
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjam tanpa izin
Ide cerita asli thor yang terinspirasi dari pengalaman pribadi
Pair sasufemnaru
Genre cinta, guru, murid
Cerita abal - abal, gaje, OOC
Happy reading
Hari ini adalah hari Minggu yang berarti sang tokoh utama sedang libur sekolah. Si gadis pirang yang biasanya selalu berhairstyle ala kue dango kini rambutnya masih terurai karena ia baru selesai mencuci rambutnya.
"Rambutku tambah panjang saja. Sudah hampir betis nih. Kepanjangan gak sih?" tanya Naruto pada dirinya sendiri. Ia sedang menyisir rambutnya di depan cermin ditemani kipas angin yang menyala. Ia tidak mau mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut. Menurutnya pengering rambut akan membuat rambutnya panas, kering dan rusak. Rambut segalanya buat Naruto. Meski tidak pernah ke salon tapi ia selalu merawatnya dengan mencuci rambutnya secara teratur menggunakan sampo dan kondisioner.
"Selesai." ucap Naruto setelah mengutak - atik rambut panjangnya yang sudah berbentuk seperti kue dango di kedua sisi kepalanya.
"Hm..pake baju apa ya?" gumam Naruto. Ia memilih pakaian di dalam lemarinya. Hari ini ia ada kencan dengan Ino. Bukan kencan dan sang tokoh utama juga gadis normal yang suka sama pria berotot dan berwajah tampan meski terkadang ia dikatai lesbi tapi dia normal. Seorang otaku tapi masih level normal. Ino mengajaknya pergi ke toko buku. Naruto tidak mungkin menolak. Lagipula ia ingin membeli beberapa manga baru. Sekalian main dengan Ino.
"Ok. Aku sudah siap. Ponsel juga sudah kupegang. Dompet jangan sampai ketinggalan." gumam Naruto. Ia sudah siap untuk pergi. Ia hanya menggunakan pakaian sederhana tapi pas dengan tubuhnya yang mungil a.k.a pendek. Ia memakai kaos hitam lengan pendek dan rok kotak - kotak berwarna merah, hitam, putih dan kaos kaki panjang sepaha berwarna hitam yang terlebih terlihat seperti stoking. Ia memakai plat shoes berwarna cream susu. Tak lupa ia juga membawa sweater berwarna peach yang berbahan tidak terlalu tebal(author mohon maaf karena tidak terlalu bisa mendeskripsikan penampilan Naruto).
Naruto tidak memakai make up, hanya pelembab dan bedak bayi. Bibirnya juga tidak dipakaikan apa - apa. Ia tidak suka dandan yang penting rambutnya.
Setelah dirasa selesai dan telah siap segalanya, Naruto pun ke luar dari kamarnya. Ia memakai tas selempang warna hitam. Hari ini ia sedang ingin memakai segala sesuatu yang berwarna hitam dan merah.
"Kaasan, aku pergi dulu ya." ucap Naruto.
"Hati - hati ya, Naruto! Jangan pulang malam!" seru Kushina dari arah dapur.
"Ok, kaasan." jawab Naruto patuh.
Naruto pun berangkat. Ia dan Ino sudah membuat janji untuk bertemu di depan Konoha Trade Mall a.k.a KTM. Setelah memakan waktu selama 20 menit, Naruto pun tiba di halte dekat KTM. Ia sudah bisa melihat teman pirangnya, Ino yang memakai blouse ungu dan celana jeans putih di depan KTM. Ia pun segera berjalan menghampiri Ino.
"Maaf lama, Ino." ucap Naruto. Ia takut temannya menunggu lama.
"Tidak. Gaara juga ikut. Jadi aku tidak terlalu bosan menunggumu." jawab Ino.
"Gaara?" beo Naruto. Ia bingung. Bukannya mereka pergi hanya berdua. Tapi kenapa Gaara juga ikut.
"Gaara juga mau membeli buku." tambah Ino. Naruto mengangguk paham. Gaara muncul dari samping KTM.
"Yo. Naruto. Aku pikir kamu tidak jadi datang." ujar Gaara santai.
"Jadi dong. Oh iya. Kalau dipikir - pikir..aku seperti jadi orang ketiga di antara kalian. Kalian kencan kan? Tapi kenapa aku juga diajak?" gumam Naruto menepak bahu Ino.
"Orang ketiga? Setan dong." tambah Gaara mengejek Naruto.
"Ya...setan imut. Hehe." balas Naruto. Naruto tipe orang yang mau meladeni saat diejek orang lain. Ia lebih memilih diam. Hanya buang - buang tenaga, suara dan waktu kalau membalas ejekan orang dan juga tidak ada gunanya.
"Ayo masuk." ajak Ino. Ia pun menggandeng tangan Naruto layaknya sepasang kekasih.
"Sepertinya aku yang ganggu kalian." ejek Gaara.
"Ayo, Gaara." Ino juga menarik tangan Gaara. Gaara pasrah dengan segala tindakan Ino. Mereka teman SMP jadi sudah terbiasa bersama tapi hanya sebatas teman tidak lebih.
Mereka pun sampai di toko buku yang ada di dalam KTM. Naruto segera berjalan menuju tempat manga. Sedangkan Ino menyusulnya dari belakang. Gaara berjalan ke tempat buku mengenai teknologi informatika.
Naruto mengagumi tumpukan manga baru di depan matanya. Begitu banyak dan menggairahkan. Ingin hati membaca semua manga namun waktu tak mengizinkan. Isi dompetnya juga tak membiarkan si gadis pirang dango itu mengabulkan angan - angannya.
"Kamu dari tadi milih terus. Mau beli yang mana, Naruto?" tanya Ino. Ia sudah memegang sebuah novel yang akan ia beli namun Naruto masih bingung harus beli yang mana.
"Aku bingung, Ino. Baru dapat 3. Semuanya seru sih." gumam Naruto kecewa pada keadaan.
Ino menghela nafas berat. "Yang paling seru saja. Biasanya juga kamu beli yang genrenya romance atau gender bender." ujar Ino berusaha menolong Naruto dari kebingungan yang melanda dirinya.
Naruto berpikir sejenak. Kemudian ia mengambil sebuah manga di depan atasnya.
"Apa kau yakin?" tanya Ino. Ia tidak mau temannya menyesal setelah membeli apa yang sudah ia pilih.
"Ya. Aku yakin. Lagipula manga ini tidak ada di manga online." balas Naruto dengan keyakinan luar biasa.
"Ok. Ayo ke kasir. Gaara udah ke sana lebih dulu." ajak Ino.
Naruto menurut saja. Setelah dari toko buku mereka bertiga berjalan - jalan sebentar di area dalam KTM.
"Lapar nih. Makan yuk." ujar Naruto.
"Boleh. Tapi di mana?" tanya Ino.
"Aku tahu tempat makan yang enak, murah, meriah." tambah Gaara. Nada bicara dengan apa yang dibicarakan sangat berbeda.
"Di mana?" tanya Naruto dan Ino bersamaan.
"Di luar KTM. Tepatnya di pinggir jalan. Apa kalian tidak keberatan makan di tempat begitu." balas Gaara.
"Yang penting makan. Apalagi murah dan enak." tambah Naruto dengan semangat. Dia memang suka makan apalagi kalau harganya murah dan enak.
"Ok. Ayo, istri - istriku." ajak Gaara pada kedua gadis itu yang langsung dihadiahi tatapan elang yang hendak memangsa makanannya.
"Mana sudi jadi istrimu." balas Ino.
"Apalagi istri muda. Menjijikan." tambah Naruto.
Ketiganya pun tiba di kedai makan "mie ayam bakso shinobi". Tempatnya tidak terlalu kecil tapi tidak besar juga namanya juga kedai makan pinggir jalan.
Gaara memesan makanan, sementara kedua gadis pirang langsung duduk di tempat yang telah disediakan untuk pengunjung atau pembeli.
"Aku ke toilet dulu ya." ujar Ino.
Naruto asyik memainkan ponselnya. Tiba - tiba Gaara duduk di sebelah Naruto. "Hei, Naruto." gumam Gaara.
"Apa?" tanya Naruto cuek.
"Aku punya versi live action anime yang kau mau lho." jawab Gaara sebari mengutak atik ponselnya
"What? Sungguh?" tanya Naruto dengan penuh semangat. "Mau lihat dong.." pinta Naruto.
"Nih. Kirim ke hpmu. Di laptopku juga masih ada." balas Gaara menyerahkan ponselnya pada Naruto.
"Wah...keren..!" seru Naruto. "Aku kirim dulu ya. Besok bawa yang ada di laptopmu." ujar Naruto.
"Ok, bos." sahut Gaara seperti jawaban dari bosnya.
Gaara tak sengaja melihat sesosok pria muda yang masuk ke tempat mereka makan.
'Bukannya itu guru baru? U..Uchiha Sasuke. Ya guru bahasa Inggris yang baru. Sapa ah.' batin Gaara.
"Mr. Sasuke." panggil Gaara. Sasuke menoleh pada Gaara. Naruto masih sibuk dengan kedua ponsel yang sedang saling mengirim data jadi ia tidak menyadari adanya Sasuke.
Sasuke berpikir sejenak. Siapa yang memanggilnya? Dan juga ia dipanggil dengan sebutan "Mr". Berarti laki - laki berambut merah itu salah satu dari muridnya. Karena tidak enak, Sasuke berjalan menghampiri Gaara yang sedang duduk di samping Naruto layaknya orang yang sedang memadu kasih a.k.a pacaran.
"Silakan duduk, Mr. Sasuke." ujar Gaara dengan sopan dan ramah. Sasuke pun duduk di depan Naruto. Sasuke belum menyadari gadis yang ada di samping Gaara. Tak lama Ino datang dan langsung menyapa sang guru muda.
"Ah. Ada Mr. Selamat siang." sapa Ino dengan sopan. Sasuke hanya tersenyum seadanya. Ino berjalan menghampiri Gaara dan mencolek Naruto.
"Apa? Aku lagi ngirim film, Ino." gumam Naruto masih sibuk dengan dunianya.
"Pindah gih. Ini tempat dudukku. Kamu kan tadi duduk di seberang Gaara atau..kamu lagi pedekate sama Gaara ya.." ujar Ino mengejek Naruto.
Naruto langsung berdiri dan menyerahkan ponsel milik Gaara pada si empunya. "Thanks, Gaara. Besok jangan lupa ya. Yang full versi live actionnya. Jangan lupa." ucap Naruto sebari berjalan ke tempat duduknya semula yang sekarang ia duduk di samping Sasuke.
Naruto merasa ada sesuatu yang berbeda. Ino menginjak kaki Naruto.
"Sakit, Ino!" seru Naruto. Ino melirik ke arah kiri Naruto. Naruto mengerti arti lirikan mata Ino. Lalu..
"Ah..a..ada..Mi..Mr. Sasuke. Ma..maaf. Saya tidak tahu. Hehe. Selamat siang, Mr." ucap Naruto gelagapan, gugup dan wajahnya merah karena malu. Ia berdiri seraya memberi salam pada sang guru.
"Hn." gumam Sasuke singkat.
Naruto duduk kembali sebari mengumpat dalam hati. 'Guru ini bisa ngomong tapi kenapa cuma ngomong hn. Aneh.'
'Anak ini buta apa rabun. Aku segini besarnya tak terlihat. Gadis lain saja selalu memerhatikanku. Kenapa gadis ini malah cuek dan biasa saja? Apa benar si rambut dango sedang pedekate sama si rambut merah itu? Aku jadi penasaran.' batin Sasuke sedikit kesal.
Tak lama makanan pun datang. Naruto begitu bersemangat melihat semangkuk mie ayam plus baso, jamur dan pangsit.
"Sepertinya enak. Selamat makan." ucap Naruto setelah menuangkan saos, sambal dan kecap ke dalam makanannya.
"Naruto, jangan kepedesan. Nanti perutmu sakit lagi." gumam Ino terdengar seperti nasihat dari seorang ibu pada anaknya.
"Ok." sahut Naruto. Ia pun makan dengan lahapnya. Tak memedulikan di samping dan di depannya ada dua pemuda tampan yang diam - diam memerhatikan cara ia makan.
__ADS_1
'Naruto.. Naruto.. Apa ia tidak merasa kalau dari tadi Mr. Sasuke merhatiin dia?' batin Gaara. Ia melirik ke arah Sasuke yang sedang makan dengan santai.
'Gadis ini cuek sekali. Sama sekali tidak menjaga imagenya. Lucu dan unik.' pikir Sasuke. Ia tersenyum meski senyumannya tidak terlihat.
Suasana hening seketika. Naruto dan kedua temannya serta sang guru yang diundang untuk makan bersama mereka sedang serius dengan makanannya.
"Benar - benar enak. Pilihanmu tidak salah, Gaara." puji Naruto memberikan 2 jempol pada Gaara. Gaara membalas dengan tersenyum.
Sasuke masih tetap diam. Ia hendak berdiri meninggalkan mereka namun Gaara memanggilnya.
"Tunggu, Mr." panggil Gaara.
Sasuke berbalik. "Apa Mr. Sasuke tahu tentang asisten guru?" ujar Gaara. Sasuke tertarik saat mendengar kata asisten guru.
"Tidak. Memangnya itu apa?" tanya Sasuke yang duduk kembali. Tak sengaja rambut Naruto yang sangat panjang mengenai wajahnya.
"Ma..maaf, Mr. A..aku tidak sengaja." ucap Naruto. Ia sangat malu dan merasa bersalah pada Sasuke.
"Hn." jawab Sasuke. 'Rambutnya wangi sekali. Mungkin si dango kuning sudah keramas.' batin Sasuke mengagumi rambut pirang Naruto yang kelewat panjang yang tak sengaja menyentuh wajah tampannya.
"Makanya..potong tuh rambut. Kepanjangan." ejek Gaara.
"Ti dak a kan per nah. Mau ku panjangin kayak Rapunzel." balas Naruto memegangi rambutnya.
"Apa tidak kotor kalau sepanjang itu?" tanya Sasuke. Ketiga muridnya terdiam mendengar perkataan sang guru yang dari tadi hanya diam.
"Kepanjangan ya. Hm..segini saja ah. Udah cukup panjang dan gak repot." kata Naruto. Ia tersenyum senang dan bangga pada rambutnya. Seketika muka Sasuke merona.
'Ada kuncup bunga cinta nih. Tinggal nunggu kapan mekarnya. ' batin Ino memerhatikan ekspresi sang guru yang terlihat aneh.
Gaara pun kembali menanyakan mengenai asisten guru pada sang guru tampan itu. "Bagaimana, Mr? Apa anda sudah tahu?" tanya Gaara yang sontak membuat ekspresi Sasuke kembali ke semula, dingin bak patung es berjalan.
"Hn. Tidak." jawab Sasuke singkat.
"Asisten guru akan membantu anda menyelesaikan tugas - tugas ringan anda, seperti mengoreksi hasil ujian dan masih ada yang bisa dilakukan oleh murid yang menjadi seorang asisten guru." jelas Gaara. Komplit.
Sasuke mengangguk lalu bertanya, "apa ada kriteria untuk menjadi seorang asisten guru?"
"Ada. Cukup jadi murid terpintar dan mendapat nilai tertinggi di mata pelajaran yang guru itu ajarkan." jawab Gaara.
Sasuke paham. Kemudian ia melirik Naruto. Naruto mendadak bulu kuduknya merinding seperti sedang didekati mahluk halus.
'Kok merinding ya?' batin Naruto. Ia celingak celinguk. Takut ada penampakan. Ia tak sengaja menoleh ke arah Sasuke yang sedang memasang seringai sinisnya yang bagi Naruto sangat menyeramkan.
'Perasaanku tidak enak. Kenapa harus ketemu dan berurusan sama guru rambut ayam terus sih? Ia kan ganteng dan keren. Aku cuma gak mau kepincut sama dia dan patah hati lagi.' batin Naruto. Ia merasa sengsara.
'Kau akan semakin dekat denganku, dango kuning.' batin Sasuke bahagia.
"Tahun lalu kita jadi asisten TIK Kakashi sensei. Apa kau mau jadi asisten Kakashi sensei lagi?" tanya Gaara sontak raut muka Sasuke berubah masam.
"Hm..boleh juga. Kakashi sensei kan baik meski terkadang aneh juga. Tahun kemarin lumayan menyenangkan juga. Daftar lagi ah jadi asistennya. Hehe." jelas Naruto dengan perasaan bahagia.
"Aku juga mau jadi asisten Kakashi sensei lagi. Supaya bisa tambah pintar dan tambah dekat denganmu, Naruto - chan." sambung Gaara menggoda Naruto. Naruto cuek saja tak menanggapi ucapan Gaara. Gaara memang selalu menggoda dan bercanda padanya.
Sasuke tersedak ketika sedang minum.
"Mr tidak apa - apa?" tanya Naruto. Ia orangnya peduli pada orang lain. Jadi jangan salahkan Sasuke yang jadi timbul rasa akibat perhatian kecil itu.
"Hn. Tidak apa - apa." jawab Sasuke.
Naruto tersenyum. 'Jangan senyum terus, bodoh.' batin Ino. Ia menyadari apa yang sedang terjadi di hadapannya.
"Jangan memanggilku dengan Naruto - chan." gumam Naruto, juteknya ke luar.
Gaara tertawa. "Ok."
Ino dan Gaara bangun dari duduk mereka. Begitu pula dengan Naruto dan Sasuke yang duduknya berdampingan bak kedua mempelai yang duduk di pelaminan.
"Aku pulang dulu ya, Naruto." ujar Ino. Ia sudah membayar makanan yang tadi mereka makan. Bukan mentraktir tapi mereka membayar makanan mereka dengan uang masing - masing. Tadinya Sasuke mau mentraktir mereka tapi karena ia belum mendapat gajinya sebagai guru dan uang bulanan sebagai asisten sang kakak yang belum dibayar jadi ia tidak bisa mentraktir ketiga muridnya.
"Ya. Aku juga mau pulang. Sampai besok. Gaara, besok jangan lupa!" ujar Naruto.
"Ok, sayang." jawab Gaara yang hobinya mengejek Naruto.
"Sayang sayang. Dasar!" sahut Naruto kesal. Kalau Sasuke, ia merasa kesal saat sang murid pirangnya dipanggil sayang oleh temannya.
"Daah.." Naruto melambaikan tangannya pada Ino dan Gaara. Ino dan Gaara pun terus berjalan ke arah halte bus dan naik bus karena bus tak lama datang ketika mereka tiba di halte.
Naruto menghela nafas. Ia juga harus pulang. Lelah sudah jalan - jalan. Perut juga kenyang.
"Tunggu dulu, Namikaze - san. Saya ingin meminta bantuanmu." ujar Sasuke dengan ekspresi tak terbaca. Tampak gugup dan aneh.
Naruto terdiam. Ia tidak mungkin tidak membantu Sasuke. Sasuke kan gurunya jadi ia dengan ikhlas membantu sang guru tampan itu.
"Iya. Memangnya apa yang bisa saya bantu, Mr?" tanya Naruto tersenyum tulus.
Sasuke terpesona dengan senyuman tulus yang Naruto berikan. Kalau Naruto tersenyum seperti itu secara terus menerus, lama - lama Sasuke bisa terkena diabetes. Senyum Naruto kan manis malah kelewat manis bagi Sasuke, pemuda tampan yang masih berstatus single, perjaka tong tong ed ting ting, yang sama sekali belum pernah mengenal cinta. Kalah sama anak SD zaman sekarang yang masih kelas 4 SD sudah manggil sayang, papa, ayah pada pacarnya. Padahal masih bocah.
"Ano..Mr. Mr. Sasuke? Uchiha sensei." panggil Naruto pada Sasuke yang di melamun.
"Hn." Sasuke sudah tersadar dari lamunannya.
"Apa yang bisa saya bantu, Mr?" tanya Naruto. Ia berusaha sabar setelah sang guru diam tak menjawab.
"Ng.." mendadak Sasuke jadi gugup. Naruto dengan sabar menunggu apa yang akan dikatakan oleh gurunya.
"Bantu aku membeli hadiah." jawab Sasuke dengan cepat.
"Hadiah? Untuk pacar Mr ya?" goda Naruto. Matanya berkedip pada Sasuke tanda menggoda.
"Bukan. Untuk ibuku." sahut Sasuke. Ia memalingkan wajahnya dari Naruto.
"Ooh. Ok. Saya akan bantu Mr. Serahkan pada Namikaze Naruto. Meski saya terkadang payah tapi bisa diandalkan juga. Hehehe." gumam Naruto bangga pada diri sendiri.
Sasuke tertawa saat mendengar ucapan Naruto yang terkesan bangga tapi menyindir dirinya sendiri. Naruto merasa aneh saat melihat guru tampan itu tertawa. Jantungnya berdetak lebih kencang. Ia terpesona pada Sasuke yang sedang tertawa. Ekspresi yang sangat alami dan hidup.
"Wah.. Mr tertawa." gumam Naruto senang.
Sasuke kembali terdiam. Baru saja ia tertawa pada perkataan Naruto. Ia sama sekali tak percaya pada dirinya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?
"Hn. Ayo. Kita cari hadiahnya." ajak Sasuke kepada murid pirangnya itu.
"Baik, Mr." balas Naruto patuh.
Sasuke dan Naruto pun memasuki KTM dan berkeliling mencari sesuatu yang cocok dan bagus untuk dijadikan hadiah untuk sang ibu namun mereka belum mendapatkannya.
Kini mereka tengah berdiri di luar KTM. Para gadis melirik ke arah Sasuke tapi Sasuke tak memedulikan perhatian para gadis itu. Naruto memaklumi reaksi para gadis saat melihat wali kelasnya yang masih muda. Naruto jadi penasaran, apakah gurunya sudah punya pacar apa belum? Masa pria setampan Uchiha Sasuke belum punya pacar? Pria di luaran sana yang tampangnya pas - pasan saja sudah menikah.
"Mr, kenapa tidak pergi dengan pacar Mr. saja?" tanya Naruto berusaha sesopan mungkin.
"Aku tidak punya pacar." jawab Sasuke cepat dengan nada datarnya.
"Oh." Naruto beroh ria. 'Tuh kan dia jones. Tampan tapi tidak laku. Padahal tiap hari para siswi pada teriak Mr. Sasuke tampan, kerenlah. Apa dia menyimpang ya? Hm. Bisa jadi.' batin Naruto.
"Oh iya, Mr. Kenapa Mr. tidak membelikan baju, perhiasan atau tas saja pada ibu Mr?" tanya Naruto memberikan saran pada sang guru.
"Ayah dan kakakku sudah memberikan itu semua." jawab Sasuke.
"Bagaimana kalau bunga? Bukan bunga palsu tapi bunga yang masih hidup yang ditanam di pot kecil. Sepertinya bagus." saran Naruto sebari membayangkan pohon bunga mawar yang banyak di taman bunga.
"Saranmu boleh juga, Namikaze. Kau pintar juga." puji Sasuke. Langka sekali baginya untuk memuji kehebatan orang lain.
"Saya tahu tempat menjual bunga hidup. Di sana harganya juga terjangkau." ujar Naruto yang benar - benar menusuk pada hati Sasuke. Sasuke sedang tidak punya uang banyak.
Mereka pun meninggalkan KTM dan menuju tempat yang Naruto sarankan. Tak lama mereka tiba di sebuah toko yang menjual tanaman hias.
"Selamat datang, neng. Mau nyari bunga apa ya?" sapa sekaligus tanya sang penjaga toko tanaman pada Naruto.
"Saya sedang mencari tanaman hias buat hadiah. Tanaman apa ya bang?" jawab dan tanya Naruto.
"Kalau boleh tahu, hadiah untuk siapa? Mungkin saya bisa membantu eneng cantik ini." ujar sang penjaga toko yang masih terlihat muda dan lumayan keren meski penampilannya sangat sederhana.
"Ah abang. Jangan bilang cantik. Itu untuk ibunya guru saya, bang." balas Naruto tersipu karena dibilang cantik.
'Cih. Genit sekali penjaga tokonya. Aku lebih tampan.' batin Sasuke tidak suka.
"Sepertinya saya tahu. Tunggu sebentar ya, neng." ucap sang penjaga toko.
Naruto berkeliling di sekitar toko tanaman itu. Sedangkan Sasuke hanya berdiri dan terlihat bosan. Sang penjaga toko membawa sebuah pohon bunga mawar putih yang tertanam di pot kecil. Terlihat cantik dan indah.
"Wah..indahnya.." gumam Naruto.
"Mr. Bagaimana kalau bunga ini? Bagus tidak?" tanya Naruto sebari memperlihatkan bunga yang di pot itu pada Sasuke.
__ADS_1
"Lumayan." jawab Sasuke singkat.
"Kenapa cuma lumayan? Apa ibu Mr. akan suka dengan bunga ini?" Naruto ragu pada pilihannya padahal Sasuke yang memintanya untuk memilihkan hadiah untuk ibunya.
"Ibuku akan menyukainya. Aku akan membeli bunga ini." ujar Sasuke. Ia merasa bersalah melihat ekspresi Naruto yang kecewa.
"Semoga beliau tidak kecewa." tambah Naruto. Ia tersenyum memandangi pohon bunga mawar yang sedang ia pegang.
Setelah membayar tanaman itu, Naruto dan Sasuke ke luar dari toko tanaman hias.
"Thanks ya, Namikaze - san. Kau sudah membantuku." ujar Sasuke.
"You're welcome, Mr." balas Naruto. Ia melihat ponselnya. "Saya pulang dulu ya, Mr. Sudah sore."
"Ah, biar ku antar kau pulang." gumam Sasuke cepat.
"Ti..tidak usah, Mr. Saya bisa naik bus kok. Lagipula..." tolak Naruto yang mendadak gugup.
"Kau sudah membantuku jadi anggap saja aku membalas budi." bujuk Sasuke.
"Maaf, Mr. Saya ikhlas menolong Mr. Kalau menolong tidak boleh mengharapkan balasan. Jadi Mr.tidak perlu mengantarkan saya pulang." tolak Naruto secara halus.
Sasuke merona. Baru kali ini ia bertemu gadis semenakjubkan itu. Sasuke jadi semakin ingin mengantarkan Naruto pulang. Modus dikit boleh kali.
"Aku akan mengantarmu pulang, Namikaze - san. Jangan menolak!" paksa Sasuke.
Naruto merasa takut dan kaget. "Ba..baik, Mr. Tapi..naik apa?"
Sasuke lupa kalau motornya masih ada di parkiran KTM dan helmnya juga 1. Dia harus membeli helm untuk Naruto pakai padahal sedang berhemat. Biarlah. Nanti minta sama Itachi saja yang penting sekarang ia beli helm dulu untuk Naruto.
"Naik motor tapi ada di parkiran KTM." jawab Sasuke datar.
"Eh? Harus ke sana dong? Saya naik bus saja, Mr." gumam Naruto.
"Tadi kau sudah mengiyakan. Harus konsisten dong." ujar Sasuke takut tidak jadi mengantarkan Naruto pulang.
"I..iya, Mr." balas Naruto pasrah. 'Maksa bener nih jadi guru. Kalau bukan guru, udah ku tinggalin gak pake pamit dan gak usah sopan juga. Haaah..sengsara nasibku.' batin Naruto nelangsa.
"Ayo ke KTM tapi kita beli helm dulu. Aku hanya bawa helm 1." ucap Sasuke berjalan di samping Naruto.
"Kenapa harus beli? Kan saya bisa naik bus.." Naruto belum sempat meneruskan perkataannya, Sasuke sudah memotong ucapannya.
"Kau tetap harus naik motor. Lagipula aku juga harus punya helm cadangan. Ayo." paksa Sasuke yang kelewat keras kepala dan egois. Naruto hanya bisa pasrah. Ia berjalan di belakang Sasuke sebari membawa sebuah pot berisi pohon bunga mawar putih yang masih kecil tapi sudah berbunga.
Tibalah mereka di toko helm. Mereka tidak lama berada di sana. Hanya membeli satu helm saja yang berwarna biru muda pilihan Naruto. Sasuke pikir Naruto akan memilih warna kuning atau oranye yang sama terang dengan rambutnya tapi ia memilih warna biru yang sama dengan warna matanya.
Sekarang mereka sudah berada di tempat parkiran motor di kawasan KTM. Sasuke sudah memakai helm dan siap mengendarai kuda besi kesayangannya itu. Namun Naruto masih diam. Ia bingung harus memakai helmnya. Kan tidak muat di kepalanya apalagi dengan gaya rambutnya yang diikat dua cepol kue dango. Dengan sangat terpaksa ia membuka jepit rambut dan ikatan yang ada pada rambut dango blondenya. Setelah terlepas, ia pasangkan helm biru itu pada kepalanya.
"Namikaze, apa kau sudah naik?" tanya Sasuke memastikan.
"Su..sudah, Mr." jawab Naruto gugup dan malu. Bagaimana tidak gugup? Ia dibonceng oleh seorang pemuda tampan, keren dan juga merangkap sebagai wali kelasnya.
"Pegangan!" seru Sasuke.
"Pegang bagian belakang?" beo Naruto.
"Pegang pinggangku." jawab Sasuke santai.
"Eh?" muka Naruto memerah karena malu. Ia baru kali ini dibonceng seorang pria selain ayahnya. Meski Kakashi sensei pernah memboncengnya tapi itu beda. Rasanya aneh dan gimana gitu. Akhirnya Naruto patuh pada perintah sang guru tampan.
'Gitu dong.' batin Sasuke puas.
Sasuke pun melajukan motornya. Naruto duduk dibonceng olehnya dengan perasaan aneh. Jantungnya berdebar begitu kencang. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
'Duh.. Kenapa perasaanku kayak gini? Anggap saja kalau Mr. Sasuke tuh Kakashi sensei atau guru lain. Tapi.. Mr. Sasuke beda.. Wanginya juga beda. Haaah..sadar dong, Naruto. Aku gak boleh sampai ada perasaan sama Mr. Sasuke. Tidak boleh!' batin Naruto.
Lain lagi dengan perasaan Sasuke yang sedang berbunga - bunga karena ia baru kali ini merasakan perasaan aneh itu. Ia sama sekali belum pernah membonceng seorang gadis kecuali sang ibu yang bukan gadis. Sasuke mana mau disentuh gadis lain. Ia malah dicap gay oleh orang - orang sekampus tempat ia kuliah dulu. Jadi sekarang Sasuke sedang menikmati perasaan yang aneh itu.
"Rumahmu di mana, Namikaze?" tanya sang guru dengan suara yang tak terdengar oleh Naruto karena terhalangi oleh helm yang Naruto pakai.
"Apa, Mr? Tidak kedengeran!" seru Naruto.
"Rumahmu di mana?!" seru Sasuke dengan keras.
"Di Jalan Jeruk no 12 blok b no 3." jawab Naruto dengan suara keras juga.
"Oh." Sasuke beroh ria. Masih jauh alamat rumahnya. Masih bisa berlama - lama membonceng anak didiknya.
"Sudah sampai, Mr." ucap Naruto yang sontak mengejutkan Sasuke yang sempat melamun. "Eh? Sudah sampai?" beo Sasuke. Ia menghentikan laju motornya perlahan.
"Ya. Itu rumah orang tuaku." tunjuk Naruto pada sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan tidak kecil namun sederhana dan terlihat indah dipenuhi pohon besar dan tanaman hias yang selalu ibunya rawat.
Naruto pun turun dari motor. Ia membuka helmnya perlahan lalu menyerahkan helm yang ia pakai pada sang guru.
"Ini helmnya. Arigatou, Mr." ucap Naruto tersenyum.
"Hn." gumam Sasuke. Ia menerima helmnya tiba - tiba Sasuke terpesona pada pemandangan langka di depannya yang baru pertama kali ia lihat seumur hidupnya.
"Kirei..da..na.." gumam Sasuke ketika melihat Naruto yang rambutnya diurai sepanjang lutut. Terlihat indah berwarna pirang keemasan. Sasuke sangat bersyukur bisa mengantarkan Naruto pulang. Tak sia - sia ia memaksa sang murid untuk diantarkan pulang olehnya.
"Ano.. Mr. Sasuke.." gumam Naruto heran sebari mengedipkan kedua matanya berulang - ulang yang terlihat imut dan manis bagi Sasuke.
"Ah..tidak. Kau masuklah. Jangan lupa tugas bahasa Inggris." sahut Sasuke memalingkan wajahnya yang merona karena gugup.
"Eh? Aku hampir saja lupa. Arigatou gozaimasu, Mr. Sudah mengantarkan saya pulang." ucap Naruto sebari menundukkan kepala.
"Hn. Sampai besok." balas Sasuke kemudian ia melajukan motornya dengan perasaan senang.
Naruto pun masuk ke dalam gerbang rumahnya.
Sasuke side
Sasuke sudah tiba di depan kediaman Uchiha dengan perasaan gembira. Sang kakak sulung a.k.a Itachi menyambutnya dengan memasang ekspresi aneh.
"Tak biasanya kau senyam senyum begitu. Kesambet jin apa?" ejek Itachi.
"Bukan urusanmu, baka niisan." balas Sasuke dingin. Ia berjalan melewati sang kakak.
"Wah..ada bau perempuan nih. Mencurigakan." gumam Itachi. Sasuke malah cuek tapi senyuman tak hilang dari wajah tampannya.
"Kaasan.. Anakmu sudah besar!" seru Itachi berlari sambil berteriak menuju ke tempat sang ibu yang berada di ruang keluarga bersama sang suami ibunya a.k.a ayahnya Itachi.
"Huh. Kayak anak TK saja lari - larian gak jelas." gumam Sasuke mengejek Itachi.
Ibunya Sasuke a.k.a Mikoto memeluk Sasuke dengan erat dan penuh kasih sayang.
"Kaasan pikir kamu tidak akan datang, Sasuke." gumam Mikoto yang merasa sangat senang.
"Aku pasti datang plus hadiah untuk ulang tahun kaasan. Happy birthday, kaasan. Semoga apa yang kaasan inginkan terkabul." ucap Sasuke sebari menyerahkan hadiah yang Naruto pilihkan untuk ibu tercintanya.
"Wah..indah sekali sayang! Pasti bukan kau yang memilih hadiah ini." ujar Mikoto menerima tanaman hias dari sang bungsu Uchiha.
"Memang bukan." jawab Sasuke dengan senyum khasnya.
Mikoto paham betul ekspresi sang anak. Sasuke belum pernah tersenyum seperti itu. "Rupanya apa yang kaasan inginkan akan segera terkabul."
"Memang apa keinginanmu, sayang?" tanya sang suami Mikoto a.k.a Fugaku sebari mencium pipi sang istri.
"Punya menantu." jawab Mikoto senang.
"Emh. Adegan mesra harap disensor. Ingatkah kedua putra kaasan dan tousan ini masih jomblo." ujar Itachi mengejek kedua orang tuanya.
"Sorry, niisan. Sebentar lagi aku tidak akan menjomblo." ucap Sasuke dengan bangga dan seringai sombong ala Uchiha.
"Cih. Aku juga lagi pedekate sama seorang gadis. Oh iya. Jangan bilang kalau kau naksir sama anak didikmu? Kau jadi pedofil lho." ejek Itachi tidak mau kalah.
"Dia sudah cukup umur. Meski tubuhnya kecil juga." balas Sasuke.
Fugaku dan Mikoto saling melempar senyum. Sebentar lagi mereka akan menimang cucu. Betapa senangnya.
Sementara itu di tempat lain, di dalam kamar yang bercat biru muda yang ditempeli poster anime dan live action sang tokoh idola, seorang gadis bersurai pirang yang panjangnya melewati pantat sedang berkutat dengan buku pelajarannya. Maksud hati di hari libur ingin membaca manga dan menonton anime kesukaan malah dirinya disibukkan oleh pekerjaan rumah dari guru yang beberapa jam tadi ia temui. Bertemu tanpa sengaja.
"Aaah..banyak sekali tugasnya. Tuh guru killer banget sih. Masih muda saja sudah killer apalagi kalau udah tua. Bisa jadi Adolf Hitler kedua. Aah..." gumam Naruto sebari mengacak - acak rambut pirangnya. Ia sudah lelah dan bosan mengerjakan tugas bahasa Inggris yang tersisa 5 soal lagi.
"Padahal dia lumayan tampan apalagi kalau tersenyum dan tertawa. Kyaa.. Tu..tunggu. Aku tidak boleh terpesona pada guru es itu. Lebih ganteng aktor favoritku, Ryuji Sato. Hehe." ucap Naruto yang tadinya mengagumi sang guru malah mengagumi idola kesukaannya. Otaku memang beda dengan orang normal.
Naruto terus mengumpat, mengeluh dan bicara tidak karuan seorang diri di dalam kamarnya.
"Beresin tugas dulu ah. Aku tidak mau besok dihukum sama guru pantat ayam itu. Mangaku juga belum dibaca. Nelangsa hari ini. Setiap ketemu guru ayam itu aku selalu kena sial. Aku harus jauh - jauh dari dia. Oh iya. Aku harus jadi asisten Kakashi sensei lagi. Dia kan baik dan suka traktir. Semoga aku kepilih lagi jadi asisten Kakashi sensei." ujar Naruto. Ia terus menyemangati dirinya sendiri supaya tugas bahasa Inggris cepat selesai. Tak sampai 5 menit tugasnya sudah selesai. Ia segera memasukkan semua buku pelajaran untuk hari esok. Ia tak mau dihukum. Seumur - umur Naruto itu belum pernah dihukum. Terlambat juga belum pernah. Selalu masuk peringkat lima besar. Terkesan pintar tapi terkadang ia tidak cukup pintar untuk membaca situasi malah Naruto itu terlalu baik pada teman - temannya. Meski Naruto diperlakukan buruk tapi ia tidak membalasnya. Ia hanya kesal dan terkadang merasa dendam tapi kalau ia diperlakukan baik, Naruto akan baik juga pada orang itu. Manusia tidak ada yang sempurna.
Matanya sudah 5 watt. Padahal baru satu manga yang Naruto baca tapi rasa kantuk telah menghinggapinya. Mau tak mau ia harus tidur. Ia pun menyimpan manga yang baru saja ia baca ke rak buku dan ia langsung naik ke tempat tidur. Seketika ia tertidur dengan pulas.
Di malam yang sama namun di tempat yang berbeda. Seorang pemuda bersurai raven dengan gaya rambut emo yang mengaku paling tampan se- SMA Konoha. Ia sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk besok ia bawa ke sekolah. Dia kan seorang guru muda. Ia terus teringat perkataan Gaara tentang asisten guru. Ia merasa mendapatkan kesempatan emas untuk bisa lebih dekat dengan sang anak didik calon pujaan hati. Ia tersenyum sendiri membayangkan hari esok yang pasti akan lebih menyenangkan bagi seorang Uchiha Sasuke yang hidupnya hanya belajar dan monoton.
__ADS_1
TBC