
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjam tanpa izin
Ide asli milik thor jika ada yang sama itu di luar sepengetahuan thor
Genre : murid, guru, cinta
Pair : sasufemnaru
Sifat karakter beda dengan versi anime dan ooc
Typo bertebaran
Happy reading
Seperti biasa sang gadis pirang twintail berdango berjalan ke ruangan kelasnya seorang diri meski berangkat ke sekolah bersama kekasih tercintanya. Mereka memasuki ruangan yang berbeda. Sasuke memasuki ruang guru karena ia seorang guru. Tidak mungkin ia masuk ke kelas sebelum jam mengajarnya. Padahal sebenarnya ia ingin ikut masuk tapi apa daya. Status guru dan murid yang memisahkan sepasang sejoli yang tengah dimabuk asmara.
Sang gadis dango telah berada di dalam ruangan kelas. Tiba - tiba sesosok murid yang sangat tidak ingin ia temui di pagi nan dingin ini karena hari telah memasuki musim gugur, muncul di hadapannya dengan gayanya yang luar biasa aneh dan berlebihan menurut gadis pirang itu.
"Ohayou, ojou san. Genki desu ka?" sapa si murid berkepala merah ralat berambut merah a.k.a Akasuna Sasori dengan gaya nyentrik. Keren dan tampan ala boyband negeri seberang yang bisa membuat semua gadis terpana, kecuali gadis yang sedang ia sapa.
"Ohayou mo, A ka su na, genki da yo," jawab Naruto. Jutek dan sangat tidak enak didengar di indera pendengaran orang yang mendengarnya tapi tidak demikian bagi Sasori yang menyapanya. Ia malah tersenyum gembira karena Naruto membalas sapaannya.
Tapi, Naruto malah berjalan meninggalkan Sasori seorang diri dengan santainya. Ia malas pagi - pagi meladeni pemuda kelebihan hormon yang mengaku tampan. Hanya Uchiha Sasuke pemuda tertampan di kehidupan dan di hatinya serta di Konoha High School.
Sasori tak tinggal diam. Ia menarik tangan Naruto dengan lancang lalu mencium tangannya.
Plak. Si gadis pirang menampar si pemuda berambut merah. Tergambar bekas telapak tangan Naruto di pipi putih Sasori.
"💢Kau berani menyentuh tanganku, hah?! Dasar laki - laki brengsek?!" bentak Naruto. Ia benar - benar marah. Ia segera berlalu meninggalkan Sasori yang diam mematung sebari mengusap pipi putihnya yang merah akibat tamparan si gadis pirang.
Para saksi mata merasa ngilu ketika menyaksikan kejadian tersebut. Gadis pirang itu terkenal karena kebaikan, keramahan, periang dan penuh semangat. Jadi mereka terkejut saat melihat Naruto menampar Sasori yang notabene adalah seorang murid baru apalagi menjadi idola dadakan seperti wali kelas mereka.
"Nggak nyangka ya kalau Naruto berani nampar orang," ucap salah seorang siswi.
"Iya. Dia serem juga kalau ngamuk. Jadi jangan sampai kena masalah sama dia," tambah siswi lain.
"Dasar biang gosip," gumam Shikamaru yang baru saja datang dan segera duduk di kursinya melewati kedua siswi yang sedang asyik bergosip.
Sementara itu, Sasori telah duduk kembali di kursinya. "Gadis yang sangat menarik. Gadis lain saja dengan suka hati mau aku sentuh. Dia sangat jual mahal. Aku jadi tambah tertarik," gumam Sasori. "Hm, sakit juga ya," tambahnya. Sasori malah tersenyum saat mendapat tamparan dari Naruto. Ia baru pertama kali ditampar oleh seorang gadis seumur hidupnya. Padahal para gadis rela disentuh olehnya. Hanya Naruto yang menolak ia sentuh.
Setelah menaruh tas di mejanya, si gadis yang menjadi pelaku penamparan tadi, berjalan ke luar dari ruang kelas. Naruto terus mengumpat dalam hati sebari berjalan. Tanpa sadar ia berhenti di depan ruang guru. Ia segera berjalan berbalik arah namun namanya dipanggil.
"Naruto!" panggil orang itu. Sontak Naruto yang merasa namanya terpanggil menoleh ke belakang tepat ke arah seseorang yang memanggil namanya.
"Mr. Sa..suke? Ada apa memanggilku?" tanya Naruto. Ia tersenyum. Namun tampak sedang menyembunyikan sesuatu.
Sang guru yang ditanya berjalan perlahan ke arah Naruto. "Sedang apa di sini? Sebentar lagi bel masuk." Sasuke malah bertanya balik.
Naruto tersenyum getir dan mencurigakan. Brak. Sang wali kelas menaruh buku tebal di atas kepalanya.
"Mr, apa yang Mr lakukan?" tanya Naruto tak terima atas perlakuan dari gurunya.
Sasuke malah tersenyum sinis. "Jam istirahat nanti seperti biasa. Setelah pulang sekolah juga. Kau harus mengerjakan tugasmu sebagai asistenku. Alright? Hn," sahut Sasuke. Ia berjalan meninggalkan Naruto yang kesal terhadapnya.
"Dasar..te..ups. Aku kan gak boleh manggil teme. Hehe," ujar Naruto. Ia malah tersenyum sendiri. Suasana hatinya berubah. Dia yang tadinya kesal menjadi senang. Berbicara sebentar dengan sang pujaan hati membuat moodnya kembali bagus. Naruto jadi tambah cinta pada Sasuke.
Bruk. Sebuah buku tebal ditaruh di atas kepala si pirang dango. Serasa dejavu bagi dirinya.
"Namikaze - san. Jangan diam saja di situ! Cepat masuk ke kelas! Sekarang adalah jam pelajaranku," ucap seseorang.
Naruto menoleh ke belakang. "Ba..baik, Orochimaru - sensei," jawab Naruto patuh.
"Tolong bawakan buku ini!" perintah Orochimaru.
"Baik," jawab Naruto. Lantang.
'Cih. Tadi enak ketemu pacar ganteng. Lah sekarang malah jalan bareng sama guru tak jelas gendernya. Nasib - nasib,' batin Naruto. Sengsara.
Kemudian kedua orang berbeda status, usia, tinggi badan, kalau gender, tentu atau mungkin berbeda juga. Entahlah. Selama tidak mengganggu jadi gender Orochimaru tidak dipermasalahkan.
Selama pelajaran di bidang yang Orochimaru ajarkan mengenai sains, mereka ada di ruang laboratorium khusus. Mempelajari struktur tubuh hewan bahkan harus membedah tubuh kodok.
"Maafkan aku, gamabunta. Kau harus aku korbankan," ujar Naruto. Ia tidak tega, geli dan jijik namun yang namanya tugas harus tetap ia lakukan. Membunuh mahluk hidup tidak semudah yang terlihat. Mungkin kalau membunuh nyamuk tidak akan membuat Naruto risih tapi katak. Ia menyesal masuk ke kelas IPA. Hanya karena tidak suka pelajaran sejarah ia masuk ke kelas jurusan yang tidak ia minati itu. Akhirnya malah mendapatkan pelajaran yang lebih sulit.
Sementara itu, sang murid baru dengan cekatannya membedah katak satu per satu yang menjadi bahan percobaan tanpa merasa jijik. Naruto semakin geli dan aneh melihatnya. Pantas saja si kepala merah itu dengan senang hati menawarkan diri untuk membawa sekotak berisi puluhan katak yang masih hidup kepada Orochimaru - sensei. Rasanya Naruto ingin muntah tapi ia menahannya. Bukan dirinya jika ia menulan ludah yang telah ia buang. Ia harus menghadapi konsekuensi atas segala tindakannya. Tapi Naruto berpikir positif. Jika ia tidak masuk ke kelas jurusan ini, ia tidak akan bertemu dengan Sasuke yang menjadi wali kelasnya. Sekadar bertemu tapi bukan sebagai wali kelasnya. Syukuri saja apa yang ada dan yang telah terjadi. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Begitulah pikir si gadis pirang berdango itu. Mungkin dengan memikirkan hal yang positif dan segala sesuatu mengenai pemuda pujaannya akan membuat dirinya lebih baik dan rileks.
Sasori si pemuda berdarah dingin tanpa ragu dan belas kasihan membunuh mahluk tak bersalah dengan santainya. Sang mayat yang telah ia bunuh segera ia berikan kepada teman - teman sekelasnya, termasuk Ino, Hinata dan Sakura. Kecuali Naruto, seorang gadis yang tengah ia dekati yang super tidak peka. Jika sulit mendekati si gadis, dekati dulu saja teman - teman dekatnya. Itulah siasat cinta dari pemuda bermarga Akasuna itu.
Selama jam pelajaran Orochimaru - sensei, sang murid baru a.k.a Akasuna Sasori, mencari perhatian para murid dan gurunya. Pujian selalu terlontar dari mulut setiap siswi yang ada ruang praktek biologi. Tak terkecuali sang guru yang super jenius juga memuji atas kejeniusan murid baru itu.
Beberapa siswa tampak tidak suka dengan sikap Sasori yang terlalu mencari perhatian. Bahkan Shikamaru dan Sai saja sampai merasa kesal dengan kelakuan Sasori.
"Orang itu sangat menyebalkan!" gumam Shikamaru. Ia risih melihat Hinata tengah mengagumi tindakan Sasori.
"Kau benar, Shikamaru," sambung Sai. Ia juga sama kesalnya. Hanya saja disembunyikan oleh senyum palsunya jadi tidak terlihat oleh orang lain.
"Untung saja Gaara tidak melihat Sakura yang juga sedang memuji si kepala merah itu," sambung Naruto. Ia merasa bosan dan risih.
Sai dan Shikamaru kompak menengok ke arah Naruto. "Apa?" tanya Naruto, jutek.
"Kamu gak terpesona?" tanya Sai. Ia heran dengan sikap Naruto yang tidak terpengaruh oleh pesona si murid baru. Naruto menggelengkan kepalanya.
"Syukur deh. Kalo kau sampai terpesona, bukan hanya kau saja yang terkena imbasnya tapi kita sekelas juga kena," balas Shikamaru. Ia berbicara dengan nada tenang.
"Kena imbas?" beo Naruto. Ia jadi lebih tertarik bergosip dengan kedua teman laki - lakinya daripada melakukan tugas praktek yang Orochimaru berikan padanya.
Srak. Orochimaru melemparkan bagian dalam katak tepat mengenai kepala dango Naruto yang tidak tertutupi penutup kepala.
"Namikaze - san!" seru Orochimaru sebari berjalan menghampiri si siswi yang marganya ia panggil. "Jangan mengobrol terus! Cepat lakukan tugasmu! Lalu, cuci rambutmu yang terkena jantung katak itu!" perintah Orochimaru dengan raut wajah yang menyeramkan sehingga semua murid merasa takut.
"Ja..jantung ka..tak? Tidak!!" Naruto berteriak sebari meraba rambut dangonya yang tersangkut jantung katak. "Sen..sei.." Mata Naruto berkaca - kaca. Ia ingin menangis karena mahkota kepalanya menjadi kotor dan bau akibat ulah iseng guru biologinya.
"Kerjakan tugasmu, sekarang!" perintah Orochimaru. Mutlak.
"Ba..baik, Orochimaru - sensei," jawab Naruto pasrah.
Semua murid memandangi Naruto dengan tatapan penuh kasihan. Hanya karena mengobrol sebentar saja ia kena hukum. Sungguh gadis dango yang malang.
Teng teng. Jam pelajaran Orochimaru berakhir. Semua murid ke luar dari ruang laboratorium tak terkecuali Naruto. Ia bergegas pergi menuju toilet perempuan untuk membersihkan rambutnya. Tak lupa ia meminjam handuk terlebih dulu kepada manager klub olahraga. Lalu ia masuk ke toilet.
Skip. Jam istirahat tiba. Suasana yang berbeda dengan gaya rambut berbeda pula bagi seorang gadis bersurai pirang lurus panjang melewati pantatnya hampir sampai betisnya. Semua murid menatap Naruto dengan tatapan aneh. Apalagi si kepala merah Sasori. Ia sedang berjalan mendekati Naruto tanpa menghiraukan seruan fgnya yang sedang berteriak histeris memanggil namanya.
Namun Naruto berjalan menghindar dari Sasori. Ia memotong jalan melewati kursi yang kosong di samping belakangnya dan ia pun berlari melewati kursi dan meja yang kosong karena penghuninya sudah ke luar beristirahat di luar kelas. Gadis itu seperti sedang dikejar oleh penculik.
Meski Naruto tidak pandai dalam bidang olahraga tapi kemampuan berlari dan melewati kursi dan meja yang tersusun rapi di dalam ruang kelas.
"Hap." Naruto tiba di depan pintu masuk dan berhasil menghindar dari para fg Sasori. Entah jurus apa yang gadis pirang itu gunakan hingga berhasil melewati fg Sasori yang bar - bar melebihi fg kekasihnya sendiri.
Naruto pun melangkah dengan santai sambil memegangi kotak bekal makan siangnya. Ia berencana makan siang di tempat biasa. Tiga temannya menghilang entah ke mana.
Si gadis pirang yang saat ini rambutnya tidak dibuat dango, tengah berjalan melewati lorong dan beberapa ruangan kelas. Rambut pirang dan panjangnya menjadi pusat perhatian. Namun Naruto tidak memedulikan hal itu. Ia tetap berjalan seperti biasa. Penuh semangat dan lapar.
Srak. Tubuh mungilnya ditarik seseorang ke dalam sebuah ruangan yang kosong. Sontak Naruto terkejut. Seseorang menarik tubuhnya dan memasukkannya ke ruangan yang sepi.
"Kau sungguh merepotkan, dobe," gumam seseorang dengan nada tidak suka.
"Ka..kau..te..Mr. Sasuke?" beo Naruto. Ia terkejut atas tindakan kekasihnya yang menarik tangannya sehingga dirinya ada di dalam ruang kelas kosong.
Sasuke, sang pelaku pembekap si gadis pirang, menatap sang gadis dengan tatapan tajam dan sulit diartikan. "Ikat rambutmu, dobe! Kenapa diurai begitu, hah?" tanya Sasuke, posesif. Sebelah tangannya memegang rambut panjang kekasihnya.
Wajah Naruto memerah ketika Sasuke menyentuh dan membelai rambut pirang panjangnya. Rasanya bulu kuduknya merinding dan ada sensai aneh. Ia segera membuang jauh - jauh pikiran anehnya. Ia kembali fokus kepada kekasihnya yang saat ini masih menjadi gurunya di sekolah.
"A..ano, Mr. Tadi rambutku kena isi perut katak jadi aku keramas," gumam Naruto yang masih merasa gugup atas tindakan guru mesumnya itu. "Mr. Rambutku..mau ku ikat jadi..lepaskan.." pinta Naruto dengan wajah yang masih merona.
"Biar aku yang mengikat rambutmu," balas Sasuke. Ia malah menarik pinggang Naruto serta mendorongnya untuk duduk di kursi yang tak jauh darinya.
Naruto patuh dengan tindakan dari kekasihnya. Ia pun duduk di kursi. Dengan cekatan Sasuke menguncir dan mengepang rambut panjang kekasihnya.
"Sudah," ujar Sasuke. Ia sudah selesai mengepang rambut Naruto.
Naruto meraba rambutnya. Ia kagum terhadap hasil kerja kekasihnya. Sasuke memang berbakat untuk menjadi ahli tata rias. Seandainya Sasuke bekerja di salon, maka salon tersebut akan selalu dipenuhi oleh pengunjung. Naruto tersenyum. Tak mungkin jika kekasihnya menjadi banci dan bekerja di salon. Sungguh hal yang mustahil.
"Ada apa, dobe? Kenapa kau tertawa?" tanya Sasuke. Ia duduk di samping Naruto.
"Tidak. Arigatou ne, Mr. Sasuke. Sekarang rambutku jadi cantik. Mr. Sasuke memang hebat," puji Naruto sebari tersenyum lebar.
"Hn. Sama - sama. Kau kan memang cantik, dobe," balas Sasuke. Mukanya merona. Ternyata senyuman Naruto masih saja mempesona hingga membuat pipinya memanas dan jantungnya berdebar kencang dan tak karuan.
"Oh iya. Kita makan dulu yuk. Keburu masuk nanti, teme. Eh, Mr. Hehe," ucap Naruto. Ia segera mengeluarkan bekalnya dan makan bersama kekasihnya. Saling menyuapi seperti biasa.
Acara makan tidaklah lama jadi masih tersisa waktu istirahat yang cukup lama jadi mereka menghabiskan waktu istirahat dengan berbincang - bincang. Naruto yang banyak bicara sementara Sasuke tangannya yang bergerak entah ke mana. Ruangan kelas yang sepi memberi kesempatan bagi keduanya untuk bermojok ria berdua di kelas kosong itu.
Bel masuk berbunyi. Kedua sejoli pun ke luar dari ruangan kelas yang kosong. Tidak ada seorang pun yang melihat mereka. Naruto berjalan kembali ke ruang kelasnya sementara itu Sasuke ke ruang guru. Sebelum berpisah sang guru berpesan kepada muridnya tercinta agar berhati - hati dengan si murid baru berambut merah itu. Naruto mengangguk. Ia juga mengerti maksud dari perkataan guru tercintanya itu. Sasori tidak jahat hanya saja menyebalkan jadi sebisa mungkin ia menghindar dari pemuda berambut merah nan narsis sok tampan itu. Bagi Naruto hanya Ryuji Sato yang paling tampan ralat Uchiha Sasuke lah. Bila Naruto mengatakan pemuda lain lebih tampan darinya bisa - bisa dirinya tidak selamat. Sungguh pemikiran yang harus Naruto hindari.
Si murid bersurai pirang yang gaya rambutnya mirip dengan karakter dalam princess disney "Rapunzel" terus berjalan dengan santai. Tak lupa ia bersenandung. Terpancar aura terang dan cerah dari dalam dirinya sehingga para murid dan guru yang ia lewati menyapanya.
'Ternyata punya pacar yang ada di sekolah, menyenangkan juga ya. Meski si teme sensei bukan murid tapi tetap saja. Kya..aku kayak remaja putri yang lagi jatuh cinta saja. Eh? Aku kan emang masih remaja putri. Hehe. Dasar. Coba aku ketemu Sasuke - kun semenjak SMP. Mungkin aku gak bakal patah hati. Tapi..syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugerah. Pokoknya, aku seneng banget hari ini. Kyaa...' monolog Naruto dalam hati. Ia tersenyum sendiri hingga tak sadar ia sudah sampai di dalam ruang kelas tepatnya ia berhenti di depan meja si murid berkepala merah.
"Halo, cantik," sapa Sasori dengan ramah kepada Naruto.
Naruto terus berjalan tanpa memedulikan sapaan dari murid baru itu.
"Cih. Dasar gadis pirang sombong. Lihat aja nanti. Hm," gumam Sasori. Terlihat dua tanduk di kedua sisi kepala merahnya.
'Cih. Dia lagi,' batin Naruto. Ia pun duduk di kursinya yang berada di depan meja guru. Lalu ia tersenyum lagi membayangkan sosok sang kekasih yang tengah duduk di depannya.
🍥🍡🍥🍡🍥🍡🍥🍡🍥🍡🍥🍡🍥
Sudah satu minggu ini ketiga teman perempuan Naruto yakni Ino, Hinata dan Sakura jarang berkumpul dengannya. Mereka bertiga mendadak berubah menjadi fg Sasori. Naruto tak habis pikir dengan pemikiran ketiga teman dekatnya itu. Apa mereka tidak mengetahui perasaan kekasih mereka? Si gadis pirang terus berpikir sampai - sampai ia lupa jika ia sedang ujian bahasa Inggris.
Tak. Kepala dango Naruto dijitak oleh sang guru. Dahi si gadis mengernyit. Ia lupa jika sedang ujian. Untung saja ia hampir menyelesaikan soal ujian. Hanya bersisa 6 soal yang belum ia isi.
"Jangan melamun, Naruto!" ujar Sasuke. Dingin, datar dan tanpa perasaan.
Naruto tidak menjawab. Tangannya sibuk menulis jawaban. Akhirnya ia selesai menjawab soal ujian bahasa Inggris. Lega perasaannya.
__ADS_1
"Waktu sudah habis. Kumpulkan kertas ujian kalian. Naruto, bawa dan taruh kertas ujian ke meja saya!" perintah Sasuke masih datar tak mencerminkan jika ia kekasih Naruto.
"Baik," jawab Naruto layaknya anggota militer.
Si gadis berdango pun berjalan dan mengumpulkan kertas ujian lalu ia meninggalkan ruangan kelas. Begitu pula dengan wali kelas mereka. Sasuke mengekori siswi tercintanya. Tak lupa ia melirik sesosok mahluk berkepala merah yang sedari ia masuk selalu saja melirik siswi tercintanya. Sasuke harus lebih waspada supaya dango dobenya tidak ikut terpesona oleh murid rambut merah itu. Lagipula Sasuke lebih tampan dari murid baru yang wajahnya seperti bayi itu.
'Shit. Si guru sialan itu selalu saja nempel sama si cepol kesayanganku. Gimana bikin mereka jauh ya? Padahal mereka cuma guru dan murid. Hm,' batin Sasori. Ia sedang memikirkan sesuatu.
'Oh iya. Aku kan lagi ngedeketin ketiga gadis temannya itu. Apa reaksi dari si pirang itu? Kira - kira apa yang akan si cantik cepol itu lakukan. Hm,' batin nista Sasori dengan senyum miringnya. Senyum licik khas tokoh anatagonis di sinetron kesukaan ibu - ibu.
Teng teng. Jam istirahat tiba. Ketiga teman dekat Naruto membawanya secara paksa menuju kantin. Naruto pasrah saja karena mereka tidak pernah berkumpul sejak kedatangan murid baru yang mengaku paling tampan se - SMA Konoha.
Di sinilah Naruto berada. Di kantin, penuh siswa - siswi yang sedang makan, minum, mengantri membeli makanan, mengobrol, nongkrong dan lain sebagainya.
Si gadis pirang yang dikelilingi oleh ketiga teman gadisnya merasa ada sesuatu yang ganjil. Tidak biasanya sifat sensitifnya muncul.
"Eto..kalian gak lagi ngerencanain macam - macam kan?" tanya Naruto waspada.
Naruto duduk di antara Ino dan Hinata sedangkan Sakura di depannya. Kebetulan ada tempat duduk yang kosong jadi mereka bisa duduk dengan nyaman di bangku tersebut.
"Tunggu sebentar ya. Aku pesankan makanan dulu," ujar Ino. "Kamu mau apa, Naruto? Ramen, bakso, shiomay?"
"Eh? Aku bawa bekal. Tapi..ketinggalan. Duh.." jawab Naruto sebari menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Ok. Aku pesenin kamu ramen bakso aja ya. Tunggu. Jangan kabur!" balas Ino sebari memberikan tatapan mautnya dan aura hitam.
Naruto mengangguk. Pasrah saja daripada kena amuk Ino. Ketiga teman perempuannya seperti wonder woman. Meski feminin tapi kekuatan dan amarahnya sangat menakutkan. Hanya dirinya yang paling lemah di antara ketiga sahabatnya itu.
Hinata memulai pembicaraan. "Ne, Naruto. Apa kamu gak bosan sama pacarmu?" tanya Hinata tanpa dosa.
"What?" Naruto sangat terkejut dengan pertanyaan dari sahabat lamanya itu. "Kenapa kamu nanya gitu? Ya gak lah. Pacar aku tampan gitu. Masa aku bosan," jelas Naruto dengan santau
"Oh," balas Hinata beroh saja.
"Tapi menurutku si Akasuna itu tampan juga lho. Kamu pasti cocok sama dia," sambung Sakura dengan santainya.
Naruto menganga. Kedua temannya mengatakan hal yang mustahil untuk dikatakan. Padahal mereka yang mendukung kisah cintanya dengan wali kelasnya sendiri.
"Sasori juga baik dan gak sedingin guru kita lho. Ia juga lebih muda lho," sambung Ino yang baru saja datang dan langsung duduk di samping Naruto yang dipenuhi tanda tanya besar di atas kepalanya.
Naruto tambah pusing dan heran dengan sikap ketiga temannya. Selama satu minggu tidak berkumpul ia menjadi tidak mengenali ketiga sahabatnya lagi.
"Kalian kenapa sih? Bukannya kalian sendiri yang dukung aku sama si ayam itu? Tapi kenapa kalian malah ngomong gitu?" Naruto mulai berkaca - kaca.
"Ka..kami gak bermaksud gitu, tapi.. Hanya..saja.." gumam Hinata bingung.
Ino dan Sakura juga bingung.
"Kami pikir kalo Sasori lebih baik daripada dia," tambah Sakura.
"Sudahlah. Aku tidak mengenal kalian!" seru Naruto. Ia marah atas perkataan dan sikap ketiga temannya. Setelah tidak dipedulikan ditambah diprovokasi. Naruto sungguh kesal.
Ia pun berdiri meninggalkan ketiga temannya namun kakinya malah tersangkut kaki meja dan menyebabkannya hampir terjatuh jika seseorang tidak menahan tubuhnya.
"Kau selalu saja ceroboh, Naruto," ujar sang penolong.
"Ka..kau..? Kenapa ada di sini?" Naruto malah bertanya bukan berterima kasih.
"Aku tadi mencarimu ke dalam kelas tapi kau tidak ada. Bekalmu juga masih ada di meja. Ya aku ke sini," jelas sang penolong yang tak lain adalah gurunya sendiri.
Semua siswi berteriak histeris saat mengetahui ada Sasuke di kantin. Sontak kantin dipenuhi oleh para siswi untuk melihat sang guru idola mereka yang jarang menginjak kantin.
Namun teriakan nama guru muda berganti dengan teriakan nama si murid baru yang telah menjadi idola kedua di Konoha High School. Akasuna Sasori. Murid pindahan itu.
Naruto yang pinggangnya masih dipeluk kekasihnya, segera pergi meninggalkan kantin. Ia harus sabar untuk tidak marah - marah di kantin. Tapi efek menahan emosi, ia malah menarik tangan wali kelasnya tanpa peduli keadaan sekitar. Lagipula ia memang sudah dekat dengan wali kelasnya. Para murid juga merasa tak terganggu dengan kedekatan mereka. Karena Naruto memang sudah dekat dan selalu diperintah dan diperbudak oleh wali kelasnya sendiri. Seperti budaknya Sasuke.
'Sial. Tadinya aku mau nyamperin si pirang. Eh dia malah kabur sama ayam tua sialan itu. Gagal lagi,' batin Sasori. Ia kesal karena rencananya selalu saja gagal padahal ketiga teman gadis incarannya sudah ada di pihaknya.
🍅🍊🍈🍅🍊🍈🍅🍊🍅🍈🍅🍊
Kini sepasang sejoli berbeda status sudah berada di taman tempat mereka beristirahat. Sang gadis segera duduk dan membuka bekalnya tanpa basa basi. Wajahnya masih ditekuk. Rasa kesal pada ketiga temannya membuatnya seperti orang kesetanan.
"Entah apa yang merasukimu, sayang. Tapi..tidak baik makan cepat - cepat gitu. Nanti keselek lho," ujar Sasuke dengan lembut. Ia mengusap kedua mata Naruto yang hampir mengeluarkan air mata dengan ibu jarinya.
Setelah menelan semua makanan yang ada di mulutnya, Naruto minum lalu menangis. Sasuke kebingungan melihat kekasihnya menangis tiba - tiba.
"Hiks..hiks..a..aku..hiks..ga..hiks..tau...hiks..mereka pada ngomong gitu ke aku. Mereka kejam. Hiks," gumam Naruto sambil menangis terisak.
Sang kekasih mengusap lagi air mata Naruto yang terus mengalir. "Sudahlah. Jangan dengarkan mereka. Kau kan masih ada aku, hn? Jangan nangis lagi ya. Cepet makan lagi. Apa mau ku suapi?" ujar Sasuke.
Wajah Naruto merona. Ia segera menghapus air mata dan berhenti menangis. Biarkan saja teman - temannya. Nanti juga pasti baikan lagi. Lagipula ia heran kenapa teman - temannya berkata yang tidak - tidak. Naruto tidak akan pernah memutuskan untuk berpisah dengan kekasihnya yang seorang guru. Sikapnya begitu baik, lembut, hangat dan penuh perhatian padanya. Meski posesif tapi ia tetap menyukainya.
"Ne, Mr," ucap Naruto. Ia merasa lega setelah mengeluarkan amarahnya dengan menangis daripada harus marah - marah dan meledak di kantin.
"Hn?" Sasuke duduk menempel pada kekasih pirangnya. Ia bahkan sangat ingin Naruto duduk di atasnya tapi keadaan tidak memungkinkannya. Kekasihnya yang masih remaja labil sedang dalam emosi. Bisa - bisa ia ditendang atau dipukul. Meski Narutonya tidak mungkin melakukan hal itu kepadanya.
"Ino dan yang lainnya jadi berubah. Aku tidak tahu kenapa mereka bisa jadi aneh. Kayak gak seperti mereka saja. Malah mereka nyaranin aku putus lho sama Mr," jelas Naruto dengan polosnya. Ia sudah menyelesaikan makannya.
"Apa?! Lalu apa jawabanmu, dobe?" tanya Sasuke. Ia penasaran dengan jawaban dari kekasih dobenya itu.
"Ya gak lah. Masa aku mutusin Mr. Aku udah sayang sama Mr. Kenapa harus diputusin coba? Mr juga kan sayang sama aku jadi gak ada alasan buat kita putus kan?" jawab Naruto tersenyum lebar. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi pada kekasih tampannya yang sedang duduk di sebelahnya. Muka Sasuke memerah dan ia tersenyum saat mendengar Naruto mengatakan hal yang manis.
Muka keduanya memerah. Hanya Naruto saja yang kelihatan merona karena Sasuke hanya merona sedikit dan tidak segugup Naruto.
"E..etto..a..aku mau kembali ke kelas lagi, Mr. Se..bentar lagi bel masuk," ujar Naruto. Ia masih gugup.
"Hn. Ayo. Kau jalan duluan. Aku akan menyusulmu," balas Sasuke.
Naruto pun berjalan lebih dulu lalu Sasuke juga. Mereka berjalan dengan santai tanpa tahu ada seseorang yang sedang mengintip kegiatan pacaran mereka.
"Damn it," gumam sang penguntit. Lalu ia pergi.
🌜🌜🌛🌜🌛🌜🌜🌛🌜🌜🌜🌛🌜
Malam pun tiba. Sang gadis pirang yang rambutnya diurai yang baru selesai mandi dan makan malam terlihat sedang asyik membaca manga sambil duduk di kursi belajarnya. Manga yang ia baca adalah manga mengenai kisah cinta gadis SMA yang baru pertama kali jatuh cinta dengan teman sekelasnya. Wajah si gadis pirang merona. Ia membayangkan dirinya dengan guru tampannya.
"Kya..kok aku jadi budak cinta gini ya? Padahal dulu aku otaku banget. Meski gak parah tapi kok bisa ya? Ah..dasar teme sensei! Udah bikin siswinya gila dan dimabuk asmara. Kya..." ujar Naruto. Ia memeluk manga yang sedang ia baca sambil menari - nari tidak jelas di dalam kamarnya. Mulutnya selalu saja mengeluarkan kata panggilan sayang untuk kekasihnya. Teme, guru ayam, dan sebagainya. Begitulah seorang remaja putri yang sedang dilanda cinta.
Sang ayah dari gadis tersebut, Namikaze Minato tanpa sengaja melewati kamarnya dan mendengar putri semata wayangnya yang sibuk mengumpati kekasihnya sendiri. Sang ayah hanya bisa tersenyum. Selama kekasih putrinya membawa dampak baik dan membuat putrinya bahagia, Minato juga akan bahagia. Lagipula keluarga Uchiha sudah mengetahui hubungan putrinya dan Uchiha bungsu itu. Keduanya akan segera ditunangkan meski si gadis masih SMA. Minato pun berlalu sebari tersenyum bahagia.
Dreeet dreet. Ponsel Naruto bergetar. Ada pesan masuk dari seseorang. Ia segera mengambil ponsel tersebut dan membaca isi pesan.
"Tumben nih orang ngechat. Sepertinya ada hal yang penting banget," ujar Naruto. Ia berbaring sebari memegang ponsel dan membalas pesan tersebut.
NaruDango
Malam juga Gaara
Ada apa?
SabaGaara
Besok ketemuan yuk?
"Apa?! Gak biasanya. Apa si merah itu ada masalah sama Sakura ya?" tanya Naruto pada dirinya sendiri.
NaruDango
Ok
Di mana?
SabaGaara
KTM(Konoha Trade Mall)
Tunggu aku di depan pintu masuk
NaruDango
Ok bro
SabaGaara
Shikamaru dan Sai juga ikut
NaruDango
Jam berapa?
SabaGaara
Jam 10
NaruDango
Ok lagi
SabaGaara
Good night
Ada masalah penting yang ga bisa dibahas lewat chat jadi besok kau harus datang, Naruto!
NaruDango
Iya...
Sesi mengirim pesan pun selesai. Naruto menghela nafas. Ia merasa aneh dengan Gaara dan kedua teman laki - lakinya yang lain. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan hubungan mereka. Apalagi setelah Sasori datang ke kelas mereka. Pemuda berambut merah berparas bak boyband itu sangat mencurigakan dan seperti ada maksud tertentu. Begitulah pikir si gadis pirang yang sedang dalam mode pintar dan sensitif layaknya seorang detektif.
🍊🍈🍊🍈🍊🍈🍊🍈🍊🍈🍊🍈🍊🍈🍊
Keesokan harinya. Si gadis pirang yang masih dengan gaya rambut andalannya, dango. Ia sedang duduk di dalam sebuah kafe di KTM bersama keempat pemuda muda nan tampan. Ekspresinya sungguh tak enak dilihat padahal para gadis yang berlalu lalang melewatinya merasa iri atas posisinya yang serasa menjadi putri Drupadi yang dikelilingi keempat pandawa dalam serial Mahabraya yang selalu ditonton ibunya setelah berkebun. Harusnya pandawanya ada lima tapi hanya ada empat pemuda yang mengelilinginya.
"Haaah.." Untuk kesekian kalinya si gadis dango itu menghela nafas. Ia jenuh dengan situasi saat ini.
Shikamaru tertidur, Gaara sibuk main game online, Sai malah menggambar meski melalui aplikasi di ponselnya. Dan yang lebih menyebalkan, seorang pemuda bersurai raven dengan gaya rambut pantat ayam sedang mengutak atik ponsel Naruto.
__ADS_1
"Ayolah teman - teman. Kita ke sini sebenarnya mau ngapain sih?! Kalo mau main game ya di rumah. Mau tidur juga di kamar dan juga kau Sai," Naruto menunjuk Sai dengan jari telunjuknya. "Kita sudah setengah jam ada di kafe ini. Apa yang mau kita bahas sih?!" ujar Naruto. Ia gemas akan tingkah ketiga pemuda teman satu sekolahnya. "Dan..kenapa si pantat ayam juga ikut?!" seru Naruto kesal.
"Kau lupa? Aku ini pacarmu, dobe. Emang salah kalau aku ikut?" balas Sasuke yang masih asyik dengan kegiatan mengutak atik ponsel kekasihnya.
Naruto memutar matanya. "Biasanya juga Sasuke - kun selalu saja ada acara tiap hari Sabtu. Bantuin Itachi - nii terus. Huh!" tambah Naruto. Ia kesal tapi juga senang karena bisa berkumpul dengan teman dan juga kekasihnya.
Kemudian Naruto menatapi satu per satu dari ketiga pemuda yang ada di depannya seraya bertanya, "kalian ada masalah apa?" tanya Naruto mulai bersikap lunak.
"Akasuna Sasori," jawab ketiga pemuda itu ditambah dengan Sasuke yang ikut serta menjawab.
"What? Kenapa dia lagi sih? Ukh!" seru Naruto kesal. Ia pun meminum jus melon yang tak lama datang diantarkan oleh seorang waitress cantik nan seksi tinggi dan berisi yang tidak sopannya melirik dan mengedipkan sebelah mata kepada kekasih tampannya. Tentu saja ia kesal meski kekasihnya tidak merespon.
"Sekarang Sakura jadi aneh," ujar Gaara memulai sesi curhat. Ia menghentikan kegiatan main game onlinenya.
"Ino juga jadi jarang mau berdua denganku tiap jam istirahat," tambah Sai. Ia masih menggambar.
"Kalo Hinata.. Dia sudah jarang mengirimkanku pesan," sambung Shikamaru. "Gak tahu kenapa."
"Pacarku juga digodain terus sama kepala merah itu." Sasuke juga ikut berkomentar dengan santainya sebari memainkan ponsel Naruto.
Doeng. Ingin sekali Naruto menjitak kepala ayam kekasih tampannya itu tapi tidak etis dan lebih baik menarik rambut ayamnya saja karena ia gemas pada Sasuke.
"Ok ok. Aku mau berpikir sebentar," ucap Naruto bergaya ala pakar cinta. "Ya semua karena Sasori. Mungkin karena feromonnya yang kuat yang bisa membuat para gadis tergila - gila dan menyukainya. Dia tampan dan juga pintar. Sikapnya juga ramah dan jago menggombal. Wajar sih kalo para gadis suka juga," ujar Naruto. Tanpa ia sadari kekasihnya mengeluarkan aura hitam yang gelap dan pekat.
Gaara melirik Naruto lalu melirik Sasuke. Naruto sama sekali tidak peka karena tidak menyadari aura kelam kekasihnya yang sedari tadi duduk di sampingnya.
Sai menghentikan kegiatannya. "Lalu, apa rencana kita? Shikamaru biasanya selalu memiliki ide cemerlang," ujar Sai dengan senyum palsunya.
Shikamaru yang selalu dianggap paling jenius hanya bisa menggaruk tengkuknya yang memang gatal seraya berkata, "hei, Sai. Aku sama sekali tidak mengerti perasaan perempuan. Perempuan itu kan merepotkan. Mana ku tahu apa yang sedang mereka rasakan saat ini. Apalagi mengenai murid pindahan itu." Shikamaru menghentikan perkataannya kemudian ia menatap Naruto. "Kamu kan perempuan. Apa kamu tidak tergoda atau terpesona sama pesona si kepala merah itu?"
"Eh?!" Naruto terkejut akan pertanyaan dari Shikamaru yang tiba - tiba.
Sasuke menaruh ponsel kekasihnya du atas meja. "Jawab saja yang jujur, Naruto. Anggap saja aku tidak ada," ujar Sasuke dengan nada dingin dan datar.
Naruto berpikir sejenak. Sudah hampir 2 menit ia berpikir dan membuat ketiga pemuda penasaran termasuk dengan kekasihnya sendiri.
"Ng..gimana ngomongnya ya..kalo aku sih..aku.." Naruto salah tingkah dan gugup dengan jawaban yang akan ia katakan.
"Aku sama sekali gak suka. Dia terlalu silau dan mulus bak pemain boyband. Pesona apanya coba? Yang ada malah tuh Sasori mirip bishounen. Terlalu manis dan ...gak menarik," jawab Naruto. Ia tertawa.
Shikamaru tersenyum. Gaara tak berekspresi, Sai tersenyum palsu. Sedangkan Sasuke tak menampilkan ekspresi apapun tapi ia merasa lega. Ia menggenggam kedua tangan mungil dan kuning kekasihnya. Lalu menciumnya. Mencium tangannya. Kalau mencium pipi, kening atau bibir maka ketiga pemuda di depannya akan iri karena sudah lama tidak bersama dengan kekasihnya.
"Sasuke - san, sadar keadaan sekitar, bisa tidak," gumam Shikamaru jengkel karena tidak bisa bersama Hinata seperti pasangan sasunaru di depannya.
"Kami kan lagi tidak bersama pacar kami," sambung Sai ngenes tapi masih bisa tersenyum palsu.
Gaara mengangguk tanda setuju dengan pendapat kedua temannya yang bernasib sama.
"Kami tidak bermesraan jadi kenapa kalian harus iri," balas Sasuke. Cuek.
Naruto mencubit pipi putih kekasihnya. "Sakit dobe. Kenapa gak dicium aja sih? Pipi buat dicubit sama bibir manismu bukan dicubit," ujar Sasuke ooc. Tak lupa ia tersenyum menggoda Naruto.
Wajah sang pelaku kasus pencubitan pipi merona. Ia selalu kalah dan terpesona dengan tatapan dan ucapan manis dari kekasihnya. "Teme pantat ayam! Huh!" seru Naruto sebari memalingkan wajahnya ke arah lain supaya tidak memandangi wajah tampan kekasihnya yang terlampau tampan. Sasuke tersenyum dan mencium pipi kekasihnya tanpa sadar keadaan. Yang penting Sasuke senang. Lagipula ia ikut berkumpul supaya bisa bertemu dengan dango dobe Narutonya yang selalu tampil manis, imut, cerah dan menggemaskan. Tipe gadis Sasuke adalah loli. Gadis yang tidak tinggi a.k.a bertubuh mungil dan wajahnya masih seperti anak SMP. Itu gambaran penampilan kekasihnya saat ini.
Doeng. Wali kelas mereka sungguh menyebalkan dan tak tahu kondisi. Harusnya Sasuke lebih peka tapi dia malah mencium kekasihnya di depan ketiga temannya yang sedang galau akibat tidak dipedulikan oleh kekasih mereka karena suatu hal yang masih mereka selidiki. Ibarat kasus pembunuhan yang harus diungkap siapa pelakunya dan Naruto yang berperan sebagai detektifnya.
"Te..me!" seru Naruto sebari berdiri dan mengepalkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan. Ia menahan malu dan kesal. Sementara itu kekasihnya yang mesum malah kembali memainkan ponsel milik kekasihnya.
"Oh iya, dobe. Nanti rambutmu diginiin ya. Pasti tambah manis," gumam Sasuke sebari memperlihatkan layar ponsel Naruto. Ternyata Sasuke tengah memainkan game anime dress up diary di ponselnya. Ketiga temannya serasa menjadi nyamuk padahal mereka yang meminta kedatangan si gadis pirang dango itu untuk membantu menyelesaikan masalah mereka tapi guru mereka malah mengambil kesempatan untuk bermesraan dengan sahabat pirangnya.
"Haaah.." ketiga pemuda berbeda surai itu menghela nafas bersamaan.
"Ya..aku lupa kalau kita kan lagi diskusi masalah pacar kalian. Gomen gomen. Hehehe," ucap Naruto. Ia tertawa kaku. Sasuke masih memainkan game di ponsel kekasihnya ketika Naruto menoleh ke arahnya.
Sai memulai pembicaraan lagi. "Naruto, kau haru membantu kami. Aku tidak ingin Ino menghindar dariku," ungkap Sai. Ia berusaha tersenyum palsu meski tengah dilanda kegalauan.
"Mendokusai na..hanya kau harapan kami. Kau kan teman dekat mereka," tambah Shikamaru.
"Sakura juga berubah. Ternyata murid baru sialan itu benar - benar membuat para gadis mengidolakan dirinya. Padahal rambutku juga merah," sambung Gaara.
Ketiga pemuda di depan Naruto sungguh mengenaskan. Mereka menjadi galau akibat pacar mereka. Sasori harus diberi pelajaran.
"Oh iya. Bukannya aku yang menjadi incaran si kepala merah itu? Tapi kenapa Ino, Hinata dan Sakura yang jadi korban? Dasar tidak gentle! Mentang - mentang sudah ku tolak. Ngaku cinta pada pandangan pertama. Mendorongku ke dinding pula. Aku kan jadi takut dan makin gak suka sama dia," jelas Naruto panjang lebar.
Sasuke mendengar penjelasan kekasihnya dengan perasaan was was. Tapi ia bisa tenang ketika Naruto meneruskan perkataannya sampai akhir. Naruto tipe gadis setia.
Shikamaru berpikir sejenak. "Naruto, kenapa kamu gak pura - pura nerima dia aja?" usul Shikamaru.
"Tidak bisa!" bentak Sasuke sebari memukul meja yang ada di depannya.
"Itu terlalu berbahaya. Aku yakin kalau si kepala merah itu laki - laki yang berbahaya tidak seperti laki - laki lain yang akan menyerah setelah tahu gadis incarannya sudah dimiliki laki - laki lain," tambah Sasuke. Ia posesif.
Shikamaru terkejut. Ia memberikan saran yang berbahaya. "Lalu bagaimana? Kita tidak mungkin membiarkan ketiga gadis kita seperti itu terus," sambung Gaara.
Naruto mengangguk. "Hm..ya terpaksa aku akan mendekati si Sasori merah itu dan membuat ketiga temanku seperti semula. Tidak ada cara lain, kan?" ujar Naruto yang sontak dihadiahi tatapan tak menyenangkan dari samping kekasihnya.
"Sudah ku bilang kalo aku tidak setuju, dobe. Kau keras kepala sekali," tolak Sasuke💋. Kejadian tak terduga terjadi. Adegan yang seharusnya tidak diperlihatkan kepada tiga temannya malah Naruto perlihatkan.
"Na..Naruto.." gumam ketiga pemuda yang masih remaja itu. Mereka prihatin atas kejadian yang menimpa teman pirang mereka.
"Ma..maafkan aku, Sa..Sasuke - kun. Ku mohon. Demi ketiga temanku. Please.." pinta Naruto dengan sangat. Ia harus melakukan adegan memalukan di depan ketiga temannya dan di dalam kafe. Untung saja kafenya sedang sepi jadi yang melihat adegan tadi hanya ketiga temannya yang masih diam mematung.
"Sa...Sasuke - kun.." gumam Naruto dengan ekspresi menggoda. Sasuke kalah pada pesona kekasihnya yang hampir membuatnya mimisan.
'Guru yang dingin bak es batu sangat lemah pada pesona kekasihnya,' batin Gaara. Ia merasa jika Naruto yang tadi bukan Naruto sahabatnya.
'Wah..cara merayu yang bagus. Seandainya Ino juga seperti Naruto,' batin Sai.
'Aku tidak menyangka kalau guru muda itu bisa merubah sikap pemalunya. Sungguh mengenaskan,' batin Shikamaru.
'Kyaa..tadi aku nyium bibir Sasuke - kun di tempat umum dan di depan orang. Malu!!' batin Naruto.
Sedangkan Sasuke masih sibuk menyentuh bibirnya yang masih terasa manis akibat ciuman mendadak dari kekasih pirangnya itu. Wajahnya merona. Ingin sekali dirinya berteriak dan meloncat ke sana ke mari layaknya kelinci ataupun kangguru. Apa daya. Harga dirinya sebagai keturunan Uchiha yang jauh dari sikap bar bar dan berisik harus menahan keinginan gilanya itu.
"Aku punya ide," gumam Sasuke. Ia kembali ke mode Uchiha yang serius, dingin, datar dan jenius.
Ketiga pemuda yang ada di depannya sontak memerhatikannya. "Ide apa, Sasuke - san?" tanya Shikamaru. Ia sangat penasaran.
"Sini telinga kalian!" perintah Sasuke.
Ketiga pemuda itu patuh lalu mendekatkan telinga mereka.
"Kok aku gak diajak sih? Tega," gumam Naruto merajuk bak anak bawang dalam sebuah permainan yang tidak dibutuhkan.
"Aku akan memberitahumu nanti, dobe," sahut Sasuke.
"Ya..ya," balas Naruto. Bosan. Karena perempuan sendiri ia tidak diajak berbisik - bisik. Padahal kekasihnya tidak mau si gadis pirang yang kurang peka itu dekat dengan pemuda lain termasuk ketiga sahabatnya sendiri.
Psst psst. Naruto mulai bosan. "Udah belum? Cih!" Naruto bosan dan jengkel.
Kegiatan bisik - bisik tetangga pun selesai. Ketiga sahabat Naruto mengangguk. Sedangkan Sasuke masih dalam mode Uchiha.
"Teme! Cepat kasih tahu aku! Iih..!" seru Naruto menggemaskan.
Shikamaru berdiri. Begitu pula dengan Gaara dan Sai. Naruto melongo. Ia terkejut karena ketiga temannya pamit dan pergi meninggalkannya berdua dengan kekasih mesumnya.
💢"Teme!! Cepat cerita!" seru Naruto tidak sabar. Ia memasang ekspresi yang selalu saja membuat Sasuke gemas dan ingin memakannya.
"Iya, sayang. Nanti ceritanya. Sekarang ikut denganku ke kantor Itachi nii - san ya. Aku harus ke sana," ajak Sasuke setelah membayar tagihan mereka membeli minuman di kafe itu.
"Mau ngapain? Aku mau pulang aja. Bukannya kantor libur?" tolak Naruto. Ia menolak tapi penasaran juga.
"Makanya ikut. Aku bawa motor dan helmmu juga. Ayo!" ajak Sasuke. Ia menggandeng tangan kekasihnya. Takut kekasih imutnya dilirik pria lain.
Kekasih yang sangat posesif. Keduanya pasangan yang posesif. Meski Naruto gadis yang pemalu dan kadang cuek tapi ia selalu memerhatikan dan terkadang menatap tajam kepada para gadis yang berani melirik Sasuke nya.
Pasangan sasunaru pun berjalan dengan bergandengan tangan menuju ke tempat parkiran motor di lantai paling atas. Mereka memilih menaiki eskalator daripada lift. Supaya mereka bisa menikmati saat akhir pekan berduaan.
Tak lama mereka pun tiba di tempat parkiran. Naruto sudah tidak terkejut melihat kekasihnya yang selalu membawa helm cadangan. Senang tapi terkadang tidak nyaman jika harus nongkrong dengan kekasih yang lebih dewasa tapi syukuri saja. Daripada tidak punya kekasih.
🍁🍁🍀🍁🍀🍁🍀🍁🍀🍁🍀🍀🍁
Sepasang kekasih muda tengah berjalan memasuki gedung Uchiha corp. Naruto melongo dan kagum terhadap bangunan besar, dan megah. Ternyata tempat ayamnya bekerja sangat luar biasa. Dirinya terasa kecil. Ia juga merasa rendah diri ketika berjalan di dekat kekasihnya yang tak lain adalah putra bungsu pemilik Uchiha corp. Sedangkan dirinya hanyalah siswi SMA biasa. Tak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya.
Sasuke menoleh ke samping ke arah Naruto. Gadisnya berjalan sebari menunduk ke bawah. Raut wajahnya berubah. Dari cerah menjadi suram dan mendung. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh kekasih manisnya.
"Naruto, jangan nunduk gitu. Dan juga jangan cemberut. Nanti aku dikira pedofi kan? Membawa seorang gadis kecil ke kantor," ujar Sasuke. Ia berbisik tepat di telinga gadisnya yang tingginya lumayan beda jauh dari kekasih pirangnya yang pendek.
Naruto pun mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada kekasihnya. "Maafkan aku, Sasuke - kun," balas Naruto. Ia sudah tidak gelisah dan minder lagi.
Semua staf kantor yang bekerja di akhir pekan memberi salam kepada Sasuke dan juga kekasihnya. Mereka terkejut mengenai kedatangan adik dari pimpinan mereka tapi lebih terkejut lagi ia membawa seorang gadis yang masih SMP dengannya sambil menggandeng tangannya dengan mesra dan posesif.
"Hei, gadis itu mirip sama seseorang ya?" tanya karyawati satu berbisik pada temannya.
"Benar. Mirip dengan Namikaze - san lho," balas temannya.
Begitulah para karyawati membicarakan kekasih sang adik ceo perusahaan. Naruto tidak perduli karena ia sudah terlalu sering dibicarakan di belakangnya.
"Eh ada Sasuke - san. Selamat siang," sapa Minato dengan ramah.
"Selamat siang juga, ayah mertua," balas Sasuke.
Naruto terkejut bertemu dengan ayahnya begitu pula dengan sang ayah. Minato tak menyangka jika Sasuke membawa putrinya ke kantor.
"Naruto!" ujar Minato.
"Tou..san. Hehehe," jawab Naruto. Ia tidak tahu harus merespon apa saat bertemu dengan ayahnya.
Sasuke berinisiatif untuk berbicara lebih dekat dengan sang calon ayah mertua. "Sekarang sudah waktunya makan siang. Naruto, ayo kita ke kantin. Ayah juga ikut!" ajak Sasuke.
"Tousan masih harus bekerja nak. Jadi kalian makan berdua saja ya," tolak Minato.
Itachi datang. "Kita makan dulu saja, paman Minato," sambung Itachi. Ia melihat Sasuke membawa seorang gadis. "Eh ada adik ipar. Hai, manis," sapa Itachi. Ia ingin mencium telapak tangan Naruto tapi Sasuke menarik tangan Naruto dan menatap tajam kakak genitnya itu.
'Posesif gila,' batin Itachi kecewa.
'Rupanya Sasuke posesif juga. Hahaha,' batin Minato. Ia senang atas tindakan calon menantunya itu.
__ADS_1
Lalu, Naruto dan ketiga pria berbeda usia dan surai pun berjalan ke kantin bersama - sama seperti keluarga.
Tbc