
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjam tanpa izin
Pair : sasufemnaru
Genre : guru, murid, cinta
Sifat semua karakter di ff ini berbeda dengan di anime
Terkadang ooc
Typo bertebaran
Cerita gaje
Happy reading
Seperti biasa, Naruto pergi ke sekolah dijemput oleh wali kelasnya yang merangkap sebagai kekasih dan ojek pribadi gratis. Pulang pergi mereka selalu bersama. Setelah Naruto menjalin hubungan khusus dengan wali kelasnya a.k.a Uchiha Sasuke, mereka selalu berangkat bersama. Naruto tidak pernah naik bus lagi.
Pagi ini, kedua sejoli beda status dan berbeda gender itu sudah tiba di tempat parkiran gedung Konoha High School. Naruto sudah turun dari motor. Ia sedang menata rambut twintailnya dengan menambahkan dango di kedua sisi kepalanya.
Tiba - tiba, sebuah mobil mewah melewati mereka. Parkir di dekat mereka berada. Tak lama, muncul sesosok mahluk bertubuh setinggi siswa SMA pada umumnya 172 cm. Tinggi Sasuke 180 cm. Lalu tinggi badan Naruto 155 cm. Tak terbayang betapa mungilnya badan gadis pirang itu jika berdiri di antara mereka.
Akasuna Sasori, siswa yang baru saja ke luar dari dalam mobil mewah itu. Rasa bangga dan angkuh tak luput dari ekspresi wajah rupawannya setiap hari. Dianugerahi paras tampan, otak cerdas, orang tua kaya dan digilai perempuan cantik. Sungguh pemuda beruntung di dunia ini bisa mendapatkan segalanya. Namun satu hal yang tak bisa ia dapatkan yaitu hati. Hati seorang gadis polos nan baik hati milik Naruto.
Berbagai cara telah ia lalui untuk memikat gadis pujaannya, tetapi hasilnya nihil. Ia bertekad menaklukan gadis itu. Walau harus dengan cara kotor. Baginya, tidak ada yang tak bisa ia dapatkan di dunia ini.
Sasori berjalan dengan angkuh mendekati Naruto yang baru selesai menata rambut dangonya. Naruto sudah terbiasa menata rambut dangonya di kamar mandi perempuan di sekolah bahkan di parkiran motor pun dengan hanya membawa cermin kecil.
"Ohayou gozaimasu, Naruto hime sama," sapa Sasori. Tersenyum tampan dan ramah.
Naruto juga tersenyum biasa membalas sapaan dari teman sekelasnya itu. "Ohayou mo, Sasori - san," balas Naruto.
Wali kelas muda a.ka. Sasuke tidak dianggap keberadaannya oleh si murid baru itu.
"Hm. Kalau mau pergi sekolah, aku bisa menjemputmu, Naruto. Daripada naik motor butut itu dan juga harus menata rambut di sekolah akibat pake helm," ujar Sasori masih dengan gaya dan senyum angkuh. Tak lupa jari telunjuknya mengarah tepat ke motor Sasuke.
Naruto ingin membalas perkataannya namun Sasuke mencegahnya. Ia malah memegang tangan siswinya dan berlalu meninggalkan Sasori.
"Damn it. Guru Uchiha itu semakin menyebalkan. Lihat saja siang nanti. Ku pastikan kau akan menangis darah akibat kekasih pirangmu berpaling padaku. Hahaha," gumam Sasori. Ia pun tertawa dengan sombongnya.
Naruto terus menggerutu selama perjalanan menuju ruang kelasnya. Ia selalu mengumpat tentang Sasori di belakang wali kelasnya.
"Daripada ngumpatin dia, kenapa kamu gak bilang kalo aku ini tampan? Hn," gumam Sasuke. Ia merasa kesal. Jangan - jangan gadisnya sudah menyukai siswa berkepala merah itu.
"Hah.." Naruto menghela nafas. "Mr sama saja. Narsis tingkat dewa," gumam Naruto. Bosan bertemu laki - laki tampan yang memiliki percaya diri yang tinggi dan lebih heran lagi dia menjadi kekasih dari salah satu pria tampan narsis itu.
Sasuke tersenyum meski hanya sekilas. Setiap pagi bersama dengan kekasihnya merupakan hal yang paling membahagiakan. Dirinya telah menjadi budak cinta hanya karena telah mengenal siswinya yang polos, imut, manis dan unik. Ia tidak akan membiarkan siapapun merebut siswinya.
🍅🍈🍅🍈🍅🍈🍅🍈🍅🍈🍅🍈🍅
Waktu istirahat telah tiba. Saat - saat yang paling dinanti oleh Shikamaru, Sai dan Gaara. Ino, Sakura dan Hinata juga demikian. Mereka sudah menyiapkan ponsel untuk merekam kejadian perkara. Bahkan akan ditayangkan secara live via instagram Ino.
Di tengah lapangan dengan cuaca yang cukup panas tapi tidak sepanas pada musim panas tentunya. Namun rasa panas itu dapat menghangatkan hati yang sedang membeku. Kecuali pikiran dan otak jenius si siswa baru berambut merah. Akasuna Sasori sedang berdiri di tengah lapangan dengan mengenakan setelan pakaian yang sangat aneh di luar seragamnya.
Sasori tanpa rasa malu mengenakan jubah yang terbuat dari karung goni yang ia pesan khusus dari tempat pembuatan karung. Topi jerami dengan berhiaskan lonceng kecil menggantung di bawah topi itu(mirip topi Luffy D. Monkey dalam One Piece). Sepatu yang dikenakan Sasori pun tak kalah aneh. Sepatu yang ia pakai adalah sepatu boots berwarna kuning yang biasa dipakai oleh para petani di sawah.
Ia pun duduk di atas permadani yang sengaja ia bawa dari rumah sebagai alas tempat duduk di atas lapangan yang berdebu. Semua murid yang sengaja dan tanpa sengaja melihat Sasori, mereka menghampirinya. Meski tidak mengenakan pakaian aneh, Sasori sudah menjadi pusat perhatian karena wajah tampannya. Jadi sekarang ia sudah menjadi pusat perhatian. Para siswa yang awalnya tidak tertarik pun malah menghampiri siswa bersurai merah itu.
Ino dan kawan - kawan sudah bersiap - siap di depan Sasori meski tidak berada terlalu dekat. Mereka tidak mau rencana mereka yang dibuat sematang mungkin gagal seketika.
Pihak kameramen a.k.a Ino, Hinata dan Sakura sudah disewa oleh Sasori sendiri. Sasori ingin rencana pernyataan cintanya berhasil. Lagipula strategi yang ia gunakan sudah ia siapkan semaksimal mungkin. Sehari semalam ia menghafalkan semua yang tertulis di atas kertas kuning itu tanpa terlewat satu huruf pun.
Sementara itu, kedua pasang sejoli yang tidak lain adalah Sasuke dan Naruto. Mereka sedang menikmati acara makan siang mereka dengan santai dan akrab. Namanya juga pasangan kekasih. Tapi tidak ada pihak sekolah yang melihat kegiatan intim mereka karena kawasan Konoha High School yang sangat luas jadi tidak semua sudut terlewati oleh guru atau murid lainnya.
Si siswi pirang mengeluarkan ponsel dari dalam saku roknya. Ia segera membuka aplikasi instagram yang baru - baru ini ia pasang dan ikuti. Tampak video yang sedang Ino bagikan.
"Lho? Ini sih secara langsung. Eh? Di lapangan sekolah ini?!" seru Naruto. Ia sangat terkejut.
"Ada apa, dobe?" tanya Sasuke. Pura - pura tidak tahu padahal ia dalang rencananya.
"Kita ke lapangan yuk!" ajak Naruto. Setelah membereskan sisa dan kotak bekal makan siangnya, ia segera bangkit dari duduknya.
Sasuke berjalan mengekori siswi pirang dangonya itu.
Di tempat Ino dan kawan - kawan berada, Sasori pun memulai ritual mendatangkan hujan ralat menjadikan Naruto sebagai kekasihnya. Dan kini Sasori melancarkan aksinya. Dengan duduk bersila ala pertapa yang sedang bersemedi di bukit, gunung dan goa.
Kata - kata aneh yang tak dimengerti murid lain mulai ia lontarkan. Ino yang sedang merekam pun menghentikan aktivitasnya sejenak. Dahinya mengkerut mendengar perkataan Sasori. Ia tak bisa menahan tawa. Sedangkan murid - murid yang menjadi penonton dadakan karena disajikan tontonan gratis yang sangat unik dan berbeda dari penampilan dan sikap sang artis membuat mereka tertawa. Para fg Sasori pun ikut tertawa meski sebelumnya mereka menahan tawa akibat tingkah konyol idola tampan mereka.
Bagaimana para murid tidak tertawa jika seorang murid tampan yang menjadi idola sekolah dan bisa menyaingi kepopuleran guru muda bahasa Inggris, Uchiha Sasuke, melakukan hal - hal tidak masuk akal.
Inilah yang sedang Sasori lakukan. Duduk bersila seraya bergumam, "one, two, three...start..!!" seru Sasori memulai aksi konyolnya. Lalu ia merapalkan kata - kata aneh. "Dung!" Sasori melemparkan sebuah botol minuman yang sudah kosong ke arah belakang. Lalu ia kembali melontarkan kata itu. "Hum bhala hum bala bala dung para para pom para pim pora pora gung." Sasori melempar bola kasti yang ia letakkan di dekat kakinya ke arah sebelah kiri. Para murid pun mulai menjauh.
"Kong chuk bolo bolo chak chak bu chat ka cha yan chi ki ruh ma pay chi sho cha ka bala bala bulu bulu," gumam Sasori. Ia juga melempar beberapa bola pingpong, bola tenis dan kelereng ke berbagai arah ke dekat para murid yang sedang berdiri dan berjongkok menyaksikan pertunjukkan anehnya.
Kemudian Sasori berdiri. Topi jeraminya berbunyi. Ia pum melempar bola basket ke belakangnya sambil merapalkan mantra lagi, "chin tora tora cha ya bim bhola bhola hap gung." Ia merapalkan mantra tersebut sebari melompat layaknya kelinci yang melompat ke sana ke mari dan menghasilkan suara lonceng yang cukup nyaring.
Suara tawa dari penonton semakin keras namun sang artis dadakan tak terganggu. Ia tetap melanjutkan ritual mencuri hati gadis pujaannya. Kali ini berjalan ala anak ayam sambil mengatakan kata - kata yang lebih bisa dimengerti orang lain yaitu ungkapan isi hatinya.
"Namikaze Naruto. Apa kau tahu? Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Rambut cepol pirangmu yang unik, mata birumu yang cantik. Senyumanmu yang manis. Oh. Aku tak berdaya. Aku selalu memikirkanmu setiap detik. Kan ku lakukan apapun untuk menjadikanmu sebagai milikku," ucap Sasori.
Semua murid terkejut. Ternyata aksi kocaknya hanya untuk menarik perhatian seorang gadis. Namun cara yang dilakukan Sasori sangat anti main stream. Para fgnya saja sudah merasa kecewa dan jijik melihat kelakuan aneh idolanya. Apalagi gadis itu. Hampir seluruh murid mengetahui bahwa gadis yang Sasori maksud sudah dekat dengan guru muda mereka tapi tanpa rasa takut, si murid baru malah menyatakan cinta pada gadis itu.
"Dia pasti mati," gumam seorang siswa.
"Mr. Sasuke kalo lihat ini, si kepala merah itu bakal digantung di tiang bendera," balas salah satu temannya.
"Tidak. Pasti lebih parah lagi," sambung temannya.
"Tak tahu malu," gumam seseorang.
Sasori pun berdiri dengan posisi siap. Sekarang ia melakukan gerakan kodok. Melompat seperti kodok yang pernah ia bedah. Lalu kembali ke posisi semula. Berdiri di tengah lapangan.
Sakura yang sedari tadi menahan tawa, berjalan menghampiri Sasori.
"Ano Sasori - san. Bagaimana kalau gadis yang saat ini kau sukai sudah punya...pacar?" tanya Sakura layaknya seorang wartawan yang sedang mewawancarai nara sumber.
Sasori berpikir sejenak. Ia menimang - nimang apa yang akan ia katakan. Ini adalah kesempatan emasnya. Ia yakin bahwa kali ini si gadis pirang pujaannya akan takluk kepadanya dan tergila - gila padanya.
"Tidak. Dia tidak punya pacar, Sakura - san," jawab Sasori dengan penuh percaya diri.
"Hm..kalau ia sudah punya pacar, apa yang akan kau lakukan?" tanya Sakura.
"Akan ku mutilasi dia. Hihi," jawab Sasori tersenyum iblis.
Semua murid merinding seketika. Sasori benar - benar kejam dan tipe pembunuh.
"Seram sekali, Sasori - san," tambah Sakura.
"Lagipula..Naruto tidak punya pacar. Sebentar lagi ia akan datang menghampiriku. Bertekuk lutut mengemis cintaku," balas Sasori penuh percaya diri.
Sedangkan dari balik kerumpunan murid yang menjadi penonton, Naruto sudah ingin menampar mulut murid baru itu. Wajah dan kelakuannya sangat tidak sesuai. Sasuke mencegah siswinya untuk tidak meluapkan emosinya. Rasa benci Naruto kepada Sasori begitu besar. Rencana Sasuke berhasil karena telah membuat gadisnya semakin membenci murid baru itu.
"Sasori - san, apa masih ada yang ingin kau katakan lagi?" tanya Sakura penasaran sebari menahan tawa.
"Masih ada satu mantra lagi," jawab Sasori sebari mengeluarkan secarik kertas berwarna kuning yang ia dapatkan dari peramal bernama Majorika.
"Wow. Sungguh aksi yang di luar dugaan. Ok. Semoga sukses, Sasori - san," ujar Sakura. Ia menahan tawannya. Pemuda ber - IQ tinggi dengan mudah ditipu. Sungguh menggelikan.
Sasori pun kembali beraksi. Aksi terakhir ini berbeda dengan aksi sebelumnya. Lebih tepatnya seperti hendak mengeluarkan jurus dan tenaga dalam. Ia melakukan kuda kuda, menarik nafas yang sangat dalam melalui mulutnya dan ke luar sesuatu dari bagian bawah tubuhnya.
Bruuuut. Si murid baru malah buang angin di akhir aksinya yang belum sempat ia lakukan. Sontak semua murid menutup hidung mereka masing - masing sambil tertawa mencemooh Sasori. Tingkahnya tidak seperti orang kaya. Ia telah menjatuhkan harga dirinya di depan orang banyak untuk meraih cintanya.
Wajahnya sudah mirip buah tomat yang minggu lalu ia berikan kepada Naruto. Rasa malu ia tahan karena ia sangat yakin jika aksi konyolnya akan membuahkah hasil yang manis semanis buah jeruk.
"Namikaze Naruto!! Aku mencintaimu!! Jadilah pacarku!!" seru Sasori. Ia berteriak hingga suaranya terdengar hingga jajaran penonton paling belakang.
Naruto dan Sasuke dapat mendengar suara Sasori dengan jelas. Semua murid menatap Naruto. Sungguh miris nasib murid baru itu telah bersaing dengan guru super tampan seperti Uchiha Sasuke.
'Apa?!' batin seseorang.
'Si murid baru itu benar - benar tidak waras,' batin murid lain.
'Rivalnya berat juga ya. Mau melawan Mr. Sasuke,' tambah seseorang lagi.
'Dia benar - benar mencari masalah,' batin murid lain.
"Kemarilah, Naruto! Katakan bahwa kai juga mencintaiku!" seru Sasori penuh percaya diri.
Sasuke mengangguk memberi perintah non verbal kepada siswi kesayangannya untuk menghampiri pemuda yang menjadi rivalnya. Naruto berjalan secara perlahan. Kini ia menjadi pusat perhatian seperti saat ia dibully oleh trio s beberapa bulan lalu.
Konohamaru, siswa kelas 10, junior Naruto memerhatikan seniornya yang pernah ia sukai. Ia tidak menyangka dengan insiden yang sedang terjadi. Konohamaru berpikir jika murid baru seniornya itu sudah mengguna - guna mantan gadis pujaannya. Ingin mencegah Naruto tapi Konohamaru mengurungkan niatnya. Ia yakin jika gurunya sekaligus kekasih seniornya memiliki rencana lain.
Naruto pun berdiri di hadapan Sasori tanpa ekspresi sedikit pun. Pesona kekasihnya sangat mempengaruhinya sehingga ia juga meniru ekspresi dari kekasih tampannya itu.
"Nah...sayangku..bagaimana? Kau pasti bersedia menjadi kekasihku. Hm?" tanya Sasori memastikan.
Naruto tersenyum manis. "Tentu saja, Sasori - san!" seru Naruto.
Sasori tersenyum bahagia. Semua murid atau penonton mendadak berekspresi seperti ikan mati. Mereka bertanya - tanya kenapa Naruto menerima pernyataan dari murid baru yang aneh, tidak sopan dan kelewat tidak waras. Mereka pun melirik ke arah Sasuke berdiri. Tidak ada respon apapun dari guru berambut ekor ayam itu. Seketika para murid beroh dalam hati mereka termasuk Ino dan kawan - kawan. Tiga pasang kekasih.
"Su..sungguh?" Sasori kembali bertanya. Ia hendak meraih sepasang tangan kuning langsat sang gadis yang telah jadi miliknya.
Naruto mengangguk dan tersenyum iblis. Kemudian. Plak. Pipi kanan Sasori memerah. Tercetak bekas telapak tangan Naruto menampar pipi putihnya. Sasuke tersenyum iblis melihat drama di depannya.
"A..apa yang telah kau lakukan, Naruto?!" tanya Sasori dengan nada tinggi dan terima setelah ditampar pleh gadis pujaannya.
"Menyadarkanmu dari tindakan dan khayalan tingkat dewamu itu, Sa so ri - san," jawab Naruto. Tak ada gadis pirang ceria saat itu. Hanya ada gadis pirang berdango yang merasa marah kepada pemuda di depannya.
"Hm." Sasori tetap tersenyum.
'Aku masih punya senjata pamungkas, Namikaze Naruto,' batin nista Sasori.
Sasori segera mengambil sebuah boneka berbentuk unik dan terbuat dari bahan unik yakni si kepala boneka terbuat dari batok kelapa dan badannya dari bambu. Ia menyerahkan boneka itu kepada Naruto. Sontak Naruto berteriak dan berlari. Ia sangat ketakutan ketika melihat boneka aneh itu yang disebut boneka jelangkung dari sebuah negara yang ada di kawasan Asia Tenggara.
Naruto terus berlari sampai di dekat wali kelasnya berada. Ia bersembunyi di belakang tubuh Sasuke yang lebih tinggi dan lebih besar darinya. Naruto sangat ketakutan. Ia tidak tahan dengan hal - hal dan benda - benda berbau horor.
Sasori terus mengejar Naruto. Ia pun berdiri di depan Sasuke. "Naruto, ayo sini. Aku yakin kalau kamu pasti berubah pikiran dan mau jadi pacarku," ucap Sasori. Ekspresi wajahnya sungguh menjijikan dan menyeramkan bagi gadis pirang yang sedang ketakutan itu.
__ADS_1
"Hentikan ulah konyolmu itu, Akasuna!" perintah Sasuke mutlak. Para murid saja sampai merinding mendengar perintah dari guru bermarga Uchiha itu. Tak lupa sorot mata hitam sang guru yang sangat menusuk membuat Sasuke semakin ditakuti dan disegani oleh murid - muridnya.
"Cih. Dasar guru pengganggu. Cepat serahkan Naruto padaku, Uchiha!" balas Sasori tak terima. Ia semakin menantang wali kelasnya.
"Apa katamu?" tanya Sasuke dingin dan datar. Ia menjaga Naruto dari kejaran Sasori.
Sasori menatap tajam kepada Sasuke.
"Karena ulahmu, muridku ketakutan. Apa itu yang dinamakan cinta? Masih bocah bau kencur saja sudah banyak tingkah. Akan ku panggil walimu, Akasuna. Tingkahmu sungguh mengecewakan dan mengganggu," ujar Sasuke. Ia berkata sangat panjang. Demi Naruto, berbicara panjang pun ia lakukan.
"Dasar guru sialan!" seru Sasori. Ia hampir memukul wali kelasnya namun sang guru bk, Ms. Tsunade berhasil mencegahnya.
"Cukup sampai di situ, Akasuna!" bentak Ms. Tsunade.
Sasori segera diam mematung. Para murid merasa takut. Padahal jika ada perkelahian antar guru dan murid memperebutkan seorang gadis akan seru namun perkelahian itu tidak akan terjadi bahkan mustahil terjadi setelah kedatangan guru bk wanita berdarah dingin juara judo dan karate itu.
"Akasuna! Ikut denganku ke ruang bk! Dan kau, Uchiha - san. Tenangkan muridmu yang sedang menangis dan hampir pingsan itu!" perintah Tsunade.
'Cih. Si guru ayam itu selalu saja beruntung. Menyebalkan,' batin Sasori.
Sasuke segera membalikkan badannya. Ternyata Naruto sedang menangis karena ketakutan. Sasori harus diberi hukuman yang setimpal.
"Ino, Hinata, Sakura. Ikut denganku!" perintah Sasuke.
"Ba..baik, Mr," jawab ketiga gadis yang namanya dipanggil oleh Sasuke.
"Kalian! Bubar! Cepat masuk ke kelas masing - masing!!" perintah Tsunade kepada semua murid yang menjadi penonton.
Semua murid pun bubar. Sasori ditinggalkan seorang diri bersama guru wanita cantik berdarah dingin itu.
"Akasuna! Cepat bereskan semua sampah - sampah ini! Setelah itu, datang ke ruanganku!" perintah Tsunade mutlak.
"Ba..baik, Ms. Tsunade," jawab Sasori patuh.
Tsunade pun meninggalkan Sasori dengan kekacauan yang telah ia perbuat. Sedangkan Sasori, ia harus menanggung akibat dari ulah bodohnya itu. Akhirnya ia menyadari jika dirinya telah dibodohi oleh teman - temannya. Tapi ia tak tinggal diam. Ada bukti untuk menyeret kedua teman sekelasnya, Sai dan Shikamaru yang membawanya ke tempat peramal gadungan itu.
Sasori segera mengambil selembar kertas dari saku celananya namun kertas itu tidak ada. Ia pun mencari di semua sudut lapangan sebari mengumpulkan benda - benda yang berantakan akibat ulah bodohnya.
Ia terus mengumpat dalam hati. Ia masih belum menyerah untuk mendapatkan Naruto. Meski usahanya gagal lagi. Apalagi gadis incarannya semakin menempel pada wali kelas mudanya. Akan tambah sulit mendapatkan Naruto.
'Dasar guru Uchiha sialan,' batin Sasori merasa kesal dan cemburu atas kedekatan Naruto dan guru bahasa Inggrisnya ditambah guru bk juga sepertinya mengizinkan mereka untuk lebih dekat.
Di tempat lain yaitu di ruang uks. Si gadis pirang berdango masih menangis dan merasa takut. Sasuke dan ketiga teman perempuan Naruto sangat khawatir melihat Naruto yang masih menangis dan ketakutan.
"Naruto, sudah dong. Jangan nangis lagi," bujuk Ino. Ia menepuk - nepuk punggung teman pirangnya.
"Benda itu sudah gak ada kok, Naruto," ujar Sakura. Ia juga merasa cemas.
"A..aku takut. Takut.. Hiks..hiks.." gumam Naruto. Ia masih menangis dan ketakutan sebari memeluk kedua lututnya dan duduk di atas tempat berbaring di dalam ruang uks.
Sasuke tidak tega melihat kekasihnya menangis dan ketakutan. Ia segera memeluknya dengan erat.
"Sudah, Naruto. Jangan menangis lagi ya? Hn," bujuk Sasuke sebari mengusap kepala kuning kekasihnya.
"Mr, kami ke kelas dulu ya. Bel masuk sudah berbunyi," ujar Hinata.
Sasuke mengangguk. Ketiga gadis itu pun pergi meninggalkan sepasang kekasih yang beda status.
Sasuke masih memeluk Naruto. "Sayang, sudah ya. Chup chup." Sasuke terus membujuk Naruto supaya berhenti menangis.
Naruto pun menghentikan tangisannya. Ia merasa malu karena Sasuke tahu kelemahannya. Ia tidak pernah takut apapun meski Sasuke sudah tahu kalau dirinya tidak bisa berenang. Tapi sangat memalukan menangis setelah melihat benda seram yang Sasori dekatkan di depan matanya.
"Kau tidak perlu takut lagi, dobe," ujar Sasuke sebari merapikan poni di dahi Naruto lalu mengusap air mata yang masih membekas di pipinya. "Kan ada kekasih tampanmu di sini."
"I..ya, Mr. Maaf. Aku tadi takut sekali. Seram sekali boneka batok kelapa itu," balas Naruto. Wajah dan matanya masih merah setelah menangis.
Sementara itu di ruangan lain yakni ruang guru bk yang dibuat denga ja terpisah dari ruang guru lainnya. Si murid baru sang idola tengah diceramahi dan diinterogasi oleh sang guru bk yang cantik dan masih lajang.
"Akasuna! Kau itu murid yang pintar. Kenapa bisa bertindak tidak waras seperti tadi, hah?!" seru Tsunade. Ia tidak habis pikir dengan aksi aneh yang dilakukan murid baru di Konoha High School. Ia duduk di kursinya.
Sasori masih terdiam. Ia berdiri di depan sang guru bk yang hanya dihalangi oleh meja.
Hawa dari sang guru bk sangat mendominasi padahal guru itu adalah seorang wanita tapi Sasori merasa terintimidasi seperti berhadapan dengan wali kelasnya yang menyebalkan itu.
"Harusnya kau berpikir dulu sebelum bertindak! Kau sudah membuat keributan di sekolah dengan aksi gilamu itu hanya karena seorang gadis. Aah.." gumam Tsunade. Ia merasa kesal dan heran.
"Aku sangat menyukai Naruto, Ms," ujar Sasori. Ia menundukkan kepalanya. Keringat mengalir dari dahinya.
"Kau masih sangat muda. Lagipula kenapa harus gadis itu? Semua murid dan pihak sekolah juga tahu kalau gadis itu sudah tidak sendiri lagi. Dan kau, lebih baik belajar. Jangan jadi budak cinta!" bentak Tsunade meski lembut di awal tapi ia kesal.
Sasori berpikir sejenak. Naruto memang punya hubungan lebih dekat dengan wali kelasnya. Ada kesempatan untuk menghancurkan hubungan mereka. Sasuke harus dipecat dari sekolah sehingga ia bisa lebih leluasa mendekati Naruto.
"Apa..Mr. Sasuke, Ms?" tanya Sasori tanpa rasa takut.
"Kau tahu jawabannya tapi kau masih bertanya. Semua sudah tahu kalau mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih," jelas Tsunade. Ia mulai tenang karena emosinya yang sempat meledak akibat ulah Sasori.
"Lalu? Kenapa Ms tidak melakukan apa - apa? Tidak mengambil tindakan dengan mengeluarkan salah satu dari mereka maksud saya," ujar Sasori. Ia berharap dan yakin bisa menghasut guru bk yang masih belum menikah itu.
Tsunade tersenyum. Ia merasa dirinya diremehkan karena murid baru itu sedang berusaha menghasut dirinya.
"Kau pikir..aku akan termakan oleh ocehanmu, bocah?!" gumam Tsunade menatap rendah pada Sasori.
"Bukan begitu, Ms. Bukankah seorang guru menjalin hubungan asmara dengan muridnya sendiri itu tidak etis? Seharusnya mereka dipisahkan. Pihak sekolah terkesan mendukung hubungan cinta terlarang itu," tambah Sasori tanpa rasa takut.
"Sudah 2 minggu, Ms," jawab Sasori singkat.
"Kau belum lama menjadi siswa KHS, Akasuna. Selama ini tidak pernah ada kasus di sekolah ini. Hanya kasus pembullyan saja. Lagipula mereka tidak pernah membuat masalah," tambah Tsunade. Ia berbicara lebih tenang. "Jadi tidak ada yang salah dengan hubungan mereka selama tidak melewati batas.
Sasori tidak kehilangan akal. Ia terus mengatakan hal yang tidak baik dan berani menghina wali kelasnya sendiri di depan guru bk. Sontak Tsunade berdiri dan memukul meja yang ada di depannya.
"Ini surat peringatan. Kau harus menyerahkan surat ini kepada walimu," ujar Tsunade setelah memukul meja dan mencap surat peringatan.
Sasori menerima surat itu dengan berat hati.
"Akasuna. Ubahlah sikapmu. Jika kau seperti itu, bukan hanya gadis itu yang membencimu tapi semua orang akan membencimu. Dan kau sendiri yang akan rugi," ujar Tsunade. Meski galak tapi ia tetap peduli kepada muridnya.
"Baik, Ms," jawab Sasori. Membungkukkan badan.
"Pergilah ke kelasmu. Pelajaran sudah dimulai!" perintah Tsunade.
Sasori pun pamit meninggalkan ruang bk.
"Dasar anak muda zaman sekarang. Ngakunya modern tapi masih percaya hal - hal di luar nalar. Sangat merepotkan," gumam Tsunade.
🍈🍈🍈🍈🍈🍈🍈🍈🍈🍈🍈🍈🍈
Sasori pun sampai di dalam ruang kelas. Semua mata memandang Sasori dengan tatapan menusuk. Namun Sasori tidak memedulikan tatapan tajam dari teman - teman sekelasnya. Ia duduk di kursinya dengan santai.
Terlihat Naruto yang sudah kembali ceria dan tertawa bersama ketiga temannya. Tiba - tiba terbesit ide briliant di otak encer sang pemuda bersurai merah itu.
'Aku yakin jika rencanaku yang ini akan berhasil. Hanya aku yang bisa dan boleh memilikimu, Namikaze Naruto,' batin Sasori. Ia tersenyum iblis.
Skip time. Waktunya untuk pulang. Semua murid sudah meninggalkan ruang kelas, kecuali Naruto. Ia sedang melakukan tugas piket. Teman piketnya sudah menyelesaikan tugasnya. Jadi hanya Naruto seorang diri berada di ruang kelas.
Gadis pirang berdango itu sudah selesai piket. Saatnya untuk menjadi asisten guru tampan tercintanya. Ia tersenyum manis dengan muka merona. Masih terbayang di ingatannya bahwa wali kelasnya yang selalu dingin memperlakukannya secara istimewa. Pelukan hangat, belaian dari kedua tangan besarnya, senyuman dari wajah tampannya. Yang pasti semua itu hanya untuk dirinya. Naruto merasa dirinya adalah gadis paling beruntung sekota Konoha. Mukanya merona. Ia lupa jika dirinya masih ada di sekolah. Tapi terkadang ia heran jika pihak sekolah santai - santai saja terhadap hubungannya dengan wali kelasnya.
Naruto pun melangkah ke luar kelas. Tiba - tiba sepasang tangan putih nan mulus tapi itu tangan laki - laki. Meski semulus tangan perempuan tapi tetap saja berbeda.
"Kau mau ke mana, Namikaze Naruto?" gumam Sasori sebari tersenyum iblis. Ya laki - laki itu Sasori. Pria serigala berwajah domba itu akhirnya membuka topeng dan menampakkan wajah aslinya.
"Sa..Sasori?!" seru Naruto. Ia terkejut. Ekspresi cerah dan cerianya mendadak lenyap.
Sasori mendecih. Ia merasa kesal karena gadis yang ia sukai tidak pernah melihatnya dan menunjukkan ekspresi ceria kesukaannya.
Tubuh mungil si gadis pirang didorong ke atas lantai ruang kelas hingga kepala belakangnya terbentur lantai oleh si murid baru itu.
"Argh!! A..apa yang kau lakukan, Sasori?! Lepaskan!!" bentak Naruto. Posisinya sungguh membuat tubuh mungilnya tak berdaya. Tubuh Sasori yang lebih tinggi dan lebih besar darinya menindihinya. Tatapan mata Sasori seperti elang yang hendak memangsa buruannya. Naruto tak bisa berkutik. Ia terus menggerakkan kedua tangannya tapi selalu gagal.
"Lepaskan aku, Sasori!! Ja..jangan lakukan ini!!" teriak Naruto. Ia sudah menangis.
"Hm. Tak akan ku biarkan kau jadi milik si guru kepala ayam sialan itu. Kau harus jadi milikku, Na ru to," gumam Sasori. Ia tersenyum iblis lalu sebelah tangannya mulai bergerak untuk menyentuh wajah cantik gadis idamannya. "Kau terlalu cantik untuk si guru es ayak ke****t itu. Kau hanya pantas untukku, sa..yang.." Sasori mulai melancarkan aksinya.
"Ja..jangan..to..tolong.Sa..Sasori..jangan. Hiks.hiks.." Naruto terus menangis.
Sementara itu, tangan Sasori mulai menyentuh bagian dada Naruto yang berisi tapi kejadian tak terduga datang. Tubuh si murid baru itu terpentak jauh. Seseorang dengan tenaga super powernya menendang tubuh Sasori hingga menubruk dinding ruang kelas.
"Kau..." Sasori menatap tajam kepada sang pelaku yang menjadi pahlawan bagi si gadis.
"Hn. Sepertinya kau tidak pernah diajari sopan santun ya, bocah merah," ujar Sasuke. Pahlawan bagi kekasihnya sendiri.
Sasuke segera membawa gadisnya pergi dari kelas. Namun sebelum itu, ia menarik kerah baju murid barunya dan memukul wajahnya sehingga bibirnya berdarah dan mukanya lebam.
"Dasar guru sialan!" seru Sasori. Tapi sebelum ia membalas serangan balik, kedua pemuda memegangi kedua tangannya. "Lepaskan!" seru Sasori kepada kedua pemuda itu yang tak lain adalah Gaara dan Sai.
"Cukup sampai di sini, Sasori!" bentak Gaara. Ia ingin sekali menghajar siswa berambut merah yang sama sepertinya. Tapi ia menahan emosinya.
"Cih. Dasar pengecut! Tiga lawan satu," gumam Sasori. Ia menantang kedua pemuda yang saat ini sedang mencekal tangannya.
"Gaara, aku serahkan pemuda boyband itu pada kalian. Aku harus mengurus Naruto - ku," ujar Sasuke sebari menggendong Naruto layaknya karung beras.
Sasori semakin marah apalagi saat gadis incarannya dibawa pergi oleh wali kelas yang ia benci. 'Sial!! Selalu saja gagal,' batin Sasori.
"Gaara, apa yang akan kita lakukan pada si merah ini ya? Bagaimana kalau kita gantung dia di tiang bendera? Atau kurung di laboratorium milik Orochimaru - sensei yang banyak binatang percobaannya?" tanya Sai sebari tersenyum palsu. Ia sudah mengikat kedua tangan Sasori di belakang punggungnya. Sasori begidik ngeri jika ia harus berada di tempat yang dipenuhi hewan - hewan menjijikan. Saat membedah katak waktu itu ia sebenarnya jijik dan enggan tapi demi menarik perhatian Naruto, ia melakukannya. Cinta itu butuh pengorbanan meski hasilnya tak sesuai keinginan.
"Kau tahu kan Sai jika kita sudah mengerjainya siang tadi?" tanya Gaara.
"Menurutku itu belum cukup, Gaara," balas Sai. Ia masih tersenyum palsu.
Sasori sedang duduk dengan kedua tangan terikat yang diawasi oleh kedua pemuda berbeda surai.
"Jadi kalian yang mengerjaiku?! Dasar anak buah ayam sialan?!" bentak Sasori kepada kedua pemuda itu.
Gaara tak bergeming. Sedangkan Sai hanya tersenyum palsu.
"Cih! Manusia pengecut! Beraninya main keroyokan!" seru Sasori dengan suara lebih keras.
"Siapa yang pengecut? Lagipula kami hanya menguji otak pintarmu itu. Tapi..kau sama sekali tidak pintar. Hanya pembual saja," ujar Gaara. Ia mengeluarkan aura gelap dan menusuk.
"Dan juga ternyata kau memang tidak pintar, Sasori - san," tambah Sai masih dengan senyum palsunya.
__ADS_1
"Kalian mata - mata dan kaki tangan guru sialan itu!" ujar Sasori. Ia merasa semakin kesal apalagi ia sudah jatuh ke jebakan lawannya. "Sial," umpat Sasori. Ia merasa dirinya sungguh bodoh. Dengan mudahnya percaya kepada teman - teman sekelasnya yang jelas - jelas selalu mendukung saingan beratnya itu.
Gaara dan Sai tersenyum menakutkan. "Kalau dijual ke rumah hiburan, dia laku berapa, Gaara?" tanya Sai.
"Sangat mahal. Bisa dipakai untuk membeli laptop dan iphone terbaru perlengkapan main game juga beberapa action figure berkualitas tinggi," jawab Gaara dengan santainya.
"Ok. Kita jual saja. Pemuda boyband macam Sasori kan lebih banyak diminati oleh para wanita kurang belaian dan seme yang sedang kekurangan uke di luaran sana," tambah Sai tersenyum iblis.
Pletak. Kedua kepala Gaara dan Sai dijitak oleh seseorang yang berambut seperti nanas.
"Jangan lakukan itu, Gaara, Sai!" ujar Shikamaru. "Lepaskan Sasori. Antarkan dia pulang. Hukuman dari orang tua adalah hukuman yang paling kejam di atas segalanya," tambah Shikamaru sebari melepaskan ikatan pada kedua tangan Sasori.
"Kali ini kami mengampunimu, Sasori. Jika sekali lagi kau melakukan tindakan kotor itu pada Naruto, bukan hanya Mr. Sasuke yang menghajarmu. Tapi semua murid sekelas denganmu dan juga dua kepala keluarga yang akan melakukannya," ancam Shikamaru.
Sasori diam saja. Ia tidak tahu harus bertindak apa. Semua rencananya gagal. Berurusan dengan wali kelasnya saja sungguh merepotkan. Untuk sementara ia diam dan menurut saja hingga tiba saat nanti ia mempunyai rencana lagi untuk mengambil Naruto dari Sasuke.
"Kita antarkan Sasori pulang!" ujar Shikamaru.
"Pulang sendiri saja," bantah Sai.
"Kau ingin dia berulah lagi? Lagipula aku sudah punya rencana bagus. Jadi lakukan saja!" perintah Shikamaru. Ia tersenyum menakutkan.
"Baik," jawab Sai dan Gaara patuh.
🍥🍡🍥🍡🍥🍡🍥🍡🍥🍡🍥🍡🍥🍡🍥
Saat ini Naruto sedang duduk di atas kasur tempat tidurnya. Sedangkan Sasuke duduk di kursi belajar milik Naruto. Setelah insiden pelecehan Naruto oleh Sasori, Sasuke segera menenangkan kekasihnya. Tidak mungkin ia membiarkan gadisnya yang sedang menangis berada di ruang guru untuk menjadi asistennya dan menyebabkan masalah baru di sekolah.
Naruto membaringkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut bermotif karakter anime. Insiden mengerikan itu masih terbayang di pikirannya. Ia masih merasa takut dan juga bergemetar. Seandainya Sasuke tak datang menolongnya maka hidupnya akan hancur. Masa depan cerahnya, cita - citanya dan juga cintanya kepada wali kelas tampannya. Ia ingin berteriak sekeras mungkin. Menangis saja belumlah cukup baginya untuk meluapkan semua emosinya.
Sasuke merasa bosan karena dirinya terus diabaikan sejak mengantarkan pulang kekasihnya.
"Naruto, please. Jangan diam dan bersembunyi di balik selimut," ujar Sasuke. Ia masih merasa khawatir kepada kekasihnya. Ia takut Naruto shock dan trauma.
"A..aku masih takut, teme. Aku juga ma..lu," gumam Naruto dari balik selimut.
Ia pun membuka selimut dan segera bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di depan kekasihnya.
Naruto menundukkan kepalanya. Ia merasa malu dan kotor karena Sasori telah menyentuhnya. Hanya leher dan hampir dada saja karena Sasuke datang menolongnya.
Sasuke mendekatkan wajahnya terhadap wajah Naruto. Terasa hembusan nafasnya di telinga si gadis. Naruto pun mengangkat kepalanya perlahan. Terlihat wajah tampan Sasuke yang sedang tersenyum seolah mengatakan semua baik - baik saja dan jangan lagi bersedih. Itu yang Naruto baca dari ekspresi wajah kekasihnya.
Kemudian Naruto tersenyum dan memegang wajah Sasuke. "Arigatou ne, Sasuke - kun," gumam Naruto.
Sasuke segera membawa Naruto ke pelukannya seraya berkata, "maafkan aku, Naruto. Aku tidak bisa menjagamu di sekolah tadi."
Naruto menggelengkan kepalanya. "Sasuke - kun selalu menjagaku. Selalu datang di saat aku butuh bantuan. Sasuke - kun pahlawanku. Daisuki," ucap Naruto sambil tersenyum lebar.
Pelukan pun terlepas. "Daisuki mo, dango dobe blonde Narutoku," balas Sasuke. Kemudian ia mencium kening kekasihnya.
"Panjang sekali julukanku. Sampai empat kata begitu," sahut Naruto. Ia memasang ekspresi lucu dan menggemaskan. Sasuke mencubit pipi bulat Naruto,"I..itte teme! Sakit. Jangan cubit. Sakit tahu?!" seru Naruto sebari mengusap kedua pipinya yang sakit akibat cubitan kekasihnya. Sasuke tersenyum jahil. Ia merasa senang setiap menjahili kekasih pirangnya itu. Hobi barunya setelah ia bertemu dengan Naruto meski belum menjadi sepasang kekasih.
"Oh iya, teme - sensei. Kenapa teme - sensei tidak memukul si kepala merah sampai pingsan sih? Kan bagus. Dia udah pegang - pegang tangan dan pipi aku. Huh," ujar Naruto kesal. Ia sedikit kecewa karena kekasihnya hanya memukul Sasori sebanyak dua kali. Seharusnya harus lebih dari itu.
Kekasih si gadis pirang menepuk jidatnya. Ia merasa jika gadis polos dan baik hati itu telah berubah menjadi kejam.
"Dobe, aku seorang guru. Jadi hanya bisa memukulnya sampai jatuh saja. Ia pasti akan dapat hukuman. Lagipula aku sudah tahu latar belakang Akasuna itu," balas Sasuke. Ia tampak tenang dan duduk di samping Naruto di atas kasur empuk milik kekasih manisnya. Tak lupa sebelah tangannya ia gunakan untuk memeluk pinggang kekasihnya dari samping. Kepala kuning Naruto yang sudah tidak didango menjadi tumpuan dagu Sasuke.
"Dia pasti akan mendapatkan balasan yang lebih kejam karena telah berani menyentuh milik seorang Uchiha Sasuke tanpa izin. Meski minta izin, aku tetap takkan mengizinkannya," tambah Sasuke.
Naruto mengangguk. Ia yakin pasti kekasihnya sudah punya rencana lain.
'Sasuke - kun memang bisa diandalkan,' batin Naruto. Ia tersenyum bahagia.
🐏🐏🐏🐏🐏🐏🐏🐏🐏🐏🐏🐏🐏🐏
Sementara itu di tempat lain. Shikamaru, Sai dan Gaara telah mengantarkan si pelaku pelecehan terhadap sahabat pirang mereka ke rumahnya, kediaman Akasuna. Shikamaru menceritakan semua kejadian yang telah dilakukan oleh Sasori di sekolah termasuk melakukan hal - hal konyol. Masalah mantra konyol yang ada di kertas kuning itu Shikamaru tak tahu menahu. Ia hanya mengantarkan Sasori ke tempat peramal. Isi tulisan ia tidak tahu, Sai dan Gaara juga. Mereka tidak berbohong. Nyatanya hanya peramal yang mengaku bernama Majorika atau Temari, calon kakak ipar Shikamaru yang menulis mantra aneh itu.
Setelah menjelaskan segalanya dengan jelas dan akurat, Shikamaru beserta kedua temannya, Sai dan Gaara segera pamit untuk pulang. Mereka berharap jika teman yang mereka antar akan selamat dari ibunya. Karena ibu Sasori sudah terlihat sangat marah dan mengeluarkan aura merah membara.
"Semoga si kepala merah itu selamat," gumam Shikamaru. Mereka sudah berada di luar gerbang kediaman Akasuna.
"Hei, kepalaku juga merah, rusa," sambung Gaara. Rambutnya juga merah.
"Kelihatannya ibunya galak sekali ya. Aku yakin Sasori pasti sedang dimarahin dan mungkin di pukul," tambah Sai. Cemas terhadap Sasori tapi ia malah tersenyum.
'Ciri - ciri orang munafik tuh. Lain di wajah lain di omongan,' batin Shikamaru dan Gaara sweatdrop dengan perilaku Sai.
Lalu ketiga pemuda itu pun pergi tanpa menoleh kembali ke belakang.
Seperti yang Shikamaru duga. Sasori dimarahin habis - habisan oleh ibunya. Bahkan ibunya juga memukul pantat Sasori dengan sapu lidi. Sikap seorang ibu sama saja entah ibu dari keluarga kurang mampu dan juga dari keluarga berkecukupan seperti Sasori. Sial sekali nasibnya. Sudah ditolak oleh gadis pujaannya, dipanggil dan diceramahi guru bk, dihajar wali kelas, diikat oleh trio anak buah Sasuke dan dimarahi ibunya sendiri.
Namun penderitaan si pemuda bersurai merah tidak sampai situ. Malam harinya saat ayah Sasori pulang. Ia langsung ditampar oleh ayahnya hingga tersungkur ke lantai.
"Dasar anak tak tahu diuntung! Tak tahu malu!" bentak ayah Sasori. Menahan amarah.
Sasori heran dan bertanya kepada ayahnya, "kenapa tou san menamparku? Apa salahku, tou san?". Sasori memasang ekspresi wajah tanpa dosa.
"Apa salahmu?" Ayah Sasori bertanya balik kepada putranya. "Kau sudah mempermalukan dirimu dengan melakukan hal - hal konyol lalu kau melecehkan seorang siswi teman sekelasmu sendiri. Apa itu tidak salah?! Hah! Katakan pada ayahmu!" seru ayah Sasori sebari menjambak rambut putranya. Amarahnya semakin memuncak. "Gara - gara kau menggoda kekasih putra bungsu Uchiha, Itachi tidak mau bekerja sama dengan ayah!"
Ayah Sasori sudah melepaskan cengkramannya.
"Apa?" beo Sasori. Ia tak percaya.
"Apa kau tahu? Perusahaan ayahmu bergantung pada Uchiha corp. Jika Uchiha tidak mau bekerja sama maka kita akan bangkrut!" bentak ayah Sasori.
"Bang..krut?" beo Sasori. Ia tak bisa membayangkan jika dirinya harus hidup jatuh miskin. Selama ini ia selalu hidup bergelimang harta. Lebih baik mati daripada hidup miskin.
Ibu Sasori datang sebari membawakan segelas teh dan meletakkannya di meja ruang keluarga.
Emosi ayah Sasori sudah normal. Sasori hanya bisa duduk dan diam tanpa kata. Sungguh sial nasibnya hari ini. Semua rencananya gagal. Jangan kan mendapatkan hati Naruto, ia malah semakin dibenci. Lalu di rumah ia dihajar dan diceramahi oleh kedua orang tuanya.
"Si guru ayam sialan itu harus diberi pelajaran!" seru Sasori. Ia masih tidak terima dan juga marah terhadap wali kelasnya yang mengadukan dirinya sehingga tidak mau bekerja sama dengan perusahaan ayahnya.
"Dasar guru manja! Sangat tidak pantas dengan gadis semanis dan sebaik Naruto!" seru Sasori.
"Hentikan ocehan ngawurmu itu, Sasori! Ibumu tidak pernah mendidikmu untuk berbicara tidak sopan mengenai gurunya sendiri!" bentak ibu Sasori. Ia benar - benar kesal dengan sikap putra semata wayangnya.
"Tapi itu benar, kaa san. Guru itu manja dengan mengadu ke kakaknya," jawab Sasori. Ia bersikeras dengan pendapatnya.
Pletak. Kali ini kepala merah pemuda itu dijitak oleh ayahnya hingga membentuk gundukan kecil di atas kepalanya. "Tou san! Kenapa tou san memukulku terus?!" Sasori terus menggerutu sebari mengusap kepala benjolnya.
"Gurumu itu sangat mandiri. Ia belajar di luar negeri dan mengikuti kelas akselerasi. Itu pun dengan hasil jerih payahnya sendiri. Ia tinggal di luar negeri seorang diri hanya untuk belajar dan dia berhasil. Tidak seperti kau, Sasori," jelas sang ayah.
Sasori merenggut. Ia tidak suka dirinya dibandingkan dengan guru yang telah merebut kekasih hatinya.
"Dan juga. Gadis yang kau rayu itu sudah menjadi kekasihnya," tambah ayah Sasori. Menahan amarah atas tindakan kekanak - kanakan putra semata wayangnya.
"Ya ya. Terserah," gumam Sasori. Ia bosan karena di rumah pun tidak ada yang mendukungnya.
"Mau ke mana, Sasori?" tanya ibunya ketika melihat Sasori hendak berjalan meninggalkan ruang kumpul keluarga.
"Mau tidur. Aku kesal karena orang tuaku sendiri malah memuji orang yang paling ku benci," jawab Sasori dengan perasaan kesal.
"Besok kaa san akan ke sekolahmu," ujar ibu Sasori.
"Untuk apa, kaa san?" tanya Sasori ingin tahu.
"Kau akan pindah sekolah lagi. Kaa san tidak mau kau menanggung malu dan dibully akibat tindakan konyolmu itu," jelas ibu Sasori dengan nada lembut. Tidak marah seperti sebelumnya.
"Kenapa, kaa san? Aku jadi tidak bisa bertemu lagi dengan Naruto," bantah Sasori. Ia duduk kembali di dekat ibunya. Kali ini kepala merah Sasori tidak dipukul atau dijitak melainkan diusap.
"Kau harus pindah sekolah. Kaa san tidak mau kau berulah lagi," jelas ibu Sasori.
"Tapi?" Sasori tetap membantah.
"Tidak ada kata tapi lagi! Kau harus mempertanggung jawabkan semua kelakuanmu!" ujar ayah Sasori.
"Ba..baik, tou san," jawab Sasori. Ia harus patuh dan menuruti semua perintah kedua orang tuanya. Lagipula dia sepertinya tidak punya harapan lagi untuk mencuri hati gadis pujaannya itu. Bahkan ia pasti sudah dibenci oleh Naruto. Lebih baik pergi daripada harus bertemu dengannya setiap hari apalagi sampai harus melihat keakrban Naruto dan wali kelasnya. Dengan berat hati ia menerima keputusan dari orang tuanya untuk pindah ke sekolah lain.
"Ya. Aku akan pindah sekolah. Izinkan aku untuk pamit dan meminta maaf kepada teman - teman, fansku dan juga Naruto. Aku sangat bersalah padanya. Lebam di wajahku tak sebanding dengan tindakan pelecehan yang telah ku lakukan padanya," gumam Sasori. Ia telah menyadari semua kesalahannya. Dan juga Naruto bukan tercipta untuknya. Ia pasti akan menemukan serta mendapatkan seorang gadis seperti gadis pirang itu.
🏫🏫🏫🏫🏫🏫🏫🏫🏫🏫🏫🏫🏫
Keeokan harinya. Sasori pergi ke sekolah bersama dengan ibunya. Ayahnya sibuk bekerja di kantor jadi hanya ibunya yang mengurusi kepindahan Sasori.
Sang ibu pergi ke kantor kepala sekolah untuk mengurusi kepindahan putranya. Sedangkan Sasori ia memilih untuk pergi ke ruang kelasnya yang akan segera ia tinggalkan.
Sasori mengetuk pintu lalu masuk ke ruang kelas. Tampak wali kelasnya sedang memberikan pelajaran kepada para murid. Ia pun berjalan kemudian berdiri di depan teman - temannya.
Sasuke menghentikan kegiatannya sejenak. "Ada yang ingin kau sampaikan, Akasuna sebelum pindah sekolah?" tanya Sasuke. Tanpa ekspresi.
"Eh?!" seru semua murid di ruang kelas. Mereka semua terkejut tak terkecuali Naruto selaku korban tindakan asusila Sasori. Padahal kekasihnya sering berbuat mesum padanya(???).
"Ano..begini teman - teman. Sebenarnya hari ini aku akan pindah sekolah jadi sebelum aku pergi, aku ingin berpamitan dan meminta maaf kepada kalian semua.." Sasori mendekati perkataannya. Lalu iamelanjutkannya. "Terutama pada Namikaze Naruto. Aku sangat bersalah padanya. Aki tidak tahu harus meminta maaf dengan cara apa agar kau mau memaafkanku."
Sasori memandangi gadis pirang berdango itu dengan sendu. Ia merasa malu dan juga sangat rendah karena telah melakukan hal keji terhadapnya. Cinta tapi menyiksa.
"Naruto - san. Tolong maafkan aku. Aku sangat menyesal telah melakukan itu kemarin padamu. Aku tidak tahu harus melakukan apa supaya mendapat maaf darimu," ujar Sasori. Ia berjongkok di depan bangku Naruto.
Naruto masih diam tak berekspresi. Sasori semakin takut. Ia lebih baik dimaki dan dipukul daripada didiamkan seperti itu.
"Ok. Aku maafkan," ucap Naruto. Ia tersenyum tulus. Begitu pula kekasihnya a.k.a guru yang sedang mengajar di kelasnya saat ini.
"Be..benarkah? Kau mau memaafkanku, Naruto - san?" tanya Sasori memastikan. "Setelah semua yang ku lakukan padamu?"
"Iya. Jadi kau bisa bangun dan memulai hari yang baru. Tapi jangan sampai terulang lagi!" seru Naruto. Ia berdiri untuk membantu Sasori bangun. Sasori tersenyum. Naruto memang gadis yang cantik luar dalam. Ia semakin merasa bersalah kepada Naruto.
"Sekali lagi maafkan aku," sahut Sasori sebari menundukkan kepalanya terhadap Naruto dan ingin memeluk gadis pirang itu namun Sasuke tidak mengizinkan hal itu terjadi.
"Apa belum selesai pamitannya, Akasuna, Naruto?" tanya Sasuke. Ia masih bisa cemburu di saat - saat terakhir dan perpisahan Sasori dengan teman - temannya terutama pada gadis pujaannya.
Naruto mendelik kepada kekasihnya yang masih saja cemburu di momen - momen yang tidak tepat.
Sasori tertawa. "Kau sangat lucu, Naruto - san."
"Apanya?" beo Naruto.
"Sudahlah. Kalau begitu, aku pamit. Dan juga teman - teman. Maafkan aku. Terima kasih atas semuanya. Selamat tinggal," ucap Sasori. Tersenyum getir.
__ADS_1
Semua murid kelas 11 ipa 2 mengucapkan salam perpisahan kepada Sasori. Mereka juga meminta maaf. Akhirnya Sasori bisa pergi dengan tenang untuk mencoba kehidupan yang baru.
Tbc