Dari Teman Jadi Pasangan

Dari Teman Jadi Pasangan
Menang


__ADS_3

Wajah mereka kini sudah mulai sangat gugup dan mengeluarkan banyak keringat karna sangkin gugupnya.


"Ahh!.. Tuan Putra, Tuan Araffif, Tuan Wijaya, dan Tuan Nanda! Ada keperluan apa Para Tuan besar datang." Ucap Pak Edi dengan suara gemetarnya dan sambil memberi hormat.


"Ohh.. Siang." Jawab mereka serentak.


"Ohh! Silahkan duduk Tuan!" Kata Pak Edi mempersilahkan. Para Tuan Besar itupun langsung duduk di sebelah keluarga mereka masing masing. Melihat itu muka Pak Edi semakin pucat dibuatnya.


"Kami datang untuk mengurus masalah yang dibuat anak anak kami Pak." Kata Tuan Putra sambil tersenyum.


"Silahkan dimulai.." Sambung Tuan Nanda.


"Ahh! Ba.. Baik baik Tuan." Jawab Pak Edi gagap.


"Paman. Aku tidak salah! Mereka lah yang menghalangi jalan ku Paman!" Ucap Sisil marah. Pak Edi sontak saja kaget dan ingin membungkam mulut anaknya itu. Namun Tuan Nanda memberikan isyarat untuk membiarkannya.


"Cih!" Kesal Mukramah.


"Menghalangi jalanmu?" Kata Angga.


"Jalanmu ya.." Kata Arka.


"Memang itu jalan ya? Setau ku kan itu tangga." Kata Airin santai.


"Jalan kan ada di depan Sekolah." Sambung Mukramah.


"Tempat para kendaraan lewat kan?" Kata Angga dan Arka bareng. Padahal mereka tak janjian untuk menjawab secara sama seperti itu sih.


"Iya! Itu jalanku! Sekolahku!" Kata Sisil tak mau kalah.


"Wah wah.. Iyakah?" Ucap Arka menyindir.

__ADS_1


"Punyamu? Ya.. Maaf kalo begitu.." Kata Mukramah.


"Tapi.. Masalahnya 1." Kata Angga sambil mengacungkan satu jarinya.


"Itu Sekolah milik Ayahmu. Bukan milikmu kan?" Sambung Airin.


Entah mengapa mereka seperti bisa bertelepati untuk menyambungkan kata kata mereka. Yah mereka seperti sudah terhubung satu sama lain ya hatinya? Kata kata nya seperti sebuah kalimat yang terputus putus.


"...." Diam tak ada jawaban. 'Sial! Berani beraninya mereka menganggap gw rendah!' Amuk sisil.


"Ayah! Mereka harus di scors selama mungkin! Meeka tidak sopan denganku!" Rengek Sisil.


"Tidak sopan? Bukankah kami lebih tua 5 bulan darimu Adik Sisil?" Kata Airin menyeringai.


"Kami tidak masalah jika harus di scors. Bahkan, jika dikeluarkan dari Sekolah ini pun tidak masalah. Toh.. Sekolah lain juga masih adakan." Kata Angga santai.


"Tu.. Tuan.. Maafkan kelancangan anak saya." Ucap Pak Edi membungkuk didepan para Tuan Besar.


Akhirnya Guru BP tersebut pun menayangkan siaran CCTV kemarin. Sisil yang sudah terkuak kejahatannya masih sangat santai dan merasa sangat tidak takut. Namun berbeda jauh dengan wajah Ayahnya yang sudah mulai pucat dan lemas.


"Ayah! Aku kan tetap anak Ayah! Aku tidak salah!" Kata Sisil membela diri.


Plak!!!


Sebuah tamparan keras untuk Sisil.


"Cukup!! Ayah sudah tak tahan dengan kelakuanmu! Mana Sopan Santunmu! Sebagai hukuman kau akan di Scors selama 1 Bulan!" Kata Pak Edi tegas.


"A.. Ayah.." Ucap Sisil yang tak menyangka bahwa Ayahnya akan menamparnya.


"Terima kasih karna Pak Edi sudah mengikuti aturan Sekolah ini." Ucap Tuan Wijaya.

__ADS_1


"Baiklah.. Kami Permisi dulu. Lain kali mampir kerumah ya." Kata Bunda Airin sambil tersenyum.


Setelah kepergian Tuan Besar dari Ruangan Guru BP. Sekarang tersisa Guru BP, Pak Edi, dan Sisil saja di dalam tuangan tersebut. Sisil sudah mulai menangis karna merasakan sakit di wajahnya dan juga di hatinya akibat tamparan dari Ayahnya untuk diri nya.


"Ayah! Kenapa malah menamparku!" Teriak Sisil.


"Apa kau tau?! Mereka adalah Tuan Besar!! Dan Tuan Putra ada Presdir dari Perusahaan tempat Ayah bekerja! Dan Sekolah ini juga termasuk Proyek dari Perusahaan Tuan Putra!" Teriak Pak Edi.


Sisil yang mendengarnya pun hanya diam mematung. 'Kenapa? Kenapa? Kenapa harus gw yang sial! Kenapa semua gk adil! Kenapa harus mereka! Kenapa harus mereka yang selalu benar! Seharusnya aku yang benar!!' Batin Sisil.


Setelah datang ke Sekolah, Para Tuan Besar dan Nyonya Besar pun langsung pulang karna harus mengurisi pekerjaannya yang sempat tertunda. Angga, Airin, Mukramah, dan Arka pun bertos ria karna berhasil mengalahkan Sisil sambil menyelipkan beberapa kata sindiran.


Sebenarnya, bukan bebetapa kata sindiran sih. Melainkan semua yang mereka ucapkan itu adalah kata sindiran. Hehehehe.


"Ihh! Aturan tadi gw bawa lakban!" Gerutu Mukramah.


"Buat apa Mah?" Tanya Arka.


"Buat lakban mulut dia! Udah 11 12 mirip bebek yang gk bisa diem mulutnya!" Jawab Mukramah.


"Gw adanya selotip geh." Kata Angga.


"Kenapa gk bilang! Kalo lo bilang udah gw lakban mulutnya." Kata Mukramah kesal.


"Karna Amah gk bilang ke Angga. Gimana Angga mau tau Mah." Kata Airin sambil menahan tawanya.


"Hahahaha." Tawa mereka.


"1 masalah selsai.. Masih banyak masalah lagi nih yang menanti." Kata Angga.


"Santai. Kita cuma harus waspada." Kata Arka.

__ADS_1


"Dan saling percaya satu sama lain!" Kata Airin dan Mukramah bersamaan.


__ADS_2