
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjam tanpa izin
Ide cerita asli milik thor
Pair sasufemnaru
Genre murid, guru, cinta
Cerita gaje dan abal
Happy reading
Pagi ini setelah dua hari Naruto absen dari sekolah, keadaannya telah membaik. Ia sudah dapat pergi ke sekolah. Ayahnya, Minato hendak mengantarkannya ke sekolah namun Naruto menolaknya. Ia tidak ingin merepotkan sang ayah. Lagipula naik bus juga aman, cepat dan nyaman. Daripada harus dibonceng ayahnya di motor. Cara mengemudikannya saja masih kaku. Pernah ia dibonceng sang ayah, alhasil di sepanjang perjalanan ia selalu komat - kamit berdoa agar tidak jatuh. Karena bus sedang demo jadi terpaksa ia diantarkan ayahnya. Naruto jadi kapok dan enggan dibonceng oleh ayah pirangnya itu.
Sekarang ia bersama Hinata sedang menunggu kedatangan bus di halte bus. Tak sampai menunggu 5 menit bus pun tiba. Mereka berdua langsung naik dan duduk di kursi penumpang.
Rupanya pagi itu nasib sial telah menanti sang gadis pirang di dalam bus. Ia terpaksa duduk di samping mantan cinta pertamanya, Otsutsuki Toneri, teman SMPnya yang sedang mendengarkan musik.
Naruto duduk dengan rasa canggung. Ia ingin berdiri tapi tidak enak juga kalau berdiri. Ia masih belum sehat. Badannya juga masih kurang fit takut jatuh dan pasti ia akan malu sekali kalau jatuh apalagi Toneri sampai melihatnya.
Toneri menoleh ke samping tepatnya ke arah Naruto. Ia menyapa Naruto, Naruto juga membalasnya. Setelah itu tidak ada obrolan lain selain menanyakan kabar dan sekolah mereka. Toneri melanjutkan aktivitasnya semula yaitu mendengarkan musik lewat earphone, sedangkan Naruto ia membaca manga online. Baru beberapa saat ia memegang ponselnya, beberapa pesan masuk.
'Siapa ya yang ngechat pagi - pagi gini?' tanya Naruto dalam hati.
Teme sensei
Dobe
Apa kabarmu?
Hari ini masuk kan?
'Ternyata si guru rambut ayam itu. Apa dia udah sampai di sekolah? Gak mungkin kan ngechat sambil bawa motor kan? Berbahaya.' batin Naruto. Ia pun membalas pesan dari sang guru.
Dobe Dango
Baik
Sedang di jalan
Teme sensei
Kau jalan kaki?
Dobe Dango
Terbang
Loncat loncat dari pohon ke pohon
Teme sensei
Memang kau ninja?
Dobe Dango
Bukan
The most beautufull girl in Konoha city😊
Hehehe
Teme sensei
😉😍yaps
I'm agree
Dobe Dango
??????????
Teme sensei
Hati - hati dobe
Dobe Dango
Aku tidak dobe😣
Teme sensei
😃see you in Konoha High School
Dobe Dango
See you too😊
Sesi chatting pun selesai. Bus berhenti tepat di depan halte yang tak jauh dari gerbang Konoha High School. Naruto dan Hinata pun turun dari bus. Sebelum itu, Naruto menyapa Toneri kembali dan berpamitan. Toneri tersenyum dan Naruto juga.
Hinata berjalan berdampingan dengan Naruto. Sangat dekat. Hinata penasaran dengan apa yang telah terjadi pada teman pirangnya itu dengan teman SMPnya saat di dalam bus.
"Tadi kamu ngomong apa saja, Naru?" tanya Hinata dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
"Sama siapa? Toneri?" Naruto malah bertanya. Hinata menggangguk. "Oooh. Hanya nanyain kabar dan tentang sekolah. Itu saja. Dia langsung mendengarkan musik, kalau aku chattingan sama orang ekor ayam itu." jelas Naruto.
"Gimana perasaanmu saat ketemu dia? Maksudku..kamu masih suka tidak sama Toneri?" Hinata bertanya lagi.
Naruto berpikir sejenak lalu menjawab. "Entahlah. Aku tadi hanya kaget dan canggung saja harus gimana pas duduk deket dia." jawab Naruto meyakinkan.
"Kamu masih deg degan tidak pas berduaan?" tanya Hinata dengan nada menggoda teman sekelasnya itu.
"Kalau tidak deg - degan aku mati dong." jawab Naruto dengan polosnya.
"Maksud aku tuh..kamu masih ada hati tidak sama Toneri? Kamu mah ngejawabnya berbelit - belit." tambah Hinata yang kesal pada sikap Naruto yang polos dan kurang peka.
"Hm..mungkin masih tapi hanya..hanya..10 % deh. Sepertinya." jawab Naruto dengan ragu - ragu.
"Terus? Yang 90 % lagi untuk siapa?" tanya Hinata tambah penasaran.
"Husband husband animeku." jawab Naruto tersenyum lebar.
Hinata sweatdrop mendengar jawaban Naruto yang absurd itu.
"Mr. Sasuke baik lho. Tampan juga. Pintar. Dewasa lagi. Apa kamu tidak menaruh hati padanya? Hm?" tanya Hinata memancing perasaan Naruto.
"Menaruh hati? Untuk apa? Kalau akhirnya aku patah hati lagi, lebih baik aku tidak jatuh cinta sama guru rambut ayam itu. Aku tidak mau nasib percintaanku gagal lagi." jawab Naruto panjang lebar.
"Tapi banyak gadis lho yang suka dan ngefans sama wali kelas kita." sambung Hinata.
"Biarkan saja. Lelaki tampan kan memang banyak yang suka. Dia tinggal pilih perempuan mana yang mau jadi kekasihnya. Mudah sekali kan. Memangnya aku? Disukai saja tidak pernah. Apalagi dapat kekasih. Susah punya tampang dan tinggi pas - pasan mah." tambah Naruto. Tiba - tiba ia jadi murung.
"Apa kau menyukai wali kelas kita?" tanya Hinata.
Naruto kesal mendengar pertanyaan dari Hinata. Selalu pertanyaan yang sama. Ia sedang tidak ingin membahas hal itu. Meski dari luar ia selalu menolak pesona sang wali kelas namun dalam hatinya ia sangat terpesona. Trauma patah hati membuatnya harus membuang perasaan suka itu.
"Aku tidak tahu, Hinata. Aku tidak mau patah hati terus. Aku sebenarnya.." ucap Naruto yang terpotong teriakan dari Ino.
"Naruto!" seru Ino. Ia tampak gembira saat melihat Naruto datang. Teman sebangkunya sudah pulih. Ia langsung memeluk Naruto hingga si empunya merasa sesak akibat pelukan yang cukup erat dari Ino.
"Kok cuma berdua? Bukannya tadi kalian bertiga?" tanya Ino celingak celinguk ke arah kanan dan kiri Naruto dan Hinata.
"Kami cuma berdua kok dari tadi. Benar kan, Hinata?" sahut Naruto menoleh ke arah Hinata. Kini mereka sudah berada di depan ruang kelasnya.
"Memang cuma berdua." jawab Hinata.
Naruto mendadak merinding. Ia langsung pucat karena ia takut dengan hal yang berbau mistis.
"A..apa maksudmu, Ino? Memangnya..tadi ada siapa di antara kami?" tanya Naruto, ia ketakutan.
"Emh.. Wali kelas kita." jawab Ino dengan santai sambil tersenyum cantik.
"Eh?!" seru Naruto. Ia sangat terkejut. Bagaimana tidak? Ia dan Hinata membicarakan wali kelas mereka di depan orangnya. Timbul semburat merah di wajah Naruto.
"Sial!" seru Naruto. Untung saja ia tidak berbicara yang aneh - aneh tentang wali kelas ayamnya itu. Kalau sampai membicarakan keburukan sang guru maka ia pasti akan mendapat hukuman berupa tugasnya sebagai seorang asisten yang diperbanyak.
Naruto segera berjalan dan masuk ke dalam ruang kelas. Tampak Sakura yang sedang duduk di kursi paling depan dekat dengan meja guru. Sakura menatap Naruto penuh kesal dan jijik. Sedangkan Naruto tidak tahu harus merespon atau menyapa Sakura. Ia merasa bersalah karena akibat dirinya yang dibully maka Sakura harus dihukum. Naruto itu gadis yang sangat baik malah terlalu baik. Meski terkadang pendendam tapi hanya lewat perkataan saja. Ia tidak akan berani membalas perbuatan jahat dengan jahat juga. Ia lebih memilih untuk tidak menganggap perbuatan mereka. Karena tidak dipedulikan lebih sakit daripada dilawan.
Sakura berdiri dari kursinya dan menghampiri Naruto. Namun Ino segera menghalangi jalan supaya si siswi rambut merah muda panjang itu tidak mendekati teman pirangnya.
"Mau apa kau? Belum puas udah bikin temanku sakit? Hah?!" seru Ino dengan nada tinggi.
"Hm. Aku cuma mau bilang sama temen pirang aho-mu itu kalau Mr. Sasuke tidak akan menyukainya. Dia hanya memanfaatkan kebaikan dan kepolosannya.." ujar Sakura dengan tatapan tajam dan senyuman bak nenek sihir. "..dan juga, jangan harap kalau perhatian dari guru tampan itu adalah perhatiannya yang lebih daripada seorang guru padamu. Ingat, Namikaze Naruto! Kau hanya murid biasa. Kemampuan akademismu juga tidak terlalu tinggi. Shikamaru saja lebih jenius darimu.." kata Sakura. Naruto diam tanpa membalas.
"Hm..jangan - jangan kau main pelet ya sama wali kelas kita? Atau..kau sudah menyerahkan mahkotamu padanya? Ah tidak mungkin. Mr. Sasuke pasti menolak. Mana mau pria setampan dan sesempurna dia mau dengan perempuan kampungan, jelek, culun dan norak kayak kamu. Iuh.." tambah Sakura. Ia berjalan mondar mandir di depan bangku Naruto. Ino hendak menampar Sakura namun tangannya dicekal oleh Naruto. Naruto menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa Ino tidak boleh melakukan apa - apa. Biar saja perempuan rambut merah muda itu bicara hingga tenggorokannya bengkak.
"Kau diam saja berarti itu benar. Hah?!" seru Sakura menyudutkan Naruto. Naruto mengepalkan kedua tangannya. Ia menahan amarahnya.
"Dasar perempuan ******. Tidak laku. Mana ada yang mau sama kamu. Huh?!" ejek Sakura. Ia menunggu respon dari orang yang ia ejek tapi tidak ada respon sama sekali. Padahal ia sengaja mengejek Naruto supaya Naruto marah dan membuat ulah supaya dihukum. Tapi rencananya gagal. Ia pun meninggalkan Naruto, Ino dan Hinata yang sejak tadi diam mendengarkan ia berbicara sendiri. Murid lain hanya diam. Mereka tidak percaya jika Naruto perempuan seperti yang Sakura ceritakan. Naruto itu seorang otaku yang belum pernah pacaran hanya pacaran dengan pacar 2d saja. Jadi semua yang diceritakan Sakura pasti bohong.
__ADS_1
Shikamaru, Sai dan Kiba menyimak semua perkataan Sakura dari awal. Naruto bukan gadis seperti yang Sakura katakan. Naruto bisa disebut sebagai gadis anti lelaki. Hanya berteman dan tak mengganggap lebih. Berteman dengan gadis dango itu juga cukup menyenangkan. Naruto sangat ramah, sopan dan juga sabar. Ia memang terlalu baik dan polos. Buktinya saat dirinya diejek, ia hanya diam saja tak membalas ejekan dari gadis gulali itu.
"Sungguh merepotkan. Kalau merasa cantik, kenapa harus mengejar lelaki yang sudah terang - terangan menolak." ujar Shikamaru bermaksud menyindir Sakura.
"Ya kau benar, Shika. Bagiku lelaki lah yang harus mengejar perempuan bukan malah sebaliknya." tambah Kiba yang tidak biasanya ia tampak pintar.
"Hm..terkadang perempuan cantik juga lama lakunya lho.." sambung Sai dengan senyuman palsunya.
Sakura hendak membalas ejekan mereka tapi bel masuk tidak mengizinkannya.
Sementara itu, Naruto terus bermonolog dalam hati. Ia memang tidak secantik dan semenarik Sakura. Bisa - bisanya dirinya merasa percaya diri ketika wali kelas tampannya menyebut dirinya manis. Ia merasa bahwa dirinya jauh dari kata manis apalagi cantik. Mungkim perhatian yang Sasuke berikan memang perhatian dari seorang guru terhadap muridnya. Tidak lebih. Ia pun menahan rasa sakit dan sesak di dadanya. Ternyata rasanya lebih sakit daripada ditolak oleh Toneri. Ingin rasanya menangis tapi untuk apa ia menangis. Karena hidup tanpa cinta juga masih bisa hidup asal jangan tanpa makan. Nanti ia mati kelaparan. Ia pun segera membuang dan menyangkal perasaan sukanya lagi.
Di ruang guru, seorang guru muda yang menjadi idola dadakan di sepenjuru Konoha High School terlihat sedang bergelut dalam pikirannya sebelum bertugas untuk mengajari murid - muridnya yang tidak sepintar dirinya. Jika mereka pintar, untuk apa mereka sekolah?
'Rupanya si dobe tadi pagi bertemu dengan orang yang namanya Toneri. Aku jadi penasaran. Seperti apa orangnya yang bisa membuat dobeku jatuh hati dan patah hati. Untung saja patah hati. Kalau tidak, aku bakal tidak punya kesempatan. Nah, sekarang adalah kesempatan baikku. Aku akan membuat si dobe itu jatuh cinta padaku. Lagipula..si dobe sudah tidak ada rasa lagi sama orang yang namanya Toneri itu. Bersiaplah, dobe dango-ku. Kau akan segera jadi milikku.' batin Sasuke. Ia melangkah menuju ruang kelas tempat ia mengajar dengan penuh rasa percaya diri. Hanya pada siswi incarannya ia terkadang kehilangan rasa percaya dirinya.
Kembali ke tempat Naruto berada. Ia terlihat tidak nyaman dengan posisi duduknya karena ingin buang air kecil. Naruto pun meminta izin pada guru yang sedang mengajar, Tsizune sensei untuk pergi ke toilet.
Rasa yang mengganjal dan menumpuk telah hilang. Ia tidak bisa menahan hasrat buang airnya sampao jam istirahat tiba meski hanya tinggal 30 menit lagi.
Naruto segera ke luar dari toilet namun tangannya dicekal oleh dua orang siswi yang tak mau ia temui saat ini yakni Sara dan Shion. Dua seniornya yang harus menerima hukuman dari guru akibat telah menyiksa gadis pirang tersebut. Hukuman yang dijatuhkan guru bk tidak mempan untuk membuat mereka sadar dan kapok. Malah mereka berniat menyiksa gadis pirang itu lebih parah lagi.
Naruto diseret secara paksa oleh kedua gadis berbeda surai itu. Dikarenakan masih jam pelajaran maka suasana masih sepi. Jadi Sara dan Shion leluasa membawa Naruto. Naruto ingin melawan tapi kedua tangannya dipegang oleh mereka berdua. Tenaganya juga kalah kuat apalagi ia baru sembuh dari sakit. Masih belum fit.
Saat ini Naruto dan kedua senior kejamnya telah berada di dekat gudang perlengkapan olahraga. Tanpa ragu tubuh Naruto didorong masuk ke dalam gudang yang gelap dan sempit itu. Pintu gudang pun dikunci dari luar. Suara tawa jahat menghiasi dua gadis bersurai panjang itu.
"Ne, Shion. Apa kau sudah meletakkan itu di dalam?" tanya Sara setelah mengunci pintu gudang.
"Sudah. Dia pasti ketakutan. Perempuan kan takut pada begituan. Kita juga takut apalagi dia." jawab Shion.
"Dasar perempuan tak tahu diri. Punya tampang jelek juga berani menggoda Uchiha - sensei. Itulah akibatnya." tambah Sara. Ia tersenyum puas membayangkan hal yang akan terjadi pada adik kelasnya itu.
"Ayo kita pergi. Jangan sampai ada yang melihat kita!" ajak Shion pada Sara.
Mereka pun pergi dari tempat kejadian perkara dengan perasaan puas setelah membalas dendam pada Naruto.
Di dalam gudang Naruto tidak merasa takut hanya saja ia geli dan sedikit. Ada kecoak, cacing, dan juga ulat bulu. Rupanya ia dikerjai secara aneh. Ia bahkan tidak talit dengan hewan yang disebutkan tadi. Ia menyingkirkan hewan menjijikan itu dari hadapannya dengan sapu ijuk yang kebetulan ada di dalam gudang itu. Pencahayaan di gudang tidaklah terang namun cukup membuat Naruto untuk melihat dan menyingkirkan hewan - hewan menggelikan itu.
"Iih..geli. Mereka rajin sekali mengumpulkan hewan kayak gini. Mereka pikir aku takut. Hanya ulat bulu saja yang..kya...!" tiba - tiba Naruto berteriak. Kedua tangannya kena ulat bulu padahal ulat bulunya tidak sempat mengenai tangannya. Mungkin terkena helaian bulu dari ulat tersebut ketika ia menyapu ulat itu.
Para hewan yang dijadikan senjata untuk menyiksa Naruto sudah dikumpulkan ke dalam kantong plastik dan diikat kuat olehnya. Sebenarnya Naruto geli dan jijik. Ia hanya takut hewan - hewan itu merayap dan menyentuh badannya. Ia memberanikan dirinya daripada harus dirape oleh hewan itu lebih baik dirape oleh wali kelasnya yang super tampan. Pikiran Naruto jadi kacau dan mesum. Bisa - bisanya ia memikirkan hal mesum dan aneh itu di saat genting seperti itu.
Kedua tangan Naruto penuh bentol. Rasa gatal menggerayangi dirinya. Untung kuku tangannya tak pernah panjang jadi ia tidak takut lecet ketika menggaruk permukaan kulitnya yang penuh bentol itu.
Sudah cukup lama Naruto terkurung di dalam gudang. Rasa lapar datang melanda namun ia tidak bisa ke luar. Ia hanya berharap pertolongan seseorang. Rasanya ia ingin menangis tapi pintu tidak akan terbuka dengan tangisannya. Seandainya ia punya kekuatan super seperti yang dimiliki oleh karakter utama di manga yang sering ia baca, ia pasti sudah me-rasengan pintu gudang itu. Ia tertawa miris. Yang benar saja? Ini dunia nyata. Paling kuat juga karate memecahkan batu bata bukan menghancurkan pintu yang seperti wali kelasnya itu lakukan beberapa hari lalu untuk menolongnya.
Naruto berpikir, kenapa perhatian dari gurunya serasa beda dan aneh? Ia tidak mau menyimpulkan tanpa adanya bukti lebih lanjut. Sekarang ia pasrah menunggu pertolongan seseorang untuk membukakan pintu gudang yang terkunci dari luar.
Di tempat lain, Ino dan Hinata sedang panik dengan hilangnya Naruto. Jam istirahat sudah mulai tapi Naruto masih belum muncul. Mereka pikir Naruto sakit dan berada di uks tapi kenyataanya ia tidak pernah datang ke tempat itu. Jadilah mereka berdua mencari si gadis pirang dango itu.
Seluruh sudut ruangan telah mereka selusuri namun keberadaan teman mereka belum ditemukan. Tanpa sengaja mereka menabrak Sasuke yang baru saja ke luar dari ruang perpustakaan.
"Kalian jangan berlarian." gumam Sasuke pada Ino dan Hinata.
"Ma..maafkan kami, Mr. Kami sedang terburu - buru." jawab Ino terlihat lelah dan tergesa - gesa. Setelah meminta maaf, Ino dan Hinata meninggalkan Sasuke yang terheran melihat ekspresi kedua siswinya.
"Tumben si dobe dango tidak bersama mereka." gumam Sasuke. Mendadak terbesit hal yang tak diinginkan. "Ja..jangan - jangan si dobe menghilang? Atau ia dibully lagi. Sial. Aku harus menyusul kedua gadis itu." ucap Sasuke. Ia menyerahkan buku yang tadi bawa kepada siswa lain yang kebetulan ada di dekatnya untuk disimpan kembali di perpustakaan.
Sasuke berhasil menyusul Ino dan Hinata yang tengah mencari sahabat mereka.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Di mana Naruto?" tanya Sasuke yang terlihat cemas.
"Di..dia menghilang dari setengah jam lalu." jelas Hinata yang tak kalah cemas pada Naruto.
"Apa?!" seru Sasuke. Ia kaget. Ternyata dugaannya benar. Insting seorang Uchiha patut dibanggakan.
"Kami sedang mencarinya, Mr. Dia tidak ada di mana - mana." tambah Ino.
"Damn it. Aku kecolongan lagi." gumam Sasuke ikut panik.
Ketiganya pun berpikir tempat mana yang belum mereka jelajahi. Tiba - tiba seorang siswa kelas 10 melewati mereka dan iseng bertanya.
"Maaf. Senpai dan sensei sedang apa? Seperti sedang mencari sesuatu." tanya siswa kelas 10 bername tag Konohamaru.
"Kami sedang mencari teman kami." jawab Ino yang sedikit kelelahan.
"Perempuan atau laki - laki?" tanya Konohamaru.
"Perempuan." jawab Hinata.
"Ng..rambutnya pirang dan ada dango di kepalanya." sahut Konohamaru yang terlihat seperti sedang berpikir.
"Kau melihatnya di mana?" tanya Sasuke tidak sabar.
"Tadi kalau tidak salah sekitar setengah jam lalu aku melihat dua siswi senior membawa dia ke arah gudang. Aku pikir mereka sedang belajar atau berlatih." jelas Konohamaru.
Tanpa pikir panjang ketiga orang berbeda gender dan status itu pun langsung pergi ke tempat yang adik kelas mereka katakan.
"Arigatou, Konohamaru!" ucap Ino dari jauh.
Konohamaru tersenyum dan meneruskan langkahnya yang entah ke mana tujuannya karena ia hanya berperan sebagai bintang tamu.
Ino, Hinata dan Sasuke pun sampai di depan gudang. Ino memanggil Naruto. Naruto pun menjawab. Gembok kunci gudang dibuka. Naruto ada di dalam gudang seperti yang Konohamaru katakan.
"Ino..Hinata.." gumam Naruto. Ia bersyukur karena bisa ke luar dari ruangan yang pengap itu.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Ino. "Tanganmu kok bentol - bentol?" Ino bertanya kembali.
"Aku kena bulunya ulat bulu. Hehe." jawab Naruto tertawa.
"Kau masih bisa tertawa setelah dikurung di gudang." gumam Sasuke. Ia merasa lega telah menemukan Naruto yang tak terluka meski penuh bentol di area tangannya.
"Masa harus nangis? Cuma dikurung dan ditemani sama kecoak, cacing dan ulat bulu? Aku bukan gadis manja, Mr" sambung Naruto. Ia merasa senang ada Sasuke juga yang datang menolongnya. Ia tersenyum samar.
"Kalau begitu, ayo pergi. Kita harus ke uks mengobati bentolmu." ajak Ino.
"Ya." angguk Naruto. "Sekarang jam berapa?" tanya Naruto.
"Udah waktunya istirahat jam makan siang." jawab Hinata.
"Pantas aku sudah lapar." ujar Naruto sebari memegangi perutnya yang minta diisi. "Oh ya. Apa kalian sudah makan siang, Ino, Hinata?"
"Belum. Kami langsung ke luar kelas mencarimu. Jadi tidak sempat makan." jawab Ino mewakilkan Hinata.
"Ya sudah. Kalian makan saja duluan. Setelah dari ruang uks, aku akan ke kelas untuk makan." ujar Naruto. Ia tidak tega kedua temannya belum makan karena mencarinya.
"Tapi kamu bagaimana?" bantah Hinata.
"Aku.." jawab Naruto yang belum selesai menjawab malah dipotong oleh guru ayamnya.
"Kalian makan saja di kelas. Biar teman sekelas kalian saja yang mengantarkan bekal Naruto. Bilang saja aku yang menyuruhnya." sambung Sasuke.
"Tapi, Mr..." tolak Naruto.
"Ok. Ayo, Hinata!" ajak Ino sebari menarik tangan Hinata. "Sampai bertemu di kelas. Ja.."
Hinata dan Ino meninggalkan Naruto dan Sasuke di dalam ruang uks.
Kini hanya ada Naruto dan Sasuke di ruang uks. Naruto segera mengambil salep di kotak p3k untuk mengobati rasa gatalnya. Salep yang ia ambil ia olesi pada bagian tangannya yang bentol - bentol. Ia tertawa merasa konyol dengan apa yang ia rasakan. Lucu dan menggelikan dengan tingkah kedua seniornya yang membullynya karena masalah pria.
Sasuke tampak sedang memainkan ponsel pintarnya. Padahal sebenarnya ia sedang mencuri pandang pada siswi cantiknya itu. Posisinya agak jauh karena Naruto duduk di atas ranjang uks sedangkan ia berdiri di dekat pintu uks.
Ketika keduanya tengah sibuk dengan aktivitas masing - masing, Shikamaru datang sebari membawa kotak bekal Naruto yang mengagetkan keduanya.
"Kalian sedang apa? Seperti pasangan yang sedang bertengkar saja." gumam Shikamaru. Ia menyerahkan kotak bekal pada Naruto.
"Pasangan?" beo Naruto dengan polosnya. Sebelum ia menerima kotak bekalnya, tangannya dicekal oleh sang guru.
"Apa kau sudah cuci tangan? Tanganmu kan bekas salep." gumam Sasuke dengan sehitam rambutnya ia merebut kotak bekal Naruto yang hendak ia ambil.
"Sudahlah. Jadi, tolong berikan padaku, Mr." balas Naruto. "Aku sudah sangat lapar."
"Kalian memang pasangan yang merepotkan. Aku pergi dulu." ucap Shikamaru. Ia menggelengkan kepalanya ketika melihat sepasang sejoli yang sedang saling menatap tajam. Yang satu orang super tidak peka dan yang satu orang lagi hanya memberi kode saja. Memangnya pramuka yang saling memberi kode dalam berpesan. Ia pun melangkah ke luar dari ruang uks.
"Biar aku yang suapkan." ucap Sasuke tanpa merasa malu dan canggung ia membuka kotak bekal makan milik siswinya.
"Eh? Apa yang Mr katakan? Aku bisa makan sendiri. Aku bukan pacar dan adik perempuan Mr." tolak Naruto. Wajahnya sempurna merona merah.
"Kau memang bukan adik perempuanku tapi kau siswiku dan calon pacarku." balas Sasuke tanpa ekspresi.
"Ca..calon pacar?" beo Naruto.
"Ya. Aku mau kau jadi pacarku." jelas Sasuke masih datar dan dingin.
"A..aku..aku mau." jawab Naruto.
Lalu keduanya berciuman dan..berakhirnya ciuman manis itu oleh seruan dari sang siswi tercintanya.
"Mr..mr..mr..teme..sensei!!" seru Naruto yang sedang duduk di atas ranjang sambil memegangi dua kotak bekal.
Sasuke tersadar. Ternyata tadi hanya mimpi dan khayalannya saja. Buktinya posisi dia dengan siswinya masih sama. Masih jauh dan berarti ia juga belum menjadi kekasih dari siswi manisnya itu.
__ADS_1
'Zannen desu ne. Yume da na. Haah..' batin Sasuke. Yang tadi hanya mimpi tapi mimpi itu pasti akan jadi kenyataan.
"Hn." gumam Sasuke.
"Ano..kaasan tadi titip bekal untuk Mr. Kaasan memasak terlalu banyak jadi..daripada dibuang ya..untuk Mr saja. Itu juga kalau Mr mau." ujar Naruto. Ia sudah membuka bekalnya.
Sasuke melangkah menghampiri Naruto. "Mana mungkin aku menolak makanan pemberian dari calon ibu mertua." ucap Sasuke yang terdengar pelan di akhir ucapannya.
"Hm?" beo Naruto. Ia bertanya apa yang baru saja gurunya itu katakan.
"Makan saja. Sebentar lagi bel masuk berbunyi." ujar Sasuke terdengar seperti perintah. Naruto menurut saja karena ia memang lapar.
"Naruto, siapa yang mengurungmu? Apa kedua siswi senior kelas 12?" tanya Sasuke. Ia telah menghabiskan bekal makan pemberian calon ibu mertuanya.
Naruto diam tidak menjawab. Ia bingung harus menjawab apa. Karena kedua senior yang membullynya meski telah dihukum tapi tetap saja Naruto dibully. Padahal Naruto tidak berbuat apa - apa. Hanya dekat dengan wali kelasnya. Ya itu jawabannya. Ia juga ingin menjauh dari sosok guru muda itu tapi tugasnya sebagai seorang asisten guru bahasa Inggris membuatnya tak bisa kabur dari Mr. Sasuke. Tak ia pungkiri kalau ia sangat nyaman berada di dekat sang guru tapi ia tepis perasaannya. Ia tak akan mau mengakui perasaannya.
"Ternyata memang mereka. Mereka harus dihukum. Benar - benar kejam. Dasar nenek sihir. Aku rasanya ingin menggunduli rambut panjang mereka. Atau ku kirim mereka ke dimensi lain." ucap Sasuke yang sangat panjang tak lupa seringai licik yang ia perlihatkan pada wajah tampannya.
Naruto sweatdrop mendengar perkataan terpanjang yang terucap dari mulut pedasnya. Dengan hanya membayangkan rambut panjang yang digunduli, ia seketika merinding ngeri. Ia pernah merasakan perasaan itu yang rambut panjangnya hampir digunting kalau sang guru tidak menolongnya.
"Ng..Mr. Aku ke kelas dulu. Nanti siang saya akan ke ruang guru menyelesaikan tugas yang tertunda." ucap Naruto. Ia sudah membereskan kotak bekal makan siangnya dan sang guru.
"Hn. Aku tunggu. Hati - hati, Naruto." balas Sasuke. Ia pun mengusap kepala Naruto dan menyentuh kedua dango di rambutnya. "Oh iya. Apa kedua dango di kepalamu bisa dimakan? Terlihat sangat manis." tambah Sasuke dengan senyum tampannya.
Muka Naruto merona merah, "ti..tidak bisa. Bukan makanan, Mr. Enak saja. Huh." ujar Naruto. Ia merasa gugup dan aneh seketika.
"Hn." gumam Sasuke. Mereka berdua pun berjalan berbeda arah. Naruto berjalan menuju ruang kelase sedangkan Sasuke berjalan menuju ruang lab Orochimaru - sensei sang guru biologi.
Brak. Suara pintu yang terbuka. Tampak beragam bahan percobaan yang berada di dalam tabung. Sasuke memandang jijik pada setiap bahan percobaan yang Orochimaru - sensei teliti.
"Wah..tidak biasanya seorang guru muda yang masih baru datang berkunjung ke tempatku. Ada apa gerangan wahai Uchiha Sasuke - san?" sapa Orochimaru yang nada bicaranya bak di zaman kerajaan.
"Aku membutuhkan bantuanmu, Orochimaru - sensei." jawab Sasuke to the point. Ia menyerahkan bungkusan plastik yang berisi beberapa ekor kecoak, cacing dan ulat bulu yang ia bawa dari tempat siswi tercintanya dikurung. Ia menaikkan sebelah alisnya. Bagaimana bisa seorang gadis memasukkan hewan - hewan menjijikan itu ke dalam plastik? Naruto memang selalu membuatnya terkejut dan terpukau. Semakin besar rasa sukanya pada gadis pirang dango itu.
"Kau dapat dari mana, Uchiha - sensei? Kedua gadis pirang dan merah itu tadi meminta mereka tapi tidak ku izinkan. Mungkin mereka mencurinya." ujar Orochimaru. Ia langsung mengambil apa yang Sasuke bawa.
"Ternyata memang mereka. Kalau begitu, apa kau bisa menyediakan hewan yang ada di dalam bungkusan ini sebanyak mungkin? Aku membutuhkannya." pinta Sasuke. Bukan meminta tapi menyuruh.
"Bisa saja. Tapi untuk apa? Dan juga itu tidak gratis." jawab Orochimaru.
"Untuk menghukum kedua iblis betina yang telah mengganggu dan menyakiti milik Uchiha. Oh iya, sekarang aku sedang tidak memegang uang banyak. Apa kau bisa melakukannya dengan tanpa pamrih?" tekan Sasuke pada guru biologi bersurai panjang itu.
"Jika untuk membuat kedua gadis itu jera, aku tidak keberatan meski tanpa dibayar juga." jawab Orochimaru. Ia juga ingin memberi pelajaran pada Sara dan Shion yang tidak sopan telah mencuri bahan percobaan miliknya.
"Ok. Aku akan meminta ketiga siswaku untuk menaruh hewan - hewan itu di tempat yang akan kedua iblis betina itu temui." gumam Sasuke. Ia pun mengirim pesan pada trio shinobi yang beranggotakan tiga siswa kelas 11 yakni Gaara, Sai dan Shikamaru.
'Kupastikan kalian akan menangis darah ketika menemukan hewan - hewan yang telah membuat dobe dangoku menderita. Surat peringatan ke 1 pun akan segera sampai pada orang tua kalian.' batin Sasuke. Ia berseringai licik.
'Ternyata adiknya lebih menyeramkan. Ku pikir Itachi sudah menyeramkan eh Sasuke malah lebih menakutkan dan lebih sadis. Untung saja dia bukan muridku.' batin Orochimaru.
Sepulang sekolah, Naruto melakukan aktivitasnya sebagi seorang asisten dari guru tampannya. Kini ia sudah mengakui bahwa Sasuke itu memang tampan dan jauh lebih tampan dari Toneri. Tapi ia masih menutup hatinya dan pura - pura tidak menyukai sang guru tampan tersebut.
Di tempat lain, kedua gadis berbeda surai sudah menyelesaikan hukuman mereka pada hari itu. Kini mereka telah bersiap - siap untuk pulang. Sara membuka lokernya lalu sesuatu yang tak ia sangka ada di dalam loker bersihnya itu.
"Kyaaa....!!" Sara berteriak takut dan jijik.
Shion yang mendengar jeritan dari teman sekelasnya hanya diam. Paling juga Sara mendapatkan surat cinta yang selalu membuatnya menjerit kesenangan. Tapi hal yang sama terjadi pada dirinya. Ia juga berteriak tak kalah kencang. Sekumpulan hewan menjijikan ada di dalam lokernya. Kecoak, cacing dan ulat bulu. Mereka merinding dan langsung berlarian ke luar meninggalkan loker mereka yang masih terbuka.
"Mereka takut sekali." gumam Sai memerhatikan Shion dan Sara dari balik loker lain.
"Tentu saja takut. Apa kau tidak geli?" sambung Gaara. Ia merasa geli melihat ulat bulu yang ada di dalam plastik yang sedang Sai pegang.
"Tidak." jawab Sai santai.
"Wali kelas kita mengerikan. Menyuruh kita untuk meletakkan hewan - hewan menjijikan itu ke dalam loker mereka." tambah Shikamaru.
"Naruto hebat ya jadi perempuan. Ia tidak menangis saat menghadapi hewan - hewan itu." gumam Gaara.
"Dia mah perempuan juga cuma cangkangnya saja." tambah Shikamaru.
Bletak. Sasuke menjitak kepala Shikamaru. Shikamaru mengaduh.
"Narutoku itu perempuan luar dalam." gumam Sasuke dengan tatapan tajamnya.
Ketiga muridnya yang merangkap sebagai anak buah dan agen Sasuke hanya bisa bersweatdrop dan mengendikkan bahu atas ucapan dan tindakan guru muda berambut pantat ayam itu.
"Cepat kita ke parkiran. Aku ingin tahu ekspresi mereka saat melihat kecoak dan ulat di atas mobil orang tua mereka." ucap Gaara. Ia juga senang mengisengi kedua seniornya.
Sasuke dan ketiga muridnya berjalan cepat menuju ruang parkiran. Dan apa yang mereka pikirkan tepat. Sara dan Shion tengah ketakutan saat ini. Bagaimana tidak? Di atas permukaan mobil mereka terdapat beberapa ekor kecoak, ulat bulu dan cacing. Sangat menjijikan dan menakutkan yang sontak membuat kedua gadis itu merinding ngeri dan menangis ditambah dengan selembar kertas yang bertuliskan "BARANG SIAPA YANG BERANI MENGGANGGU MILIK UCHIHA MAKA AKAN MENDAPAT HUKUMAN YANG LEBIH MENYAKITKAN".
Kedua gadis itu bergidik ngeri. Apalagi mereka sangat takut pada hewan - hewan itu.
Keempat pemuda yang melihat kejadian hanya bisa tertawa puas. Sasuke tidak tertawa keras. Ia mah jaga image. Seorang Uchiha tidak mungkin tertawa keras jadi ia hanya tersenyum sinis dan puas setelah menghukum kedua iblis pembuat gadisnya menderita. Namun satu kejutan lagi telah menunggu kedua gadis itu yakni kedatangan surat peringatan pertama pada kedua orang tua mereka.
"Kau sungguh kejam, Sasuke." gumam Kakashi yang tiba - tiba muncul.
"Hn. Aku akan kejam jika berhubungan dengan gadisku." balas Sasuke.
"Naruto belum menjadi pacarmu, Mr." sambung Sai.
"Kapan Mr menyatakan perasaanmu?" tanya Gaara.
"Nanti Naruto keburu diambil lelaki lain." tambah Shikamaru.
Sasuke diam. Ia membutuhkan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Naruto.
"Kalian tunggu saja kabar baik dariku. Dia pasti akan segera menjadi milikku." jelas Sasuke dengan penuh rasa percaya diri.
"Jangan lupa pj, Mr." ucap Gaara.
"Ok." balas Sasuke. "Aku ke ruang guru dulu. Kasihan gadisku sendirian. Aku tak mau ia kesepian karena aku tak ada bersamanya."
Sasuke pun melangkah meninggalkan keempat pria berbeda status.
'Sasuke aneh juga. Kalau Itachi melihatnya, sudah pasti ia akan tertawa dan mengejek adiknya.' batin Kakashi.
'Naruto bukan tidak peka hanya saja ia tidak mau mengakui perasaannya. Aku tahu karena kejadian di masa SMP telah membuatnya untuk menutup hatinya dan menyangkal perasaan sebenarnya.' batin Shikamaru.
'Tinggal bilang suka apa susahnya?' batin Sai.
'Naruto terlewat polos dan Mr Sasuke gengsinya tinggi. Mau dibawa ke mana hubungan mereka. Fuuh.' batin Gaara.
Mereka pun membuang nafas berat atas kelakuan sepasang guru dan murid yang ngakunya pintar tapi tidak pintar mengenai membaca perasaan dan ekspresi.
"Mendokusai na..." gumam empat pria itu.
Tbc
Yeah...chap 8 selesai. Padahal badan dan kepala thor lagi sakit sampai tidak masuk kerja. Husband sakit eh thor jadi ikut sakit. Tapi masih bisa ngetik cerita. Oh iya ada extra chap di bawah ini. Mohon dibaca meski chap yang ini rada panjang.
Extra chap 8
Kedua gadis berbeda surai, Sara dan Shion telah berada di kediaman masing - masing. Rasa lelah melanda mereka. Sara langsung masuk ke dalam rumah yang megah, mewah bak keraton Cirebon. Ia tak menjawab sapaan dari beberapa pelayan yang menyambut kedatangannya. Ia hanya ingin masuk ke dalam kamar dan tidur. Lelah rasanya. Namun nasib berkata lain. Kedua orang tuanya Sudah berkacak pinggang di depan pintu kamarnya.
"Mama, papa, sedang apa? Tumben sekali sudah pulang." ujar Sara. Ia hendak memeluk kedua orang tuanya namun kedua orang tuanya menepis tangannya malah mendorongnya ke lantai.
"Mama, papa, kenapa mendorong Sara ke lantai? Sakit jadinya." gumam Sara dengan sangat manja.
Sang ibu mengeluarkan selembar kertas bertuliskan surat peringatan kesatu.
"Jelaskan pada kami. Apa maksud surat ini? Apa yang telah kau lakukan di sekolah?!" seru ibunya Sara.
"I..itu.. Aku.." Sara tak mampu menjawab. Mulutnya terasa terkunci.
"Kau telah menyiksa siswi juniormu sebanyak 2 kali tanpa sebab. Siswi itu tidak pernah berbuat salah padamu bahkan tidak mengenalmu." ujar sang ibu.
"Kau telah mempermalukan kami, Sara!" seru ayahnya Sara dengan nada tinggi.
"Pa..papa..aku.." Sara ingin membela diri tapi ia tidak sanggup.
"Semua fasilitas kami tarik. Mulai besok kau berangkat ke sekolah dengan naik bus umum!" seru sang ibu.
"Ta..tapi.." bantah Sara.
"Tak ada penolakan! Dan awas saja kalau kau berniat untuk membalas dendam pada gadis itu!" seru ayah Sara yang tak kalah tegas.
"Kami tidak mau putri cantik berbuat jahat hanya karena merebutkan satu pria yang sudah jelas menolaknya." tambah sang ibu. Ia memeluk Sara dengan penuh kasih sayang. Menyesal telah mendorong putrinya ke lantai.
"Kami sangat menyayangimu, Sara." ucap sang ayah ikut memeluk Sara dan ibunya.
'Ini adalah pelukan yang selau ku inginkan dari kalian, mama, papa. Aku rela melakukan apapun asal kalian ada bersamaku.' batin Sara. Ia bersyukur karena kedua orang tuanya yang biasanya sibuk bisa pulang dan menemuinya meski harus kena marah kedua orang tuanya. Ya musibah membawa anugerah.
Di tempat Shion berada. Ia juga dimarahi oleh kedua orang tuanya ditambah oleh tunangannya. Siapa sangka Shion yang tergila - gila pada guru muda itu sudah bertunangan? Tunangannya juga tampan. Namanya Utakatta. Tampan, berpendidikan tinggi dan sangat menyayangi Shion. Wajahnya juga sekilas mirip dengan guru pujaannya. Meski Utakatta sudah berumur 25 tahun. Tiga tahun lebih tua dari Sasuke.
Utakatta memarahi Shion habis - habisan bahkan hendak memutuskan pertunangannya dengan Shion. Shion tak terima. Dengan sangat terpaksa Shion harus menuruti semua dan perintah Utakatta termasuk mencabut semua fasilitas pribadi, mobil Hal kartu kredit. Ia akan diantar jemput oleh tunangannya setiap hari.
Hukuman yang indah bukan? Naruto berjiwa dan berhati besar maka ia akan mendapatkan hadiah yang lebih manis dari mereka berdua. Kalau Sakura, ia masih dendam pada Naruto. Apalagi Naruto semakin dekat dengan pria incarannya. Ia bersumpah akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan perhatian dari guru muda tampan itu a.k.a Uchiha Sasuke.
Tamat
Maksudnya bersambung
__ADS_1