
"Tu.. " Perkataan Ahza terhenti saat pemilik mobil itu membuka kaca mobil, sebab seseorang di dalam mobil itu tidak asing di matanya. Tetapi Ahza lupa pernah melihatnya dimana.
"Kamu kenapa? Kenapa tengah malam seperti ini ada di sini bawa anak yang sedang tidur lagi. Kasihan kan dia." Kata seorang lelaki setengah abad itu melihat wajah anak yang di kiranya sedang tidur.
"Tuan dia tidak tidur tetapi pingsan." Kata Ahza membuat seorang wanita di samping lelaki itu membuka matanya.
"Cepat pa, kita bawa dia ke rumah sakit." Ucap seorang wanita yang baru saja membuka mata.
"Ayo sini masuk." Ajak lelaki setengah abad itu turun dari mobilnya kemudian membukakan pintu mobilnya.
Tanpa ragu Ahza masuk ke dalam mobil itu sebab pikiran nya sangat takut terjadi sesuatu dengan anaknya.
Mobil itu melaju dengan cukup kencang membuat
"Terimakasih Tuan dan Nyonya." Kata Ahza tiba-tiba setelah beberapa saat ketiga orang di dalam mobil hanya diam dalam pikiran nya masing-masing.
"Iya sama-sama. Memangnya dia kenapa?" Tanya wanita paruh baya itu menoleh kebelakang.
Bukannya menjawab justru Ahza tambah menangis hingga air matanya menganak sungai menyusuri pipi putih mulusnya.
"Hai ada apa?" Tanya wanita setengah abad itu prihatin.
"Galaxy... " Akhirnya Ahza menceritakan semua yang terjadi sebelumnya pada dua orang berusia setengah abad itu karena sudah tidak sanggup menyimpan terlalu lama apa yang selama ini di pendam nya dalam hati.
"Keterlaluan sekali suamim dan keluarganya. Mentang-mentang bukan anak darinya, tapi dia tidak boleh seperti itu, apalagi kamu melakukan semua itu juga untuk kesembuhannya." Respon wanita setengah abad itu marah pada Denis dan keluarganya
"Lalu di mana ayah dari anak itu?" Kata lelaki setengah abad itu menunjukkan reaksi yang sama seperti wanita itu.
"Apa dia tahu jika dia memiliki anak darimu?" Tanya wanita setengah abad itu lagi.
Ahza menggelengkan kepalanya.
"Aku takut dia mengambilnya dariku." Lirih Ahza membenarkan tubuh Galaxy hingga wajah anak 5 tahun itu terlihat jelas oleh wanita setengah abad yang sedari tadi menoleh ke belakang.
"Galen!" Teriak wanita setengah abad itu tiba-tiba.
__ADS_1
Ahza dan lelaki setengah abad itu langsung melihat ke arah wanita itu dengan pandangan terkejut.
"Lihat pa wajah anak itu seperti putra kita." Ucap wanita setengah abad itu dengan antusias tetapi tidak dengan Ahza.
"Katakan nak apa benar ayah dari anak itu adalah Galen Zafer Razzan." Kata lelaki setengah abad itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ahza diam tidak menjawabnya karena Ahza sendiri takut jika dua orang di depannya akan memisahkannya dengan putranya apalagi setelah mendengar bagaimana Galaxy selama ini di perlakukan oleh keluarga Denis.
Ahza mendekap erat tubuh putranya hingga dua orang setengah abad itu menyadari jika Ahza seperti orang yang ketakutan.
Mobil itu telah sampai di rumah sakit yang menjadi tujuan nya.
Dengan segera lelaki setengah abad itu keluar dengan menggendong tubuh anak 5 tahun yang berada di pangkuan ibunya membuat Ahza melongo melihatnya. Ahza semakin takut jika kedua orang tua Galen akan mengambil Galaxy darinya.
Ahza yang menyadari jika pria setengah abad itu sudah membawa pergi Galaxy darinya segera menyusul langkah kedua orang itu.
"Tuan, Nyonya saya mohon jangan pisahkan saya dengan anak saya." Kata Ahza di depan dua orang yang sedang panik dengan wajah khawatir.
Tidak ada yang menjawabnya yang pasti keduanya sedang bergulat dengan pemikirannya masing-masing.
Hingga seorang wanita muda keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya wanita setengah abad dengan tidak sabaran.
Tidak lama dokter itu pamit, dengan tidak sabaran dua orang setengah abad itu menuju ke ruangan Galaxy. Ahza mengekor di belakangnya.
"Cucu nenek." Ucap wanita paruh baya, tiada hentinya menciumi wajah anak berusia 5 tahun itu dengan kasih sayang.
"Cucu kakek sudah besar ya sekarang." Kata lelaki setengah abad itu.
Pintu terbuka kembali Ahza pikir itu adalah dokter tetapi itu salah, sebab yang datang adalah lelaki yang sangat di kenali nya.
Laki-laki itu menatap wajah Ahza dengan tajam kemudian melewatinya begitu saja.
"Bagaimana keadaannya ma?" Tanya laki-laki itu tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah Galaxy.
"Dia sudah melewati masa kritisnya, untungnya segera di tangani oleh dokter." Sahut Pak Pranata.
__ADS_1
Galen mengepalkan tangannya erat menahan emosinya agar tidak meledak-ledak. Galen membayangkan bagaimana selama ini putranya di perlakukan oleh keluarga Denis dari cerita sang mama.
"Ahza." Kata Galen penuh penekanan melihat ke arahnya.
Ahza benar-benar ketakutan. Pikiran nya langsung mengarah jika Galen akan benar-benar memisahkannya dari Galaxy apalagi saat melihat kemarahan dalam matanya.
"Kenapa kamu sembunyikan hal besar seperti ini Ahza?" Teriak Galen emosi memegang bahu Ahza dengan kasar dan mengguncang nya.
"Aa.. aku tak.. kut ji.. jika kaa.. kamu akan me... ngambilnya dariku." Lirih Ahza terbata-bata.
"Kamu takut aku mengambilnya, tapi kamu sendiri membiarkan anakku di perlakukan tidak baik oleh keluarga itu. Kamu balas dendam dengan ku lewat putraku Hah!!" Bentak Galen pada Ahza.
Mama Galen mengelus pundak Denis agar memelankan suaranya dan berbicara tidak menggunakan emosi.
"Selamat Ahza. Kamu berhasil. Tapi ingat aku akan membuat hidup kalian sengsara karena sudah berani menyiksa anakku." Ucap Galen dengan suara lirih.
"Aku mohon jangan pisahkan aku dengan Galaxy." Kata Ahza bersimpuh pada kaki Galen.
"Supaya apa? Supaya kalian bisa menyiksanya lagi." Kata Galen dengan tersenyum sinis.
"Tidak. Aku sangat menyayangi Galaxy. Aku tidak menyiksanya." Kata Ahza ingin mendekat ke arah Galaxy tetapi Galen menghalanginya.
"Jangan sentuh putraku. Sudah cukup kalian buat dia menderita selama ini." Teriak Galen kembali.
"Aku menyayanginya mas. Posisiku susah mas, aku menyayangi kedua anakku. Aku tidak ingin berpisah dari mereka berdua." Balas Ahza dengan tangisan pilunya
"Kamu hanya menyayangi putra mu dan Denis. Kamu tidak menyayangi anakku ini." Sahut Galen masih emosi.
"Aku menyayangi keduanya mas." Teriak Ahza tiba-tiba.
"Tapi posisiku sulit mas. Jika aku pergi dari mas Denis mengancam ku akan memisahkan dengan Kenzie." lanjut Ahza.
"Lalu kamu memilih mengorbankan perasaan putraku agar kamu masih bisa bersama dengan putra lainnya." Kata Galen tersenyum kecut.
"Ibu macam apa kamu Ahza." Lanjut Galen menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Ahza semakin terpuruk mendengar apa yang di katakan Galen adalah benar. Secara tidak sadar dirinya telah pilih kasih pada putranya.
"Mama.. " Gumam anak 5 tahun itu masih terdengar di telinga semua orang.