Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
chapter 14


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjam tanpa izin


Ide cerita asli milik thor


Jika ada yang sama itu hanya kebetulan semata


Genre : murid, guru, cinta, persahabatan


Pair : sasufemnaru and other


Sifat para tokoh berbeda dengan versi anime dan manga


Karakter ooc


Typo di mana mana meski diedit


Cerita gaje


Liburan musim panas telah berakhir. Pagi ini sang pemeran utama dalam serial ff ini si gadis pirang yang diikat twintail berhiaskan dua buah dango di kedua sisi kepalanya telah siap untuk pergi ke sekolah mencari ilmu dan meraih cita - cita.


"Yosh..!! Iku zo, Namikaze Naruto! I'm ready! Go!" seru Naruto dengan penuh semangat. Ia segera menenteng tas sekolahnya. Tak lupa ia membawa kaos kaki.


Drap drap. Suara langkah kaki Naruto yang terdengar cepat dan berisik menuruni tangga.


"Ohayou, kaasan, tousan!" sapa Naruto dengan penuh semangat dan wajah yang ceria.


"Ohayou mo, sayang.." balas seseorang yang tidak Naruto sangka - sangka.


"Ka..kau?!" seru Naruto sebari menunjuk ke arah orang tersebut dengan telunjuknya serta sepasang mata birunya yang membulat sempurna. "Ke..kenapa kau ada di sini, teme?!" seru Naruto kaget dan tidak karuan. Jantungnya juga berdebar cepat.


"I...ittai..!" seru Naruto kesakitan. Kushina menjewer sebelah telinga putrinya yang telah berbicara tidak sopan pada gurunya. "Kaasan..sakit," gumam Naruto menyentuh telinganya yang merah.


"Bicara yang sopan pada wali kelasmu, Na ru to!" seru Kushina dengan rambutnya yang melayang - layang.


"Ba..ik, kaasan," jawab Naruto dengan penuh rasa takut. Sasuke sang pelaku hanya bisa tersenyum jahil. Ia sudah merasa puas karena menjahili kekasih sekaligus muridnya di pagi hari di awal masuk sekolah. "Do be," gumam Sasuke pelan. Ia asyik memakan roti bakar buatan calon ibu mertuanya.


Naruto menatap tajam pada sang kekasih. 'Kenapa ayam ini ada di rumahku? Ganggu saja. Padahal nanti juga ketemu di sekolah,' monolog Naruto dalam hati. Sebenarnya ia merasa senang hanya saja ia gengsi.


Naruto duduk di samping sang kekasih untuk sarapan. Ia juga memakan roti bakar yang ibunya buatkan.


"Kaasan, tousan mana? Kok nggak ada?" tanya Naruto. Ia tidak mendapati keberadaan sang ayah.


"Ayahmu pagi - pagi sekali pergi dengan bosnya, nak. Mereka akan menjalani perjalanan bisnis," jawab sang ibu yang sedang menyiapkan dua bekal. Untuk kedua putra putrinya. Sepertinya keberadaan Sasuke sangat disambut baik oleh calon ibu mertuanya.


"Terus..kenapa Sasuke - kun ada di sini?" tanya Naruto. Penasaran. Tsunderenya sedang kambuh.


"Tadi aku berangkat bareng Itachi - nii ke sini," jawab Sasuke. Ia sedikit kesal karena sikap kekasihnya yang tidak ada manis - manisnya.


"Ooh," balas Naruto singkat. "Aku berangkat dulu ya, kaasan."


"Bareng Sasuke ya, Naru," pinta sang ibu.


"Iya, kaasan," jawab Naruto. 'Daripada telingaku dijewer lagi. Lebih baik aku nurut saja sama kaasan. Padahal aku ingin berangkat bareng Hinata,' batin Naruto.


"Aku berangkat, kaasan!" seru Naruto. Ia memeluk dan mencium sang ibu untuk memanas - manasi kekasihnya. 'Lihat aku, teme. Kau pasti mau kan?' Naruto menatap Sasuke menantang. Sasuke diam saja tidak merespon tindakan Naruto.


'Kau akan mendapatkan akibatnya, dobe,' batin Sasuke menyeringai licik.


Keduanya pun berangkat beriringan. Naruto memulai pembicaraan. Sebenarnya ia bukannya tidak peduli pada kekasihnya namun ia hanya berakting saja. Kekasihnya a.k.a Sasuke adalah gurunya saat di sekolah. Ia tidak mau terbawa perasaan saat di sekolah nanti.


"A..ano.. Sa..Sasuke - kun," gumam Naruto mendadak jadi manis. Sasuke menoleh ke sampingnya. "Hn." Wajahnya masih datar tanpa ekspresi yang membuat Naruto kesal.


"Apa, dobe?" tanya Sasuke.


"Ta..tadi itu.. Maksudku.." Naruto tidak bisa menjawab dengan lancar. 'Kok susah banget sih ngomong sama si ayam? Ah...' batin Naruto. Ia heran dengan mulutnya yang tidak bisa diajak kompromi.


"Aku tahu apa yang mau kau katakan, Naru," tambah Sasuke. Ia meraih sebelah tangan kekasihnya dan menggandengnya dengan mesra.


Wajah Naruto merona. Tindakan kekasih ayamnya benar - benar mengejutkan hingga membuatnya tak berkutik.


"Kita adalah guru dan murid di sekolah. Kau pasti sedang memikirkan hal itu," ujar Sasuke. Ia tersenyum tulus.


'Dia sangat pintar. Pantas saja jadi guru,' batin Naruto. Ia memuji gurunya.


"Tapi kita adalah sepasang kekasih saat di luar lingkungan sekolah. Ingat itu, sayang," tambah Sasuke dengan senyuman mempesona miliknya yang selalu dapat membuat gadisnya klepek - klepek.


"I..iya, Sa..Sasuke - kun." Hanya itu yang bisa Naruto ucapkan pada Sasuke.


"Seragammu terlalu manis, dobe. Kau selalu saja membuatku hampir terkena diabetes," goda Sasuke. Ia malah mencium telapak tangan gadisnya. Sang gadis hanya diam dengan wajah memerah hingga telinganya. Ia tak bisa berkata apa - apa karena terlalu gugup pada guru tampannya yang telah berstatus menjadi kekasihnya.


Tak terasa mereka telah sampai di halte bus. Mereka menunggu sekitar 5 menit dan bus pun datang.


"Cepat naik, dobe!" ajak Sasuke. Ia tetap memegangi telapak tangan kekasih pirangnya.


Sasuke duduk di kursi penumpang paling belakang sedangkan Naruto duduk di kursi penumpang lain di depan kekasihnya.


Naruto pun duduk. Ia tidak melihat keadaan sekitar hingga seseorang yang duduk di sampingnya mencolek dirinya.


"Na..Naruto. Namikaze Naruto," panggil orang itu.


Naruto menoleh ke samping kepada orang yang memanggilnya. "Ya?" jawab Naruto. "Kau? To..Toneri?"


Toneri tersenyum. "Ya".


Naruto secepat kilat menoleh ke belakang. Terlihat Sasuke sedang memainkan ponselnya.


"Ada apa?" tanya Naruto agak jutek.


Toneri menyerahkan secarik kertas. "Ini. Undangan reuni SMP kita."


Naruto menerima surat undangan itu dengan rasa tidak percaya. "Aku diundang? Tumben sekali. Padahal tahun kemarin aku tidak diundang." Naruto berbicara dengan nada tidak suka.


"Kau juga diundang, Naruto. Koyuki yang bertugas mengirimkan surat undangannya," balas Toneri. Ekspresinya kalem dan tidak bisa Naruto artikan.


"Oh." Naruto tersenyum maklum. "Ya Koyuki princess terpintar di kelas kita. Aku jadi kangen sama dia. Tapi pas ketemu, dia kayak gak kenal sama aku," ujar Naruto. Ia merasakan kecewa yang amat besar.


"Mungkin dia tidak mengenalimu," bantah Toneri.


"Ya. Udah lulus sekolah emang gak saling mengenal lagi. Kau juga kan," kata Naruto dengan nada sinis menyamai kekasihnya.


"Kalau begitu aku minta maaf. Kita masih bisa berteman lagi kan?" ajak Toneri. Ia mengajak Naruto untuk berjabat tangan.


Naruto berpikir sejenak. Ia pun menerima jabatan tangan sang teman lamanya a.k.a mantan cinta pertamanya. Namun sebelum Naruto melakukan hal itu, sebuah tangan besar yang sangat putih segera menerima jabatan tangan dari Toneri.


"Hn," gumam Sasuke dengan tatapan tajam.


"Sa..Sasuke - kun?!" seru Naruto terkejut. 'Gawat nih,' batin Naruto.


"Sa..Sasuke? Uchiha Sasuke?" beo Toneri. "A..aku juniormu dari Chemical Konoha High School," sapa Toneri.


"Eh?" Naruto tambah terkejut. "Adik kelas? Jadi si teme ini pernah bersekolah di SMA yang sama dengan Toneri?" tanya Naruto. Ia heran.


"Toneri?" beo Sasuke. Sepertinya ia lupa atau tidak mau mengingat wajah pria yang sudah membuat gadisnya patah hati. Mendadak aura di sekitar Sasuke berubah gelap.


Glekh. Naruto mencium bau bahaya. Namun, suara seruan supir mengejutkan mereka bertiga.


"Konoha High School!" seru sang supir.


"Ah baik," jawab Naruto. Ia segera menarik tangan Sasuke. "Toneri, aku duluan ya. Bye. Ayo teme!" ajak Naruto pada Sasuke setelah ia pamit pada Toneri. Toneri diam seribu bahasa.


'Apa hubungan Naruto dengan Uchiha - san? Sepertinya mereka sangat dekat? Hm..sudahlah. Nanti aku tanya saja sama Koyuki. Rumahnya kan dekat dengan Naruto,' batin Toneri.


Sepanjang perjalanan, Sasuke tak membalas perkataan Naruto. Naruto seperti angin lalu baginya.


"Teme!! Denger gak sih?!" seru Naruto hilang kesabaran. "Dia itu hanya.."


"Hanya cinta pertamamu atau bisa dibilang cinta monyet, kan? Hn," gumam Sasuke. Akhirnya ia mengeluarkan suaranya.


"Kau menyebalkan!" seru Naruto, kesal.


"Tadi dia memberikanmu surat apa? Surat cinta?" tanya Sasuke. Lebih mirip mengintrogasi dirinya. Ekspresinya sangat menyeramkan bagi Naruto.


"Surat cinta 2 tahun lalu," jawab Naruto asal.


"Hn. Masih cinta tapi nerima yang lain," gumam Sasuke kesal juga.


Tiba - tiba Naruto berdiri di hadapan Sasuke sebari mengeluarkan selembar kertas yang tadi Toneri berikan padanya. "Aku bacakan isinya. Acara reuni SMP Hoshigaki 1 angkatan ke 26 tahun kelulusan 20..."


"Sudah cukup, dobe. Aku percaya," ucap Sasuke. Ia tersenyum pada kekasihnya sebari memegang kedua tangan Naruto. Untung saja masih pagi jadi tidak banyak siswa yang sudah datang


"A..Arigatou.. Sa..Mr. Sasuke," balas Naruto dengan senyum lima jarinya yang sontak membuat Sasuke merona. "Ayo jalan, Mr," ajak Naruto. Mereka sudah tidak berpegangan tangan lagi karena telah berada di lingkungan sekolah. Hubungan mereka sekarang hanya sebatas guru dan murid.


Naruto telah berada di ruang kelasnya. Ia mengehela nafas berat. Entah mengapa semangatnya yang tadi pagi naik sekarang bisa turun. Dulu sebelum menjalin hubungan dengan sang guru, ia bisa dengan bebas memerhatikan dan menyukainya dalam diam. Namun sekarang, ia sudah menjadi kekasih dari sosok tersebut. Meski hubungan mereka harus dirahasiakan di lingkungan sekolah karena permintaan dirinya sendiri. Menyesal yang sekarang ia rasakan. Ia bingung pada dirinya sendiri yang selalu menyukai orang yang salah. Tapi ia bersyukur kali ini. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Rasa bahagia menyelimuti hatinya. Hatinya telah utuh kembali setelah dihancurkan oleh Toneri.


"Sialan. Tadi aku ketemu sama orang itu. Mana si ayam juga sampe ngeluarin aura gelapnya. Mati aku," gumam Naruto. Ia bingung dan repot sendiri. Teman - teman sekelasnya repot karena belum mengerjakan tugas sekolah, kalau dia repot karena kekasihnya yang tengah cemburu meski bicaranya tidak cemburu. Naruto bukan tidak peka, ia hanya tidak mau terbawa perasaan saja.


"Heh, Naruto. Bagi peermu, dong!" pinta Kiba. Tiba - tiba berdiri di samping bangku Naruto sebari membawa buku peernya


"Hah?" beo Naruto.


"Aku mau nyontek punyamu. Aku belum selesai semua," tambah Kiba. Tangannya seperti mau mengemis.


"Nggak. Kerjakan sendiri, Kiba," tolak Naruto, tegas.


"Teman - teman! Naruto pelit nih. Gak mau kasih contekan!" seru Kiba kepada teman - temannya.


Glekh. Naruto menelan ludahnya. Ia sudah mulai panik. Kalau diberi contekan, dirinya dianggap tidak adil, kalau tidak diberi maka keselamatannya yang akan terancam.


"Te..teme..cepat datang dong. Apa dia gak tahu kalau princessnya sedang dalam bahaya," gumam Naruto. Ia merasa dirinya terancam.


"Kalian lagi ngapain di bangku kami?" suara Ino dan Hinata menyelamatkan Naruto dari para vampire yang haus akan contekan.


"Cih. Ada dua bodyguardnya. Sialan," umpat salah seorang siswa. Mereka pun meninggalkan Naruto.


Naruto lega. Mana bisa ia melawan begitu banyak siswa sekelasnya. Bisa - bisa ia pingsan terlebih dulu.

__ADS_1


"Ngerjain peer tuh di rumah. Bukan di sekolah!" seru Sakura yang entah kapan tiba di ruang kelas. Seluruh siswa diam karena ucapan Sakura yang bernada tegas dan cukup menyeramkan. Sakura pintar dalam olahraga tidak seperti Naruto yang payah dalam bidang itu. Terkadang Naruto iri pada Sakura. Bukan iri dengan maksud negatif tapi iri dan kagum. Dua rasa yang ia rasakan pada Sakura.


"Arigatou, Sakura. Aku selamat karenamu!" seru Naruto.


"Nggak masalah, Na ru to," balas Sakura santai saja.


Teng teng. Bel masuk berbunyi. Tanpa dipanggil sang wali kelas mereka yang mengaku paling tampan se- ff ini memasuki ruang kelas. Hal pertama yang ia lirik adalah Naruto. Memang selalu seperti itu. Sebentar - sebentar lirik dia. Siswa siswi kelasnya menaruh curiga terhadap sang wali kelas dan teman dango blonde mereka. Naruto pura - pura tak menghiraukan lirikan sang guru.


Semua murid memberi salam kepada sang guru. Sang guru juga membalas salam mereka meski tanpa ekspresi. Mendadak atmosfer di ruang kelas Naruto berubah.


"Kumpulkan semua tugas yang kuberikan," ujar Sasuke.


Reaksi para siswa beragam. Rata - rata mereka panik meski ada sebagian siswa yang santai dan tenang - tenang saja. Apalagi bahasa Inggris adalah pelajaran tersulit kedua setelah matematika.


"Naruto. Kumpulkan tugas teman - temanmu!" perintah sang guru killer tersebut dengan datar.


Naruto bangun dari duduknya. "Baik, Mr." Ia segera berjalan melewati satu per satu bangku teman sekelasnya untuk mengambil buku tugas bahasa Inggris. Yang terakhir adalah bangku di depan meja gurunya.


"Sudah selesai, Mr," lapor Naruto pada wali kelasnya.


"Hn. Taruh di mejaku di ruang guru!" perintah sang wali kelas a.k.a. Sasuke.


"Hah? Ba..baik," jawab Naruto patuh. Ia segera meninggalkan ruang kelas dengan wajah ditekuk. Kekasihnya telah kembali ke mode guru yang sadis dan dingin. 'Cih. Udah mode es dari benua Antartika nih ayam,' batin Naruto.


Naruto terus berjalan dengan membawa banyak buku yang cukup berat untuk dibawa oleh gadis dengan tubuhnya yang tidak tinggi. Ia terlihat kewalahan. Sepanjang perjalanan ia selalu mengumpat tentang keburukan wali kelasnya. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang hingga buku yang ia bawa berserakan.


"Ah maaf," ucap sang pelaku. Ia membantu gadis pirang itu memunguti buku - buku yang berserakan di lantai.


"Tidak apa - apa. Lho? Konohamaru?" gumam Naruto. Ia mendongak dan melihat wajah sang pelaku penabrakan.


"Se..Naruto senpai?!" seru Konohamaru terkejut. Ia telah selesai membantu sang senior pirangnya.


"Makasih ya udah membantuku membereskan buku ini," ucap Naruto. Ia tetap kewalahan membawa buku yang jumlahnya tidak sedikit itu.


"A..aku bantu ya, senpai. Bawa bukunya ke ruang guru." Konohamaru menawarkan bantuan namun Naruto menolaknya. Tapi ia tidak menyerah. Ia tahu bahwa seniornya yang kemarin malam ia lihat sedang berpelukan, saat ini tengah dijahili sang guru. Lelaki yang memeluk senior yang ia sukai. Akhirnya Naruto menerima tawaran bantuan dari adik kelasnya.


Keduanya berjalan berdampingan menuju ruang guru. Setelah menyimpan buku di meja sang wali kelas, mereka juga berjalan berdampingan lagi.


'Apa benar ya Naruto senpai ada hubungan lebih sama Mr. Sasuke? Apa aku harus bertanya langsung pada Naruto senpai ya?' batin Konohamaru. Ia masih berharap pada gadis pirang yang menjadi seniornya itu.


"Konohamaru, mau sampai kapan kau mengikutiku terus?" tanya Naruto heran.


"Aah..maaf, senpai. Aku lupa. Hehehe," jawab Konohamaru salah tingkah.


"Oh iya. Makasih ya udah bantu aku bawain buku - buku itu. Jaa.." ujar Naruto.


"Na..Naruto senpai," panggil Konohamaru.


Naruto menoleh, "ya?"


"A..ano..apa..nanti siang..senpai ada waktu?" kata Konohamaru yang membutuhkan keberanian tinggi. Mukanya sangat merah karena malu.


Naruto tersenyum, "maaf, Konohamaru. Aku sudah ada janji," tolak Naruto secara halus.


"O..ok. Lain kali saja. Jaa senpai," balas Konohamaru. Ia tersenyum meski kecewa.


"Jaa." Naruto segera memasuki ruang kelasnya. Konohamaru memerhatikan seniornya dari jauh.


'Aku harus gimana? Apa harus nyerah setelah melihat mereka berpelukan layaknya pasangan? Tapi aku menyukainya..' batin Konohamaru. Ia bingung antara menyerah dan lanjut.


'Sudah kuputuskan. Aku akan mengejar cintaku. Tak akan ku biarkan Naruto senpai menderita karena Mr. Sasuke. Semangat!' monolog Konohamaru dalam hati. Ia sudah bertekad untuk mendekati senior pirangnya, Namikaze Naruto.


"Pantas saja lama. Ternyata kamu pacaran dulu, Naruto," ujar sang wali kelas Naruto yang sedang berdiri di dekat pintu masuk kelas. Nada bicaranya sangat tidak bersahabat. Naruto merasa seperti sedang berhadapan dengan malaikat maut.


"Ta..tadi aku ketabrak sama adik kelas lalu dia menolongku dan membawakan buku yang Mr suruh aku simpan di meja Mr di ruang guru. Siapa yang pacaran? Aku kan jom..ups," jelas Naruto panjang lebar. Ia hampir saja keceplosan berkata "jomblo" padahal dia sudah memiliki kekasih.


"Hn. Cepat kembali ke kursimu, Naruto!" perintah Sasuke mutlak. Naruto pun segera pergi ke tempat duduknya dengan perasaan dag dig dug. "Dobe," gumam Sasuke pelan tapi Naruto masih bisa mendengarnya.


'Aku pasti kena hukuman siang nanti. Gawat,' batin Naruto.


Skip time.


Waktunya istirahat makan siang. Naruto sudah bersiap - siap untuk makan siang bersama kekasihnya.


"Ne, Ino, Hinata. Aku makan siang di taman belakang ya," ujar Naruto. Ia terlihat seperti seorang anak yang meminta izin kepada orang tuanya.


"Duh..yang mau makan siang bareng," ejek Ino. Ia menyenggol bahu teman pirangnya sebari tersenyum.


"Cepat pergi, Naruto. Kasihan dia. Pasti udah nunggu kamu lama," tambah Hinata.


"Ya. Aku pergi dulu ya." Naruto pun pergi dengan senyum ceria. Ia membawa dua buah kotak bekal makan siang untuk ia makan bersama sang kekasih.


Senyum tak pudar dari wajah cantiknya. Hingga ia menyapa semua murid dan guru yang ia temui dengan penuh senyum ramah. Kata orang, cinta dapat mengubah segalanya. Itulah yang sedang dialami gadis pirang dango itu.


Tak lama kemudian ia sudah tiba di tempat yang dijadikan untuk menikmati bekal makan siang. Sang kekasih telah menunggu kedatangan dirinya. Senyum hangat menyambut kedatangan gadis pirang itu. Sang gadis juga membalas dengan senyuman manis yang selalu membuat sang pemuda tampan itu terpesona. Senyuman dari hati bukan senyum palsu yang selalu teman laki - lakinya berkulit pucat yang selalu dipancarkan.


"Jangan bilang kalau kau selalu tersenyum seperti itu di sepanjang perjalanan menuju tempat ini. Seperti orang kehilangan akal," gumam Sasuke. Ia duduk di atas rerumputan hijau di taman belakang (kalo atap sekolah sudah gak aneh lagi jadi aku bikin mereka di taman belakang sekolah saja yang bersih dan nyaman).


Naruto terdiam. Ia mendudukkan pantatnya di samping sang kekasih. "Gak juga. Emang kenapa? Apa gak boleh?" balas Naruto. Ia segera membuka kotak makan siang yang ia bawa.


Wajah Naruto merona. Entah mengapa ia selalu saja merasa gugup sekaligus senang tiap sang kekasih menyentuh dan membelai rambut panjangnya itu. "I..iya. Aku ganti sampo. Sampo yang biasa ku pakai sudah habis," jawab Naruto. Ia telah selesai menyiapkan makan siang.


"Hn," balasan singkat sang kekasih.


"Ma..makan dulu yuk?" ajak Naruto.


"Suapin aku ya?" pinta Sasuke manja.


Naruto menaikkan sebelah alisnya. Kekasihnya sedang dalam mode manja tingkat dewa. Menyuapi bayi besar berkepala ekor ayam di lingkungan sekolah. Ia tidak mau membuat seisi sekolah gempar akibat melihat dirinya yang sedang menyuapi guru tampannya itu.


"Makan sendiri ya, Mr. Kita kan lagi di sekolah. Gimana kalo ada yang lihat? Bisa gempar dan timbul gosip," tolak sang gadis.


"Jawab saja kalau kita emang punya hubungan lebih. Memang nyatanya begitu," balas Sasuke dengan santainya. Ia tidak menyentuh makanannya.


"Cih. Kau memang selalu seenaknya saja, teme," ujar Naruto. Ia mulai kesal tapi masih ia tahan.


"Suapin. Kau harus ku hukum karena sudah 2 kali membuatku deg degan tidak karuan." Sasuke kukuh dengan pendiriiannya.


"Deg degan kenapa? Aku juga gitu." Naruto tidak mengerti maksud dari sang kekasih.


"Kau sudah membuatku 2 kali cemburu, dobe. Dasar tidak peka," gumam Sasuke yang mendadak merajuk seperti balita tidak diberi balon.


Akhirnya Naruto mengerti. Ia merona dan tersenyum. Ternyata rasanya dicemburui menyenangkan juga. Ia jadi terpikir untuk membuat kekasihnya selalu cemburu. Karena tingkah Sasuke yang sedang cemburu membuatnya tampak lucu dan menggemaskan.


"Wah..cayang Naru cemburu. Sini Naru suapin biar gak cemburu lagi kayak bayi minta susu," ujar Naruto. Ia malah mencubit pipi kekasihnya yang lebih putih darinya.


Seketika wajah Sasuke merona. Ia seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Baru kali ini gadisnya melakukan hal seperti itu. Ia pun tersenyum bahagia.


"Ayo kita makan dulu. Selamat makan," ucap Naruto. Ia mengalah pada sikap sang kekasih.


Naruto menyuapi Sasuke dengan menggunakan sumpit. Ia juga menyuapi dirinya tapi menggunakan sumpit yang lain.


"Aku makan sendiri saja, dobe. Kau harus makan yang benar," ucap Sasuke. Ia mengambil sumpit dan bekal makan siang miliknya yang diberi oleh calon ibu mertuanya.


Naruto menyerahkan bekal itu. Ia tersenyum. Kekasihnya sungguh menggemaskan. Ia terkadang berpikir kalau Sasuke memiliki dua kepribadian. Tadi pagi ia dimarahin dan dijutekin, tapi sekarang ia malah diberi kelembutan dan kehangatan oleh guru yang terbilang tanpa basa basi itu. Masuk kelas lalu menerima salam dan langsung memberikan materi pelajaran. Tak ada canda tawa yang ke luar dari mulutnya terhadap muridnya yang lain. Naruto sangat istimewa. Ia kekasihnya tapi sebelum menjadi kekasihnya, gadis pirang itu sudah menjadi istimewa bagi Sasuke. Meski Sasuke sendiri tidak tahu apa alasannya.


Acara makan pun selesai. Naruto melayani kekasihnya layaknya seorang istri melayani suaminya. Dari mulai menyiapkan makan, menyuapi dan memberi minum. Tepatnya seperti mengurus bayi besar mesum. Sasuke santai dan menikmati saja semua ejekan yang gadisnya katakan pada dirinya. Ia menganggap semua ejekan dari Naruto adalah pujian dan sebagai tanda jika ia selalu diingat dan dipikirkan oleh gadisnya.


Naruto mengeluarkan sebungkus dari dalam saku rok seragam sekolahnya. Ia mengupas lalu mengunyah permen wangi itu. Sasuke melihatnya. "Minta," ucap Sasuke. "Habis," jawab Naruto singkat. "Pelit."


Naruto terheran - heran. Kekasihnya malah tambah manja dan semakin mirip bayi besar. Berani pula mengatainya pelit. Permen cuma satu. Ia mengunyah permen supaya tidak mual setelah makan. Penyakit maagnya belakangan ini kambuh jadi ia selalu mual setelah makan.


"Kamu kayak anak kecil saja, teme!" seru Naruto. Ia tidak tahu harus marah atau apa.


"Kalo anak kecil tidak akan menjadi guru dan mengajar di sini, dobe," jawab Sasuke ngeles.


"Pih. Dasar," gumam Naruto. Ia kesal karena kekasihnya selalu membalas ejekannya. "Terus aku harus gimana?"


"Sini dong wajahmu, dobe," pinta Sasuke. Naruto patuh karena dirinya terlalu polos.


Sasuke menarik tengkuk leher Naruto dan langsung mencium bibir, ******* dan seterusnya. Aktivitas mencium yang sangat panas. Ia juga merasakan manisnya permen yang sedang kekasihnya hisap(****). Rasanya manis tapi entah kenapa Sasuke menyukai rasa manis itu. Ia tak ingin melepaskan dan menghentikan lumatan hingga gadisnya dengan kasar mendorongnya ke belakang hingga ia terjatuh.


"Te..me..!!" seru Naruto. Ia ingin berteriak tapi ia tahan. Takut orang lain tahu. Bisa gawat jika ada orang lain melihat aktivitas mesum mereka.


"Sakit, dobe," gumam Sasuke berpura - pura.


"Kau benar - benar..!" Naruto menahan amarahnya. Tindakan sang guru benar - benar mesum. "Ero sensei no baka," ucap Naruto. Ia mengumpat pada dirinya. Kalau ibunya mendengarnya, bukan hanya sebelah telinganya yang dalam bahaya melainkan kedua telinganya atau pipinya pasti merah akibat dirinya yang tidak sopan dan berkata kasar.


"Hn. Kita sama. Tadi aku yang marah. Sekarang kamu. Impas kan," kata Sasuke dengan senyuman mengerikan sekaligus mempesona. Naruto heran pada dirinya yang bisa menyukai seorang guru mesum.


"Ma..maaf. Aku telah membuatmu cemburu tadi pagi, te...Mr," ucap Naruto. Ia mengalah saja daripada terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.


Sasuke tersenyum puas. Ia menang. Naruto ingin sekali menghajar kekasihnya yang licik dan mesum itu.


"Kau mau menghajar gurumu yang tampan ini? Hah," ujar Sasuke. Ia selalu bisa membaca ekspresi kekasihnya itu.


"Ti dak kok, sa yang.." bantah Naruto sebari tersenyum palsu ala Sai. Ia menyangkal perkataan sang guru. Padahal dari dalam hatinya ia ingin mencukur habis rambut ekor ayam kekasihnya itu.


"Lalu..?" Sasuke merangkak mendekati kekasihnya. Saat ini Naruto sedang berkeringat dingin akibat senyuman mesum gurunya. Naruto menarik nafas panjang dan cupπŸ’‹tanpa ragu ia mencium pipi Sasuke. Sontak sang korban wajahnya merona merah dan panas. Gerakan tubuhnya berhenti. Nafasnya juga ralat masih bernafas hanya saja terasa sesak. Naruto menang telak. Sasuke berhasil ia kalahkan hanya dengan ciuman yang ia berikan di sebelah pipinya. Tak lupa ia juga mengucapkan kata keramat yang menjadi mantera penyegel kekasihnya yang super mesum itu.


"Teme, daisuki," ucap Naruto tersenyum manis dan bahkan lebih manis lagi sehingga membuat sang kekasih tak berkutik dan langsung memalingkan wajah malunya ke arah lain sebari mengumpat, "sial. Dia terlalu manis."


Naruto tertawa meski jantungnya berdebar sangat kencang dan ia menahan gugup saat melakukan kegiatan tadi.


'Untung aku gak pingsan. Tenang, Naruto. Tenang...' batin Naruto. Ia merasa gugup.


Tanpa mereka sadari sepasang mata yang tengah meneteskan air mata telah menyaksikan kegiatan romantis mereka dari acara makan yang saling menyuapi, menghisap permen bersama, berciuman dan Naruto yang mengatakan kata keramat dengan perasaan penuh bahagia.


'Mungkin..aku memang harus menyerah. Dia terlihat sangat bahagia bersamanya. Aku sangat bodoh karena berharap sesuatu yang tidak pasti akan terkabul. Aku menyukaimu, Naruto senpai. Sekarang aku benar - benar akan melepaskanmu. Semoga kau selalu bahagia bersamanya. Selamat tinggal semua rasa ini..' batin seseorang yang hatinya hancur lagiπŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”.


Sang penguntit yang menjadi saksi kegiatan romantis pasangan sasunaru segera pergi sebelum keberadaanya disadari oleh mereka. Ia melangkah pelan menjauh lalu berjalan lebih cepat dan berlari sampai menabrak seseorang.


Bruk. "Ma..maafkan aku. Aku yang salah," ucap sang penguntit yang menabrak Sakura.


"Ya. Tak apa - apa," jawab Sakura. Ia pun melihat pelaku penabrakan tersebut. "Ko..Konohamaru?"


"Ha..Haruno senpai?" beo Konohamaru. Masih ada bekas air mata di bawah matanya.

__ADS_1


"Kau menangis, Konohamaru?" tanya Sakura. Ia penasaran.


"Ah. Ti..tidak, senpai," bantah Konohamaru. Wajahnya merona.


Sakura tersenyum ramah. Ia pun menepuk bahu Konohamaru, "menangislah jika menangis bisa membuatmu tenang. Terkadang laki - laki harus menangis juga. Menangis bukan berarti cengeng. Ok," kata Sakura.


Konohamaru tersenyum, "terima kasih, Haruno senpai. Tapi aku tidak mau menangis lagi. Apalagi karena patah hati."


"Patah hati?" beo Sakura. "Hm..patah hati ditolak Naruto?" Sakura menebak secara asal.


Konohamaru mengangguk. Sakura terkejut. Ia tersenyum kembali dan berkata, "cewek tuh banyak. Cari saja yang lain. Mungkin dia bukan jodohmu. Hidupmu masih panjang, Konohamaru. Laki - laki itu harus kuat dan tegar."


"Senpai benar. Aku sudah menyerah. Aku ikut senang kalau Naruto senpai bahagia dengan Mr. Sasuke," balas Konohamaru. Ia sudah terlihat tenang.


"Gitu dong. Semangat ya, Konohamaru. Aku pergi dulu ya. Ja.." ucap Sakura.


Keduanya pun berjalan di jalan yang berbeda. Mereka adalah orang yang pernah merasakan sakit dan pahitnya cinta tertolak. Hanya sesama orang yang sedang mengalami patah hati yang bisa mengerti perasaan itu.


Sepulang sekolah. Naruto mendapatkan pesan dari sang kekasih untuk menunggunya di tempat parkiran. Ia patuh saja padahal ia ingin bertanya kenapa ia harus menunggu di parkiran? Setahunya kekasihnya itu tidak membawa motor. Jadi ia tidak harus menunggu di parkiran.


"Si teme itu kenapa menyuruhku menunggu di tempat ini? Harusnya di halte bus. Dia selalu saja seenaknya," gerutu Narutonya. Tanpa ia sadari orang yang ia maksud ada di belakangnya.


"Siapa yang seenaknya, dobe?" Sasuke berdiri di belakang Naruto.


"Te..me?! Kau mengagetkanku saja!" seru Naruto sebari menyentuh dada kirinya. Ia sangat terkejut. Ia sama sekali tidak mengetahui kedatangan sang kekasih barunya itu.


"Jangan melamun, dobe. Aku kan emang tampan," ucap Sasuke dengan percaya diri yang tinggi.


Naruto malah menaikkan alisnya. "Percaya diri sekali pacarku," ejek Naruto. Ia mendelik tajam pada kekasihnya yang kelewat percaya diri itu.


"Ayo kita naik motor. Motorku sudah diservis jadi sore ini kita pulang naik motor," ujar Sasuke. Ia menggenggam tangan kekasihnya dan menariknya. "Ayo cepat, dango!" ajak Sasuke.


"Iya..iih.." balas Naruto.


Pasangan sasunaru pun pulang dengan berkendara sepeda motor milik Sasuke. Naruto duduk di belakang. Ia memakai stoking putih panjang sehingga kakinya yang indah tidak tereskpos. Sang guru lah yang menyuruhnya untuk memakai stoking panjang di balik rok seragamnya yang pendek. Kalau tidak dituruti, kekasih ayamnya akan berubah menjadi ayam jantan mode bertarung(adu ayam).


Selama perjalanan tidak ada yang memulai pembicaraan. Naruto yang biasanya selalu banyak bicara tiba - tiba diam. Sampai depan rumah pun Naruto masih tidak membuka mulutnya.


Naruto turun dari motor secara perlahan. Ia membuka helmnya. Rambut dangonya masih utuh karena sang guru yang memakaikan helm di kepalanya.


"Arigatou, Sasuke - kun. Udah anterin aku pulang," ujar Naruto. Ia menyerahkan helm yang tadi ia pakai.


"Hn. Nanti malam kau tunggu aku ya. Aku mau ke rumahmu, dobe," ujar Sasuke. Ia membuka helmnya.


"Untuk apa? Kan bukan malam minggu," tolak Naruto.


"Ada hal penting yang harus kubicarakan. Besok aku tidak bisa mengajar dulu. Mungkin Senin depan," jelas Sasuke tanpa ditanya.


"Eh? Sa..Sasuke - kun mau ke mana? Kenapa tidak mengajar lagi? Apa Sasuke - kun mengundurkan diri? Ada apa? Apa karena kejadian tadi siang di taman? Kok mendadak?" tanya Naruto tanpa henti. Spontan Sasuke meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya.


"Aku mana bisa jawab, dobe? Kau bertanya panjang sekali. Malam aku jawab semuanya. Jadi tunggu aku ya sayang. Bye," ujar Sasuke. Naruto mematung seketika. Namun wajahnya merona. Kemudian ia masuk ke dalam rumahnya.


πŸŒŒπŸŒƒπŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•


Malam pun tiba. Sesuai janji, Sasuke mendatangi kediaman Naruto untuk membicarakan sesuatu yang penting.


Naruto sudah berdiri di depan teras rumahnya ketika kekasih berambut ayamnya datang.


"Jangan diem di luar, sayang. Gak baik kena angin malam," ujar Sasuke sebari mencium kening kekasihnya yang hanya sebatas bahunya. Ia juga mengusap rambut dango kekasihnya.


"Ka..kau juga dari luar kan, te..teme," gumam Naruto dalam mode malu - malu rubahnya. "Cepat masuk, teme. Jangan di luar!" ajak Naruto. Ia menggandeng tangan kekasihnya. Sasuke pasrah dan patuh pada kekasihnya yang tengah berada mode malu dan gugupnya.


Mereka pun sampai di ruang keluarga. Ruangan tempat pasangan sasunaru tempo hari menonton televisi bersama.


"Duduklah. Kau mau minum apa, teme?" tanya Naruto. Sudah kembali ke mode semula.


"Air putih saja," jawab Sasuke. Naruto segera pergi mengambil segelas air putih untuk kekasihnya.


"Apa yang mau kau bicarakan, teme?" tanya Naruto. Ia sudah kembali sebari membawa dua gelas berisi air putih. Sasuke langsung meminumnya. Naruto tersenyum mengejek. Mungkin Sasukenya berjalan kaki ke rumahnya.


Sasuke mengeluarkan flash disk dari saku celananya lalu memberikannya kepada Naruto.


"Ini apa, teme?" tanya Naruto. Ia tidak mengerti.


"Di dalam flash disk itu ada materi pembelajaran kelas 10 sampai dengan kelas 12. Nanti kau cetak dan foto kopi," jawab Sasuke datar. Tapi tangannya tidak diam. Ia meraih pinggang kekasihnya dengan mesra.


"Memangnya Sasuke - kun mau ke mana? Ke luar kota? Atau ke luar negeri?" tanya Naruto. Sesekali ia menepis tangan kekasihnya yang menempel di pinggangnya tapi tepisan tangannya tak Sasuke hiraukan. Ia malah tambah erat mendekatkan tubuh gadisnya dengannya. Meski sang gadis tetap menolak tindakannya.


"Aku harus mengurus perusahaan kakakku dulu, dobe. Cuma seminggu. Sekarang kan Itachi - nii dan tousanmu sedang perjalanan bisnis. Ayahku juga sibuk. Jadi aku yang harus menanganinya. Kau mengerti kan, sayang," jelas Sasuke. Ia memeluk kekasihnya dari belakang sambil duduk di sofa depan televisi.


"Ya. Aku mengerti. Tugasmu sebagai guru, gimana? Lalu..aku ngerjain apa sebagai asisten bahasa Inggris? Kan Sasuke - kun tidak ada?" tanya Naruto. Mereka merubah posisinya. Naruto duduk di pangkuan Sasuke.


"Aku akan berusaha mengirimkan pesan padamu. Semuanya sudah ada di dalam flash disk itu. Ajaklah Sakura untuk membantumu atau Ino dan Hinata mungkin," jawab Sasuke. Ia menciumi leher Naruto. "Hn. Kau selalu saja wangi, dobe dango Narutoku."


Wajah Naruto merona merah. Ia selalu saja malu, gugup dan pasrah saat kekasih mesumnya menciumi lehernya yang jenjang dan kuning itu.


"Ge..geli teme. Nanti kaasan lihat dan marah," gumam Naruto. Malu tapi menikmati.


"Tidak akan lihat, sayang."


Tiba - tiba terdengar suara Kushina dari kamarnya. "Naruto! Tolong kaasan!" seru Kushina.


Naruto segera melangkah meninggalkan sang kekasih mesumnya. "Aku nyamperin kaasan dulu ya." Sasuke mendengus kasar. Aktivitas mesumnya terganggung oleh panggilan dari sang calon ibu mertua.


Beberapa saat kemudian, Naruto muncul kembali di depan mata kekasihnya. "Bentar amat dobe," gumam Sasuke heran.


"Kenapa? Mau dilamain? Ya udah. Aku tidur aja," ujar Naruto. Tapi tangannya ditarik sang kekasih.


"Temanin aku sebentar saja, dobe. Aku pasti akan sangat merindukanmu saat jauh darimu. Jadi, biarlah malam ini temani aku. Jadilah penyemangatku, Naruto." Sasuke terus berbicara sebari memeluk Naruto dengan penuh kasih sayang seakan - akan ia hendak berpisah lama dengan gadisnya itu. Padahal hanya seminggu.


"Jangan selingkuh ya, dobe selagi aku gak ada. Jaga hatimu. Ok," ucap Sasuke. Posesif. Ia juga mencium dahi, pipi dan bibir kekasihnya. Naruto pasrah dan menerima semua perlakuan sang kekasih.


Tanpa terasa, air mata tiba - tiba mengalir dari sepasang mata saphire Naruto. Ia sendiri tidak tahu alasan ia menangis. Ia hanya merasa sedih dan ingin menangis.


"Naru, kamu nangis?" Sasuke melepas pelukan eratnya untuk melihat gadisnya yang tengah mengeluarkan air mata.


"Ti..tidak, Sa..Sasuke - kun," bantah Naruto. Ia mengusap air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir.


"Katakan padaku, apa yang membuatmu menangis? Katakan, sayang. Aku khawatir," pinta Sasuke. Ia mengusap air mata Naruto. Naruto malah semakin mengeluarkan air mata lalu memeluk tubuh kekar kekasihnya dengan sangat erat.


"Hiks..a..aku..hiks.." Naruto malah menangis. Sasuke tambah bingung dan panik. Ia hanya bisa membalas pelukan kekasih pirangnya dan membelainya dengan lembut.


"Jangan menangis lagi, dobe. Aku minta maaf. Jangan nangis. Ok," pinta Sasuke. Naruto pun berhenti menangis. Ia tersenyum memandangi wajah tampan kekasihnya itu. Kedua tangannya juga meraba wajah Sasuke. Dahi, alis, kelopak mata, pipi, hidung dan juga bibir. Naruto jadi senyum sendiri. Wajahnya sudah merona sedari tadi.


"A..aku tidak apa - apa. Aku..hanya sedih saja. Ku pikir kalau Sasuke - kun tidak ada di sekolah, aku pasti senang. Tapi ternyata tidak. Hanya membayangkan saja membuatku sedih. Aku..aku pasti merindukan Sasuke - kun," gumam Naruto.


Sasuke tersenyum atas tindakan dan perkataan kekasihnya. Naruto menangis karena takut tidak bisa bertemu dengannya.


"Kau jangan lama - lama ya. Senin harus sudah ada di sekolah. Ok," tambah Naruto. "Oh iya. Aku tidak akan pernah selingkuh. Aku yang takut kamu selingkuh. Sasuke - kun kan tampan dan populer. Pasti di kantor banyak yang suka."


Sasuke tidak bisa berhenti tersenyum. Rupanya gadis pirang dangonya sangat cemburu padanya. Naruto sangat menyayanginya. Ia bersyukur telah menjadikan Naruto sebagai kekasihnya.


"Aku tidak akan selingkuh, dobe. Paling selingkuh sama kerjaan yang menumpuk. Kau tenang saja ya. Aku sangat menyayangimu, Narutoku," ucap Sasuke. Kemudian ia mencium bibir Naruto dengan penuh kasih sayang bukan nafsu.


πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑πŸ₯🍑


Sudah dua hari ini Naruto tidak bertemu dengan kekasihnya di sekolah. Pesan pun tidak ada. Ia mengerti karena pekerjaan kekasihnya yang menumpuk. Pasti Sasuke kelelahan. Ingin rasanya Naruto bertemu dan menemui kekasih rambut ekor ayamnya itu tapi ia malu dan juga tidak mau mengganggu pekerjaan kekasihnya. Jadilah ia sekarang terdampar di sebuah cafe bersama dengan ketiga teman perempuannya, Ino, Hinata dan Sakura.


Ketiga gadis itu sedang asyik membicarakan pasangan mereka masing - masing dan juga mengenai drama sinetron yang malam tadi mereka tonton. Naruto bukan penggemar drama tersebut. Ia lebih suka menyaksikan acara komedi yang membuatnya tertawa. Hidup penuh drama jadi untuk apa ia menonton drama yang peran utamanya selalu menangis, tertabrak, hilang ingatan pula.


"Haa..." Naruto menghela nafas panjang. Dua hari tidak bertemu Sasuke membuatnya tidak bersemangat. Nyawanya sudah ada pada diri kekasihnya itu.


"Hei, Naruto. Kau dari tadi diam terus. Jangan galau terus dong," ujar Ino. Ia tidak tega melihat gadis pirang yang selalu ceria itu mendadak murung bak matahari tertutupi awan mendung.


"Aku harus gimana? Ngedance kpop? Mana bisa," balas Naruto dengan jawaban yang tidak berkaitan.


"Emang kamu bisa ngedance, Naruto?" tanya Sakura penasaran. Ia penggemar kpop. "Bts atau suju?"


"Apanya yang bts atau suju? Aku gak bisa ngedance, Sakura." Tiba - tiba saja Naruto merasa kesal. Berhubung dirinya dalam mode pms, ia jadi lebih sensitif ditambah sudah dua hari kekasih ayamnya tidak memberinya kabar. Naruto jadi uring - uringan dan mudah naik darah. "Maaf, Sakura. Aku tidak sengaja. Aku pulang dulu. Mungkin baca manga dan nonton anime bisa bikin aku normal."


"Kamu gak apa - apa kan, Naru? Bisa pulang sendiri?" tanya Hinata khawatir.


"Bisa. Aku udah besar. Kamu ada - ada saja," jawab Naruto tersenyum palsu. "Kalau begitu, sampai ketemu besok ya di sekolah. Jaa ne minna." Naruto bangun dari duduknya. Setelah memberikan uang untuk membayar minuman yang ia pesan, ia segera pergi dari kafe itu. Kafe yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Jadi ia memutuskan untuk berjalan kaki. Berjalan 1 atau 2 km tidak jauh. Itung - itung olahraga.


Di sepanjang perjalanan, Naruto selalu mengumpati kekasihnya. "Tugasku jadi asisten masih banyak di rumah. Gara - gara si ayam sialan itu gak masuk, aku harus ngisi agendanya. Aah..kau menyebalkan, teme!" seru Naruto. Ia seperti orang kurang waras karena berbicara sendiri.


"Ku pikir siapa yang dari tadi mengoceh. Ternyata kau, Naruto," gumam seorang pemuda yang mendadak ada di belakang Naruto. Layaknya cicak yang turun dari langit - langit (gak nyambung thor).


Naruto menoleh ke belakang. "Ah..To.. Toneri? Sedang apa kamu di sini?"


"Mau pulang. Tadi habis ngerjain tugas di rumah Koyuki," jawab Toneri. Ia tersenyum ramah.


"Oh," jawab Naruto singkat. Tiba - tiba saja ia merona ketika melihat Toneri tersenyum padanya. 'Kok dia masih cakep aja ya? Masih unyu - unyu tuh anak. Eh? Gak gak. Sasuke teme yang unyu - unyu mah yang kayak anak ayam,' batin Naruto. Ia terus berjalan. Toneri juga berjalan di samping Naruto.


"Naruto," ujar Toneri.


"Ya?"tanya Naruto.


"Apa kau akan datang ke reunian nanti?" Toneri bertanya.


Naruto diam sejenak. "Gimana nanti saja ya. Aku gak janji."


"Sepertinya kamu harus datang. Soalnya ada bintang tamu spesial. Ada artis juga," tambah Toneri.


"Gak tertarik," balas Naruto datar.


"Hm..kalo gak salah..artis yang suka main live action anime. Aku lupa namanya. Dia diundang oleh kepala sekolah kita yang baru."


"Hebat amat sekolah kita yang dulu. Kalo saja Ryuji Sato. Duuh.." Naruto membayangkan aktor kesukaannya. Matanya berbinar - binar.


"Ya. Itu nama artisnya," tambah Toneri.


"Ok. Namikaze Naruto pasti datang! Tunggu aku, Ryuji - sama!" seru Naruto. Ia merasa sangat bahagia. "Arigatou, Toneri," ucap Naruto. Ia menjabat tangan Toneri lalu berlari meninggalkan Toneri yang dipenuhi tanda tanya.


"Dia gak pernah berubah. Masih polos dan ma nis," gumam Toneri.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2