Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
chapter 23


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjam tanpa izin


Ide cerita milik thor


Jika ada yang sama itu hanya kebetulan saja


Fair : sasufemnaru


Genre : guru, murid, romance


Sifat karakter di ff ini berbeda dengan versi anime dan ooc


Typo bertebaran


Cerita gaje dan alur panjang


Happy reading


Seorang pemuda bersurai merah, berwajah tampan dan berkulit seputih susu, berjalan dengan penuh percaya diri dan angkuh sebari memegang sekuntum mawar merah. Terukir senyum bahagia di wajah tampannya. Memikirkan rencananya akan berhasil membuatnya tersenyum bahagia.


Sang gadis yang sedang ia dekati tengah bergulat dengan ponsel pintarnya. Ponselnya ia masukkan ke dalam saku roknya karena ia merasa ada seseorang yang datang mendekatinya. Sepasang mata berwarna biru langit itu melirik kepada si murid baru yang tersenyum ke arahnya.


"Ohayou, Naruto - san," sapa Sasori tersenyum ramah dan tampan.


"Ohayou mo, Sasori - san," balas Naruto. Malas dan bosan. "Ada apa? Apa kau belum mengerjakan tugas bahasa Inggrismu?" tanya Naruto ketus. "Jadi kamu mau nyontek sama aku."


"Sudah lah. Masa murid teladan sepertiku belum mengerjakan tugas? Mau taruh di mana muka tampanku ini," jawab Sasori. Narsis dan menyebalkan.


Ingin rasanya Naruto muntah saat itu juga. Gaya bicara si murid baru itu sangat menyebalkan. Jika memukul kepalanya, mungkin otak tidak beresnya akan bekerja normal.


"Oh iya. Ini untukmu, Naruto."


Kemudian Sasori bernyanyi, "sekuntum mawar merah..yang ku berikan padamu, di pagi ini..ku katakan ku cinta kamu..🎀🎢," ujar Sasori sebari melantunkan lagu dangdut sekuntum mawar merah. Ia menyerahkan sekuntum mawar merah yang ia bawa.


Semua murid di ruang kelas menganga karena melihat pertunjukan ngamen dadakan di dalam ruang kelas mereka. Mereka pikir ada pengamen masuk ke sekolah. TernyataΒ  seorang murid baru yang tengah menyatakan cinta kepada gadis pujaannya. Ia salah strategi untuk mencuri hati si gadis. Naruto, gadis yang sedang Sasori rayu itu adalah seorang otaku. Harusnya lagu anime tapi Sasori malah menyanyikan lagu dangdut. Apalagi suaranya sangat sumbang. Ditambah kekasih dari gadis incarannya mendengarkan rayuannya. Aura gelap terpancar dari sang pemilik pujaan hatinya. Beruntung karena ia berada di sekolah. Jika di luar sekolah mungkin si murid baru kepala merah itu akan pulang tinggal nama. Wali kelas mereka sangat sadis dan posesif kepada siswi kesayangannya. Harusnya Sasori tahu kalau Naruto dan wali kelasnya punya hubungan lain tapi ia pura - pura tidak tahu atau memang berniat mencari masalah dengan wali kelas iblis mereka.


Doeeng. Naruto ingin sekali menendang bokong si penyanyi dangdut dadakan yang suaranya sangat sumbang itu. Tapi ia tidak mau dipanggil guru bk karena ulahnya menghajar seorang murid baru. Jadi ia tahan emosinya. 'Sabar sabar,' batin Naruto. Ia mengusap dadanya.


"Bagaimana cantik? Aku diterima kan?" tanya Sasori penuh harap.


Naruto tersenyum palsu tapi terlihat manis dan menawan bagi si murid baru. "Ti dak," jawab Naruto. Senyum palsunya luntur seketika tergantikan dengan ekspresi datar dan dingin bak kekasihnya, Uchiha Sasuke.


"Kok begitu? Padahal aku kan udah capek - capek nyanyi. Cara nembak juga romantis. Apa yang kurang dari diriku ini? Tampan, pintar, kaya, menawan, populer. Sem pur na," ungkap Sasori dengan angkuh. Ia tak terima karena pernyataan cintanya ditolak oleh gadis incarannya.


"Ehem. Bel sudah berbunyi, Akasuna. Aku harap kau bisa duduk di tempat yang seharusnya," ujar seorang pria yang tak lain adalah wali kelasnya sendiri, Mr. Sasuke. Nada bicaranya sama dengan Naruto. Tapi lebih dingin dengan tatapan tajam.


Glekh. "Baik, Mr," jawab Sasori. Ia berjalan ke tempat duduknya dengan perasaan kecewa tapi ia tidak akan menyerah. Ia harus berhasil mendapatkan gadis idamannya.


Sementara itu para murid yang berkumpul menjadi penonton dadakan pernyataan cinta Sasori pun bubar. Aura yang dikeluarkan oleh wali kelas mereka sangat tidak bersahabat.


Sasuke menyimpan buku agendanya di meja. Tapi ia terus melirik siswi yang ada di depannya.


Naruto merasa ada yang ganjil. Seharusnya pagi ini Guy sensei yang mengajar tapi malah wali kelas mereka yang super datar itu yang masuk.


Naruto penasaran, ia berinisiatif untuk bertanya kepada wali kelasnya akibat jam pelajaran yang menyimpang. Ia pun mengangkat sebelah tangan seraya berkata, "Mr. Pelajaran anda kan di jam ke 3. Seharusnya Guy sensei yang masuk."


"Guy sensei ada urusan mendadak. Jadi di jam ke 3 kelas kalian akan bergabung dengan kelas 11 ipa 1 di jam pelajaran Guy sensei," jelas Sasuke. Datar dan tanpa perasaan.


"Ooh," gumam Naruto.


Sepasang mata onix memandang mata saphire di depannya. Naruto segera memalingkan wajahnya. 'Harusnya dia tahu waktu. Sekarang waktunya belajar, teme. Bukan pandang - pandangan. Dasar..' batin Naruto. Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan tajam dari sang wali kelas.


"Hari ini kita ujian dadakan," ujar Sasuke sebari mengeluarkan aura gelap dan hitam yang menyeramkan.


"Hah?". Semua murid terkejut. Mata mereka memandang sang pelaku pembuat wali kelas mereka badmood.


'Dasar murid baru sialan!' batin semua murid di kelas Naruto, minus Sasori.


Sasori yang merasa dipandangi oleh teman - teman sekelasnya hanya tersenyum dengan wajah tak berdosa.


'Cemburu berujung ujian dadakan,' batin semua murid.


Skip time waktu ujian Naruto. Sekarang saatnya jam pelajaran olahraga di lapangan. Semua murid kelas 11 ipa 1 dan ipa 2 berkumpul di lapangan lengkap mengenakan seragam training olahraga mereka lengkap dengan celana panjang. Karena udara mulai dingin jadi para siswa dan siswi memakai training celana panjang mereka yang berwarna navy.


Seorang guru yang mengenakan kaos olahraga berwarna hijau tua dengan gaya rambut bop mirip tokoh kartun Do** sedang berdiri di antara barisan murid - muridnya. Ia tampak bersemangat melakukan senam pemanasan yang diikuti oleh para murid di belakangnya. Gerakan sang guru sangat lincah dan berenergi. Tidak seperti beberapa muridnya yang tampak tidak bersemangat. Termasuk Naruto. Si gadis pirang berdango itu terlihat tidak semangat. Itu semua disebabkan oleh si murid baru, Akasuna Sasori. Naruto harus melakukan sesuatu untuk membalas murid baru itu. Karena ulahnya ia dan teman - teman sekelasnya harus menghadapi ujian dadakan dari sang guru iblis.


"Ehem. Begini, anak - anak. Ada yang ingin bapak sampaikan kepada kalian," ujar Guy sensei. Guru olahraga mereka yang gayanya nyentrik dan mencolok.


Semua murid bertanya - tanya tentang apa yang akan disampaikan oleh guru darah muda itu yang selalu bersemangat.


"Bapak butuh 2 siswa relawan. Satu siswa dari masing - masing kelas," tambah Guy sensei.


Semua murid merasakan firasat aneh. Tak terkecuali Naruto. Ia yang biasanya lama berpikir tapi mendadak pintar. Meski pada dasarnya gadis itu pintar. Hanya kadang - kadang ia tidak peka akan keadaan di sekitarnya.


"Apakah ada yang bersedia menjadi asisten bapak? Bapak tidak akan membuat kalian kerja rodi kok. Tenang saja," ujar Guy sensei.


Semua murid kelas 11 ipa 2 kompak menoleh ke arah Sasori yang berdiri paling belakang sudut kanan.


"Akasuna Sasori, sensei!" seru Naruto dan teman - teman sekelasnya sebari menunjukkan jari telunjuk mereka ke tempat Sasori berdiri.


"Eh?" beo Sasori. Ia tak mengerti apa yang sedang terjadi.


Guy sensei tersenyum bangga. "Ok. Silakan maju ke depan, Akasuna - san!" pinta Guy sensei.


Sasori yang tidak tahu apa - apa segera berjalan ke depan dan berdiri di samping Guy sensei.


Seorang siswa berkacamata melangkah maju dari barisan kelas 11 ipa 1. Namanya adalah Aburame Shino. Siswa yang jarang tersorot dan kebaradaanya juga jarang terasa karena ia adalah siswa yang pendiam dan lebih menyukai serangga dan sangat mengagumi Orochimaru sensei.


"Sepertinya bakal ada kejadian seru nih. Murid paling pendiam bekerja sama dengan murid yang paling percaya diri dan narsis. Hihihi," gumam Naruto. Ia berbicara sepelan mungkin.


Guy sensei pun meminta kedua muridnya yang saat ini telah menjadi asistennya untuk membantu segala aktivitasnya saat sedang mengajar. Semua murid tidak menyangka jika guru yang selalu bersemangat itu membutuhkan asisten juga. Tidak hanya Kakashi sensei dan Mr. Sasuke tapi Guy sensei juga.


Sasori tengah membawa sekeranjang bola kasti. Tiba - tiba seekor kecoak muncul dari dalam keranjang bola kasti yang tengah ia bawa. Sontak si murid baru itu terkejut, takut dan melempar keranjang bola yang sedang ia pegang.


Semua murid tertawa melihat kejadian konyol itu. Sasori sampai melompat karena takut terhadap kecoak. Kecoak. Sang pemeran utama saja tidak takut pada kecoak.


"Maaf. Itu Yui. Nama kecoak yang baru saja muncul dari dalam keranjang itu," ujar Shino sebari mengambil kecoak yang ada di atas bola kasti. Sasori tak berdaya melihat kecoak itu. Ia hampir saja pingsan.


"Buang serangga itu! Menjijikan!" seru Sasori. Berlebihan. Ia tampak sangat ketakutan.


Shino menatap tajam pada Sasori. Seketika nyali Sasori menciut karena murid berkacamata dan pecinta serangga itu mendekatkan kecoak tadi ke dekat Sasori.


"Ternyata dia sangat takut sama kecoak ya," ujar seorang siswi.


"Ngakunya laki - laki sempurna. Hanya sama kecoak saja takut," balas siswi lain.


Begitulah bisik - bisik siswi yang mendadak tidak menyukai si murid baru itu. Namun Naruto hanya diam saja. Ia maklum karena setiap orang punya rasa takut terhadap sesuatu. Termasuk dirinya.


'Sial!! Kalau gini kan aku tambah sulit ngedeketin si pirang manis itu,' batin Sasori, sengsara. Ia mengambil bola kasti yang tumpah akibat insiden kecoak yang menimpanya.


Teng teng. Jam istirahat tiba. Sasori berlari menghampiri gadis pirang pujaannya.


"Naruto - san! Tunggu!" seru Sasori.


Naruto menoleh ke belakang. "Ya? Ada apa?"


"Kita ke kantin. Aku akan mentraktirmu. Bagaimana?"ajak Sasori dengan penuh percaya diri.


Naruto berpikir sejenak. "Sama teman - temanku ya. Gimana?" pinta Naruto.


"Ok. Everything for you, dear," jawab Sasori. Ia yakin jika rencananya kali ini akan berhasil.


Naruto tersenyum sinis, lalu ia berteriak, "hei!! Murid 11 ipa 2!! Sasori - san mau mentraktir makan di kantin!!" Teriakan gadis pirang berdango itu sangat keras dan suaranya yang cempreng bisa menulikan telinga orang yang ada di dekatnya, yakni Sasori. Telinganya sudah mati rasa akibat teriakan Naruto yang membahana.


'Suaranya keras sekali nih cewek!' batin Sasori sebari mengorek kedua telinganya dengan jari - jari tangannya.


Semua murid kelas 11 ipa 2 berlari menghampiri Naruto dan Sasori.


"Yang bener nih kamu mau neraktir kami, Sasori?" tanya teman sekelas Naruto.


Sasori mengangguk dengan ekspresi wajah terheran - heran. Bukankah ia hanya mengajak Naruto dan ketiga teman perempuannya. Tapi mengapa malah semua teman sekelas mereka juga ikut?


"Mereka kan juga temanku. Jangan pilih kasih dong, Sa so ri - san," ujar Naruto tersenyum dengan polosnya.


"Ya. Tentu saja. Kau boleh mengajak mereka semua, Naruto - san," balas Sasori. Mukanya merona. "Demi mendapatkanmu, kan ku traktir semua orang. Jangankan itu. Tujuh samudera kan ku sebrangi, Naruto - san," tambah Sasori. Tersenyum tampan. Ia hendak meraih tangan Naruto namun Naruto menangkis tangan putih Sasori dan menghadiahi tatapan dingin namun Sasori biasa saja.


'Nih orang tambah ngeselin,' batin Naruto. Ia sangat kesal.


Kini Naruto dan teman - teman sekelasnya telah menguasai kantin sekolah. Mereka senang karena akan ditraktir oleh si murid baru yang berniat hanya mentraktir Naruto seorang. Tapi mereka tetap saja merasa senang. Kapan lagi bisa makan gratis? Begitulah isi hati semua teman sekelas Naruto.


"Kau tidak mentraktirku juga, Naruto?" tanya Gaara. Pura - pura memelas.


"Eh Gaara. Tentu saja. Kau juga ditraktir Sasori - san lho. Benar kan, Sasori - san?" pinta Naruto kepada Sasori. Tentu saja Sasori menyanggupinya. Gaara pun memanggil teman - teman sekelasnya. Sedangkan Naruto malah memanggil semua murid yang ada di kantin dan mengatakan bahwa Akasuna Sasori akan mentraktir mereka makan. Alhasil Sasori harus membayar makanan yang dimakan oleh para murid kedua kelas itu, bukan. Melainkan semua siswa siswi yang ada di kantin saat itu. Sedangkan Naruto, dia kabur dari kantin menuju tempat favoritnya menemui sang pujaan hati. Sasori tidak menyadari kepergian Naruto. Ia terlalu sibuk untuk membayar semua makanan yang dibeli oleh para siswa dengan kartu kredit yang diberikan oleh orang tuanya.


'Kalo mau neraktir makan jangan cuma satu kelas. Nanggung kan. Sekalian saja semua yang ada di kantin. Hihi. Uangmu kan banyak,' batin Naruto.


Si gadis pirang berdango berlari terengah menuju taman belakang sekolah. Ia tidak mau membuat kekasihnya menunggu lama.


"Haa..haa.." Naruto sampai di tempat itu. Ia tampak lelah setelah berlari cukup kencang dari kantin ke taman belakang.


"Terlambat satu menit, do be," gumam Sasuke. Ia sedang duduk bersila sebari memegang dua kotak makan siang buatan siswi tercintanya.


Naruto langsung duduk di samping gurunya. Ia bahkan tidak sempat mengganti bajunya. Semuanya karena si kepala merah itu. Beruntung ia berhasil kabur.


"Ma..af, Mr. Di kantin tadi sesak banget. Banyak murid yang ingin minta makan gratis," gumam Naruto. Ia kelelahan. Ia segera membuka dua kotak makan siang dan dua botol air mineral yang tadi ia beli di kantin. Dibeli dengan uangnya sendiri.


"Hn." Sasuke masih diam. Ekspresinya sungguh membuat siswi di sampingnya muak dan kesal.


"Mr kenapa sih? Padahal aku sudah capek - capek bangun pagi untuk masak ini. Apa gak mau makan?" tanya Naruto. Ia memasang ekspresi puppy eyes.


"Aku akan makan. Sekalian saja orang yang memasaknya juga ku makan," jawab Sasuke. Ia mengangkat tubuh mungil siswinya dan mendudukkannya tepat di pangkuannya. Lalu memeluknya dari belakang.Terlihat seperti seorang anak perempuan yang sedang duduk di pangkuan ayahnya. Perbedaan umur dan ukuran tubuh mereka sungguh tampak jelas.


"Te..Mr. A..apa yang Mr lakukan? A..aku kan bisa duduk di ba..bawah," gumam Naruto. Wajahnya sudah merona dan berasap. Ia juga sangat gugup duduk di pangkuan kekasihnya itu. Apalagi di lingkungan sekolah.


"Duduk saja dan suapi aku, dobe!" balas Sasuke. Datar, dingin tapi Naruto tahu bahwa kekasihnya yang seorang guru itu sedang dalam mode cemburu dan manja. Ia hanya bisa pasrah dan patuh jika tidak ingin kekasihnya berbuat kepadanya.


"Ba..baik, Mr. A..aku akan suapi. Tapi..aku..nggak bisa kalo duduk gini. Terus ada sesuatu yang keras di bawah pantatku. Mr gak ngantongin batu kan?" Naruto bertanya pada Sasuke dengan polosnya. Ia benar - benar polos.


Sasuke tersenyum mesum. "Sudah. Kau suapiku saja. Duduk di pangkuanku ya. Awas kalo berani gerak dan bangun," balas Sasuke.


"Eh? Mana bisa nggak gerak? Gimana aku ngambil bekalnya, Mr? Jadi gak mungkin aku diem kan?" tanya Naruto sebari menggerakkan pantatnya tepat di bagian terlarang milik guru pedofilnya.


Sang guru sangat gemas terhadap tingkah siswinya yang sudah duduk di bangku kelas 11 SMA tapi pikirannya masih polos melebihi siswi SD zaman sekarang. "Cepat suapi aku. Aku lapar, dobe," pinta Sasuke. Wajahnya merona menahan sesuatu yang mengeras yang selalu tersentuh oleh bokong montok siswinya. Begitulah kegiatan mesum mereka. Sang guru yang manja ingin disuapi oleh kekasihnya yang notabene adalah siswinya sendiri.


Keesokan harinya, si murid baru masih mencoba untuk menaklukan hati sang gadis pujaannya. Ia berpikir semalaman. Gadis yang ia incar tidak suka bunga, coklat dan juga ditraktir makanan. Naruto gadis yang berbeda dengan gadis lainnya yang mudah ia taklukan hanya dengan kedipan mata dan uang. Lingkaran hitam menghiasai bagian mata Akasuna Sasori tak mengurangi kadar ketampanannya sebagai manusia paling tampan se - SMA Konoha. Jumlah fans dan followers di sosial medianya saja tiap hari semakin bertambah.


Kali ini, Akasuna Sasori membawa sekeranjang buah tomat yang masih sangat segar. Jenis tomat apel yang langsung bisa dimakan. Ia dengar jika Naruto sangat menyukai buah tomat. Ino lah yang mengatakannya saat berbicara dengan Hinata. Kesempatan emas itu tak ia sia - siakan. Sekeranjang tomat merah sudah ada di depan mata gadis berwarna saphire itu.


"Ohayou, Naruto hime sama. Aku bawakan tomat merah yang masih segar untukmu," ucap Sasori dengan sangat ramah dan gaya menggombal andalannya.


Naruto mengerutkan dahinya. Ia tidak suka buah tomat. Tomat apapun itu jenisnya. Tetap saja tomat. Ia tak suka buah masam itu. Kalau ia memakannya bisa - bisa dirinya berubah karakter menjadi guru kesayangannya. Asam, kecut a.k.a kurang senyum. Meski tampan dan keren. Tapi tak pantas kalau Naruto yang ceria dan penuh semangat menjadi asam seperti kekasihnya. Dua karakter yang sama sulit untuk bersatu.

__ADS_1


"Oha you mo," balas Naruto. Ia tambah tidak menyukai sikap Sasori.


"Nah. Silakan dimakan tomatnya. Ini masih segar lho," pinta Sasori.


"Maaf. Aku gak suka tomat," tolak Naruto dengan sopan.


Sasori terkejut. "Eh? Bukannya kamu suka tomat, Naruto - san?" tanya Sasori. Ia bingung.


"Iie. Tomato ga daikirai da na. I hate tomato. Ok," jawab Naruto dengan dua bahasa. Ia kesal karena diberikan tomat yang sangat ia tidak sukai. Yang ia sukai itu orang yang suka tomat, kekasihnya.


Sasori marah. "Na ru to - san.. Kau ini perempuan apa bukan sih? Bunga dan coklat tidak suka!" seru Sasori kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya di sisi kiri kanannya.


Naruto malah memainkan ponselnya. Tak lama sang guru datang. Kebetulan wali kelas mereka yang mengajar. Sasori masih merasa kecewa. Tomat yang akan ia berikan, ia bawa kembali. Sasuke mengerutkan dahi. Kegigihan si murid baru patut diwaspadai. Ia harus lebih menjaga kekasihnya.


'Aku harus mencari informasi yang benar mengenai Namikaze Naruto. Gadis itu langka sekali. Aku harus mendapatkannya. Apapun yang terjadi,' batin Sasori. Ia semakin bertekad dan pantang menyerah.


Sasuke pun menunaikan kewajibannya sebagai seorang guru yakni mengajari siswa - siswinya dengan baik, tegas dan mudah diingat. Semua muridnya sangat mendukung hubungan cintanya dengan Naruto. Mempunyai wali kelas yang masih muda, pintar dan tampan adalah anugerah bagi mereka.


Saat ini sang guru muda tersebut tengah menulis di buku agendanya. Ia pun membagi murid di kelasnya ke dalam beberapa kelompok. Satu kelompok terbagi atas dua orang siswa dan siswi.


Entah kebetulan atau disengaja, si gadis pirang berdango itu satu kelompok dengan si murid baru. Kebahagiaan luar biasa dirasakan oleh Sasori namun tidak demikian dengan Naruto. Ia kesal dan juga bingung. Entah apa yang memasuki wali kelas yang menempatkan dia satu kelompok bersama Sasori. Padahal Naruto tahu bahwa kekasihnya itu sangat pencemburu tapi ia malah melakukan hal tersebut.


'Si pantat ayam itu kenapa bikin aku satu kelompok sama di kepala merah? Apa ada sesuatu yang sedang ia rencanakan? Tapi tetap saja aku gak rela satu kelompok sama laki - laki berwajah boyband itu. Huhu..,' batin Naruto sengsara.


Lain Naruto lain lagi Sasori. Ia sangat bahagia. Ternyata keberuntungan berpihak padanya. Ia akan menggunakan saat - saat bersama dengan gadis pirang incarannya sebaik mungkin untuk merebut hatinya.


"Ok. Masing - masing kelompok akan diberi tugas untuk membuat sebuah karangan fiksi dalam bahasa Inggris dengan tema beragam. Setiap kelompok harus membuat cerita yang berbeda," ujar Sasuke. Tanpa ada senyum dan ekspresi di wajah.


Semua murid diam dan paham dengan tugas dari sang guru muda itu. Lagipula hanya membuat karangan fiksi. Itu bukan tugas yang sulit. Lebih sulit tugas kimia dan juga matematika.


"Besok tugas itu harus selesai. Kumpulkan di meja ruang guru saya. Mengerti?" sahut Sasuke.


"Mengerti, Mr," jawab semua murid.


"Hn. Kalian bisa mengerjakannya sekarang!" perintah Sasuke.


Masing - masing anggota kelompok duduk berhadapan, tak terkecuali Naruto dan Sasori. Mereka duduk di tempat duduk Naruto di dekat meja guru. Sasuke risih melihat Sasori yang selalu mencuri pandang terhadap siswi manisnya itu.


"Hei, Ino. Kamu tahu gak? Kenapa Sasori satu kelompok sama Naruto?" tanya Sakura. Ia menjadi teman kelompok Ino.


"Entahlah. Mungkin hanya kebetulan," jawab Ino.


"Hm..aku yakin Mr. Sasuke punya rencana. Gak mungkin dia rela menempatkan pacarnya sama orang yang lagi pedekate dengannya," tambah Sakura. Ia semakin penasaran dengan ditempatkannya Naruto bersama Sasori dalam satu kelompok.


"Yang pasti Mr. Sasuke gak mungkin ngelakuin hal yang akan merugikannya." Sai yang kebetulan satu kelompok dengan Shikamaru dan posisi bangku mereka berdekatan juga ikut dalam percakapan mereka.


Shikamaru pun membuka suara. "Sudahlah. Yang Sai katakan itu benar. Lagipula kita juga tahu bagaimana posesifnya guru itu kepada siswinya kan," sahut Shikamaru.


Ino, Sakura dan Sai pun mengangguk paham. Guru mereka pasti sedang merencanakan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Shikamaru sudah mengantongi rencana pamungkas untuk menghadapi murid baru angkuh itu. Hanya tinggal menunggu waktu untuk melancarkan rencana tersebut. Naruto saja tidak diberitahu.


Saat ini siswi pirang kesayangan guru tampan itu tengah berpikir. Ia belum mendapatkan ide untuk membuat karangan. Apalagi teman satu kelompoknya tidak mengerjakan apa - apa. Ia hanya menulis yang tidak berguna.


"Ne, Sasori. Mau bikin karangan apa? Bantu mikir dong. Aku sama sekali gak punya ide," gumam Naruto. Ia memang tidak bisa berpikir. Sudah satu kelompok dengan murid baru yang menyebalkan ditambah lirikan tajam dari elang di depan sana yang juga tidak kalah mengganggunya.


Mata Sasuke tak henti - hentinya melirik gadis kesayangannya dan juga murid baru yang menjadi saingannya. Kebersamaan mereka sangat mengganggu pikirannya. Ia menyesal menempatkan kekasihnya dengan Sasori.


"Sial!! Aku gak bisa berpikir!" seru Naruto. Ia benar - benar tidak bisa memikirkan apapun tentang karangan yang ditugaskan oleh wali kelasnya itu.


Ting. Tiba - tiba Naruto mendapatkan ide. Ia sudah bisa menulis karangan padahal baru saja ia mengalami kesulitan dalam menulis. Ekspresi wajahnya serius. Ia juga tidak mempedulikan Sasori yang duduk di sampingnya.


"Naruto. Apa aku bisa meminjam pensilmu?" pinta Sasuke. Ya, dia mencari alasan untuk dapat berinteraksi dengannya.


Naruto mendongakkan kepalanya. Kemudian ia memberikan pensil cadangan yang ia bawa.


"Ini, Mr," ucap Naruto sebari menyerahkan pensilnya kepada sang guru muda yang tengah dilanda cemburu.


"Hn," gumam Sasuke.


"Hm," balas Naruto. Ia menatap gurunya dengan tatapan menantang.


'Rasain tuh cemburu. Salah sendiri bikin aku satu kelompok sama si kepala merah,' batin Naruto. Ia senang melihat kekasihnya dilanda cemburu.


Namun orang yang ia tatapi tak memasang ekspresi apapun. Tapi dari sorot matanya, Naruto merasa bahwa gurunya akan melakukan sesuatu di luar dugaannya.


Skip time. Di jam istirahat. Si gadis pirang berdango benar - benar mengalami hal yang ia pikirkan. Kali ini ia harus menghadapi tingkah konyol kekasihnya. Sasuke sedang merajuk dan juga marah kepadanya. Naruto sangat jengkel dan gemas akan tingkah kekasihnya yang sudah dewasa tapi berperilaku seperti anak kecil. Tapi Naruto harus sabar.


"Ne, Mr. Kenapa aku harus satu kelompok sama si kepala merah itu? Padahal Mr kan tidak suka kalau aku dekat sama dia," ujar Naruto. Ia mengusap rambut gurunya yang sedang berbaring di pangkuannya.


"Aku hanya mau mengerjainya saja," jawab Sasuke. Ia merasa nyaman dengan posisinya. Andai saja setiap malam juga bisa berbaring di pangkuan Naruto. Ia pasti akan tidur nyenyak.


"Tapi kan tetap saja. Aku tidak suka. Dia nyebelin banget, Mr. Oh iya tadi juga dia ngajak belajar kelompok di rumahnya," tambah Naruto. Sesekali ia melihat ponselnya. Kadang ia mengambil foto kekasihnya dan juga selfie bersama tapi tidak disebarkan di media sosial.


"Lalu? Apa kau menyetujui permintaan si bayi merah itu?" tanya Sasuke. Ia penasaran dengan jawaban Naruto.


"Ya..belajar kelompok di rumahku saja. Lagipula aku takut pergi ke rumah laki - laki yang baru ku kenal. Dan juga dia itu kan Sasori. Sasori. Murid baru yang berani nyatain cinta sama aku. Pacarnya wali kelasnya sendiri. Huh!" seru Naruto berapi - api meski di awal bicara ia biasa saja.


Sasuke tersenyum mendengar pernyataan dari kekasih pirangnya itu. Ia percaya kepada Naruto jika dirinya tidak mungkin dilepaskan hanya karena murid baru itu.


"Thanks, dango dobeku," gumam Sasuke sebari memeluk kekasih mungilnya. Naruto tersenyum dan merona.


🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑


Kedua murid SMA berbeda gender sedang sibuk bergulat dengan buku catatan mereka di belakang teras rumah. Naruto dan Sasori, mengerjakan tugas mengarang dari wali kelas papan triplek mereka.


Naruto menulis sambil meminum jus melon buatan ibunya. Terkadang ia tampak bingung untuk menyusun kata - kata dalam karangan bahasa Inggris. Sasori tak diam saja. Ia mengambil kesempatan untuk mencuri perhatian dari gadis pirang itu. Naruto hanya mengangguk dan menyetujui ide dari teman sekelasnya itu.


"Naruto, ada tamu," ujar Kushina. Ia muncul dari dalam rumah.


Naruto pun segera berdiri dan meninggalkan Sasori yang sedang menulis. Namun matanya tak henti memandangi gadis pirang berdango itu dari belakang.


Beberapa saat kemudian, Naruto kembali ke tempat mereka belajar kelompok. Sasori menoleh ke arah gadis itu. Ada yang berbeda dengan gadis yang hanya mengenakan kaos oblong warna putih bergambar karakter anime favoritnya dan celana training panjang berwarna biru dongker.


"Ada apa, Naruto san?" tanya Sasori. Ia heran pada perubahan sikap teman kelompoknya.


"Tidak ada apa - apa," jawab Naruto. Ia berjalan dan duduk kembali namun hal yang tak terduga terjadi. Sasori dibuat terkejut dengan keberadaan wali kelas mereka yang ada di belakang Naruto.


"Mr. Sasuke?" beo Sasori. Ia menatap tidak suka terhadap guru muda itu. Karena gadis incarannya seperti tertarik pada gurunya itu. Tentu saja Sasori tidak terima. Ia yang harus mendapatkan gadis pirang ceria itu. Bukan wali kelasnya yang suram, gelap, dingin dan datar.


"Hn," gumam Sasuke, sang tamu tak diundang. Ia duduk di dekat Naruto, menjaga siswi kesayangannya dari sang predator gadis manis.


"Nah..Mr. Sasuke akan membantu kita, Sasori - san. Benar kan, Mr. Sasuke," ujar Naruto. Ia mencolek pinggang kekasihnya. Hanya iseng saja ia melakukan hal itu.


"Ya. Karena Naruto adalah asisten berhargaku," balas Sasuke. Ia tersenyum tampan sebari memandangi gadisnya yang tersenyum polos. Tak lupa tangannya yang tidak bisa diam itu sedang menyentuh kedua dango di kepala pirang Naruto.


"Iih Mr. Jangan disentuh! Susah tahu bikin dango di kepalaku. Huh," ujar Naruto. Ketus.


Sasuke malah semakin gemas. Ia mencubit kedua pipi tembem kekasihnya tanpa sadar situasi. Sasori yang melihatnya hanya bisa diam mematung. Ia cukup pintar untuk membaca situasi dan adegan yang sedang ia saksikan dengan mata telanjangnya.


Terkadang Naruto bercanda dan mengisengi gurunya. Begitu pula Sasuke. Ia malah lebih ekstrim. Memegang tangan kekasihnya dan hampir mencium pipi si pirang jika Naruto tidak mencegahnya. Sasuke bersyukur karena Naruto memilih belajar kelompok di rumahnya bukan di rumah Sasori. Ia jadi bisa mengganggu kegiatan belajar mereka.


Si pemuda bersurai merah sudah habis kesabaran menyaksikan adegan yang menurutnya aneh dan menjijikan. Seorang guru memperlakukan siswinya dengan santai dan malah bercanda dengannya. Tak jarang mata mereka saling bertemu, tersenyum bersama, Naruto yang tersipu malu. Adegan yang harus ia dan Naruto lakukan berdua. Bukan dengan guru muda yang mengaku tampan dan jenius itu.


Sasori bangkit dari duduknya. Ia sudah tidak tahan dengan keadaanya. Lagipula ia masih mempunyai banyak rencana cadangan untuk mencuri hati gadis incarannya. Ia lebih baik daripada gurunya yang hanya seorang guru biasa. Sasori itu kaya. Ayahnya seorang pemilik perusahaan cukup ternama. Pantas jika ia sedikit sombong dan selalu membanggakan diri.


"Kamu mau ke mana, Sasori - san? Tugasnya kan belum selesai?" tanya Naruto.


"Kamu kerjakan satu halaman saja. Yang satu halaman biar aku yang ngerjain. Lagipula ini udah sore. Aku harus segera pulang," jelas Sasori dengan nada kecewa.


"Ok. Aku antar ya sampai depan," balas Naruto. Ia bangkit dari duduknya dan menarik tangan Sasuke. "Ayo ikut, Mr. Sekalian ke mini market. Aku mau beli ramen cup."


"Hn." Sasuke pun bangun dengan posisi tangannya yang masih dipegang erat oleh siswi cantiknya.


Sasori semakin panas dan cemburu. Ia tidak bisa membiarkan mereka menjadi semakin dekat hingga ke jenjang pacaran. Rasa cemburu ia tahan. Mungkin Naruto hanya menganggap wali kelasnya sebagai kakak laki - laki. Perbedaan umur mereka sangat mencolok jadi Sasori berpikir demikian.


🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎


Hari - hari berikutnya Sasori tetap mengerahkan kemampuan bujuk rayunya untuk mendapatkan gadis pujaannya. Tapi hasilnya nihil. Naruto masih tidak tergoda dengan semua usaha yang pemuda itu lakukan. Dari memberikannya boneka beruang besar berwarna pink dengan tulisan i love you, kue macaron berwarna warni, serta aksesoris perempuan beraneka ragam.


Sepertinya si murid baru raja gombal itu salah taktik. Ia tidak tahu jika Naruto adalah seorang otaku. Tidak terlihat ia seorang penggemar karakter anime dan manga. Dulu Sasuke mengambil hati kekasihnya dengan cara membelikannya manga dan juga berdandan seperti karakter anime kesukaannya. Tidak heran Naruto tak bisa tidak terpesona dan luluh dengan semua usaha yang Sasuke lakukan.


Tiap pulang sekolah Naruto selalu dihalau oleh Sasori dan mengajaknya pulang bersama. Untung saja tugasnya sebagai asisten guru bahasa Inggris membantu dirinya kabur dari jeratan rayuan maut yang tak berdampak apapun pada gadis pirang berdango itu.


Saat ini, Sasori tengah melamun. Teriakan para fg setianya tak ia hiraukan. Akhirnya si pemuda bermarga Akasuna itu merasakan perasaan yang bernama galau akibat ditolak oleh gadis incarannya. Seumur hidupnya ia selalu berhasil menggaet perempuan. Tak ada perempuan yang tak tertarik padanya.


"Aah..Naruto itu perempuan macam apa sih? Dia kan gak tomboy tapi semua hadiah dariku ditolak," gumam Sasori. Ia hampir menyerah mengejar gadis impiannya itu ia telah bertekad untuk mendapatkannya apapun yang terjadi.


Dua orang siswa berbeda surai berjalan menghampirinya. Sai dan Shikamaru. Mereka duduk si dekat Sasori yang sedang dilanda galau.


"Hei, Sasori. Tidak biasanya kamu diam gitu?" tanya Sai dengan senyum palsunya.


"Apa kamu masih ditolak sama Naruto?" Shikamaru ikut bertanya. Siswa berambut mirip nanas itu mendadak peduli terhadap teman sekelasnya yang baru dua minggu menjadi siswa di Konoha High School.


"Ya. Aku bingung harus pake cara apa lagi untuk ngedapetin hatinya. Semua cara sudah ku lakukan," jawab Sasori. Lemas dan tidak bersemangat.


"Kalo gitu, kamu nyerah saja. Bisa saja ia sudah punya orang yang ia sukai," sahut Shikamaru.


"Gak. Aku harus bikin Naruto klepek - klepek dan jadi milikku!" seru Sasori. Semangatnya kembali naik. Dari duduk menjadi bangkit.


Sai dan Shikamaru saling melirik dan tersenyum.


"Sasori, sebenarnya kami punya saran. Tapi terserah kamu. Mau ngikutin atau gak juga," ujar Shikamaru. Ia berbicara dengan nada serius.


"Eh? Saran apa? Mungkin bisa ku coba tuh saran darimu," balas Sasori penasaran.


"Begini lho. Sini dekatkan telingamu. Jangan sampai ada yang dengar. Ok?" bisik Shikamaru pada Sasori. Sasori mengangguk. Ia pun mendekatkan telinganya kepada kedua teman sekelasnya yang bersedia menolong dirinya dalam kesulitan dan kegalauan.


Shikamaru dan Sai pun membisikkan sesuatu kepada Sasori. Sasori terlihat tidak percaya dengan perkataan kedua teman sekelasnya tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum. Saran dari kedua temannya patut dicoba.


"Gimana, Sasori?" tanya Shikamaru memastikan keputusan akhir Sasori.


"Ok. Aku setuju saran dari kalian. Jadi kapan kita ke sana?" sahut Sasori. Ia sudah tidak sabar dengan rencananya.


"Besok pukul 11. Kita tunggu di depan KTM. Karena tempatnya tidak jauh dari situ," jawab Shikamaru.


"Yosh..tunggu aku, Namikaze Naruto. Kan ku buat kau bertekuk lutut di hadapanku dan mengemis cintaku. Hahaha.." ujar Sasori dengan penuh percaya diri.


Shikamaru tersenyum. Begitu pula dengan Sai.


'Pertunjukan akan segera dimulai,' batin Sai dan Shikamaru menyeringai licik.


🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Di akhir pekan yang selalu digunakan sebagai waktu untuk berlibur, beristirahat seharian di rumah dan juga hanya sekedar nongkrong di tempat - tempat tertentu. Begitulah yang saat ini terjadi. Para gadis yang berjalan melewati mereka selalu mencuri pandang terhadap ketiga pemuda tampan berbeda surai itu. Shikamaru, Sai dan Sasori. Ketiganya tengah berada di depan pintu masuk KTM. Penampilan mereka bertiga sangat menawan jadi tidak heran jika kaum hawa berbeda usia melirik ke arah mereka. Sayangnya lirikan itu tak mereka tanggapi kecuali Sasori. Ia selalu tersenyum kepada setiap wanita cantik yang tersenyum kepadanya. Senyuman yang membuat kaum hawa meleleh.


'Merepotkan,' batin Shikamaru.


"Sasori populer ya," gumam Sai sambil tersenyum palsu. Entah apa yang sedang ia pikirkan di balik senyum palsunya itu.


Sasori tetap tersenyum dan menyapa setiap gadis yang tersenyum padanya.


"Ya. Di kampung halamanku aku sangat terkenal. Semua gadis tergila - gila padaku dan ingin menjadi pacarku," jelas Sasori dengan bangganya.


"Wah..hebat sekali kau, Sasori!" puji Sai yang dibalas senyuman oleh Sasori.

__ADS_1


Tak jauh dari belakang mereka, sesosok anak laki - laki tengah memerhatikan mereka secara sembunyi - sembunyi. Terkadang para wanita dewasa meliriknya sebari mengatakan "kya..kawaii na otoko ne..". Hal itu membuat si anak laki - laki terganggu. Ia tidak mau penyamarannya terbongkar. Lagipula laki - laki dengan tinggi 155 cm pasti dianggap bocah SMP atau SD padahal dirinya sudah menginjak bangku SMA.


"Huh. Susah kalo jadi orang pendek," gumam sang bocah laki - laki. Topi berwarna biru tuanya tak menutupi sepasang mata saphirenya mengamati ketiga sosok pemuda yang tak jauh darinya. "Mereka udah mulai jalan. Aku nggak boleh kehilangan jejak mereka," ujar bocah pirang itu.


Sang bocah imut bersurai pirang itu terus melangkah mengikuti ketiga pemuda yang sedari tadi ia amati. Rasa penasaran telah menggerogotinya hingga ia tanpa malu mengikuti mereka walau dianggap sebagai penguntit.


"Tuh orang kalau dipukul dan ditendang boleh gak ya? Ngaku cinta tapi semua perempuan ia rayu," gumam sang bocah. Ia sangat bersyukur dengan sikapnya yang selama ini ia lakukan terhadap salah satu pemuda di antara ketiga pemuda yang tengah ia intai.


Sang bocah terus melangkah seperti maling. Kaca mata beningnya yang hanya berperan sebagai aksesoris sesekali ia perbaiki posisinya. Ia tak mau penyamarannya terbongkar. Susah payah ia merayu dan membujuk temannya untuk mendapatkan informasi mengenai rencana rahasia itu. Meski hanya sedikit tapi ia bersyukur. Jadi sekarang ia hanya mengikuti kelanjutan rencana tersebut.


Sret. Topi yang sedang bocah laki - laki itu pakai ditarik oleh seseorang yang ada di belakangnya. Surai pirang panjang yang tersembunyi di balik topi pun terurai dengan indahnya. Sontak sang bocah terkejut dan menengok ke belakang pada sosok pelaku yang telah berani membongkar penyamarannya yang telah ia lakukan susah paya.


"Hei..kau..!" seru bocah itu yang tadinya ingin marah tapi tidak jadi karena pelakunya adalah orang yang sangat ia kenal dan tidak ingin ia temui hari ini.


"Sst. Nanti mereka dengar, dobe," gumam pemuda bersurai raven berrambut pantat ayam yang tak lain adalah Uchiha Sasuke, kekasih dari sang bocah laki - laki itu. Bukan laki - laki lagi karena penyamarannya telah terbongkar.


"Aku tidak dobe, teme!" bantah Naruto. Ia tak terima selalu dipanggil dobe setiap saat oleh kekasihnya yang kelebihan hormon dan selalu mesum itu. Bocah laki - laki itu adalah Naruto yang sedang menyamar. Ia tidak punya rambut palsu jadi memakai topi dan memasukkan semua rambutnya ke dalam topi(author pernah melakukan hal itu. Hehe).


"Diam, Naruto sayang.." gumam Sasuke dengan seringai jahatnya yang berhasil membuat si gadis pirang diam dan merasakan seluruh bulu kuduknya merinding. "Bagus. Kita ikuti saja mereka," tambah Sasuke. Ia pelan - pelan melangkah sebari menggenggam tangan kekasihnya.


"Rambutmu ikat, dobe," ujar Sasuke. Naruto mengangguk. Ia hanya mengepang rambutnya asal tapi terkesan manis di mata kekasihnya.


"Sudah. Ayo, teme! Nanti kita ketinggalan jejak," ujar Naruto. Kali ini ia yang memegang tangan Sasuke. Sasuke masih tak bisa berkedip dengan penampilan manis kekasihnya. Meski tampak tomboy tapi tetap saja manis. Kacamata yang dipakainya juga membuatnya semakin manis meski pakaiannya sangat tidak sesuai dengan gaya rambutnya.


Ketiga pemuda berbeda surai memasuki sebuah toko unik. Toko yang bertuliskan "Maho" yang berarti ajaib. Naruto curiga dengan toko itu. Ia merasa tidak pernah ada toko ajaib.


"Ne, Sasuke - kun. Apa yang sedang kau rencanakan sih? Kenapa gak mau bilang sama aku? Pelit amat," gumam Naruto. Ia bersembunyi di balik dinding toko do seberang toko maho tersebut.


"Kau lihat saja nanti, Naruto," balas Sasuke. Ia berada di dekat Naruto.


"Huh," gumam Naruto kesal.


Di dalam toko tersebut, Sasori tak henti - hentinya memandangi seiisi toko yang berisikan barang - barang magis seperti jimat, mantra ajaib dan barang - barang lain yang sangat unik.


"Selamat datang," sapa seorang gadis penjaga toko. "Ada yang bisa kami bantu?"


"Maaf, nona. Kami ingin bertemu dengan pemilik toko ini. Tolong katakan jika kami adalah saudara dari Shikadai yang telah dibantu," ujar Shikamaru.


"Baik, tuan. Tunggu sebentar," jawab pelayan manis itu. Sasori sempat mengedipkan mata kepada gadis penjaga toko tapi tak dihiraukan.


"Huh." Sasori mendengus. Sai dan Shikamaru yang selalu menyaksikan aksi Sasori hanya bisa menepak jidat mereka. Untung saja teman pirang mereka tidak menyukainya. Kelakuan Sasori mirip playboy cap ikan sarden. Sungguh mengesalkan.


Tak lama seorang wanita muda seusia dengan Sasuke datang ke arah mereka. Penampilannya sangat unik dan mirip dengan peramal.


"Hm..sepertinya ada yang sedang galau," ujar wanita itu.


"Wah. Nona benar," balas Sasori. Ia langsung meraih tangan wanita itu dan dihadiahi tamparan keras yang membekas di pipi putihnya.


"Ayo masuk ke dalam," pinta sang wanita peramal. "Kalian bertiga. Aku kurang suka dengan laki - laki yang tidak bisa diam."


Sai, Shikamaru dan Sasori pun berjalan mengikuti wanita peramal itu berjalan. Mereka memasuki sebuah ruangan yang minim cahaya.


"Pasti pemuda berambut merah ini yang sedang dalam masalah. Aku benar kan?" tanya wanita peramal itu.


"Ya. Anda benar, nona," jawab Sasori. Ia kagum.


"Jangan panggil aku nona. Panggil aku Majorika. Nama lainku di sini," ucap Majorika.


"Baik, Majorika - san," balas Sasori sebari menebar senyum.


'Kalo gak demi calon adik ipar, mana mau aku dandan kayak gini. Lihat bocah yang hobinya tebar senyum pula. Tapi..sekalian saja ku tambahin rencananya. Biar tahu rasa nih bocah,' batin Majorika. Ia tersenyum sinis.


Majorika pun duduk di depan meja yang terdapat sebuah batu kristal. Disusul oleh Sasori. Ia duduk di hadapan Majorika. Sedangkan Sai dan Shikamaru berdiri di samping Sasori. Keduanya tampak serius memerhatikan wanita peramal dan teman sekelas mereka.


"Jadi..kau selalu ditolak oleh gadis itu," ujar Majorika. Ia menerawang ke dalam bola kristal.


"Benar, Majorika - san. Aku bingung. Sudah semua cara aku lakukan tapi hasilnya gagal. Padahal aku sangat mencintai gadis itu," tambah Sasori. Ia menjelaskan segala keluh kesahnya kepada sang peramal cantik itu.


Majorika mengangguk. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan mengambil selembar kertas berwarna kuning dan pena biru. Lalu ia duduk kembali. Setelah beberapa saat mengusap bola kristal, Majorika segera menuliskan sesuatu di atas kertas kuning itu.


Sasori penasaran dengan apa yang peramal itu tulis tapi ia tak berani bertanya. Ia hanya diam dan berpikir positif. Pilihan datang ke tempat peramal tidaklah buruk untuk mengambil hati gadis pujaannya.


"Ini untukmu," ujar Majorika. Ia memberikan selembar kertas tadi kepada Sasori.


Sasori menerimanya dengan senang hati. Ia yakin akan bisa mendapatkan Naruto.


"Jangan dibuka di sini. Hafalkan mantra yang ada di kertas itu. Kau boleh membukanya setelah sampai di rumah. Oh iya. Lakukan hal - hal yang tertulis di kertas itu di tempat gadismu berada," ujar Majorika meyakinkan. Tak raut wajah ragu - ragu.


"Baik, Majorika - san," jawab Sasori. Patuh.


"Harus dilakukan di depan orang banyak untuk membuktikan perasaan cintamu padanya. Lakukan semua hal yang tertulis di kertas itu!" tambah Majorika.


"Baik. Yos..aku pasti berhasil," ujar Sasori. Ia tersenyum jahat seraya bergumam sendiri, "nah..rubah manisku, kau akan segera jadi milikku. Muach." Sasori menciumi kertas yang berisi mantra cinta yang diberikan oleh peramal cantik Majorika.


Sementara itu kedua pemuda yang tepat berdiri di belakang Sasori memandanginya dengan tatapan tidak suka dan kesal.


'Cinta ditolak, dukun bertindak,' batin Sai. Tetap tersenyum.


'Merepotkan. Demi cinta segala cara dilakukan. Udah jelas Naruto gak suka. Masih saja maksa,' batin Shikamaru.


Sasori berdiri. "Terima kasih, Majorika - san. Berapa aku harus membayar ini?" tanya Sasori dengan bangga.


"Hm. Kau cukup membayarku seikhlasnya. Aku pastikan jika gadis itu akan menjadi milikmu dan sikapnya akan berubah," jawab Majorika.


"Ok. Ini," balas Sasori. Ia memberikan beberapa lembar uang yang cukup besar untuk dimiliki oleh siswa SMA seumurannya.


Majorika menerimanya. "Terima kasih."


Sasori tersenyum dan bersemangat. Rasa galaunya sudah hilang. Ia hanya harus mempraktekan semua hal yang tertulis di atas kertas itu.


Mereka bertiga pun ke luar dari toko ajaib. Naruto dan Sasuke segera bersembunyi agar keberadaan mereka tidak diketahui oleh Sasori dan kawan - kawan.


Setelah tiga pemuda berada jauh dari toko, Naruto dan Sasuke ke luar.


"Mereka udah ngapain ya? Aku penasaran," gumam Naruto.


"Ayo masuk ke toko itu!" perintah Sasuke. Ia menarik tangan kekasihnya dan menyeretnya untuk masuk ke dalam toko.


"Selamat datang," sapa gadis pelayan.


Naruto takjub melihat isi toko. Tapi perasaannya tiba - tiba berubah. Ia jadi merasa akan ada kejadian buruk yang akan menimpanya.


"Akhirnya dalang pembuat rencana datang juga," ujar seorang perempuan yang tak lain adalah Majorika.


"Aku hargai usahamu, Temari," ucap Sasuke. Ia berdiri sebari melihat - lihat pernak pernik di dalam toko.


"Eh? Apa maksudmu, teme?" beo Naruto. Ia tidak mengerti.


Majorika atau identitas aslinya adalah Temari, tertawa. Ia merasa senang karena telah menipu laki - laki penghancur hati wanita itu, Akasuna Sasori.


"Temari berperan sebagai peramal. Dia memberikan mantra cinta pada si kepala merah itu, sayang," jelas Sasuke sebari mengusap kepala Naruto.


"Eh?! Gimana kalo aku jadi suka sama dia? Gak mau, teme!" seru Naruto. Ia membayangkan hal yang tidak - tidak jika dirinya kepincut oleh murid baru yang super menyebalkan.


"Kau tenanglah, Naruto - chan. Mantra itu tidak akan berpengaruh apa - apa. Itu hanya tulisan dari seorang peramal yang sama sekali bukan peramal. Hihi," ujar Temari.


Naruto semakin bingung dengan apa yang sedang terjadi.


"Kita lihat saja nanti di sekolah. Ia pasti akan mendapatkan akibatnya karena telah meremehkan perasaan dan selalu mengatasnamakan cinta," tambah seorang gadis dengan pakaian pelayan.


"Lho? Kok kayak suara Gaara? Kamu bukan Gaara yang lagi nyamar kan?" tanya Naruto kepada gadis pelayan itu.


"Hahaha. Ya ini aku, Naruto," jawab Gaara dalam keadaan crossdressing.


"Kyaa...!!" Naruto menjerit hingga membuat telinga ketiga orang yang ada di dalam foto mendenging.


"Jangan berteriak, dobe!" ujar Sasuke. Ia terkadang risih dengan teriakan cempreng kekasihnya. Untung sayang.


Naruto mengambil ponsel di saku celana jeansnya lalu mengambil foto Gaara.


"Apa yang sedang kau lakukan, Naruto?! Jangan foto aku!" seru Gaara. Wajahnya merona karena malu.


"Biarin. Soalnya Gaara manis. Lain kali Sasuke - kun juga crossdressing ya. Pasti lebih cantik dan manis dari Gaara!" seru Naruto. Ia tertawa sebari berselfie ria dengan Gaara dan Temari.


Sasuke menggelengkan kepalanya dan memijit keningnya saat melihat tingkah konyol gadisnya yang sedang dalam mode otaku.


"Aku tidak akan pernah bercrossdressing, Naruto," ujar Sasuke sebari menarik tubuh Naruto ke pelukannya sehingga dada bidang Sasuke yang tertutupi kaos dan sweater berwarna navy mengenai kepala kuning kekasihnya.


"Ah. Teme!" seru Naruto. Wajahnya merona seketika. Ia menoleh ke belakang tepat di depan wajah Sasuke yang terlihat semakin tampan.


"Kau saja yang memakai pakaian imut itu, dobe," gumam Sasuke. Ia tersenyum tampan. Wajahnya sangat dekat dengan Naruto.


"A...aku..aku.." Naruto mendadak gagap. Setelah menjadi kekasih beberapa bulan tapi ia tetap gugup menghadapi kekasihnya.


"Nah. Ayo ganti bajumu, Naruto. Kau tidak pantas dengan pakaian laki - laki itu. Apalagi tadi. Kau dilihat oleh para pria menyimpang yang memandangimu seperti seorang uke dan jadi sasaran mereka," tambah Sasuke. Ia menyerahkan kekasihnya kepada Temari. Kebetulan di toko itu tersedia beberapa pakaian perempuan dengan desain yang manis dan berenda.


Beberapa saat kemudian, Naruto sudah berganti pakaian. Rambutnya menjadi dango lagi karena itu adalah ciri khasnya. Pakaiannya sudah diganti dengan pakaian yang lebih pantas Naruto kenakan. Ia mengenakan setelan pakaian bergaya lolita sederhana berwarna biru muda. Hanya rok berenda di bagian bawahnya yang memberi kesan imut.


"Ano..bagaimana, Sasuke - kun? Gak cocok ya? Aneh ya?" tanya Naruto. Ia heran melihat respon dari kekasihnya yang hanya diam mematung sebari memandanginya dengan rasa takjub. Temari tersenyum begitu pula Gaara. Keduanya sudah berganti kostum.


Sasuke berjalan ke tempat Naruto berdiri. "Ka..kau sangat manis dan imut, dobe dango," gumam Sasuke. Ia meraih sebelah tangan kekasih manisnya seraya berkata, "ayo pergi, Naruto!"


"Ke mana?" beo Naruto.


"Ke K.U.A," jawab Sasuke singkat.


"Oh," gumam Naruto mengerti namun ia baru sadar jika kata yang dilontarkan oleh kekasihnya adalah tempat menikah.


"Eh?! Aku belum siap nikah, teme pantat ayam!!" seru Naruto. Ia belum siap menikah.


"Memang siapa yang mau menikahinu yang masih jadi siswi SMA sekarang? Aku gak akan menikahimu sebelum kau lulus SMA, dobe," jelas Sasuke sebari mencubit pipi tembem kekasihnya yang menggemaskan.


"Iih.." gumam Naruto tidak jelas.


Sasuke mengusap kedua dango miliknya. Temari heran dengan tingkah teman kuliahnya yang ke luar dari karakter aslinya dan sangat berbeda saat di kampus dulu. Meski Temari hanya mengenal dari Shikadai, kekasihnya, karena Sasuke murid jenius yang tidak lama kuliah bersama mereka tapi Temari cukup mengenal Sasuke. Pemuda yang selalu bersikap dingin dan menolak setiap gadis yang mendekatinya.


"Gadis itu sangat istimewa bagi si pemuda es kutub itu," gumam Temari sambil tersenyum.


"Temari - nee benar. Naruto adalah berlian Sasuke - san," tambah Gaara.


Pasangan sasunaru pun terus becanda. Lalu mereka ke luar dari toko maho a.k.a toko aksesoris biasa bukan toko barang magis.


"Ne, Sasuke - kun," gumam Naruto. Ia berjalan sebari menggenggam tangan Sasuke.


"Hn."


"Huh. Selalu saja hn," ujar Naruto. Ia kesal.


"Apa dango manisku?" tanya Sasuke sontak membuat jantung Naruto berdetak lebih kencang dan wajahnya yang semakin merona.


"A..aku tidak tahu apa rencanamu tapi terimakasih. Aku yakin kalau Sasuke - kun sudah menjalankan rencana yang briliant," jelas Naruto. Ia tersenyum bahagia. Semakin cantik.


"A..ah..iya, Na..ruto," balas Sasuke. Ia juga merona dan agak gugup. Meski tidak segugup Naruto. Keturunan Uchiha dilarang keras untuk merasa gugup jadi sebisa mungkin Sasuke tidak boleh menunjukkan ekspresi itu dengan jelas.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2