Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
Chapter 25


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjam tanpa izin


Ide cerita asli milik thor


Jika ada kesamaan maka hanya kebetulan semata


Pair sasufemnaru and other


Genre cinta, guru, murid


Sifat setiap tokoh berbeda dengan versi anime terkadang ooc


Typo bertebaran


Cerita gaje


Happy reading


Di tengah keramaian dan kepadatan di dalam bus kota, yang terasa baginya hanyalah kehampaan dan kesepian yang luar biasa hingga mendarah daging. Rasa lelah ditambah rindu menjadi satu yang akan berujung dalam jurang kegalauan. Salahkan pada seseorang yang selalu berada di sisinya di setiap pagi dan sore hingga dirinya terbiasa dengan keadaan itu. Butuh waktu untuk beradaptasi dalam kesendirian di tengah banyak orang tanpa keberadaan sosok istimewa itu.


Jika menghela nafas dapat membuatnya tenang, harusnya ia sudah tenang sejak beberapa hari lalu. Di saat dirinya telah terbiasa bersamanya, mengapa dia malah meninggalkan dirinya dalam rasa sepi? Mengubah keadaan memanglah mudah namun perasaan tak mudah dirubah. Begitulah yang saat ini tengah ia rasakan. Meski sedang duduk di dalam bus di bangku paling belakang bersama ketiga temannya untuk pergi ke tempat kesukaannya yakni toko buku, tempat berkumpulnya manga - manga keluaran terbaru. Ia sama sekali tidak merasa senang.


"Naruto, jangan masang tampang serem gitu dong! Kita kan mau mau ke tempat favoritmu," gumam Ino. Ia duduk di sebelah kiri Naruto, gadis pirang berdango yang tengah dilanda kegalauan akibat pulang sekolah selalu naik bus. Padahal dulu ia ingin pulang bersama teman - temannya dan kumpul bersama. Tapi sekarang ia malah mengeluh. Selama seminggu ia tidak menjadi asisten gurunya, pulang juga tidak diantar meski setiap pagi ia selalu pergi ke sekolah dengan wali kelasnya. Sasuke selalu sibuk setiap hari. Pulang mengajar saja langsung pergi ke perusahaan Uchiha. Di jam istirahat juga dia hanya makan siang sebentar dengan Naruto lalu kembali ke ruang guru.


Si gadis pirang dibuat galau dengan sikap dari kekasihnya yang berbeda dan dingin. Bahkan ia tidak dipedulikan saat di ruang kelas dan juga di jam is


"Menyebalkan!!" seru Naruto dengan keras.


Sakura yang sedang duduk di sebelah kanannya langsung menutup mulut Naruto karena suaranya yang nyaring. Mereka masih di dalam bus. Jadi Naruto tidak bisa berbicara keras.


"Huh," gumam Naruto. Ia benar - benar kesal.


"Sudahlah, Naruto. Sabar ya. Ok," ujar Sakura. Ia berusaha menenangkan rubah betina yang sedang menahan amarah dan sewaktu - waktu bisa meledakkan bus yang mereka tumpangi.


Bus berhenti. Keempat gadis itu turun dari bus. Ino mengajak teman pirangnya yang sedang galau untuk pergi ke toko buku. Karena Naruto selalu senang jika diajak ke tempat yang menjual banyak manga kesukaannya. Hanya cara itu yang bisa Ino, Hinata dan Sakura lakukan untuk menghibur Naruto.


Ino berjalan di dekat Hinata. Sedangkan Naruto di dekat Sakura. Mereka telah berada di dalam Konoha Trade Mall. Tempat para remaja hang out di akhir pekan. Ya saat ini adalah akhir pekan. Jadi mereka menghabiskan waktu teman mereka.


Tanpa disadari mereka melewati beberapa remaja pria yang sedang berdiri di depan toko. Mata para pria itu tak henti melirik dan memandangi keempat gadis berbeda surai itu.


"Suit suit. Cantik. Mau ditemenin gak?" ucap salah satu pemuda kepada mereka. Namun Naruto dan ketiga teman perempuannya tak bergeming. Mereka tetap berjalan santai. Berpura - pura tak mendengar seruan dari para pemuda kurang kerjaan itu.


"Main sama abang yuk, cantik?" ajak pemuda satu lagi. Dengan berani ia menyentuh bahu Naruto.


"Mau main?" Naruto bertanya dengan ekspresi polosnya kepada pemuda yang berani menyentuh pundaknya.


Keempat pemuda itu terpesona dengan kepolosan Naruto. Sedangkan Ino, Sakura dan Hinata merasakan akan ada sesuatu yang terjadi. Hal gawat yang akan terjadi tepatnya.


Seketika dari tubuh Naruto ke luar aura gelap yang sangat tajam dan menakutkan.


"Pergi kalian!! Kalau tidak, ku hajar kalian satu - satu, huh!!" seru Naruto dengan ekspresi menyeramkan yang membuat pemuda tidak sopan tadi menjadi merinding.


"Sakura, ayo hajar mereka. Ino, Hinata!" seru Naruto sebari mengepalkan kedua tangannya. Tak lupa tatapan tajamnya seolah - olah bisa membunuh beberapa ekor lalat yang lewat.


Sakura, Ino dan Hinata kompak. Mereka tahu jika sahabat pirang mereka sedang dalam mode galau dan emosi tingkat dewa. Jadi mereka menurut saja. Seketika keempat pemuda tadi kabur. Para pemuda itu bukannya pengecut dan takut hanya saja keadaan di dalam mall yang ramai lebih dipenuhi pengunjung. Bukan hanya dihajar oleh keempat gadis remaja itu melainkan semua pengunjung mall juga akan ikut memukuli mereka.


"Hahaha. Mereka takut. Dasar mental lembek!" seru Naruto sebari tertawa. Sedangkan ketiga temannya hanya bisa merasa bingung dengan keadaan Naruto yang semakin aneh. Yang penting si pirang itu tidak mengamuk. Bisa gawat jika mengamuk.


Naruto dan ketiga teman cantiknya terus berjalan hingga tiba di depan sebuah toko buku. Sepasang mata biru si gadis pirang berbinar - binar. Amarah yang sempat mendidih kini sudah reda. Ia segera berlari masuk ke toko buku itu. Bagaimana tidak senang? Naruto adalah seorang otaku yang sedang memburu manga melihat ada diskon manga besar - besaran di depan matanya.


"Sakura, ayo masuk!" ajak Naruto dengan penuh semangat sebari menarik tangan Sakura. Sakura pasrah saja yang penting Naruto tidak sedih lagi. Hinata dan Ino pun menyusul mereka.


Naruto berjalan mengelilingi rak buku dengan tulisan diskon setiap manga yang ada di dalam rak tersebut. Biasanya ia hanya bisa membeli beberapa manga saja tapi sekarang ia bisa membeli berpuluh - puluh manga. Satu harga yang biasa ia beli kini ia dapat membeli 5 buah manga. Meski bukan keluaran terbaru, tapi Naruto tetap saja senang.


"Akhirnya si dango bisa ceria lagi," ujar Ino sebari melihat - lihat beberapa manga. Ia sebenarnya tidak tertarik tapi tidak ada salahnya jika membeli satu atau dua untuk mengisi akhir pekannya di rumah nanti.


"Ya. Naruto memang lebih cocok dengan sikap cerianya," tambah Hinata. Ia berdiri dan melihat buku tentang memasak.


"Aku yakin jika koleksi manga Naruto semakin bertambah saja. Mungkin suatu saat nanti kamarnya akan meledak karena kebanyakan manga," ujar Sakura. Ia menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah Naruto yang mendadak bersemangat hanya melihat manga dijual dengan harga murah.


"Kau benar, Sakura. Hahaha," sambung Ino dan Hinata. Ketiganya tertawa. Sedangkan orang yang dibicarakan sama sekali tak terusik. Ia fokus memilih manga yang akan ia beli. Uang yang ia dapat dari kekasihnya minggu lalu akan ia gunakan untuk membeli manga. Daripada memikirkan pemuda rambut ayam yang entah di mana berada dan sedang apa lebih baik menghabiskan waktu dengan membaca manga saja. Itu yang saat ini Naruto pikirkan.


Selama enam puluh menit si gadis pirang berdango itu menghabiskan waktu untuk memilih manga yang akan ia beli. Ketiga temannya sudah merasa pegal dan bosan. Mereka bertiga malah sempat berkeliling di dalam toko buku saat sahabat pirang mereka sibuk memilih manga.


"Ayo, minna. Aku udah selesai nih. Tinggal dibayar deh!" ajak Naruto sebari menjinjing sekeranjang manga di dalam keranjang belanja.


"Kau mau beli semuanya, Naruto?" tanya Sakura terkejut. Ia memastikan jika teman pirangnya benar - benar akan membeli manga yang jumalahnya lebih dari sepuluh.


Naruto tersenyum. "Iya dong. Mumpung diskon," jawabnya santai.


Ino dan Hinata memang sudah terbiasa dengan tingkah sahabat pirang mereka yang langsung menjadi shopingholic jika ada manga dijual dengan harga murah. Sedangkan Sakura yang baru mengenal lebih jauh dengannya hanya bisa menepak dahi lebarnya. Sungguh gadis yang aneh. Harusnya gadis seumurannya lebih tertarik belanja baju, make up, aksesoris atau tas. Tapi temannya malah membeli manga dalam jumlah yang tidak bisa dibilang banyak, melainkan sangat banyak lebih dari 10 manga.


Setelah membayar semua manganya di kasir, Naruto menjinjing kedua tas belanja yang berisi 30 manga. Ketiga temannya tersenyum senang dan lega karena Naruto sudah kembali ceria. Saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe.


"Naruto, apa kau yakin bisa membaca semua manga yang baru saja kau beli?" tanya Sakura. Ia memeriksa tas Naruto yang dipenuhi oleh manga.


"Bisa dong. Lagipula hari - hariku kan bebas. Si pantat ayam tidak menyuruhku menjadi asistennya. Lumayan baca manga daripada diem di kamar dan galau," jelas Naruto panjang lebar. Ia sudah mulai membuka satu manga yang baru saja ia beli untuk dibaca di kafe tersebut.


"Kita pesen makanan dan minuman dulu ya," ujar Ino sebari melihat daftar makanan yang ada di kertas menu di atas meja.


Semuanya mengangguk. Beberapa menit kemudian pesanan para gadis pun datang. Naruto, Ino dan Hinata memesan beberapa cakes dan minuman teh sebagai pelengkap sedangkan Sakura hanya memesan salad buah. Ia tidak bisa makan makanan manis karena bisa membuat berat badannya naik.


"Sakura, kenapa gak cake kayak kita? Lagi diet?" tanya Naruto sebari memakan cake yang ia pesan.


"Sakura itu sedang diet, Naruto. Emang kamu. Makan banyak gak gemuk - gemuk," jawab Ino. Ia juga menyantap cake yang ia pesan.


"Iya. Naruto memang susah gemuk. Dari dulu dia tetap kurus," tambah Hinata. Hinata dan Sakura teman satu sekolah dasar jadi mereka sudah lama saling kenal. Hanya beda SMP saja.


"Enak dong," sambung Sakura. "Aku gampang gemuk. Yang gemuk tuh perutku bukan dadaku. Hihi," tambah Sakura sebari tersenyum. Ia merasa senang karena bisa berkumpul dengan ketiga temannya.


Naruto sudah selesai memakan semua cakenya. "Aku emang gak gendut tapi pipiku yang bulat dan tembem ini lho. Lemaknya lari ke pipi," gumam Naruto sebari mencubit pipinya sendiri.


"Lemak kan gak punya kaki, Naruto!" seru Ino sebari tertawa. Ia ikut mencubit pipi tembem teman pirangnya itu.


"Iih..Ino!" seru Naruto memasang ekspresi wajah yang lucu. Lalu keempat gadis itu pun tertawa. Menghabiskan waktu dengan membicarakan hal - hal tidak penting dan mumpung mereka sedang tidak bersama kekasih jadi berlama - lama mengobrol, berselfie ria lalu mengupload foto mereka di sosial media masing - masing.


πŸŒ†πŸŒ†πŸŒ†πŸŒ†πŸŒ†πŸŒ†πŸŒ†πŸŒ†πŸŒ†πŸŒ†πŸŒ†πŸŒ†πŸŒ†


Si gadis pirang dengan menjinjing tas berisi puluhan manga kini sudah berada di depan rumahnya.


"Aku pulang!" seru Naruto. Ia pun membuka pintu. Tak terdengar suara ibunya yang biasanya menyambut kedatangannya. Mungkin ibunya sedang di dapur atau di ruangan lain. Setelah mengganti sepatu dengan sandal rumah ia segera berjalan naik ke atas tangga untuk memasuki kamarnya.


"Capek sekali. Aku beli manga kebanyakan deh. Pantas saja Sakura sampai heran kayak tadi," gumam Naruto. Merapihkan manga yang baru dibeli merupakan hal utama yang selalu Naruto lakukan setiap membeli manga.


"Wah..banyak sekali!" seru Naruto. Ia sendiri juga heran dengan jumlah manga yang ia beli. "Lumayan nih buat ngisi malam minggu cewek jones. Hehe," tambahnya. Ia lupa jika dirinya sudah tidak sendiri lagi. Naruto sudah punya pacar tapi menganggap dirinya masih jomblo. Begitulah gadis pirang berdango itu. Lupa pada kekasihnya kalau sudah disibuki dengan hal - hal berbau anime atau manga. Tapi tidak sepenuhnya salahnya karena seharian ini kekasih rambut ekor ayamnya belum memberikan kabar. Chat, sms ataupun telepon.


NarutoΒ  ke luar dari kamarnya dan pergi ke kamar mandi.


"Naruto! Kau sudah pulang?" Kushina berteriak dari lantai bawah. Tidak ada jawaban dari panggilannya, Kushina segera masuk ke kamar pribadi putrinya. Ia melihat koleksi manga Naruto semakin banyak saja. "Gadis itu kapan dewasanya sih? Udah punya pacar tapi masih ngoleksi manga. Dasar Naruto," gumam Kushina. Ia ke luar dari kamar Naruto.


Setengah jam kemudian. Si gadis pirang yang rambutnya tertutupi handuk telah menyelesaikan ritual membersihkan badannya. Tanpa ia sadari, ibunya berjalan di belakangnya.


"Na ru to.."


"Kyaaa..!!" jerit Naruto. Ia terkejut mendengar suara ibunya yang memanggilnya dengan suara pelan dan menakutkan. "Kaa san? Mengagetkanku saja," ujar Naruto sebari menyentuh dadanya.


"Hahaha. Jangan melamun dong, Naruto!" seru Kushina. Ia menjahili putrinya. "Oh iya. Kaa san mau minta tolong."


"Ya. Kaa san mau minta tolong apa?" tanya Naruto. Masih pakai kimono handuk dan berdiri di anak tangga pertama. Tadi ibunya mengagetkannya saat ia hendak naik ke lantai dua tapi terhenti.


"Nanti tolong ke mini market ya. Persediaan kecap dan saos sudah habis," jawab Kushina sebari memberikan uang untuk belanja ke mini market.


"Baik, kaa san. Beli ramen juga ya. Hihi," gumam Naruto.


"Ya beli saja. Cepat pakai bajumu, nak!" perintah sang ibu.


Naruto pun meneruskan langkahnya yang sempat tertunda.


*


*


*


Di mini market.


"Hm..saos..kecap. Yap. Ini kecap yang biasa kaa san beli," gumam Naruto. Ia membeli apa yang ibunya perintahkan. Tak lupa ramen instan favoritnya juga cemilan gurih untuk menemaninya membaca manga di malam minggu kelabu itu.


"Yosh. Semua udah dibeli. Tinggal dibayar di kasir." Naruto pun membayar semua barang yang ia beli. Lalu ke luar dari mini market tersebut.


Tiba - tiba Naruto berhenti di tempat ia bertemu dengan seseorang yang kini telah menjadi penghuni hatinya. Ia tersenyum mengingat kejadian itu.


"Jadi tambah kangen sama si teme ayam sensei. Dia malah ngilang gak ada kabar. Dasar teme ayam. Kalo nanti ketemu, mau ku jadiin sate ayam. Awas ya kau! Sasuke - kun no baka!!" seru Naruto. Ia pun tersenyum. Lalu melangkah jauh dari tempat kejadian perkara ralat tempat ia bertemu dengan kekasihnya tanpa disengaja.


Si gadis pirang yang saat ini rambutnya dibuat ponytail, terus berjalan dengan wajah cerah. Meski kekasih tampannya tak memberikan ia kabar tapi ia tak mau terlalu memikirkannya. Toh malam minggu tidak harus selalu bersama pacar. Pacar barunya sudah banyak di kamarnya. Ia akan menghabiskan malam minggu ini dengan membaca manga di dalam kamar. Sudah lama ia tidak merasakan enaknya jadi jomblo. Tapi tetap saja rasanya berbeda.


"Kok hampa sekali ya kalo gak ada guru ayam sialan itu. Kangen," gumam Naruto. Sebelum ia masuk dan membuka gerbang, ia mendongak ke atas dan memandangi langit senja yang indah. "Sangat indah langit itu. Inget si teme terus jadinya," ujar Naruto. Ia malah semakin memikirkan kekasih tampannya yang tengah membuatnya galau dan tidak karuan.


Naruto kembali menghela nafas. "Awas ya kau ayam geprek. Ku cincang kau sampai hancur baru tahu rasa. Hehe," gumam Naruto cengengesan sendiri. Ia segera membuka gerbang rumahnya.


"Aku pu.." sahut Naruto namun sesuatu yang mengejutkan terjadi ketika ia membuka pintu.


"Ke ju tan!!" seru Ino, Sakura dan Hinata. Di belakang mereka juga ada kedua orang tua Naruto. Sai, Shikamaru dan Gaara juga ikut hadir dalam pesta kejutan untuk gadis pirang itu.


"Ke..kejutan apa? Memangnya ada acara apa? Sampai diadain pesta segala?" tanya Naruto tak tahu apa - apa.


Doeeng. Sepertinya gadis pirang itu melupakan sesuatu yang sangat penting.


"Happy birthday, Naruto!!" ucap semuanya minus Naruto.


"Eh? A..aku ulang tahun?" beo Naruto.


Kushina memeluk putri semata wayangnya. "Ya hari ini kamu ulang tahun, nak," ucap Kushina.


"Selamat ulang tahun, putriku," tambah Minato. Ia juga ikut memeluk putrinya.


Sedangkan Naruto masih belum mengerti. Ia juga lupa dengan hari ulang tahunnya sendiri.


"Naruto, jangan bilang kau lupa sama tanggal lahirmu sendiri?" tanya Ino memastikan.


Naruto mengambil ponsel di saku celananya. Tertera tanggal 10 Oktober. Tanggal kelahirannya. Ia benar - benar lupa dengan hari ulang tahunnya sendiri.


"Hehe. Aku lupa," jawab Naruto. Ia tersenyum malu.


Kushina membawa putrinya ke tempat yang telah disediakan sebagai tempat pesta ulang tahunnya yang sederhana namun indah bagi Naruto.


"Wah..indah sekali tempat ini!" seru Naruto. Matanya berbinar - binar saat melihat taman belakang rumahnya yang disulap menjadi tempat pesta ulang tahun.


"Maafkan kami nak jika ini sangat sederhana," ujar Kushina dan juga Minato.


Naruto menggelengkan kepalanya. "Ini sudah sangat bagus, kaa san, tou san. Naru suka sekali. Arigatou kaa san, tou san. Naru sayang kalian," gumam Naruto sebari memeluk kedua orang tuanya.


Sementara itu di belakang mereka, ketiga pasang teman Naruto seperti lalat yang keberadaannya tak diakui.

__ADS_1


"Hei! Ke sini kalian juga!" ajak Naruto. Ia menarik tangan Ino dan Hinata dengan riangnya.


"Ayo!" ajak Sakura kepada Gaara, Sai dan Shikamaru. Ia menggandeng tangan Gaara dengan santai. Shikamaru dan Sai tersenyum melihat Sakura dan Gaara juga pacar mereka yang dimonopoli oleh sang pemilik pesta kejutan.


Kushina memegang kue ulang tahun yang sudah ditusuk oleh lilin dengan angka 17 ke hadapan Naruto. Semua teman Naruto berkumpul dan berdiri di sekelingnya. Semua teman dan kedua orang tua Naruto menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


"Nah, sebelum tiup lilin, kamu buat permohonan dulu sayang," pinta Kushina.


"Baik, kaa san," jawab Naruto. Ia segera menutup kedua matanya.


'Semoga apa yang ku inginkan terkabul dan juga si teme sialan itu ada di sini supaya bisa ku cukur tuh rambut ekor ayamnya,' batin Naruto. Ia berdoa dalam hati.


Kemudian Naruto membuka mata dan meniup lilin.


"Otanjoubi omedetou, Naruto," ucap seseorang dari belakang Naruto yang sangat ia rindukan.


Pelan - pelan gadis pirang yang sedang berulang tahun itu menoleh ke belakang. Pemuda yang telah membuatnya gegana berdiri di belakangnya dengan santai dam tanpa ekspresi.


"Te..me!!" seru Naruto. Ia melangkah mendekati pemuda tersebut dan langsung mencubit pipi putihnya.


"Itte, dobe. Harusnya aku dipeluk. Kenapa malah dicubit?" tanya Sasuke sambil mengusap pipinya bekas dicubit Naruto. Ia berpura - pura merasa sakit.


"Huh. Teme no baka!" seru Naruto. Ia melangkah meninggalkan Sasuke menuju teman - temannya. Namun tangannya dicekal oleh Sasuke jadi ia tidak bisa berjalan.


"Lepaskan, teme!" seru Naruto ketus. Ia tidak terlihat senang saat bertemu dengan kekasihnya. Ia melepaskan genggaman tangan Sasuke dengan kasar. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan kekasihnya dan juga teman - temannya.


"Na..ruto," gumam Sasuke. Bingung kepada kekasihnya yang melepaskan genggaman tangannya dan berlari meninggalkannya.


"Wah..drama di dunia nyata," ucap Sai tersenyum palsu.


"Ssst," bisik Ino terhadap kekasihnya, Sai untuk diam.


Sementara itu si pelaku pembuat Naruto galau hanya diam mematung. Sang ayah dari gadis tersebut tak tinggal diam melihat hubungan putrinya yang mendadak renggang karena kesalah pahaman dan emosi Naruto yang masih labil.


Minato menepuk bahu Sasuke seraya berkata, "Sasuke, kejar putriku. Dia pasti terkejut dan juga masih sedih akibat sikapmu akhir - akhir ini."


"Baik, tou san," jawab Sasuke. Ia sudah diberi izin untuk mengejar kekasihnya. Tanpa pikir panjang Sasuke segera masuk ke dalam rumah untuk menemui gadis pirangnya yang sedang merajuk.


Kushina tersenyum kepada suaminya. Kue ulang tahun yang harusnya dipotong tapi belum sempat jadi ia letakkan di atas meja. "Sayang, serahkan saja pada Sasuke - kun," ujar Kushina.


"Iya, sayang," balas Minato.


"Mereka sangat merepotkan," gumam Shikamaru. Ia tampak menguap padahal masih jam 6 sore.


"Ya mereka pasangan yang sangat unik. Aku jadi penasaran dengan ending kisah cinta mereka," tambah Hinata. Ia merangkul lengan Shikamaru.


Sedangkan Ino dan Sakura membantu Kushina menyiapkan makanan dan minuman. Gaara memeriksa kamera yang tadi ia pakai mengambil gambar Naruto meniup lilin. Sai, duduk santai dengan Minato.


Sementara itu, seorang pemuda berambut ekor ayam tengah menenangkan rubah betina yang sedang merajuk dan tidak mau ke luar dari kamarnya.


"Naruto, ayo ke luar! Teman - temanmu sedang menunggumu. Apa kau mau mengecewakan mereka? Membuat pesta kejutan untukmu," gumam Sasuke sebari berdiri di depan pintu kamar kekasihnya.


Tak lama, Naruto membuka pintu kamarnya. Ekspresinya masih sama. Kecut dan tak bersahabat.


"Huh! Buat apa ke sini, teme?" tanya Naruto ketus. "Sekalian aja jangan datang. Di sekolah juga nyuekin. Ngasih kabar juga gak. Pulang sana! Hush!" seru Naruto. Ia benar - benar jutek dan marah kepada kekasihnya. "Aku gak mau melihatmu. Dasar ayam! Tak punya hati, bikin anak gadis orang galau. Aku sampai menghabiskan uang banyak untuk membeli manga supaya tidak galau di malam Minggu. Sasuke - kun no baka!" seru Naruto. Ia mengeluarkan semua unek - uneknya.


Sasuke tersenyum. Sangat langka melihat kekasih pirangnya yang marah berkata cukup kasar dan mengeluarkan semua isi hatinya. Kemudian ia memeluk kekasihnya yang masih marah kepadanya. Awalnya Naruto tidak mau dipeluk oleh Sasuke tapi ia tidak tahan dengan rasa rindunya. "Maafkan aku, dobe. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya membantu baka nii san di kantor. Jadi aku sangat sibuk. Seharian tadi juga," jelas Sasuke dengan lembut. Ia tidak suka melihat kekasihnya yang selalu ceria, tersenyum dan tertawa menjadi marah dan dingin. Apalagi Naruto marah padanya. Bisa - bisa pemuda yang menjadi gurunya di sekolahnya itu tidak akan bisa tidur dan ikut merasakan galau bak anak muda yang didiamkan oleh kekasihnya. Memang benar. Tapi Sasuke tidak mau mengalami hal itu.


"Naruto, sayangku, cintaku. Jangan marah lagi ya. Lagipula sekarang kan kamu berulang tahun. Jadi, tersenyumlah," bujuk Sasuke sebari mengusap kepala pirang kekasihnya dan mencium dahinya.


Naruto masih marah tapi saat ia mendengar perkataan manis dari kekasihnya yang belakangan ini tidak memedulikannya meluluhkan hatinya. Pelukan dari Sasuke pun ia balas.


"Sa su ke - kun," gumam Naruto dengan suara yang sangat pelan. Sasuke melepaskan pelukannya kemudian ia mendekatkan wajahnya dengan wajah kekasihnya.


"Maafkan aku, Naruto. Jangan marah dan merajuk lagi ya," ujar Sasuke. Ia tersenyum.


"A..aku juga minta maaf. A..aku.." Tiba - tiba Naruto menjadi gugup. Amarahnya hilang. Wajahnya pun merona. Ia tak berani memandangi wajah kekasihnya.


"Ayo turun. Teman - temanmu sudah menunggu. Tou san dan kaa san juga. Ayo!" ajak Sasuke. Ia menggenggam tangan kekasihnya.


"A..aku tidak bisa," tolak Naruto. Ia melepaskan genggaman tangan kekasihnya.


"Kenapa, dobe?" tanya Sasuke. Ia heran.


"A..aku mau ganti baju dulu. Nanti aku turun. Ok," jawab Naruto. Ia pun menutup pintu kamarnya. Sedangkan Sasuke malah berdiri mematung di depan kamar Naruto seperti orang bodoh saja.


Sepuluh menit kemudian, pintu kamar Naruto terbuka. Sasuke masih berdiri di depan pintu karena ia merasa khawatir. Pintu terbuka. Sesosok gadis manis bersurai pirang dengan rambut yang diikat setengah memakai pita berwarna merah. Dress berwarna biru pastel sepanjang lutut berlengan balon membuat gadis pirang itu semakin manis.


Pemuda bersurai raven yang masih bertahan dengan posisi berdiri di depan Naruto dengan wajah datar dan tak berekspresi. Mirip patung es yang dipahat sempurna menyerupai manusia asli.


"Sa..sasuke.." panggil Naruto dengan suara pelan dan lembut namum kekasihnya tak bergeming. Tetap diam mematung.


"Sa..te..me!!!" teriak Naruto tepat di dekat telinga kiri Sasuke.


"Berisik, dobe!" balas Sasuke sebari menutup telinga akibat teriakan cempreng kekasihnya.


Naruto tersenyum lebar. Ia menarik tangan Sasuke. "Ayo! Semuanya sudah menunggu, teme!" seru Naruto kembali ceria. Namun, Sasuke menarik tangan Naruto. Refleks tubuh mungilnya juga terbawa dan berakhir dalam pelukan sang kekasih.


"A..apa yang ka..kau..?". Belum sempat Naruto melanjutkan perkataannya, Sasuke terlebih dulu mengecup bibir pink milik kekasihnya yang dibeli lip ice berwarna pink alami.


Kecupan itu tak berlangsung lama tapi berhasil membuat si gadis pirang yang genap berusia tujuh belas tahun malam itu merona. Matanya masih terpejam. Ia tak berani menatap wajah kekasihnya.


"Rasa jeruk. Kau sengaja memakai lip ice rasa jeruk untuk ku hisap kan? Hn," ungkap Sasuke menyeringai mesum. Jari telunjuknya menyentuh bibir merah muda kekasihnya yang masih basah akibat aktivitas panas dari bibirnya.


Naruto membuka matanya. Ia tidak bisa berkata apa - apa. Wajah kekasihnya sudah membiusnya. Apalagi kecupan yang tidak berlangsung lama itu sontak membuat Naruto salah tingkah dan tak berkutik.


"Ayo. Kita harus menemui orang tua kita dan teman - temanmu!" ajak Sasuke sebari menggemggam tangan kekasihnya.


"Orang tua kita? Orang tuaku kan? Orang tua Sasuke - kun tidak datang juga," ucap Naruto dengan polosnya.


Pletak. Sasuke menjitak kepala Naruto sehingga si empunya meringis. "Bodoh. Orang tuamu akan jadi orang tuaku juga. Dasar dobe," jelas Sasuke gemas dengan kedobean kekasihnya.


"Ok ok. Dango blonde dobe Naruto chan milik Uchiha Sasuke," balas Sasuke tersenyum mengejek.


"Iih..teme!! Itu kepanjangan! Lagipula aku kan masih pa..carmu," sahut Naruto malu - malu.


Cup. Sasuke mencium sekilas bibir kekasihnya. "Manis," gumam Sasuke. Ia merasa senang karena dango blondenya telah kembali ceria.


Naruto menunduk malu. Wajahnya sudah mirip kepiting rebus. Sedangkan Sasuke ia berjalan santai sebari menggenggam tangan kekasihnya. Tidak ada rasa malu dan gugup. Yang ada ia merasa sangat bahagia.


Tak lama mereka pun sampai di teras belakang kediaman Namikaze. Keduanya disambut dengan suka cita. Apalagi Naruto. Penampilannya sangat manis dan spesial di pesta ulang tahunnya itu.


"Waah..kamu cantik sekali, Naruto!" seru Ino. Ia senang melihat sahabatnya yang tidak lagi cuek dalam berpenampilan.


"Iya. Kamu kawaii banget lho!" tambah Sakura. "Pantes aja Mr. Sasuke tergila - gila sama kamu. Hihi," bisik Sakura sontak membuat Naruto semakin merona.


"Ayo sayang. Kita lanjutkan acaranya, ya!" ajak Kushina. Ia membawa kue ulang tahun.


"Ini pisau kuenya," ujar Hinata sebari menyerahkan pisau pemotong kue kepada Naruto.


"Nah..potong kuenya, sayang," gumam Kushina.


"Oke, kaa san." Naruto pun memotong kue. Kue pertama ia berikan kepada ayahnya. "Terima kasih, tou san. Karena tou selalu menyayangi putri tou san yang manja ini," sahut Naruto. Sang ayah pun menyuapi sisa kue yang baru saja ia cicip kepada istrinya. "Teima kasih juga, kaa san. Kaa san sangat sabar menghadapi naru yang kekanakan dan bandel," tambahnya.


"Kami akan selalu menyayangimu, Naruto," balas Kushina dan Minato. Mereka memeluk putri mereka dengan penuh kasih sayang.


"Oh iya. Kamu kan juga punya seseorang yang juga tak kalah istimewa kan, Naruto?" tanya Minato. Ia melirik ke arah Sasuke yang sedang berdiri di belakang putirnnya.


Pelukan pun terlepas. Naruto bergegas memotong kue ulang tahun yang akan ia berikan kepada kekasih tampannya.


"Ini untukmu, Sasuke - kun," ujar Naruto memberikan sepotong kue. Sasuke menerima kuenya dengan senang hati. Lalu ia menyuapi kekasihnya dengan kue ulang tahun tersebut.


"Hmp..." Naruto terkejut atas tindakan Sasuke. Ia lupa jika Sasuke tak suka makanan manis.


"Hn. Happy birthday to you, Naruto," ucap Sasuke. Kemudian ia merogoh ke dalam saku celana panjangnya untuk mengambil sesuatu. "Ini untukmu, Naruto." Sasuke memakaikan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk hati yang tertulis huruf N dan S di balik bentuk hati itu.


"Sa..Sasuke - kun, i..ni.." gumam Naruto gelagapan. Ia menyentuh kalung yang baru saja Sasuke pakaikan di leher jenjangnya yang tertutupi surai pirang panjangnya.


"Itu hadiah untukmu. Aku kerja membantu Itachi nii untuk mem..beli itu," jelas Sasuke. Ia agak malu mengatakan kata untuk membeli kalung itu. Ia ingin membelikan hadiah spesial untuk kekasihnya dari jeri payahnya. Lagipula harga kalung itu memang tidak semahal kelihatannya. Orang tua dan kakaknya yang kaya tetapi Sasuke tidak punya apa - apa selain motor susanoonya. "Maaf. Hanya itu hadiah dariku," tambah Sasuke.


Naruto tersenyum. "Etto... Arigatou, Sasuke - kun. Aku senang sekali. Maksudku bukan sama hadiahnya tapi karena Sasuke - kun mau bekerja keras untukku," ujar Naruto. Ia pun mencium pipi Sasuke tanpa sadar. Wajah kekasihnya yang ia cium seketika merona. Padahal ada kedua orang tuanya tapi gadis pirang itu tanpa malu mencium kekasihnya di depan orang tuanya.


Minato menggelengkan kepalanya. Putri kecilnya sudah besar dan mempunyai kekasih. Sepertinya Minato harus bersiap - siap untuk melepaskan gadis kecilnya itu.


"Naruto kita sudah semakin dewasa ya, anata," gumam Kushina. Ia memeluk lengan suaminya dengan mesra.


"Ya kau benar," balas Minato. Ia mengecup kening istrinya.


Keenam teman dekat Naruto merasa seperti sedang menyaksikan telenovela dua pasang kekasih yang sedang dimabuk asmara hingga kehadiran mereka tidak dianggap.


"Gaara, kau sudah merekamnya kan?" tanya Sakura sebari merangkul lengan Gaara. Ia juga tidak mau kalah dengan kedua pasangan di depannya.


"I..iya. Aku sudah merekam semuanya," jawab Gaara. Ia gugup karena Sakura menggelayutinya.


"Bagus!" balas Sakura. Ia tersenyum senang. Gaara pun tersenyum.


Shikamaru hanya duduk saja di bangku dengan santainya. Ia enggan berkomentar. Mode malasnya sudah on. Hinata duduk di dekat kekasihnya.


Ino dan Sai saling berpegangan tangan. Mereka merasa bahagia melihat Naruto telah kembali ceria dan tersenyum bahagia karena kehadiran guru mereka.


Sabtu malam yang cerah di hari ulang tahun si gadis pirang yang sedang tidak berdango itu dilalui dengan pesta ulang tahun sederhana yang dipenuhi cinta dan kebahagiaan juga senyum dan tawa. Kejadian membahagiakan itu adalah obat dari kegalauan yang selama seminggu ini Naruto rasakan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Satu bulan kemudian. Sesuai janji, Sasuke akan bertunangan dengan Naruto. Pada awalnya Naruto menolak pertunangan itu namun kedua orang tua mereka memaksa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Lagipula, Naruto masih bisa bersekolah, kuliah dan juga meraih mimpinya. Setelah itu baru menikah. Sebenarnya Sasuke ingin segera meminang siswinya selepas lulus SMA namun kekasihnya menolak. Jadi bertunangan saja sudah cukup agar bisa mengikat gadis yang disayang dari gangguan pria hidung belang di luar sana.


Siang itu, di kediaman Uchiha, para pelayan dan nyonya besar Uchiha sedang disibukkan oleh aktivitas menghiasi aula utama, membuat makanan dan juga keperluan lainnya. Sang nyonya besar terjun langsung dalam membantu kegiatan itu agar segala persiapan pertunangan putra bungsunya tidak ada yang terlewat dan berlangsung lancar. Sedangkan kedua sejoli yang menjadi pemeran utama sebagai pasangan yang akan bertunangan masih sibuk dengan kegiatan mereka masing - masing. Sasuke masih mengajar dan Naruto belajar di sekolah.


Semua rencana dan persiapan pertunangan adalah atas ide keluarga Uchiha, terutama nyonya besar Uchiha, Mikoto. Ia ingin mengurus segala sesuatu tentang pertunangan putra bungsunya. Jadi ia memilih hari Rabu agar putra bungsunya dan calon tunangannya terima duduk sebagai pasangan yang akan ditunangkan.


Di sekolah, Naruto belajar seperti biasa. Meski ia merasa gelisah dengan acara pertunangannya malam nanti. Apalagi calon tunangannya sedang berdiri di depannya mengajarkan pelajaran bahasa Inggris. Ia memilih untuk mencatat point penting yang sedang dijelaskan oleh gurunya untuk menyingkirkan perasaan gelisahnya.


Teng teng. Bel berbunyi. Jam pelajaran Sasuke berakhir. Sesi mengajar pun diakhiri dengan tugas rumah yang terbilang tidak sedikit a.k.a sangat banyak hingga membuat semua murid berkeringat panas dingin. Wali kelas mereka sama sekali tidak berubah. Masih saja pemberi banyak tugas.


"Naruto, tolong bagikan surat undangan itu!" perintah sang guru kepada siswi kesayangannya.


"E..eh? Ba..baik," jawab Naruto. Ia mendadak gugup dan juga malu.


Naruto pun membagikan surat undangan kepada teman - teman sekelasnya. Semua teman sekelasnya terkejut lalu tersenyum.


"Bisa makan gratis nih!" seru seorang siswa berbadan montok.


"Wah..happy ending ya..!" seru seorang siswi dengan mata berbinar - binar.


"Akhirnya ia gerak cepat juga," gumam Shikamaru sebari membaca surat undangan itu.


"Aku harap malam ini kalian bisa datang," ujar Sasuke. Tak ada perubahan ekspresi dari wajahnya. Tetap dingin dan datar. Lalu Sasuke pun ke luar meninggalkan ruang kelas.


Naruto duduk kembali ke tempat duduknya setelah membagikan surat undangan. Ya surat undangan pertunangan dirinya dengan wali kelasnya sendiri. Ada rasa bahagia, malu, gugup dan juga bingung. Seisi sekolah akhirnya mengetahui hubungannya dengan wali kelasnya. Padahal mereka sudah mengetahui hubungan keduanya setelah liburan musim panas bahkan sebelum liburan saat calon tunangannya mulai menjadikan Naruto sebagai asistennya. Sasuke menjadikan Naruto sebagai asisten hanya modus saja untuk lebih dekat dengan Naruto dan cara pendekatan yang lebih mudah. Sungguh jenius keturunan Uchiha itu. Naruto dengan ketidak pekaannya tidak menyadari hal itu. Padahal orang - orang di sekitarnya sudah bisa mengerti maksud dari guru baru yang masih muda nan rupawan itu.


Si gadis pirang berdango itu tengah dikerumuni teman - teman perempuannya.


"Wah..Naruto. Selamat ya!"


"Aku gak nyangka kamu mau bertunangan sama Mr. Sasuke."

__ADS_1


"Kita harus datang!"


"Momen langka nih. Guru tunanganΒ sama murid."


Begitulah kata teman - teman Naruto. Ia hanya bisa membalas perkataan mereka dengan tersenyum dan muka merona. Malu disertai rasa gugup yang luar biasa besar.


"Arigatou, minna. Doakan semoga semuanya lancar ya. Jangan lupa datang ya," balas Naruto.


"Tentu saja kami akan datang!" jawab semua teman Naruto termasuk Ino, Hinata dan Sakura yang entah kapan turut berkumpul dengan siswi lain.


"Guru kita hebat ya. Dapat jodoh yang manis di bawah umur," sahut seorang siswa yang duduk di dekat Sai. Ia seorang jones jadi agak iri pada gurunya.


"Naruto kan sudah cukup umur," sambung Sai.


"Ya. Tapi..aku kan juga mau punya pacar. Wuaa....!!" seru siswa itu. Menangisi nasib.


"Merepotkan," gumam Shikamaru. Bosan.


Sepulang sekolah, Naruto dijemput oleh kedua ibunya yaitu ibu kandungnya, Namikaze Kushina dan Uchiha Mikoto. Kedua wanita paruh baya itu membawa Naruto ke salon untuk melakukan perawatan dan menata rias wajah juga pakaiannya. Mikoto menyerahkan urusan di rumahnya kepada suaminya sendiri. Sang kepala keluarga Uchiha begitu patuh kepada istrinya. Watak dan kesan dingin serta wajah galaknya langsung luluh dan patuh kepada sang istri. Tipe suami sayang istri. Akan melakukan segala hal demi istri tercinta.


Saat ini si gadis pirang, Namikaze Naruto sudah berada di salon. Sebenarnya ia menolak diajak ke salon tapi calon ibu mertuanya memaksa. Jadi dengan berat hati ia harus berbesar hati untuk menjalani perawatan dan dimake over oleh pihak salon. Selama ini gadis berusia tujuh belas tahun itu tidak pernah memasuki salon. Ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk membaca manga, menonton anime di kamar dan berkumpul dengan teman - temannya di kafe atau di rumah mereka.


Skip time kegiatan Naruto dengan kedua ibunya di salon.


Malam pun tiba. Kediaman Uchiha begitu ramai dipenuhi tamu undangan penting dari kedua belah pihak keluarga termasuk tamu istimewa dari pihak sekolah tempat Sasuke mengajar.


"Wah..mewah sekali!" seru Sakura. Ia pergi bersama Ino dan juga Hinata.


"Kau benar, Sakura. Bagaimana pas pesta pernikahan nanti ya? Pasti lebih mewah lagi," tambah Ino. Mereka mengagumi dekorasi pesta yang indah dan mewah.


"Naruto sangat beruntung ya. Semoga mereka berjodoh," tambah Hinata. Ia tersenyum bahagia.


"Amiin," balas Sakura dan Ino. Mereka juga turut bahagia atas pertunangan sahabat pirang mereka.


Di belakang para gadis, pasangan mereka sedang berdiri memerhatikan kekasih masing - masing.


"Pacar kita cantik - cantik ya," gumam Sai. Ia tak berkedip memandangi Ino dari belakang. Rambut Ino yang diurai membuatnya semakin cantik dan menawan.


"Tentu saja," sambung Shikamaru bangga. Diam - diam ia juga memerhatikan kekasihnya, Hinata. Meski berambut pendek, Hinata tak kalah cantik dari kedua temannya.


"Sakura yang paling cantik," tambah Gaara. Kalem dan santai. Tampak semburat merah di wajah putihnya. Ia pun berjalan menghampiri kekasihnya. Shikamaru dan Sai menyusul.


Sementara itu, di kamar pribadinya, seorang Uchiha Sasuke tengah bergelut dengan rasa gugup yang datang menghinggapinya. Itachi yang melihat adiknya hanya bisa tertawa puas. Jarang dan sangat langka bagi sang adik kesayangannya merasakan perasaan gugup seperti itu.


"Tenanglah, Sasuke. Jangan gugup begitu," ucap Itachi sebari menepuk bahu adiknya.


"Aku tidak gugup, nii - san," balas Sasuke. Padahal ia sedang gugup dan juga tidak tenang. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.


"Hm. Sudahlah. Ayo turun. Tamu sudah menunggumu! Acara pertunanganmu akan segera dimulai," ajak Itachi.


"Hn," jawab Sasuke. Itachi pun menggandeng tangan adiknya. Sasuke patuh saja. Walau sebenarnya ia tidak mau karena seperti anak kecil.


Acara pertunangan pun dimulai. Setelah sang kepala keluarga Uchiha memberikan sambutan, Sasuke segera berjalan menghampiri sang ayah. Namun calon tunangannya belum datang.


"Naruto mana? Kok dia belum datang?" tanya Ino. Ia berbisik pada Sakura dan Hinata.


"Gak mungkin kan dia kabur?" ucap Hinata.


"Gak lah. Dia kan udah setuju sama pertunangan ini," tambah Sakura. Ia heran dan juga bingung karena sahabatnya yang akan bertunangan belum datang.


Sasuke merasa khawatir karena kekasihnya masih belum datang. Ibu dan calon ibu mertuanya juga tidak terlihat. Hanya calon ayah mertuanya yang telah hadir. Kini Minato sedang berdiri di sampingnya.


Tiba - tiba para tamu menyingkir memberikan jalan kepada beberapa orang yang datang dengan langkah tergesa - gesa.


"Maaf kami terlambat," ucap Mikoto. Ia datang bersama Kushina juga seorang gadis.


Mikoto segera berjalan menghampiri suami dan kedua putra tampannya. Begitu pula Kushina. Ia menggandeng tangan seorang gadis bersurai pirang yang sangat cantik mendekati suaminya, Minato.


Semua mata tertuju kepada gadis pirang itu. Penampilannya begitu memukau. Kecantikannya tak bisa dituliskan oleh kata - kata.


"Dia siapa?" tanya Ino. Ia mencolek Sakura. Matanya tak berhenti memerhatikan gadis pirang itu. Begitu pula dengan Hinata dan Sakura. "Entahlah," jawab Sakura.


Sang gadis berjalan ke arah Sasuke yang diam mematung.


"Ano..Sa..suke - kun.." ucap gadis itu malu - malu. Ia berdiri tepat di depan kekasihnya, Sasuke.


"Na..Naruto?!" seru Sasuke. Ia terkejut. Wajahnya merona. Ia terlalu mengagumi kecantikan kekasihnya yang akan segera menjadi tunangannya.


"Ya," jawab Naruto. Ia tersenyum.


Para tamu undangan terkejut. Tamu dari pihak sekolah termasuk teman - teman sekelasnya. Mereka tidak menyangka jika gadis pirang cantik dan mempesona itu adalah Naruto.


"Haah?!"


Sasuke menggenggam tangan Naruto lalu menciumnya. "Kau sangat menawan malam ini, Naruto," ucap Sasuke tersenyum tampan hingga membuat para tamu dari kaum hawa berdecak kagum dan terpesona atas ketampanan pemuda yang hendak bertunangan itu.


"A..arigatou, Sasuke - kun. Sa..Sasuke - kun juga sangat tampan dan lebih keren," balas Naruto. Ia juga tersenyum bahagia.


"Ayo kita mulai acaranya, nak," ucap Mikoto.


Lalu acara pertunangan pun dimulai dengan ditandai pertukaran cincin. Sasuke memakaikan cincin di jari manis Naruto, begitu pula Naruto. Ia melakukan hal yang sama kepada Sasuke. Mereka pun resmi bertunangan.


"Akhirnya putraku dan putrimu bertunangan juga, Minato," ujar Fugaku kepada Minato.


"Ya. Aku tidak menyangka jika Sasuke menyukai putriku yang masih kekanakan," balas Minato. Keduanya memancarkan raut wajah bahagia. Begitu pula dengan para istri mereka. Kebahagiaan Mikoto tak terbendung. Ia ingin menikahkan Naruto dan Sasuke secepatnya. Berhubung Naruto masih sekolah dan juga Sasuke yang harus bekerja lebih untuk menjadi suami idaman, ia harus mengurungkan niatnya memiliki cucu secepatnya.


"Ne, Kushina. Putrimu cantik sekali ya. Ia mirip denganmu," gumam Mikoto sebari memandangi putranya dan Naruto.


"Ya ia memang sangat mirip denganku. Hanya warna rambut dan mata saja yang mirip dengan ayahnya," balas Kushina. Ia tersenyum bahagia melihat putrinya selalu tersenyum saat menerima ucapan selamat dari tamu undangan.


"Semoga hubungan mereka lancar dan sampai menikah. Juga punya anak," tambah Mikoto. "Ah seandainya putra sulungku juga punya pasangan. Ia kalah oleh adiknya yang masih bau kencur." Mikoto sengaja mengatakanhal itu di dekat Itachi supaya putra sulungnya merasa tersindir dan segera memiliki kekasih.


"Kaa san tenang saja. Sebentar lagi aku juga akan menikah. Ku pastikan akan menikah lebih dulu daripada adik buat bungsuku," jawab Itachi dengan penuh keyakinan.


"Ok. Kaa san tunggu ya, Itachi sayang," balas Mikoto. Ia tersenyum sebari mengusap kepala putranya. Rambut panjangnya masih ia ikat di bawah.


Para tamu menghampiri Sasuke dan Naruto yang sudah bertunangan untuk memberikan ucapan selamat tak terkecuali teman dan guru mereka.


"Selamat, Uchiha - san, Naruto. Kalian sudah bertunangan," ucap Tsunade. Ia tersenyum dan menyalami keduanya.


"Terima kasih, Ms. Tsunade," balas Naruto. Ia tersenyum bahagia karena teman - teman dan guru sekelasnya datang ke acara pertunangannya.


"Aku pikir kalian akan menikah. Haha," ujar Kakashi sebari menepak bahu Sasuke.


"Hn. Ya harusnya aku menikah malam ini tapi tunanganku masih belum siap," jawab Sasuke dengan nada kecewa.


Naruto menginjak kaki tunangannya dengan sepatunya yang berhak lancip setinggi 10cm. Jadi Sasuke sedikit mengaduh karena merasa sakit kakinya diinjak dengan sengaja oleh tunangannya.


"Huh!" seru Naruto. Ia tersenyum ketus.


"Hahaha. Kalian benar - benar serasi," gumam Itachi. Ia berdiri di dekat Kakashi. Keduanya tertawa mengejek sang bungsu yang kalah dengan sang tunangannya.


"Dasar jones," gumam Sasuke mendelik kepada kakaknya yang masih lajang dan belum memiliki pasangan.


Naruto tersenyum. Ia merasa senang melihat tunangannya berinteraksi dengan kakaknya dan juga rekan sesama guru.


"Naruto, selamat ya. Akhirnya kamu bisa bertunangan sama Sasuke - san," ucap Ino. Ia memeluk sahabatnya.


"Emh. Arigatou ne, Ino," balas Naruto. Ia tersenyum cerah.


"Aku gak nyangka lho kalian bisa bertunangan. Kamu udah ngalahin ratusan siswi cantik di sekolah kita lho, Naruto," tambah Sakura. Ia juga memeluk Naruto dan tersenyum bahagia.


"Ngalahin ratusan siswi? Emangnya pertandingan atau pertarungan ya? Hehe," balas Naruto. Ia tersipu malu.


"Ya. Pertarungan memperebutkan pangeran tampan," tambah Hinata.


"Hm. Lebih tepatnya pangeran ayam," sambung Naruto. Selalu ingin mengejek tunangannya sendiri.


Sasuke mendengar ejekan dari tunangannya. Kemudian ia menarik tangan Naruto dan membawanya pergi meninggalkan ruangan pesta beserta tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat kepada mereka berdua.


"Sasuke - san udah gak sabar ya," gumam Sai dengan senyum palsunya yang tak luput dari wajah tampannya.


"Heh? Gak sabar apa? Mereka belum boleh begituan lho," sambung Ino. Ia tidak setuju dengan pendapat kekasihnya yang agak mesum.


"Kalo si kepala ayam itu berani melakukan hal yang tidak - tidak pada putriku, ku pastikan ia tidak akan bisa memiliki putriku," gumam seseorang sebari mengeluarkan aura hitam. Ia tanpa sengaja mendengar perkataan Ino dan Sai.


Kushina mengelus punggung suaminya untuk meredakan amarahnya. "Anata tenang saja. Calon menantu kita tidak akan melakukan hal seperti itu


Sampailah sepasang sejoli itu di sebuah taman tepatnya di belakang mansion kediaman Uchiha. Pemandangan taman yang sangat indah berhiaskan lampu taman berwarna warni.


"Wah..indah sekali, Sasuke - kun! Di sini juga sepi dan tenang," ujar Naruto. Ia merasa senang melihat pemandangan di sekitarnya tanpa melepaskan pegangan tangan dari tunangannya.


"Hn," balas Sasuke tak berkata apa - apa tapi kebahagiaan terpancar dari senyum tipisnya. Kemudian ia membawa gadisnya untuk duduk di sebuah bangku taman.


Mereka pun duduk di bangku tersebut. Naruto dan Sasuke duduk berdekatan. Keduanya terdiam sejenak. Hening menyelimuti suasana di malam itu. Si gadis pirang sangat tidak menyukai keheningan apalagi saat bersama tunangannya. Sasuke memang jarang bicara tapi ia belum berbicara sejak berada di taman itu.


"Sa su ke - kun?" Naruto berinisiatif untuk memulai pembicaraan.


"Hn," jawab Sasuke. Ia mengaitkan sebelah lengannya dan memeluk pinggang Naruto dari samping. Sontak Naruto terkejut atas tindakan tiba - tiba dari kekasihnya yang kini telah menjadi tunangannya.


"Sa..teme! Kau mengagetkanku!" seru Naruto dengan wajah merona. Ia memalingkan wajahnya karena malu dan tidak kuat memandang wajah tampan Sasuke.


Sasuke mengendus bau gadisnya lalu menciumi leher, pipi, dahi dan bibir. Naruto tak menolak. Sejujurnya ia sangat merindukan kekasihnya melakukan hal itu. Mesum tapi gadis pirang itu menyukainya. Malu tapi mau. Apalah daya bagi seorang gadis. Tidak mungkin ia meminta hal mesum nan memalukan itu dari tunangannya yang super mesum. Bisa tambah besar kepala dan lebih mesum lagi.


"Kau sangat cantik, Narutoku," gumam Sasuke setelah merasakan bibir manis tunangannya. Suaranya terdengar begitu seksi di telinga Naruto dan juga memabukkan. Padahal hanya mendengar suara saja bisa membuat Naruto mabuk kepayang.


"Sa..Sasuke - kun berlebihan," balas Naruto malu - malu. Wajahnya sudah merah.


Sasuke semakin gemas melihat tunangannya. Seandainya dirinya sudah sah menjadi suaminya, maka ia akan membawa gadis yang usianya di bawah lima tahun darinya ke dalam kamarnya dan memonopolinya. Ia tidak ingin orang - orang melihat kecantikan gadisnya. Hanya untuk Sasuke seorang kecantikan dan semua yang dimiliki Naruto. Begitulah keposesifan Sasuke terhadap Naruto.


"Kau sangat menawan. Aku hampir tidak mengenalimu jika tadi kau tidak memanggilku," gumam Sasuke masih memeluk Naruto. Kali ini Naruto duduk di atas pangkuannya.


"Benarkah? Apa karena aku jelek? Atau karena penampilanku terlalu beda?" tanya Naruto dengan polosnya.


"Siapa yang bilang kamu jelek? Malam ini dango dobeku sangat cantik. Aku tidak menyesal bertunangan denganmu. Malah ingin cepat - cepat menikahimu," jelas Sasuke. Ia memeluk tunangannya semakin erat sebari mengendus bau Naruto. Ia tak bosan melakukan hal itu. Gadisnya begitu wangi akibat perawatan di salon tadi siang. Naruto melakukan bermacam perawatan seperti luluran, spa dan semacamnya layaknya menjadi pengantin.


"Gak ada yang bilang. Lagipula..pandangan mereka sangat aneh saat melihatku. Aku tidak terbiasa dipandangi seperti itu, Sasuke - kun," balas Naruto. Ia semakin menempel di dada bidang Sasuke yang tertutupi kemeja putih dan jas biru dongker. "Dadamu keras ya, teme," gumam Naruto dengan nada manja sambil mengusap dada tunangannya.


"Te..tentu saja. Badanku kan bagus," tambah Sasuke. Ia merona.


"Huh sombong! Aku kan pernah lihat!" seru Naruto dengan nada mengejek.


"Dasar dobe," ujar Sasuke. Ia memeluk Naruto semakin erat hingga orang yang ia peluk merasa sesak.


"Sesak, teme!" seru Naruto. Ia meronta dan menggerak - gerakkan pinggulnya di pangkuan Sasuke. Hal itu membuat Sasuke merasa aneh dan sesuatu mengeras di bawahnya. "Iih!! Apa sih yang keras - keras di dekat kakimu, teme! Aku jadi gak bisa duduk nyaman nih!" seru Naruto.


Sasuke semakin gemas. Mungkin tunangannya harus segera diberi pelajaran biologi mengenai organ reproduksi secara langsung dengan melihat bentuk asli dari organ tersebut. Ia tersenyum mesum. "Apa kau ingin tahu apa yang keras di bawah sana, hn?" tanya Sasuke dengan seringai mesumnya.


"Emang apa?" beo Naruto. Sungguh polos atau memang dobe.


Sasuke berbisik ke telinga Naruto sebari berkata, "itu adalah pedang pusaka penanam benih dan pemuas dirimu kelak setelah kita menikah, sa yaaang."


Wajah Naruto seketika merona. "Eh?! Sasuke - kun no hentai! Echi! Baka!" seru Naruto. Ia malu mendengar penjelasan dari tunangannya yang kelebihan hormon dan kelewat mesum. Naruto terus memberontak untuk bangun tapi Sasuke malah semakin erat memeluk gadisnya.


"Biarin. Mesum - mesum gini juga kamu cinta kan? Hn," gumam Sasuke. Ia tersenyum bangga dan bahagia. "Aku mencintaimu, Namikaze Naruto," ucap Sasuke.

__ADS_1


"A..aku juga mencintai U..Uchiha Sasuke - kun," balas Naruto tersipu malu. Kemudian keduanya berciuman. Ciuman mesra dan panas yang mengalirkan rasa cinta serta nafsu bersamaan.


Tbc


__ADS_2