
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjam tanpa izin
Ide cerita asli milik thor
Jika ada kesamaan dengan ff lain itu di luar tanggung jawab thor
Pair sasufemnaru
Genre cinta, guru, murid
Sifat karakter beda dengan versi anime dan terkadang ooc
Typo bertebaran
Cerita gaje
Happy reading
Awal musim semi di kelas yang baru. Si gadis pirang yang masih betah dengan gaya rambut dangonya tengah memandangi bunga sakura yang bermekaran di dekat gedung Konoha High School. Hari ini ia telah naik kelas menjadi siswi kelas 12 ipa 1. Waktu terasa begitu cepat. Satu tahun yang dihiasi canda, tawa, gelisah, kesedihan dan kebahagiaan. Ia bersyukur pernah merasakan perasaan dan kejadian itu. Walau tahun ini akan sepi tapi Naruto akan tetap menjalani hari dengan penuh semangat dan ceria. Itulah prinsip hidupnya. Lagipula hidup harus terus berjalan. Perpisahan bukanlah segalanya. Ia harus merelakan perpisahannya dengan tunangannya, Uchiha Sasuke. Setahun lalu ia selalu bersamanya. Saling menempel layaknya magnet dan besi yang tak dapat terpisahkan.
Senyum terlukis di wajah gadis manis itu. Ia harus lebih dewasa dalam menyikapi segalanya apalagi keputusan dari sang terkasih untuk pergi meninggalkan tanah air tercinta guna menjadi sosok suami yang lebih layak bukan hanya sekedar guru SMA biasa. Naruto menerima keputusan itu. Ia juga ingin mengejar mimpi - mimpinya. Perbedaan jarak, ruang dan waktu tak akan bisa memisahkan dan menghilangkan rasa cinta mereka. Di zaman modern ini ia bisa menghubungi Sasuke via video call, chat atau apapun itu.
Beberapa kata yang harus ia tanamkan dalam hati yakni kesetiaan, saling percaya, berkomitmen, dan tetap bersabar. Berpisah untuk berjumpa. Doa selalu terpanjatkan untuk tunangannya nun jauh di negeri seberang. Naruto terkadang takut jika Sasuke nya tergoda oleh gadis lain. Begitu pula Sasuke. Namun keduanya sudah memiliki ikatan. Cincin bermatakan berlian sebagai tanda kepemilikan menjadikan kekuatan mereka untuk saling setia dan menjaga perasaan masing - masing.
"Ne, teme. Apa yang sedang kau lakukan di sana? Apa kau masih ingat pertama kali kita bertemu? Dulu kau hampir saja menabrakku. Padahal jalan masih luas," gumam Naruto berbicara sendiri. Ia tak henti memandangi pohon bunga sakura dan juga cincin tanda terikat dirinya dengan sang kekasih hati.
"Aku sangat merindukanmu. Kau juga pasti merindukanku kan? Walau baru satu bulan kita tidak bertemu tapi serasa satu tahun bagiku. Kau sungguh tega meninggalkanku di sini. Dasar," gumam Naruto. Ia terus mengenang masa lalu. Sebulan sebelum keberangkatan tunangannya ke luar negeri untuk mengurusi cabang perusahaan milik Uchiha yang baru.
Flashback on
Sebelum menghadapi ujian akhir semester, Sasuke mengajak tunangannya, Naruto untuk berjalan - jalan. Kencan. Hanya mereka berdua. Betapa bahagia hati gadis pirang itu karena kekasihnya mengajaknya kencan. Tidak biasanya Sasuke bersikap seperti itu. Padahal sebentar lagi ujian akhir semester.
"Apa aku salah mengajak pacarku eh bukan maksudku tunanganku kencan?" tanya Sasuke. Ia merasa dicurigai oleh Naruto.
"Nggak. Malah aku seneng. Sebelum ujian kan jadi senang - senang dulu. Biar pikiran dan otak encerku tambah fresh dan pintar. Hihi," jawab Naruto. Ia tersenyum lebar dan bahagia.
Sasuke mengusap kedua dango di kepala kekasih pirangnya. "Ayo. Kita naik semua wahana!" ajak Sasuke sebari menggandeng tangan Naruto. Naruto hanya mengangguk tapi raut bahagia tak bisa ia sembunyikan.
Selama bermain di taman hiburan, keduanya menikmati hampir semua wahana yang ada. Meski si gadis harus muntah setelah menaiki jet coaster. Awalnya Sasuke melarangnya untuk naik. Biar ia yang naik sendiri. Tentu saja Naruto tidak akan membiarkan tunangan tampannya duduk berpasangan dengan orang lain apalagi dengan gadis lain. Ia juga bisa merasakan cemburu. Selalu disangka adik bila berjalan bersama Sasuke. Tinggi badan mereka memang jauh. Tapi hal itu malah membuat Sasuke senang. Punya tunangan yang badannya pendek dan kecil seperti seorang loli. Sasuke memang lolicon. Begitu yang dipikirkan orang - orang saat melihat pasangan berbeda surai dan tinggi badan yang sangat jauh.
Tak terasa sudah seharian mereka bermain di taman bermain. Rasa lelah telah tergantikan dengan rasa bahagia yang luar biasa bagi keduanya.
"Besok ujian, dobe. Belajarlah yang rajiin! Ok!" perintah Sasuke. Ia mulai berperan sebagai guru.
"Ok, Mr. Aku akan belajar yang rajin dan meraih nilai tinggi. Hehe," jawab Naruto patuh. Ia memberi hormat kepada Sasuke.
"Bagus," ucap Sasuke. Kemudian ia mengecup dahi gadisnya. "Jangan telat tidur ya, sayang."
Wajah Naruto merona. "I..iya. Te..tentu saja." Naruto kembali gugup. Gadis manapun akan gugup bila dekat dengan Sasuke. Seorang pemuda tampan yang memiliki banyak fansgirl. Termasuk Naruto. Meski mereka telah berhubungan berbulan - bulan tapi tetap saja merasa gugup.
"Masuklah ke dalam. Maaf aku tidak bisa mampir. Salam pada kaa san dan tou sanmu," ujar Sasuke.
"Ok. Jaa, Sasuke - kun. Jangan ngasih soal yang susah - susah ya. Hihi!" seru Naruto. Ia membuka gerbang rumahnya lalu menutupnya kembali.
Sasuke tersenyum tipis melihat Naruto merasa bahagia dan tak terbebani ujian akhir semester besok.
Seminggu setelah ujian. Naruto berhasil mengikuti ujian dan mengerjakan semua bidang pelajaran. Nilai yang ia peroleh pun sesuai dengan jerih payahnya selama ini. Sasuke menggembleng Naruto setiap pulang sekolah. Mengajarinya di rumah gadisnya dengan keras. Jika jawabannya salah maka ia harus mengulangi dan menjawabnya ulang. Kencan di hari Minggu menjadi imbalan atas usaha keras gadis pirang itu. Bukan kencan biasa hanya menghadiri event yang selama ini Naruto inginkan yaitu menghadiri event anime.
Sungguh senang hati gadis itu. Berfoto bersama para cosplayer, membeli pernak pernik. Semua benda bernuansa anime. Namun hal yang lebih menyenangkan adalah bisa berkencan dengan tunangannya. Sasuke berbeda dari biasanya. Ia bersabar di kerumunan orang berbeda kostum demi menemani gadisnya. Yang penting Naruto senang. Itu sudah cukup membuatnya bahagia.
Kencan terus berlanjut hingga hari Minggu berikutnya. Naruto merasakan sesuatu yang janggal. Perasaan sensitifnya tiba - tiba muncul. Ada yang disembunyikan oleh pemuda tampan berambut emo itu dari si gadis pirangnya. Hal itu membuat Naruto bertanya - tanya. Apa yang sedang Sasuke sembunyikan? Naruto harus mencari tahu sendiri. Ia tidak mau tunangannya menyembunyikan sesuatu darinya. Karena itu ia berniat mengintrogasi pemuda ekor ayam itu di kencan berikutnya.
Hari Minggu ini adalah kencan mereka yang keempat. Entah mengapa kebahagiaan tidak terpancar dari raut wajah cantik gadis berdango itu. Ia tidak bersemangat untuk kencannya kali ini. Bukan karena bosan tapi sikap Sasuke yang sangat berbeda. Ia yang biasa dingin tapi malah suka tersenyum sendiri bak orang kurang waras yang memang sudah kehilangan akal.
"Aku heran. Si teme itu kenapa sih? Dari tadi ketawa sendiri sambil ngeliatin ponsel," gumam Naruto. Mereka sudah berada di kereta dalam perjalanan pulang dari luar kota yang cukup jauh sehingga mereka pulang malam.
"Hei, dobe. Kau benar - benar lucu. Haha," ujar Sasuke. Ia tertawa.
"Eh? Sasuke - kun tertawa?" Naruto terkejut melihat Sasuke tertawa. Meski Sasuke pernah tertawa.
"Emang kenapa? Tidak boleh?" tanya Sasuke heran.
"Boleh. Aku hanya heran saja. Seorang Uchiha Sasuke tertawa. Apa gak ke luar dari karakter aslimu? Uchiha yang tenang dan dingin," jawab Naruto. Sekarang ia yang menjadi dingin.
Sasuke yang duduk di hadapan Naruto segera menggenggam tangan gadisnya. Matanya memandanginya dengan dalam. "Terimakasih, Naruto. Kau sudah membuatku bahagia. Semua yang kau lakukan sangat menggemaskan," sahut Sasuke. Ia tersenyum tampan tepat di depan wajah gadisnya yang begitu dekat dengan wajahnya. Sehingga wajah keduanya merona.
"A..aku kan tidak melakukan apa - apa. Sasuke - kun yang mengajakku kencan dan pergi ke taman bunga di kota Kora Kora yang indah itu," balas Naruto. Ia jadi salah tingkah.
"Hanya ini yang bisa ku lakukan, dobe. Besok sepulang sekolah kita pulang bersama ya," gumam Sasuke.
"Tentu saja. Tiap hari juga pulang bersama," sahut Naruto.
Raut wajah Sasuke berubah. Menjadi datar dan serius. "Besok akan ku bicarakan semuanya," ujar Sasuke. Lalu ia mencium bibir Naruto. Ciuman biasa hanya menyalurkan rasa cintanya kepada gadis pirang itu.
Naruto hanya diam mematung. Ia menerima ciuman dari Sasuke. Namun pikirannya melayang. Memikirkan sesuatu yang akan terjadi. Yang akan dibicarakan tunangannya pastilah sangat penting dan juga bukan hal baik karena ia sudah cukup menerima perlakuan manis dengan berkencan.
Keesokan harinya, tepatnya sepulang sekolah. Naruto dan Sasuke sudah berada di kedai ramen. Makanan kesukaan si gadis pirang itu.
Setelah memakan dua porsi ramen pedas, Naruto mulai menanyakan hal yang akan Sasuke katakan. Sebenarnya semalaman ia memikirkan hal itu tapi ia harus bersabar untuk mendengar jawaban langsung dari tunangannya sendiri.
"Sa..Sasuke - kun. Apa yang ingin Sasuke - kun katakan? Pasti bukan hal baik kan?" tanya Naruto.
"Maafkan aku, Naruto. Ini sudah bulat. Aku sudah bertekad untuk melakukannya," jawab Sasuke. Ia tak memandangi gadisnya karena tidak mau Naruto sedih.
"Ja..jangan katakan kalau Sasuke - kun mau me..memutuskan hubungan kita kan?" tanya Naruto. Matanya mulai berkaca - kaca.
Pletak. Sasuke menjitak kepala Naruto. "Bukan itu, dobe!" Sasuke malah tertawa akibat kedobean tunangannya.
"Kalau bukan, lalu apa? Tapi jangan jitak kepalaku dong. Nanti aku jadi gak pintar lagi, gimana?" keluh Naruto sebari mengusap bekas jitakan gurunya.
Sasuke tersenyum. Ia meraih tangan kanan Naruto lalu menciumnya. "Maaf. Aku harus meninggalkanmu untuk sementara waktu, Naruto," ujar Sasuke. Ia tidak rela pergi jauh dari Naruto.
Naruto diam mematung. Mencerna kata - kata yang ke luar dari mulut kekasihnya. "Pergi meninggalkanku? Ke..kenapa? Apa Sasuke - kun udah bosan sama aku?" tanya Naruto. Ia mulai menangis.
Sasuke mengusap air mata Naruto dengan ibu jarinya. "Bukan begitu, sayang. Aku hanya pergi untuk beberapa tahun. Lagipula kamu kan masih sekolah dan juga ingin meraih mimpimu. Jadi aku memberimu kesempatan untuk menghabiskan masa muda sebelum menjadi milikku selamanya," jelas Sasuke.
"Ma..maksudmu, apa?" tanya Naruto. Ia sudah berhenti menangis. Namun tangannya masih digenggam oleh tunangannya.
"Belajarlah yang rajin. Raihlah mimpimu, Naruto. Karena aku pergi untuk bekerja dan mengurus perusahaan ayahku di Macau. Beberapa tahun lagi kita akan bertemu. Dan saat itu, aku akan melamarmu," jelas Sasuke. Ia tidak tega melihat gadisnya sedih.
"Ya. Aku akan belajar yang rajin. Jadi seseorang yang berguna, meraih mimpiku dan juga menjadi istri idaman untuk Sasuke - kun," tambah Naruto. Ia tersenyum menenangkan dirinya dan juga kekasihnya yang sepertinya sama galaunya dengannya. Tidak mungkin jika Sasuke tidak merasa galau juga. Naruto tahu perasaan Sasuke. Ia juga tidak akan tega meninggalkannya.
"Baiklah. Tunggu aku, Naruto. Dango dobeku yang manis. Aku akan menjadi seorang pria dan calon suami idaman untukmu yang akan membahagiakanmu lahir batin," ucap Sasuke. Ia tersenyum tenang. Lega rasanya setelah menceritakan semuanya kepada gadis belia itu.
"Ya aku akan tunggu tapi Sasuke - kun juga harus setia. Jangan cuma nyuruh menunggumu kalau Sasuke - kun gak bisa setia. Kan Sasuke - kun populer pasti banyak perempuan yang ngejar. Nanti aku ditinggalkan," kata Naruto. Ia tiba - tiba merajuk dan takut Sasuke tergoda oleh gadis lain.
Sasuke tersenyum. Ia senang dengan Naruto yang sedang cemburu. Poni di dahi Naruto ia singkirkan, tak lama dia kecup dahi gadis itu.
"Tenang saja, Naruto. Aku akan setia. Lagipula..kan ada cincin ini. Artinya aku sudah ada yang punya. Sama denganmu. Sasuke milik Naruto dan Naruto milik Sasuke. Benar kan?" Sasuke tersenyum.
Naruto menganggukan kepalanya dengan pelan. "Ya. Arigatou, Sasuke - kun. Sudah mau bertunangan denganku," kata Naruto. Ia tersenyum.
Lalu, keduanya meninggalkan kedai ramen setelah membayar ramen tiga porsi yang sudah mereka makan.
Menelusuri jalanan di menjelang matahari tenggelam merupakan hal menarik yang sedang mereka lakukan sore itu. Pemandangan langit senja sangat indah tuk mereka lewatkan.
Sasuke menghentikan motornya di pinggir jalan dekat pohon sakura yang belum mekar. Keduanya turun dari motor dan helm pun dibuka.
"Sebentar lagi bunga sakuranya mekar," gumam Naruto sebari memandangi pohon bunga sakura di depannya.
"Ya. Tapi aku tidak akan bisa melihatnya denganmu," tambah Sasuke. Ia berdiri di dekat kekasihnya. Memeluk Naruto dari belakang.
"Nanti kan juga bisa lihat. Meski bukan di tahun ini. Masih ada tahun depan, tahun depannya lagi, terus tahun depannya lagi juga bisa," balas Naruto dengan polosnya.
Sasuke tersenyum. Ia merasa sedih karena harus meninggalkan gadisnya yang lucu dan juga polos. Tapi ia melakukan hal itu demi Naruto pula.
"Maafkan aku, Naruto. Jangan sedih ya," ucap Sasuke. Ia membalikkan badan Naruto menjadi menghadap kepadanya.
"Kenapa Sasuke - kun minta maaf terus? Kalo sedih pasti sedih lah. Masa aku gak sedih si teme sensei kesayanganku mau pergi jauh. Huh," balas Naruto. Ia mengerucutkan bibir mungilnya menambah kesan manis pada wajah cantiknya.
Cup. Sasuke mencium bibir Naruto tanpa aba - aba. Semakin lama ciuman itu. Tempat yang sepi menjadi kesempatan emas baginya.
Naruto hampir kehabisan oksigen akibat ciuman panas yang kekasihnya berikan. Wajahnya merona. Setelah lepas dari lumatan panas penuh cinta dan nafsu, Naruto memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak mau Sasuke melihat wajahnya yang sudah merah seperti tomat. Bisa - bisa tunangannya yang super mesum itu malah melanjutkan aktivitas mesumnya itu.
Cup. Sasuke mencium bibir Naruto lagi. Naruto ingin kabur tapi ia juga senang dicium oleh tunangannya sendiri. Lagipula hanya dicium jadi tidak akan membuatnya hamil. Kalau dengan ciuman bisa membuatnya hamil, harusnya dari dulu ia sudah hamil. Dasar Naruto.
"Oh iya. Kapan Sasuke - kun berangkat?" tanya Naruto. Kali ini Sasuke hanya berdiri di sampingnya tanpa acara modus pegang - pegang tangan. "Bukan besok kan?"
"Besok? Yang benar saja, dobe? Tugasku masih banyak sebagai guru dan wali kelasmu, dobe!" jawab Sasuke sebari mencubit pipi tembem Naruto.
"Iih. Jangan cubit dong. Sakit, teme!" seru Naruto sebari menyentuh pipi bekas cubitan gemas dari kekasihnya. "Lalu kapan?"
"Hari Sabtu. Masih lama kan?"
"Ya. Masih ada waktu."
"Buat apa?"
"Ish. Ya buat apa saja. Pura - pura tidak tahu. Dasar teme sensei rambut ayam sok ganteng nan tinggi bak tiang listrik!"
Seketika tawa Sasuke pecah. Ia tertawa saat Naruto mengejeknya dengan julukan yang sangat panjang. Sangat langka ia diejek sedemikian rupa dengan julukan - julukan aneh itu.
"Apanya yang lucu sih?! Kau malah tertawa. Dasar teme sensei!" seru Naruto. Wajahnya malah merona. Ia malu.
"Kau sangat lucu, rubah kecilku. Untung kau sudah jadi tunanganku," ucap Sasuke. Ia membawa tubuh gadis pirang itu ke dalam pelukannya.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu saat di Macau nanti. Jadi besok sampai Jumat nanti, jadilah asistenku. Kan ku siksa dirimu dengan pekerjaan yang banyak untuk tetap selalu bisa dekat denganku," tambah Sasuke.
"Iya iya. Sasuke - kun harus merindukanku," balas Naruto. Ia mengecup pipi Sasuke. "Dan juga..aku bersedia kok jadi asisten Sasuke - kun dengan tumpukan kertas soal - soal bahasa Inggris yang sulit dan membuat kepalaku berasap," tambahnya.
Sasuke tersenyum dan kembali mencium bibir kekasih manisnya.
Dari hari Selasa sampai Jumat, pasangan sasunaru sama sekali tak terpisahkan. Pagi pergi sekolah bersama. Pulang pun bersama. Benar - benar lengket hingga teman - temannya bosan melihat kebersamaan mereka yang sangat berlebihan.
Sabtu pagi. Naruto sudah bersiap - siap untuk mengantarkan Sasuke ke bandara. Sasuke tidak mengizinkan Naruto untuk ikut mengantarkanntapi gadis pirang itu tetap pada pendiriannya. Ia ingin mengantarkan kepergian tunangannya. Meski harus menangis di bandara sekalipun Naruto tak peduli yang penting ia bisa ikut mengantarkan Sasuke ke bandara.
Benar saja. Gadis pirang berdango itu menangis tak kuat melihat tunangannya pergi. Sasuke hanya bisa menatapnya dengan sendu. Ia pergi demi kebaikan dan masa depan mereka juga. Hanya berpisah beberapa tahun tidak akan mengurangi perasaan cintanya pada gadis berdango itu. Lagipula masih bisa video call ataupun berkunjung meski hanya satu kali dalam satu tahun. Cinta butuh pengorbanan.
"Sa..suke - kun," lirih Naruto. Ia masih bersedih memandangi punggung tunangannya yang kian menjauh dan tak terlihat. "Cepatlah kembali. A..aku akan selalu setia menunggumu di kota ini," ucap Naruto. Mikoto pun memeluk calon menantunya dan menghiburnya.
"Sabarlah, Naruto - chan. Kalian pasti akan bertemu lagi," ujar Mikoto.
"Ibu benar. Aku hanya harus bersabar," jawab Naruto. Ia tersenyum kembali.
Flashback end
Naruto terus melamun sehingga ia tidak mendengar panggilan dari ketiga temannya yang sedari tadi memanggilnya.
"Naruto!!" seru Sakura dengan keras dekat dengan telinga Naruto
Barulah Naruto menoleh ke arah mereka. "Ya aku dengar. Jadi gak usah teriak - teriak!!" seru Naruto tak kalah keras. Ino dan Hinata tertawa melihat tingkah absud kedua sahabat bersurai terang mereka.
"Ayo masuk! Pelajaran pertama kan Orochimaru sensei. Kalo telat bisa dihukum!" ajak Hinata kepada ketiga temannya.
"Ih. Paling males deh dihukum sama guru bencong itu," balas Sakura. Mereka berjalan berdampingan.
"Emangnya Orochimaru sensei itu laki - laki apa perempuan?" tanya Naruto.
"Sekali lihat juga udah tahu kali. Dia itu laki - laki meski rambutnya panjang bak iklan sampo dan wajahnya.." jawab Ino berpikir sejenak.
"Wajahnya kayak iklan pemutih wajah. Haha!" sambung Sakura. Keempat gadis itu kembali tertawa setelah membicarakan guru mereka. Sungguh siswi yang doyan bergosip.
Naruto menoleh ke belakang, 'ne, teme. Cepat kembali ya. Aku pasti menunggumu di kota ini,' batin Naruto. Ia tersenyum.
Skip time di waktu istirahat.
Naruto dan ketiga temannya hendak pergi ke kantin namun di pintu ke luar kelas, mereka dihadang oleh tiga siswa junior.
"Ano..kami ingin bertemu dengan Namikaze - senpai," ucap salah satu dari siswa junior kelas x itu.
"Ya. Ada apa?" tanya Naruto. Ia berdiri tepat di depan ketiga siswa junior yang tinggi badannya di atasnya sehingga membuat gadis pirang itu mendongak ke atas.
"Wah..Namikaze - senpai memang imut ya!" ungkap siswa junior satu.
"Lebih manis dilihat dari dekat!" ujar satu temannya.
"Tolong! Terima surat cinta kami!" ungkap ketiga siswa itu bersamaan. Muka mereka merona.
"Hah?!" Bukan hanya Naruto yang terkejut tapi ketiga temannya juga. Ternyata para siswa junior itu sedang menyatakan perasaan mereka kepada Naruto.
"Aku?" tanya Naruto sebari menunjuk kepada dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. Para siswa kompak menganggukkan kepala mereka. "Bukan mereka? Haruno, Hyuga atau Yamanaka?" tunjuk Naruto kepada ketiga temannya. Ketiga siswa itu menggelengkan kepalanya atas tingkah lucu senior mereka.
Ino menepak jidatnya. Sakura dan Hinata saling lirik.
"Lalu? Bagaimana, Namikaze - senpai?" tanya ketiga siswa junior itu bersamaan.
Ino, Sakura dan Hinata menatap tajam kepada Naruto. "Jawab mereka, Naruto!" perintah Ino, mutlak membuat Naruto takut.
Naruto menarik nafas dalam. "Ma..maafkan aku. Aku sudah punya tunangan," ucap Naruto menundukkan kepalanya.
"Eh?!" ketiga pemuda itu terkejut.
"Bohong!" seru salah satu dari mereka.
Naruto menaikkan sebelah alisnya. Ia sudah berkata jujur.
"Namikaze - senpai masih jones. Karena hanya tiga teman senpai saja yang selalu bersama pasangan mereka," jawab salah satu dari siswa junior itu. Mereka tidak percaya dengan jawaban dari senior manis mereka.
"Apa? Aku juga punya pacar. Malah udah bertunangan. Nih tanda kepemilikanku," ucap Naruto sebari menunjukkan cincin pertunangannya dengan Sasuke setahun lalu.
"Itu beneran, senpai?" tanya salah satu siswa junior.
Naruto mengangguk dan tersenyum.
"Pupus sudah harapan kita. Video game kita pasti mereka sita ya," gumam siswa junior lain.
"Para senior memang menyebalkan. Kalo udah tahu Namikaze - san punya tunangan kan gak usah ngasih tantangan," sambung temannya. Ekspresi mereka berubah.
"Dasar para senior jahat. Mereka ngerjain kita buat nembak Namikaze - senpai. Tidak!!" seru siswa junior itu. Kecewa dan meratapi nasib.
Naruto mulai paham dengan situasi para siswa juniornya. Ia menyeringai sinis. Rupanya dirinya sudah dipermainkan oleh siswa seangkatannya dengan menantang kepada siswa junior untuk memberikan surat cinta.
Pletak. Pletak pletak. Gadis pirang itu gemas dan menjitak kepala ketiga siswa junior kelas x. "Cepat kembali ke kelas kalian!💢Gara - gara kalian, perutku sudah kelaparan. Ayo, Ino, Hinata, Sakura! Biarkan ketiga siswa idiot itu!" ajak Naruto. Ia marah dan kesal dengan tindakan ketiga siswa juniornya.
__ADS_1
"Wah..Namikaze - senpai sangat manis!" seru ketiga siswa junior itu. Tanpa Naruto ketahui bahwa siswa yang ia jitak tadi mulai mengagumi dan menyukainya. Malah mereka bertiga berniat membuat klub Naruto dango blonde fansclub.
"Untung Sasuke - san tidak ada," gumam Shikamaru menyaksikan kejadian tadi dari awal.
"Kalau dia ada, mungkin nasib ketiga siswa itu bakal lebih mengenaskan," sambung Gaara.
"Ya. Kau benar, Gaara. Lari keliling lapangan contohnya." Sai mengiyakan pendapat Gaara.
"Ah..sungguh membosankan," gumam Shikamaru. Ia mengantuk seperti biasa.
Sementara itu, di kantin Naruto dan kawan - kawan sedang bergosip.
"Hei, kalo Sasuke - san ada mungkin Naruto gak akan diganggu sama siswa - siswa itu," ujar Sakura. Ia menikmati salad makan siangnya.
"Sudah ah jangan ngebahas teme ayam itu. Aku lagi malas," sahut Naruto. Ia tampak kesal dan juga bosan.
"Sabar ya, Naruto. Bukannya dia pergi juga untukmu," gumam Ino.
"Ya. Ino benar. Aku hanya harus menunggu dengan sabar. Semoga dia juga bisa sabar di luar negeri sana dan tidak melirik gadis lain," sambung Naruto. Ia menghabiskan bakso ramen kesukaannya.
"Kami akan selalu ada untukmu, Naruto," ucap Hinata. Ia tersenyum sebari menepak bahu Naruto.
"Kami juga!" seru Ino dan Sakura.
"Arigatou, minna. Daisuki!" seru Naruto. Ia tersenyum senang atas perhatian ketiga sahabatnya.
"Jangan ngeyuri sama kita ya. Hehe," ucap Sakura. Ia tertawa.
Naruto tersenyum sinis. "Husband 2d masih banyak lho. Kan aku masih punya Kashuu Kyomitsu yang super ganteng. Hihi," ungkap gadis pirang berdango itu sebari tertawa.
"Kumat otakunya," gumam Ino, Sakura dan Hinata sweatdrop.
(Alur akan berjalan lebih cepat)
Satu tahun kemudian. Di hari kelulusan di Konoha High School. Naruto beserta teman - teman seangkatannya telah lulus. Naruto meraih nilai tertinggi dalam ujian nasional tingkat SMA. Ia bisa membuktikan tanpa bantuan dari guru muda itu ia masih bisa belajar dengan sangat baik. Bahkan mendapat nilai tertinggi di sekolahnya. Namun kebahagiaannya tak lengkap karena tidak ada sosok tercinta baginya. Sasuke. Pemuda yang menjadi tunangannya masih berada di luar negeri. Mereka hanya berhubungan melalui media sosial dan video call.
Sasuke tak pernah pulang selama satu tahun. Naruto sangat kesepian dan juga terkadang galau. Bukan terkadang lagi tapi ia selalu galau. Rasa rindu tak tertahankan. Itulah yang saat ini tengah ia rasakan.
"Huh! Teme ayam bodoh! Udah tunangan dia malah pergi! Dasar!" seru Naruto. Ia berdiri di depan pohon tempatnya selalu beristirahat makan siang bersama Sasuke.
"Tiap malam aku memimpikanmu. Aku ingin kau pulang meski itu hal mustahil. Tapi..bisa saja itu terjadi. Hehe," ucap Naruto. Ia meraba dahan pohon besar itu. "Aku sangat merindukanmu, Sasuke - kun," lirih Naruto. Matanya mulai berkaca - kaca.
"Aku juga merindukanmu," gumam seseorang yang berdiri di belakang Naruto.
"Tuh. Sekarang aku malah berhalusinasi. Seolah - olah aku mendengar si teme ayam itu ada di belakangku dan bicara padaku. Haha!" seru Naruto. Ia masih menyandarkan kepalanya di balik pohon tersebut.
"Aku bukan bagian dari halusinasimu, dobe."
Naruto tersenyum. "Ah..mungkin aku sudah tidak waras. Atau sedang bermimpi. Dia kan lagi di Macau. Mana mungkin ada di belakangku," sahut Naruto.
Pletak. "Ittai..sakit. Siapa sih?!" seru Naruto. Akhirnya ia membalikkan badannya dan menatap sosok dari sumber suara itu. "Ka..kau.."
"Aku kembali, dobe. Meski hanya sehari. Tapi.." ungkap Sasuke. Tersenyum.
Naruto langsung menerjang tubuh Sasuke hingga terjatuh ke atas rerumputan.
"Hei, dobe.." gumam Sasuke. Naruto menindihi badannya.
"Jahat! Sasuke - kun jahat! Jahat! Hiks hiks hiks." Naruto menangis di dada bidang tunangannya. Ia tak kuat menahan kerinduan yang mendalam kepada Sasuke.
"Naruto, jangan menangis," pinta Sasuke. Ia segera mengubah posisinya menjadi duduk sehingga Naruto kini ada di pangkuannya. "Cup cup. Jangan nangis lagi ya, dango. Aku kan sudah ada di sini." Sasuke mengusap kepala dango tunangannya.
"Iya. Hiks..hiks. Aku udah gak nangis lagi," gumam Naruto. Ia sudah berhenti menangis dan mengusap air matanya yang masih mengalir. "A..aku kangen. Kangen sama Sasuke - kun," ucap Naruto, manja. Ia memeluk Sasuke dengan erat.
Sasuke tersenyum. Naruto juga merindukannya. Ia pikir hanya dia saja yang merindukannya tetapi Naruto juga. Sungguh senang hati Sasuke. Ia membalas pelukan gadisnya dengan erat. Tak ingin melepaskan pelukannya karena hanya satu hari ia berada di Konoha. Menggunakan kesempatan libur seharinya sebaik mungkin dengan menghabiskannya bersama tunangan tercintanya.
"Maaf. Aku telah menyiksamu dengan rasa rindu," bisik Sasuke tepat di telinga Naruto. Naruto menggelengkan kepalanya lalu mereka pun menyatukan bibir dan berciuman di taman belakang sekolah. Tanpa mereka sadari enam pasang mata tengah menyaksikan adegan panas itu.
"Drama terus," ujar Shikamaru.
"Romantisnya.." ucap Hinata dengan mata berbinar - binar.
"Aku jadi iri," ucap Sakura.
"Apa Sakura - chan mau ku cium juga?" tanya Gaara tanpa ekspresi.
"Eh?" beo Sakura. Ia terkejut.
Sai tanpa berkata apa - apa ia langsung menarik tubuh Ino lalu meniru adegan romantis pasangan sasunaru itu. Wajah Ino merona karena terkejut dan juga malu.
Hari itu Naruto dan Sasuke bersama seharian penuh. Tak pernah terlepas dan terpisah. Hanya ke toilet saja mereka berpisah. Di mana ada Naruto di sana ada Sasuke. Efek menahan rindu setahun tapi bertemu hanya satu hari. Derita menjalin hubungan jarak jauh.
Empat tahun kemudian.
Saat ini pemeran utama di fanfic dango telah meraih cita - citanya. Ia sudah lulus kuliah dan menjadi penulis sekaligus desainer pakaian. Meski hanya sebagai asisten saja. Calon ibu mertuanya yang mengusulkan ide supaya Naruto menjadi desainer karena bakat terpendamnya saat Mikoto melihat calon menantu bungsunya mendesain gaun miliknya yang sangat cocok untuknya. Jadi tidak ada salahnya Naruto menjadi asisten Mikoto tanpa mengganggu jadwalnya sebagai penulis novel.
"Aaah..capeknya.." gumam Naruto. Ia duduk di tempat kerja pribadinya. Ia bekerja di rumah kedua orang tuanya. Masih tinggal bersama ayah dan ibunya.
Tok tok tok. "Naruto, kaa san masuk ya!" sahut Kushina.
"Masuk saja, kaa san," jawab Naruto.
Ckrek. Pintu terbuka. Tampak sesosok wanita paruh baya yang masih cantik meski usianya sudah tidak muda lagi.
"Naru, kaa san bawakan milk tea nih," ujar Kushina sebari meletakkan segelas milk tea di atas meja.
"Arigatou, kaa san. Naru selalu ngerepotin kaa san meski udah kerja juga," ungkap gadis pirang itu yang sudah tidak berdango. Rambutnya sudah tidak sepanjang dulu yang melewati pinggul. Sekarang rambutnya hanya sampai pinggang dengan gaya ponytail yang sangat sederhana namun tetap membuatnya manis.
"Kaa san tidak merasa direpotkan kok, Naru. Oh iya. Tadi ada yang mengirim surat," ujar Kushina. Ia menyerahkan surat tersebut kepada putrinya.
"Surat reuni? Reuni SMA? Wah..!" seru Naruto. Ia terkejut dan juga senang karena bisa bertemu dengan teman - teman SMA-nya.
"Bagaimana? Apa kau akan datang?" tanya Kushina.
"Tentu, kaa san. Lagipula acaranya diadakan di hari libur. Kebetulan kerjaan Naru juga tinggal sedikit lagi. Jadi aku harus datang," jawab Naruto. Ia tampak begitu senang.
Kushina tersenyum bahagia melihat putri satu - satunya merasa bahagia.
"Kalau begitu, kaa san ke luar dulu ya. Oh iya. Apa editormu akan datang?" tanya sang ibu.
"Editorku? Tenten? Dia tidak akan datang. Ada acara penting hari ini, kaa san. Besok dia akan datang," jelas Naruto. Ia meminum milk tea buatan ibunya.
"Oh." Kushina pun ke luar dari ruang kerja pribadi putrinya. Tak lupa pintunya juga ditutup kembali.
"Reuni ya? Udah hampir empat tahun kita gak kumpul lagi kayak dulu ya," gumam Naruto. Ia memandangi fotonya bersama dengan Ino, Sakura, dan Hinata. Di belakang mereka ada Sasuke. Naruto semakin merindukan tunangannya. Selama empat tahun ia belum bertemu dengan Sasuke. Hanya berhubungan via telepon dan video call.
"Dasar teme ayam geprek. Aku selalu merindukkannya. Haaa..seandainya dia ada di sini. Aku pasti sudah mencukur habis ekor ayam kebanggaannya itu. Hehe," ungkap Naruto. Ia tersenyum sendiri.
Tut tut tut. Ponsel Naruto berdering. Ada pesan masuk dari grup four princesses Konoha yang beranggotakan Naruto, Ino, Hinata dan Sakura. Naruto pun membuka pesan tersebut.
InoKirei
Naruto, udah dapat surat undangan reuni belum?
NaruCute
Udah
Memang kenapa, Ino?
SakuraPink
NaruCute
Belum
HinaDoll
Sudah kuduga
NaruCute
Wah..pada kumpul nih😮
InoKirei
Naruto, tahu gak reuni kita apa temanya?
NaruCute
Tema?
SakuraPink
Tuh kan
Si pirang pasti belum baca semua
HinaDoll
Tema kostum yang harus kita pakai, Naruto - chan
NaruCute
Ooh..
Terus?
InoKirei
Kiri belok kanan lurus belok kiri lalu belok kanan lagi lurus
NaruCute
Wah Ino jadi tukang parkir apa penunjuk arah setelah nikah sama si muka putih itu?
Haha😂😂
InoKirei
😣😤
HinaDoll
Sabar, Ino. Lagi hamil juga
NaruCute
Eh, ino hamil?
Selamat ya😊😊
InoKirei
Makasih
Heh, Naru!
Aku belum beres ngomong😠
NaruCute
Iya bumil
Naruto yang manis ini akan setia mendengarkan penjelasan dari Nyonya Shimura Ino😉
SakuraPink
Gara - gara jauh sama ekor ayam si rubah kuning jadi stres
Banyak amit - amit, Ino
InoKirei
Amit - amit
NaruCute
Lho?
Emang kalo anak Ino mirip aku kenapa?
Kan sama - sama pirang dan juga pintar
Haha😁😁
HinaDoll
Aku yang ngejelasinnya
NaruCute
👍
HinaDoll
Tema kostum reuni SMA kita tuh baju khas semua negara di dunia
Jadi kita harus pake baju khas negara tersebut
NaruCute
Oh
Aku ngerti
SakuraPink
Aku mau pake baju china look yang sexy😘
InoKirei
Aku pakai baju khas Korea saja
Hanbok
__ADS_1
Aku kan lagi hamil
HinaDoll
Kalo aku pake baju khas Yunani saja
NaruCute
Keren😍
Lah aku pakai kostum dari negara mana?
SakuraPink
Cari di internet
Kamu kan penulis😒
NaruCute
Haha😅😅
Iya juga
Mau browsing ah
Jaa minna..
Sesi percakapan via chat pun berakhir. Naruto segera menjelajahi dunia maya untuk mencari kostum yang pantas ia kenakan di acara reuni dua minggu mendatang.
"Hm..gak ada yang pas. Aku kan pendek. Masa pakai lolita lagi? Gak ah. Nyari yang lain lagi," gumam Naruto. Ia terus menjelajahi internet dengan ponsel pintarnya.
"Nah. Ketemu. Aku pake kostum ini aja ah. Hehe," ujar Naruto. Ia tersenyum sendiri setelah menemukan kostum yang cocok untuk dipakainya nanti.
Dua minggu kemudian. Di saat hari reuni SMA Konoha yang bertempat di aula serba guna milik keluarga Nara.
Semua lulusan satu angkatan dengan Naruto sudah berkumpul di tempat reuni. Namun Naruto belum datang. Ketiga temannya merasa cemas karena sahabat pirang mereka belum juga datang. Padahal ia berkata pasti datang di acara reuni itu.
Lima belas menit kemudian. Sebuah mobil berhenti dan terparkir di tempat parkir aula reuni. Seorang gadis ke luar dari mobil itu dengan mengenakan pakaian khas dari negeri bollywood yang bernama sari berwarna oranye muda dengan rambut diurai yang berhiaskan bando kepang dari rambutnya. Jepit bunga berwarna putih disematkan di sisi kiri rambut kepangnya. Sandal hak setinggi 10 cm tak membuatnya kesusahan dalam berjalan. Malah semakin anggun dan serasi dengan penampilannya. Wajahnya yang manis dihias make up tipis dan lipglos berwarna merah bibir. Benar - benar sempurna penampilan gadis pirang yang dulu selalu berdango itu.
Naruto, gadis yang memakai pakaian ala negara India berjalan dengan anggun setelah membayar taksi online yang mengantarkannya. Sebenarnya ayah Naruto menyuruhnya menggunakan mobil tapi Naruto menolak. Ia lebih memilih naik taksi online karena lebih mudah. Tidak usah memarkirkan mobil. Gadis pirang itu masih trauma karena hampir menabrak seseorang yang berdiri di belakang mobilnya saat hendak memarkirkan mobil. Untung saja ia tak menabraknya. Sejak saat itu Naruto tidak pernah membawa mobil lagi.
Gadis pirang itu terus melangkah dengan anggun memasuki aula serba guna yang sangat luas. Bisa menampung seluruh alumnus sekitar 100 orang lebih.
Semua mata memandang takjub terhadap gadis bersari itu. Tidak ada seorang pun yang menyapa Naruto. Ia pikir teman - temannya sudah melupakannya. Hinata yang mengenakan pakaian ala Negeri Yunani pun tak mengenalinya.
"Hinata, kamu cantik sekali!" seru Naruto. Mendadak semua peserta reuni menoleh ke arah Naruto dan Hinata.
"Na..Naruto?!" seru semua orang yang ada di dalam aula termasuk Hinata yang sedang berdiri di depannya.
"Ya? Ada apa? Kenapa kalian terkejut begitu?" beo Naruto. Ia tidak menyadari dengan keadaan teman - temannya. Terkejut saat melihatnya. "Apa penampilanku sangat aneh?" tanya Naruto. Ia memerhatikan sari yang ia pakai.
"Kau..kau sangat cantik!!" teriak Sakura. Ia berlari menuju Naruto lalu memeluknya dengan erat.
"Ah..se..sak, Sakura," gumam Naruto. Ia dipeluk Sakura terlalu erat.
"Gomen gomen. Habis kamu terlalu cantik sih. Pangling banget lho. Jadi lebih de wa sa!" seru Sakura mengagumi penampilan sahabatnya.
"Be..benarkah?" tanya Naruto. Wajahnya merona.
"Ya. Kamu sangat menawan, Naruto," ujar Hinata. Ia tersenyum.
Ino berjalan pelan - pelan menghampirinya karena ia sedang hamil anak Sai. Usia kandungannya sudah menginjak enam bulan. Sehingga ia harus berjalan secara perlahan apalagi dengan hanbok yang ia pakai.
"Ino!" seru Naruto. Ia memandangi sahabatnya yang juga memiliki surai pirang sepertinya. Perutnya membesar. "Wah..ada kehidupan lain di dalam perutmu, Ino. Selamat ya. Maaf karena aku baru bisa bertemu denganmu," ucap Naruto. Ia memeluk Ino kemudin mengusap perut Ino.
"Tak apa. Yang penting kamu sehat selalu," balas Ino. Ia bersyukur melihat sahabatnya dalam kondisi yang prima, sehat, ceria dan tetap bersemangat tapi yang berubah hanyalah penampilan Naruto semakin dewasa dan juga lebih cantik.
"Kamu tambah cantik, Naruto," ucap Ino. Ia tersenyum bahagia.
"Arigatou, Ino. Kamu juga cantik malah lebih cantik dengan perut buncitmu. Hehe," ejek Naruto.
Pletak. "Kau masih saja bisa mengejekku. Dasar. Oh iya. Kau mirip artis bollywood lho," ucap Ino.
"Benarkah? Hehe. Shah rukh khannya gak ada sih," balas Naruto. Perkataan Naruto semakin absurd.
Shikamaru dan Gaara berjalan menghampiri Naruto dan Ino. Shikamaru mengenakan pakaian ala Romawi sedangkan Gaara ia menjadi raja Firaun tapi tidak memakai hiasan di kepala merahnya. Kostum yang sangat menarik sehingga Naruto tertawa saat melihat penampilan mereka.
"Hahaha. Kalian sangat tampan, Gaara, Shikamaru! Haha!" Naruto terus tertawa. Mengejek kedua pria itu membuatnya senang.
"Kau juga sangat cantik, Naruto," ucap Gaara. Ia tersenyum. Tapi Naruto merinding mendengar pujian dari bersurai merah itu.
"Pacar kalian juga cantik. Kapan nyusul? Ino dan Sai aja udah nikah?" tanya Naruto. Ia menyikut lengan Gaara.
"Kau juga belum menikah," jawab Gaara. Naruto seketika diam dan ekspresi wajahnya berubah.
"Nanti juga menikah kalo si teme ayam itu pulang. Hehe," lirih Naruto. Ia tersenyum getir. Kata yang paling sensitif adalah kata menikah. Usianya baru 22 tahun. Bulan depan genap 23 tahun. Ia masih muda. Lagipula ia baru memulai karirnya. Bukan tidak ingin cepat menikah, tapi tunangannya belum kembali selama empat tahun. Seandainya Sasuke pulang dan melamarnya saat ini juga, ia akan menerima lamarannya dengan senang hati. Sepertinya hal itu hanyalah mimpi baginya.
"Aku ambil minum dulu ya. Haus sekali," ucap Naruto. Ia berjalan meninggalkan keenam temannya.
"Gaara, itu salahmu. Seharusnya kamu gak bilang nikah terus. Dasar," ujar Sakura. Ia memarahi tunangannya.
"Sorry, sayang," ucap Gaara sebari mencium telapak tangan kiri Sakura. Wajah Sakura merona.
Sementara itu, Naruto telah memenuhi rasa hausnya. Ia duduk di kursi yang sudah tersedia. Berjalan dengan sandal hak tinggi membuatnya kelelahan dan kakinya terasa pegal.
Tiba - tiba terdengar suara musik di atas panggung. Naruto menoleh ke atas panggung. Ia ingin tahu siapa yang mengisi acara. Apakah panitia reuni mengundang artis terkenal? Atau minimal artis lokal dari kota mereka sendiri.
"Lihat ah. Siapa tahu artisnya yang sering wara wiri di tv. Hihi," gumam Naruto. Ia pun duduk di kursi yang letaknya sangat dekat dengan panggung.
Sesosok pria berdiri dengan mengenakan pakaian ala negeri bollywood sejenis kurta atau sherwani(baju koko India) berwarnah hitam dan celana panjangnya juga berwarna senada. Selendang berwarna abu tersemat di leher dan menjuntai hingga bagian atas pahanya.
Mata Naruto terbelalak melihat sosok pria yang sedang berdiri di atas panggung. Ia tak asing dengan wajahnya meski tertutupi topeng.
'Apa hanya perasaanku saja ya? Kok pria itu gak seperti pria India. Kulitnya saja putih. Kebanyakan pria India kulitnya coklat dan gelap. Hn,' batin Naruto. Ia berpikir sejenak.
Musik mulai dilantunkan. Semua hadirin memusatkan perhatian mereka terhadap pria yang sedang berdiri di atas panggung.
Treng. Pria itu mulai bernyanyi.
Dengarkanlah
Wanita pujaanku
Malam ini akan
Kusampaikan
'Lho? Suara ini kan..suaranya..si ayam sialan itu,' batin Naruto. Ia terus memerhatikan pria yang sedang bernyanyi di atas panggung.
Hasrat suci
Kepadamu dewiku
Dengarkanlah
Kesungguhan ini
Aku ingin
Mempersuntingmu
Tuk yang pertama
Dan terakhir
Jangan kau tolak
Dan buatku hancur
Topeng yang pria itu pakai pun dibuka. Tampak sosok yang tak asing bagi semua alumnus terutama Naruto. Naruto mendadak berlinang air mata. Sang pria yang ternyata adalah tunangannya, Uchiha Sasuke tengah melantunkan lagu. Lagu yang sangat indah dan juga romantis.
Ku tak akan mengulang
Tuk meminta
Satu keyakinan
Hatiku ini
Akulah yang terbaik
Untukmu
Sasuke turun dari panggung lalu membawa Naruto untuk naik ke atas panggung.
Dengarkanlah
Wanita impianku
Malam ini akan
Kusampaikan
Janji suci satu
Untuk selamanya
Dengarkanlah
Kesungguhan ini
Aku ingin
Mempersuntingmu
Tuk yang pertama
Dan terakhir
Jangan kau tolak
Dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang
Tuk meminta
Satu keyakinan
Hatiku ini
Akulah yang terbaik
Untukmu
Jangan kau tolak
Dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang
Tuk meminta
Satu keyakinan
Hatiku ini
Akulah yang terbaik
Untukmu
Jangan kau tolak
Dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang
Tuk meminta
Satu keyakinan
Hatiku ini
Akulah yang terbaik
Untukmu
Akulah yang terbaik
Untukmu
Si gadis pirang itu terus mengeluarkan air mata. Ia terharu dengan sikap romantis dari tunangannya. Sasuke melamarnya melalui nyanyian di depab teman - temannya.
"Mujshe shaadi karogee, Naruto?" tanya Sasuke. Ia mengeluarkan sebuah kotak berbentuk hati berwarna merah yang berisi sebuah cincin emas bermatakan berlian.
"Bagaimana, Naruto?" tanya ulang Sasuke. "Will you marry me?"
"Yes, i will," jawab Naruto. "Tapi..aku gak bisa menjawab dalam bahasa India, Sasuke - kun," tambah Naruto. Mukanya sudah merah seperti kepiting rebus. Air matanya juga sudah tidak berlinang lagi.
Sasuke tersenyum. "Yang penting kau mau menikah denganku, dobe. Meskipun tidak mau, aku akan memaksamu untuk menikah denganku," ucap Sasuke. Ia segera memeluk Naruto dengan erat. Semua hadirin bertepuk tangan. Mereka terharu dengan keromantisan cara guru bahasa Inggris mereka dalam melamar tunangannya.
"Kyaa..sangat romantis. Aku jadi iri," gumam Sakura. Ia terharu.
"Apa aku juga harus menari ala film India untuk melamarmu, Sakura?" tanya Gaara. Ia tersenyum usil.
"Tidak. Kau tak pantas, Gaara," jawab Sakura. Ia geli jika harus melihat Gaara menari.
Sai dan Ino saling berpelukan. Mereka berdua turut bersuka cita atas kebahagiaan sahabatnya yang telah lama ditinggal sang terkasih.
Hinata dan Shikamaru? Mereka duduk di kursi tapi tangan mereka saling terpaut.
Akhirnya penantian Naruto terbayarkan. Pemuda yang ia cintai kembali kepadanya. Datang dan memberikan kejutan manis kepadanya. Gadis manapun yang mendapatkan kejutan seperti itu pasti tidak akan menolak. Apalagi sang pria yang notabene berhati dingin sebeku es batu. Naruto seorang gadis berhati baik, polos, dan apa adanya. Dengan kekuatan cintanya yang berbeda dari para gadis yang tergila - gila pada Sasuke membuat hatinya luluh dan mencair.
The End
__ADS_1