
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjam tanpa izin
Ide cerita asli milik thor
Pair sasufemnaru
Genre murid, guru, cinta
Cerita gaje dan abal - abal, banyak typo dan karakter pada ooc
Happy reading
Pagi ini sang gadis pemilik surai pirang dengan berhiaskan dua buah dango di sisi atas kepalanya tampak begitu bersemangat saat memasuki ruang kelas. Senyuman tak luput dari wajah cantiknya. Aura kebahagiaan yang cerah terpancar dari dalam. Namikaze Naruto sedang bahagia. Semalam ia telah menuntaskan membaca beberapa manganya yang sempat tak ia baca dan juga film live action kesukaannya yang dibintangi oleh aktor tampan favoritnya.
"Ohayou, minna - san." sapa Naruto saat memasuki ruang kelas. Disusul Hinata dari belakangnya.
"Ohayou." balas teman - teman Naruto yang mendengar sapaanya tak terkecuali Ino.
Naruto langsung duduk di bangkunya di sebelah Ino. Sedangkan Hinata duduk di depan Naruto.
"Ada apa, Naruto? Kau sepertinya senang sekali? Habis kencan ya.." ujar Ino menggoda teman pirangnya yang sedang dilanda kebahagiaan yang tak terkira.
"Ya. Semalam aku kencan." jawab Naruto masih tersenyum bahagia.
"Baguslah. Akhirnya kau kencan juga dengan pria tampan itu." tambah Ino yang juga ikut merasa bahagia.
"Siapa pria tampan itu? Maksudmu.. Yang rambutnya kayak ekor ayam itu? Dia cuma mampir ke rumahku karena disuruh ibuku." sambung Naruto malah keceplosan tanpa sadar.
"Ups. Aku tadi salah bicara. Jangan ditanggapi" tambah Naruto berusaha menyembunyikan sesuatu dengan tertawa garing.
Ino dan Hinata jadi curiga terhadap teman pirangnya itu.
"Mampir?" tanya Ino tambah penasaran.
"Siapa? Ekor ayam?" Hinata juga ikut mengintrogasi Naruto. Naruto tambah tersudut.
"Hahaha..bukan siapa - siapa..lupakan yang tadi aku bicarakan. Aku semalam nonton anime dan live action kesukaanku. Kan pemainnya tampan sekali... Hehehe," jelas Naruto mengalihkan pembicaraan. Namun kedua temannya malah semakin curiga.
"Bohong!" seru Ino dan Hinata secara bersamaan dengan tatapan mengintimidasi seperti guru ayamnya itu.
"Ng..itu..itu..kemarin..aku..tidak sengaja bertemu dengannya. Aku tidak tega melihatnya, aku memberinya minum lalu berjalan bersama sampai lewat depan rumahku lalu ibuku memintanya untuk mampir. Jadi dia masuk ke rumahku," jawab Naruto yang mendadak gugup akan tatapan kedua temannya berbeda surai itu.
Ino dan Hinata saling memandang dan kompak berseru, "ciie...siapa tuh? Cowok mana tuh, Naruto?" keduanya malah bertanya.
"Ah. Lupakan saja," gumam Naruto jengkel. Naruto berpikir kalau kedua temannya tahu orang yang ia maksud.
"Uchiha Sasuke sensei kan," tambah Sai yang tiba - tiba duduk di sebelah Hinata di depan Ino.
"Sa..Sai?!" ketiga gadis itu terkejut atas kedatangan Sai tanpa diketahui mereka dan juga terkejut atas perkataan Sai.
"Kemarin saat aku ke pom bensin, aku melihat Mr. Sasuke sedang membonceng seorang gadis berambut pirang yang dikepang satu. Aku pikir dia Ino. Ternyata bukan," jelas Sai dengan senyum palsunya yang cukup menawan.
Naruto langsung berkeringat dingin. Ia tak tahu bahwa Sai ada di tempat kejadian perkara maksudnya di pom bensin.
Hinata dan Ino sontak menyudutkan Naruto. "Pasti gadis itu Naruto. Benar kan?" tanya Ino.
"Yang rambutnya seperti ekor ayam," tambah Hinata.
Naruto semakin terpojok. Akhirnya ia jujur. "Ya. Kemarin aku yang dibonceng sama Mr. Sasuke," jawab Naruto. Mukanya memerah karena malu dan gugup.
Hinata dan Ino tersenyum bahagia. Ternyata wali kelas mereka memang ada rasa pada Naruto. Padahal sang guru tidak mungkin membonceng seorang gadis yang ia tidak sukai. Meski gadis itu cantiknya bak bidadari kahyangan. Mereka berkata seperti itu bukan tanpa bukti tapi karena mereka sudah pernah melihat dengan mata mereka sendiri. Senior Sara yang cantik saja ia tolak. Para guru yang cantik juga ditolak. Kalau bukan naksir, lalu apa?
Tanpa sengaja Sakura, sang gadis cantik berambut merah muda yang menjadi fansgirl Sasuke mendengar pembicaraan mereka. Ia langsung naik darah. Padahal ia lebih cantik dan menarik daripada Naruto yang culun, kutu buku dan seorang otaku. Ia tidak bisa menerima begitu saja. Ia memiliki rencana cemerlang untuk memudahkannya supaya lebih dekat dengan sang guru tampan pujaan hatinya.
'Naruto, sekarang kau bisa tertawa. Besok ku pastikan kau takkan bisa tertawa lagi.' batin Sakura menyeringai licik. Ia segera duduk di tempat duduknya yang berada di depan meja guru.
Teng teng, bel masuk berbunyi. Saatnya jam pelajaran pertama. Seperti biasa karena sekarang hari Senin maka yang piket adalah Naruto dan Sakura. Kali ini Naruto yang bertugas untuk memanggil guru TIK mereka yang selalu datang terlambat. Padahal sang guru TIK a.k.a Kakashi sensei adalah guru yang menyenangkan dan cara mengajarnya juga mudah diterima oleh Naruto dan teman - teman sekelasnya. Tidak seperti guru lain. Apalagi guru bahasa Inggris mereka. Para siswi saja yang mau memerhatikan dan menyimak pelajaran namun para siswa tampak enggan meski wali kelas mereka tegas dan killer.
Naruto pun ke luar dari ruangan kelas dengan penuh semangat dan senyum yang tak pudar dari wajah imutnya. Tak lama ia pun sampai di depan pintu ruang guru.
"Permisi.." ucap Naruto sebelum membuka pintu. Ia pun masuk. Terlihat Kakashi sensei yang sudah bersiap - siap untuk mengajar dan di sampingnya ada seseorang yang sedang tidak ingin Naruto lihat.
"Ano..Kakashi sensei. Sekarang adalah mata pelajaran Kakashi sensei." ujar Naruto pada Kakashi.
"Oh iya. Maaf Senin kemarin aku tidak datang. Istriku melahirkan." gumam Kakashi. Ia berdiri dari duduknya.
"Selamat ya, sensei. Ano..bayi sensei perempuan apa laki - laki?" tanya Naruto.
"Laki - laki." jawab Kakashi singkat. Ia segera berjalan dan disusul oleh Naruto yang berjalan di belakangnya.
"Waah..hebat..! Aku jadi ingin melihat bayi sensei" seru Naruto. Ia juga ikut senang saat Kakashi sensei mendapatkan seorang bayi laki - laki.
Sesosok yang tak dipedulikan oleh Naruto berjalan di belakang mereka dan kini ia berjalan di samping Naruto. Naruto terkejut saat lengannya bersentuhan dengan lengan orang itu.
"Hn. Dobe." gumam orang itu dengan suara yang pelan nyaris tak terdengar.
"Ooh..ada Mr. Sasuke. Good morning, Mr." sapa Naruto yang dari tadi tak menganggap keberadaan sang guru muda di ruang guru.
"Hn." jawaban singkat dari Sasuke. Ia tersenyum. Entahlah tersenyum apa. Naruto tidak tahu arti dari ekspresi yang dipancarkan oleh wali kelasnya itu.
"Jangan lupa pulang sekolah ke ruang guru. Kau tidak boleh kabur." ujar Sasuke pada Naruto. Tak lupa tatapan tajam dan dinginnya.
"Yes, Mr." jawab Naruto patuh layaknya jawaban dari seorang prajurit kepada komandannya. Sebenarnya ia agak enggan tapi ia tidak mungkin kabur dari tugasnya sebagai seorang asisten guru ayamnya itu.
"Hn." Sasuke tersenyum pada Naruto lalu berjalan mendahului Naruto dan Kakashi sensei.
'Ba..barusan Mr. Sasuke tersenyum? Kok bisa? Tidak biasanya. Tapi..dia tampan juga. Ah..berhenti. Kau tidak boleh terpesona sama guru itu. ' batin Naruto. Ia mengeleng - gelengkan kepalanya.
Kakashi yang melihat reaksi muridnya hanya bisa tersenyum dan menepak jidat. Ia heran karena Naruto tidak seperti siswi lain yang selalu menggoda, mengagumi dan mengirimi hadiah pada guru baru itu. Setiap jam istirahat meja Sasuke selalu dipenuhi oleh bungkusan coklat dan bunga mawar. Ia selalu membuang semua hadiah dari para fgnya.
Skip time
Naruto dan kedua temannya, Ino dan Hinata memakan bekal mereka di ruang kelas mereka. Mereka duduk saling berhadapan dengan menyatukan kedua meja mereka.
"Ne, Naruto. Apa kau tidak mau menceritakan sesuatu pada kami?" tanya Ino yang duduk di sebelah kiri Naruto.
"Apanya yang harus diceritakan, Ino?" Naruto dengan polosnya malah bertanya balik pada Ino. Ia sedang asyik memakan bekalnya.
"Seseorang yang mampir ke rumahmu. Sai juga bilang kan." jawab Ino sebari melirik Sai yang ikut bergabung dengan tiga gadis berbeda surai itu.
"Ya. Kemarin aku melihatmu dibonceng oleh wali kelas kita. Kebetulan kalian sedang tidak pakai helm. Jadi terlihat sangat jelas meski gaya rambutmu berbeda." tambah Sai menjelaskan dengan panjang lebar.
"Kalian punya hubungan istimewa ya.." ucap Hinata menggoda Naruto. Sontak Naruto yang sedang makan jadi tersedak. Ino spontan memberinya minum.
"Pelan - pelan makannya. Istirahat masih lama." gumam Ino.
Naruto pun menyelesaikan acara makannya. "Aku ada urusan dulu sebentar." gumam Naruto. Ia pun berjalan meninggalkan ruang kelas.
Naruto pun berjalan ke ruang guru. Ia diminta oleh Kakashi sensei untuk mengambil buku lembar kerja siswa milik kelasnya. Kakashi sensei baru selesai memeriksanya jadi Naruto yang kebetulan seorang mantan asisten Kakashi sensei yang sangat disayang karena sikap dan sifatnya yang baik dan patuh juga ramah.
"Permisi." ucap Naruto lalu ia membuka pintu dan masuk ke ruang guru. Kakashi sensei sudah menunggu kedatangannya. Ia segera menyerahkan buku lembar kerja siswa yang lumayan banyak.
"Bagikannya setelah semua siswa masuk, Naruto." ujar Kakashi sensei dengan lembut pada Naruto.
"Baik, sensei." jawab Naruto dengan sopan.
Naruto pun berjalan meninggalkan tempat Kakashi sensei namun tanpa sengaja rambutnya tersangkut pada lengan kemeja milik sang wali kelas yang kebetulan ia sedang merapikan rambutnya.
"Eh? Rambutku tersangkut ya.." gumam Naruto sebari menoleh ke arah belakang.
"Hn." hanya itu yang bisa Naruto dengar.
"Ano..Mr. Tolong..rambutku kena kancing lengan kemeja anda." pinta Naruto dengan sangat sopan dan lembut sampai dirinya sendiri ingin muntah.
"Lepaskan saja sendiri." tolak Sasuke sambil menyeringai sinis.
__ADS_1
Naruto mulai kesal. Padahal kedua tangannya sedang membawa buku yang lumayan berat. Naruto tanpa pikir panjang meletakkan buku yang ia bawa ke atas meja dekat tumpukan hadiah yang ada di atas meja Sasuke. Lengannya segera melepaskan rambutnya yang tersangkut pada kancing lengan kemeja Sasuke. Namun sebelum Naruto melepaskan kaitan rambutnya, rambutnya sudah lepas dan sedang disentuh oleh lengan Sasuke.
"Lembut juga. Hn.. Wangi." ucap Sasuke tanpa ekspresi tapi langsung membuat Naruto merona dan secara paksa menarik rambutnya sendiri yang sedang dipegang oleh gurunya.
"Le..lepaskan rambutku, Mr." ujar Naruto. Kemudian ia mengambil buku yang tadi ia letakkan di atas meja tanpa berkata apa - apa lagi pada sang wali kelas.
"Naruto, bagikan bungkusan ini pada teman - teman sekelasmu!" perintah Sasuke yang Naruto tak sadari bungkusan itu sudah ada di atas buku yang harus ia bawa dan bagikan.
Naruto pun berjalan ke luar dari ruang guru dengan perasaan aneh padahal hanya rambutnya yang disentuh oleh seorang lawan jenis. Apalagi kalau bagian yang lain. Ia pasti sudah jatuh pingsan.
"Teme ayam sensei! Menyebalkan!" seru Naruto. Ia terus menggerutu di sepanjang perjalanan menuju ruang kelasnya.
'Dia benar - benar menyebalkan! Pegang - pegang sembarangan rambutku. Dasar!! Untung jantungku tidak copot.' batin Naruto. Masih terbayang saat Sasuke memegang surai pirang panjangnya. Ia jadi semakin merona, malu dan gugup. Bisa - bisanya ia salah tingkah pada guru baru berambut pantat ayam itu.
Sementara itu, di ruang guru. Kakashi sensei tengah menggoda Sasuke. Tidak biasanya Sasuke yang dingin dan cuek mendadak tersenyum dan aneh.
"Kau ke manakan coklat - coklat yang diberi oleh para siswi itu?" tanya Kakashi sekedar ingin tahu.
"Hn. Aku sudah memberikannya pada Naruto. Daripada dibuang." jawab Sasuke. Ia masih bisa merasakan harum dan lembutnya rambut sang pujaan hati.
"Kau tidak suka makanan manis?" tebak Kakashi.
"Hn." jawab Sasuke singkat.
"Gadis pirang itu kan juga manis." tambah Kakashi tersenyum.
"Dia manisnya beda lagi. Dia juga bukan makanan. Dia sangat manis. Tidak dibuat - buat dan tanpa gula. Jadi aku tidak akan kena diabetes." sambung Sasuke bicara panjang lebar.
'Hah? Sejak kapan seorang Uchiha jadi aneh begitu? Banyak bicara dan bicara yang manis - manis. Kakaknya pasti tertawa kalau melihat adiknya aneh seperti ini.' batin Kakashi. Sasuke pasti sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada siswi kesayangannya yang selalu ia isengi yaitu Naruto.
"Apa kau punya nomor ponselnya?" tanya Kakashi penasaran.
"Hn?" beo Sasuke. Ia tidak tahu nomor ponsel siapa yang Kakashi sensei maksud. Ia menggelengkan kepalanya.
"Harusnya kau punya," ujar Kakashi yang terkesan seperti mengejek Sasuke. "Dia masih remaja apalagi masih siswi SMA. Setidaknya kau punya nomor ponselnya untuk lebih dekat dengannya," tambah Kakashi.
Sasuke terlihat diam dan sedang mencerna apa yang baru saja Kakashi katakan. Sebelum Sasuke membuka mulut untuk berbicara, Kakashi memberikan Sasuke selembar kertas kecil yang bertuliskan nomor ponsel seseorang yang tidak Sasuke kenal.
"Ini nomor siapa?" tanya Sasuke, bingung tapi ia menerima kertas itu.
"Kepala dango itu. Aku yakin kau pasti membutuhkan nomornya. Dia kan asistenmu. Dulu saat dia asistenku, aku juga minta nomornya. Maksudku semua nomor para asisten dari kelas lain juga," jelas Kakashi secara panjang lebar.
Sasuke pun memasukkan nomor ponsel Naruto ke dalam kontaknya dengan bertulisan "dobe dango". Lalu ia tersenyum meski hanya sedikit yang bahkan Kakashi yang ada di dekatnya tidak bisa melihat senyuman Sasuke.
"Oh iya. Kenapa hanya Naruto saja yang jadi asistenmu?" tanya Kakashi.
"Dia saja sudah cukup. Aku tidak mau punya asisten yang munafik dan berisik," jawab Sasuke. Ia sedang memeriksa buku agendanya.
"Dia juga kan berisik. Malah paling cerewet di antara asistenku yang lain saat kelas 10," tambah Kakashi memancing Sasuke.
Sasuke menghela nafas. "Aku sendiri tidak tahu dan tidak mengerti. Kenapa aku memilihnya sebagai asistenku. Mungkin karena kepolosan dan ketulusannya serta dia juga pintar," balas Sasuke. Kakashi bisa merasakan perasaan Sasuke yang kagum pada siswi didiknya itu.
"Aku mengerti. Itachi pasti senang mendengar apa yang sedang kau bicarakan saat ini. Ternyata menjadi guru bisa membawa hikmah bagimu." tambah Kakashi. Ia seperti sedang berceramah.
"Hn," balas Sasuke sangat singkat.
'Kembali ke sifat Uchihanya." batin Kakashi.
Teng teng. Bel pertanda jam pelajaran terakhir berbunyi. Waktunya para siswa siswi Konoha High School pulang. Namun tidak demikian bagi siswi kelas 11 bersurai pirang panjang yang diikat dua dengan berhiaskan dua buah dango di kedua sisi kepalanya. Ia harus melaksanakan tugasnya sebagai seorang asisten guru bahasa Inggris. Guru yang paling dibenci dan juga disuka. Benci tapi suka. Naruto berkata dan bersikap sopan karena menghargai status Sasuke sebagai guru. Kalau bukan guru, mungkin Naruto sudah memaki Sasuke karena selalu menyuruhnya dengan seenaknya meski Naruto hanya disuruh membuatkan ramen di dapur sekolah, membelikan minum untuk sang guru dan memeriksa jawaban atas tugas dari para murid.
Kini Naruto sudah berada di dalam ruang guru. Dahinya mengkerut saat ia tak mendapati keberadaan guru kepala ayamnya itu. Ia meletakkan tasnya di atas kursi di sebelah kursi guru mudanya itu.
"Ke mana sensei rambut aneh itu? Tasnya masih ada. Masih lama tidak ya? Ah, aku ke toilet dulu saja. Tak usah bawa ponsel." gumam Naruto. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas sekolahnya kemudian ke luar dari ruang guru menuju toilet perempuan.
Tak lama Naruto ke luar dari ruang guru, Sasuke datang. Ia hanya melihat tas Naruto. Ia menduga bahwa asisten tunggalnya sedang ke toilet. Tidak mungkin Naruto kabur tanpa membawa tasnya.
Sepuluh menit telah berlalu, namun Naruto belum datang juga. Sasuke berinisiatif untuk menelepon Naruto. Terdengar bunyi musik dari dalam tas Naruto. Karena penasaran, Sasuke membuka tasnya. Ternyata Naruto tidak membawa ponselnya. Sasuke masih menunggu selama sepuluh menit. Tapi Naruto tetap belum muncul.
Sasuke merasa cemas karena Naruto belum datang. Ia takut Naruto mengalami suatu hal yang menakutkan. Tanpa pikir panjang ia segera melangkahkan kakinya ke luar dari ruang guru menuju toilet perempuan.
Sasuke pun tiba di depan pintu toilet. Samar - samar ia mendengar teriakan seorang gadis yang sedang menahan sakit dan meminta tolong. Teriakan terakhir yang ia dengar adalah seorang gadis yang memanggil namanya.
'I..itu kan suara si dobe dango. Aku harus segera masuk.' batin Sasuke harap - harap cemas.
Sasuke pov
Perasaanku sedari si dobe dango ke luar sudah tidak baik. Biasanya ia tidak selama itu pergi ke toilet. Dengan rasa khawatir yang sekian besar aku pun ke luar dari ruang guru dan melangkah lebih cepat untuk segera sampai di toilet.
Benar saja dugaanku. Ketika aku tiba di depan toilet perempuan, aku mendengar suara seorang perempuan yang meminta tolong dan dia memanggilku. Bukan namaku yang dipanggil tapi panggilan "Mr" untukku sebagai nama panggilan selain sensei di sekolah. Yang paling membuatku tak kalah terkejut adalah pemilik suara cempreng yang baru saja berteriak. Dia Naruto. Aku sangat yakin karena hanya dialah yang memiliki suara seperti itu.
Tanpa ragu aku menyentuh pegangan pintu, namun pintu dikunci dari dalam sehingga tidak bisa terbuka. Apa bisa terbuka jika ku dobrak? Ya hanya itu ide yang terbesit dalam pikiranku saat ini. Aku pun segera mendobrak pintu toilet. Ku harap dobrakan yang ku lakukan bisa membuat pintu terbuka. Ku bersyukur karena pintu toilet tidak terbuat dari kayu jati seperti di rumah orang tuaku. Jadi pintu pun dengan mudah terbuka.
Kulihat 4 orang gadis berbeda surai yang sedang berada di dalam toilet. Ku tatap mereka lebih teliti dan dekat. Seorang gadis tengah dibully oleh tiga gadis lainnya. Gadis yang mereka bully adalah Naruto. Naruto?! Aku sangat terkejut. Mereka juga tidak kalah terkejut dan panik dari ku.
Naruto yang tengah dalam ke adaan basah kuyup serta rambut pirang panjangnya yang terurai pun tak kalah ikut basah. Pasti si dobe sudah dibully oleh tiga gadis itu.
"U..Uchiha - sensei.." gumam ketiga gadis itu yang namanya aku tidak hafal.
"Ka..kami bisa jelaskan.. Ini..tidak seperti yang.." tambah seorang gadis yang bersurai merah muda. Kalau tidak salah dia adalah teman sekelas si dobe.
Mereka bertiga terlihat sangat panik dan berkeringat panas dingin. Salah seorang gadis yang tubuhnya paling tinggi menjatuhkan sebuah gunting. Gunting?
Aku terus memandang mereka dengan tatapan tajam dan paling sadis yang bisa ku lakukan. Tanpa pikir panjang aku segera melangkah mendekati Naruto yang dalam keadaan sangat kacau. Ia terlihat sedang menangis sebari menundukkan kepalanya ke arah bawahnya. Ia yang tadinya sedang berdiri langsung duduk di atas lantai toilet yang kotor dan basah. Seragam sailor yang ia kenakan juga basah dan bisa ku lihat warna bra yang ia pakai. Pink. Damn it. Kenapa aku malah memikirkan hal gila seperti itu.
Aku melepas kemeja yang ku pakai dan segera memakaikannya pada Naruto. Aku memakai kaos putih polos di balik kemejaku. Naruto mendongak ke atas tepat ke wajahku. Dia memandangku dengan tatapan sedih dan terpukul. Dadaku terasa sakit ketika melihat Naruto dengan keadaan mengenaskan yang habis disiksa oleh tiga iblis bermuka malaikat itu.
Ku tatap Naruto dengan lembut seraya menenangkan dirinya yang sedang kalut. Ia masih menangis tapi tidak terisak seperti tadi saat ku temukan. Ia tiba - tiba mengeluarkan suara, "kaasan..tousan..hiks.. Hiks.." gumam Naruto. Aku pun memeluk gadis pirang itu. Tangisannya mendadak menjadi lebih kencang dan memilukan.
Apa yang ku lakukan padanya itu salah? Bingung rasanya. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan untuk membuatnya agar tidak menangis lagi. Jadi aku menggendongnya. What? Seorang Uchiha Sasuke membawa seorang gadis dan menggendongnya dengan cara bridal style? Dunia sudah mau kiamat atau aku yang sudah gila. Lupakan. Sambil membawa Naruto, ku pandangi tiga iblis betina yang masih mematung sedari aku masuk.
Ekspresi mereka sungguh memuakkan. "Kalian akan menerima imbalan dari guru BK besok. Jika kalian besok tidak masuk, jangan harap kalian bisa hidup dengan tenang setelah kejadian ini!" ancamku pada ketiga siswi itu. Lalu aku berjalan meninggalkan mereka. Aku masih membawa Naruto.
Aku menggendong Naruto secara spontan dengan gaya menggendong seorang pengantin. Hanya itu yang tersirat di pikiranku. Aku membawanya ke ruang uks dengan membaringkan tubuh mungilnya ke atas kasur yang ada di ruang uks. Aku tak peduli meski kasur itu harus basah, yang penting Naruto harus tenang.
Aku bisa melihat matanya yang sembap akibat menangis dalam waktu yang lama. Mungkin air matanya sudah habis. Naruto membalikkan badannya. Ia terlihat malu dan juga gugup. Tapi beberapa saat kemudian Naruto merubah posisinya. Sekarang ia sudah duduk dan terlihat lebih tenang.
"Naruto, apa kau baik - baik saja? Apa ada yang terluka? Katakan saja padaku." tanyaku pada Naruto yang sangat panjang dan seperti bukan aku saja yang berbicara.
Naruto menggelengkan kepalanya. Kemudian ia mendongakkan kepalanya. Ia menatapku dengan senyuman perihnya seraya berkata, "aku tidak apa - apa, Mr. Terima kasih sudah menolongku." ia tersenyum menandakan dirinya dalam kondisi yang baik hanya baju dan rambutnya yang basah.
"Kemeja Mr jadi basah. Maaf. Nanti aku cuci." gumam Naruto.
"Tidak perlu kau cuci. Oh ya, bajumu basah. Ganti dengan kaos jerseymu. Nanti masuk angin." pintaku yang terdengar seperti menyuruhnya.
"Ah iya. Aku akan mengambil kaos jerseyku." ucap Naruto. Ia hendak turun dari ranjang, namun aku mencegahnya.
"Biar aku yang ambilkan. Mana kunci lokermu. Kemarikan." kataku.
"Jangan. Aku akan mengambilnya sendiri, Mr. Aku tidak mau merepotkan Mr." bantahnya dengan wajah yang memerah dan terlihat sangat manis serta imut bagiku.
"Kau tidak merepotkanku. Cepat berikan kuncinya." aku terus memaksanya.
"Tapi.." Naruto masih membantah.
"Berikan saja. Kau harus cepat mengganti bajumu. Aku tidak ingin kau sakit, dobe!" paksaku sampai harus mengatakan kata dobe padanya.
"Iya iya. Nih kuncinya. Mr jangan panggil aku dobe dong. Aku tidak dobe juga." gumam Naruto. Ia mengembungkan pipi tembemnya dan memanyunkan bibirnya yang terlihat sangat manis. Aku jadi ingin menciumnya. Hah?! Jangan berpikir yang tidak - tidak, Sasuke. Ini masih di sekolah. Sadarlah.
Setelah Naruto menyerahkan kunci lokernya padaku, aku segera berjalan cepat karena tidak ingin sesuatu terjadi lagi pada Naruto - ku.
Tak terlalu sulit untuk menemukan loker yang bertuliskan nama gadis itu. Aku pun membuka loker milik Naruto. Di dalam lokernya terdapat sepatu, kaos jersey dan beberapa lembar foto. Foto? Aku penasaran dengan seseorang yang ada di foto itu. Ternyata itu adalah foto karakter anime yang ia suka. Aku ingin tertawa. Dasar otaku. Apa ia tidak pernah jatuh cinta pada pria asli dalam kehidupan nyata? Ia sungguh lucu. Aku mengambil kaos jersey yang terlipat dibungkus oleh plastik. Tanpa sengaja aku menjatuhkan selembar kertas yang bertuliskan nama seseorang "Otsutsuki Toneri". Nama lelaki kan? Siapa dia? Apa dia mantan pacarnya? Setahuku dari informasi yang Gaara dapatkan, ia tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Mungkin itu nama aktor favoritnya tapi setahuku itu bukan nama aktor itu. Aku hafal nama aktor sialan itu. Yang jelas bukan nama yang tertera pada kertas itu.
Nanti aku cari tahu sendiri. Sekarang aku harus segera ke ruang uks. Aku tidak ingin Naruto kenapa - kenapa.
Setelah loker Naruto kututup, ku bergegas berjalan menuju ruang uks dengan langkah cepat.
Ketika pintu uks kubuka, tampak pemandangan yang begitu indah. Cahaya matahari senja yang berwarna jingga menyinari sesosok gadis yang baru - baru ini sukai setelah menjadi seorang guru. Rambutnya terurai yang terhembus oleh angin di sore hari dari luar jendela yang terbuka. Aku bersyukur bisa melihatnya. Aku melamun sesaat dan tersadar ketika gadis pirang yang rambutnya terurai itu memanggilku.
__ADS_1
"Mr. Mr. Sasuke." panggil Naruto. "Ano..kaos jersey ku?" pinta Naruto.
Aku pun menyerahkan kaos jersey miliknya dan segera ke luar dari ruang uks untuk memberinya waktu mengganti pakaian. Pintu uks tak lupa ku tutup.
Sasuke pov end
Normal pov
Setelah mengganti pakaiannya yang basah dengan kaos jersey yang dibawakan oleh wali kelasnya, Sasuke ia membuka pintu uks sebari memegang seragam sailornya dan kemeja Sasuke yang basah.
"Ano..Mr. Kemeja ini akan saya cuci dulu. Jika sudah kering akan saya kembalikan." ujar Naruto. Ia berbicara pada Sasuke dengan kepala menunduk dan wajah memerah.
"Hn. Terserah kau saja. Kita akan pulang. Sudah sore dan hampir gelap." gumam Sasuke. Ia berbicara pada Naruto dengan membelakanginya. Sepertinya dia juga malu.
"Ta..tapi..tugas saya.." tolak Naruto.
"Pulanglah. Aku akan mengantarmu. Tidak ada penolakan. Aku tidak mau kedua orang tuamu khawatir dan kecewa padaku." tambah Sasuke yang membuat Naruto membuka mulutnya lebar - lebar. Naruto sudah tidak sedih lagi.
"O..ok, Mr." jawab Naruto. Ia patuh pada sang guru. Bagaimanapun gurunya lah yang telah menolongnya dari ketiga siswi yang sedang membullynya. Kalau dia tidak ada, Naruto tak tahu nasibnya akan bagaimana saat ini. Apa ia masih bisa hidup atau kepalanya sudah botak? Hanya author dan Tuhan yang tahu nasib Naruto dalam ff ini😁.
Naruto pov
Saat ini aku sedang dibonceng oleh guru ayam itu. Dia selalu mengantarku pulang apalagi setelah kejadian tadi. Aku yang dibully oleh Sakura, Sara - senpai dan Shion - senpai. Ketiga gadis yang bagiku sangat luar biasa cantik tapi entah kenapa mereka melakukan hal rendah seperti tadi padaku. Padahal mereka lebih dariku. Lebih cantik, lebih kaya dan lebih wow. Hanya karena aku dekat dengan guru ayam teme itu mereka tega menyiksaku. Mengurungku di toilet, menyiramku dengan air, kenapa gak sekalian ceburin aku ke kolam renang saja. Ups, jangan. Aku gak bisa berenang. Aku gak mau mati muda.
Mereka hampir saja memotong rambutku yang panjang ini. Bisa gila kalau rambutku yang panjang sampai dipotong oleh mereka. Untung saja Mr. Sasuke datang menolongku. Kalau tidak, aku tidak akan selamat. Bisa - bisanya tadi aku memanggil namanya. Bukan namanya sih, toh hanya Mr yang ku sebut namanya tapi dia tiba - tiba datang menolongku dengan cara mendobrak pintu toilet. Kuat sekali guru ayam ini. Seperti ninja di anime kesukaanku yang kelewat tampan. Hehe.
Tak terasa kami, aku dan Mr. Sasuke tiba di depan gerbang rumahku. Ibuku ke luar saat mendengar suara motor milik Mr. Sasuke. Mungkin ibu kebetulan ada di luar rumah jadi bisa membuka gerbang.
"Wah..putriku sudah pulang! Uchiha - san juga". seru kaasanku dengan riang. Seperti biasa beliau menyambutku dengan riang.
"Aku pulang, kaasan." ucapku.
Ekspresi ibuku berubah saat melihatku memakai kaos jersey bukan seragam sailor yang tadi pagi aku pakai. Beliau tampak heran dan juga terkejut. Pasalnya pelajaran olahraga bukan hari ini.
"Kau tidak apa - apa kan, Naruto?" tanya ibuku yang terlihat begitu khawatir padaku. Mungkin ini yang namanya hubungan batin antara ibu dan anak. Aku yakin.
"Aku tidak apa - apa, kaasan. Hanya.." jawabku yang terbata - bata namun dengan cepat Mr. Sasuke memotong pembicaraanku dan ikut berbicara.
"Tadi seragamnya basah karena terkena kran air yang rusak, Bi." tambah guru ayam itu. Sepertinya ia mau diajak kerja sama untuk tidak memberi tahu ibuku kalau aku sudah dibully. Ia juga takut ibuku tambah khawatir.
"Benarkah?" tanya ibuku memastikan jawaban dari Mr. Sasuke dan aku.
"Benar, kaasan. Tadi juga Mr. Sasuke menolongku. Meminjamkan kemejanya untuk menutupi seragamku yang transparan karena basah." tambahku. Spontan ibuku menjita kepalaku.
"Ittai, kaasan. Kenapa memukulku?" tanyaku karena aku tidak tahu penyebab ibuku menjitak kepalaku.
"Sana masuk. Kau harus cepat mandi air hangat. Kaasan tidak mau kau masuk angin!" perintah kaasan mutlak.
"Ok, bos." jawabku.
"Oh iya, Mr. Arigatou gozaimasu sudah mengantarku. Aku masuk dulu ya.." ucapku pada guru ayam yang telah menolongku. Entah kenapa aku jadi berbicara tidak terlalu formal lagi padanya. Aku pun segera masuk ke dalam rumah meninggalkan ibu dan Mr. Sasuke yang masih berdiri di dekat gerbang.
Naruto pov end
Malam pun tiba. Seorang gadis bersurai pirang sedang terbaring di atas tempat tidur dengan seprei berwarna biru muda bermotif bunga mawar merah muda. Sangat feminin. Mukanya memerah. Ia teringat pada tindakan sang guru yang selalu ia sebut guru ayam itu meski hanya di dalam hatinya sendiri. Setidaknya ia merasa tidak sopan sudah menyebut gurunya seperti itu.
Ia ingat ketika sang guru memakaikannya kemeja miliknya. Lalu rasa khawatir yang tersirat di balik ekspresi datarnya. Naruto bisa merasakannya karena gurunya itu orang yang tidak begitu peduli pada orang lain tapi tidak padanya. Sasuke sangat peduli pada Naruto. Apa itu wajar pada dirinya yang hanya seorang siswi biasa? Kenapa bukan pada tiga gadis cantik itu saja yang telah menyiksanya? Naruto merasa bingung, heran, aneh dan juga senang atas tindakan sang guru tampan itu.
Saat Naruto sedang asyik melamun, ponselnya dengan nada dering soundtrack anime kesukaannya berbunyi dan bertuliskan nama orang yang tak dikenal.
"Nomor siapa ini? Aku tidak mengenal nomor ini?" tanya Naruto pada dirinya sendiri. Ia menerima panggilan telepon tersebut.
"Moshi moshi. Ini siapa?" sapa Naruto. Namun tak ada jawaban dari sang pemanggil. Naruto terus bertanya pada si pemanggil tapi tetap tidak ada jawaban.
"Tidak mungkin hantu kan yang meneleponku??" gumam Naruto merinding seketika.
"Do..be.." jawaban dari sang penelepon namun panggilan dimatikan sebelum Naruto menjawab.
"Tu..tunggu..hei!" seru Naruto. Ia menyadari bahwa orang yang baru saja meneleponnya adalah guru ayam yang sedang menjahilinya tapi ia dapat dari mana nomornya? Setahunya Naruto tidak pernah memberikan nomornya.
Naruto masih sibuk bergelut dengan pikirannya ketika nada pesan di ponselnya berbunyi.
"Ah. Aku kaget. Cuma pesan." gumam Naruto. Secepat kilat ia membuka pesannya.
08xxxxxxxxxx
Hn. Kau baik?
"Rupanya si guru teme itu." ujar Naruto. Kemudian ia membalas pesan di ponselnya dan menambahkan nomor sang guru di kontak teleponnya.
Dobe Dango (nama dari kontak milik ponsel Sasuke)
Aku baik
Ada perlu apa Mr menelepon dan mengirimkanku pesan?
Teme sensei (kontak di ponsel Naruto)
Hanya iseng
Dobe Dango
Oooh😑
Teme sensei
Hanya ooh?
Dobe Dango
Memang aku harus jawab apa, teme sensei?
Teme sensei
Kau berani menyebutku dengan sebutan kasar itu, dobe?
Dobe Dango
Mr sendiri menyebutku dobe
Aku tidak bodoh dan dobe😡
Sasuke tersenyum tipis ketika melihat emoticon yang dikirim sang murid. Ia membayangkan ekspresi lucu dari Naruto. Sungguh menarik dan menggemaskan. Ia sampai ingin mencubit dan menciumnya. Sasuke jadi berpikir mesum pada gadis yang belum genap berumur 17 tahun itu.
Teme sensei
Omae wa kawaii desu😉 (delete)
Detik itu juga pesan yang baru saja Sasuke kirim langsung dihapus. Tapi Naruto sempat membaca pesan manis itu.
"Sial. Kenapa aku mengirim pesan ini?" gumam Sasuke. Ia malu dan berharap gadis pujaannya belum membaca pesannya.
"Pesan apaan sih si teme sensei ini? Kawaii kawaii. Huh!"seru Naruto dengan wajah yang memerah karena tersipu malu.
Teme sensei
Cepat tidur
Besok jangan terlambat
Dobe Dango
Ok
Good night Mr
Sesi percakapan via pesan whatsapp pun selesai. Naruto langsung tertidur sambil tersenyum. Rupanya ia merasa senang atas tindakan guru tampannya tadi sore dan juga pesan darinya.
__ADS_1
Di sisi lain, Sasuke yang biasanya tidak bisa tidur ia jadi mudah tertidur setelah mengirim pesan dengan murid incarannya itu.
Tbc