
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjam tanpa izin
Ide cerita asli punya thor
Khayalan asli thor
Genre : murid, guru, cinta, persahabatan
Pair : sasufemnaru and other
Sifat karakter beda dengan versi anime
Karakter ooc
Happy reading
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, akhirnya keempat gadis cantik berbeda surai dan penampilan itu sampai di depan gerbang pintu masuk Konoha Swimming Pool. Ino dan Hinata memandang sinis pada seorang gadis yang Naruto ajak yaitu Haruno Sakura. Seorang perempuan yang pernah membully teman mereka tapi teman mereka yang dibully malah dengan santainya mengajak orang itu. Naruto malah mengatakan bahwa setiap orang harus diberi kesempatan kedua. Lagipula Sakura sebenarnya tidak jahat tapi hanya karena kedatangan seorang guru muda yang sangat tampan membuatnya menjadi sedikit jahat.
"Naruto, kau memang sangat baik dengan mudah memaafkan si gulali itu." gumam Ino sebari memeluk Naruto. Orang yang dipeluk merasa sesak karena tidak kuat menahan pelukan dan kedua aset Ino yang sangat besar.
"I..iya. Tapi lepasin dong, Ino. Aku sesak nih!" seru Naruto. Ino pun melepaskan pelukannya.
Sakura hanya bisa tersenyum melihat adegan Ino dan Naruto. "Sakura, aku harap kau benar - benar sadar dan tidak mengganggu Naruto lagi." ujar Hinata. "Tenang saja, Hinata. Lagipula ucapan Naruto hari itu memang benar. Aku kan cantik jadi masih ada laki - laki tampan yang mau sama aku." balas Sakura.
Mereka berempat pun memasuki pintu gerbang Konoha Swimming Pool dengan rasa gembira layaknya anak SD. Mereka langsung memasuki ruang ganti perempuan.
Naruto melirik Ino, Sakura dan Hinata. Kemudian ia memandangi bagian atas tubuhnya. Ia pun menghela nafas. Ino menoleh kepada Naruto.
"Ada apa, Naruto? Dari tadi ngeliatin dada mulu." ujar Ino.
"Nggak apa - apa. Hanya saja..aku iri sama punyamu." balas Naruto rendah diri. Ia memandangi miliknya yang tidak sama dengan punya Ino dan Hinata.
"Punyaku juga kecil." sambung Sakura tapi dia tetap percaya diri. Sakura kan sudah cantik, putih, langsing dan pintar. Sudah bisa dipakai modal untuk menarik perhatian laki - laki.
"Nanti juga membesar." tambah Hinata dengan santai.
Setelah berganti pakaian, Naruto dan kawan - kawan langsung masuk ke dalam area kolam renang.
Area kolam renang dipenuhi banyak pengunjung dari berbagai kalangan usia. Di antaranya ada tiga pemuda yang mereka kenal yaitu Gaara, Shikamaru dan Sai. Sebenarnya mereka sudah janjian.
"Gaara!!" teriak Naruto dengan kencang. Ia pun berlari dan terpeleset namun seseorang dengan memiliki respon kecepatan yang sangat tinggi berhasil menyelamatkan sang gadis pirang yang baru saja berteriak tersebut.
"Ah. Terima ka..sih." ucap Naruto. Ucapannya terbata - bata. Ia segera membalikkan wajah dan badannya guna mengetahui sosok sang penolong.
"Hn." gumam sang penolong dengan wajah tak berekspresi tapi jika dilihat dari jarak sedekat 5 cm bisa terlihat ada semburat merah di pipi putihnya.
Wajah Naruto merona, jantungnya berdetak semakin kencang. Ia terpesona pada wajah sang penolong a.k.a Uchiha Sasuke, wali kelasnya sendiri. Maksud hati ingin berpaling tapi matanya terus memandangi paras tampan Uchiha bungsu itu. Lalu terjadilah insiden tatap menatap ala film India.
Ketiga teman Naruto yakni Sakura, Hinata dan Ino termasuk ketiga laki - laki yang seumuran dan satu sekolah dengannya menyaksikan adegan romantis bak film India dengan wajah terkejut dan memerah. Tak lupa Gaara yang sedang memegangi ponselnya ikut mengambil gambar kedua tokoh utama yang sedang beradegan ala film India, mau jatuh tapi ditolong oleh seorang pemuda dan saling pandang. Meski pada awalnya sang gadis membuang wajah karena malu tapi ia tidak bisa untuk tidak terpesona dengan wajah sang penolong yang tak lain adalah wali kelasnya sendiri, Uchiha Sasuke, laki - laki tampan se-Konoha.
Aktivitas tatap menatap takkan berhenti hingga seorang pemuda berambut merah a.k.a Gaara berkata, "sampai kapan kalian akan saling tatap begitu? Apa harus nunggu malam dulu?"
Sontak pasangan sasunaru langsung memalingkan wajah mereka masing - masing, tapi Sasuke memandangi siswi pujaannya itu dengan takjub. Kedua tangannya masih melingkar di pinggang langsing Naruto. Ia melirik sepasang gunung kembar yang ukurannya tidak kecil dan tidak besar namun cukup besar dan memuaskan tangannya untuk diremas. Sasuke segera membuang pikiran kotornya. Ia tak mau dicap guru mesum oleh para muridnya. Tapi tetap saja Sasuke tergoda pada penampilan Naruto. Si gadis pirang yang rambutnya diikat dua dengan kedua dangonya tampak begitu imut. Baju renang yang ia pakai juga tak kalah imut berwarna merah muda atau pink yang dihiasi renda di bagian bawah roknya, meski bukan berupa bikini. Ia bersyukur karena dobe dangonya tidak memakai bikini(Naruto pakai baju renang yang gak kelihatan pusarnya. Bayangin aja ya. Thor rada susah ngejelasinnya. Gomen).
"Mr..sa..sampai ka..pan tangan Mr mau megangin pinggangku terus?" tanya Naruto. Wajahnya sudah semerah buah tomat kesukaan guru ayamnya.
Sasuke masih tetap memeluk pinggang langsing Naruto. Tak ada niat untuk melepaskan kedua tangannya.
'Modus.' batin Ino, Hinata dan Sakura. Ketiga pemuda teman mereka sudah bosan melihat adegan pelukan ala tele***** itu.
'Baka ero no sensei.' batin Shikamaru, menepuk jidatnya.
"Sen..sei..lepasin.." pinta Naruto dengan ekspresi wajah kawaiinya yang sontak membuat wajah Sasuke merona namun seringai licik muncul beberapa detik kemudian muncul. "Aku lepaskan." gumam Sasuke sebelum melempar tubuh Naruto ke dalam kolam yang dalamnya mencapai 2,5 meter.
"Aaaargh!!" jerit Naruto. Ino dan Hinata juga berteriak panik. Sasuke mah santai saja. Ia hanya berniat untuk mengerjai siswinya. Tapi ia heran dengan teriakan dan ekspresi Ino dan Hinata. Sejenak ia menoleh ke arah kolam tempat ia melempar tubuh Naruto. Benar saja. Naruto seperti akan tenggelam.
"Gawat!! Tolong Naruto!! IaΒ tidak bisa berenang!!" seru Ino dan Hinata yang luar biasa paniknya.
"Apa?!" seru Sasuke, Sakura, Sai, Gaara dan Shikamaru terkejut.
Dalam hitungan tak seperkian detik, si pelaku a.k.a Sasuke menerjunkan tubuhnya dan segera berenang untuk menyelamatkan sang pujaan hati. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri. Kenapa ia sampai harus melempar si dobenya ke dalam kolam? Dan juga kenapa ia tidak tahu kalau Naruto tidak bisa berenang? Jika terjadi hal yang buruk, Sasuke tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Sang pelaku pembuat Naruto tenggelam segera membawa tubuh Naruto yang telah basah kuyup ke pinggir kolam. Ia segera menekan dada siswinya yang tenggelam akibat keisengannya. Apa harus diberi ciuman eh bukan maksudnya nafas buatan? Namun sebelum Sasuke hendak melakukan hal itu, Naruto segera tersadar. Kegiatan mencuri kesempatan dalam ketidak berdayaan siswinya pun gagal tapi ia lega karena Naruto telah sadar. Ia segera memeluk Naruto dengan posesif seperti sangat takut kehilangan siswi pirangnya.
"Do..be.." gumam Sasuke sambil memeluk Naruto yang duduk dan dengan penuh tanda tanya besar. Guru yang ia sukai sedang memeluknya dengan erat dan penuh rasa khawatir. Setelah membuatnya celaka dan nyawanya hampir melayang. Apa ini yang dinamakan menebus dosa? Setelah dirinya yang hampir jatuh terpeleset ditolong oleh guru ayamnya, lalu dengan wajah liciknya ia dilempar ke dalam kolam renang yang sangat dalam baginya. Kini sang guru malah memeluknya. Seandainya ia tidak ditolong oleh guru sialannya itu pasti ia akan ditolong oleh keenam temannya. Dasar licik.
"Lepaskan, teme sensei." ujar Naruto dengan nada dingin. Sasuke melepaskan pelukannya dengan sangat terpaksa. Ia memandangi wajah siswinya yang hampir tewas tenggelam akibat ulah isengnya.
"Terima kasih karena telah menolongku. Permisi." ucap Naruto. Tak kalah dingin dari yang beberapa saat tadi ia ucapkan.
Naruto segera bangkit dari duduknya dengan dibantu oleh Ino dan Hinata. Sakura memandang dengan penuh kebingungan yang melanda. Sikap dan nada bicara Naruto sangat aneh, dingin dan menakutkan. Wajahnya juga yang pucat dan datar tanpa ekspresi membuatnya seperti zombie hidup. Sakura melirik ke tempat Sasuke yang sedang duduk mematung. Wajahnya tanpa ekspresi seperti biasa tapi bisa dilihat ada rasa kekecewaan dan rasa menyesal yang sangat dalam pada dirinya. Sakura prihatin dengan keadaan mental sang guru yang pernah ia sukai. Ia pun berjalan mendekati sang guru.
"Mr salah. Dengan cara seperti itu tidak akan membuat Naruto menyukai anda. Ia malah akan membenci anda." gumam Sakura. Ia tidak berniat merebut hati sang guru tapi ia ingin sang guru tersebut bersikap lebih lembut dan wajar jika ingin mendekati teman pirangnya itu. Naruto kan memang temannya.
Sakura pun berjalan meninggalkan Sasuke yang masih duduk mematung.
"Sial!" seru Sasuke. Tapi ia tak akan menyerah. Hari ini, di jam ini, di menit ini dan detik ini juga ia harus meminta maaf pada dobe dango pujaan hatinya itu yang sedang kecewa dan marah karena ulah kekanakannya.
Selama ia hidup ia jarang memohon maaf pada orang lain tapi saat ini beda. Ia harus menurunkan gengsinya untuk meminta maaf pada Naruto dan ia harus segera dimaafkan. Dengan penuh rasa percaya diri ia berjalan menuju tempat Naruto dan teman - temannya berkumpul.
"Naruto, tidak biasanya kau marah pada Mr. Sasuke. Biasanya juga kamu pasrah saja diapa - apain dia." ujar Sakura. Ia penasaran dengan perubahan sikap Naruto yang mencapai 180 derajat.
"Sekali - kali si teme sensei harus dibalas. Aku ini bukan pembantunya. Dia selalu saja mengisengiku terus." jawab Naruto. Ia duduk di sisi kolam renang yang dalamnya hanya 1 meter. Sementara itu Sakura berdiri di dalam kolam renang dengan bikini renangnya yang berwarna merah marun.
"Hm. Kamu benar, Naruto. Aku mendukungmu lho.." tambah Sakura. Ia tersenyum tulus pada Naruto. Naruto juga balas tersenyum.
Ino berenang menghampiri mereka. "Hei, Gaara dan yang lain mau tanding renang lho." ujar Ino. Ia duduk di samping Naruto.
"Benarkah?" tanya Naruto tidak tertarik. Ia hanya nanya saja.
"Yang kalah harus berenang atau berlari berpasangan dengan orang yang ia dukung." tambah Ino menjelaskan. Naruto mengangguk.
"Aku dukung Sai lho. Sai kan jago berenang." ucap Ino dengan sangat bangga.
"Aku dukung Shikamaru saja." sambung Hinata yang baru saja muncul ke permukaan dari dalam kolam.
"Kalau gitu aku akan dukung Gaara saja." tambah Sakura.
"Lho? Aku dukung siapa? Kalian mah kejam. Masa aku nggak ada pasangan sih? Tega.." ujar Naruto dengan nada memelas dan puppy eyes no jutsunya.
"Kau dukung aku saja, dobe." sambung seseorang yang tak lain adalah Uchiha Sasuke. Sang tersangka atas tenggelamnya Namikaze Naruto di Konoha Swimming Pool.
Naruto tak menjawab. Menghiraukannya saja tidak. Sial sekali nasib sang guru muda tampan itu. Mau jadi pahlawan malah jadi penjahat. Tapi tak semudah itu ia goyah. Ia pun melangkah menuju area pertandingan renang dadakan. Ia sudah berdiri di paling kanan.
Ino mengatakan mulai dan para peserta lomba atau tanding renang pun menerjunkan tubuh mereka ke dalam kolam kemudian berenang dengan masing - masing gaya. Gaara bergaya punggung, Shikamaru bergaya kupu - kupu, Sai bergaya dada dan Sasuke dengan gaya bebasnya.
Ketiga gadis minus Naruto menyemangati masing - masing pasangan.
'Buat apa nyemangatin orang jahat berkepala ayam itu. Hukumannya juga cuma berenang atau berlari secara berpasangan. Gak buruk.' batin Naruto. Namun ia mendadak berubah pikiran. Ia baru sadar dengan hukuman bagi peserta yang kalah. Ia tidak mau berenang dan berlari bersama seorang tersangka pembunuhan ralat pembuatnya celaka untuk mengelilingi area kolam renang yang luasnya tak bisa ia ukur.
Naruto pun menyemangati pasangannya a.k.a Sasuke dengan teriakan super kencang dan cemprengnya. Ia menarik nafas dan langsung berteriak dalam satu tarikan. "Teme...!!! Semangat.....!!" teriak Naruto yang membuat semua orang yang mendengarnya harus menutup kedua telinga mereka.
Sasuke mendengar teriakan Naruto dengan sangat jelas. Ia semakin bersemangat untuk menang.
"Gak marah lagi ceritanya." gumam Ino tersenyum jahil pada Naruto.
"Siapa bilang? Aku masih marah." jawab Naruto. Ia membuat ekspresi jengkel di wajahnya.
"Terus? Kenapa nyemangatin Mr. Sasuke?" tanya Hinata, iseng.
"A..aku..hanya..tidak mau kena hukuman." jawab Naruto gugup.
"Dasar." gumam Sakura. Ia mencubit pipi tembemnya Naruto.
"Iih, Sakura. Aku jadi tambah tembem lho." gumam Naruto. Ia meringis sakit setelah dicubit si gadis gulali tapi ia tersenyum bahagia karena bisa bermain dan berkumpul dengan Sakura yang sudah berubah jadi baik lagi seperti yang dulu.
Keempat gadis terus berteriak tanpa memedulikan keadaan sekitar. Toh para pengunjung lain juga tidak peduli.
Dan, juara pertama jatuh kepada jejreeeeeng..sang guru muda tertampan di ff ini, Uchiha Sasuke. Naruto berseru gembira. "Yatta!! Berhasil, berhasil. Hore!" Naruto bernyanyi ala film kartun dor** the explo****. Sasuke tersenyum bangga dan sombong.
Juara kedua jatuh kepada si pemuda malas yang hobinya tidur yang tak lain adalah Nara Shikamaru. "Lumayan kedua juga daripada kena hukuman yang merepotkan." gumam Shikamaru. "Selamat ya, Shika." ucap Hinata. Muka Shikamaru merona. "Thanks."
Juara ketiga adalah Shimura Sai. Pemuda yang pandai melukis dan selalu tersenyum palsu tapi tampan. "Omedetou, Sai - kun." ucap Ino sebari tersenyum kepada Sai. Sai membalas Ino dengan senyuman tulus (???)
Peserta yang kalah adalah sisa dari ketiga pemuda yang menang tadi. Siapa lagi peserta yang tersisa kalau bukan si pemuda berambut merah terasi a.k.a Sabaku Gaara. "Aku kalah." gumam Gaara. Sedikit kecewa. "Tapi kau tetap hebat, Gaara - kun." ucap Sakura sambil tersenyum ke arahnya. Muka Gaara mendadak merona dan jantungnya berdetak lebih kencang. Apa karena sudah lomba renang? Begitu pikirnya.
"Nah..yang kalah harus dihukum." ujar Ino sebari melirik pasangan Garasaku.
"Padahal aku ingin Mr. Sasuke yang kalah lho." balas Sakura dengan seringai jahilnya.
"Iih..gak sudi aku kalau kalah. Harus lari bareng guru ayam ini. No. Impossible. Huh." ujar Naruto. Ia masih marah pada gurunya.
Sasuke masih diam memikirkan cara untuk berbaikan dengan Narutonya. Belum jadian udah ngaku - ngaku.
"Nah..Gaara, Sakura. Kalian harus dihukum ya. Mau berenang bareng apa berlari bareng?" tanya Ino.
"Berenang saja." jawab Sakura dan Gaara bersamaan. Keduanya tiba - tiba merona dan gugup.
"Wah..! Kalian kompak!" seru Naruto dengan nada polosnya.
"Jadi, kita mulai saja. Shikamaru, rekam video mereka!" perintah Ino pada Shikamaru. Shikamaru menurut karena Hinata juga menyuruhnya meski ia sempat mengatakan kata andalannya yakni "merepotkan".
Hukuman pun dimulai. Mereka sangat kompak berenang dengan gaya yang sama yaitu gaya punggung. Tak lama mereka sudah sampai di seberang kolam lalu kembali ke tempat Naruto berada.
__ADS_1
Keduanya tertawa bersama setelah menyelesaikan hukuman. Lalu mereka bermain lempar bola di kolam. Naruto hanya duduk di pinggir kolam karena ia tidak bisa berenang. Dulu ia bisa berenang tapi karena pernah tenggelam di sungai jadi ia trauma. Ia jadi takut jika melihat ke dalam air.
Sasuke duduk di samping Naruto dengan pedenya. Naruto menggeser tapi Sasuke ikut bergeser dan seterusnya sampai di permukaan kolam yang bertuliskan kedalaman 2 meter. Naruto bergidik ngeri. Ia takut tenggelam lagi dan juga ia tidak mau kalau ia harus ditenggelamkan lagi oleh guru temenya itu.
"Apa kau masih marah padaku, Naruto?" tanya Sasuke. Tersirat rasa bersalah dan menyesal di balik kata - kata dan ekspresi wajah sendu sang guru.
Naruto menoleh ke samping ke tempat Sasuke duduk yang jaraknya sekitar 1 meter dari tempat ia duduk saat ini. Tadinya 3 meter jaraknya berhubung ia ada di pinggir kolam dengan kedalamn 2 meter jadi ia bergeser dan jaraknya juga jadi tidak begitu jauh dari guru yang ia sukai.
Naruto pun berpikir. Ia tidak tega kalau harus marah pada gurunya. Lagipula tidak baik dan tidak sopan kalau seorang murid marah pada gurunya. Padahal mereka tidak bertingkah seperti murid dan guru saat ini. Malah mirip seperti pasangan kekasih yang tengah bertengkar.
Si gadis pirang tersenyum kepada sang pemuda tampan lalu berkata. "Tidak, Mr. A..aku tidak marah lagi pada Mr." ucap Naruto dengan lembut dan sopan. Sasuke yang mendengar perkataan Naruto pun tersenyum dan langsung bergeser mendekati sang murid.
"Thank you, dobe." balas Sasuke. Ia mencium telapak tangan kanan Naruto. Sontak wajah Naruto merona, panas dan mendidih atas sikap lembut dan romantis dari gurunya itu.
Naruto dilanda dilema. Dilema antara mengartikan sikap Sasuke yang sangat berbeda. Bukan sikap dan perhatian dari seorang guru pada muridnya melainkan lebih menjurus ke perhatian pada sang kekasih. Bolehkah Naruto berharap jika sang guru yang ia sukai memiliki perasaan yang sama dengannya?
Khayalannya pudar saat sang guru berambut ayam itu memanggilnya dengan sebutan "dobe". Ia jadi menyesal telah menganggap sikap sang guru ayamnya itu sebagai perhatian pada kekasihnya. Jika pada akhirnya ia harus dongkol pada sikap dan perkataan yang ke luar dari mulut pedasnya sang guru.
Naruto bangkit dari duduknya. "Mau ke mana, dobe?" tanya Naruto seperti seorang anak yang bertanya pada ibunya. "Beli minuman yang segar dan manis." jawab Naruto, jutek tapi tidak dingin.
"Kan sudah ada yang segar dan manis di sini." tambah Sasuke. Ia juga ikut berdiri dan melangkah menyusul Naruto.
"Apa itu?" beo Naruto.
"Si dobe dango yang tadi duduk di pinggir kolam." jawab Sasuke. Niat hati menggombal tapi yang digombali tak merespon tepatnya pura - pura tak merespon. Padahal dalam hati ia sedikit merasa tercubit akibat digombali oleh seorang laki - laki penolak cinta ribuan perempuan.
"Gombal." balas Naruto dengan nada datar menoleh ke arah Sasuke. Lalu ia berjalan sebari tersenyum dan bergumam dalam hati. 'Mungkin aku bisa sedikit berharap kali ini.' batin Naruto.
Sasuke juga ikut berjalan tepatnya berjalan di samping Naruto dengan santai.
"Teme sensei, traktir ya?" gumam Naruto dengan suara pelan.
"Ok. Kalau perlu keenam temanmu juga kutraktir." balas Sasuke. Ia tersenyum karena bisa mengambil hati sang pujaan hati.
Kemudian Naruto membeli 7 kaleng minuman dengan rasa dan warna berbeda. Beda warna kaleng maksudnya. Ia tak lupa membeli satu kaleng minuman lagi dengan rasa "cappuchino ice". Ia memberikannya kepada Sasuke.
"Tidak ada rasa tomat. Ini saja untuk Mr. Tidak apa - apa kan." ujar Naruto. Ia menjijing sekantong penuh dengan isi 6 kaleng minuman. Minuman Naruto yang rasa jeruk tengah ia teguk.
Sasuke menerima minuman dari Naruto dengan senang hati. Ia juga suka dengan cappuchino yang tidak manis. Karena bagi Sasuke yang manis itu hanyalah Naruto. Meski kadar kemanisan yang Naruto miliki tapi tidak membuatnya terkena diabetes.
"Hn. Thanks." ucap Sasuke. Setelah membayar semua minuman yang Naruto beli, Sasuke pun membayarnya. Ia tadi sempat mengambil dompet sebelum menemui Naruto. Jaga - jaga jika sang gadis pujaannya minta ditraktir. Buktinya firasatnya benar. Naruto ingin ditraktir. Tak apalah asal Naruto tak merajuk lagi.
"Harusnya aku dong yang ngucapin terima kasih sama Mr. Arigatou ne, teme sensei." ucap Naruto dengan senyum manisnya yang membuat seorang Uchiha Sasuke meleleh bagai lilin dibakar api atau es batu yang diletakkan di tengah lapangan cuaca panas. Nah Sasuke hiperbola lagi. Jadi ooc tuh.
"Hn. Sama - sama. Asal kamu tidak marah lagi, dobe." balas Sasuke. Ia menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. Sasuke bisa salah tingkah juga meski ekspresi wajahnya tetap datar.
"Aku sudah tidak marah kok sama teme sensei." sambung Naruto. Ia berjalan di samping Sasuke dengan santai padahal jantungnya sedang berdebar kencang seperti mau ke luar dari dadanya.
Sasuke tersenyum puas. Usahanya membuat Naruto tidak marah lagi, berhasil. Sisanya ia akan menyatakan perasaannya hari ini.
Mereka pun sampai di tempat Ino dan yang lainnya menunggu.
"Kalian dari mana saja?" tanya Ino dengan kesan mengintrogasi susah bertanya kepada temannya.
"Beli minum. Ini untuk kalian. Teme sensei mentraktir kita." jawab Naruto seraya menyerahkan sekantung minuman pada Ino.
"Oh. Thanks ya, Mr. Sasuke." balas Ino dan yang lain.
Naruto celingak celinguk seperti sedang mencari seseorang. "Kau sedang mencari siapa, dobe?" tanya Sasuke ingin tahu. "Gaara dan Sakura tidak ada. Mereka ke mana, Sai?" Naruto malah bertanya pada Sai. Sai menjawab dengan jari telunjuknya yang mengarah pada pasangan muda mudi yang sedang mengobrol di dalam air.
Naruto sekilas tersenyum lega. Ia merasa bersyukur karena Sakura telah mendapatkan pengganti Sasuke. Kalau ia, tidak ada kemajuan. Ingin sekali menenggelamkan diri ke kolam. Padahal ia tadi tenggelam. Benar - benar dobe. Ia melangkah menjauhi teman - temannya yang sedang berkumpul. Meratapi nasib. Ia terus berjalan. Tanpa sadar ia menabrak seseorang.
"Ah, maaf." ucap Naruto. Kemudian ia mendongak ke atas ke wajah orang yang ia tabrak.
"Naru..to." gumam orang itu.
"To..Toneri.." gumam Naruto. Orang yang ia tabrak ternyata Toneri. Ia serasa mendapatkan nasib sial yang ganda. Kenapa bertemu mantan cinta pertamanya di tempat ini? Dan juga ia harus dilihat dengan memakai baju renang oleh pemuda berambut perak itu.
Saat keduanya hendak mengobrol baru membuka mulut, tanpa sadar situasi seorang pemuda berambut emo berjalan ke arah mereka dan mengganggu momen yang baru saja akan dimulai.
"Naruto. Teman - temanmu mencarimu." ujar Sasuke. Lalu ia menoleh pada Toneri dengan pandangan sinis.
"I..iya. Sampai nanti, Toneri." ucap Naruto.
"Bye." balas Toneri. Ia berlari menemui teman - temannya juga.
'Jadi dia Toneri. Gak ada bagusnya. Aku yang pasti menang.' batin nista Sasuke.
Naruto menarik tangan Sasuke. "Ayo, teme sensei!" seru Naruto kesal. Tadinya ia mau mengobrol sebentar dengan Toneri tapi guru temenya malah datang mengganggu. Ia kan ingin tahu reaksi apa saat ia dan Toneri mengobrol berduaan. Apa Sasuke akan cemburu? Boleh kali kalau dirinya berharap meski hanya sedikit juga.
Naruto terus menarik sebelah tangan Sasuke tanpa rasa malu. Sasuke menikmatinya. Ia malah tersenyum. Untung ia menerima ajakan dari Gaara.
"Ke mana mereka? Kok tidak ada?" tanya Naruto. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kolam tapi tidak ada keberadaan salah satu dari 6 orang temannya.
"Mereka meninggalkanku." gumam Naruto. Ia menggerut. Tangan Sasuke sudah tidak ia genggam.
"Tidak. Mungkin mereka juga ingin berduaan." jawab Naruto. Santai. Kemudian ia duduk di pinggir kolam. Sasuke masuk ke dalam kolam.
"Kalau gitu, kita juga berduaan saja seperti mereka." ucap Sasuke terkesan aneh bagi Naruto.
"Setiap pulang sekolah juga selalu berduaan." balas Naruto. Omongannya tidak nyambung.
"Oh ya, dobe. Apa kau tidak mau bisa berenang?" tanya Sasuke. Ia berdiri bersandar di dinding kolam dekat Naruto.
"Tentu saja aku mau. Tapi..aku takut." jawab Naruto. Terbesit rasa trauma pada tatapan kedua mata saphirenya.
"Kenapa kau takut? Aku akan mengajarimu, bagaimana?" bujuk Sasuke, modus.
"Eh?" beo Naruto. "Apa aku harus membayarnya? Biasanya kan teme sensei selalu minta bayaran terus dariku." gumam Naruto. Ia menggerutu.
"Gratis kok. Tanpa bayar uang sepersen pun atau hal apapun. Jadi cepat kau turun!" perintah Sasuke tidak sabar.
Naruto patuh saja. Ia masuk ke kolam. Sensasi dingin merasuki badannya. Namun jadi terasa segar. Ia bisa melihat tubuh sixpack sang guru berambut ayam yang tengah berdiri di depannya. Wajahnya juga sangat tampan. Ia memang selalu dekat dengan gurunya di sekolah. Tapi beda lagi jika di tempat lain. Ini di luar sekolah. Pakaian mereka juga berbeda. Naruto membuang wajahnya ke sembarang tempat(ada yang mau mungut wajahnya Naruto gak?).
"Ayo, dobe." titah Sasuke. Ia menggenggam kedua tangan si gadis pirang berdango.
"Kok jadi seperti berlatih dansa?" tanya Naruto tidak mengerti. Ingin rasanya Sasuke membenturkan kepalanya ke dinding kolam karena kebodohan sang gadis pujaan. Dobe tapi naksir. Berarti Sasuke juga sama dobenya.
"Beda, dobe. Sekarang kau ubah posisimu seperti mau berenang." titah Sasuke. Naruto ragu. "Aku tidak akan melepaskan tanganmu. Aku juga tidak akan membuatmu tenggelam lagi." tambah Sasuke. Timbul semburat merah yang samar di wajah putih guru muda itu.
Naruto patuh. Wajahnya juga tak kalah merona tapi ia abaikan karena ia memang ingin bisa berenang bukan bermesraan dengan guru tampannya itu.
"Se..seperti ini, te..teme..sensei.." gumam Naruto. Posisinya memang mirip posisi orang yang sedang berenang. Ia malu dan gugup sekali.
"Gerakkan kedua kakimu. Anggap saja kalau air itu temanmu." tambah Sasuke.
"Teman? Ya air itu teman yang udah bikin aku 2 kali hampir tewas." sambung Naruto dengan ekspresi lucunya. Sasuke malah tersenyum. Senyuman yang benar - benar asli yang sampai membuat Naruto semakin merona.
"Ya..tadi aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau kau tidak bisa berenang." ujar Sasuke. Ia sangat merasa bersalah.
"Tak apa. Lagipula teme sensei sudah menolongku." tambah Naruto. Ia tersenyum. Sasuke yang melihatnya hanya bisa diam dan terpesona. Ia selalu terpesona pada senyuman Naruto yang sangat menawan dan bisa mencerahkan dirinya yang suram.
"Hn." gumam Sasuke. Ia berusaha menjadi dirinya yang super datar.
'Kembali ke sifat aslinya. Datar dan dingin. Ibarat talenan yang dibasuh sama air es.' keluh Naruto dalam hati.
Sasuke terus mengajari Naruto berenang meski murid yang ia ajari selalu gagal dan hampir tenggelam. Ia kewalahan mengajari Naruto tapi keduanya malah tertawa bersama. Tepatnya Sasuke menertawakan Naruto yang tak kunjung pintar berenang.
Tiba - tiba seorang anak perempuan yang berdiri di atas berteriak, "awas, nee - chan!!"
Bruk. Tubuh Naruto tertabrak seorang anak laki - laki yang sedang berenang cepat melewatinya. Naruto jatuh ke pelukan guru tampannya itu. Kedua aset berharganya tak sengaja menyentuh dada bidang sang guru. Sontak wajah keduanya memerah lalu menghentikan aktivitas meluk dan dipeluk. Tanpa mereka sadari, beberapa teman mereka, Gaara dan Sakura merekam kejadian dari awal belajar berenang hingga adegan berpelukan.
"Itu orang kapan nembaknya, sih. Buang - buang waktu saja. Padahal timingnya pas" gerutu Sakura. Ia sudah gemas melihat tingkah pasangan sasunaru yang bertolak belakang.
"Mungkin lebaran monyet." sambung Gaara.
"Kau benar, Gaara. Tapi memangnya ada lebaran monyet di kalender?" tambah dan tanya Sakura. Gaara menepuk jidatnya. Jangan - jangan gadis gulali di sampingnya juga sama dengan Naruto. Sama - sama bodoh dalam hal tertentu.
Ino, Hinata, Sai dan Shikamaru berjalan mendekati Naruto dan Sasuke yang masih berada di dalam kolam.
"Hei! Mau sampai kalian mesra - mesraan gitu?" ejek Ino
"Lebih baik kita naikΒ perosotan itu!" seru Hinata sebari menunjuk ke arah perosotan yang ada di tengah atas kolam yang sangat tinggi.
Naruto terperanga. Ia tidak berani naik wahana itu. Ia sangat takut. Sasuke yang berada di sampingnya mengetahui hal itu. Ia ingin iseng tapi takut Naruto celaka lagi.
"Kalian saja yang naik. Aku di sini saja." tolak Naruto.
"Ayolah, Naruto. Kan naiknya berpasangan. Jadi kita bisa empat kali naik." bujuk Ino.
"Ta..tapi.." bantah Naruto. "Baiklah." jawab Naruto dengan sangat terpaksa.
"Nah gitu dong. Ayo naik ke atas. Jangan di kolam terus." ujar Hinata.
Naruto diam. "A..aku tidak bisa naik. Hehehe." ucap Naruto. Ia memang tidak bisa naik ke atas lantai pinggir kolam. Sasuke segera mengangkat siswinya tanpa minta izin pada siswinya.
"Eh..?" Naruto terkejut. Guru tampannya mengangkat tubuh Naruto hingga ke atas lantai di pinggir kolam dengan wajah yang saling berhadapan.
"Te..teme...!!" seru Naruto yang sudah tak sanggup menahan malu.
"Hn." hanya itu yang digumamkan oleh sang pelaku.
"Suit suit.." ejek Ino dan yang lain.
"Manisnya.." ujar Hinata.
__ADS_1
"Jadi iri.." ujar Sakura yang entah kapan sudah ada di dekat mereka.
Naruto terlihat marah dan kesal pada gurunya. Sasuke menganggapnya seperti anak kecil karena tubuhnya yang kecil dan pendek. Sasuke mah cuek saja. Kapan lagi bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan.
πππππππππ
Kini keempat pasang pemuda dan pemudi telah berdiri di atas perosotan.Mereka telah bersiap untuk turun melewati perosotan tinggi itu. Nyali Naruto tambah menciut saat melihat bagian bawah kolam. Ia bersembunyi di belakang Sasuke.
"Kau takut, dobe?" tanya Sasuke iseng. Ia sudah tahu jawabannya tapi tetap bertanya.
"Iya. Aku takut." jawab Naruto. Ia benar - benar takut.
"Tenanglah. Ada aku ini. Kau jangan takut ya, dobe." bujuk Sasuke. Ia menggenggam kedua tangan Naruto dengan lembut.
"A..aku..takut sekali, Mr." Naruto tambah gugup dan malu.
"Jangan naik saja kalau takut." sambung Sasuke.
Tapi Naruto bertekad. "Ba..baik. A..aku akan ikut masuk ke perosotan itu." jawab Naruto masih sedikit takut dan ragu.
Tak lama mereka masuk ke dalam perosotan dan berteriaklah ke empat gadis itu. Sesampainya di bawah kolam, Naruto segera berlari di dalam kolam renang dan segera menuju toilet. Kebetulan kolam renangnya dangkal jadi ia bisa sedikit berenang dan berlari.
Sasuke mengejar Naruto lalu disusul oleh Sakura. Sementara Ino dan yang lainnya masih di dalam kolam untuk memberikan kesempatan kepada teman dan guru mereka.
"Hoeeek hoooek hooek." Naruto muntah dan pusing. Untung saja ia belum makan tapi makanan yang tadi ia makan, ke luar lagi.
"Mual sekali. Pusing jadinya." gumam Naruto berada di dalam toilet perempuan yang baru saja memuntahkan isi perutnya ke dalam wastafel.
"Kamu nggak apa - apa, Naruto?" tanya Sakura. Ia sedikit khawatir pada Naruto.
"Emh. Aku nggak apa - apa. Hanya mual, pusing dan lapar." jawab Naruto santai.
"Ok. Setelah ini kita makan. Mr. Sasuke sedang menunggu di luar." ujar Sakura.
"Mr. Sasuke menunggu di luar? Buat apa?" beo Naruto.
Pletak. Sakura menjitak kepala Naruto. "Tentu saja menunggumu, Naruto." jawab Sakura. Ia gemas pada ketidak pekaan Naruto.
Kemudian mereka berjalan ke luar dari toilet. Benar saja jika Sasuke telah menunggu mereka di luar. Ia memberikan minuman segar pada Naruto. Ia sangat khawatir pada siswinya.
"Apa kau baik - baik saja, dobe?" tanya Sasuke. Wajahnya masih datar tapi Naruto tahu jika gurunya memang mengkhawatirkannya.
"Aku baik - baik saja, Mr. Ayo kita makan. Kita panggil Ino dan yang lain." jawab Naruto.
Naruto, Sasuke, Ino, Sai, Hinata, Gaara, Sakura, dan Shikamaru telah berkumpul di bawah saung tempat beristirahat. Mereka sudah siap untuk makan. Keempat pemuda di sana tidak membawa apapun. Jadi mereka makan makanan yang para gadis bawa. Begitu pula dengan guru muda mereka, Uchiha Sasuke. Dengan tidak elit dan berkepriuchihaan ia mengambil onigiri milik Naruto dan langsung memakannya.
"Dobe, kau yang bikin onigiri ini?" tanya Sasuke. Ia sudah melahap 2 onigiri milik Naruto tanpa seizinnya ketika sang pemilik mengambil air minum di botolnya.
Naruto keheranan ketika melihat onigiri yang baru saja ia ke luarkan menghilang sebanyak dua buah. Mungkin ia salah hitung. Ia segera memakan bekal yang ia bawa begitu pula dengan teman - temannya yang lain.
Hinata membawa bekal berupa sandwich, Sakura membawa salad sayur dan buah sedangkan Ino membawa ayam panggang beserta nasi dan sambalnya a.k.a pecel ayam versi ff ini.
Ada hal aneh yang Naruto perhatikan dari keenam temannya. Sejak kapan Ino dan Sai terlihat akrab begitu? Shikamaru yang pemalas dan menganggap perempuan adalah mahluk yang merepotkan tapi ia dengan suka rela mau disuapi oleh Hinata. Juga Sakura dan Gaara. Gaara yang tidak suka pedas mencoba untuk memakan salad sayur dan buah milik Sakura yang sangat pedas. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di antara mereka tanpa Naruto sadari.
Tak mau ambil pusing, ia mengambil sepotong ayam bakar panggang milik Ino dan memakannya namun dengan seenak ekor ayam di kepalanya, sang guru a.k.a Sasuke malah memakannya. Jadi terlihat seperti Naruto yang menyuapi Sasuke.
Naruto kaget dan merona. "A..apa yang kau lakukan, teme sensei?!" seru Naruto. Ia merasa kesal dan menyembunyikan rasa gugup yang tengah melanda.
"Makan." jawab Sasuke singkat dan tanpa ekspresi.
Naruto mendecih sebal. Kemudian ia mengambil sepotong ayam lagi. Dan kejadian serupa pun terulang lagi.
'Cih. Menyebalkan.' batin Naruto. Ia sedang sangat lapar. Tadi gurunya meminta onigiri miliknya dan hampir menghabiskannya. Padahal ia juga lapar. Kali ini ia harus makan. Namun ayamnya sudah habis. Ia merasa sedih. Hanya tersisa onigiri miliknya yang tersisa 1 dan salad milik Sakura yang super pedas. Dengan terpaksa ia memakan salad yang pedas.
"Pesanan datang." ujar seorang pelayan pria membawa makanan. Naruto dan teman - temannya merasa heran karena tidak ada yang memesan makanan. Tapi saat itu juga mereka sadar bahwa yang memesan makanan pastilah guru mereka, Sasuke.
"Itu semua untuk kalian. Makan saja." ujar Sasuke. Ia memilih untuk duduk di dekat Naruto sebari mengutak ngatik ponsel miliknya. Ponsel milik Naruto yang ada di dekat sang empunya. Sasuke dengan mudah membuka layar ponsel. Karena kata kuncinya adalah idola tampan siswinya itu yakni Ryuji Sato. Mudah dibaca isi pikiran murid dobenya itu.
Dengan senang hati Naruto mengambil makanan yang ada di hadapannya.
"Makan yang banyak. Jangan sampai pingsan karena kurang makan, dobe." gumam Sasuke yang terdengar seperti ejekan bagi Naruto.
"Kagak usah disuruh juga aku pasti makan banyak, teme sensei." balas Naruto yang menekankan ucapan teme sensei.
Skip time saja lihat adegan Naruto makan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Saatnya untuk pulang. Naruto sudah berganti pakaian lebih dulu karena ia tidak bisa berenang jadi ia tidak mau lama - lama berenang.
Kini Naruto yang rambut pirang panjangnya terurai itu sedang duduk di ayunan dekat taman yang berada di sekitar Konoha Swimming Pool. Terkadang rambut panjangnya tertiup angin. Karena masih basah jadi ia membiarkan rambutnya diurai begitu saja.
Tak sengaja Sasuke melewati tempat Naruto. Ia melihat Naruto dari belakang. Sasuke masih saja terpesona pada penampilan Naruto yang terlihat berbeda tapi manis baginya. Naruto memakai dress sifon berwarna biru muda tanpa lengan. Ia berayun ke atas dan ke bawah pada ayunan itu. Tanpa membuang waktu, pemuda yang berambut emo itu melangkah mendekati sang gadis pirang.
Merasa ada seseorang yang mendekatinya dari belakang, Naruto menoleh.
"Mr? Sedang apa di sini?" tanya Naruto dengan polosnya. Ekspresi itu yang membuat Sasuke menyukainya. Tidak ada kata memuji dan rasa kagum yang Naruto ungkapkan. Naruto yang selalu jujur dan kadang berkata pedas hampir menyamainya meski Sasuke yang pasti menang jika perang kata - kata pedas.
"Hn. Tidak ada." jawab Sasuke singkat. Ia terlihat salah tingkah.
Naruto tersenyum kemudian berkata, "hari ini aku sangat bahagia.." ia menjeda perkataannya. "Bisa bermain dan berkumpul dengan teman - teman dan juga teme sensei." ujar Naruto. Ia masih tersenyum.
Detak jantung sang teme sensei berdetak lebih cepat hingga membuatnya takut terkena serangan jantung mendadak. Tapi ia tahu debaran jantungnya yang tambah kencang bukan karena penyakit jantung melainkan penyakit cinta. Ia segera bertekad untuk mengakhiri rasa gugup dan gelisah yang selama beberapa bulan ini ia rasakan karena selalu menahan perasaan itu.
"Dobe." panggil Sasuke tetap stoic.
"Hm?" beo Naruto. Ia sudah berdiri.
"Sebenarnya.. Aku.." gumam Sasuke.
"Sebenarnya apa Mr?" tanya Naruto penasaran.
"Aku me.." sebelum Sasuke melanjutkan perkataannya, sesosok lelaki yang berparas hampir sama dengannya, memanggil namanya.
"Woi, Sasuke!" panggil pria itu yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri, Uchiha Itachi. Ia berjalan ke tempat Naruto dan Sasuke berada.
"Kenapa baka nii - san ada di sini? Ganggu aja." gumam Sasuke. Timbul persimpangan 4 di dahinyaπ’. Kakaknya datang di waktu yang tak tepat dan telah mengganggu acara besar dalam hidupnya yang akan ia laksanakan.
"Wah..ada Naruto - chan. Halo Naruto." sapa Itachi sebari mengedipkan sebelah matanya pada gadis pirang itu. Tak lupa Itachi memasang senyum mempesona.
"Halo. Selamat sore, Itachi - nii." balas Naruto dengan ramah.
"Kau pangling lho dengan rambut diurai. Tambah cantik." ujar Itachi memuji Naruto.
"Itachi - nii berlebihan." ujar Naruto. Ia tersipu malu.
Aura hitam gelap pekat terpancar dari tubuh Sasuke. Ia menatap kakaknya dengan tajam. "Ada perlu apa baka - tachi - nii kemari?" tanya Sasuke yang merasa super kesal. Kakaknya datang di saat Sasuke hendak mengakhiri perasaan galaunya ditambah ia merayu gadis pujaannya di depan matanya sendiri. Sasuke jadi ingin menchidori kakaknya kalau perlu mengirimnya ke dimensi lain.
"Aku tadi bertemu klien, otouto. Sekarang aku harus cepat - cepat pergi ke suatu tempat yang sulit ditempuh oleh mobil. Jadi aku pinjam motormu." jelas Itachi.
"Lalu aku pulang naik apa?" bantah Sasuke dengan beralasan.
"Kau bawa mobilku. Kalau tidak mau ya masih ada bus, taksi atau kereta." jelas Itachi tak mau kalah. Ia memberikan kunci mobilnya pada Sasuke. Sasuke menerimanya. Kapan lagi bisa membawa mobil sang kakak yang selalu tidak mau meminjamkannya mobil.
"Hn." gumam Sasuke. Ia melirik ke arah Naruto.
"Sekalian kau antarkan murid - muridmu juga." tambah Itachi sebari menunjuk ke tempat teman - teman Naruto berada tepatnya bersembunyi.
"Kalian sedang apa di situ? Kayak lagi ngintip aja." ujar Naruto berkacak pinggang. Ino dan yang lain tersenyum kaku.
"Nah, otouto. Aku pinjam motor kesayanganmu ya. Bye." gumam Itachi seraya berjalan meninggalkan Sasuke dan para muridnya.
"Ayo kita pulang, minna!" ajak Naruto penuh semangat. "Teme sensei akan mengantar kita pulang. Lumayan lho gratis. Hehehe!" seru Naruto.
"Siapa yang mau mengantarmu, dobe?" ejek Sasuke.
"Tentu saja Mr. Kan Itachi - nii juga nyuruh barusan. Jangan pura - pura lupa atau pikun ya." balas Naruto. Tak mau kalah.
Sementara itu, keenam pelaku pengintipan sedang sibuk bertelepati.
'Padahal tadi waktunya udah pas banget. ' batin Ino.
'Tinggal sedikit lagi..' batin Hinata.
'Mereka benar - benar menggemaskan sekaligus mengesalkan.' batin Sakura.
'Selalu saja merepotkan.' batin Shikamaru.
'.....' pikir Gaara dan Sai yang tidak tahu harus berkata apa meski hanya di dalam hati.
'Sungguh mengecewakan.' batin ketiga pasang sejoli yang jadi penguntit dadakan bagi pasangan sasunaru.
Naruto dan kawan - kawan pun diantar pulang oleh Sasuke dengan naik mobil milik kakaknya, Itachi. Awalnya Naruto hendak duduk di kursi tengah tapi Ino dan Sakura memaksanya untuk duduk di kursi depan di samping guru mereka. Dengan sangat terpaksa ia duduk di samping Sasuke. Bukan tidak mau tapi ia grogi kalau harus duduk di dekat guru muda itu. Ia bisa salah tingkah. Menormalkan detak jantungnya saja sulit apalagi ia seharian ini selalu diganggu oleh guru ayamnya itu.
Naruto menghela nafas. Sasuke yang tengah menyetir sesekali melirik ke arah samping kanannya. Naruto terlihat tidak nyaman dalam posisi duduknya. Sesekali ia menguap. Ponselnya mati karena tadi ia pakai untuk berselfi ria bersama keempat teman perempuannya. Jadilah ia merasa bosan. Tak lama kemudian matanya terpejam dan ia pun tertidur. Akhirnya Sasuke sendiri yang terjaga. Para murid yang berada di kursi belakang juga tertidur akibat kelelahan. Hanya Gaara saja yang masih terjaga. Ia sibuk bermain game online.
Satu per satu murid Sasuke turun dari mobil ketika sampai di alamat rumah mereka tinggal. Naruto yang terakhir sampai. Ia malah tertidur dan tak sempat bertegur sapa hanya untuk sekedar mengucapkan sampai jumpa dengan teman - temannya.
"Kita sudah sampai, dobe." ucap Sasuke. Ia menoleh ke samping. Naruto nya sudah bangun.
"Ya. Aku tahu, Mr," sebelum Naruto membuka pintu mobil, sang guru tampan yang tadi menjadi supir telah lebih dulu membukakan pintu mobil untuk murid kesayangannya. "A..arigatou, Mr." ucap Naruto. Ia tersipu akan perlakuan dari sang guru.
"Hn. Sampai nanti, dobe." ujar Sasuke sebari mengusap surai pirang Naruto.
Naruto tersenyum malu ketika rambutnya dibelai oleh pemuda tampan berwajah tanpa ekspresi. "Sampai nanti," balas Naruto. Ia segera membuka pintu gerbang rumahnya lalu masuk.
Sasuke tersenyum. Ia memandangi tangannya yang selalu bertindak tanpa izinnya karena telah menyentuh kepala Naruto. Uchiha Sasuke pun melanjutkan perjalanan dengan rasa gembira meski tujuannya belum tercapai.
__ADS_1
Tbc