
Namaku maysaroh biasa di panggil may, aku tinggal di daerah pulau Jawa, lebih tepatnya di Jawa Tengah , tepatnya di daerah pelosok pedalaman kota sejuta bunga.
Ya namanya pelosok, pasti jalanan masih terjal, bahkan kalau di musim penghujan pun jalanan akan becek dan penuh lumpur, akan sangat susah bila di lewati kendaraan.
Walaupun pelosok, namun di sini sudah ada listrik, dan untung saja sudah banyak lampu penerangan di pinggir jalan.
Kalau tidak sudah dapat di bayangkan betapa horornya desaku ini.
Namun sialnya di sini masih jarang tenaga kesehatan seperti puskesmas, bahkan kalau ada seseorang yang hendak melahirkan, masih memakai jasa dukun beranak.
Juga kalau warga desa demam atau meriyang masih memeriksakan pada tabib, atau dukun, yaa secara di desa kami masih sangat kental akan mistisnya.
Sebenarnya ada puskesmas di desa seberang, tapi karena jaraknya yang memang terlalu jauh, bahkan bisa berkilo - kilo meter jarak tempuh menuju desa seberang.
Oh ya, aku sudah menjalani maglihai rumah tangga, suamiku bernama ahmad affandi, biasa di panggil dengan fandi.
Kami menjalani maghlihai rumah tangga sudah hampir sembilan tahun, dan dalam pernikahan kami telah dikaruniai seorang putri yang sangat cantik, dan kami beri nama Sintia affandi.
Sintia telah berumur tujuh tahun dan dia sudah sekolah dasar kelas dua, dan dia biasa di panggil dengan sebutan sin - sin, memang terdengar aneh tapi itulah dia hanya mau di panggil dengan sebutan sin -sin
__ADS_1
Mas fandi bekerja sebagai mandor di proyek - proyek besar, seperti sekarang ini mas fandi bekerja di luar kota, mas fandi mendapat job membangun rumah di sana.
Mas fandi biasanya pulang ke rumah sebulan sekali, dan kebetulan kali ini mas fandi sedang cuti selama seminggu karena ada kerabat yang sedang berduka.
" Dek, mas masih libur tiga hari lagi, kamu mau pergi ke mana mumpung mas masih di rumah. " Tanya mas fandi sambil membelai halus rambut panjangku dan mencium kilas pipiku.
" Nggak ah mas, di rumah aja. " Jawabku sambil tersenyum manis.
Tanpa aba - aba mas fandi segera mencium bibirku dengan penuh gairah dan nafsu, tidak lupa kedua tangannya telah bermain di kedua bukit kembarku dan turun menuju liang kenikmatan ku.
" Ahhh, mas " Aku mendesah, membuat mas fandi menjadi lebih bersemangat
Tok.. tok.... tok..
" Assalamualaikum, sin sin pulang. " Suara cempreng sin sin mengagetkan kami bahkan mas fandi sampai terjatuh dari kursi 😂karena aku mendorongnya dengan kuat,
mas fandi mendengus kesal karena kegiatan bermanja ria, juga aksi panas membahana kami yang tertunda akibat cemprengnya suara sin sin.
Aku segera membuka pintu Ceklek..
__ADS_1
" Eh anak ibu sudah pulang sayang ".Tanyaku dengan senyuman paksa karena menahan gejolak yang tak tersalurkan
" Ibu sama bapak kok mukanya merah?. " Tanya polos sin sin yang membuatku ingin menenggelamkan diriku di dasar sungai.
Kami hanya menjawab senyum cekikikan
" Ooh ibu sama bapak habis senam ya jadinya capek. Eh leher ibu kenapa kok kayak di gigit fampir sih . " Kami hanya melongo mendengarkan pertanyaan putri kami yang masih polos itu.
" Sayang, ini bukan di gigit fampir, tapi ibu hanya sedang alergi saja. " Jawabku
" Iya alergi dadakan. " mas fandi menimpali.
" Ohh, ibu tadi di sekolah sin sin belajar tentang tubuh manusia bu, besok sin sin tanya bu guru aja, penyebab leher ibu merah merah karena alergi dadakan. " Kata sin sin membuat aku dan mas fandi melototkan mata karena perkataan sin sin.
" Ya ampun mas itu anak kamu. "
Like vote and coment.
saranghe
__ADS_1
Dream