
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjam tanpa izin
Ide asli milik thor
Pair : sasufemnaru
Genre : cinta, guru, murid
Sifat karakter berbeda dengan di anime dan ooc
Typo dan cerita gaje
Happy reading
Angin musim gugur berhembus menyibakkan surai pirangnya yang panjang dengan berhiaskan dua buah dango di atas kedua sisi kepalanya. Rambut bergaya dango itu merupakan gaya rambut kesukaannya yang menjadi kesukaaan kekasihnya juga.
Naruto duduk dan tersenyum sebari memandangi langit biru. Kegaduhan teman - teman sekelasnya tidak ia hiraukan. Teman - temannya asyik memainkan bola dan kegiatan olahraga lain sebari menunggu kedatangan guru di bidang olahraga, Guy sensei. Gadis pirang itu malah sibuk dengan dunianya sendiri. Melamunkan sosok pemuda yang ia kasihi. Mereka memang bertemu setiap hari tapi hanya sebagai guru dan murid, meskiΒ begitu tetap saja bagi Naruto itu beda. Bertemu dengan status yang berbeda namun debaran jantungnya tetap sama. Sama - sama berdetak lebih cepat tiap bertemu kekasihnya.
Tiba - tiba, teman sekelasnya tanpa sengaja menendang bola sepak mengarah tepat ke arah Naruto yang sedang duduk di lapangan. Bola itu tepat mengenai bagian kepala belakang Naruto. Sontak tubuhnya terjatuh ke atas lapangan yang permukaannya dibeton. Ia pun pingsan seketika.
Ino dan Hinata yang melihatnya panik. Mereka bergegas membawa tubuh gadis pirang itu yang tengah pingsan dengan meminta bantuan kepada Shikamaru untuk menggendongnya.
Ruangan kelas Gaara tampak hening. Sang guru pengajar di bidang bahasa Inggris, Uchiha Sasuke sedang menjelaskan materi. Namun, seorang siswi yang baru saja masuk ke dalam ruang kelas dari toilet, menceritakan kepada teman di sampingnya bahwa ada seorang siswi berambut pirang dango pingsan akibat terkena hantaman bola sepak.
Sasuke tanpa sengaja mendengar cerita dari siswinya. Ia merasa cemas karena siswi kesayangannya pingsan. Ia takut terjadi hal yang tak diinginkan pada gadis itu. Tanpa ragu, ia menyimpan buku agenda pelajarannya dan mengatakan kepada para muridnya yang sedang ia ajari untuk belajar sendiri dikarenakan ada urusan mendadak yang sangat penting dan tak bisa ditinggalkan.
Gaara melihat kepergian guru bahasa Inggris muda nan tampan itu hanya bisa bergumam sendiri. "Pasti dia khawatir pada Naruto," gumam Gaara dengan pelan. Ia mengerti dengan perasaan sang guru.
Sasuke berjalan lebih cepat menuju ruang uks. Ia sangat cemas terhadap kekasihnya. Meski Naruto hanya siswi dan asistennya di sekolah. Tapi ia tetap saja tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Sasuke takut. Takut kehilangan kekasihnya.
Tampak sesosok gadis pirang yang sedang terbaring di atas kasur di dalam ruang uks. Gadis itu ditemani oleh ketiga temannya. Ino, Hinata dan Shikamaru.
Tanpa ragu, sang guru tampan yang rela meninggalkan tugasnya, berjalan perlahan memasuki ruang uks. Rasa cemas tak bisa ia sembunyikan.
"A..apa yang terjadi pada Naruto, Shikamaru?" tanya Sasuke. Terdengar nada panik dan cemas.
"Ia tertimpa bola, Mr. Tadi sudah sadar," jawab Shikamaru.
"Tapi Naruto tidur lagi setelah diberi obat," sambung Ino.
Sasuke segera duduk di dekat gadis pirang itu yang masih memejamkan matanya.
Ino dan Hinata saling pandang. Lalu keduanya pun pamit dan undur diri dari hadapan wali kelas mereka. Shikamaru juga ikut serta. Mana mau siswa pemalas itu jadi nyamuk di antara pasangan guru dan murid itu.
Kini, di dalam ruang uks yang sepi hanya ada sepasang guru dan murid. Sang guru yang masih setia menemani muridnya yang masih tertidur akibat obat pereda rasa sakit. Sasuke terus menggenggam tangan kekasihnya dengan erat. Terkadang ia mencium dahi sang gadis guna menyalurkan rasa cemas yang sedang ia rasakan. Ia tak pernah merasa secemas ini. Cemas dan khawatir terhadap keadaan seseorang. Hanya Naruto yang membuat seorang Sasuke menjadi manusia yang memiliki hati manusia bukan hati robot lagi yang dingin dan tak berperasaan.
"Eng.." Naruto menggeliat. Matanya perlahan terbuka. Gadis pirang itu bisa melihat sesosok pria tampan di depan matanya begitu jelas dan dekat.
Kedua tangan Naruto memegang wajah tampan wali kelasnya yang masih muda itu. "Pa..pangeran tampan..?" gumam Naruto dengan polos dan imut. Ia tersenyum dan bahagia karena saat membuka matanya ia langsung melihat wajah orang yang dicintainya.
"Kau tidak hilang ingatan kan, dobe?" gumam Sasuke dengan datar. Ia tidak mau kekasihnya mengetahui dirinya yang hampir menangis.
"Hilang ingatan? Akibat terkena bola aku hilang ingatan? Yang benar saja, teme! Ini kehidupan nyata bukan di drama sinetron yang sering ditonton ibu - ibu. Hehehe," balas Naruto. Ia malah tertawa.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Ia heran dengan keadaan kekasihnya. Bukan terkena amnesia melainkan kabel yang ada di kepala gadisnya seperti ada yang putus dan konslet hingga membuatnya tambah aneh.
"Halo!" Naruto melambaikan tangannya di depan wajah kekasihnya. Naruto sudah bisa duduk meski kepalanya masih terasa sakit. "Jangan bengong, teme!"
"Hn." Respon dari sang guru tak berekspresi itu.
Naruto memutar matanya. Ia terkadang bosan dengan gumaman tak jelas yang selalu ke luar dari mulut pedas kekasih tampannya. Sekarang masih di sekolah jadi Sasuke adalah gurunya. Jadi sebisa mungkin si gadis pirang itu harus menahan diri. Yang tidak bisa menahan diri adalah wali kelasnya sendiri yang super mesum. Di tempat sepi dan saat mereka berdua pasti Sasuke mencuri ciuman dari bibir si gadis pirang.
"Kepala belakangku sedikit sakit, Mr. Apa berdarah ya.." gumam Naruto. Ia meraba kepala bagian belakangnya. Namun tidak merasakan adanya cairan yang ke luar hanya terasa sedikit benjolan yang teramat sakit bila disentuh. "Aw. Sakit juga. Bisa - bisanya kepalaku kena bola dan jadi benjol kayak gini. Hehe," ujar Naruto. Ia malah tertawa.
Sasuke memeluk tubuh Naruto dengan cepat hingga ia tidak menyadari gerakan dari gurunya itu.
"Mr, i..ini..di sekolah. Nanti ada yang lihat, ba gaimana.." gumam Naruto. Wajahnya merona. Ia juga membalas pelukan hangat dari gurunya.
"Tidak ada yang lihat. Aku khawatir sekali padamu, dobe! Kenapa kau tidak hati - hati? Apa yang kau lakukan sampai bisa terkena bola, hn? Dasar gadis ceroboh," ujar Sasuke. Ia melepas pelukannya yang diganti oleh belaian lembut ke kepala kuning Naruto. Rambutnya terurai panjang. Sasuke jadi tergoda untuk menciumi wangi dari rambut siswi kesayangannya itu. "Hn..selalu harum, dobe."
'Aku gak mungkin bilang kalo tadi aku ngelamunin dia. Nanti dia geer dan aku dimarahin pula,' batin Naruto.
Wajah Naruto semakin merona. Ia tak pernah menyangka diperlakukan sehangat dan selembut itu oleh seorang guru dingin dan tak berekspresi. Dia merasa beruntung bahkan menjadi gadis paling beruntung yang bisa mendapatkan seorang kekasih tampan yang hanya menunjukkan semua perasaan dan ekspresi kepadanya saja.
"Te..teme..nanti..ada yang lih..". Sebelum Naruto meneruskan perkataannya, secepat kilat Sasuke mencium bibir mungil peach miliknya.
"Empjhmh..." Naruto meronta tak ingin dicium oleh gurunya.
Sasuke menghentikan aktivitas mesumnya pada siswinya dengan rasa kecewa.
"Kau tidak mau, dobe?" tanya Sasuke dengan ekspresi tak terima sebari tersenyum palsuπ’. Menahan rasa kesalnya pada siswi yang kurang peka.
"Eto..ini kan masih di sekolah. Kalau guru lain lihat bagaimana? Nanti kita kena skors, Mr. Sasuke," jawab Naruto. Ia mengalihkan wajah dan pandangannya ke arah lain karena terlalu dekat posisi wajahnya dengan wajah sang guru.
Sang guru malah semakin dekat dengan sang siswi. Ia pun duduk di atas kasur tepatnya duduk sangat dekat dengan Naruto hingga membuat posisi mereka menjadi semakin menempel dan tubuh Naruto terbaring ditindihi oleh Sasuke dengan tatapan laparnya.
"Sa..Mr. Sasuke..ja..jangan.." gumam Naruto.
Tak. Sasuke menjitak dahi Naruto sebari tertawa. "Haha. Ekspresimu itu lucu sekali, dobe," ujar Sasuke. Ia tertawa.
"Aku jadi ingin memakanmu," tambahnya.
Naruto kesal karena telah dibuat takut oleh guru tampannya. Ia mendorong gurunya hingga tersungkur ke bawah dan terkena lantai.
"Dasar, teme!" ujar Naruto. Ia pun bangun dari tempat tidur uks namun kepalanya masih terasa sakit. Ia pelan - pelan melangkah. Terasa pening dan apa yang ia lihat seperti berputar - putar. Kakinya hampir saja tersandung jika tangan dan tubuhnya tidak dipegang oleh Sasuke.
"Kau harusnya tiduran dulu, dobe! Jangan bangun!" ujar Sasuke. Ia pun membaringkan tubuh kekasihnya pelan - pelan.
"Ma..af. Aku pikir..aku tidak apa - apa. Tapi..kepalaku masih sakit. Pandanganku juga mulai aneh. Semua yang ku lihat serasa berputar, Mr," jawab Naruto. Ia memejamkan matanya agar tidak dapat melihat benda - benda di sekitarnya yang berputar.
"Kau kena vertigo? Apa karena efek terhantam bola tadi?" Sasuke berpikir sejenak. Kemudian ia menoleh ke arah kekasihnya yang masih memejamkan matanya. Baru sebentar ia merasa senang dan tenang melihat Naruto yang kembali sehat dan bersemangat tapi ia harus kembali merasakan sakit. Tiba - tiba tersirat hal buruk di pikiran guru muda itu. Ia tidak mau kekasihnya kenapa - kenapa. Sepertinya Naruto harus dibawa ke rumah sakit. Sasuke tidak bisa membiarkan kekasihnya menderita.
Brak. Pintu ruang uks terbuka. Muncul dua sosok wanita dewasa berbeda surai dan usia. Ms. Tsunade, guru bk berambut pirang pucat bertubuh isi dan Ms. Shizune, guru yang bertugas menangani perihal kesempatan murid di sekolah.
"Uchiha - san, ada apa anda di sini?" tanya Tsunade heran dengan keberadaan guru muda idola para siswi di sekolah.
"Menemani siswiku," jawab Sasuke enteng. Ia memang sedang menemani Naruto. Ia menunjuk Naruto dengan dagunya. "Tadi dia hampir jatuh. Kalau tidak ku tolong, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada Naruto."
"Tenang saja. Kepalanya tidak apa - apa. Ia hanya kurang darah saja dan juga terbentur. Benjolnya juga akan segera hilang karena sudah diobati. Oh iya. Setelah makan juga ia akan kembali sehat," jelas Shizune. Ia bisa melihat kekhawatiran dari wajah Sasuke meski saat ini Sasuke tidak berekspresi. Masih dengan wajah stoicnya. Tapi Shizune yang pernah belajar di bidang psikologi, ia tahu apa yang sedang saat ini wali kelas Naruto itu rasakan. Apalagi Naruto adalah siswi kesayangannya. Jadi pantas jika Sasuke sangat mengkhawatirkannya.
Sasuke lega mendengar penjelasan dari Shizune. Tsunade menatap tajam pada Sasuke. Ia curiga atas keakraban guru dan murid itu. Sasuke yang notabene guru pendiam, dingin dan juga jutek bisa berada di ruang uks dan begitu memerhatikan seorang siswi.
"Uchiha - san bisa pergi. Anda tidak bisa meninggalkan tugas anda sebagai guru hanya untuk menemani seorang siswi yang tidak memiliki hubungan darah dengan anda," ujar Tsunade.
"A..ano..Ms. Tsunade..ka..kami..sebenarnya.." Saat Naruto hendak menjelaskan, Tsunade memotong pembicaraannya.
"Kami sudah tahu. Hubungan kalian sangat dekat dan mencurigakan. Selama tidak mengganggu aktivitas belajar dan mengajar, itu tidak apa - apa. Tapi apabila Uchiha - san berbuat mesum di sekolah, pihak sekolah akan bertindak cepat," jelas Tsunade.
"Tenang saja Ms. Tsunade yang terhormat, tak lamaagi kami akan meresmikan hubungan kami, Ms. Tsunade. Dan juga aku tidak akan berbuat macam - macam terhadap siswi kesayanganku ini. Permisi," sambung Sasuke tanpa rasa takut ditegur oleh Tsunade selaku guru bk.
Sasuke pun berjalan meninggalkan Tsunade, Shizune dan Naruto. Sebenarnya Sasuke masih enggan meninggalkan Naruto dengan keadaan yang memprihatinkan tapi apa daya. Untuk sementara ia memilih diam dan pergi agar hubungan mereka tidak terancam.
"Guru muda itu benar - benar tidak sopan," gumam Tsunade sebari menoleh ke arah Naruto.
Naruto masih terbaring lemah. Shizune segera memeriksa keadaan siswi bersurai pirang itu. "Sepertinya Naruto harus pulang. Untuk sementara dia harus istirahat di rumah, Ms. Tsunade," ujar Shizune.
"Hm. Suruh guru tidak sopan tadi untuk mengantarnya pulang. Ia sangat dekat dengan gadis ini," perintah Tsunade. "Dan juga aku yakin jika si guru muda itu tidak akan mengizinkan salah satu dari siswanya untuk mengantarkan gadis ini pulang."
Naruto bangun dari posisinya. "Ma..maafkan atas ketidak sopanan Mr. Sasuke, Ms. Tsunade," jelas Naruto terbata - bata. Ia juga gugup dan takut kepada guru bk yang super galak itu. Ia hanya ingin jujur karena tidak ingin wali kelasnya dituduh hal yang tidak - tidak.
Tsunade duduk sebari mengusap kepala gadis pirang itu. "Kau memang siswi teladan, baik, rajin dan selalu membantu siapapun. Meski perlakuan mereka buruk terhadapmu tapi kau tidak menaruh dendam pada mereka. Sungguh gadis istimewa," ucap Tsunade sebari tersenyum. "Jadi tidak heran jika Uchiha - san menyukaimu."
"Ms. Tsunade terlalu memuji saya. Saya tidak seperti itu dan juga mengenai Mr. Sasuke..saya tidak tahu beliau bisa menyukai saya," balas Naruto. Wajahnya merona karena mendapat pujian dari seorang guru yang terkenal galak dan tegas. Apalagi setelah ia jujur tentang hubungannya dengan wali kelasnya sendiri.
"Bagaimana keadaanmu, Naruto? Apa kau bisa mengikuti pelajaran?" tanya Ms. Tsunade.
"Sa..saya baik - baik saja, Ms. Hanya sedikit pusing saja. Masih agak berputar apa yang saya lihat," jelas Naruto sebari memegang tengkuknya.
"Ya sudah. Kau pulang saja. Tidak baik bagi kesehatanmu kalau memaksakan diri. Biar Uchiha - san yang mengantarmu pulang. Kalau kau istirahat di sini, kau tidak akan aman," ujar Tsunade dengan nada serius.
"Tidak aman?" beo Naruto.
'Dasar gadis polos,' batin Shizune. Ia menepak jidatnya atas kelakuan siswi bersurai pirang itu yang kelewat polos.
"Kau pulanglah, Naruto. Aku akan menuliskan surat izin kepada wali kelasmu kalau.." ucapan Tsunade dipotong oleh Shizune.
"Anda lupa ya, Ms. Tsunade? Uchiha - san kan wali kelas Naruto," sambung Shizune. Ia heran dengan sifat lupa sang guru bk yang juga menjadi wakil kepala sekolah.
__ADS_1
Tsunade menepak jidat seraya berkata, "aah..benar juga. Pantas saja guru kelebihan hormon itu bisa bebas pada gadis ini. Hormonnya harus sedikit dikurangi atau diganti kalau bisa. Haha!" seru Tsunade tertawa bak nenek sihir di dongeng princess.
"Jangan dikurangi, Ms. Nanti Mr. Sasuke bisa berubah jadi aneh atau jadi cupu. Saya tidak rela.." tolak Naruto. Sujud di kaki Tsunade.
Tsunade dan Shizune heran. Sejak kapan siswi bersurai pirang yang selalu bersemangat itu ada di lantai dan memegangi kakinya.
"Bangunlah, Naruto. Aku hanya becanda," ujar Tsunade. Ia tidak tahu lagi harus menghadapi kepolosan siswi yang ada di depannya.
"Be..benar ya Ms. Tsunade tidak akan mengurangi hormon Mr. Sasuke?" pinta Naruto dengan sangat.
'Anak ini apa yang ia pelajari di kelasnya sih!? Harusnya si Uchiha sialan itu mengajar di bidang sains mengenai hormon. Supaya para siswi bersemangat belajar sains. Ukh..' batin Tsunade. Ia bosan dan jenuh pada sikap para siswi yang selalu mengidolakan guru tampan itu. Pesona seorang Uchiha memang tak bisa dipungkiri. Tak ada seorang wanita yang tak terpesona pada Uchiha. Termasuk dirinya. Jika tidak ingat umur, ia akan menjadi fg Sasuke juga. Tsunade menggelengkan kepalanya membuang pikiran laknat itu.
Naruto berdiri di hadapan Tsunade seraya membungkuk. "Terima kasih banyak, Ms. Tsunade. Kalau begitu saya mohon pamit," ucap Naruto. Namun saat hendak melangkah melewati Tsunade dan Shizune, pandangannya berputar - putar dan jatuh. Sang pahlawan selalu datang di waktu yang tepat. Wali kelas tampannya dengan sigap menahan tubuh mungil muridnya yang hampir terjatuh.
"Mis..ter.." gumam Naruto. Ia masih pusing tapi tetap mencoba untuk berdiri dan berjalan sendiri.
"Hati - hati, Naruto," ujar Sasuke dengan penuh perhatian.
Kedua guru wanita yang ada di tkp. Tempat kejadian perlakuan hangat sang guru yang selalu bersikap dingin, membuka mulut mereka karena terlalu terkejut atas perlakuan hangat yang diberikan Sasuke pada Naruto.
Sasuke, guru muda nan tampan se - SMA Konoha yang tidak pernah melirik satu perempuan pun dari ratusan fg di sekolah memperlakukan seorang gadis dengan penuh perhatian. Mungkin Tsunade harus memeriksa kaca matanya. Minusnya bertambah saat menyaksikan adegan roman picisan secara live streaming. Begitu pula dengan Shizune. Ia selalu melihat Naruto yang selalu dikerjai oleh wali kelasnya saat di ruang guru. Diberi setumpuk lks yang banyak untuk dikoreksi lalu Sasuke sering memperlakukan Naruto seenaknya. Ternyata memang ada rasa pada siswi berambut pirang itu.
"Ekhem." Tsunade berdehem. Sontak pasangan guru dan murid kaget dan berdiri berdampingan. Sasuke santai saja memegang tangan Naruto dan tas ransel milik siswinya. Sementara itu, Naruto malah merasa takut pada ekspresi Tsunade yang menyeramkan baginya.
"Aku harap kalian bisa lebih menjaga sikap ketika di lingkungan sekolah. Ingat! Kalian adalah guru dan murid. Jika sampai murid atau guru lain melihat adegan tak senonoh, bukan hanya Uchiha - san yang malu tetapi nama baik Naruto sebagai murid akan ternoda. Camkan itu!" ujar Tsunade dengan tegas.
"Ba..baik, Ms. Tsunade," jawab Naruto.
Sementara itu Sasuke hanya menjawab dengan gumaman andalannya.
"Cepat antar siswimu pulang! Tapi kau harus segera kembali ke sekolah untuk melanjutkan tugasmu sebagai pengajar, Uchiha - san!" perintah Tsunade, mutlak. Ia menatap tajam pada guru muda bersurai raven itu.
"Hn."
"Kalau begitu, kami pamit, Ms. Tsunade, Ms. Shizune. Terima kasih banyak atas perhatian yang diberikan kepada saya. Permisi," ucap Naruto. Ia berjalan pelan di samping Sasuke.
"Hati - hati, Naruto!" seru Shizune.
Tsunade masih memandangi sepasang kekasih beda status itu yang terus melangkah menjauh dari hadapan mereka.
"Pasangan yang sangat serasi. Aku jadi iri," ujar Shizune. Ia berdiri di belakangnya Tsunade.
"Dasar anak muda. Ya mereka serasi. Kuning dan hitam," balas Tsunade.
π₯π‘π₯π‘π₯π‘π₯π‘π₯π‘π₯π‘π₯
Setelah mengantarkan Naruto tepat ke dalam kamarnya, Sasuke segera pergi untuk kembali menjalankan kewajibannya sebagai seorang guru teladan yang jenius dan tentu saja tampan. Para siswi yang dulu nilai bahasa Inggrisnya rendah dan minat belajarnya juga sama rendahnya mendadak naik secara drastis. Mereka dengan senang hati memerhatikan dan menyimak pelajaran yang diberikan oleh Sasuke. Meski mereka hanya ingin memandangi guru tampan itu.
Terkadang si gadis pirang selaku kekasihnya merasa cemburu dan rendah diri tapi ia segera membuang pikiran itu jauh - jauh. Sasuke kan sudah jadi miliknya. Hanya milik Namikaze Naruto. Jadi ia tidak akan membiarkan gadis lain memiliki kekasih super tampannya itu.
πππ πππ πππ πππ π
Beberapa hari kemudian, Naruto baru diizinkan masuk ke sekolah oleh kedua orang tuanya akibat dirinya yang terkena anemia. Untuk berdiri saja ia tidak kuat apalagi berjalan. Semua yang ia lihat seakan - akan berputar - putat mengitarinya. Tentu saja kedua orang tuanya sangat mencemaskan keadaan putri semata wayang mereka.
Naruto pergi ke sekolah seperti biasa. Dijemput oleh kekasihnya yang tidak kalah posesif dari orang tuanya. Sungguh gadis yang beruntung karena mempunyai sosok penting yang sangat menyayanginya setulus hati mereka. Meski sang kekasih menyukainya karena ada rasa lain. Ya rasa suka antara laki - laki terhadap perempuan. Rasa suka, sayang, cinta dan kepuasan batin. Keberadaan Naruto sangat berarti baginya. Sehari si pirang dango tak masuk sekolah, serasa satu bulan lamanya.
Tak lama mereka tiba di depan gerbang. Naruto ingin turun dari motor namun kekasihnya melarangnya. Daripada pagi - pagi berdebat, ia memilih untuk mengalah saja. Bisa - bisa dirinya menjadi bahan pembicaraan siswi - siswi penggosip di sekolah. Naruto merahasiakan hubungannya dengan kekasihnya karena mereka masih berstatus sebagai guru dan murid. Ia tidak ingin Sasuke terkena masalah. Jika hal itu sampai terjadi, Sasuke pasti akan berhenti menjadi guru dan Naruto tidak bisa bertemu dengannya sesering mungkin. Hal yang paling tidak ia inginkan selain kehilangan koleksi manganya yang sempat akan dibuang oleh ibunya.
Naruto tiba di tempat parkiran. Ia berjalan berdampingan dengan guru muda pujaan ratusan siswi SMA Konoha. Namun para siswi sudah tidak berani lagi mengganggu apalagi hingga membully siswi dango pirang kesayangan Mr. Sasuke. Mereka pasti akan langsung didrop out oleh pihak sekolah. Larangan bagi para siswa siswi untuk membully sesama siswa ataupun kepada penghuni sekolah. Peraturan tersebut juga berlaku bagi para staf sekolah. Naruto jadi bisa berjalan santai tanpa memedulikan sorot tajam dari para siswi yang iri padanya. Para siswa juga menyesal dan kecewa. Ternyata siswi semanis Naruto yang pesonanya baru mereka lihat telah memiliki anjing penjaga yang super galak dan killer.
Sepasang sejoli itu berpisah. Namun, sang guru tampak berbisik ke telinga siswinya. Sana siswi mengangguk pelan tanda mengerti padahal sebenarnya ia tidak mengerti maksud dari kata - kata yang wali kelasnya itu lontarkan. Jangankan mengerti, Sasuke mengatakannya dengan sangat pelan. Daripada kena marah dan hukuman di pagi hari di sekolah pula ya jadi Naruto mengangguk saja. Cari aman saja. Tidak lucu jika ada berita pagi yang memberitahukan kepada seiisi sekolah bahwa telah ditemukan sesosok mayat gadis muda yang tewas akibat kepolosan dan otaknya yang mendadak bodoh akibat terbentur lapangan dua hari lalu. Begitu yang gadis pirang itu pikirkan hingga seseorang yang tidak ia kenali menyapanya dengan senyum ramahnya sebari berdiri di dekat pintu masuk kelasnya.
"Ohayou, ma nis," sapa seseorang yang tidak Naruto kenali.
"Ohayou mo," balas Naruto. Ia mengendikkan bahu. Membalas sapaan ramah dari seseorang tidaklah salah. Apalagi orang itu berdiri tepat di pintu masuk kelas. "Maaf. Aku mau masuk," ujar Naruto sehalus mungkin.
"Apa kau juga murid baru, cantik?" tanya pemuda itu.
"Hah?" beo Naruto. Naruto memerhatikan penampilan pemuda yang menyapanya dari atas rambut hingga ujung kaki. 'Kepalanya kecemplung darah cewek pms ya? Merah banget. Itu muka kok mirip boyband korea. Untung aku penggemar cowok anime dan pemain live action. Jadi wajah orang ini terlalu aneh. Kayak bayi. Putih, bersih dan mulus. Cantik kalau jadi cewek. Tapi dia cowok kan? Pakai celana dan suaranya juga cowok banget. Tambah lagi deh idola di sekolah ini. Jadi..my handsome teacher berkurang deh jumlah fgnya. Hehehe,' batin Naruto. Ia tersenyum membayangkan kekasihnya yang ditinggalkan oleh para fgnya.
"Ehem. Kalau kagum sama ketampananku, bilang saja. Jangan senyum dan ketawa sendiri, ojou san," ujar pemuda itu dengan sombongnya.
Naruto ingin sekali muntah mendengar si kepala merah berkata seperti itu. Sudah cukup baginya menghadapi mahluk paling tampan sekota Konoha. Ia tidak mau lagi meladeni mahluk merah yang ada di depannya.
Si gadis pirang dengan cueknya berjalan melewati si kepala merah tanpa melirik kepadanya. 'Sasuke teme tetap yang paling tampan,' batin Naruto.
Si pemuda yang berambut merah merasa kesal karena tidak dipedulikan oleh gadis yang baru pertama kali ia temui. Gadis bersurai pirang yang sangat manis dan juga di kepalanya ada dua buah dango. Gaya rambut yang sangat unik bagi seorang siswi kelas 11 SMA. Terkesan manis dan menawan.
"Kamu duduk di depanku, lho, Naruto," ujar Ino.
Naruto tampak kesal. Apa boleh buat ia pun duduk di depan Ino. Ia segera menenggelamkan wajahnya ke meja.
"Apa kamu masih sakit, Naruto?" tanya Ino. Ia menyentuh dahi si pirang. "Normal kok," jawab Ino.
Hinata dan Sakura yang kebetulan duduk di samping Naruto dan Ino bergegas mendekati Naruto yang terlihat lelah dan kurang bersemangat.
"Naruto, kalau masih sakit, istirahat dulu. Jangan memaksakan diri," ujar Hinata. Ia terlihat cemas.
Naruto akhirnya menjawab dan mendongakkan kepalanya sebari memandangi ketiga teman cantiknya. "Aku udah sehat kok. Istirahat dua hari sudah cukup buatku. Malah kelamaan," jawab Naruto santai.
"Tapi..kenapa kamu gak semangat gitu, Naruto? Kayak wali kelas kita aja. Dua hari gak ketemu asisten galaunya minta ampun," ujar Sakura. Ia duduk di samping Ino.
Naruto menoleh ke arah Sakura. "Masa si teme itu galau? Tiap hari dia ngechat aku terus. Nanya keadaan, udah makan belum? Minum obat belum? Mau dibawain makanan ga? Duh..perhatiannya itu lho.." ucap Naruto. Panjang dan lengkap.
Hinata tersenyum. "Harusnya kamu senang. Berarti dia perhatian sekali sama kamu, Naruto. Bener ga, guys?".
"Yups. Pacarku aja kadang cuek banget," sambung Ino sebari menoleh dan menunjuk Sai dengan telunjuknya.
Naruto menghela nafas. "Bukannya aku gak suka. Aku malah seneng banget dikasih perhatian sama dia. Tapi.." Naruto menjeda perkataannya. "Ibuku ngomel terus. Malah bilang, jangan ganggu Naruto pas dia nelepon aku. Aku kan jadi gak enak." Wajah Naruto menjadi suram. Tak pantas dengan rambut pirang cerahnya.
"Ooooh..". Ketiga gadis berbeda surai dan sifat hanya bisa beroh ria. Mereka pikir teman dango mereka ada masalah dengan kekasihnya. Ternyata hanya masalah kecil.
Ino menepuk bahu Naruto. "Sudahlah, Naruto. Jangan dipikirkan. Ibumu sayang banget sama kamu. Makanya beliau ngomong kayak gitu."
"Ya. Dua hari yang melelahkan dengan diam di kamar. Baca manga saja tidak minat. Mungkin kalo dia ada.."
Sakura tersenyum dan mencolek pipi tembem Naruto. "Duh..pasti kangen ya sama pangeran tampan. Hehe," sahut Sakura.
Wajah Naruto merona. "Gak juga. Masa kangen terus!" bantah Naruto. Ia menolak merasakan sesuatu yang Sakura ungkapkan.
"Hahaha.". Ketiga gadis itu tertawa mengejek kelakuan temannya yang terkadang bertingkah tsundere.
Teng teng. Bel masuk berbunyi. Semua murid duduk di tempat duduknya masing - masing. Sang guru pun datang dan memasuki ruang kelas dengan auranya yang khas.
"Good morning, Mr," sapa para murid sebari berdiri dan menundukan kepala.
"Good morning, too," balas Sasuke dengan datar seperti biasanya.
Sasuke menatap tajam pada Naruto. Yang ditatap pura - pura tidak melihat. Tatapan Sasuke itu tajam dan bisa membuat seseorang yang ia tatap mati di tempat. Begitulah yang saat ini gadis dango itu pikirkan. Selalu berprasangka buruk kepada kekasihnya sendiri.
Tiba - tiba Naruto mengangkat sebelah tangannya ke atas.
"Ada apa, Naruto?" tanya sang guru.
"Mr, kenapa tempat duduknya diganti?" tanya Naruto. Sebenarnya ia tahu jawabannya tapi serasa geli jika tidak tahu jawabannya secara langsung dari wali kelasnya yang menjadi idola para siswi di sekolah.
"Hn. Hanya ingin mengubah suasana kelas," jawab Sasuke dingin.
Naruto terdiam. Semua murid bergumam dalam hati. 'Bilang saja kalau anda ingin selalu dekat dengan pacar anda, Mr. Sasuke,' batin semua murid minus siswa baru.
"Ano, Mr. Sasuke. Kenapa Mr sangat ingin dekat dengan siswi baru itu?" tanya si murid baru dengan santainya.
"Aku siswi lama, bung!" jawab Naruto yang segera diberi lirikan maut dari sang wali kelas.
Sasuke kesal atas sikap kedua muridnya yang sama - sama berambut menyilaukan mata. "Namikaze Naruto, dia adalah siswa baru. Namanya Akasuna Sasori. Pindahan dari kota Suna. Namikaze Naruto bukan siswi baru. Tapi siswi lama di KELASKU, Aka suna - san," jelas Sasuke dengan menegaskan kata di kelasku.
Sasori, nama si murid baru yang lumayan tampan dan mirip pemain boyband, segera mengangguk dan paham atas penjelasan dari wali kelasnya. Ia tersenyum misterius.
"Rupanya kelas ini bakal terjadi kejadian yang lebih menarik," gumam Sakura. Seorang siswi yang memiliki insting tajam. Melirik ke arah Naruto, Sasuke dan Sasori.
Sang wali kelas pun memulai pelajaran. Ia sesekali melirik ke arah siswi kesayangannya yang sedang berpikir dan terkadang mengeluarkan ekspresi lucu dan imut. Ingin hati membelai dan mengusap kepala kuning siswi tercintanya namun ia harus profesional. Saat ini ia sedang menjadi guru. Harus mementingkan kewajibannya sebagai pengajar.
Sang murid baru juga menoleh ke arah Naruto. Ia penasaran terhadap gadis yang sangat unik. Sasori adalah murid yang tampan dan mempesona. Tapi gadis itu sama sekali tak terpengaruh atas pesona yang ia pancarkan. Tidak mungkin jika gadis itu menyukai sesama perempuan.
Tak terasa jam pelajaran bahasa Inggris berakhir. Naruto selaku asisten wali kelasnya membantu membawakan beberapa buku lembar kerja siswa. Ia berjalan mengekori wali kelasnya. Sasori tanpa henti memandangi gadis pirang itu dari ia berdiri hingga ke luar dari ruang kelas. Tempat duduk Sasori berada di dekat pintu. Otomatis ia bisa bebas memerhatikan seseorang yang berjalan melewatinya.
"Gadis itu manis sekali," gumam Sasori tanpa sadar terdengar oleh telinga Shikamaru yang duduk di belakangnya.
"Mendokusai na.." gumam Shikamaru. Ia tampak mengantuk akibat bermain game online semalaman dengan kakaknya, Shikadai.
__ADS_1
Naruto berjalan di belakang Sasuke dengan santainya.
"Kau harus hati - hati dengan murid baru itu, Naruto," ujar Sasuke. Ia berhenti mendadak tapi Naruto bisa mengantisipasi hal itu.
"Emangnya kenapa, Mr?" tanya Naruto dengan polosnya.
Sasuke tersenyum tampan. Senyuman yang hanya tertuju kepada Naruto seorang. "Hati - hati saja," jawab Sasuke dengan lembut. Muka Naruto merona mendengar ucapan dari gurunya yang sangat lembut.
"A..ba..baik, Mr," balas Naruto. Mukanya memanas. Sang guru pun mengambil buku yang Naruto bawa. Tak lupa ia mengusap kepala kuningnya. "Kembalilah ke kelas.". Naruto mengangguk patuh. Ia segera berjalan kembali ke ruang kelasnya dengan senyumnya yang berkembang. Mendapat senyuman tampan dan perkataan lembut dari seorang kekasih yang notabene dinginnya melebihi dinginnya es benua Antartika membuat Naruto senang, bahagia dan melayang ke angkasa. Padahal hanya senyum saja. Gadis pirang itu jadi tersenyum sendiri selama berjalan menuju ke ruang kelasnya. Di dalam ruang kelas ia juga masih tetap tersenyum.
Ketiga siswi yang menjadi teman dekatnya hanya bisa ikut tersenyum menyaksikan sahabat pirang mereka yang tengah bahagia. Sedangkan Sasori si murid baru malah terpesona dengan senyuman yang selalu terpancar dari wajah gadis dango itu.
"Senyumnya sangat menawan," ujar Sasori. Ia tak henti menatap gadis pirang itu.
Teng teng. Bel jam istirahat berbunyi. Mendadak di luar ruang kelas Naruto berdatangan para siswi yang sedang mengantri untuk memasuki ruang kelasnya.
Naruto terheran saat melihat kedatangan para siswi yang ingin memasuki ruang kelasnya. Padahal guru tampannya sudah tidak ada di ruang kelasnya sedari beberapa jam lalu. Tapi ada alasan apa yang membuat para siswi mendatangi ruang kelasnya.
"Seperti dua hari yang lalu. Si Akasuna selalu saja menjadi pusat perhatian tiap jam istirahat," ujar Ino. Ia merasa bosan dan risih melihat kegaduhan di dekat pintu masuk. Ia ingin beristirahat di luar tapi terhalangi oleh para siswi bar - bar.
"Eh? Si kepala merah itu?! Wajah bayi begitu?! What? It's real. He is a boy and student like us. He is not superstar. I think my boy is more amazing than him!" seru Naruto dengan sangat berlebihan.
Hinata dan Sakura menggelengkan kepalanya. "Naruto kayaknya masih sakit," ujar Sakura. Ia juga menepak jidatnya yang lebar.
"Dia lupa minum obat. Pantas saja jadi kayak alay gitu," sambung Hinata.
"Me re pot kan," tambah Ino.
"Woy! Itu kata andalanku!" seru Shikamaru.
Sementara itu sang pelaku yang menjadi pusat kegaduhan hanya bergaya bak artis saat minta difoto oleh para siswi bar - bar.
'Resiko orang ganteng. Di mana - mana selalu dikerumuni gadis cantik,' batin Sasori. Ia tampak keren dengan ekspresi datarnya tapi sebenarnya ia sangat jauh berbeda dari sikap dingin dan jutek Sasuke.
Naruto segera melangkah menghampiri kerumunan siswi fg Sasori. "Permisi!!" teriak Naruto. Seketika para siswi menghindar dan membiarkan Naruto lewat. Para siswi memandangi Naruto dengan sinis dan penuh ketidak sukaan.
"Cih, dasar gadis dango!" gumam seorang siswi.
"Dia hanya beruntung bisa sekelas dengan siswa setampan dan sekeren Sasori - kun," sambung siswi lain.
Naruto yang mendengar gumaman itu hanya berjalan santai tak memedulikan apa yang para siswi katakan mengenainya. Ia serasa dejavu dipandangi para siswi seperti itu. Sasori yang melihat respon Naruto, merasa kesal karena gadis dango itu sama sekali tak terpengaruh. Pesona tampannya yang luar biasa tak ada efek. 'Sial!!' batin Sasori. Ia tersenyum palsu.
"Ada yang ngalahin senyum palsumu, Sai," ujar Shikamaru. Tidak biasanya ia tersadar.
"Aku tetap yang paling menawan dengan senyum palsuku," balas Sai masih tersenyum palsu.
"Terserah," tambah Shikamaru bosan.
Si gadis pirang terus berjalan sebari menjinjing bekal makan siangnya. Ia makan siang seorang diri karena ketiga temannya lebih memilih untuk makan di ruang kelas. Ia sesekali melirik dan memerhatikan keadaan sekitar. Dua hari tidak masuk sekolah terasa sangat lama baginya. Bukan hanya rasa rindu kepada guru tampannya melainkan ia selalu terbayang kejadian dirinya terkena hantaman bola sehingga dia pingsan. Ia tersenyum mengingat kejadian tersebut. Gara - gara melamun, jadi celaka deh. Guru ayam membawa dampak buruk baginya. Selain waktunya yang biasa ia gunakan untuk membaca manga dan menonton anime kini ia habiskan dengan berchatting ria dan bermalam Minggu bersama. Wajahnya merona saat membayangkan kekasihnya yang super tampan itu tersenyum tiap mengunjunginya di malam anak muda itu.
"Hentikan senyuman anehmu itu, dobe!" ujar seseorang yang sedang duduk santai di tempat kesukaan Naruto beristirahat.
"Apa?! Aku gak aneh tahu?!" seru Naruto tak terima. Ia segera mengambil ponsel di saku roknya dan becermin sebari tersenyum. "Gak aneh juga kalo aku senyum. Aneh apanya? Hm?!" Naruto mendelik kepada seorang pemuda yang berani mengejeknya.
"Gak aneh. Hanya saja.." Sasuke sang pemuda tersebut menarik tangan Naruto dan tubuh mungilnya jatuh tepat di pangkuan Sasuke dengan posisi menindihi badannya. "..kau terlalu manis. Aku tidak mau dango manisku memikat laki - laki lain, hn," jelas Sasuke. Ia menatap kekasihnya dengan dalam tanpa memedulikan keadaan sekitarnya. Sepi, hening dan tidak ada siapapun yang lewat. Mereka sedanh di taman belakang sekolah. Biasanya para murid beristirahat di kantin, ruangan kelas dan sudut sekolah yang lebih strategis.
"Si..siapa yang me..memikat siapa, te..me.." gumam Naruto. Penyakit gugupnya kembali datang. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Jantungnya berdetak lebih kencang. Wajah tampan wali kelasnya selalu bisa membuat Naruto salah tingkah dan mendidih.
Sasuke segera bangun dan mendudukkan Naruto di sampingnya. Tubuh Naruto tidak tinggi jadi ia bebas menggendong dan memindahkan si gadis pirang itu sesuka hatinya.
"Ayo makan. Aku sudah lapar, dobe," gumam Sasuke dengan seenaknya membuka bekal yang Naruto bawa.
"Itu bekalku, Mr. Kenapa Mr gak beli aja di kantin?" tolak Naruto. Ia juga lapar.
"Malas. Lagipula lebih enak makan bekal buatan ibu mertua dengan istriku," balas Sasuke. Ia sudah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"I..istri? A..aku belum menjadi istrimu, te..me!" seru Naruto. Tsunderenya kambuh. Naruto juga makan.
"Suapi aku ya, dobe," pinta Sasuke dengan nada manjanya. Tak lupa ia mengedipkan sebelah matanya kepada kekasih mungilnya.
"Iya..Mr.." jawab Naruto. Ia memalingkan wajahnya saking tidak kuat akan pesona yang dipancarkan oleh kekasih tampannya.
Sepasang kekasih guru dan murid itu saling menyuapi. Mereka beruntung karena tidak ada seorang pun yang menyaksikan adegan suap menyuap mereka. Jika ada, bisa tersebar gosip panas di sekolah. Tapi para murid rata - rata telah mengetahui hubungan dekat Sasuke dan Naruto namun mereka tak mau ikut campur. Sasuke dan Naruto sudah sangat dekat sebagai guru dan murid.
Acara makan pun selesai. Naruto segera membereskan tempat bekal makan siangnya.
"Kau mau ke mana, dobe?" tanya Sasuke yang seperti anak kecil bertanya kepada ibunya.
"Ke kelas," jawab Naruto singkat. Ia berdiri.
Tangan Naruto ditarik oleh guru muda itu. "Duduk di sini. Jam masuk masih lama. Jangan bilang kau kembali ke kelas karena ingin bertemu dengan si kepala merah itu kan?" ucap Sasuke dengan sinis.
"Heh? Kepala merah? Gaara? Ayolah Mr. Dia udah punya Sakura. Aku juga sudah punya Mr," jawab Naruto dengan santai.
"Ck. Dasar dobe. Sudahlah. Aku tidak mau kau terpesona kepada si kepala merah murid baru sialan itu," sambung Sasuke. Ia memeluk gadisnya dari belakang yang sedang duduk di pangkuannya.
Muka Naruto kembali merona. "Ma..mana mungkin a..aku terpesona sama laki - laki baby face itu yang muka dan rambutnya kayak anggota boyband. Aku lebih suka sama laki - laki yang mukanya kayak pemain live action seperti aktor tampan Ryuji Sato. Kyaa.." ucap Naruto dengan polosnya. Ia tak tahu jika seorang pemuda di belakangnya tengah merasa kesal dan cembur karena bukan dirinya yang dipuji oleh kekasihnya. Sasuke itu pemuda tertampan se - Konoha.
Sasuke meniup kemudian mencium tengkuk Naruto. Sontak Naruto merasa geli. "A..apa yang sedang kau lakukan, teme?! Geli tahu?!" seru Naruto. Ia membalikkan tubuhnya dan wajahnya tepat ke depan wajah Sasuke yang sedang menyeringai mesum.
'Mati aku. Seringai licik si teme ayam itu benar - benar membuatku tak berkutik. Sial! Kau selalu saja kalah darinya, Naruto,' batin Naruto. Ia kesal karena selalu kalah dan terpesona dengan seringaian mesum yang Sasuke pancarkan.
"Hn." Secepat kilat Sasuke mencium dan ******* bibir manis dan mungil kekasihnya dengan penuh nafsu.
Naruto terkejut akan ciuman dadakan yang kekasihnya lakukan dan juga tak bisa bernafas. Selama hampir lima menit mereka berciuman. Sang gadis seperti ikan kekeringan yang tidak bisa bernafas.
"Huh. Dasar Sasuke - kun no baka. Sasuke - kun no hentai," gumam Naruto pelan dan ekspresinya sangat menggemaskan. Ia tak mau berteriak dan sampai diketahui oleh orang lain.
Sasuke tersenyum puas setelah menikmati bibir peach kekasihnya itu. "Ayo ke kelas. Kau tidak ingin terlambat masuk kelasmu kan, dobe?" ajak Sasuke. Ia kembali tak berekspresi setelah ciuman panasnya dengan gadis pirang dangonya itu.
Sementara itu sang kekasih dangonya hanya mengerutu atas tindakan mesumnya. Mereka pun berjalan menuju tempat tujuan masing - masing.
Skip sajalah. Sepulang sekolah. Si gadis dango dihadang oleh sang murid baru dengan gaya angkuhnya berdiri di depan pintu kelas. Ia menatap tajam terhadap si gadis. Kebetulan ruangan kelas hanya ada dirinya dan si murid baru itu.
"Maaf, Akasuna - san. Aku mau pulang. Apa bisa minggir?" pinta Naruto dengan sopan.
"Huh. Dasar perempuan munafik," gumam Sasori terdengar menyebalkan di telinga si gadis dango.
"Hm? Aku tak tahu apa maksudmu? Munafik itu kan orang yang selalu mengingkari janji dan lain di mulut lain di hati. Benar kan? Tapi aku gak ngerasa punya janji dan ngingkari janji sama kamu," jelas Naruto dengan ekspresi polosnya yang tambah membuat si murid baru a.k.a Akasuna Sasori terpesona.
Sasori berjalan mendekati Naruto hingga Naruto terpojok dan punggungnya menempel di dinding.
"Kau sangat manis, Namikaze - san. Imut dan juga menawan. Aku terpesona padamu," ujar Sasori. Ia menatap tajam pada gadis pirang yang ia kira akan jatuh ke dalam pesonanya.
Naruto mendelik ke arah Sasori. Ia tidak menyangka jika ucapan kekasihnya 100% benar. Sekarang keadannya benar - benar merugikan dirinya. Kedua tangannya dipegang kuat oleh murid bersurai merah itu.
"Lepaskan aku, Akasuna!" bentak Naruto. Ia tidak ingin ada seseorang yang melihat keadaannya dengan Sasori yang akan membuat orang lain salah paham, terutama kekasihnya sendiri.
"Lepaskan? Gadis manis nan imut sepertimu? Kau tahu? Aku suka pada pandangan pertama padamu, Na ru to," ujar Sasori dengan seringai mesumnya tapi lebih mesum kekasihnya.
Naruto terkejut. Matanya terbelalak. Tidak mungkin murid baru yang belum ia kenal menyukainya. Ia sedang tidak ingin mendengar lelucon garing dari Sasori.
"Te..teme!!" teriak Naruto. Hanya nama panggilan itu yang saat ini ia pikirkan.
Brak. Tubuh Sasori terdorong ke lantai. Sang pelaku segera menarik tubuh mungil Naruto dan menyembunyikannya di balik tubuh kekarnya.
"Kau?! Mr. Sasuke?!" seru Sasori tidak percaya.
"Akasuna - san.." gumam Sasuke. Ia mengeluarkan aura gelap yang tajam dan menakutkan. Tapi Sasori tidak merasa takut. Ia malah menantang.
"Te..Mr. Sasuke.." gumam Naruto. Ia ketakutan. Tangannya memegang lengan kekasihnya dengan erat.
"Kau masih baru di sekolah ini. Sekali lagi aku melihat kau mengganggu muridku, tamat riwayatmu, Akasuna Sasori!" ancam Sasuke. Ia pun meninggalkan Sasori yang masih tersungkur di lantai dengan ekspresi menantang.
"Ayo, Naruto," ajak Sasuke. Ia menggenggam tangan Naruto agar kekasihnya tidak merasa takut lagi. Padahal Naruto pikir kekasihnya akan menghajar Sasori tapi tidak. Ia sedikit lega. Kalau sampai Sasuke menghajar Sasori, Sasuke akan kena kasus. Ia lega karena kekasihnya bisa menahan emosi.
'Arigatou, Sasuke - kun. Kamu bisa menahan emosimu untuk tidak menghajar si kepala merah itu. Aku senang sekali. Aku sangat menyayangi Sasuke - kun,' monolog Naruto di dalam hati. Sasuke masih menggenggam tangan kekasihnya karena kondisi sekolah telah sepi. Hanya ada sedikit siswa yang sedang mengikuti kegiatan klub di luar gedung sekolah. Jadi tidak ada yang melihat mereka berdua.
"Aku juga menyayangimu, dobe. Aku tidak mungkin menghajar murid baru sialan itu. Nanti image ku hancur dan tidak bisa menjadi guru di sini. Juga tak bisa selalu bertemu dan dekat denganmu," ujar Sasuke. Ia mengetahui isi hati kekasih pirangnya.
"Mr. Sasuke tahu isi hatiku. Gak asyik," gumam Naruto. Ia memasang ekspresi lucunya.
"Iya dong. Ekspresimu itu mudah ku baca, dobe," balas Sasuke. Ia mencubit pipi tembem kekasihnya.
"Ukh. Sakit, Mr," gumam Naruto.
Sasuke malah tersenyum dan mengusap rambut pirang dango kekasihnya.
Mereka berduapun terus berjalan menuju ruang guru untuk mengambil barang milik sang guru bahasa Inggris. Karena siswi kesayangannya baru masuk sekolah, Naruto diliburkan dari tugasnya menjadi asisten untuk sementara waktu. Jadilah mereka berdua pulang meninggalkan gedung sekolah dengan menaiki motor kebanggaanya. Di lain pihak, Sasori merasa kesal. Ia tidak tahu ada hubungan apa antara gadis incarannya dengan wali kelasnya. Ia tidak akan menyerah. Tidak ada kata menyerah dalam kamus kehidupan seorang Akasuna Sasori. Naruto harus jadi pacarnya. Rambutnya yang pirang dan kepribadian Naruto yang menawan sangat serasi bagi dirinya yang memiliki warna rambut mencolok dengan kepribadian yang berlawanan.
__ADS_1
Tbc