
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjem
Pair sasufemnaru
Genre sekolah, hurt, cinta
Gaje, typo, dan ooc
Terinspirasi dari pengalaman thor waktu smp dan sma
Happy Reading
Bel istirahat pun berbunyi. Seluruh siswa ke luar dari dalam ruang kelas mereka. Tak terkecuali bagi Naruto. Ia begitu semangat untuk segera istirahat dan memakan bekal yang ibunya buatkan. Terdengar seperti anak SD saja. Namun hal yang paling ia tunggu adalah membaca manga online pada smartphonenya.
Ia berjalan melewati ruang guru seorang diri karena kedua temannya sudah pergi ke kantin. Ia memilih memakan bekalnya di taman belakang sekolah karena tempatnya sangat indah dan tenang.
Tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
"Aaw..sakit. Maaf. Aku tidak sengaja." ucap Naruto sambil mengusap bokongnya yang sakit terkena lantai. Ia merogoh saku roknya takut hpnya jatuh.
"Untung hpku tak kenapa- kenapa." kemudian Naruto mendongak ke atas. Ternyata orang yang ia tabrak adalah wali kelas barunya.
Kedua pasang mata mereka bertemu. Biru ketemu hitam. Naruto tak mau terlalu lama memandangi wajah guru baru itu. Begitu pula sang guru muda yang baru ia tabrak.
"Hn." gumam pemuda berambut emo a.k.a Uchiha Sasuke seorang wali kelas Naruto.
Naruto berdiri sendiri. Sedangkan sang wali kelas berjalan melewatinya tanpa kata.
'Dia tampan tapi dingin banget sikapnya. Dasar, ' batin Naruto.
Naruto langsung mengambil bekalnya yang terjatuh. Untung saja bekalnya tidak apa - apa dan masih bisa dimakan. Naruto terus mengumpat dalam hati. Ia tak mau menganggap guru barunya itu tampan karena ia masih trauma menyukai pemuda tampan. Ia bertekad tidak akan jatuh cinta pada seorang pria kecuali kalau sudah lulus sekolah nanti.
Naruto berjalan sambil bersenandung ria. Dari kejauhan si guru baru memandangi Naruto dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
'Gadis yang aneh. Model rambut seperti dango ditwintail. Aneh,' batin Sasuke.
Naruto pun sampai di taman belakang. Ia langsung membuka bekal dan smartphonenya. Pertama - tama ia makan bekal lalu setelah makan ia membaca manga online lewat smartphonenya. Ia senyum - senyum sendiri tak jarang ia tertawa ketika menatap layar smartphonenya.
Begitulah rutinitas Naruto setiap jam istirahat selain makan di kantin dengan Hinata dan Ino.
Bel masuk berbunyi saat Naruto melewati ruang guru. Ia bertemu lagi dengan orang yang tadi ia tabrak. Naruto menundukkan kepala memberi salam kepada sang guru baru itu. Sang guru hanya diam dan berjalan ke depan melewati Naruto.
'Dasar guru aneh. Rambut model pantat ayam. Padahal guru, ' batin Naruto. Ia berjalan masuk ke ruang kelasnya.
'Kenapa harus ketemu dia lagi sih? Guru yang gak ramah, jutek, dingin dan aneh,' batin Naruto.
Naruto terus menggerutu selama dalam perjalanan ke kelas.
"Naruto, tadi kamu gak nyusul kita ya?" ucap Ino yang sudah duduk di kursinya.
"Maaf, Ino. Tadi aku keasyikan baca manga. Maaf banget ya.." jawab Naruto.
Sepulang sekolah. Naruto pulang bersama Hinata. Ketika akan sampai di halte, sang guru baru melewati mereka dan murid - murid yang lain. Naruto baru ingat kalau pengendara motor yang hendak menabraknya adalah guru baru itu. Naruto malah membuang muka saat siswi lain menyapa sang guru tampan yang melewati jalan itu.
'Gak sopan sekali - kali mah gak apa - apa kali.' batin Naruto. Ia masih kesal dengan kejadian tadi pagi saat ia hampir ketabrak wali kelasnya.
"Ne, Naruto." gumam Hinata. Ia heran pada sikap teman pirangnya.
"Hm." sahut Naruto masih kesal.
"Kamu kenapa? Diem terus dari tadi. Bentar lagi bus datang lho. Jangan ngelamun terus." ujar Hinata memperingati Naruto.
"Iya..Hinata - chan." jawab Naruto tersenyum.
Tak lama bus pun datang. Naruto dan Hinata pun menaiki bus itu. Tak lama mereka pun tiba di gang dekat rumah mereka. Rumah Naruto dan Hinata searah jadi hampir setiap hari mereka pulang pergi sekolah bersama.
Naruto pov
Hari ini aku pulang dengan perasaan tidak enak. Seharian ini aku sial terus. Hampir ditabrak motor terus ditabrak sama yang punya motornya juga. Benar - benar sial. Semoga aja di rumah gak ada kejadian sial lagi.
Aku sudah sampai di depan pintu gerbang rumah orang tuaku. Aku masuk seperti biasa.
"Tadaima." aku mengucapkan salam saat masuk ke rumah. Tidak ada jawaban. Mungkin kaachan sedang pergi. Aku langsung masuk ke dalam kamar. Ingin segera mandi dan berganti pakaian. Badanku penuh keringat. Jadi setelah aku meletakan seragam dan tas, aku segera memakai handuk yang tadi aku ambil untuk segera mandi.
Naruto pov end
Sementara itu di kediaman Uchiha Sasuke. Rumah kontrakan kecil yang sederhana namun rapih dan bersih. Karena Sasuke tinggal seorang diri jadi ia menyewa sebuah rumah kecil. Ia enggan tinggal dengan orang tuanya karena ia ingin hidup mandiri.
Sasuke pun membuka kunci pintu rumahnya setelah memasukkan motor ke dalam teras rumahnya tak lupa ia gembok motornya. Takut motornya hilang.
Sasuke pov
Jadi guru tidak semudah yang ku kira. Apalagi harus menghadapi para siswi yang centilnya minta ditampar. Tapi aku harus sabar.
Daripada harus diam di rumah dan dijodohkan dengan gadis pilihan kaasan lebih baik aku tinggal di sini dan jadi guru. Mungkin terdengar pengecut tapi kaasan dan tousan menyetujui pilihanku. Yang penting aku tidak berbuat nakal. Makanya tousan menyuruhku untuk menjadi seorang guru agar bisa membuatku menjadi orang yang lebih baik dan bisa bersosialisasi.
Memang jadi guru adalah profesi terbaik untuk menjadikanku lebih hidup. Begitu kata kaasan. Kaasan pikir aku ini robot. Ya ku akui aku memang tidak banyak bicara. Punya teman juga hanya 1 atau 2. Pacaran juga tidak pernah. Mereka hanya melihatku dari penampilan dan wajah saja. Menyebalkan rasanya.
Zaman sekarang mana ada perempuan yang mau mencintai pria apa adanya. Ah, nanti juga ketemu ini sama perempuan yang jadi jodohku.
Sasuke pov end
Dret dret. Ponsel pintar Sasuke bergetar. Terpampang di layar tertulis kaasan memanggil.
"Moshi moshi kaasan. Ada apa?" tanya Sasuke santai.
"Apa begitu jawabanmu saat kaasan menelepon? Kaasan merindukanmu, nak. Kenapa kau harus tinggal sendiri? Ditambah..rumah yang kau diami juga kecil." kata ibunya Sasuke a.k.a Mikoto dari telepon.
"Kaasan, aku hanya ingin hidup mandiri. Lagipula rumah kecil ini nyaman dan tidak susah untuk dibersihkan. Kaasan tenang saja." jawab Sasuke. Ia menghela nafas berat. Ibunya terlalu mengkhawatirkannya. Ia bukan seorang gadis, ia adalah seorang pria dewasa yang bisa menjaga diri dan juga mengurus semuanya sendiri.
"Syukurlah kalau kau tidak kesusahan. Oh iya. Apa kau dapat pacar? Gadis SMA itu istimewa lho. Sedang mekar - mekarnya."
"Apa maksud kaasan? Aku harus dapat pacar dari muridku sendiri? Mereka masih sangat muda dan labil."
"Tapi...ada kan yang mampir di hatimu. Ayolah, nak. Kakakmu kan sudah punya calon, sekarang kau juga harus punya."
"Nanti juga ada, kaasan. Aku belum menemukannya."
"Kau ini. Selalu saja cari alasan. Memangnya kau mau gadis seperti apa? Kau tampan, pintar dan sempurna, nak."
"Aku hanya ingin mendapatkan gadis yang beda dengan gadis lain. Mereka semua sama. Hanya cari perhatian dan jaga image."
"Ooh..ya sudah. Kalau dapat, beritahu kaasan ya. Sudah dulu ya. Jaa.."
Telepon ditutup. Sasuke sedang dalam posisi tertidur di atas tempat tidur yang hanya cukup satu orang. Kamarnya juga tidak begitu luas tapi nyaman, rapih dan bersih untk ditinggali seorang pria lajang.
__ADS_1
'Perempuan. Mahluk aneh yang mudah terpesona hanya dari penampilan luarnya saja.' batin Sasuke. Tak lama ia tertidur karena kelelahan mengajar seharian. Besok ia mengajar lagi.
Keesokan harinya. Naruto sudah berada di ruang kelasnya. Jam pelajaran pertama adalah jam olahraga jadi semua siswi berganti pakaian di ruang ganti. Termasuk juga Naruto. Ia malas ikut pelajaran olahraga. Karena ia payah dalam bidang olahraga apapun. Mungkin hanya berjalan jauh saja ia kuat. Ia sangat tidak bersemangat.
"Jangan lesu gitu dong, Naruto. Olahraga itu harus semangat." ujar Ino menyemangati Naruto yang semangatnya sisa 5%.
"Aku malas, Ino. Tapi..harus ikut pelajaran ini. Terpaksa." sahut Naruto malas.😑
Ino dan Hinata menarik tangan Naruto pelan. Naruto pasrah saja saat kedua temannya menariknya. Mereka telah berada di lapangan sekolah. Semua siswa siswi telah berkumpul.
"Naruto, tolong panggil Guy Sensei. Tumben sekali guru heboh itu belum datang!" perintah gadis berambut merah muda a.k.a Haruno Sakura.
"Kenapa aku? Kan masih ada murid lain." tolak Naruto. Paling malas dan juga malu ke ruang guru. Ia selalu dijadikan bahan candaan para guru karena gaya rambutnya yang unik yaitu diikat dua dengan berbentuk kue dango di atas rambutnya.
"Kamu kan dekat sama Kakashi sensei." sambung Sakura tak mau kalah.
"Lho? Beliau itu guru t.i.k. apa hubungannya coba." tambah Ino sedikit kesal.
"Ya aku ke ruang guru dulu." gumam Naruto. Ia lebih baik mengalah daripada harus berdebat. Capek berdebat sama Sakura yang cerewetnya minta ampun.
Naruto tiba di ruang guru. "Permisi." Naruto memberi salam lalu ia membuka pintu ruang guru.
"Ma..maaf. Apa Guy sensei sudah datang? Sekarang jam pelajaran beliau." ucap Naruto agak malu bicara dengan guru yang ada di ruang guru.
"Beliau izin. Ada urusan penting yang mendadak jadi tidak bisa datang." jawab Shizune sensei.
"Eh? Berarti..jam pertama kosong dong. Asyik." ujar Naruto. Ia lupa sedang berada di ruang guru.
"Kelasmu tetap belajar. Tidak ada jam kosong yang terlewatkan. Aku yang akan menggantikan beliau mengajar." ucap seseorang yang ada tepat di belakang punggung Naruto.
Naruto membalikkan badannya. 'Mati aku.' gumam Naruto dalam hati.
"Pegang bukuku!" perintah suara itu yang ternyata suara milik sang guru baru Mr. Sasuke dengan nada datarnya.
"Ayo ke luar. Jangan diam saja." ujar Sasuke.
Naruto pun berjalan di belakang menyusul sang guru baru.
'Dia kan guru bahasa Inggris. Kenapa mau repot - repot mengajar pelajaran yang bukan seharusnya, ' batin Naruto.
Terlihat seorang pemuda tampan berambut emo yang berjalan menuju lapangan. Ia dibuntuti oleh seorang siswi didiknya.
'Tahu gini, aku yang tadi ke ruang guru.' batin Sakura kesal.
"Kau, rambut dango. Absen dulu teman - temanmu." gumam Sasuke dengan nada datar.
Sasuke memerhatikan muridnya satu per satu. Ada yang memberikan tatapan genit, memuja dan juga gugup. Sasuke itu manusia, kenapa mereka sampai gugup dan tegang begitu? Berlebihan sekali. Pandangannya berhenti saat ia melihat anak didiknya dengan gaya rambut yang cukup unik. Rambut apa kue dango? Pikirannya saat melihat gaya rambut Naruto.
"Kau." ucap Sasuke.
Semua murid diam dan heran. Mereka tidak tahu siapa yang dipanggil sang guru.
"Hn. Yang rambutnya pirang dan ada kue onde di kepala." tambah Sasuke.
Naruto terkejut. Yang punya rambut pirang kan bukan hanya dia tapi yang gaya rambutnya mirip kue onde, eh kue onde. Memang makanan.
"Sa..saya, Mr?" tunjuk Naruto pada dirinya sendiri.
"Ya. Namamu?" tanya Sasuke.
"Na..Namikaze Naruto." jawab Naruto gugup dan tegang.
"Eh?!" mata Naruto terbelalak. "Ya..yang benar saja? A..aku tidak bisa, Mr. Orang lain saja ya." tolak Naruto. Ia malu kalau harus berdiri di depan teman - temannya. Ia menderita demam panggung. Meski hanya berbicara di depan kelas saja ia sudah tegang, grogi dan panas dingin. Apalagi disuruh memimpin gerakan senam yang harus menggoyangkan badan.
"Tidak ada penolakan!" ujar Sasuke dengan nada mengintimidasi.
Naruto merasa takut. Terpaksa ia menuruti perintah sang guru. "Ta..tapi..gerakan dan lagu terserah saya ya, Mr?" pinta Naruto yang dibalas anggukan oleh sang guru.
"Ok. Aku mau lagu anime ah!" seru Naruto dengan seringai jahil. Ia berniat mengisengi teman - temannya.
Kiba pun menyetel lagu di sound tapi bukan lagu yang Naruto inginkan. Malah lagu dangdut.
'Apa?! Tu..tunggu. Ini kan senam. Bukan joged. Masa harus dangdutan sih?! Lagu jaran goyang lagi.' batin Naruto kecewa, terpuruk dan menderita.
"Naruto! Cepat maju!" seru murid yang lain.
"Semangat, Naruto!!" seru Ino dan Hinata.
'Kalian bahagia di atas penderitaanku. Tega. Tuhan akan mengabulkan do'a orang teraniaya. Semoga sebentar lagi aku bisa bertemu pangeran tampanku. ' batin Naruto. Ia berjalan melewati barisan teman - temannya.
Kini ia telah berdiri di depan semua temannya. Rasa gugup mendatangi dirinya. Keringat dingin mengalir. Naruto tersenyum pilu. Mukanya sudah mulai merona karena malu. Ia berusaha untuk tidak tegang. Ia menarik nafas dalam - dalam. Tiba - tiba lagu yang diputar berubah. Dari lagu dangdut malah menjadi lagu kesukaan Naruto yang notabene seorang otaku.

"I..ini kan lagu favoritku." gumam Naruto tidak terlalu tegang. Ternyata Ino yang mengganti lagunya. Ia tidak mau teman sebangkunya menderita. "Arigatou, Ino." Naruto tersenyum pada Ino.
"Namikaze. Waktunya keburu habis." ujar Sasuke jenuh.
"Siap, Mr." sahut Naruto. Ia tersenyum manis pada sang guru. Sang guru mendadak merasakan sesuatu yang aneh saat melihat anak didiknya berambut pirang itu tersenyum padanya. Senyum asli bukan senyum palsu. Sasuke terpesona.
Naruto pun memulai gerakan senam dimulai gerakan jalan di tempat, lalu kedua tangan diletakkan di sisi pinggang. Gerakan berganti setelah Naruto menghitung 1 sampai 8 selama 2 kali. Naruto juga menambahkan gerakan senam itu seperti gerakan menari ala boyband negeri seberang yang khas dan sangat amatir. Ia sangat menikmati alunan lagu itu. Yang bernyanyi dalam lagu itu kan laki - laki semua. Versi live action anime favoritnya.
Tak lama kemudian, gerakan senam Naruto yang jauh dari kata sempurna selesai. Sasuke masih memerhatikan Naruto dari awal gerakan senam pemanasan sampai pendinginan yang menghabiskan waktu 15 menit dan 3 lagu. Terkadang Sasuke terkena helaian rambut pirang Naruto yang amat panjang. Sasuke kesal dan Naruto merasa sangat menyesal tapi kan gurunya yang salah karena berdiri terlalu dekat dengannya.
"Sisa waktu pelajaran ini kalian bisa gunakan untuk olahraga yang lain. Tapi tidak boleh ada yang kabur dan ke kantin. Kalau sampai ada yang bolos, kalian akan terkena hukuman." ujar Sasuke dengan tegas.
"Baik, Mr." jawab semua murid.
Sasuke duduk di pinggir lapangan. Ia memeriksa daftar absen dan agenda pelajaran olahraga yang ia dapatkan dari atas meja Guy sensei. Guy sensei yang memintanya untuk menggantikan tugasnya untuk sehari saja. Kebetulan jam pelajaran pertama Sasuke kosong. Pandangan Sasuke tertuju pada semua tulisan di kertas tapi ia tanpa sengaja menoleh ke arah para siswi yang sedang bermain futsal. Di sana ada Naruto yang ikut bermain futsal. Ia sedang menjadi kiper dan selalu saja kebobolan. Mungkin karena tubuhnya yang tidak tinggi.
Sesaat Sasuke tersenyum melihat tingkah Naruto yang konyol menurutnya. Rambut twintailnya kadang terkena jaring gawang. Benar - benar konyol. Sasuke heran karena ada gadis seaneh itu dan juga cara gadis itu memandangnya sangat berbeda dengan siswi lain. Ia menganggap Sasuke sebagai guru, seperti guru lainnya. Bukan sebagai seorang pria tampan bak idola remaja. Gadis yang unik.
"Teeet teeet" jam pelajaran olahraga telah selesai. Naruto dan kawan - kawan bubar meninggalkan lapangan. Begitu pula Naruto. Ia sudah sangat lelah. Lelah karena menjadi kiper yang selalu kemasukan bola dan juga ia malah jadi instruktur senam dadakan.
Naruto capek lahir batin.
Jam istirahat adalah waktu yang sangat semua murid tunggu, termasuk Naruto. Perutnya sudah kelaparan minta diisi. Ia akan makan siang bersama Hinata dan Ino di taman kemarin ia makan. Hinata dan Ino sudah pergi lebih dulu karena Naruto ingin ke toilet. Tapi sepertinya takdir berkata lain. Ia tidak bisa cepat mengisi perutnya yang kosong dikarenakan sang wali kelas yang baru tiba - tiba berada di depannya seraya berkata, "tolong ambilkan daftar absen teman - temanmu." pinta Sasuke agak sopan. Guru juga harus berkata sopan pada anak didiknya.
"Eh? Saya tidak tahu di mana Sakura, Mr. Sakura lah yang memegang daftar absen. Maaf, Mr." Naruto menolak secara halus. Kenapa ia harus bertemu dengan wali kelasnya di dekat toilet? Guru itu tidak berniat aneh kan? Misalnya mengintip siswi yang ada di toilet. Tidak mungkin. Sungguh pemikiran yang konyol. Begitulah yang Naruto pikirkan.
"Kau pasti hafal siapa yang tadi hadir atau tidak. Tidak perlu memanggil siapapun." gumam Sasuke memaksa.
"Ma..maaf, Mr. Sudah istirahat saja ya. Sekarang kan waktunya istirahat. Saya sudah sangat lapar. Lemas sekali, Mr." pinta Naruto. Ia benar - benar lelah dan lapar.
"Hn." balas Sasuke.
Naruto bingung. Mungkin itu artinya ya sudah, nanti saja kalau sudah istirahat. Ia pun pamit tapi memberi salam dulu pada wali kelasnya.
__ADS_1
"Saya permisi, Mr." Naruto pun meninggalkan Sasuke yang masih berdiri mematung.
Biasanya para gadis berebut ingin dekat dengannya. Gadis itu sang anak didik Sasuke malah ingin cepat - cepat menjauh darinya. Makanan lebih penting dari perintah sang guru tampan itu.
'Aku jadi tertarik pada anak itu. Kalau tidak salah namanya.. Na..Namikaze Naruto. Naruto. Hn.' batin Sasuke. Ia berseringai licik.
Naruto telah berada di taman meski terlambat karena ada gangguan.
"Maaf telat." ujar Naruto. Kemudian ia duduk di antara Ino dan Hinata.
"Tidak biasanya kamu telat. Emangnya ada apa?" tanya Ino sebari membuka bekal.
"Oh tadi Mr.Sasuke menyuruhku untuk menyerahkan buku absen siswa. Tapi Sakura yang pegang. Ia maksa. Aku tolak karena lapar." jelas Naruto.
"Ooh begitu." gumam Ino dan Hinata mengerti.
"Mari makan. Selamat makan." ketiganya pun memakan bekal mereka masing - masing.
"Oh iya. Tadi pagi makasih ya, Ino. Untung kamu nolong kalau tidak. Aku bakal goyang ala artis dangdut." ucap Naruto. Ia sudah menghabiskan makanannya.
"Sama - sama. Tapi..lagu dangdut bagus juga lho." balas Ino.
"Ya bagus. Kamu terlalu sering ngedengerin lagu anime sih." tambah Hinata.
"Aku suka lagu soundtrack anime aja. Enak didengar. Apalagi lagu yang tadi. Judulnya tuh yume hitotsu. Aku tiap kali ngedenger lagu itu selalu ingin ngedance kayak mereka lho. Apalagi mereka pada ganteng. Kyaa..." ujar Naruto yang sifat otakunya kambuh.
"Mr. Sasuke juga tampan lho." tambah Ino.
"Ya. Tampan." lanjut Hinata.
Rupanya Ino dan Hinata mengagumi guru baru itu.
"Buatku yang ganteng itu hanyalah sosok yang berperan sebagai Kashuu Kyomitsu. Ryuji Sato. Ganteng dan manis." ujar Naruto dengan mata berbinar - binar. Ino dan Hinata hanya bisa sweatdrop dengan kelakuan Naruto.
"Dia kan aktor. Tidak mungkin bisa ketemu sama kamu, Naruto." ucap Ino asal.
"Biarin. Yang penting aku bisa ngedenger suara dan gambarnya juga sudah cukup." balas Naruto.
"Kalau punya pacar setampan Mr. Sasuke, gimana ya?" tanya Ino berandai - andai.
Naruto menjitak kepala Ino. "Jangan mimpi, Ino. Pasti dia sudah punya pacar." jawab Naruto.
"Bagaimana kau tahu, Naruto?" tanya Hinata penasaran.
"Cuma nebak." jawab Naruto singkat dan asal.
"Dasar. Siapa tahu Mr. Sasuke masih lajang. Hehehe." sambung Ino.
"Tahu ah. Kita masuk kelas yuk. Aku tidak mau kena sial terus. Apalagi kalau sampai kena hukuman guru ayam itu." ujar Naruto sedikit kesal.
"Guru ayam?" beo Ino dan Hinata.
"Yuk ah. Keburu bel masuk." ajak Naruto.
Bel berbunyi. Sekarang adalah pelajaran bahasa Inggris di kelas Naruto. Kelas Naruto mendapatkan jatah pelajaran bahasa Inggris 3 kali selama 1 minggu. Hidup Naruto akan lebih berat. Ditambah hari ini sang wali kelas a.k.a Mr. Sasuke mengadakan ujian dadakan. Semua murid belum siap. Sang gadis pirang berambut dango juga tidak siap.
"Kalian tidak boleh mencontek. Buka kamus juga dilarang." ujar Sasuke.
Tak terbayang bagi Naruto dan teman - teman sekelasnya yang mendapatkan ujian dadakan. Bagi mereka sang wali kelas baru adalah guru tampan yang dingin dan killer.
Para murid mengerjakan lembar tugas yang telah Sasuke bagikan. Sebagian besar para murid kebingungan dan tidak tahu jawaban dari ujian itu. Naruto juga sama. Meski ia tidak terlalu bingung karena ia terkadang menonton film dengan teks bahasa Inggris. Jadi bisa dibilang sedikit lebih pintar daripada teman - teman sekelasnya.
Sasuke berjalan mondar mandir mengelilingi barisan bangku siswa. Pandangan matanya sangat tajam dan mengeluarkan aura gelap yang membuat semua penghuni kelas diam dan merinding seketika.
Naruto telah menyelesaikan ujiannya. Ia ingin sekali melepaskan ikat rambutnya. Terasa panas dan mungkin mengeluarkan asap saat berpikir tadi.
Naruto menghela nafas berat. Seperti sudah lari marathon 5km saja. Ia melirik ke sekeliling teman - temannya. Ekspresi mereka sangat mengenaskan. Mereka memberi isyarat meminta pertolonan dari Naruto untuk mencontek hasil jawaban ujiannya. Naruto menolak. Ia tidak mau kena hukuman. Naruto hanya ingin hidup damai di masa SMAnya. Jadi dia cari aman.
"Waktu habis. Kumpulkan lembar ujian kalian di depan." perintah sang guru.
Semua murid mengumpulkan lembar ujian masing - masing. Ekspresi setiap murid tak jauh beda yakni tegang menghadapi ujian dadakan.
"Untuk pekerjaan rumah, kerjakan dari hal 11 sampai 14. Baca, simak dan pelajari. Minggu depan akan saya jelaskan." ujar Sasuke kaku.
'Nih orang apa robot sih? Gak punya ekspresi sama sekali. Monoton, ' batin Naruto heran.
"Namikaze - san." panggil Sasuke.
Naruto terkejut. "A...ah iya, Mr." sahut Naruto.
"Bawa lembar ujian ke meja saya di ruangan guru." perintah sang guru.
"Baik, Mr." jawab Naruto lantang. Ia takut dihukum guru robot itu.
Setelah para murid mengucapkan terima kasih pada sang guru, Sasuke ke luar dari ruang kelas dengan diikuti oleh Naruto yang mendadak jadi asisten guru muda itu.
'Dasar tukang cari muka, ' batin seseorang kesal.
Naruto terus berjalan mengikuti langkah wali kelasnya itu. Tiba - tiba langkah Sasuke terhenti yang membuat Naruto menabrak punggung Sasuke.
"Aw." ringis Naruto. Wajahnya menabrak punggung Sasuke yang sangat keras. 'Sakit. Kenapa Mr. Sasuke berhenti sih?' gumam Naruto dalam hati.
"Moshi moshi..." ucap Sasuke menerima panggilan telepon.
"Oh..ada telepon. Aku duluan kali ya ke ruang gurunya. Tapi..kan gak sopan." ujar Naruto.
"Namikaze - san. Simpan di atas mejaku di ruang guru. Aku akan langsung masuk ke ruang kelas lain." perintah Sasuke.
"Baik, Mr." jawab Naruto patuh. Ia segera pergi menuju ruang guru untuk menyimpan lembar ujian. Sasuke pergi ke ruang kelas yang arahnya berlawanan dari ruang guru.
Malam pun tiba. Naruto sedang asyik membaca manga kesukaannya. Kalau sedang kesal ia selalu membaca manga yang bergender humor atau romantis. Hal itu bisa membuatnya lebih tenang.
Terbayang sesosok wajah di pikiran Naruto. Lebih dari dua kali. Bayangan sosok itu tak pernah hilang dari pikirannya. Naruto berusaha mengusir sesosok bayangan itu tapi tetap saja terbayang.
"Tidak. Kenapa wajah orang itu terbayang? Aku tidak mau suka sama seseorang dulu. Aku tidak mau patah hati lagi." gumam Naruto sambil berbaring di atas tempat tidurnya yang empuk.
Namun sosok itu selalu menghampirinya. Bahkan hingga terbawa ke dalam mimpi si gadis pirang yang rambutnya tidak dibuat seperti kue dango itu.
Di tempat lain. Seorang pemuda bermata segelap malam tengah memeriksa jawaban ujian dari anak didiknya. Rata - rata nilai mereka hanya 60. Paling besar juga 70. Rupanya Sasuke harus lebih giat lagi mengajari para anak didiknya itu. Ia mendapati selembar kertas ujian yang nilainya lebih tinggi atau bisa dibilang paling tinggi. Karena nilai 85 sudah menjadi nilai tertinggi di kelas ia mengajar.
"Hn. Hanya anak ini yang mendapatkan nilai segini. Kelas yang lain saja paling besar hanya 75. Anak ini lumayan pintar juga." ujar Sasuke. Kemudian ia melihat si empunya lembar jawaban.
"Namikaze Naruto. Anak itu..yang jadi kiper payah itu kan? Yang jadi instruktur senam dengan gaya anehnya yang seperti menari ala girlband terburuk. Haha.." gumam Sasuke. Tanpa sadar ia tertawa saat membayangkan kejadian tadi siang. Mukanya yang selalu terkena rambut panjang gadis itu yang terasa sakit tapi ia tidak menghindar malah terus menatap gadis itu dengan tajam. Sang gadis malah terus meminta maaf sambil menundukkan kepalanya. Benar - benar aneh.
"Anak itu aneh sekali. Rambutnya juga aneh. Kuning, panjang, lurus dan juga wangi. Jadi ingin menyentuhnya. Ah..apa yang kupikirkan. Hanya karena rambut saja sampai membuatku aneh begini. Dan juga kenapa senyuman dan tawanya selalu terbayang?" ujar Sasuke. Ia merasa bingung dan heran. Karena ia tidak pernah merasakan perasaan asing itu sebelumnya.
Tanpa mereka sadari, benang merah mulai terikat antara jari kedua insan berbeda gender itu.
__ADS_1
To Be continued