Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
chapter 13


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjam tanpa izin


Ide cerita asli milik thor


Jika ada yang sama itu hanya kebetulan semata


Genre : murid, guru, cinta, persahabatan


Pair : sasufemnaru and other


Sifat para tokoh berbeda dengan versi anime dan manga


Karakter ooc


Typo di mana meski diedit


Cerita gaje


Happy reading


Liburan musim panas akan segera berakhir. Naruto dan teman - teman perempuannya telah menyusun jadwal untuk acara penutupan liburan musim panas, di antaranya adalah melihat kembang api setelah berkeliling di tempat festival musim panas yang terletak di sebelah selatan Konoha City. Mereka sedang berkumpul di kediaman Hyuuga Hinata.


"Ne, Naruto. Apa kau mau mengajak Mr. Sasuke ke festival nanti?" tanya Hinata pada Naruto yang sedang asyik membaca mangaonline lewat ponsel pintarnya.


"Hn. Entahlah. Akhir - akhir ini si kepala ayam itu sibuk. Sampai - sampai jarang mengirim pesan padaku," jawab Naruto dengan nada kecewa.


Hinata dan Ino mengerti apa yang sedang teman pirangnya itu rasakan. Mereka juga pernah mengalaminya. Tidak diberi kabar oleh kekasih. Sebenarnya Ino dan Hinata mereka sudah berpacaran dengan pacar masing - masing sebelum kenaikan kelas. Hanya saja mereka tidak tega melihat sahabat baik mereka masih melajang.


Tiba - tiba Naruto menatap tajam pada kedua sahabatnya, Ino dan Hinata. Yang ditatap langsung begidik ngeri. Tak lama kemudian, Naruto memasang senyuman yang tak bisa kedua temannya artikan.


"Hn..aku heran pada kalian," gumam Naruto tiba - tiba dan meniru gaya bicara kekasihnya. Ia seperti tengah merajuk dan galau. Galau karena kekasih. "Selama ini di pikiranku tuh cuma ada anime, manga dan pelajaran sekolah. Tapi pas si ayam itu jadi pacar aku, serasa ada yang aneh. Kayak ada yang hilang. Rasanya gak lengkap hidupku kalo gak ada pesan dari dia." Naruto terus mengeluh kepada kedua temannya dengan gaya alaynya.


"Kalian pasti tahu apa yang lagi aku rasakan. Jadi tolong bantu aku," pinta Naruto. "Aku gak mau kayak gini terus," tambahnya. Ia seperti orang yang hampir putus asa.


Ino menghela nafas. "Itu artinya kamu lagi kangen sama dia.Β  Kamu bener - bener suka dan ngebutuhin dia," ujar Ino. Ia berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah Naruto pahami.


Naruto berpikir sejenak. Otaknya memang encer dan pintar jika digunakan untuk menghitung tapi menyangkut perasaan ia tidak bisa berpikir dan menyimpulkan apa yang teman pirangnya katakan.


"Ino dan Hinata kan sudah lama pacaran sama Sai dan Shikamaru. Berarti kalian lebih jago dalam hal kayak gitu ketimbang aku," ucap Naruto. Ia masih saja belum mengerti.


Ino dan Hinata menegang. Ia takut Naruto marah karena telah menutupi kebenaran bahwa mereka telah berpacaran.


"Ayolah, Hinata, Ino. Aku bener - bener galau nih. Si ayam sih ngilang begitu aja. Kalau ketemu, ku bikin ayam geprek baru tahu rasa dia! Sekalian tuh kepala ekor ayamnya yang bulunya hitam ku bikin kemoceng!" seru Naruto berubah jadi sadis. Ia merasa kesal dan juga sedih.


"Sudahlah, Naruto. Sabar ya." ucap Hinata sebari mengelus punggung Naruto yang saat ini Naruto sedang berbaring menyamping di atas paha Hinata. Mirip anak kecil yang sedang ingin dimanja ibunya.


"Mungkin pacarmu sedang sibuk. Biasanya emang gimana?" Ino berusaha menenangkan sahabat. "Dia selalu mengirimkan pesan untukmu kan?" Naruto mengangguk. "Jadi, bersabar dan percayalah pada pacarmu, Naru."


"Kau benar, Ino. Arigatou ne," ucap Naruto. Ia sudah mulai tenang sekarang. "Aku pulang dulu ya. Udah sore nih."


Naruto segera bangun dari posisinya. Ia mengambil tas selempang yang ada di samping Ino. Ia merogok ke dalam tasnya dan mengambil ponselnya. Ia pun mengirimkan pesan kepada seseorang yang tak lain adalah kekasihnya dari seminggu yang lalu.


'Sasuke - kun, teme sensei. Jangan lupa makan. Jangan kecapean juga ya. Ok. Love you, your dobe dango Naruto. Send. Semoga si teme sensei itu ngebaca pesan ini,' batin Naruto penuh harap.


Tak berselang lama ponsel Naruto bergetar dan menampilkan pesan.


"Arigatou, ore no dobe dango. Gomen ne, aku masih harus membantu Itachi - nii dengan segudang pekerjaannya. Calon ayah mertuaku juga membantuku. Beliau juga sudah merestui hubungan kita. Jadi, bersabarlah, Naru. Nanti kita pasti bisa bertemu. Akan ku usahakan. I love you my princess". By : Uchiha Sasuke.


Seketika raut wajah Naruto berubah. Yang tadinya ia bermuram durja, sekarang sudah kembali cerah secerah warna rambutnya yang blonde. Ia tersenyum membaca pesan dari seseorang yang sangat ia rindukan.


Ino dan Hinata tersenyum. Naruto mereka telah kembali ceria dan cerah. Senyum juga tak luput dari wajah manisnya karena Naruto memang orangnya murah senyum dan periang.


"Ino, Hinata, arigatou. Kalian udah mau dengerin curhatanku," ucap Naruto sebari memeluk kedua temannya.


"Dou itashimashite," balas Hinata. Ia juga turut senang.


"Kau tidak perlu sungkan pada kami. Kita teman kan," tambah Ino.


Naruto mengangguk. "Emh. Kalo gitu, aku pulang dulu ya. Sampai ketemu besok malam. Bye!" seru Naruto.


"Hati - hati, Naruto!" seru Ino dan Hinata.


Naruto pun pulang dengan berjalan kaki. Ia masih merasa senang karena mendapat pesan dari gurunya yang telah menjadi kekasihnya. Ia bersenandung di setiap langkahnya. Tanpa ia sadari seorang gadis seumuran dengannya memanggilnya.


"Naru! Naruto!" panggil gadis itu.


Naruto menoleh. "Eh, Sakura. Aku pikir siapa."


Sakura yang sedang berada di pekarangan rumahnya segera ke luar menghampiri Naruto.


"Kau dari mana, Naruto? Sendiri aja," tanya Sakura. Ia menoleh ke kanan ke kiri namun tidak ada siapa - siapa.


"Emang sendiri," jawab Naruto singkat tapi dengan ramah.


"Kirain sama pacar barumu," gumam Sakura. "Oh iya, gimana hubunganmu sama dia? Lancar kan?" tanya Sakura. Ia tertarik pada kisah asmara temannya dengan wali kelasnya sendiri. Ia menganggap kisah cinta mereka seperti kisah cinta di drama Korea kesukaannya.


"Lancar kok," jawab Naruto sedikit ragu dengan jawabannya sendiri.


"Kok kayak gak yakin gitu?" tanya Sakura. "Oh iya, Naru. Menurutku, kamu harus lebih sabar dan peka sama Mr. Sasuke yang dingin itu. Aku yakin semuanya akan baik - baik saja," ucap Sakura. Ia tersenyum tulus sebari menepak bahu si gadis pirang. Sepertinya Sakura tahu apa yang sedang Naruto rasakan.


Naruto tersenyum. Ia mengerti maksud dari perkataan Sakura. "Ya. Aku mengerti. Arigatou, Sakura." Naruto menjeda perkataannya. "Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan si rakun merah itu?"


"Rakun merah? Gaara?" beo Sakura.


"Iya. Aku perhatikan kalian dekat sekali. Hayoh...kalian jadian ya," ejek Naruto menggoda Sakura.


Wajah Sakura memerah. "A..aku hanya dekat saja dengan dia," gumam Sakura malu - malu.


Naruto menyenggol bahu Sakura. "Dekat - dekat? Nanti juga jadian. Hehehe," ujar Naruto tertawa. Sakura masih malu. "Aku harap kalian cepet - cepet jadian deh. Aku jalan lagi ya, Sakura. Bye."


"Bye. Hati - hati, Naruto. A..Arigatou," balas Sakura. Ia tersenyum.


Sepuluh menit kemudian, Naruto tiba di kediaman rumahnya. Ia segera membuka gerbang lalu berjalan menuju teras. Ia tidak menyadari sesuatu karena terlalu sibuk memikirkan pesan dari kekasihnya. Ia bergegas membuka pintu rumah sebari mengucapkan salam. "Tadaima!" seru Naruto. Setelah membuka sepatu balet berwarna hitam yang ia pakai dan menggantinya dengan sandal rumah, ia langsung berjalan tanpa melihat sekeliling dan melangkah menuju kamarnya di lantai dua.


Satu langkah dua langkah. Ia seperti mendengar seseorang memanggilnya. Tapi tak ia hiraukan. Mungkin hanya perasaannya saja.


"Da ngo," ucap orang itu yang mendadak ada di belakang Naruto seperti hantu.


Naruto menoleh ke belakang dengan perlahan. "Ka..kau?!" seru Naruto sebari menunjuk orang yang memanggilnya dengan jari telunjuknya. Ia terkejut namun ia segera tersenyum. Seseorang yang sedang dirindukannya ada di hadapannya sedang berdiri melipat kedua tangan di dadanya dengan wajah tanpa dosa.


Sasuke berdiri dengan gaya angkuhnya tapi ia tersenyum ramah dan lembut pada gadisnya. "Hai, do be," sapa Sasuke. Terlihat kerinduan di sepasang mata hitamnya.


"Sa..Sasuke - kun!" seru Naruto. Ia segera menerjang tubuh kekasihnya lalu mencubit tangannya yang terlipat di dadanya.


"Aw. Apa yang sedang kau lakukan? Harusnya aku tuh dipeluk, dicium atau...bukan malah dicubit, dobe," gumam Sasuke heran dan mengaduh karena kesakitan meski hanya pura - pura.


Naruto diam tengah merajuk. "Pacarku lagi ngerajuk ceritanya," goda Sasuke. Ia mencubit hidung kekasihnya.


"Iih. Lepasin, teme!" seru Naruto. Ia masih marah pada kekasihnya. Ia memerhatikan penampilan Sasuke dari atas ke bawah. Ia menaikkan satu alisnya.


"Hn. Ada apa? Aku selalu tampan kan," gumam Sasuke dengan percaya diri tinggi. Naruto malah ingin muntah mendengar gumaman kekasihnya yang tingkat percaya dirinya kelewat batas.


"Kau pakai baju siapa, teme?" tanya Naruto sinis.


Sasuke menyentuh kaos berwarna biru dongker dengan tulisan "hot daddy" di bagian depannya. "Emang kenapa? Apa aku terlihat aneh?" tanya Sasuke mendadak kepercayaan dirinya turun.


"Itu baju hadiah dari ku, teme. Aku membelikan baju itu pada tousanku di hari ayah tahun lalu. Kenapa kau yang pakai?" tanya Naruto meminta penjelasan.


"Ayahmu sendiri yang meminta Sasuke - san untuk memakainya. Baju kantornya kan kotor," jelas Kushina yang tiba - tiba muncul di belakang Naruto dan Sasuke.


"Naruto, cepat mandi sana. Pacar datang harusnya kamu udah wangi. Cepat gih!" perintah Kushina. Kemudian ia berlalu dari sepasang sejoli itu.


Naruto segera beranjak meninggalkan Sasuke yang masih belum mendapatkan sambutan manis dari sang kekasih. Ia mengendikkan bahu. Mungkin kekasihnya masih marah dan merajuk. Ia melangkah menuju ruang keluarga Namikaze.


πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›


Di waktu jam makan malam. Naruto sudah selesai dengan acara mandi dan berpakaiannya. Ia hanya memakai kaos berwarna merah muda bertuliskan "good girl" di bagian belakang dan celana pendek selutut polos. Rambutnya ia gulung di atas kepala dan membiarkan poni serta beberapa helai rambut di sisi kiri kanannya terurai.


"Perfect. Simpel kan. Hehehe," ujar Naruto. Ia tertawa sendiri. Ia segera ke luar dari kamarnya menuju dapur untuk membantu sang ibu.


"Naruto, cepat sini!" perintah Kushina ketika Naruto sampai di dapur. Naruto segera mendekati ibunya. "Cepat letakkan ini di meja makan. Jangan lupa piring, gelas, sendok dan garpu juga," perintah Kushina. Naruto tidak menjawab dengan mulutnya melainkan dengan anggota badannya.


Semua makanan telah tersaji di meja makan. Semua anggota keluarga Namikaze telah berkumpul untuk makan malam termasuk tamu spesial bagi putri semata wayang Namikaze, Uchiha Sasuke. Seorang pemuda yang berstatus sebagai kekasih Naruto.


Naruto selalu memasang wajah masam. Ia terlihat tidak senang dengan kehadiran kekasihnya tersebut. Namun sang kekasih tampak tak terusik dengan sikap gadisnya. Naruto memang terkadang tsundere. Ia masam di luar tapi manis di dalam. Itu yang membuat seorang Sasuke tertarik pada Naruto.


Naruto makan dengan santai. Meski dengan ekspresi masam, ia masih melayani pacarnya seperti biasa.Β  Menuangkan nasi sampai ikan dan sayurnya Naruto yang melakukannya. Menuangkan air minumnya juga. Naruto memang istri idaman Sasuke.


Kedua orang tua Naruto, Minato dan Kushina hanya bisa menghela nafas melihat tingkah putrinya yang sedang merajuk. Minato sangat mengetahuinya karena bebelakangan hari ini pekerjaan bosnya a.k.a kakak sulung Sasuke, Uchiha Itachi, sangat banyak dan tidak dapat ditangani seorang diri. Jadilah Sasuke yang mengerjakan semua pekerjaan itu. Namun di balik sibuknya pekerjaan tersebut, hubungan antara calon menantu dan calon ayah ipar semakin dekat. Sasuke sebenarnya bukan pemuda yang angkuh. Ia hanya menurup diri dari dunia luar.


Sasuke dengan mudah tertarik pada putri semata wayang Minato. Ia juga rela melakukan apa saja demi Naruto. Minato bisa melihat ketulusan hati di mata Sasuke. Jadi ia langsung merestui hubungan mereka sebagai sepasang kekasih.


Acara makan malam pun selesai. Kini kedua insan berbeda gender terlihat tengah duduk di sofa depan layar televisi.


Kedua orang tua Naruto sudah berdandan rapih. Naruto segera menghampiri kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Kaasan dan tousan mau ke mana? Sudah rapih gitu?" tanya Naruto. Ia memerhatikan penampilan kedua orang tuanya yang tampak seperti sepasang kekasih.


"Ada undangan. Jadi kami harus pergi, sayang," jawab Kushina sebari mengelus punggung putrinya.


"Undangan?" beo Naruto.


"Kalian hati - hati ya di rumah," ujar Kushina. Ia mengecup pipi Naruto.


"Jaga rumah. Dan kau, Sa su ke," ujar Minato menegaskan nama calon menantunya itu. "Jangan berbuat macam - macam pada putriku!" Minato mengeluarkan aura membunuh namun Sasuke tenang dan santau menghadapi calon ayah mertuanya yang sangat sayang pada calon istrinya.


"Tenang saja ayah mertua. Putrimu aman bersamaku." jawab Sasuke. Ia tak beranjak dari atas sofa tempat ia duduk.


Minato tersenyum. Ia sangat percaya terhadap calon menantunya itu. "Kami berangkat dulu ya, Naruto." ujar Minato.


"Emh." Naruto mengangguk. "Hati - hati, tousan, kaasan."


Minato dan Kushina pun berangkat. Kini hanya ada dua mahluk beda kepribadian yang tengah duduk santai di atas sofa.


Sesekali Naruto melirik kepada Sasuke yang sedari kedua orang tuanya pergi hanya diam mematung sebari menonton televisi. Karena penasaran ia menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan kekasihnya. Hap. Tangan Sasuke segera meraih pinggang Naruto. Naruto sangat terkejut.


"Akhirnya kau melihatku juga, dobe," gumam Sasuke sebari memeluk pinggang gadisnya. Naruto masih diam. "Kau masih marah, sayang?"


"Ti dak," jawab Naruto. Akhirnya ia berbicara pada kekasih tampannya itu. Ia tidak kuat melihat ekspresi murung dan rasa bersalah yang Sasuke perlihatkan hanya padanya. "Sa..Sasuke - kun," ucap Naruto. Ia masih malu dan gugup memanggil gurunya yang telah menjadi kekasihnya selama 7 hari itu.


"Hn? Apa yang ingin kau katakan, dango?" tanya Sasuke dengan sangat lembut dan ramah. Ia masih memeluk pinggang Naruto.


"Iih. Rambutku kan nggak dibikin dango," gumam Naruto menggembungkan pipi tembemnya😣.


"Ini apa di atas kepalamu? Dangonya satu dan lebih besar," gumam Sasuke mengelus rambut Naruto yang digulung satu di atas dengan satu tangannya yang lain. "Kau jadi terlihat lebih cantik dan dewasa," Sasuke pun menciumi leher jenjang gadisnya. Naruto mendesah karena merasa geli.


"Ah..geli, te..me," gumam Naruto. Mukanya sudah merona dari tadi.


"Kau menggoda imanku, dobe - chan," ucap Sasuke dengan gaya sensualnya.


Naruto menelan ludah. Ia jadi takut pada kekasihnya sendiri. "Sa..Sasuke - kun. A..aku takut." Naruto berbicara terbata - bata.


Sasuke melepaskan pelukan di pinggang kekasih pirangnya dan mengganti posisi dengan Naruto duduk di pangkuannya. Naruto terkejut hingga ia tidak berani menoleh ke belakang yang langsung mengenai wajah tampan kekasihnya itu.


"Biarkan seperti ini, dobe. Aku sudah tersiksa tidak bisa bertemu denganmu selama seminggu. Jadi, aku ingin memelukmu seperti ini. Mencium wangi dirimu yang membuatku mabuk dan candu," ujar Sasuke.


Naruto benar - benar ingin kabur dan pingsan. Jantungnya berdetak lebih kencang. Ia baru kali ini diperlakukan semanis dan semesra ini oleh seorang pemuda. Ia hanya melihat di manga bergenre romance yang selalu ia baca. Ternyata rasanya benar - benar nyaman sekaligus menegangkan.


"Sasuke - kun," ucap Naruto. Ia menggerakkan pinggulnya di atas pangkuan sang kekasih.


"Jangan bergerak - gerak, dobe! Aku takut tidak bisa menahannya," gumam Sasuke. Wajahnya merona. Kali ini Sasuke benar - benar harus menguatkan imannya agar tidak tergoda segala tindakan polos pacar dobenya itu.


"Tidak kuat kenapa, teme?" beo Naruto. Ia menolehkan kepalanya ke belakang. Ia bisa melihat ekspresi Sasuke yang sangat langka. Sasuke yang tengah merasa malu, gugup ditambah dengan gerakan dari tubuh Naruto yang sedang duduk di pangkuannya.


"Memangnya aku melakukan apa sampai kau tidak kuat?" tanya Naruto. Ia memasang ekspresi wajah tanpa dosa.


Sasuke dibuat geram dan gemas oleh pacar pirangnya itu. Ia harus segera menghalalkan Naruto supaya bisa membawanya ke kamar. Pikiran Sasuke sudah tidak waras. Dua tahun lagi ia baru bisa menikahi gadis yang menjadi anak didiknya di sekolah tempat ia mengajar.


"Sa..Sasuke - kun, aku haus. Bisa tidak kau melepaskan tanganmu dariku?" pinta Naruto.


"A..ah iya. Maaf," balas Sasuke.


Naruto segera berdiri setelah Sasuke melepaskan tangannya dari pinggangnya. Ia berjalan ke arah dapur tempat di mana kulkas berdiri. Ia mengambil dua botol air mineral dan membawanya ke tempat kekasihnya berada.


Kedua botol diletakkan di atas meja di depan Sasuke yang sedang menyaksikan pertandingan sepak bola. Acara tv kesukaan ayah Naruto. Naruto memutar matanya. Ia mulai merasa bosan. Padahal baru 20 menit pertandingan sepak bola babak pertama dimulai namun serasa 12 jam bagi gadis pirang itu. Pasalnya perhatian kekasihnya, Sasuke hanya tertuju pada layar kaca saja. Naruto jadi tidak dianggap.


Karena bosan, ia bermaksud mengambil satu atau dua manga untuk ia baca sebari menemani kekasihnya menonton pertandingan sepak bola. Namun tangannya dicekal oleh sang kekasih. "Duduklah. Kau tidak boleh ke mana - mana, dobe," pinta Sasuke. Matanya masih tertuju pada layar televisi LED 32 inchi di depannya.


"Aku mau mengambil ponsel dan manga, teme. Bosan lihat orang banyak yang ngerebutin satu bola. Kenapa gak beli aja? Bola satu dikejar - kejar. Apa gak capek!?" seru Naruto. Ia merasa sangat bosan. Rasanya tak dipedulikan benar - benar memuakkan. Ia hendak mengambil ponselnya yang ada di kamarnya tapi Sasuke menahannya. Jadilah ia duduk di sebelah sang kekasih yang sedang sibuk menyaksikan pertandingan sepak bola di televisi.


"Ha....." Naruto menghela nafas. Sudah setengah jam ia duduk diam ikut menonton acara kesukaan kekasihnya yang baru ia ketahui.


"Kau kenapa, dobe?" tanya Sasuke tanpa merasa bersalah.


"Aku bosan, teme. Mau ngambil ponsel di kamar," jawab Naruto. Ia sudah ingin berdiri tapi selalu saja Sasuke menahannya. "Lepasin, teme! Bosan tahu lihat acara kayak gitu. Kau juga gak anggap aku ada!" seru Naruto mengeluarkan pendapat dan perasaannya.


Sasuke tersenyum. "Gak enak kan kalo dicuekin? Itu pembalasan dariku, dobe," ujar Sasuke dengan seringai liciknya.


"Te...me!!!" teriak Naruto. Ia sudah sangat kesal dan marah. Tapi kekasihnya malah tertawa. "Hahaha..kau lucu, dobe. Mukamu sungguh menggemaskan. Hahaha."


Naruto marah tapi Sasuke malah tertawa. "Kau sangat menyebalkan!😀Teme pantat ayam hitam! Bokong ayam gosong!! Aargh!!" teriak Naruto. Sasuke memeluknya dengan sangat mesra. "Gitu dong, Naru ku sayang. Marahnya ke luarin. Daripada tadi diem terus. Hn?" Sasuke berbicara lembut pada Naruto. Naruto langsung luluh dan balas memeluknya.


"Aku kangen, teme," gumam Naruto dengan suara pelan.


"Hn? Aku tidak dengar, dobe?"


"A..aku kangen sa..sama Sa..Sasuke - kun😣," ucap Naruto dengan suara lebih bisa didengar meski Sasuke tadi bisa mendengar apa yang kekasih pirangnya itu katakan.


Naruto menunduk. Ia tidak sanggup memandang wajah tampan sang kekasih.


"Apa wajahku kurang tampan sampai kau harus menundukkan kepalamu, hn?" tanya Sasuke. Ia mengangkat kepala Naruto secara perlahan ke atas tepatnya ke arah wajahnya supaya sang gadis memandangnya.


"Bu..bukan begitu. Ha..hanya saja..Sa..Sasuke - kun sangat bahkan terlalu tampan," jawab Naruto. Mukanya merona dan detak jantungnya juga sangat kencang.


"Aku memang tampan dan hanya untukmu saja ketampananku kutujukan," gumam Sasuke. Ia masih tersenyum tampan.


"Fansgirlmu juga tahu dan bisa melihat ketampananmu," bantah Naruto. Sedikit cemburu.


"Kan cuma tampanku saja yang mereka lihat. Kalau padamu aku akan menunjukkan segalanya yang ku punya. Termasuk menjadi sosok pemuda hangat, lembut dan romantis." Sasuke mulai merayu lagi.


Naruto tambah klepek - klepek. Untung Sasuke sudah jadi kekasihnya. Ia beruntung sekali. Di balik sikap dingin dan datar kekasihnya, terdapat sikap lembut nan menghangatkan yang bisa membuat seorang Namikaze Naruto yang otaku dan pecinta pria 2d menjadi kehilangan akal.


πŸ’‹cup. Naruto mencium sekilas bibir Sasuke yang dari tadi selalu tersenyum. "Sasuke - kun terlalu manis dan udah jadi raja gombal tingkat dewa," ujar Naruto tersenyum manis.


Sasuke mematung. Ia tidak menyangka kalau kekasihnya akan menciumnya, bukan pipi tapi bibirnya. Meski hanya sekilas tapi tetap saja bisa membuat seorang Uchiha Sasuke klepek - klepek dan jantungan.


Sasuke juga mencium bibir Naruto. Ia malah mencium bibir kekasihnya dengan sangat dalam dan panas. Ia menyalurkan semua perasaannya. Rasa rindu, cinta, galau akan cinta dan semuanya ia luapkan ke dalam ciuman panas itu.


Naruto menerima ciuman Sasuke dengan terbuka. Ia juga membalas ciuman dari kekasihnya. Sasuke tak menyangka jika gadis polosnya bisa membalas ciumannya juga. Naruto tidak sepolos yang ia kira selama ini.


"Na ru to," gumam Sasuke. Ia terus menciumi leher Naruto.


"Sa..Sasuke - kun. He..hentikan.." pinta Naruto. Ia takut kekasihnya akan melakukan sesuatu di luar batas.


Sasuke dengan sangat terpaksa menghentikan aktivitasnya. Ia tersenyum mesum saat melihat ada sebuah tanda merah di leher belakang Naruto.


"Kau sangat cantik dan juga manis, dobe. Aku jadi ingin memakanmu," ucap Sasuke sambil mengedipkan sebelah matanyaπŸ˜‰. Wajah Naruto merona.


"Su..sudah, teme. Kau terlalu merayu. Aku takut kau akan melakukan itu padaku. Aku sangat takut," gumam Naruto.


Sasuke menggenggam kedua tangan gadisnya dan menempelkannya di dada bidang miliknya yang tertutupi kaos pemberian sang ayah mertua. Masih calon.


"Aku janji, tidak akan sampai melakukan hal itu, dobe," ucap Sasuke dengan ekspresi wajah yang serius dan meyakinkan.


"Benarkah? Aku masih ingin sekolah," balas Naruto.


"Tenang saja, dobe dangoku. Aku mencintaimu. Jadi aku tidak ingin merusak kehidupan dan masa depanmu. Percayalah, sayang."


"Iya. Naru percaya sama yayang Sasu😊."


"Aishiteru, Naruto - chan."


"Aishiteru mo, Sasuke - kun."


Sasuke pun mengecup kening kekasih pirangnya, lalu Naruto mencium pipi Sasuke. Keduanya pun tersenyum bersama di malam Minggu yang sangat mereka tunggu - tunggu.


Beberapa jam kemudian, kedua pasang suami istri Namikaze telah kembali dari acara kondangan.


"Kami pulang," ucap Kushina dan Minato. Mereka tidak disambut oleh putri mereka.


Kushina dan Minato berjalan ke ruang keluarga tempat terakhir bertemu dengan putrinya. Mereka melihat Naruto yang sedang tertidur di pangkuan kekasihnya.


"Ah. Selamat datang kembali, paman Minato, bibi Kushina," ucap Sasuke. Ia merasa tidak enak dengan posisi Naruto yang tengah tertidur.


"Wah. Putriku sudah tidur," ujar Kushina. Ia malah tersenyum melihat putrinya tidur di pangkuan seorang pria dewasa. Sedangkan Minato, ia ingin membawa Naruto ke kamarnya tapi sang istri melarangnya. "Sasuke, tolong bawa Naruto ke kamarnya ya. Bibi mohon sekali," pinta Kushina. Padahal tidak dimintai tolong pun Sasuke akan dengan senang hati membawa Naruto ke kamarnya untuk menidurkannya bukan menidurinya.


Sasuke menggendong kekasihnya dengan gaya pengantin. Ia sama sekali tak kesulitan mengangkat Naruto. Tubuh Naruto yang pendek dan mungil sangat ringan bagi diri Sasuke yang bertubuh tinggi dan kekar(author ngacay. Hehehe). Lalu ia membawa Naruto masuk ke kamarnya dan segera meletakkan tubuh gadis pirang itu do atas kasur berseprei karakter chibi anime.


Sasuke membaringkan Naruto secara perlahan. Naruto mengigau dan menyebutkan namanya dalam tidurnya. "Ng..teme..sensei.." itu yang Naruto gumamkan. Sasuke tersenyum. Ternyata gadisnya juga memikirkan dirinya sampai ke alam bawah sadarnya. "I love you, dobe," ucap Sasuke. Ia mencium kening sang kekasih dan menyelimuti tubuh sang gadis dengan selimut yang bergambar karakter chibi anime juga. Sasuke sweatdrop dengan hobi kekasihnya itu.


Ia segera ke luar dari kamar sang gadis, namun sebelum menutup pintu kamar ia melihat sebuah foto berbingkai yang terdapat gambar dirinya. Lalu ia menutup pintu kamar secara perlahan. Ia tak mau membangunkan kekasihnya yang telah terlelap.


Setelah itu, Sasuke berpamitan kepada calon mertuanya. Ia diminta untuk menginap oleh calon ibu mertuanya tapi calon ayah mertuanya sudah mengeluarkan aura gelap tak menyenangkan. Ia memilih untuk pulang meski jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.00. Terlalu malam untuk pulang tapi ia memang harus pulang. Besok juga bertemu lagi. Di festival musim panas untuk melihat kembang api.


πŸŽ†πŸŽ†πŸŽ†πŸŽ†πŸŽ†πŸŽ†πŸŽ†πŸŽ†πŸŽ†πŸŽ†πŸŽ†πŸŽ†πŸŽ†πŸŽ†


Saatnya melihat kembang api. Naruto sudah berdiri di depan pintu masuk pasar malam yang hanya diadakan di setiap musim panas sekali dalam setahun. Ia sudah tampil cantik dan spesial. Ia akan melihat kembang api bersama teman - temannya dan juga kekasihnya. Mukanya memerah saat membayangkan ia akan menyaksikan kembang api bersama kekasihnya. Ia jadi malu sendiri.


"Nona," sapa dua orang pemuda seumuran Naruto. Naruto menoleh. "Ka..kalian?!"


"Wah..nona cantik mengenal kami!" seru salah satu pemuda yang tengah merayu Naruto.


"Dasar! Ini aku, Naruto. Namikaze Naruto. Apa kalian lupa padaku, Sora, Temujin?!" seru Naruto. Ia menepak bahu kedua pemuda itu.

__ADS_1


"Na..Naruto?!" seru kedua pemuda yang bernama Sora dengan ciri - ciri rambut bop berwarna ungu, dan Temujin yang memiliki rambut pirang panjang dan dahi lebar(?). Mereka terkejut melihat Naruto yang tampik berbeda dan juga lebih manis.


Naruto tersenyum lebar. "Kalian salah orang kalau mau merayu."


"Kami pikir kamu bukan Naruto," gumam Sora. Ia terpesona dengan penampilan Naruto yang memukau.


"Kau sangat berbeda dan cantik meski pendekmu gak berubah," sambung Temujin.


"Kalian tetap menyebalkan!" seru Naruto. Lalu ia menjitak kepala kedua pemuda itu yang sebenarnya adalah teman SMPnya. "Pantas saja kalian masih jomblo," ujar Naruto dengan nada meremehkan pada kata jomblo.


"Kayak kamu udah laku aja. Hahaha," ejek Sora. Ia hendak merangkul Naruto namun seseorang dengan kasar menepis tangan Sora.


"Tidak ada seorangpun yang boleh menyentuh milikku!" ujar seseorang dengan nada sinis serta mengeluarkan aura hitam pekat yang menyeramkan. Seketika Sora dan Temujin kabur dari hadapan Naruto karena merasakan nyawa mereka terancam.


"Sa..Sasuke - kun?" beo Naruto. Ia sekarang sadar alasan kedua teman SMPnya kabur. "Kapan kau datang?"


"Hn." Hanya itu yang Sasuke gumamkan atas rasa ketidaksukaannya ketika melihat kekasihnya yang sedang memakai yukata putih dengan motif bunga bunga sakura. Rambutnya dikepang satu namun di kepalanya berbentuk bando. Penampilan yang membuat Naruto pangling. Pantas saja Sasuke kesal melihat kekasihnya sedang digoda oleh dua pemuda seumurannya yang masih abg labil.


Naruto tidak tahu harus berbuat apa. Sepertinya kekasih berambut ekor ayam itu sudah salah paham. Ia tidak mau melihat Sasuke diam saja dan juga tidak memedulikannya. Dia pun berinisiatif untuk meraih tangan kekasihnya seperti di manga yang ia baca. Manga dengan genre romance.


"A..ayo kita ke dalam, Sasuke - kun!" ajak Naruto. Ia menarik tangan kekasihnya. Sasuke terkejut atas tindakan Naruto yang sangat mendadak. Ia patuh saja saat tangannya ditarik oleh gadisnya. Tampak senyuman tipis di wajah tampannya.


Kedua pasang sejoli itu berjalan ke dalam pasar malam. Sasuke tak henti - hentinya harus menahan amarah karena kekasihnya yang selalu saja digoda oleh para lelaki hidung belang. Dari anak kecil, remaja bahkan pria tua menggoda gadisnya. Namun Naruto cuek saja. Ia hanya tersenyum palsu menanggapinya. Beda lagi dengan pemuda berambut pantat ayam. Ia memberikan tatapan tajamnya pada setiap lelaki yang berani melirik kekasihnya itu. Padahal Naruto sedang berjalan bersamanya. Harusnya mereka tahu kalau Sasuke itu pacarnya.


"Sasuke - kun! Aku mau gulali itu dong!" pinta Naruto sebari menunjuk ke stan penjual gulali tersebut.


"Hn," kata Sasuke.


"Hn? Boleh nggak?" tanya Naruto. Ia kesal dengan kata aneh milik kekasihnya itu. Meski ia sudah sering mendengarnya tapi tetap saja kesal.


"Boleh, sayang.." ucap Sasuke dengan sangat lembut.


"Arigatou, Sasuke - kun!" seru Naruto.


Naruto berjinjit untuk menyamakan tingginya dengan sang kekasih meski itu hal mustahil. Sepertinya Sasuke cukup peka. Ia menunduk supaya kekasih manisnya tidak perlu bersusah paya untuk berjinjit. Lalu πŸ’‹Naruto spontan mencium pipi Sasuke di depan umum. Selanjutnya ia melangkah ke tempat penjual gulali. Ia sudah diberi uang oleh kekasihnya a.k.a ditraktir.


Seketika wajah Sasuke merona. Orang - orang di sekitar mereka tanpa sengaja melihat adegan manis itu hanya bisa melongo. Ada yang berbisik - bisik dan mencemooh. Ada juga yang iri pada Sasuke. Ada juga yang mengatakan kalau Sasuke itu pedofil. Pria dewasa menjalin hubungan dengan anak perempuan di bawah umur. Padahal Narutonya sudah kelas 2 SMA. Sebentar lagi usianya 17 tahun jadi Naruto bukan anak - anak lagi. Dan juga dia tidak sepolos yang orang lain kira. Buku yang dia baca kan manga bergenre romantis yang banyak adegan cinta.


"Gulalinya manis sekali, teme!" seru Naruto sebari memakan gulali dengan cara mencubitnya sedikit demi sedikit dengan gaya yang membuat Sasuke tergoda.


Glekh. "A...aku beli minuman dulu. Jangan ke mana - mana ya, dobe!" perintah Sasuke. Tenggorokannya sudah sangat kering.


'Gila. Si dobe terlalu manis. Untung gak sampai bikin aku diabetes,' batin Sasuke.


Naruto masih anteng dengan gulalinya. Tanpa sengaja seorang laki - laki menabraknya. Naruto sampai terjatuh.


"Ah, maaf," ucap laki - laki itu. Ia menolong Naruto.


"Ya. Tidak apa - apa," balas Naruto. Tapi ia tidak menerima bantuan dari sang penabrak.


"Se..senpai?" tanya laki - laki itu.


Naruto bengong. Ia sama sekali tidak mengenal laki - laki itu.


"Aku Konohamaru. Cucunya kakek kepala sekolah Sarutobi," sahut laki - laki yang bernama Konohamaru.


Naruto berpikir. Tapi ia tidak mengingat pernah bertemu dengan Konohamaru. Ia menggelengkan kepalanya. "Maaf. Aku tidak pernah mengenalmu, Ko..Ko.." balas Naruto kesulitan mengingat nama Konohamaru.


"Konohamaru, senpai. Tidak apa - apa. Tapi aku kenal senpai," ujar Konohamaru. Ia sedikit merona saat melihat Naruto. Naruto diam dan asyik memakan gulalinya.


"Nama senpai Namikaze Naruto, kan?" tanya Konohamaru yang dibalas anggukan pelan dari si gadis pemilik nama tersebut. "Senpai sangat terkenal di kelas 10."


"Hah? Maksudmu aku terkenal? Karena apa?" tanya Naruto. Ia penasaran.


"Karena rambut senpai yang lucu mirip kue dango," jelas Konohamaru malu - malu rubah. Naruto tersenyum maklum. Ia sudah terbiasa dijuluki gadis pirang dango. Ia nyaman - nyaman saja. "Arigatou, ne, Konohamaru - chan." Naruto berterima kasih atas pujian yang Konohamaru katakan.


Konohamaru merenggut. Ia sedih ketika dipanggil dengan embel - embel "chan", harusnya "kun". Padahal umurnya hanya satu tahun di bawah seniornya. "Ano, senpai. Tolong jangan panggil dengan chan. Aku bukan anak kecil," ujar Konohamaru.


"Konohamaru?" beo Naruto dengan polos dan manisnya. Konohamaru semakin merona.


"Se..senpai. Waktu senpai dikurung sama Shion dan Sara senpai, aku yang memberitahu kedua teman senpai dan Mr. Sasuke. Aku tak sengaja melihat senpai diseret oleh dua senpai itu." Tiba - tiba junior Naruto di sekolahnya bercerita kejadian yang sudah lama ia lupakan.


"Kamu yang memberitahu teman - temanku dan Sasuke - kun?" Naruto memastikan apa yang ia dengar. Konohamaru mengangguk. Ia heran dengan sebutan "Sasuke - kun".


'Sasuke - kun? Siapa?' tanya Konohamaru dalam hatinya pada dirinya sendiri.


"Kalau begitu aku belum berterima kasih pada kamu. Terima kasih banyak, Konohamaru. Aku berhutang lho sama kamu," ucap Naruto. Ia tersenyum manis pada juniornya itu.


"Ah..sama - sama, senpai," balas Konohamaru masih merona merah dan gugup. "Ano..Namikaze senpai.."


"Panggil Naruto senpai saja atau Naruto - nee ya. Supaya lebih akrab," perintah Naruto.


Konohamaru berpikir sejenak. Ia tidak mau memanggil senior pirangnya yang manis dan imut dengan sebutan nee(kakak perempuan). Badannya saja lebih tinggi dia dari senpainya. Mukanya juga lebih imut Naruto.


"Bagaimana kalau Naruto senpai saja?" tanya Konohamaru salah tingkah.


Naruto mengangguk. "Ya gitu aja. Jadi serasa punya adik laki - laki."


⚑jleger. Bagaikan petir di malam hari bagi sang pemuda yang tengah melakukan pendekatan dengan sang gadis pujaan. Tapi Konohamaru tidak akan pernah menyerah. Ia merasa kalau ia cukup percaya diri dan pantas untuk menjadi pasangan sang senior cantiknya. Jadi ia mengabaikan apa yang Naruto katakan.


"Ano, Naruto senpai. Apa senpai sekarang sedang bebas?" tanya Konohamaru dengan keringat dingin yang mengalir dari dahinya.


Sebelum Naruto menjawab, sang kekasih tampan datang menghampirinya.


"Maaf lama, dobe," ujar Sasuke.


"Dari mana saja sih, teme?" tanya Naruto agak kesal.


"Tadi aku kebelet ke toilet. Maaf ya. Nih aku belikan boneka kelinci sebagai permintaan maaf," ucap Sasuke sebari menyerahkan boneka kelinci berwarna merah muda berukuran sedang yang pas untuk ia peluk.


Naruto menerimanya dengan senang hati dan tersenyum. "A..arigatou, Sasuke - kun. Aku suka boneka kelincinya."


"Sama yang ngasih boneka, suka gak?" tanya Sasuke. Ia menarik tangan gadisnya lalu meraih pinggang sang gadis dengan erat dan posesif.


"Su..suka dong. Kalo gak suka, gak mungkin aku mau jadi pacar Sasuke - kun," balas Naruto dengan wajah merona dan senyuman semanis permen kapas. Bahkan lebih manis. Sang pemuda berambut ekor ayam ingin sekali menyerang kekasih sekaligus muridnya tapi apa daya. Mereka masih berpacaran. Jika sudah resmi dan menikah, ia akan dengan senang hati melakukannya.


Sepasang sejoli beda surai dan gender itu terlihat asyik dengan dunia mereka hingga mengabaikan seorang pemuda yang hatinya telah hancur berkeping - keping seketikaπŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”


'Ternyata..aku tidak punya kesempatan dan juga harapan. Mereka memang sudah sangat dekat. Bahkan Mr. Sasuke berani memeluk Naruto senpai,' batin Konohamaru yang baru saja patah hati. Ia tidak kuat melihat adegan mesra yang semakin membuatnya sakit hati. Ia segera meninggalkan tempat itu. Tempat di mana ia berjumpa dengan pujaan hatinya yang telah menjadi milik lelaki lain yang tak lain adalah gurunya sendiri di sekolah. Ia bukan tandingannya. Mungkin menyerah adalah hal yang harus ia lakukan.


Naruto menyadari sesuatu. "Ah, Konohamaru!" seru Naruto.


Namun Konohamaru sudah tidak ada di tempat. Mendadak Naruto merinding. Ia berpikir laki - laki tadi yang mengobrol dengannya bukanlah manusia. Ia semakin menempelkan pinggangnya pada sang kekasih karena takut. Sasuke hanya diam dan menerima perlakuan Naruto dengan senang hati.


"Kau memanggil siapa? Konohamaru? Bocah yang berani menggoda Narutoku," gumam Sasuke, tidak suka


"Siapa yang menggodaku, teme? Dia cuma ngajak kenalan dan memberitahu kalau tidak bertemu dengan dia mungkin aku tidak akan ditemukan," jelas Naruto.Ia risih dengan Sasuke kalau sudah cemburu. 'Untung anak itu bukan hantu,' batin Naruto, lega.


"Meski tidak diberi tahu, aku pasti akan menemukanmu, dobe," tambah Sasuke dengan angkuh.


"Ya..ya ya. Uchiha memang jenius." Naruto mengejek kekasihnya tapi sang kekasih cuek saja. Ia malah tetap dengan posisinya. Memeluk pinggang Naruto. Naruto merasa gugup, malu dan juga kesal. Namun jika ditolak maka kekasihnya akan lebih melakukan yang lain.


Keduanya pun berjalan sebari bergandengan tangan. Padahal Sasuke masih ingin dalam posisi sebelumnya. Dengan sangat terpaksa ia hanya bisa menggandeng tangan gadisnya. Yang penting Narutonya tidak marah.


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di ujung tempar pasar malam itu. Tempat yang paling tepat untuk melihat kembang api.


Naruto sesekali melihat ponselnya. Takutnya ada pesan dari teman - temannya. Tapi ia tidak menemukan pesan apapun.


Sasuke memerhatikan gerak gerik sang kekasih. "Kau sedang apa, dobe?"


"Aku tidak bertemu sama Ino dan Hinata. Padahal kemarin udah janjian bertemu di depan pintu masuk. Tapi gak ketemu mereka," jelas Naruto. Ia tampak kecewa. Sasuke tidak suka dan tidak tega melihat gadisnya kecewa dan sedih. Ia memeluk gadisnya seraya berkata, "tadi aku melihat mereka dengan kekasih mereka. Mungkin mereka juga ingin kencan seperti kita."


"Benarkah?" beo Naruto. Ia pasrah ketika dipeluk sang kekasih.


"Ya. Jangan ganggu mereka. Ok," pinta Sasuke. Modus. Padahal ia hanya ingin berduaan dengan kekasihnya.


Naruto mengangguk dan membalas pelukan dari sang kekasih.


Tak lama kemudian terdengar suara kembang api yang disusul percikan kembang api yang menghiasi langit malam kota Konoha.


"Wah..kembang api! Indah sekali, teme!" seru Naruto sebari menunjuk ke atas langit yang dihiasi kembang api. Posisi mereka saat ini tengah duduk di atas batu. Kebetulan pasar malam itu terletak di tempat yang cukup tinggi sehingga bisa melihat langit dengan jelas.


"Kalah indah dari senyuman dan kecantikanmu malam ini, dobe," gumam Sasuke pelan tapi Naruto masih bisa mendengar apa yang kekasihnya bicarakan.


"Sa..Sasuke - kun raja gombal," ujar Naruto. Ia malu, gugup dan juga senang. Ia tak menyangka jika seorang pemuda berambut pantat ayam yang telah menjadi kekasihnya adalah pemuda yang pintar merayu. Padahal dulu ia selalu dingin seperti patung es berjalan.


"Hanya padamu aku menjadi raja gombal, sayang," balas Sasuke. Dan sekali lagi Sasuke mencium Naruto tepat di bibir.


Tempat yang sangat strategis bagi para muda - mudi yang tengah kasmaran. Termasuk mereka berdua, Namikaze Naruto dan Uchiha Sasuke. Sepasang kekasih yang baru menjalin hubungan cinta antara murid dan guru. Perbedaan status tidak mereka permasalahkan. Dapatkah mereka melewati badai yang telah menanti di depan mata? Karena cinta sejati nan indah tidak hanya selalu berasa manis melainkan akan ada rasa asin, asam, pedas dan pahit seperti rujak(thor pengen rujak kayaknya.padahal masih subuh).


That's love.


Pyaar, ishq aur mohabbat


Cinta, cinta dan cinta..


Are wa ai desu

__ADS_1


Tbc


__ADS_2