Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
Chapter 9


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjam tanpa izin


Pair sasufemnaru


Genre murid, guru, cinta


Karakter di ff ini rata - rata ooc


Banyak typo bertebaran meski sudah diedit


Happy reading minna san


Hari ini genap satu bulan pemuda tampan berambut raven dengan gaya ekor ayam. Akhirnya ia mendapatkan upah pertamanya sebagai sang pengajar. Penantian yang sangat lama. Harusnya is lebih memilih sebagai pekerja kantoran daripada sebagai pengajar. Namun ia terpaksa menerima pilihan itu agar tidak dijodohkan oleh orang tuanya. Ia juga tinggal sendiri di rumah kontrakan yang terbilang kecil, sempit dan sederhana jika dibandingkan tempat tinggalnya sebulan lalu yang melihat mewah dan besar dengan banyak pelayan. Sekarang Sasuke mengurus segala sesuatu seorang diri.


Sasuke bersyukur atas pilihannya. Dengan menjadi seorang guru, ia menemukan sosok gadis yang akan menjadi belahan jiwanya. Ya ia bertemu dengan gadis bernama Namikaze Naruto. Gadis yang sangat polos, baik hati, pintar meski terkadang tidak pekanya minta dipeluk. Hanya Naruto lah gadis yang tidak tergila - gila padanya. Yang hanya menganggapnya sebagai seorang guru dan wali kelasnya. Tidak lebih. Itulah yang membuat pemuda yang menginjak usia 22 tahun itu semakin penasaran dan ingin memilikinya sebagai kekasih.


Saat ini Sasuke sedang berada di tempat parkiran motor menunggu siswinya yang berada di toilet.


Seorang gadis pirang dengan rambut diikat kuda berlari ke arah Sasuke. Gadis itu Naruto. Siswi pujaan Sasuke. Rambutnya tidak dibuat dango karena ia harus memakai helm jadi dengan terpaksa Naruto harus mengubah gaya rambutnya.


"Maaf telah membuat Mr menunggu lama." ucap Naruto yang terlihat lelah habis berlari.


"Hn." balas Sasuke. Ia memerhatikan Naruto dari atas rambut hingga ujung kakinya. Sempurna. Ia ingin mengatakan hal itu tapi karena gengsinya yang terlampau tinggi membuatnya terdiam.


"Ayo naik." gumam Sasuke. Ia menyerahkan helm berwarna biru kepada Naruto yang langsung Naruto pakai.


"Mr, kita mau ke mana dulu? Tugasku kan belum selesai." tanya Naruto.


"Besok lagi saja tugas mah. Sekarang kita pulang tapi kita mampir dulu. Kau ingin ku traktir apa?" ucap Sasuke menawarkan traktiran sebagai upah karena telah membantunya menyelesaikan tugasnya.


"Hm..ramen saja lah." jawab Naruto.


"Yakin? Hanya ramen?" tanya Sasuke memastikan.


"Ya ramen. Kalau Mr kekasihku aku akan minta dibelikan satu set majalah manga edisi terbaru. Hehehe." jawab Naruto. Ia tersenyum gugup. Ia keceplosan bicara.


"Ok. Aku akan membelikan benda itu. Cepat naik." balas Sasuke.


"Eh? Tidak perlu, Mr." tolak Naruto. Ia jadi tidak enak hati.


"Sudah. Naik saja. Nanti kita beli setelah makan ramen. Ok." ujar Sasuke. Keduanya pun berangkat.


Kini Naruto dan Sasuke sudah berada di sebuah kedai ramen yang cukup terkenal. Meski tempatnya sederhana dan hanya di pinggir jalan, rasa dan kebersihannya terjamin. Tempat makan ramen favorit tokoh utama di ff ini.


"Selamat datang." sapa sang pemilik kedai a.k.a Paman Teuchi.


"Paman.. Aku mau ramen 2 ya. Yang satu porsi jumbo extra topping naruto dan super pedas ya. Satu lagi porsi biasa!" seru Naruto dengan semangat 45. Ia duduk di salah satu kursi yang berada di dalam kedai(maaf karena thor tidak bisa mendeskripsikannya).


Sasuke duduk berhadapan dengan Naruto. Ia sedang dalam keadaan hati yang berbunga - bunga dan bahagia lahir batin. Bisa berkencan dengan siswi yang ia sukai meski hanya makan ramen di kedai ramen kecil di pinggir jalan. Khas anak sekolah dan anak kosan yang sedang menghadapi tanggal tua.


Beberapa saat kemudian pesanan pun datang yang diantar oleh putri sang pemilik kedai.


"Silakan ramennya.." ucap Ayame putri dari pemilik kedai ramen itu.


"Arigatou, nee - san." balas Naruto.


"Wah..Naruto - chan sedang kencan dengan pacarmu ya.." gumam Ayame sambil tersenyum pada Naruto.


Wajah Naruto dan Sasuke merona merah namun mereka malah memalingkan wajah mereka ke sembarang arah.


"Bu..bukan, nee - san. Dia guruku


di sekolah." bantah Naruto yang masih merona. Ia malu dan juga gugup.


"Ooh.. Tapi masih muda ya dan juga tampan. Nee - san pikir pacarmu lho. Soalnya kalian serasi sekali. Hehehe. Maaf maaf." sahut Ayame. Ia kemudian pamit meninggalkan sepasang sejoli yang sedang merona karena dikira pasangan kekasih.


"Ma..maaf, Mr. Nee - sannya becanda." gumam Naruto yang mendadak salah tingkah.


"Hn." balas Sasuke. Ia juga malu dan gugup tapi ia sembunyikan dengan wajah datarnya.


'Ayame nee - san becandanya begitu. Aku kan jadi malu. Masa teme sensei pantas denganku? Dia kan tampan. Pantasnya sama perempuan dewasa yang cantik juga bukan sama aku yang masih SMA, bocah dan tidak cantik.' batin Naruto merutuki nasib. Ia kurang percaya diri tentang penampilannya. Padahal ia sangat manis dan cantik apalagi dengan rambut ekor kudanya. Ia jadi terlihat lebih dewasa dan anggun.


'Gadis itu saja bilang aku cocok dengan si dobe. Aku jadi tambah semangat untuk menjadikan si dobe tidak peka ini sebagai milikku. Lihat saja nanti. Ku pastikan dobe dango Naruto akan jadi milikku sepenuhnya.' batin Sasuke. Benar - benar terbalik dengan apa yang Naruto pikirkan.


Setelah memakan ramen dan membayarnya, Naruto dan Sasuke segera pergi dari tempat itu. Tidak ada alasan untuk berlama - lama. Tujuan mereka selanjutnya adalah toko buku. Naruto ingin membeli majalah manga terbaru jadi Sasuke membawanya ke toko buku. Awalnya Naruto menolak tapi Sasuke memaksanya jadi Naruto pasrah saja. Dia tidak akan pernah menang dari guru egoisnya itu. Terkadang Naruto berpikir, perempuan yang jadi pacar gurunya harus ekstra sabar menghadapi keegoisan dan kedinginan juga kedataran sang guru. Memangnya ada perempuan seperti itu. Sakura saja mana mungkin sanggup. Itulah yang Naruto pikirkan.


"Naruto..Naruto.. Dobe..!" panggil sang guru muda a.k.a Sasuke. Ia melihat siswinya yang sedang melamun.


"Ah ya? Jangan panggil aku dobe, Mr. Aku tidak dobe!" seru Naruto dengan memasang ekspresi imutnya yang membuat Sasuke ingin membawanya kabur.


"Kau ku panggil tapi diam saja. Cepat ambil barang yang kau inginkan. Keburu gelap." ucap Sasuke. Ia ingin segera ke luar dari toko buku.


"Tidak usah, Mr. Aku jadi tidak enak. Tadi Mr sudah mentraktir ramen. Masa' aku dibelikan juga. Aku tidak mau merepotkan Mr." tolak Naruto sehalus mungkin supaya gurunya tidak tersinggung.


"Ambil saja. Aku tidak merasa direpotkan. Rezeki jangan ditolak. Haram." paksa Sasuke.


"Tapi.." Naruto masih membantah.


"Apa kau mau kuberikan tugas lebih berat lagi, hah?!" gumam sang guru dengan tatapan mengintimidasinya terhadap Naruto.


"Ba..baik, Mr." jawab Naruto, patuh. Bagaimana tidak patuh? Tatapan dari gurunya seakan - akan bisa membunuhnya. Jadi ia mengambil benda yang memang ia inginkan. Sungguh malu - malu rubah Naruto itu.


"Hn. Good girl." ucap Sasuke penuh kemenangan.


Setelah membeli dan membayar benda yang Naruto inginkan, mereka pun segera ke luar dari toko buku.


"Ano..Mr.." gumam Naruto.


"Hn.."


"Tidak jadi. Tapi arigatou ya. Mr memang calon pacar idaman. Hehehe." ujar Naruto sambil tersenyum.


Sasuke merasa senang luar biasa dan panah asmara telah ditembakkan lagi pada dada kirinya.


'Gadis ini benar - benar membuatku tidak waras! Hanya dengan senyuman dan ucapan itu sudah membuatku tidak karuan seperti ini. Apa dia tidak sadar dengan ucapannya. Dia memang dobe.' batin Sasuke. Ia bergejolak dalam hati. Ingin seke menyerang dan membawa Naruto ke tempat sepi tapi ia masih kuat iman jadi hal itu ia urungkan dan juga ia tak mau imagenya sebagai guru rusak akibat menyerang siswinya sendiri. Menyerang bukan membunuh tapi dengan artian lain.


Saat ini kedua sejoli itu telah nangkring di atas motor dengan kecepatan yang sedang. Kalau kecepatan tinggi bisa - bisa nabrak orang. Jalan menuju komplek perumahan Naruto terhalang karena ada proyek perbaikan jalan yang rusak.


"Kenapa berhenti, Mr?" tanya Naruto.


"Kita harus memutar arah. Sedang ada perbaikan jalan di depan sana." jelas Sasuke. Ia memarkirkan motornya yang masih membonceng Naruto.


"Tambah jauh dong. Haaah.." umpat Naruto. Ia sangat lelah dan ingin segera mandi. Ia tak mau berlama - lama dengan wali kelas tampannya itu. Ia berusaha untuk tidak gugup dan salah tingkah saat bersama dengannya.


"Mau bagaimana lagi. Hanya memutar jalan. Lagipula tidak akan lama." gumam Sasuke. 'Masih bisa lebih lama ngebonceng si dobe nih. Hehehe. ' batin Sasuke. Ia tertawa dalam hati.


Keduanya pun berputar arah. Waktu perjalanan mereka jadi semakin lama. Naruto sudah tidak kuat dibonceng oleh gurunya. Ia harus ekstra sabar.


Kedua mata saphirenya tertuju pada sebuah bangunan nan megah mirip istana. Di gerbang depannya tergambar lambang kipas berwarna merah dan putih.


"Sugoii..besar sekali bangunan itu. Rumah apa istana? Mirip istana pangeran Cinderella dalam versi dunia nyata!" seru Naruto. Matanya berbinar - binar. Gerbang yang mereka lewati sangat panjang hampir menyamai tembok raksasa Cina.


"Kau Cinderellanya." tambah Sasuke dengan suara yang hanya bisa ia dengar sendiri.


"Mr bicara apa? Tidak kedengaran!" seru Naruto.


"Dobe dango!" seru Sasuke yang tersenyum di balik helm hitamnya.


"Aku tidak dobe! Rambutku juga sedang tidak dibentuk dango!" seru Naruto dengan ekspresi lucunya. Sasuke menyesal tidak bisa melihat ekspresi yang tengah Naruto tampilkan.


Sekitar 20 meter dari rumah besar yang tadi mereka lewati, sepasang suami istri tak sengaja melihat ke arah mereka dari balik kaca mobil.


"Lho bukannya itu Sasuke?" gumam seorang wanita berambut lurus panjang berwarna raven a.k.a Uchiha Mikoto.


"Tidak ada." sahut sang suami a.k.a Uchiha Fugaku.


"Benar itu Sasuke naik motornya sambil membonceng seorang gadis." ujar Mikoto kukuh.


"Mungkin kau salah lihat." balas Fugaku cuek dan dingin.


"Ah..anata ini. Jarang sekali putra bungsu kita bersama dengan seorang gadis. Sepertinya itu gadis SMA kalau dilihat dari seragam yang ia pakai." gumam Mikoto. Ia berpikir keras untuk mengingat kejadian barusan.


"Jangan berpikir terlalu keras, sayang. Nanti juga putra bungsumu datang ke rumah dan mengenalkannya pada kita." ujar Fugaku.


"Ya. Anata benar. Aku sangat senang sekali!" seru Mikoto seperti anak muda yang baru dapat pacar.

__ADS_1


Naruto sudah sampai di depan rumahnya. Ia membuka gerbang, diikuti oleh wali kelas berambut emo dari belakang yang masih mengendarai motor. Ia berniat bercakap - cakap dulu dengan orang tua Naruto. Niatnya ingin lebih dekat dengan calon mertua. Naruto yang super polos hanya bisa patuh pada kehendak sang guru.


Setibanya di dalam rumah, seperti biasa gadis pirang berikat kuda mengucapkan salam yang langsung disambut oleh sang ibu tercinta, Namikaze Kushina.


Naruto langsung naik ke tangga menuju kamarnya yang ada di lantai 2. Ibunya dan Sasuke mengobrol sebentar. Hanya membicarakan masalah pelajaran dan nilai Naruto. Masalah pembullyan Naruto juga Sasuke sampaikan pada Kushina meski pada awalnya ia berat hati. Namun respon dari sang calon ibu mertua tidak seburuk yang ia pikirkan. Kushina yakin bahwa putri semata wayangnya akan baik - baik saja. Naruto bukan anak perempuan yang suka berbuat onar tapi juga bukan pendiam. Ia akan melawan jika keadaan memang sangat mendesak. Naruto trauma ketika masih duduk di kelas 1 SD pernah mendorong teman perempuan sekelasnya hanya masalah sepele. Karena itu Naruto berjanji tidak akan bertengkat apalagi berkelahi sampai memukul orang. Perempuan harus lemah lembut. Meski terkadang harus bisa bela diri untuk berjaga - jaga jika diserang orang jahat. Tapi sepertinya Naruto tidak butuh. Karena hampir setiap hari wali kelasnya mengantarnya pulang. Guru yang merangkap sebagai bodyguard dadakan.


Ketika Kushina sedang bercakap - cakap dengan wali kelas Naruto, Naruto turun hanya dengan menggunakan sehelai handuk yang yang melilit di tubuhnya.


"Kaasan..! Sabun dan samponya mana? Sudah habis!" seru Naruto. Ia hendak menghampiri ibunya namun langkahnya terhenti karena ia melihat sosok pria yang tadi mengantarnya pulang.


"Kyaa...!" ia bergegas naik ke atas tangga dengan langkah seribu. Ia pikir guru rambut ayamnya sudah pulang. Wajah Naruto sudah merah seperti kepiting rebus. Ia terus mengumpat dalam hati. Tubuhnya sudah ternoda karena dilihat oleh pria lain.


Di ruang tamu tempat sang ibu dan gurunya berbincang - bincang. Wajah Sasuke merona. Ia tak sengaja melihat murid yang ia suka hanya memakai handuk di tubuhnya. Hal - hal berbau mesum mulai terbayang di pikiran jernihnya. Ia segera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran kotor itu. Kalau ada sapu ia pasti sudah menyapu pikirannya.


Kushina selaku seorang ibu dari anak gadisnya hanya bisa tersenyum kaku dan meminta maaf atas tindakan putri semata wayangnya yang kelewat polos. Sasuke sudah tidak kuat dengan pikiran mesumnya karena masih terbayang Naruto yang memakai handuk jadi ia memutuskan untuk segera pamit dan pulang.


Sasuke diantar oleh calon ibu mertuanya hingga depan gerbang. Ketika telah sampai di sana, Minato datang. Ia hanya memberi salam lalu berpamitan untuk pulang. Ekspresi yang Sasuke tampilkan masih datar seperti biasa hanya saja ada sedikit semburat merah yang menghiasi wajah putihnya. Minato bertanya - tanya dalam hati. Ada apa dengan wali kelas putrinya itu? Seperti sudah melihat suatu hal yang memalukan tapi menyenangkan. Ia juga pernah muda. Ia jadi ingat ketika tanpa sengaja salah masuk kamar. Kejadian itu ia alami sebelum berpacaran dengan istrinya. Ia tanpa sengaja membuka pintu kamar Kushina, ia melihat Kushina yang hanya memakai daleman saja. Spontan ia menutup pintu kamar Kushina dan ekspresinya juga sama seperti yang Sasuke perlihatkan.


"Putriku sama polosnya dengan ibunya." gumam Minato. Ia bisa menduga hal demikian karena ia memang pernah mengalaminya. Ia tidak akan marah lagipula tidak mungkin putrinya berperilaku rendah.


Di dalam kamar mandi. Sang gadis pirang yang wajahnya merah mirip buah tomat sedang sibuk berendam di dalam bak mandi berisikan air hangat. Ia membayangkan hal yang beberapa saat tadi terjadi. Mukanya semakin merah. Bisa - bisanya ia turun hanya memakai handuk. Wali kelasnya yang tampan malah melihatnya. Tambah malu dirinya. Mau ditaruh di mana mukanya saat bertemu dengan gurunya nanti.


"Kau memang ceroboh, Naruto!" maki Naruto pada dirinya sendiri. Ia benar - benar malu dan tak tahu harus bersikap apa pada guru yang sudah melihatnya dalam keadaan memalukan.


"Kenapa ekspresinya seperti om - om mesum pedofil? Iih menjijikan." gumam Naruto. Ia merinding ngeri.


🌑🌑🌑🌑🌑🌑🌑🌑🌑🌑🌑🌑🌜🌜


Di malam hari yang tak dihiasi sang bulan. Rupanya sang bulan juga malu menampakkan dirinya. Minato dan Kushina terlihat sedang duduk santai di depan televisi yang menampilkan acara komedi opera van japan. Sesekali Kushina tertawa tidak seperti sang suami yang terlihat murung. Kushina heran dengan sikap suaminya yang merajuk. Ia pun bertanya pada sang suami yang masih tampan di usia yang terbilang tidak muda.


"Ada apa, suamiku? Kau terlihat cemas. Apa yang sedang kau cemaskan?" tanya Kushina dengan lembut. Ia duduk di samping Minato.


"Putri semata wayang kita, sayang. Sekarang ia sudah dewasa. Apa dia sudah pacar? " jawab Minato. Terdengar lirih di telinga sang istri.


"Memang kenapa? Biasanya anata tidak seperti ini. Lagipula..bukannya bagus kalau putri kita sudah punya pacar. Daripada pacaran sama mahluk 2d yang takkan pernah jadi nyata." gumam Kushina. Ia terkadang kesal dengan sikap protektif suaminya.


"Apa ia tidak ada hubungan lebih dengan Sasuke - san?" Minato bertanya pada istrinya. Mungkin saja istrinya mengetahui hal yang ia tak ketahui.


"Mereka kan guru dan murid." jawab Kushina singkat. Ia bersandar di dada bidang suaminya.


"Tapi..menurutku Sasuke - san menyukai putri kita." tambah Minato.


"Kalau iya kenapa, anata? Bukannya itu bagus untuk putri kita? Sasuke - san pemuda yang baik." balas Kushina.


"Dia itu adik direktur perusahaan tempatku bekerja." gumam Minato. Ada nada ragu.


"Apa?!" seru Kushina tak percaya. "Tapi kenapa ia malah menjadi guru? Dia kan bisa menjadi manager di perusahaan kakaknya." Kushina masih tidak percaya dengan apa yang suaminya katakan.


"Aku sendiri tidak tahu. Yang pasti kakaknya memang seorang direktur muda dan juga tampan seperti adiknya, Sasuke - san. Yang paling kutakutkan bagaimana jika mereka pacaran dan kedua orang tua Sasuke - san tidak merestui mereka. Aku yang ayahnya hanya seorang manager biasa." jelas Minato. Ia mengeluarkan semua unek - uneknya.


Kushina tersenyum maklum. Ia menenangkan suaminya. Ia berkata bahwa jodoh ada di tangan mereka. Berdoa saja. Jika mereka bukan jodoh, pisahkanlah mereka tapi jika mereka memang jodoh, dekatkan dan lancarkan segalanya.


Minato pun tenang di pelukan istri cantiknya. Dia juga akan memberikan restunya jika Sasuke memang benar dan serius menyukai putri semata wayangnya.


Skip time. Alur cerita dimajukan sedikit satu hari.


Kemarin adalah hari bagi pemuda berambut raven bergaya ekor ayam mendapatkan gaji pertamanya. Sebenarnya sekarang ia ingin sekali berkunjung ke rumah siswinya tapi atas alasan apa? Ia tidak mungkin berkunjung dengan alasan sekarang adalah malam minggu jadi ia ingin apelin Naruto. Bisa mati di tempat Sasuke.


Ia menghela nafas berat. Derita jadi jones memang tak tertahankan. Padahal dulu dia santai - santai saja meski jones juga. Ternyata cinta bisa membuat segalanya berubah. Yang bisa ia lakukan di malam minggu sepi ini adalah memandangi foto sang murid yang ada di layar ponselnya dengan bertuliskan Namikaze Naruto is Uchiha Sasuke's girlfriend.


Tok tok tok. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Sasuke tak memedulikannya. Suara ketukan pun makin keras. Tidak mungkin hantu yang mengetuk pintu kan? Sekarang masih jam 7 malam. Masih terlalu dini untuk menampakkan diri. Sasuke juga tidak takut dengan hal yang begitu. Yang saat ini Sasuke takutkan adalah tidak bisa menjadikan si dobe dango itu sebagai pacarnya dan tidak mendapat restu dari kedua orang tua sang gadis pujaan hatinya.


Dengan terpaksa ia membuka pintu. Sesosok mahluk tak kasat mata ralat mahluk yang mengaku paling tampan sejagat ff ini tengah berdiri sebari menenteng dua buah bungkusan di tangan kanannya dan sebuah gitar di tangan kirinya.


"Mau apa kau ke sini, baka nii - san? Kenapa tidak pergi ke rumah pacarmu saja?" ejek Sasuke dengan nada sinis tapi pintu tetap ia buka. Kasihan juga kalau sang kakak a.k.a Uchiha Itachi harus berdiri lama di luar.


"Tentu saja mau ngapelin otouto ku yang manis ini." jawab Itachi dengan nada menggoda. Tak lupa dengan kedipan sebelah mata yang bisa membuat para gadis klepek - klepek.


"Sorry. Aku tidak berniat incest dan beryaoi denganmu, baka nii - san. Aku masih suka pada tubuh mulus milik siswiku." tolak Sasuke. Keduanya sudah masuk ke dalam rumah kecil Sasuke dan kini mereka telah berada  ruang tengah yang hanya beralaskan karpet.


"Nani? Kau sudah me.." ujar Itachi namun langsung Sasuke potong.


"Tentu saja tidak. Aku bukan pria bejat. Aku ini seorang pria terhormat dan juga seorang guru. Tidak mungkin aku melakukan hal - hal tak senonoh seperti itu meskipun..aku ingin." jelas Sasuke.


"Syukurlah." Itachi mengelus dada. Ia pun mendudukkan pantatnya di karpet yang cukup nyaman dan melindunginya dari lantai keramik yang dingin.


"Kau bawa apa?" tanya Sasuke dengan pandangan mata yang tertuju pada bungkusan yang kakak sulungnya bawa.


"Aku tidak suka sate kambing." gumam Sasuke dengan nada sedikit kecewa. 'Dasar pelit. Harusnya ia bawa makanan lain untukku. ' batin Sasuke.


Itachi menyerahkan bungkusan lain pada adik bungsunya. "Ini sate ayam untukmu." ujar Itachi. Sasuke menerimanya dengan senang hati walau rasa senangnya tak ia lontarkan.


"Thanks. Akan ku bawakan piring." ujar Sasuke. Ia beranjak dari duduknya menuju dapur.


"You're welcome. Anything for you, my little brother." balas Itachi yang tak mungkin terdengar oleh Sasuke. Ia memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu.


🎶Di sini aku masih sendiri


Merenungi hari - hari sepi


Aku tanpamu..masih tanpamu


Bila esok hari datang lagi


Ku coba tuk hadapi semua ini


Meski tanpa mu..oh..meski tanpa mu


Bila aku dapat bintang yang berpijar


Mentari yang tenang bersamaku di sini


Ku dapat tertawa menangis tersenyum


Di tempat ini aku bertahan..


Naruto..dengarkanlah Sasuke


Apa kabarnya pujaan Sasuke?


Dia di sini menunggumu


Untuk segera menjadi pacarmu


Naruto..dengarkanlah Sasuke


Apakah Sasuke ada di hatinya?


Dia di sini menunggu mu


Untuk segera melamar dirimu, aa🎶


Lirik lagu "suara" by Hijau Daun dengan sedikit merubah lirik.


"Stop, baka nii - san!!" seru Sasuke dengan kerutan amarah di dahinya.


"🎶Stop Naruto mencuri hatimu..hatimu.. Stop.." ujar Itachi.


Sasuke tambah marah dengan kelakuan kakak laki - lakinya yang sangat tidak Uchiha. Ingin ia menghajar dan menendang sang kakak tapi imagenya sebagai guru akan rusak. Jadi ia sabar dan coba bertahan dalam kisah ini🎶. Lah Sasuke malah nyanyi juga.


Itachi dan Sasuke pun memakan sate yang dibawakan oleh Itachi. Itachi iseng melihat ponsel adiknya dengan wallpaper seorang gadis pirang berseragam SMA yang sedang tersenyum. Timbul ide jahil di pikirannya. Ia membuka kode ponsel itu, dia jenius jadi bisa tahu kode ponsel milik adiknya. Kodenya ya "naruto". Nama gadis yang ia sukai saat ini.


Itachi mencari kontak seseorang, kemudian ia memanggil nama yang ada di kontak itu. Sasuke terkejut ketika mengetahui sang kakak berulah. Lantas ia merebut ponsel yang sedang Itachi pegang.


"Dasar baka nii- san! Apa yang sudah kau lakukan?!" seru Sasuke yang emosinya meluap - luap.


Terdengar seorang gadis yang menjawab panggilan telepon tersebut.


"Moshi moshi. Ada apa Mr menelepon saya?" sapa Naruto.


"Aah maaf. Aku tidak sengaja menyentuh kontak namamu." jawab Sasuke yang mendadak salah tingkah. Ia memutuskan panggilan telepon tersebut.


Itachi yang melihat ekspresi adik bungsunya yang baru pertama kali ia tampilkan membuatnya ingin tertawa namun hal itu ia urungkan. Ia takut rumah tempat tinggal adiknya itu rusak akibat kena ledakan amarah sang adik.


"Kenapa diputus panggilannya? Bukannya kau merindukan gadis itu? Dasar tsundere." gumam Itachi yang sibuk memakan sate kambing. Ia tak takut kena darah tinggi. Toh setelah pulang dari rumah adiknya ia akan membeli mentimun dan buah pir yang banyak untuk menurunkan tensinya.


"Diam kau! Aku jadi menganggu acara malam minggunya kan?!" seru Sasuke. Ia masih deg degan saat mendengar suara muridnya lewat telepon.

__ADS_1


Ting. Bunyi dari ponsel milik Sasuke. Itachi melirik ke arah Sasuke. Ekspresi adiknya berubah. Ia tersenyum meski samar tapi sangat aneh bagi sang kakak yang tak pernah melihat adik bungsunya mengirim pesan dengan seorang gadis. Akhirnya si adik pangeran es penolak cinta bisa jatuh cinta juga. Itachi tersenyum dan bersyukur.


Sasuke tidak memedulikan pandangan dari sang kakak. Ia malah asyik berchatting dengan murid tercintanya.


Dobe Dango


Ada apa Mr menelepon?


Apa ada masalah?


Teme sensei


Tidak ada apa - apa


Oh iya, kau tidak malam mingguan di luar, dobe?


Dobe Dango


Aku tidak pernah ke luar malam


Teme sensei juga kenapa?


Apa tidak malam mingguan dengan pacar Mr?


Teme sensei


Aku jones😂


Dobe Dango


Apa?


Aku tidak percaya😑


Teme sensei


Ya aku memang belum punya pacar☺


Dobe Dango


Dih, ngakunya tampan


Pacar saja tidak punya


Tidak laku😝


Teme sensei


Bukan tidak laku


Tapi belum menemukan yang sesuai


Itachi diam - diam membaca obrolan adiknya. 'Ngaku saja kalau otouto sedang menunggunya. Dasar gengsian.' gumam Itachi dalam hati. Padahal ia sendiri juga masih lajang. Masih mencari gadis yang benar - benar tulus mencintainya.


Dobe Dango


Padahal para siswi di sekolah mengejar - ngejar Mr lho


Kenapa tidak pilih salah satu dari mereka???


Teme sensei


Tidak berminat sama gadis bar - bar


Dobe Dango


Oh


Memang tipe gadis idaman Mr seperti apa?


Mungkin aku bisa membantu


'Rasanya sakit ya meski aku sendiri yang berbicara seperti itu.' batin seseorang. Tentu saja Naruto. Sejujurnya ia merasa sangat senang dan bahagia luar biasa ditelepon oleh wali kelas tampannya itu. Tapi lagi - lagi beralasan takut patah hati. Naruto sunggh penakut.


Teme sensei


Bagaimana kalau kau saja😍


Dobe Dango


Jangan becanda😑, Mr


Teme sensei


Kalau begitu nanti aku cari sendiri saja


"Apa susahnya bilang aku menyukaimu. Kau mau kan jadi pacarku. Begitu." ujar Itachi. Ia geli melihat sikap adiknya yang berbelit - belit.


"Aku tidak mau incest denganmu, baka nii - san." ujar Sasuke. Ia tambah sinis pada kakak sulungnya yang memiliki tanda lahir seperti keriput. Terkadang Sasuke berpikir jangan - jangan kakaknya tidak laku karena sudah keriputan?


"Aku juga tidak mau, baka otouto. Dasar." balas Itachi. Adiknya yang super pintar mendadak tak punya pikiran karena tergila - gila pada murid SMA nya.


Sasuke membalas obrolannya lagi. Ia tidak menghiraukan tingkah absurd sang kakak yang selalu menyanyikan lagu patah hati. Sasuke belum patah hati. Ia tidak mau mengungkapkan perasaannya lewat chattingan di ponsel. Ia ingin menyatakan cinta pada saat yang tepat. Misalnya setelah hujan turun di saat pelangi muncul. Pasti dobe dangonya akan menerima pernyataan cintanya. Ia pun tersenyum. Itachi merinding melihat adiknya tersenyum.


Sementara itu, Naruto yang baru saja patah hati. Ia merasa sangat kesal tapi buat apa ia kesal. Ia kan tidak menyukai wali kelasnya itu. Tanpa memedulikan perasaan anehnya, ia segera membalas pesan dari Sasuke.


Dobe Dango


Nanti perkenalkan padaku ya, Mr


Teme sensei


Ok


'Aaah..kok tambah sakit ya. Tahu gini tadi aku terima saja tawaran untuk jadi pacar teme sensei itu. Aaaah..' batin Naruto. Ia jadi galau. Manga yang tertumpuk di atas kasurnya tidak bisa menghiburnya. Rasanya ia ingin merobek majalah manga yang kemarin gurunya belikan. Tapi tidak mungkin. Masa dirobek? Kan sayang. Pikir Naruto.


Di lain tempat, Sasuke merasa bersalah karena membalas pesan Naruto dengan kata ok. Ia sangat menyesal.


Dobe Dango


Mr, arigatou ne


Majalah manga yang kemarin Mr beli


Teme sensei


Do itashimashite☺


Dobe Dango


Ada bonus cd dan poster tokoh idolaku lho😍


Tampan...sekali😍😍😍


Teme sensei


Aku lebih tampan😎]


Dobe Dango


Ooh😒


Tampan dan jones


Sasuke merasa kesal tepatnya cemburu. Cemburu karena murid tercintanya memuji pria lain. Sasuke lebih tampan dari tokoh idolanya itu. Ia memakan sate dengan sangat banyak. Itachi sampai memarahinya yang langsung dihadiahi perkataan - perkataan pedas dari orang yang ia marahi.


"Sabar, otouto. Jangan ngamuk gitu.." ujar Itachi😅


"Shit. Aku harus melakukan apa supaya ia membaca kode dariku. Kalau begini aku bisa melajang terus." gumam Sasuke pundung di sudut ruangan😭. Benar - benar tidak berperikeuchihaan tingkahnya.


"Gadis itu istimewa sekali ya. Kau pasti akan mendapatkannya. Tenang ya, otouto." ujji nenangkan Sasuke dan hendak memeluk adik bungsu kesayangannya itu namun ia malah ditendang oleh sang adik. Inginnya diamaterasu tapi itu hanya di anime dan manga yang Sasuke baca. Oh iya Sasuke juga penggemar serial anime ninja yang sama dengan Naruto. Jadi guru dan murid sesama otaku meski Naruto lebih parah.


Ponsel Sasuke masih bergetar. Dia masih berkirim pesan dengan murid incarannya itu. Semangatnya kembali naik setelah pundung di sudut ruangan tadi. Itachi sebagai penonton hanya bisa tertawa melihat tingkah adiknya yang tidak sangat Uchiha. Ia ingin merekam kelakuan adiknya tapi ia urungkan. Kasihan kalau adik tercintanya jadi bahan bullyan ibu kandungnya. Uchiha Mikoto yang super yandere.


"Sasuke, kau harus gerak cepat. Nanti dia direbut orang lho." ujar Itachi sebari memetik senar gitarnya.


"Hn. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." balas Sasuke dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Ya. Terserah kau saja. Tapi ku sarankan agar kau cepat menyatakan perasaan cintamu pada gadis itu. Bukannya gadis kurang peka. Kalau dibiarkan seperti ini bisa - bisa hubunganmu dengannya hanya hubungan antara guru dan murid. Cepatlah bertindak. Lebih cepat lebih baik." ujar Itachi. Ia menceramahi Sasuke dengan panjang lebar. Adiknya hanya bisa diam dan berpikir. Benar juga apa yang kakaknya katakan. Ia akan segera menyatakan perasaannya pada Naruto secepatnya. Tekad Sasuke sudah bulat.


Tbc


__ADS_2