadi, selamat bersenang - senang dan berkumpul dengan teman - teman alumni. Masa lalu tidak akan pernah kembali dan berubah. Jangan menyesali apa yang telah terjadi. Tetap berpikir positif untuk maju ke depan. Terima kasih," kata Sasuke panjang lebar.


Naruto terkejut. Tak biasanya kekasihnya yang irit bicara menjadi banyak bicara. Apa Sasukenya kesurupan? Penampilannya saja beda. "Wow..apa benar pemuda ini si teme? Hn.." gumam Naruto pelan.


Semua alumnus yang ada di aula bertepuk tangan terhadap Sasuke. "Wah..anda sungguh bijak, Uchiha - san. Terima kasih atas kata - kata motivasi yang telah anda sampaikan, Uchiha - san," ujar Obito. Sasuke segera turun dari atas panggung diikutiΒ  si gadis pirang berdango di belakangnya. Saat hendak berbelok, tangan Naruto ditarik Sasuke. "Ikut aku, dobe," ucap Sasuke. "Eh?" Pasangan sasunaru itu berjalan meninggalkan aula utama. Toneri yang sedari tadi memerhatikan mereka, mengeluarkan aura tidak menyenangkan disertai rasa cemburu tak terhingga. 'Cih. Aku harus menjadikan Naruto milikku,' monolog Toneri.


Sasuke membawa Naruto ke tempat yang sepi tidak ada orang satupun. "Kau mau membawaku ke mana, teme?!" tanya Naruto. Ia kesal ditarik - tarik oleh Sasuke.


"Hn," jawab Sasuke.


Mereka berhenti di belakang gedung sekolah. "Kau sudah membuatku marah, Naruto," ujar Sasuke. Ia mendorong tubuh Naruto ke dinding lalu mengapitnya. "Te..teme.. Kau marah kenapa?" tanya Naruto. Sasuke semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah kekasihnya.


Naruto bisa merasakan deru nafas sang kekasih. "Sa..Sa su ke - kun. Kau terlalu dekat," gumam Naruto. Wajahnya sudah merona. Jantungnya juga berdebar lebih cepat.


Tak seperkian detik Sasuke mencium bibir Naruto. Ia menciumnya dengan dalam. Sasuke sangat takut kehilangan Naruto. "Jangan berduaan dengan pemuda ubanan itu, Naruto," ujar Sasuke setelah mencium kekasihnya.


"A..aku tidak berduaan. Aku hanya.." bantah Naruto. Ia gugup atas tindakan dan kata - kata kekasihnya.


"Maafkan aku, dobe. Aku cemburu. A..aku sangat mencintaimu. Aku takut kau kembali jatuh cinta padanya," tambah Sasuke. Wajahnya merona. Posisi mereka sudah berubah. Mereka saling berdiri berhadapan.


Sang gadis yang sedang dicemburui tersenyum tulus. Ia begitu senang karena ada seseorang yang cemburu dan takut kehilangan dirinya.


"Ne, Sasuke - kun.." Naruto berjinjit untuk meraih wajah tampan kekasihnya. Sang kekasih menunduk karena tinggi badannya yang membuat Naruto kesusahan untuk meraihnya. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji. Lagipula..a..aku.." Naruto mendadak tidak bisa meneruskan kata - katanya.


"Lagipula apa, sayang?" tanya Sasuke. Ia ingin tahu kelanjutan kata - kata kekasihnya itu.


"A..aku sudah terlanjur suka dan jatuh cinta pada Sasuke - kun. Ja..jadi..aku.." jawab Naruto terbata - bata. Wajahnya sudah merona hingga telinganya.


Sasuke tersenyum. Kemudian mengecup kening Naruto. Ia juga menyelipkan bunga mawar merah di rambut dango kekasihnya sebelah kiri.


"A..apa yang kau lakukan pada rambutku, Sasuke - kun?" tanya Naruto. Ia meraba rambut dangonya. "Bunga? Rambutku sudah ramai dengan hiasan pita. Kan jadi lebih ramai lagi dong kalo ditambah bunga warna merah ini," ujar Naruto. Ia mengeluh tapi juga merasa senang.


"Kostum yang kupakai kan ada warna merahnya termasuk selendang panjang ini. Jadi harus ada warna merah juga pada dirimu, dobe," jelas Sasuke. Ia membelai rambut panjang kekasihnya.


"Oh iya. Kenapa kau memakai kostum juga? Terus..kenapa harus pake kostum Kashuu Kyomitsu? Dia kan tokoh anime favoritku," sahut Naruto. Ia juga memainkan selendang merah yang Sasuke sematkan di lehernya.


Sasuke tersenyum tulus. Senyuman yang hanya akan ia perlihatkan di depan orang yang benar - benar ia sayang dan berharga. "Aku sengaja. Bagaimana? Kekasih tampanmu ini jadi lebih tampan kan? Hn?" Sasuke bergaya dengan penuh percaya diri.


"Nar sis," balas Naruto. Datar. Sasuke mencubit hidung Naruto yang menggemaskan. "Aw. Sakit, teme!" seru Naruto. Sasuke tertawa, "kau lucu, dobe," ujar Sasuke. Ia kembali memasang wajah datarnya.


"Kita selfie dulu yuk?" ajak Naruto. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. "Aku kan gak bisa foto bareng sama Kashuu yang asli jadi foto sama kamu saja, teme. Ayo." Naruto menarik tangan Sasuke. Kemudian mereka berfoto ria di belakang gedung sekolah.


"Wah..bagus! Ternyata Sasuke - kun pantas jadi Kashuu ya. Tampan.." ujar Naruto. Matanya berbinar - binar memandangi foto yang telah ia ambil. Sasuke tersenyum. Ia merasa senang karena melihat kekasihnya senang.


"Oh iya, teme. Aku pikir Ryuji Sato bakalan datang. Ternyata dia gak bisa datang. Sayang sekali," ujar Naruto. Ia sedikit merasa kecewa. "Padahal aku datang karena ingin bertemu sama dia."


Sasuke berpikir sejenak. "Setahuku di dalam proposal tidak ada tulisan mengenai dana biaya artis bintang tamu. Harusnya tertulis di proposal meski si artis tidak bisa datang juga," sambung Sasuke.


"Rupanya dia sudah membohongiku. Sudahlah. Lagipula aku sudah ketemu sama Kashuu Kyomitsu yang lain," sambung Naruto. Ia tersenyum kepada kekasihnya. "Benar kan, Kashuu?"


Sasuke mengangguk. "Ya. Sekarang aku jadi Kashuu. Besok aku jadi wali kelasmu lagi. Jangan lupa tugasmu sebagai asistenku, dobe."


Naruto hampir saja lupa. "Jangan ingatkan aku sekarang. Hari ini aku ingin bersenang - senang, teme!" seru Naruto. "Aku mau kembali ke teman - teman. Apa kau mau ikut?" ajak Naruto.


"Tidak. Nanti saja aku menyusul. Ingat. Jangan berduaan dengan si uban itu. Ok," ancam Sasuke dengan tatapan mengintimidasinya yang khas.


"Iya iya, teme. Aku duluan ya," jawab Naruto. Ia segera berjalan meninggalkan Sasuke yang masih berdiri di tempat sebari memegangi buket bunga.


🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯


Para alumnus SMP Hoshigaki mengisi acara dengan meriah. Namun seorang pemuda berkostum samurai ala karma anime berambut biru dikuncir atas a.k.a Otsutsuki Toneri, sedang dilanda musibah. Ia merasakan gugup yang luar biasa. Ia hanya ingin rencananya berhasil dan menjadikan Naruto sebagai miliknya.


Naruto sedang mengobrol dengan Tenten dan teman - teman seangkatannya yang lain. Ia terlihat begitu gembira. Toneri berjalan ke arahnya.


"Naru..to.." ujar Toneri dengan nada serius.


"Eh Toneri. Ada apa?" tanya Naruto. Ia bersikap biasa pada Toneri.


"Aku akan tampil di atas panggung. Tolong lihat penampilanku. Ok," pinta Toneri. Naruto mengangguk paham. "Aku ke atas panggung dulu ya. Jaa.."


Naruto mengendikkan bahu. Ia sekarang tidak begitu peduli pada si pemuda berambut perak itu. Kini ia duduk di tempat paling tengah di antara jejeran kursi. Sasuke berjalan dan duduk di samping Naruto. Naruto terkejut.


"Dobe, ambilkan aku minum. Haus sekali," perintah Sasuke. Naruto patuh saja. Ia segera berdiri dan mengambil sebotol minuman dingin yang baru saja datang dan diletakkan di atas meja prasmanan. Dia juga mengambil potongan buah melon. Seperti pesta pernikahan acara reuni kali ini. Begitu mewah dan megah karena disponsori oleh Uchiha corp.


Naruto pun duduk kembali di samping kekasihnya dengan menulikan pendengarannya. Sedari Sasuke datang, para gadis selalu memuja ketampanannya. Naruto memang sudah terbiasa dengan teriakan para fg kekasihnya tapi tetap saja ia merasa risih. Ia tak mau ambil pusing. Potongan buah melon ia masukkan ke dalam mulutnya.


Sang kekasih yang menjadi pujaan kaum hawa menyadari sikap gadisnya yang aneh. Ia tahu bahwa Naruto sedang kesal dan ada bumbu cemburu di balik rasa kesalnya gadis itu.


Saat Naruto hendak memasukkan potongan buah melon ke dalam mulutnya tiba - tiba ia menjadi menyuapi kekasihnya. Sontak wajah Naruto merona. Sasuke tersenyum puas. Sementara itu orang - orang yang kebetulan melihat kejadian mesra pasangan sasunaru ada yang tersenyum kagum, iri, kesal dan sebagainya. Toneri yang berada di atas panggung melihat kejadian tersebut. Ia merasa bagai disambar petir. Ternyata ia mempunyai saingan baru. Ia tak pernah tahu. Namun kepercayaan diri dalam hatinya tak pernah turun malah semakin tinggi dan berharap bahwa Naruto akan memilih dirinya. Selama dua tahun terakhir Naruto menyukainya. Perasaan perempuan tidak akan mudah hilang apalagi Toneri sudah memberikan kode. Tapi Toneri salah strategi. Gadis yang disukainya itu kurang peka dan terlalu polos untuk mengetahui hal - hal mengenai perasaan dan cinta.


"Ekhem." Toneri berdehem sebari memegangi mikrofon. Ia bersiap - siap untuk bernyanyi sebari membawa gitar. Ia duduk di atas kursi yang khusus dipersiapkan bagi peserya reuni yang ingin bernyanyi solo dengan membawa gitar.


Semua peserta reuni langsung memusatkan perhatian dan pandangan mereka ke atas panggung tepatnya ke arah Toneri.


Naruto dan Sasuke juga memerhatikan Toneri. "Dia beneran nyanyi. Jadi inget dulu. Permainan gitar Toneri kan bagus," ujar Naruto dengan polosnya tanpa mengetahui aura kekasihnya yang sudah berwarna gelap.


"Hn. Aku juga AHLI dalam bergitar," sambung Sasuke tak mau kalah karena gadisnya memuji laki - laki lain di depannya. Naruto hanya menaikkan sebelah alisnya. Penyakit tidak pekanya mulai kambuh.


"Hm..aku Otsutsuki Toneri, salah satu alumni dari SMP Hoshigaki kelas 3A. Aku ingin menyampaikan semua perasaanku lewat lagu ini. Meski bukan lagu buatanku sendiri tapi lirik lagu ini sangat pas untuknya. Surat cinta untuk gadis pirang," ujar Naruto.


Deg. Mendadak jantung Naruto berdetak lebih cepat. Ia segera melirik ke arah samping. Kekasihnya sama sekali tidak berekspresi dan santai - santai saja. Namun dalam hati, Sasuke juga berdebar. Ia merasa takut. Takut kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya setelah orang tua dan kakak satu - satunya.


'Apa yang Toneri maksud gadis pirang itu aku? Waduh. Gawat dong. Bisa - bisa si teme ayam sebelahku ngajak dia perang. Semoga saja bukan aku gadis pirang yang ia maksud,' batin Naruto. Ia masih belum bisa membaca situasi genting saat ini.


Di atas panggung Toneri mulai memetik gitar lalu membawakan sebuah lagu.


Kutuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu


Tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku padamu


Takkan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu


'Kan teramat panjang puisi 'tuk menyuratkan cinta ini


Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia


Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu


Aku pernah berpikir tentang hidupku tanpa ada dirimu


Dapatkah lebih indah dari yang kujalani sampai kini?


Aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu


Tetap cantik rambut panjangmu meskipun nanti tak hitam lagi


Bila habis sudah waktu ini tak lagi berpijak pada dunia


Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu


Dan telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia


Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu


Untukmu…


(Lagu "surat cinta untuk Starla" by Virgoun)


Semua peserta reuni bertepuk tangan setelah mendengar suara merdu Toneri. Tentu saja suaranya lebih merdu daripada suara Sasuke.


Obito dan Koyuki naik ke atas panggung. "Lagu yang bagus, Toneri. Kalo boleh tahu, siapa gadis pirang yang kau maksud?" tanya Koyuki. Ia tersenyum meski dalam hati ia marah dan kesal.


Toneri tersenyum. Matanya melirik ke tempat Naruto duduk. "Kau panggil saja gadis itu ke atas panggung. Bagaimana? Nyatakan cinta saja sekalian," tambah Obito.


Sasuke yang sedang minum tiba - tiba tersedak. "Kau tidak apa - apa, Sasuke - kun?" tanya Naruto. Ia terlihat cemas pada kekasihnya. Sasuke hanya tersenyum. Ia merasa tenang sekaligus senang dikhawatirkan oleh Naruto. "Aku tidak apa - apa, dobe," jawab Sasuke. Ia mengelus rambut dango kekasihnya. Naruto tersenyum dan merona. Ia sangat senang ketika rambut dangonya dielus oleh kekasihnya. Awalnya risih tapi sekarang itu adalah satu satu yang ia sukai dari kekasihnya.


Toneri melihat adegan mesra tersebut dengan tatapan tidak suka. Ia masih yakin dengan perasaan Naruto padanya. Perasaan yang sama padanya seperti dua tahun lalu.


"A..aku akan memanggil gadis itu. Na..Namikaze Naruto," ucap Toneri. Bibirnya bergetar.


Naruto terkejut tapi Sasuke tidak, karena ia memang sudah menduga apa yang akan dilakukan oleh Toneri. Naruto masih terkejut. Ia tidak tahu harus merespon apa. Lagu tadi liriknya berkaitan dengan cinta. Ia masih belum mengerti masalah cinta. Hanya Sasuke yang selalu mengajarinya meski secara mesum.

__ADS_1


"Namamu dipanggil, dobe," gumam Sasuke. Ia malah mengutak atik ponselnya tanpa memedulikan keadaan sekitar. "A..aku naik ya, Sasuke - kun," ujar Naruto. Ia kecewa dengan respon dari sang kekasih.


Naruto berjalan perlahan menuju panggung. Tanpa ia sadari, Sasuke memerhatikannya dengan tatapan sendu dan ragu. Sasuke menghela nafas. Ia menyerahkan semua keputusan pada gadisnya sepenuhnya tapi ia merasa sangat yakin jika ia yang akan gadis pirang itu pilih. Firasat seorang Uchiha tak pernah salah.


Toneri tersenyum penuh kemenangan saat melihat Naruto berjalan dan naik ke atas panggung. Padahal ia belum menyatakan cinta dan Naruto juga belum menjawab apapun.


"Jadi gadis pirang yang kau maksud adalah Naruto?" tanya Koyuki. Ia pura - pura terkejut.


"Ya. Naruto adalah gadis yang ku maksud," jawab Toneri tersenyum penuh percaya diri.


Naruto berdiri di samping Toneri. Matanya selalu memandang dan melirik Sasuke. Ia merasakan hal yang buruk akan segera terjadi.


'Perasaanku gak enak banget. Semoga gak terjadi hal yang buruk,' batin Naruto.


"Nah, Toneri. Cepat katakan. Naruto sudah ada di sini," ujar Obito. Ia tersenyum memberi semangat pada sahabat baiknya, Toneri.


Para alumnus peserta reuni begitu bersemangat menyaksikan pertunjukkan di luar dugaan mereka. Mereka tidak menyangka akan ada drama romantis di atas panggung. Sasuke hanya bisa berusaha untuk sabar dan menahan emosi. Jika ia marah dan emosinya meledak maka Naruto akan meninggalkan dirinya. Pandangan Sasuke tak henti tertuju ke depan tempat Naruto berdiri.


"Anda harus percaya pada kekasih anda, Uchiha - san," ucap seseorang yang Sasuke kenal kalau orang itu adalah teman sekelas kekasihnya di masa SMP.


"Naruto belum pernah menjalin hubungan dengan seorang laki - laki. Uchiha - san pemuda yang sangat beruntung," tambah satu orang lagi. Mereka adalah Sora dan Temujin. Kedua pemuda yang pernah Sasuke lihat di festival musim panas lalu.


"Hn. Kenapa kalian mendukungku? Bukan teman kalian?" tanya Sasuke waspada.


"Entahlah. Tapi Naruto terlihat sangat bahagia ketika bersama anda," jawab Temujin. Ia tidak biasanya berbicara seperti pria dewasa. Mungkin karena lawan bicaranya adalah seorang pria dewasa.


Sasuke tak berekspresi namun ia merasa senang dan juga tenang. Kepercayaan dirinya yang semula turun menjadi naik akibat ucapan dari kedua teman kekasihnya itu. "Kalian anak yang baik," gumam Sasuke.


Temujin dan Sora tertawa karena selalu disebut anak - anak. Padahal mereka sudah remaja.


Kembali ke tempat Naruto berada. Toneri sudah bersiap - siap untuk mengutarakan semua perasaannya. Naruto mendadak merasa tegang, gugup, malu dan juga jantungnya berdebar kencang tak karuan.


"Na..Naruto. Bukankah kemarin kita sudah membahas hal ini? Mengenai karma," ujar Toneri. Ia memulai pembicaraan serius.


"Kar..ma?" beo Naruto. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Toneri.


"Ya karma. Karma setelah aku menolak perasaanmu dua tahun lalu," tambah Toneri.


"Eh?" Naruto terkejut. "A..apa maksudmu, Toneri? Itu kan sudah lama sekali. Dan juga sudah jadi kenangan dan hanya masa lalu," balas Naruto. Ia berusaha berbicara tanpa menyakiti perasaan Toneri.


Toneri berdiri dan menatap dalam mata saphire si gadis pirang. "Karena itu, izinkan aku untuk memulainya dari awal. Apa kau mau memberiku kesempatan kedua?"


Naruto masih mencerna semua perkataan yang Toneri katakan.


"Ma..maksudku.. Aku..kenapa sulit sekali mengatakan hal itu? Padahal kau seorang gadis saja bisa mengatakannya dengan lantang," gumam Toneri. Wajahnya sudah merona merah. Detak jantungnya juga berdebar lebih cepat. Sasuke mengepalkan kedua tangannya. Botol minum yang terbuat dari kaleng saja sudah remuk. Temujin dan Sora yang melihatnya begidik ngeri. Sepertinya Toneri akan dihajar oleh Sasuke karena telah mengatakan cinta pada gadis tercintanya.


'Toneri, kami turut berduka,' batin Temujin dan Sora seakan - akan bisa bertelepati.


Naruto terdiam. Wajahnya sudah merona karena malu berdiri di atas panggung dan disaksikan oleh temanΒ  - teman SMP seangkatannya.


"Haah.." Toneri menghela nafas berat. "A..aku ingin memulai sebuah hubungan baru denganmu dari awal, Naruto. Maksudku.. Maukah kau jadi kekasihku?" ucap Toneri.


Jeleger⚑. Bagaikan petir menyambar di aula reuni. Itulah yang saat ini tengah Sasuke dan Naruto rasakan.


Toneri berlutut di hadapan Naruto. Keringat dingin ke luar dari setiap bagian tubuhnya. Ia baru kali ini merasakan yang namanya gugup dan tegang. Toneri itu laki - laki tenang dan tidak mudah gugup seperti Naruto. Kepercayaan dirinya juga tinggi. Berbanding terbalik dengan gadis yang sedang ia rayu.


"Kenapa kau mengatakan hal itu, Toneri? Bukankah kau tidak menyukaiku? Maksudku..kau hanya menganggapku sebagai teman sekelas. Ini di luar dugaanku, Toneri," jawab Naruto. Matanya berkaca - kaca. Sasuke mulai merasa takut meski rasa takut bisa ia sembunyikan karena Uchiha tidak pernah takut.


"Itu tidak benar, Naruto. Sebenarnya aku juga menyukaimu. Hanya saja aku takut. Dulu aku masih terlalu muda. Kita juga akan lulus dan berbeda sekolah. Jadi aku.." tambah Toneri. Ia menjeda perkataannya. "..sekarang aku yakin dengan perasaanku. Aku sungguh - sungguh menyukaimu. Aishiteru, Namikaze Naruto." Toneri masih berlutut namun kedua matanya memandang Naruto dengan penuh harap.


Naruto berpikir. Air matanya seketika mengalir deras. Sasuke mulai dilanda kepanikan yang luar biasa. Apa perasaan gadisnya terhadap dirinya hanya sebatas suka antara guru dan murid? Kepercayaan diri Sasuke luntur seketika. Keputusan apa yang akan kekasihnya ambil? Sasuke benar - benar tidak bisa berpikir jernih.


"Ba..bagaimana, Naruto? Kau masih menyukaiku kan?" tanya Toneri. Ia sangat yakin perasaan Naruto masih sama dengan dulu.


"A..aku menyukaimu.." ucap Naruto. Sasuke ingin pingsan rasanya tapi ia bukan lelaki lemah. Ia harus menerima keputusan Naruto dengan hati lapang.


"I..itu dulu, Toneri. Lagipula..rasa sukaku padamu sangat berbeda.." Naruto melanjutkan ucapannya yang ia jeda. "A..aku hanya mengagumi kepintaran dan ketenanganmu saja. Selebihnya aku tidak tahu. Rasanya beda dengan apa yang sedang aku rasakan saat ini," tambah Naruto. Ia sudah tidak mengeluarkan air mata.


Toneri mulai ragu dan tidak tenang. "A..apa maksudmu, Naruto? Jelaskan lebih detail lagi?" tanya Toneri.


"Se..sepertinya aku hanya sekedar menyukaimu. Mungkin itu yang namanya cinta monyet," jelas Naruto.


"Tapi perasaanku padamu benar - benar cinta, Naruto," balas Toneri. Ia tidak mau ditolak Naruto. "Memangnya perasaan suka dan cinta menurutmu seperti apa?" tanya Toneri. Ia berdiri di hadapan Naruto setelah sekian lama berlutut.


Naruto melirik ke arah Sasuke berada. Ia tahu jika kekasih tampannya sedang gelisah akibat kejadian ini. "Perasaan nyaman saat berada di dekatnya. Ingin bertemu saat dia jauh dariku. Rasa cemburu dan takut kehilangan. Orang yang selalu ada untukku. Meski sikap dan sifatnya bertolak belakang dariku, aku menyukainya. Itulah yang ku tahu, Toneri," jawab Naruto panjang lebar.


Sasuke tersenyum lega meski wajahnya masih datar. Perasaannya mulai tenang. Ia kembali percaya diri dan yakin jika Naruto akan tetap bersama dengannya.


"A..aku tidak merasakan perasaan itu padamu, Toneri," tambah Naruto. Ia berbicara dengan nada tenang.


"Lalu, apa kau merasakan perasaan itu pada laki - laki lain?" tanya Toneri. Naruto menjawab dengan anggukan pelan. "Apa..laki - laki itu juga merasakan hal yang sama denganmu?"


Naruto tersenyum. "Entahlah." Naruto mengendikkan bahunya. "Tapi, aku rasa dia juga merasakan hal yang sama denganku. Aku yakin. Meski wajahnya tak berekspresi dan sedatar triplek," tambah Naruto. Ia mengatakan hal itu dengan mata berbinar - binar.


Sasuke sudah bisa bernafas lega. Sementara itu, Toneri makin merasa kecewa namun ia masih belum menyerah. Ia terus mengajukan pertanyaan pada gadis yang menolaknya.


"Apa kau benar - benar menyukainya, Naruto? Menyukai pemuda itu?" tanya Toneri. Ia masih tidak bisa terima.


"Iya. Aku sangat menyukainya," jawab Naruto. Ia tersenyum tulus dan sesekali melirik ke arah Sasuke yang sedang dilanda musibah. Musibah takut kehilangan kekasih.


"Apa dia juga menyukaimu?" Toneri bertanya lagi. Masih belum menyerah. Bisa saja pemuda yang Naruto sukai tidak menyukainya.


"Tentu saja dia menyukaiku. Bahkan dia sangat menyayangiku," jawab Naruto tegas.


"Bagaimana..kalo orang itu hanya mempermainkanmu? Bisa saja dia hanya menjadikanmu yang kedua atau pelarian. Mungkin dia hanya memanfaatkan kebaikan dan ketulusanmu. Aku tidak percaya kalo dia benar - benar menyukai.."


Plak. Sebelum Toneri menyelesaikan kata - katanya, tangan kanan Naruto sudah terlebih dulu melayang di pipi kiri Toneri hingga pipinya memerah. Semua orang yang melihat kejadian dibuat terkejut.


"Jaga ucapanmu, Toneri!" seru Naruto. Ia kesal pada laki - laki yang sedang menyatakan cinta padanya. "Sasuke - kun bukan orang seperti itu! Dia sangat menyayangiku! Aku tahu itu. Kau tidak berhak mengatakan hal yang tidak - tidak mengenainya. Meski ia terkadang dingin dan jutek tapi aku tahu kalo perasaannya padaku sangat besar dan tulus padaku!" seru Naruto. Matanya berkaca. Kedua tangannya bergemetar menahan emosi.


"Sa..Sasuke - kun?" beo Toneri. 'Ternyata memang pria dewasa itu yang menjadi pacarnya,' batin Toneri nelangsa.


"Jadi pria dewasa di sudut itu yang kau maksud? Aku tidak percaya. Apa yang telah kau berikan padanya, Naruto?" bukan Toneri yang berkata melainkan Koyuki yang sedari tadi diam menahan emosi dan rasa kecewa karena Toneri mempunyai perasaan lebih pada Naruto.


"A..apa maksudmu, Koyuki? A..aku tidak mengerti?" tanya Naruto. Ia memang tidak paham apa yang gadis berkostum China look itu katakan.


Koyuki tersenyum sinis. "Aku tidak percaya kalau pria dewasa nan tampan itu mau jadi pacarmu. Atau..kau sudah menyerahkan mahkotamu padanya?"


"Cukup bicaramu, nona!" bentak Sasuke. Ia sudah berdiri di samping Naruto. Naruto sangat terkejut. Kekasih tampannya sangat cepat dalam bergerak atau karena ia tidak menyadari kedatangannya.


"Sa..Sasuke - kun.." gumam Naruto.


"Biarkan aku yang bicara kali ini, sayang. Kau duduklah di sana. Aku tidak ingin melihatmu menderita dan bersedih lagi. Ok," ujar Sasuke. Ia mengecup pipi Naruto bekas tetesan air mata.


Toneri semakin kecewa, sedih dan cemburu. Ternyata yang dikatakan Sora dan Temujin benar. Sasuke adalah kekasih Naruto. Rivalnya yang tidak akan pernah ia kalahkan. Apalagi keduanya saling mencintai.


Naruto tidak duduk. Ia berdiri di belakang Sasuke seperti seorang anak kecil yang tengah berlindung di balik ayahnya.


Seketika Sasuke mengeluarkan aura gelap, kelam dan menakutkan. Semua orang yang melihat kejadian tersebut dibuat merinding. Sasuke satu - satunya pria dewasa di tempat itu ditambah dengan aura gelapnya yang dominan.


"Hn. Aku sudah sangat ingin mengatakan hal ini padamu, Otsutsuki Toneri," ucap Sasuke. Ia memulai pembicaraan antar pria. "Terima kasih. Karena dirimu telah mematahkan hati kekasihku. Kalau kau tidak melakukannya, tidak mungkin aku akan bersama dengannya.."


Naruto tercengang atas perkataan kekasihnya. Begitu pula dengan Toneri. Ia semakin merasa kecewa dan menyesal.


Sasuke pun melanjutkan perkataannya dengan tenang dan tanpa ekspresi. "Asal kau tahu. Aku tidak akan membiarkan Naruto - ku kembali menyukaimu. Cukup selama dua tahun kau membuat gadisku sakit hati dengan menyukai laki - laki pengecut sepertimu. Aku yang akan mengobati sakit hatinya. Jadi, jangan pernah berharap bahwa Naruto - ku akan kembali seperti dulu. Meski ia belum jatuh cinta padaku, aku akan membuatnya jatuh cinta padaku. Camkan itu, Otsutsuki Toneri," jelas Sasuke dengan sorot mata yang tajam membuat Toneri tak berkutik.


Naruto memeluk lengan kekar kekasihnya. "Sa..Sasuke - kun.." Naruto mengeluarkan air mata. Ia terharu menyaksikan kekasihnya berbicara panjang lebar terhadap Toneri. Toneri dibuat diam mematung. Perasaan Sasuke lebih besar dari yang ia tahu.


"A..aku sudah jatuh cinta pada Sasuke - kun. Tanpa aku sadar, aku selalu mencari Sasuke - kun dan merindukanmu," ungkap Naruto. Ia tidak memedulikan keadaan sekitar. Demam panggungnya juga hilang. Dia kan memang naik ke atas panggung. Yang namanya demam panggung, meski tidak bernyanyi atau berdiripun ia akan segera merasa gugup tapi karena ada Sasuke di dekatnya, rasa gugupnya hilang. Hanya rasa gugup berdekatan dengan kekasihnya.


Toneri tersenyum dalam kekecewaan yang mendalam ia harus merasakan karma yang telah ia dapatkan akibat menolak pernyataan cinta belasan gadis yang menyukainya. Rasa sakit di dada sungguh menyiksa pemuda itu. Pengalaman pertama baginya seumur hidupnya.


Ia berjalan mendekat ke arah pasangan sasunaru. "Selamat, Naruto dan juga Uchiha - san. Kalian benar - benar serasi. Aku menyerah. Akhirnya aku bisa mengungkapkan semua perasaanku padamu, Naruto. Semoga kau bahagia," ucap Toneri. Ia ingin berjabat tangan dengan Naruto tapi Sasuke lah yang berjabatan dengannya. Poor Toneri. Tidak bisa bersentuhan dengan Naruto walau hanya berjabat tangan.


"Hn." Sasuke kembali ke asal. Sikapnya yang dingin dan datar.


Naruto tersenyum. "Ma..maafkan aku, Toneri. Aku sudah menyukai Sasuke - kun. Kita masih bisa berteman seperti dulu lagi.." sebelum Naruto meneruskan ucapannya, Sasuke selalu saja memotong pembicaraannya. "Tidak boleh," ucap Sasuke dengan nada dinginnya.


"Iiih.. Teme! Kau selalu saja..!" seru Naruto. Ia mulai kesal pada kekasihnya yang selalu saja cemburu.


"Hahaha." Toneri tertawa. "Kau harus lebih peka, Naruto. Pacarmu itu sedang cemburu padaku. Harusnya kau tahu."


"Kau berani menertawakanku ya, Toneri!?" seru Naruto.


Koyuki tersenyum. Ia merasa masih ada kesempatan baginya untuk berada di dekat Toneri. Obito yang sedari tadi berdiri di samping Koyuki hanya bisa berdiam diri. Obito seperti nyamuk. Tapi nyamuk yang sudah merekam drama antara Naruto, Toneri dan Sasuke. Koyuki sebagai cameo atau pemeran tambahan.


"Sepertinya kehidupan damaiku akan semakin terusik," gumam Naruto. Ia menghela nafas.


"Memangnya kenapa, dobe?" tanya Sasuke. Ia malah memeluk pinggang Naruto tanpa tahu keadaan.


"Aku kan muridmu, teme! Kau lupa ya?!" seru Naruto. Ia kesalnya bukan main.


"Tenang saja, dobe. Ketika umurmu genap 17 tahun, aku akan menjadikanmu sebagai tunanganku," ujar Sasuke.


Wajah Naruto merona. "Tu..tunanganmu?!" seru Naruto. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan kekasihnya.


"Meski sekarang Uchiha - san masih menjadi pedofil," ujar Toneri dan Obito. Sasuke diam tak merespon. Namun Naruto merespon di luar dugaan. "Te..teme ayam sensei!!" seru Naruto.


Berakhirlah drama di atas panggung. Para alumnus menikmati sisa waktu mereka bersama teman - teman SMP satu angkatan dengan bersenang - senang. Trio Deidara, Sora dan Temujin bernyanyi dan melawak di atas panggung. Naruto sibuk berfoto dengan teman - temannya yang memakai kostum anime lain. Sasuke mulai bisa berbicara santai dengan Toneri dan Obito yang kebetulan mereka adalah adik kelas Sasuke. Sasuke dulu sekolah di SMA yang sama dengan Toneri dam Obito.


Menahan perasaan memang tidak mudah tapi lebih sulit mengungkapkan perasaan. Toneri akhirnya menyadari hal itu. Ia bersyukur karena pernah mengalaminya. Ia yakin suatu saat nanti akan ada seorang gadis yang benar - benar tulus menyukainya seperti Sasuke yang menyukai Naruto begitu pula sebaliknya. Pasangan ideal yang terpaut umur beda 5 tahun.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2