Dari Teman Jadi Pasangan

Dari Teman Jadi Pasangan
Menantang.


__ADS_3

Mereka bertiga menunggu Airin tersadar di UKS. Sementara Kakak penjaga UKS keluar sebentar untuk memberikan info kepada guru kelas bahwa mereka berempat akan kembali ke kelas agak terlambat. Berhubung yang mengajar adalah Pak Budi, jadi urusannya tak perlu terlalu panjang.


Sudah sekitar 20 menit lebih Airin belum sadarkan diri. Angga semakin panik melihat Airin yang sampai sekarang belum sadar juga.


"Kak.. Apa sebaiknya kita bawa ke Rumah Sakit aja??" Tanya Angga cemas.


"Tenang Angga, Kakak tau sebentar lagi Airin akan sadar. Sabar ya.." Jawab Kakak tersebut. Angga yang mendengar mendengus kesal dan mencoba untuk bersabar dan menghilangkan sedikit rasa khawatirnya.


"Rinn.. Lo jangan buat gw sama yang lain khawatir dong." Kata Mukramah cemas.


"Tut Perkutut tali kut..." Ucapan Arka terhenti saat melihat Airin yang sudah membuka matanya.


"Rin! Lo udah sadar??" Tanya Arka memastikan.


"Airin! Akhirnya lo sadar! Jangan buat gw dan yang lain khawatir dong." Kata Angga pelan.


"Syukurlah.." Ucap Mukramah.


"Tut.. Perkutut.. Itu apa??" Tanya Airin dengan polos dan langsung membuat teman temannya saling pandang dan langsung tertawa.


"Kok ketawa? Tut Perkutut nya apa?" Tanya Airin lagi.


"Gk.. Tadi gw lagi baca mantra supaya lo bangun.. Taunya dah bangun deluan aja. Hahaha." Kata Arka sambil tertawa.


"Heh! Emang Airin ngapa sampe baca mantra segala." Kata Mukramah sambil mencubit tangan Arka pelan.


"Balik kelas yok." Ajak Airin langsung bangun dari tempat tidurnya.


"Udah sehat?" Tanya Mukramah.


"Heh lu kira gw selemah apa?" Kata Airin sombong.


Kemudian mereka langsung kembali ke kelas. Sesampainya mereka di Kelas, tak ada yang menanyakan tentang kejadian tersebut karna memang sudah beredar gosip di sosial media.

__ADS_1


"Permisi Pak.." Kata salah seorang murid dari kelas lain.


"Iya silahkan." Kata Pak Budi.


"Ada pesan dari Bu Yana. Dari Pak Edi pemilik Sekolah, kata beliau orang tua dari Angga, Nayla, Mukramah, dan Arka diminta untuk hadir menghadap Guru BP." Kata murid tersebut. Kemudian Pak Budi menganggukan kepala mengerti.


"Kalian gpp kan?" Tanya Pak Budi memastikan.


"Tenang pak.." Jawab Airin.


(Malam Hari Di Rumah.)


Airin sempat terkejut karna Ayahnya sudah tiba di Rumah. Karna saat itu Ayahnya masih di Bali untuk mengontrol cabang cabang perusahaan yang ada di sana. Kemudian Airin langsung menceritakan kejadian yang sudah terjadi di Sekolah kepada kedua orang tuanya.


Bunda dan Ayahnya sempat terkejut mendengar cerita Airin. Tapi mereka tetap memenuhi panggilan untuk hadir ke Sekolah besok siang. Airin hanya merasa lega karna orang tuanya mau datang. Dia sungguh merasa tak bersalah dengan kejadian yang terjadi. (Padahal kan memang bukan salah Airin sih.)


"Bunda dan Ayah harus datang jam berapa?" Tanya Bunda.


"Anak Ayah udah bikin masalah aja ya di Sekolah.." Kata Ayah sambil menahan tawanya.


"Ihh.. Ayah kok gitu. Kan yang mulai bukan Airin." Kata nya cemberut.


"Iya iya.. Ayah tau. Yaudah tidur sana, udah malam. Nanti kamu kesiangan lagi." Kata Ayah.


"Bunda.. Airin lupa bilang. Kata teman teman Airin Makasih untuk camilan sore nya.." Kata Airin.


"Sama sama.. Nanti Bunda biiinin lagi deh kapan kapan." Ucap Bunda.


"Makasih Bunda.. Airin tidur dulu ya." Kata Airin dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


(Keesokan Harinya.)


"Wey.. Orang Tua kalian marah gk karna dipanggil ke guru BP?" Tanya Arka penasaran.

__ADS_1


"Enggak.." Jawab serentak.


"Toh.. Bukan kita yang salah! Ngapain takut!" Kata Mukramah sambil mengeraskan dan menekankan kata kata nya sambil melirik seseorang yang sedang berjalan.


"Dih.. kalian oede banget ya." Cibir Sisil.


"Ihh.. Dia GR tau. Gw gk ngomong ke lo ya tadi." Kata Mukramah.


"Oh.. Kirain. Jangan lupa habis ini!" Kata Sisil meninggalkan mereka.


"Cih!" Sisil kemudian langsung pergi meninggalkan mereka.


"Apaan sih! Berasa Ratu aja!" Kesal Mukramah.


"Sabar ih.. nanti juga kita tau siapa yang benar siapa yang salah." Kata Airin.


"Yaudah.. kita abisin dulu makanannya. Takutnya nanti udah ditungguin kan." Kata Angga.


******


Mereka sudah memasuki ruangan dan sudah melihat Sisil dengan Orang tuanya yang sekaligus pemilik Sekolah ini. Ekspresi wajah Sisil seakan sangat menantang mereka. Ya, Guru BP sedang menunggu kehadiran Kepala Sekolah juga.


Airin, Angga, Mukramah, dan Arka baru didampingi dengan Ibu mereka masing masing. Karna sepertinya Ayah mereka sedang berbicara dengan Kepala Sekolah.


"Tuan.. Apa tidak apa apa? Sebenarnya masalah ini juga bukan salah Airin." Kata Bu Yana sopan.


"Tidak apa apa. Kami hanya mengikuti prosedur Sekolah saja." Kata Ayah Airin.


"Benar.. Karna mereka tidak takut salah. Jadi, mengapa kami juga harus takut?" Kata Ayah Mukramah.


"Baiklah.. Silahkan lewat sini.." Kata Bu Yana.


Saat mereka mendorong pintu ruangan.. Semua orang langsung terkejut kecuali anak mereka. Orang orang sangat terkejut dengan kehadiran 4 orang penting dari 4 Keluarga besar.

__ADS_1


__ADS_2