
Luka di tubuh Ahza cepat sembuh karena Galen memberi obat yang terbaik untuknya.
"Pagi sayang." Ucap Galen mengecup seluruh wajah wanita cantik di sampingnya.
"Enghhh." Lenguh Ahza saat Galen tiada henti menciumnya.
Ahza membuka matanya sedikit demi sedikit, hingga wajah seorang lelaki tengah tersenyum lebar yang pertama kali di lihatnya saat kedua mata itu terbuka.
"Aku kesiangan ya mas?" Tanya Ahza dengan suara khas bangun tidurnya.
"Tidak, ini masih pukul 6." Terang Galen mengelus pelan rambut Ahza.
Keduanya saling diam untuk beberapa saat.
"Mau jalan-jalan keluar?" Tanya Galen tiba-tiba membuat Ahza menoleh ke arahnya.
"Benarkah?" Tanya Ahza dengan wajah berbinar.
Galen menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis ke arah Ahza.
"Tapi kau harus melayani ku dengan baik." Bisikan Galen di telinga Ahza. Membuat binar kebahagiaan yang terbit di wajahnya menghilang.
"Melayani ku dalam segala hal." Lanjut Galen mengecup pipi Ahza dengan lembut. Ahza sangat malu karena sempat berfikir jika Galen memintanya melayani di atas ranjang.
Ahza dengan semangat bersiap-siap untuk pergi keluar setelah beberapa bulan terkurung di dalam rumah mewah itu.
"Kau sudah siap?" Tanya Galen dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
Ahza mengangguk kemudian menyiapkan apa saja keperluan suaminya dengan baik.
"Kenapa kau semakin cantik, harusnya tidak usah berdandan seperti ini." Ucap Galen saat Ahza sedang mengancingkan kemejanya.
#Cupp
Galen mengecup pelan bibir Ahza.
"Aku jadi ingin bermain dengan mu di atas ranjang." Kata Galen membuat Ahza berhenti melakukan aktivitas nya menatap Galen dengan wajah sedih.
"Tidak. Aku hanya bercanda." Kata Galen cepat saat menyadari perubahan wajah Ahza.
Galen mengajak Ahza jalan-jalan ke mall. Menawarkan apa saja yang ada di hadapannya tetapi selalu di tolak oleh Ahza.
__ADS_1
"Kenapa tidak membeli apapun?" Tanya Galen kesekian kalinya setelah keluar dari toko pakaian dengan brand ternama.
Ahza menggelengkan kepalanya. Membuat Galen mendesah pasrah karena sudah berkali-kali dirinya bertanya terapi Ahza hanya menggelengkan kepalanya.
Ahza takut jika apa saja yang ingin di belinya akan di anggap hutang oleh Galen. Jika itu sampai terjadi Ahza berfikir Galen akan menambah masa kontraknya. Dan Ahza tidak mau jika sampai itu terjadi, hubungan yang membuat nya harus merasakan sakit fisik dan mental atas apa saja yang dilakukan Galen padanya selama 6 bulan ini. Ahza sudah tidak sabar ingin segera berakhir.
Keduanya hanya Jalan-jalan mengitari mall tanpa membeli apapun.
"Kita mau kemana lagi?" Tanya Galen setelah keluar dari mall.
"Apa boleh ke rumah sakit." Tanya Ahza ragu.
Galen segera menatap tajam ke arah Ahza, Ahza yang menyadari tatapan Galen padanya segera menundukkan wajahnya.
🐛🐛🐛
"Ah.. Za." Lirih seorang lelaki membuat seorang wanita yang tengah duduk di sampingnya menoleh.
"Kamu sudah sadar sayang?" Tanya seorang wanita pada lelaki yang mulai membuka kedua matanya.
"Ma?" Ucap lelaki itu dengan lirih.
"Ya sayang mama ada di sini." Ucap wanita itu dengan bahagia. Tangan wanita itu memencet tombol yang ada pada dinding ruangan tersebut.
Wanita paruh baya itu keluar dari ruangan sambil menghubungi seseorang.
Hingga akhir nya seorang lelaki lari tergopoh-gopoh menghampiri wanita itu dengan cemas.
"Bagaimana keadaan Denis ma?" Tanya seorang lelaki dengan cemas saat melihat pintu ruangan anaknya tertutup.
"Denis tadi sudah sadar pa." Ujar mama Denis menatap suaminya.
"Tapi Denis menanyakan Ahza." Lanjut mama Denis sedih.
Belum juga papa Denis menjawab, mereka di kejutkan dengan kedatangan Ahza dan Galen.
"Bagaimana keadaan mas Denis ma, pa?" Tanya Ahza tanpa memperdulikan wajah lelaki di samping nya.
Kedua paruh baya di depannya tidak menjawab justru memandang Ahza dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ma, Pa? Ada apa?" Tanya Ahza lagi dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Ah.. Ya tadi Denis sudah sadar." Balas papa Denis setelah beberapa saat hanya diam dengan pikirannya.
"Pagi Dokter Galen?" Sapa papa Denis walaupun telat karena Galen sudah dari tadi datang tapi mereka lupa menyapanya karena kedatangannya yang tiba-tiba.
"Pagi juga Pak Guntur." Balas Galen dengan ekspresi dingin.
#Ceklek
Pintu ruangan terbuka, keluar lah seorang dokter laki-laki yang hampir seluruh rambutnya memutih.
"Eh ada Dokter Galen?" Kata Dokter itu langsung bertanya pada Galen tidak dengan yang lainnya.
"Bagaimana kondisi pasien prof?" Tanya Galen pada dokter itu.
"Alhamdulillah keadaannya sudah membaik, pasien sudah bisa untuk di jenguk." Kata Dokter itu.
"Oh ya pasien sedari tadi menyebut nama Ahza." Lanjut Dokter itu membuat Ahza segera memasuki ruangan tanpa memperhatikan jika wajah seseorang tengah menatapnya marah.
Galen mengepalkan kedua tangannya menahan emosi juga rasa cemburunya yang sedari tadi di tahannya. Jika tidak mengingat nasehat seseorang Galen tidak akan mengijinkan Ahza menemui Denis.
🐛🐛🐛
"Mas Denis?" Sapa Ahza yang melihat suaminya tengah menatap ke arahnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ahza sayang." Balas Denis ingin turun dari ranjangnya.
"Berhenti mas, biar aku yang ke situ." Ujar Ahza mendekati seorang yang sangat di rindukannya dengan sedikit berlari.
Ahza memeluk tubuh Denis dengan perasaan yang tidak dapat di jelaskan. Antara rasa rindu, bahagia juga sedih dan bersalah.
Tapi Ahza menepis perasaan itu setelah merasakan pelukan yang selama ini ia rindukan, dari lelaki yang sangat di cintai nya.
"Apa ada yang sakit mas?" Tanya Ahza cemas memegang lembut wajah Denis yang memiliki bekas luka bakar pada pipi dan dahinya.
"Apa sekarang wajah ku menakutkan sayang?" Tanya Denis tidak menjawab pertanyaan Ahza yang mencemaskan nya.
Dengan cepat Ahza menggelengkan kepalanya.
"Tidak mas, kamu masih tampan seperti dulu. Kamu tetap lelaki terbaik yang aku punya." Kata Ahza sambil membenamkan wajah nya pada dada Denis.
"Memangnya kamu punya laki-laki lain selain aku?" Tanya Denis tiba-tiba.
__ADS_1
Degg!!!
Ahza tersentak kaget dengan pertanyaan Denis.