Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
chapter 22


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjam tanpa izin


Ide cerita asli milik thor


Jika ada kesamaan maka hanya kebetulan


Genre : guru, murid, cinta


Pair : sasufemnaru and other


Sifat karakter beda dengan di anime dan ooc


Typo bertebaran


Cerita gaje


Happy reading


Di pagi menjelang siang, terlihat dua sosok wanita berbeda surai dan usia tengah asyik berbincang - bincang di teras belakang rumah mereka, kediaman Namikaze yang sederhana, indah penuh dengan tanaman bunga, buah serta sayur dan juga nyaman untuk ditinggali. Bersyukurlah sang suami, Namikaze Minato mendapatkan seorang istri yang rajin dan pintar berkebun juga mengurus suami dan putri semata wayang mereka. Sang kepala keluarga selalu bersyukur atas segala apa yang ia peroleh saat ini.


"Ne, Naru - chan. Kau kenapa? Akhir - akhir ini kamu kayak ada masalah. Apa kamu lagi berantem sama Sasuke - kun? Cerita sama kaasan, ya?" tanya Kushina. Ia sedang mengepang rambut pirang putrinya.


"Bukan sama Sasuke - kun, kaasan. Tapi sama ketiga temanku. Ino, Hinata dan Sakura. Aku gak tahu kenapa mereka berubah," jawab Naruto. Ia tampak nyaman saat ibunya sedang mengepang rambut panjangnya.


Kushina berpikir sejenak. "Berubah kenapa, Naru - chan?"


"Mereka jadi aneh, kaasan. Nyuruh aku tuk mutusin si te..Sasuke - kun karena ada siswa baru yang ganteng dan juga keren," jawab Naruto. Ia sedikit kesal.


"Eh? Masa sih bilang gitu? Kamu salah denger kali," balas Kushina. Ia bertanya balik pada putrinya yang mungkin salah mendengar perkataan dari teman - temannya.


"Bener kok, kaasan. Padahal mereka sendiri yang bikin aku lebih deket sama Sasuke - kun dan bikin kami jadian tapi kenapa mereka malah ngomong gitu. Kan aneh, kaasan," jelas Naruto panjang lebar dan menggemaskan.


Kushina tersenyum saat putrinya menjelaskan masalah yang sedang terjadi pada putrinya. "Oh begitu. Itu bukan masalah yang berat kok sayang," ucap Kushina sebari menyelesaikan acara mengepang anak gadisnya yang sedang memasuki fase kedewasaan.


"Terus? Aku harus gimana? Kita jadi jarang kumpul lagi. Mereka asyik bertiga dan jadi fansnya murid baru itu," gumam Naruto masih kesal dan bingung.


"Mungkin..ketiga temanmu hanya ingin menguji perasaanmu kepada Sasuke - kun. Apa Naru bisa setia atau mudah terpikat pada pesona murid baru itu? Itu yang kaasan pikirkan," jelas Kushina.


Naruto berpikir. Ia masih belum mendapatkan jawaban dan tidak mengerti dengan ucapan dari ibunya. Nilai tinggi dalam bidang pelajaran tak membuatnya pintar dalam menelaah masalah hidup di dunia nyata.


"Ooh. Aku ngerti sekarang, kaasan!" seru Naruto. Ia berdiri dari duduknya yang sontak mengagetkan ibunya sendiri.


"Mereka lagi nguji kesetiaan seorang Namikaze Naruto terhadap Uchiha Sasuke. Hn..ok. Akan ku terima ujian itu dan ku buktikan pada dunia kalau Namikaze Naruto adalah gadis paling setia di muka bumi ini. Hehehe!" seru Naruto sebari berkacak pinggang sebari tersenyum sinis layaknya penjahat dalam film bergenre kriminal.


"Hahaha. Kau memang putri kaasan, Naruto!" seru Kushina sebari memeluk Naruto. Keduanya tertawa bersama. Minato yang baru saja datang hanya bisa bersweatdrop dengan keadaan dua wanita yang paling ia cintai di dunia.


'Putriku sangat mirip dengan ibunya. Hanya warna rambut, mata dan kepintaranku yang menurun padanya. Sikap dan sifatnya sangat mirip dengan ibunya,' batin Minato. Ia memerhatikan kedua wanita yang paling berharga di hidupnya.


Sang kepala keluarga Namikaze yang membawa beberapa lembar map, berjalan menghampiri sepasang ibu dan anak yang sedang asyik bercengkrama dan bersenda gurau bak sahabat karib.


"Wah..tousan tidak diajak berdiskusi nih. Kalian seru sekali. Apa ada yang tousan lewatkan? Kalian tertawa dan bahagia berdua saja tanpa mengajak tousan yang tampan ini," ujar Minato pura - pura pundung duduk di sudut dinding dekat teras.


Naruto berjalan dan berjongkok mendekati ayahnya. "Tousan mau tahu saja. Itu urusan perempuan lho. Tousan kan laki - laki. Hehe," kata Naruto sebari tersenyum.


Minato mengusap kepala kuning putrinya. "Hai, hai. Wakatta, Naruto - chan, putri tousan yang cantik," balas Minato. Ia mengusap kepala Naruto penuh kasih sayang. Rasa kasih sayang antar ayah dan putrinya.


"Tousan mau ke mana? Kan kerja libur. Pake baju santai tapi bawa map gitu?" tanya Naruto seraya mengambil map yang dipegang Minato. "Uchiha corp?"


"Tousan ada perlu. Itu adalah proposal yang tousan edit sebelum diberikan kepada Itachi - san. Jadi tousan akan memberikannya hari ini. Supaya Itachi - san bisa memeriksanya " jawab Minato. Ia segera mengambil map dari tangan Naruto.


"Ke kantor? Bukannya libur?" tanya Naruto. Ia penasaran.


"Ke kediaman Uchiha," jawab Minato.


"Ooh. Aku kira tousan mau pergi ke kantor di hari Minggu ini," balas Naruto. Ia segera melangkah kembali ke tempat ibunya.


"Oh iya, Naruto. Kau mau ikut dengan tousan kan pergi ke kediaman calon mertuamu?" ajak Minato.


Naruto menoleh ke belakang tepat ke tempat ayahnya berdiri. "Nggak. Aku di rumah aja, tousan. Malu ketemu ayah ibu Sasuke - kun," tolak Naruto. Mukanya mendadak merona. Ia ingat ketika berhadapan dengan sang calon ayah mertua. Rasa takut dan gugup masih bisa ia rasakan hingga detik ini.


"Pergilah, Naru. Temani tousanmu. Siapa tahu pangeran tampanmu ada di sana," bujuk Kushina sebari memegang kedua bahu Naruto.


"Dia mungkin lagi di rumahnya, kaasan," tolak Naruto. Bersikeras tidak ingin ikut.


"Siapa tahu Sasuke - kun ada di kediaman Uchiha. Kan bisa ketemu. Ayolah, Naru," bujuk Kushina tapi putrinya masih menolak. "Kalo kamu gak mau ikut, kaasan...akan..." paksa Kushina dengan aura merah membara yang muncul dari sekujur tubuhnya.


"Ba..baik. A..aku akan ke sana. Aku akan ikut dengan tousan, kaasan," jawab Naruto pasrah. Ia tidak ingin terkena amukan dari sang ibu dalam mode monster. Ia takut koleksi manganya dibuang atau dibakar ibunya.


Kushina tersenyum puas karena berhasil membujuk ralat mengancam putri kesayangannya untuk pergi bersama ayahnya ke kediaman Uchiha.


"Cepat ganti bajumu, Naru! Rambutmu kan sudah cantik, jadi bajumu juga harus diganti. Masa pergi ke rumah calon mertua pakai piyama? Ayo ikut, kaasan!" ajak Kushina sebari menarik Naruto untuk bersiap - siap.


"Tunggu sebentar ya anata!" teriak Kushina yang sudah berjalan jauh dari hadapan Minato.


"Ya!" jawab Minato dengan suara agak kencang. "Dasar. Kenapa aku bisa menikahi Kushina ya? Ia memang cantik dan juga penuh semangat. Begitu pula dengan Naruto. Cantik, manis dan juga selalu bersemangat. Si bungsu Uchiha itu beruntung sekali mendapatkan putriku. Kalau si ayam sampai membuat Naruto menangis, hm. Aku tidak akan membiarkannya hidup dengan tenang dan kan ku cukur ekor ayam kebanggaannya itu," gumam Minato. Was - was. Ekspresi wajahnya tak kalah seram dari istrinya. Jangan sepelekan orang yang selalu tenang dan sabar. Karena saat orang itu marah maka akan lebih berbahaya. Anggota keluarga Namikaze diam - diam berbahaya. Sangat sesuai untuk keluarga Uchiha yang dingin, tegas dan juga menakutkan.


Beberapa menit kemudian. Naruto sudah siap untuk pergi ke kediaman Uchiha.


"Ayo, putriku. Kita buat si bungsu Uchiha bertekuk lutut padamu!" ujar Minato sebari menarik tangan putrinya.


"Hah?" beo Naruto. Ia tidak mengerti dengan kata - kata yang ayahnya ucapkan.


"Sayang, kami berangkat dulu ya," ujar Minato yang dibuntuti oleh Naruto di belakangnya.


"Kami berangkat, kaasan," tambah Naruto.


"Hati - hati di jalan! Anata jangan ngebut bawa motornya!" seru Kushina sebari melambaikan tangan kanannya.


'Pake motor? Semoga tousan bawa motornya gak pelan - pelan dan bisa lancar,' batin Naruto. Ia berdoa supaya bisa selamat sampai tujuan meski harus naik motor dengan ayahnya yang Naruto anggap masih belum bisa selancar dan sehebat kekasih tampannya.


Beberapa menit kemudian pasangan ayah dan anak perempuan itu tiba di depan gerbang kediaman Uchiha. Naruto merasa pegal di seluruh perrmukaan kakinya. Duduk dan dibonceng di motor oleh ayahnya merupakan hal yang tak ia inginkan. Jika saja ibunya tidak mengancamnya maka ia tidak akan ikut ayahnya untuk pergi ke kediaman Uchiha.


Minato pun memencet bel lalu tak beberapa lama sang penjaga keamanan a.k.a security membukakan gerbang serta mempersilakan mereka untuk masuk. Kunci motor Minato titipkan kepada sang security untuk diparkirkan.


"Tolong ya, Ebisu - san," pinta Minato terhadap seorang security yang bername tag Ebisu.


"Tentu saja, Namikaze - san," jawab Ebisu. Ebisu pun memarkirkan motor Minato.


Minato dan Naruto pun berjalan memasuki kediaman Uchiha yang megah, besar dan mewah. Mereka disambut oleh para pelayan yang cantik dan masih muda.


Mereka tiba di ruang tamu dan disambut oleh tuan besar pemilik kediaman yang lebih pas disebut mansion daripada rumah.


"Wah..Minato. Selamat datang di kediaman Uchiha," sapa Fugaku sang tuan besar Uchiha dengan ramah tapi ekspresinya datar.


"Ah..terima kasih, Fugaku. Kau sudah menyambut kami," balas Minato. Keduanya berpelukan.


Naruto yang melihatnya merasa aneh dan jijik. 'Gak kebayang kalo mereka berdua jadian. Iyuh,' batin nista Naruto yang mendadak berubah menjadi seorang fujoshi.


Fugaku dan Minato pun melepaskan pelukan mereka. Fugaku melirik ke arah Naruto.


"A...konnichi wa, paman Fugaku," sapa Naruto. Ia tersenyum kaku dan gugup.


"Kau juga ikut ya, Naruto," balas Fugaku. "Silakan duduk, Minato dan Naruto," tambahnya.


Minato dan Naruto pun segera duduk.


Tak lama sang nyonya besar Uchiha datang menghampiri mereka. Mikoto tersenyum saat melihat Naruto sedang duduk di samping ayah Naruto.


"Naruto!" seru Mikoto sebari berjalan menghampiri Naruto. Naruto segera berdiri dari duduknya dan menyapa sang calon ibu mertua. "Konnichi wa, bibi Mikoto," sapa Naruto tersenyum ramah dan menundukkan kepala.


"Kok bibi? Bukannya waktu itu kau memanggilku dengan ibu? Ibu saja ya. Ok, sayang," balas Mikoto. Ia meminta Naruto untuk memanggilnya ibu. Bukan meminta tapi terkesan memerintah.


"I..iya, ibu," jawab Naruto. Mikoto memeluk calon menantunya dengan erat. "Nah gitu dong. Ibu senang mendengarmu memanggilku ibu," gumam Mikoto setelah melepaskan pelukannya terhadap Naruto. Naruto dan Mikoto duduk di sofa bersebelahan.


"Oh iya. Minato, Naruto, mau minum apa? Jangan sungkan - sungkan," ujar Mikoto. Ia menyambut kedatangan kedua tamunya sangat ramah apalagi yang datang adalah sosok sang penolong dan juga calon istri putra bungsunya.


"Anda tidak perlu repot - repot, Mikoto - san. Kami hanya sebentar," tolak Minato dengan sopan.


"Kenapa sebentar?" tanya Mikoto. Ia merasa kecewa saat mendengar kata - kata dari Minato.


"Lalu, apa yang membuatmu kemari, Minato?" tanya Fugaku.


"Aku hanya ingin mengantarkan proposal yang Itachi - san minta," jawab Minato.


"Paman Minato!" seru Itachi baru saja datang setelah joging. "Wah..paman tidak perlu repot - repot mengantarkan proposalnya. Tadinya aku mau nyuruh Sasuke mengambilnya," tambahnya seraya menerima map dari Minato.


"Tidak repot. Lagipula bukankah lebih cepat itu lebih baik," balas Minato.


Itachi melirik Naruto kemudian tersenyum. "Halo adik ipar!" sapa Itachi.


"Ha..halo juga, Itachi - nii," balas Naruto.


"Adikku masih tidur sih. Padahal pacarnya lagi datang berkunjung. Huh!" seru Itachi iseng.


Sasuke yang kebetulan baru bangun dari tidur tampannya karena semalaman ia membantu kakaknya menyelesaikan tugas kantornya. Ia baru bisa tidur di jam 4 pagi.


Sang bungsu Uchiha berjalan memasuki ruang tamu karena mendengar kakaknya yang super aneh menyebutkan namanya dengan keras.


"Berisik, baka nii - san.." gumam Sasuke. Ia terkejut melihat calon ayah mertuanya beserta calon istrinya sedang duduk di sofa ruang tamu. Mendadak Sasuke menjadi gugup saat Naruto melihatnya. Wajahnya merona. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Naruto dan ayahnya.


'Tuh..aku jadi ketemu si teme. Firasat kaasan bener banget,' batin Naruto. Ia juga gugup.


Mikoto menyadari keadaan di sekitar menjadi canggung akibat putra bungsunya yang baru saja bangun tidur dan masih memakai celana bokser dan kaos putih tipis dan polos.


"Sasuke, cepat mandi!" ujar Mikoto. Ia tersenyum melihat tingkah putranya yang aneh, unik dan langka.


Sang putra bungsu Uchiha pun segera berjalan meninggalkan kelima orang yang diam mematung karena melihat tingkah anehnya.


Naruto tersenyum. "Sasuke - kun lucu. Ups.." gumam Naruto. Ia keceplosan berbicara.


Itachi yang duduk di sebelah Naruto pun tertawa. "Ya kau benar. Sasuke lucu sekali. Haha."


Mikoto pun ikut tertawa beserta kedua kepala keluarga berbeda marga itu. Mereka menertawakan tingkah lucu bungsu Uchiha yang sangat tidak Uchiha.


Beberapa saat kemudian. Minato bangkit dari duduknya dan pamit kepada kedua Uchiha senior namun Mikoto melarang Naruto untuk pulang. Ia ingin gadis pirang itu berada lebih lama di rumahnya. Lagipula putra bungsunya belum bertemu kekasihnya dengan benar. Jadi Mikoto memaksa Naruto supaya tidak pulang. Minato setuju. Ia tahu keinginan istri sahabatnya harus dikabulkan. Jika tidak, Fugaku lah yang selalu terkena efek dari kemarahan sang nyonya Uchiha. Tersimpan kepribadian yang sangat mirip dengan istrinya di balik sikap tenang dari sang nyonya Uchiha.


Minato pun pamit pulang terlebih dahulu. Sementara itu putri semata wayangnya ia tinggalkan di kediaman Uchiha seorang diri. Naruto ingin pulang tapi ia juga ingin bertemu dengan kekasih tampannya. Harusnya Sasuke sudah selesai mandi dan segera menemuinya tapi sang pangeran tampan bersurai raven dan mirip ekor ayam itu belum menunjukkan batang hidungnya di depan si gadis pirang.


Mikoto tersenyum melihat gerak - gerik calon menantunya. Ekspresi Naruto bisa menggambarkan suasana hati yang sedang ia rasakan. Benar - benar mudah ditebak dan lucu.


"Sebentar lagi juga Sasuke selesai mandinya. Mungkin ia sedang memilih pakaian yang akan ia pakai, Naruto - chan," gumam Mikoto. Ia meminum teh yang ada di atas meja di hadapannya. Naruto hanya tersenyum dan menggangguk.


Tak lama Sasuke datang dengan baju santainya. Ia hanya memakai kaos dan celana jeans panjang. Benar - benar santai. Tapi yang namanya pria tampan pakai baju apa saja tetap tampan dan keren. Itu yang ada di pikiran si gadis pirang yang kebetulan tidak ada dango di kedua sisi kepalanya. Sebelum pergi ke kediaman Uchiha, ibunya menata rambut pirang panjangnya hingga membuat seorang Uchiha Sasuke tak berkedip saat melihat penampilan kekasihnya yang sangat berbeda.

__ADS_1


"Sasuke. Kenapa kau berdiri di situ? Kayak kesambet jin," tanya sang ibu Sasuke kepada putra bungsunya yang sedari masuk ke ruang tamu hanya diam mematung. Memandangi kekasihnya yang berpenampilan berbeda dan sangat mempesona.


"Kaa..san," gumam Sasuke tersadar dari kegiatan melamunnya.


Mikoto dan Fugaku berdiri lalu meninggalkan Naruto, Itachi dan Sasuke.


"Naruto - chan, nanti siang ibu ingin minta bantuanmu. Bisa kan?" tanya Mikoto sebari menoleh ke arah Naruto.


"Iya. Tentu saja bisa, i..bu," jawab Naruto. Kemudian sepasang tuan dan nyonya Uchiha berlalu.


Sang bungsu Uchiha perlahan berjalan mendekati kekasih pirangnya. Suasana mendadak canggung. Biasanya mereka tidak akan seperti itu. Terkadang becanda, saling mengejek, dan juga sangat akrab. Entah apa yang membuat sepasang sejoli itu diam tak bersuara.


Itachi dibuat bingung atas tingkah sepasang kekasih di depannya. Malu - malu rubah. Padahal ia sedang ingin menyaksikan adegan roman picisan di depannya sebelum bekerja di ruang kerja khusus di dalam kamar pribadinya. Tak kuat dengan rasa bosan yang melanda, Itachi pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan kedua sejoli yang masih betah diam tanpa kata.


Beberapa saat kemudian. Sang gadis pirang a.k.a Naruto menyelipkan helaian rambut pirangnya yang menghalangi matanya.


Blush. Seketika wajah Sasuke merona. Ia tidak apa yang terjadi padanya hari ini. Gadisnya terlalu manis hingga membuat dirinya tak berkutik. Bahkan untuk berbicara pun tidak mampu.


"A..ano..Sa.." gumam Naruto. Ia tidak nyaman dengan keheningan yang sedang ia rasakan. Seperti di kuburan saja. Padahal kekasihnya tidak pernah mendiamkannya selama ini.


"A..apa ada yang salah denganku, Sasuke - kun?" tanya Naruto. Ia memasang ekspresi imutnya.


"Tidak," jawab Sasuke. Ia lupa dengan dua huruf andalannya. Hn.


"Syukurlah," tambah Naruto. Tak lupa ia tersenyum lebar ke arah kekasihnya yang sedang gugup.


πŸ’˜πŸ’˜Deg. Panah asmara telah melesat tepat ke arah jantung sang bungsu Uchiha. Wajahnya merona. Tingkahnya sungguh sangat tidak berkepriuchihaan.


Naruto dibuat heran oleh sikap kekasihnya yang sedari tadi selalu diam. "Ne, teme! Kau kenapa sih? Diem mulu," ujar Naruto. Ia mulai naik darah dengan sikap kekasih tampannya itu.


"Tahu gini tadi aku pulang," tambahnya.


Sret. Sasuke menarik tengkuk Naruto lalu mencium bibirnya. Mata Naruto membelalak. Ia terkejut atas tindakan Sasuke yang tiba - tiba menciumnya. Mode diamnya telah berubah menjadi mode mesum.


"Te..mmph..puah.." Naruto bisa bernafas lega setelah Sasuke berhenti menciumnya. "A..apa yang kau lakukan?! Te..me?!πŸ’’" seru Naruto. Ia merasa kesal, malu dan grogi menjadi satu.


"Hn," jawab Sasuke tidak jelas. Ia kembali pada sifat aslinya. Datar bak talenan. Seolah - olah kejadian barusan tidak terjadi.


"Ukh..dasar teme ekor ayam!" seru Naruto kesal sebari menampilkan ekspresi lucu dan imutnya


Sasuke tertawa pelan. Ia mencubit kedua pipi tembem kekasih mungilnya.


"Su..akit, teme.." Naruto meringis sebal. Namun kekasihnya malah tersenyum tampan tanpa berkata apa - apa. Wajah Naruto merona. Kekasihnya itu semakin hari semakin tampan saja. Bagaimana bisa ia meninggalkan Sasuke?


"Kamu cantik sekali hari ini, dobe," bisik Sasuke tepat di dekat telinganya.


Blush. Untuk kesekian kalinya dirinya merona. Wajahnya sudah merah padam. Mungkin asap akan ke luar dari kepalanya.


Sasuke menyeringai. Ia ingin membawa gadisnya ke kamar pribadinya. Namun sekarang bukan saatnya. Naruto masih menjadi muridnya. Terlebih lagi ia tidak ingin menikah muda. Jadi, sang pemuda tampan bersurai raven itu harus bisa menahan hasrat untuk bercinta dengannya.


Pikiran mesum segera ia hilangkan. Berada berdua dengan Naruto membuat seorang Uchiha bungsu lupa diri. Selain sikapnya yang berubah saat di depan Naruto tapi perasaan dan pikirannya malah menjadi mesum. Sekarang ia mengerti jika laki - laki selalu bertindak aneh ketika bersama dengan perempuan yang disukainya. Masa puber Sasuke tidak ia lalui dengan benar dan baik. Ia hanya belajar dan belajar. Beruntunglah ia memiliki kekasih yang masih remaja dan polos. Jika tidak, harga dirinya sebagai laki - laki mungkin akan terinjak oleh wanita yang menjadi kekasihnya.


Naruto masih sibuk dengan perasaan malu dan gugupnya. Sementara itu kekasihnya malah seenaknya berbuat mesum padanya. Mencium rambut Naruto, membelainya. Lalu menyingkirkan surai pirang gadisnya yang menghalangi leher kuning kekasihnya.


Sasuke sangat tergoda melihat leher jenjang gadisnya. Tanpa aba - aba, ia segera mencium dan menghisap leher jenjang kekasihnya. Dan Naruto pun mendesah. Namun, kegiatan tak senonoh sang bungsu Uchiha terhenti ketika mendengar langkah kaki seseorang yang sedang menuju ke tempat mereka berada.


"Ne, Naruto - chan. Kamu bisa bantu bantu ibu kan?" Mikoto, sosok yang telah mengganggu kegiatan Sasuke dan menyelamatkan Naruto, datang sebari membawa sebuah kotak yang ukurannya lumayan besar.


"I..iya, bu. Apa yang bisa Naru bantu?" tanya Naruto. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Mikoto.


"Ayo ikut ibu!" ajak Mikoto. Naruto pun berjalan mengikuti calon ibu mertuanya meninggalkan Sasuke yang merasa kecewa karena terganggu oleh kedatangan sang ibu.


Sasuke pun melangkah mengikuti ibunya dan Naruto.


Naruto terus berjalan mengikuti langkah sang calon ibu mertua. Begitu pula dengan Sasuke yang tiba - tiba muncul dan berjalan di sampingnya dengan wajah tanpa dosa.


'Untung ibunya si teme datang. Kalo gak, bisa habis aku digerayangi sam si ayam hentai ini. Tapi...kenapa aku diam saja ya? Kya...pesona si teme sih tiada duanya. Kalo fansgirlnya yang ada di posisi aku pasti mereka udah pingsan ngelihat ekspresi si teme yang menawan dan menggoda itu,' batin Naruto. Ia tersipu dan juga berdebar - debar. Malu, nolak, marah tapi mau. Begitulah gadis remaja yang sedang dimabuk asmara. Sepertinya ia sudah tidak terlalu menjadi otaku karena kekasihnya sudah memenuhi semua isi kepalanya.


"Do be," bisik Sasuke sebari menyeringai jahil tepat di telinga kekasihnya. Ia mengagetkan kekasihnya yang sedang sibuk melamun.


πŸ’’"Teme!! Jangan mengagetkanku?!" seru Naruto. Ia kesal dan juga menyesal telah melamunkan sosok pria tercintanya.


"Hn." Hanya itu yang Sasuke gumamkan. Ia berjalan mendahului Naruto. Sedangkan Naruto terus menatap tajam kepada kekasihnya yang sangat menyebalkan tapi ia menyukainya.


"Aku emang bodoh. Suka sama laki - laki kayak gitu," gumam Naruto pelan.


Mereka pun tiba di depan pintu berwarna merah bata. Sasuke mengernyitkan alis. Ia merasa tak pernah melihat ada ruangan dengan warna pintu bercat merah bata. Dan juga ruangan itu seperti menyimpan sebuah misteri.


Mikoto menyerahkan kotak yang ia bawa kepada putranya. Lalu mengambil kunci yang ada di saku rok sepan yang ia pakai dan membuka pintu berwarna merah bata itu.


"Wow..!" Naruto merasa kagum melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.


Sasuke terkejut dengan pemandangan yang ia lihat. Rumah luas kediaman Uchiha memang memiliki banyak kamar yang aneh tapi kamar yang mereka masuki juga tak kalah aneh.


"Nah. Selamat datang di rumah mode milik Uchiha Mikoto!" seru Mikoto sebari menunjukkan seisi ruangan yang dipenuhi oleh patung manekin lengkap dipakaikan pakaian dan juga tumpukan bahan, benang, dan juga mesin jahit.


Naruto tak berhenti memandangi seisi ruangan dengan tatapan kagumnya. Ia tidak menyangka jika nyonya besar Uchiha memiliki hobi menjahit pakaian.


"Hebat..!!" seru Naruto. Ia berjalan mengelilingi ruangan. Menyentuh patung manekin dan henti - hentinya terpukau dengan pemandangan yang calon ibu mertuanya suguhkan. Sasuke hanya menggelengkan kepala karena tidak mengetahui kegiatan ibunya dan juga ada ruangan mirip butik dan tempat menjahit di kediaman calon.


Mikoto berjalan mendekati sebuah manekin yang mengenakan setelan pakaian lucu dan menarik. Lalu ia membuka pakaian itu.


"Nah, Naruto - chan. Sini!" perintah Mikoto dengan lembut.


Naruto segera berjalan menghampiri Mikoto. "Ya, bu. Ada apa?" tanya Naruto ingin tahu.


"Eh?" beo Naruto.


"Pakai di sana!" Mikoto menunjukkan jari telunjuknya ke sebuah kamar yang dihalangi tirai berwarna hijau tua. "Ayo sayang. Ibu ingin melihatmu mengenakan rancangan ibu," pinta Mikoto.


"Ba..baik, bu. Aku akan memakainya," jawab Naruto. Ia bergegas pergi dari hadapan Mikoto dan Sasuke. Sasuke hanya berdiri dengan kedua tangan yang ia letakkan di depan dadanya.


Beberapa saat kemudian, Naruto ke luar dari balik tirai dengan wajah merah dan tersipu malu. Ia menundukkan kepalanya ke bawah. Mikoto tersenyum puas melihat Naruto mengenakan pakaian rancangannya. Sasuke memandang kekasihnya dengan perasaan takjub. Ia melihat penampilan Naruto dari atas rambut hingga ujung kaki.


"Sem pur na," ungkap Sasuke.


Naruto semakin merona ketika penampilannya dipuji oleh Sasuke. "Arigatou," balas Naruto tersenyum manis yang sontak mengalihkan pandangan sang Uchiha bungsu ke mana saja tapi tidak ke arah gadisnya. Naruto terlalu manis dengan pakaian yang dirancang oleh ibunya.


"Kya..!! Kau sangat manis, Naruto - chan! Ayo coba baju yang lain lagi! Ibu tidak sabar ingin melihatmu mencoba semua baju!" seru Mikoto. Ia tampak bersemangat untuk mendadani calon menantunya yang manis. Naruto hanya bisa pasrah akan kelakuan aneh calon ibu mertuanya. Tapi ia senang. Dirinya tidak lagi gugup di hadapan ibu kekasih tampannya itu. Sedangkan Sasuke, ia duduk di kursi sambil memainkan ponsel kekasihnya yang tadi ia ambil di saku celana kekasihnya. Terkadang ia mengambil foto dan video kegiatan dua wanita yang paling ia cintai di dunia di kehidupannya. Senyum pun terukir di wajah tampannya.


"Syukurlah kau bisa akrab dengan ibuku, dobe," gumam Sasuke senang.


πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…


Sebuah mobil mewah terparkir di depan gerbang kediaman Namikaze. Seorang gadis pirang bertubuh mungil ke luar dari dalam sebari menjinjing beberapa tas belanja. Sebenarnya bukan tas belanja melainkan tas biasa dan isinya baju - baju yang ia coba saat di ruangan pribadi nyonya Uchiha tadi siang.


"Hn. Kau senang sekali ya hari ini," gumam Sasuke dengan nada dingin, sinis dan datar.


Naruto menatap tajam dan sinis juga pada kekasihnya namun berubah menjadi senyuman bahagia.


"Ne, Sasuke - kun. Ibumu baik sekali ya. Juga ramah dan penuh semangat. Tidak sepertimu yang dingin, datar dan tak bersemangat. Huh!" ujar Naruto mengejek kekasihnya sendiri.


Kemudian Naruto berjalan ke tempat Sasuke berdiri yakni di samping mobil kakak sulungnya.


"Apa Sasuke - kun tidak mau masuk dulu? Aku mau masuk nih. Dingin lho di luar," gumam Naruto.


"Tidak usah. Lagipula sudah sore. Besok juga ketemu," tolak Sasuke.


"Oh. Ok. Kalo gitu, aku masuk dulu ya. Jaa te..". Sebelum Naruto melangkah, Sasuke menarik tubuh mungilnya dan mencium bibir peach Naruto. Meski ciumannya tak lama tapi sukses membuat si gadis pirang merona merah dan mendidih karena malu.


"Te..me!!" seru Naruto. Ia kesal, malu dan gugup.


"Hn. Cepat masuk, dobe!" perintah Sasuke menyeringai puas telah membuat kekasihnya kesal dan merona.


"Ya. Jaa..mata ashita, teme sensei no baka!" seru Naruto. Ia menjulurkan lidahnya kepada sang kekasih.


"Awas kau, Naruto!" seru Sasuke tak terima diejek oleh kekasih sekaligus siswi di sekolah tempatnya mengajar. Ia benar - benar ke luar dari karakter Uchihanya.


πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„


Keesokan harinya. Si gadis pirang yang saat ini tengah bergelut dengan surai pirangnya yang harus ia buat dango tapi ia tidak mendangokan rambutnya karena bangun kesiangan dan juga sang penjemput sudah datang menjemputnya.


Saat ini, ia sudah berada di dalam ruang kelasnya. Naruto melupakan suatu hal yang sangat penting yakni menanyakan ide yang harusnya sudah ia ketahui. Sasori si murid baru menyebalkan itu malah berjalan menghampirinya sebari membawa bungkusan berbentuk hati berwarna pink.


Sasori sang murid baru tertampan dan terkeren se - SMA Konoha, berjalan dengan angkuh dan tersenyum tampan ke tempat Naruto duduk.


"Buenos dias, senorita," sapa Sasori sebari bergaya mengusap rambut merahnya yang menawan dan tersenyum tampan sehingga para siswi yang kebetulan ada di sekitar gadis pirang merasa kagum dan tergila - gila.


"Heh? Kamu ngomong apa, Sasori - san?" tanya Naruto terheran - heran. Tidak ada binar kagum atau memuja di mata saphirenya. Yang ada hanya rasa aneh dan tidak suka. Sikap Sasori sungguh menyebalkan dan berlebihan bagi gadis yang tidak sepeka Naruto.


"Selamat pagi, cantik," sapa Sasori. Ia mengulangi sapaannya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh gadis pirang secerah matahari itu.


"Oh. Selamat pagi juga," balas Naruto dengan nada tidak suka dan jutek. Ia melirik ke bungkusan yang Sasori pegang.


"Ano..ini untukmu, Naruto - san. Coklat berbagai macam rasa yang enak dan lumer di mulut buatan koki asli Prancis di rumahku," ujar Sasori dengan bangganya sebari menyerahkan bungkusan coklat itu kepada gadis pujaannya.


"Oh. Arigatou," balas Naruto. Ia menerima bungkusan yang berisi coklat itu lalu membukanya dan membagikannya kepada teman - teman di seluruh kelasnya. Sontak Sasori kesal dan marah terhadap Naruto.


"Apa yang baru saja kau lakukan, Naruto?" tanya Sasori. Ia menatap intens terhadap Naruto.


"Memberikannya kepada semua teman sekelas. Coklat segitu banyaknya gak bisa aku habisin sendiri. Jadi aku ngasih ke teman - teman," jelas Naruto santai. Ia bahkan tidak mendapatkan coklat bagiannya.


"Kau..πŸ’’" Sasori ingin marah tapi ia tahan karena tidak mau merusak imagenya sebagai idola SMA Konoha yang terkenal akan sikap Sasori yang baik, ramah, sopan, pintar, dermawan dan penuh percaya diri.


"Aku semakin menyukaimu, Naruto - san," ungkap Sasori. Tak lupa ia tersenyum tampan. Senyum palsu.


Naruto bergidik ngeri. Ia semakin kesal dengan Sasori. Senyumannya itu mirip dengan senyuman Sai yang palsu dan mengandung makna yang berbeda.


Naruto melirik ke ketiga teman dekatnya tapi ketiga temannya tetap tidak mempedulikannya. Ia telah terbiasa selalu sendiri karena ia seorang otaku yang sering kali dianggap aneh oleh orang lain. Tapi ia kesepian. Ino, Hinata dan juga Sakura sudah menjadi sahabat dekat mereka sejak kelas 10 SMA meski Sakura baru akrab dengannya sejak ada Sasuke.


"Haaah.." Naruto menghela nafas.


"Apa kau sedang dalam masalah, cantik?" Sasori bertanya pada Naruto. Sontak Naruto terkejut. Ia tidak menyangka jika murid rambut merah itu masih ada di dekatnya.


"Mungkin..bisa aku bantu," ujar Sasori tersenyum ramah.


'Kirain udah pergi nih kepala merah,' batin Naruto.


Naruto bangkit dari duduknya. Awal harinya di pagi hari sungguh melelahkan. Namun di saat ia berjalan hendak ke luar dari ruang kelas, sang wali kelas muncul dan menabrak wajah manis si gadis pirang itu.


"Kau mau ke mana, Naruto?" tanya sang wali kelas a.k.a Sasuke. Ia memegang kedua bahu siswinya. Nada bicaranya tak berbeda. Tetap dingin dan datar.


"Ah. Mr. Maaf," gumam Naruto. Ia segera berbalik arah dan kembali ke tempat duduknya.


Sasori juga kembali ke tempat duduknya. Ia memandang wali kelasnya dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


"Peng gang gu," gumam Sasori dengan pelan. Nyaris tak terdengar. Sasuke tidak mengindahkan tatapan sinis dari murid barunya itu.


Skip time. Di jam istirahat. Kali ini Naruto sedang duduk di tempat lain bersama ketiga teman laki - lakinya. Gaara, Shikamaru dan Sai yang tengah galau karena kekasih mereka masih belum berubah.


"Haaah..". Keempat orang itu menghela nafas bersamaan.


"Dasar budak cinta," gumam seseorang yang rambutnya mirip ekor ayam. Ia datang dan langsung duduk di samping Naruto. Mereka ada di taman belakang sekolah tempat Naruto dan Sasuke makan siang bersama.


"Anda juga sama, Mr," Jawab Sai.


"Sudahlah. Kalian masih muda. Cepat makan. Aku sebagai guru kalian tidak mau nilai kalian turun hanya karena masalah cinta," gumam Sasuke serius layaknya seorang guru. Tapi ia malah membaringkan kepalanya di paha kekasihnya tanpa sadar situasi.


"Mr. Perkataanmu beda dengan tindakanmu," gumam Gaara. Ia masih tidak percaya jika pemuda yang masih muda dan tengah dilanda asmara dan juga bermesraan dengan sahabat pirangnya adalah seorang guru yang sayangnya pintar dan berbakat. Naruto sungguh beruntung.


"Merepotkan. Sepertinya kita harus cepat melancarkan rencana kita," tambah Shikamaru. Ia menyenderkan punggungnya di dinding beton bersih.


"Rencana apa, Shikamaru? Aku penasaran sekali," sahut Naruto. Ia tidak diberi tahu oleh ketiga teman laki - lakinya serta kekasihnya.


"Jangan sekarang. Kita lihat saja jumat nanti. Lagipula si merah itu belum mengerahkan semua serangan rayuan gombalnya pada kekasihku," tambah Sasuke. Ia kesal dan cemburu tapi ia terpaksa harus mengorbankan gadis pirangnya untuk melancarkan rencananya dengan ketiga muridnya.


"Huh. Teme pelit! Aku kan ingin tahu rencana itu!" seru Naruto sebari memasang ekspresi lucu dan imutnya.


Gaara, Shikamaru dan Sai merasa dejavu karena melihat adegan mesra sepasang sejoli di depan mereka yang semakin membuat mereka galau dan iri.


'Dasar guru mesum tak sadar diri, ' batin Gaara, Shikamaru, dan Sai.


"Oh iya. Mengenai Ino, Hinata dan Sakura.." ujar Naruto.


Seketika ketiga temannya yang sibuk dengan kegiatan masing - masing memerhatikan Naruto.


"Aku akan berbicara dengan mereka bertiga. Serahkan saja padaku. Ku pastikan mereka kembali ke pelukan kalian!" ucap Naruto penuh percaya diri.


"Baiklah," balas Sai. Tersenyum palsu.


"Kami serahkan padamu,Β  Naruto," tambah Gaara. Ia tersenyum.


"Biar kami yang mengurus si murid baru itu," sahut Shikamaru.


"Ok," balas Naruto. Ia tersenyum. 'Mudah banget bilang pasti. Nyatanya aku gak tahu bisa tahu gak. Tapi coba dulu saja. Aku pasti bisa!' batin Naruto.


Sasuke tersenyum sebari menggenggam kedua tangan kekasihnya yang sedikit bergemetar.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Teng teng. Bel pertanda pelajaran terakhir pun berbunyi. Semua murid ke luar dengan riang mirip murid SD. Begitu pula dengan Naruto dan teman - teman sekelasnya. Namun si gadis pirang berkuncir dua tanpa dango itu berdiri menghalangi ketiga teman perempuannya yang hendak lewat.


"Aku ingin bicara dengan kalian bertiga di toilet perempuan," pinta Naruto dengan ekspresi serius.


Ino, Hinata dan Sakura saling melirik. "Baiklah," jawab ketiganya bersamaan.


Naruto tersenyum lega. Mereka berempat pun berjalan meninggalkan ruang kelas yang sudah sepi. Hanya ada beberapa siswa siswi yang sedang piket. Termasuk si murid baru, Sasori.


"Naruto! Pulang bareng yuk!" ajak Sasori sebari menghapus papan tulis.


"Gomen. Aku ada tugas dari Mr. Sasuke. Jadi gak bisa," jawab Naruto dari kejauhan.


"Wah..sayang sekali ya.." balas Sasori tanpa dipedulikan oleh Naruto.


Sasori memasang tampang seram


'Sial! Tuh guru mgehalangin rencanaku terus. Lihat saja nanti. Naruto akan bertekuk lutut padaku,' batin Sasori penuh percaya diri.


Naruto dan ketiga temannya sudah berada di dalam toilet perempuan. Ia memilih tempat itu supaya tidak ada yang bisa mendengarnya. Terutama Sasori. Ia curiga jika si kepala merah itu ambil andil merubah sikap ketiga temannya.


"Nah, Naruto. Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ino. Ia penasaran.


"Sejujurnya..aku tidak suka sama sikap kalian. Kalian berubah semenjak Sasori datang. Malah kalian ingin aku jadian sama si merah cabe itu," jawab Naruto. Ia merasa sedih dan kecewa.


"A..apa yang kamu katakan, Naruto? Kami tidak berubah kok. Bener kan, Hinata?" sahut Sakura. Hinata mengangguk.


Naruto mulai berkaca - kaca. "Tapi..kalian menjauhiku. Dan juga malah nyuruh aku buat mutusin si teme sensei itu. Kan jahat," ujar Naruto. Ke luar sisi cengeng dan sensitifnya.


Ino menepak bahu Naruto. "Bukan begitu, Naruto. Kami hanya ingin tahu, apa kamu juga terpesona sama Sasori - kun? Soalnya semua siswi terpikat dan mengaguminya. Bisa saja kamu juga terpesona dan ninggalin Mr. Sasuke," tambah Ino.


"Gak mungkin. Mana mungkin aku begitu!" seru Naruto. Ia merasa perasaanya terhadap Sasuke tidak dalam dan tidak serius. "A..apa yang telah Sasori lakukan pada kalian? Apa yang ia berikan? Hadiah? Coklat? Tiket nonton konser boyband? Baju? Tas? Uang?" tanya Naruto yang mirip mengintrogasi tahanan di kantor polisi.


Ino, Hinata dan Sakura diam mematung. Ternyata dugaan Naruto benar. Ketiga temannya dapat disuap dengan barang ataupun uang.


"Kalian diam berarti perkataanku benar. Aku sangat kecewa pada kalian. Tapi..jangan bawa pacar kalian juga. Mereka sahabatku. Kalo kalian diminta oleh si kepala merah untuk menjauhiku jangan bawa mereka juga!" tambah Naruto. Ia mengepalkan kedua tangan di kedua sisi roknya. Rasanya ingin menghajar dan mengirim Sasori ke dunia lain.


"I..itu..se..sebenarnya.." Hinata bermaksud menjelaskan tapi perkataan Naruto memang benar. Ketiga gadis itu sedang membutuhkan apa yang Naruto ucapkan. Jadi ia bingung harus berkata apa.


"Oh iya. Sekali lagi aku katakan pada kalian. Aku akan tetap setia pada Sasuke - kun. Meski Sasori setiap hari merayu dan memberikanku coklat ataupun makanan. Apalagi uang. Katakan itu padanya!" ujar Naruto dengan cukup keras.


Tangannya ditarik Ino. "Naruto, maafkan kami. Kami sangat bersalah padamu. Sebenarnya kami..." Ino gugup dan tak bisa berkata - kata.


"Baiklah. Aku yang akan ceritakan semuanya. Jadi, Naruto. Aku pikir kamu harus kirim pesan dulu sama Mr. Sasuke. Takutnya beliau nunggu dan khawatir," ujar Sakura.


"Ok." Naruto pun merogoh kantong saku roknya untuk mengambil ponsel. Setelah mengirim pesan, ia segera memasukkan kembali ponselnya. "Kenapa aku harus ngirim pesan sama Mr. Sasuke? Apa ceritanya bakal panjang dan lama?" tanya Naruto ingin tahu.


Hinata mengangguk. "Kita bicara di tempat lain saja. Masa di toilet," ajak Hinata.


Keempat gadis itu ke luar dari toilet dan menuju taman belakangan yang sering Naruto jadikan tempat beristirahat dan pacaran dengan kekasihnya.


"Sepertinya bakal lama deh," gumam Naruto. Ia duduk di antara Ino dan Hinata. Sementara Sakura duduk di depannya.


"Dengarkan baik - baik ya, Naruto. Kami mau ngejelasin yang sebenarnya terjadi. Kami juga gak mau kamu salah paham terus. Ok," pinta Sakura dengan tenang. Naruto mengangguk.


Sakura pun mulai bercerita.


Kejadian itu terjadi ketika Naruto tidak masuk dikarenakan sakit dan setelah mengalami insiden hantaman bola. Seorang murid pindahan dari luar kota masuk ke kelas 11 ipa 2. Namanya adalah Akasuna Sasori. Wajahnya sangat tampan bak boyband dari negeri seberang. Keberadaannya membawa pengaruh yang cukup besar. Para siswi yang awalnya selalu mengidolakan guru bahasa Inggris Uchiha Sasuke, kini mereka menjadi fg Sasori. Sang guru muda tersebut tidak merasa keberatan malah ia senang karena tidak ada siswi lagi yang mengganggu dan memberikannya hadiah apalagi saat Naruto tidak ada.


Nama Namikaze Naruto juga cukup populer di kalangan siswa semenjak kasus pembullyan sebelum liburan musim panas lalu. Hanya saja para siswa tidak berani mendekatinya karena ia selalu bersama wali kelasnya. Sejak saat itu timbul kabar jika Naruto menjadi kekasih wali kelasnya. Namun para siswa tidak pernah membahas kabar itu lagi. Mereka takut kepada guru muda itu a.k.a Sasuke. Tatapannya saja menakutkan apalagi jika sampai kena marahnya. Jadilah para siswa yang diam - diam menyukainya hanya bisa gigit jari dan mengagumi kebaikan, keramahan, kepintaran dan kecantikannya dari jauh.


Akasuna Sasori. Sang murid yang menjadi idola. Ia selalu digandrungi oleh para siswi cantik dari tingkat junior, angkatan yang sama bahkan para siswi senior juga mengidolakannya. Wajah tampannya sungguh dapat membius kaum hawa yang melihatnya. Kecuali tiga gadis di kelasnya. Ino, Hinata dan Sakura. Mereka bertiga hanya mengaguminya saja. Tidak seperti siswi lain yang tergila - gila padanya.


Sasori merasa kesal karena ada gadis yang tidak menyukainya. Ia berinisiatif untuk menggoda ketiganya namun hasilnya gagal. Mereka bertiga malah mengatakan jika pesonanya kalah oleh pesona wali kelas mereka Uchiha Sasuke. Tentu saja Sasori marah terhadap ketiga gadis itu. Tapi tidak ia tunjukkan secara kasar namun secara lembut. Hasilnya selalu saja gagal. Malah lebih ekstrim lagi. Sasori menyatakan cinta terhadap ketiga gadis itu secara bersamaan. Alhasil ia mendapatkan bogem mentah dari ketiga gadis berbeda surai itu.


Bisa - bisanya dirinya yang tampan, pintar, menawan dan kaya ditolak dan dihajar oleh perempuan. Selama ini ia tak pernah ditolak malah ia yang selalu menolak pernyataan cinta dari para gadis. Sekilas mirip dengan kisah cinta wali kelas mereka hanya saja kepribadian mereka yang bertolak belakang.


Di hari ketiga Sasori masuk sekolah, ia melihat seorang gadis pirang berjalan ke arahnya. Ia pikir gadis itu akan menghampirinya dan menyatakan cinta padanya. Ternyata bukan. Gadis itu adalah teman sekelasnya. Mungkin saja siswi baru. Ia menyapa gadis itu dan si gadis menjawab. Pesona yang Sasori pancarkan tidak terpengaruh terhadap gadis itu.


Sasori merasa kesal karena semakin banyak gadis di kelasnya yang tidak menyukainya. Pesona ketampanannya kalah oleh seorang guru yang usianya lebih tua darinya. Bahkan mukanya saja mirip talenan dan tembok kelasnya yang sangat datar. Sikapnya pun dingin. Bicara saja seperlunya. Serta tidak pernah merespon kepada para penggemarnya. Sama sekali tidak ada bagus - bagusnya.


Gadis itu membuatnya tertarik. Ia menyukai gadis itu dari pandangan pertama. Warna rambutnya yang cerah dan juga senyumnya yang manis. Sasori semakin ingin memiliki gadis itu dengan berbagai cara termasuk cara licik.


"Tunggu. Maksudmu..si kepala merah itu memang melakukan cara licik?" tanya Naruto memastikan cerita yang baru saja Sakura ceritakan.


Sakura mengangguk. "Awalnya kami percaya kalo dia tuh tulus dan kami nerima bantuan dari dia. Kan gak baik kalo nolak rejeki," Hinata menambahkan.


Naruto masih bingung dengan cerita Sakura dan Hinata.


"Ya singkatnya..dia bertingkah baik, tulus, dan juga ramah hanya karena ingin mencari perhatian darimu, Naruto " tambah Ino.


Naruto berpikir. Terus berpikir. Sepertinya otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Kau memang dobe, Naruto," gumam seseorang yang sedari tadi mendengarkan cerita mereka dari awal berdiri sebari menyenderkan punggungnya di balik pohon besar di dekat ketiga gadis itu.


"Mr. Sasuke?!" seru Naruto dan ketiga temannya. Mereka sangat terkejut dengan kehadiran wali kelas mereka yang tak terdeteksi.


Sasuke berjongkok di hadapan Naruto. Sakura sudah terlebih dulu bergeser. Ketiga gadis itu merasakan hawa tidak menyenangkan dari sang guru muda nan tampan itu.


Naruto bingung sendiri. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada wali kelasnya sekaligus kekasihnya.


"Bagaimana menurutmu, manis?" tanya Sasuke. Ia menarik dagu runcing kekasihnya sebari menyeringai licik dan mesum. "Apa yang akan kau lakukan?"


"A..aku..aku.." Naruto sangat gugup hingga tak bisa menjawab pertanyaan dari kekasihnya yang dalam mode es. Dingin, datar dan menyeramkan.


Ino, Hinata dan Sakura menjauh dari sepasang sejoli beda status yang sedang saling pandang itu.


CupπŸ’‹. Sasuke mencium siswinya tanpa izin dari siswi tersebut. Ciuman yang cukup panas. Sang pelaku adegan mesum itu merasa kesal dan panas ketika kekasihnya membicarakan laki - laki lain.


Wajah Ino dan kawan - kawan merona seketika. Mereka tidak menyangka akan melihat adegan mesra sahabat dengan guru mereka berciuman di depan mata mereka.


"Te..teme!! Apa yang kau lakukan?!" seru Naruto. Naruto bangkit dari posisi duduknya. Ia kesal serta menahan malu. Kekasihnya benar - benar mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Hn. Hukuman karena kau tidak bisa datang tepat waktu, asistenku," balas Sasuke menyeringai mesum. Ia pun berdiri dan kembali menyender di pohon. "Teruskan saja diskusinya. Anggap aku tidak ada."


Ino, Hinata dan Sakura kembali duduk di dekat Naruto. Sahabat pirang mereka sedang dalam mode serius. Kemarahan orang yang jarang marah lebih seram dari orang yang suka marah - marah.


"Lalu? Bagaimana menurutmu, Naruto?" tanya Hinata. Ia penasaran dengan keputusan teman pirangnya itu.


"Ya..mau bagaimana lagi. Kalian simpan saja barang dan uang yang telah si merah itu beri. Tapi..kalian tidak boleh mengulanginya lagi. Biarkan si merah itu aku yang urus," ujar Naruto. Ia sudah duduk kembali di tengah di antara Ino dan Hinata. Seperti posisi tadi.


"Maksudmu?" tanya Sakura. Ia tidak mengerti maksud dari kata - kata Naruto.


"Maksudku, kalian jangan mau disuap sama si Akasuna itu. Kalo dia mau ngedeketin aku ya harus dengan jantan dong. Jangan nyuap teman - teman dekatku," jelas Naruto. Sakura, Ino dan Hinata mengangguk. "Lagipula aku tidak suka sama sikapnya itu. Mau jadi pahlawan padahal dia yang bikin masalah," tambahnya.


Sasuke tersenyum tipis. Ia mengerti maksud dari gadis pintarnya itu.


Naruto tersenyum. "Nah..Ino, Hinata dan Sakura. Besok katakan pada si Akasuna Sasori kalo kalian udah ngebujukku. Jadi hentikan acara menyuap itu. Rayu dan baju aku. Buktikan kalo dia benar - benar suka padaku. Jangan maen belakang. Ok," jelas Naruto.


Pletak. Kepala Naruto dijitak Sasuke.


"Sa..sakit, Mr," keluh Naruto.


"Kalau kau jadi suka sama dia, bagaimana?" tanya Sasuke. Ia tampak cemburu, cemas dan takut kehilangan gadis manisnya itu.


Naruto tersenyum. Ia bangkit dari duduknya. "Tenang saja, Mr. Aku gak akan kepincut sama dia. Kan aku udah punya Mr. Hehe," jawab Naruto. Mukanya merona.


"Hn," balas Sasuke. Ekspresinya berubah. Ia bisa percaya kepada gadisnya. "Aku tunggu di ruang guru. Jangan sampai telat ya, do be," ucap Sasuke. Berlalu meninggalkan Naruto dan ketiga temannya.


"Baiklah. Kami akan melakukan apa yang tadi kamu katakan, Naruto," ujar Hinata.


"Kamu pasti bisa, Naruto!" seru Ino. Ia tersenyum tulus.


"Semangat buat ngalahin Sasori ya, Naruto! Aku yakin kalo kamu gak akan tergoda sama Sasori," tambah Sakura.


"Ya. Aku akan berusaha'ttebayo!" seru Naruto. Tersenyum penuh percaya diri.


Sakura, Ino dan Hinata memeluk Naruto bersama - sama seraya berkata, "maafkan kami, Naruto. Kami salah menilaimu."


"Tidak apa - apa. Yang penting kita a kumpul - kumpul lagi," balas Naruto. Ia tersenyum senang. Rasa kesepiannya telah hilang. Meski ia senang akan sendirian tapi berkumpul bersama dengan temannya yang sudah menjadi sahabat dekatnya, lebih baik dan menyenangkan.


'Kau akan merasakan akibatnya, Akasuna Sasori. Naruto pasti berhasil,' batin Naruto.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2