
Seorang lelaki dewasa sedang asik dengan seorang perempuan di ruang kerjanya hingga melupakan suatu hal.
"Apa kamu tidak ingin menceraikan istrimu mas?" Tanya perempuan dengan ragu pada lelaki yang sedang memangku nya.
"Tidak. Aku hanya mencintainya saja." Balas lelaki itu asik bermain dengan dada perempuan yang tidak sekencang dan besar wanitanya.
"Kalau kamu mencintainya kenapa kamu lakukan ini di belakangnya mas?" Tanya perempuan itu heran.
"Lalu kamu anggap aku ini apa mas?" Tambah perempuan itu.
"Sudahlah yang terpenting kamu dan keluargamu tidak kekurangan uang. Tidak usah banyak protes." Kata lelaki itu menurunkan perempuan itu dari pangkuannya kemudian pergi meninggalkan perempuan itu sendiri.
...🐛🐛🐛...
"Berhenti Ben." Kata seorang lelaki yang berpakaian rapi.
"Ada apa tuan, nanti kita terlambat nyonya bisa marah-marah." Kata lelaki yang sedang mengemudikan mobil itu mengingatkan tetapi lelaki di sampingnya tidak menggubrisnya justru turun dari mobil.
"Hay kalian mau kemana." Tanya lelaki dengan rambut putih yang menghiasinya setelah turun dari mobil pada seorang anak yang menggendong seorang anak di punggungnya.
"Dia kenapa?" Tanya laki-laki itu lagi.
Anak yang sedang menggendong itu mendongakkan kepalanya, sedangkan anak yang di gendongannya sesekali memejamkan matanya karena mengantuk.
"Kami mau pulang, permisi." Jawab anak itu kemudian melanjutkan langkahnya, sedangkan lelaki itu hanya diam terpaku setelah melihat wajah anak kecil yang baru saja menjawab pertanyaannya. Hingga pertanyaan seseorang menyadarkannya.
"Ada apa tuan?" Tanya lelaki yang tadi mengemudikan mobil.
"Ah ya dimana anak itu Ben?" Tanya lelaki itu panik.
Ben menunjukkan tangannya ke arah anak itu pergi tanpa berbicara lelaki itu berlari kearah yang Ben tunjukkan.
"Kenapa tuan Pranata itu?" Gumam Ben bingung kemudian masuk kedalam mobil mengikuti kemana perginya tuannya itu. Bisa gawat jika sampai ia kehilangan lelaki tua itu, bisa di makan hidup-hidup oleh keluarganya, pikir Ben.
"Sini duduk dulu." Kata Pak Pranata mengajak kedua anak itu untuk istirahat.
"Lihat dia mengantuk nanti kalau jatuh gimana?" Bujuk Pak Pranata lagi membuat anak yang sedang menggendong adiknya itu menuruti ucapannya sebab Galaxy tidak ingin adiknya terluka.
"Ben belikan minuman sama makanan buat mereka berdua." Perintah Pak Pranata pada lelaki yang baru saja turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Baik tuan." Jawab lelaki itu masuk kembali kedalam mobil dan pergi ke supermarket terdekat.
"Siapa nama kalian?" Tanya Pak Pranata pada kedua anak itu.
"Kenzie dan ini kakak Kenzie Galaxy." Sahut anak yang sedari tadi mengantuk.
"Oh kalian kakak adik? Umur kalian berapa? " Ucap Pak Pranata.
"Umur kita sama kata Bu Guru ya Kak." Kata Kenzie dengan polosnya pada Galaxy.
"Kalian kembar?" Tanya Pak Pranata terkejut apalagi saat melihat fisik mereka yang terlihat berbeda jauh.
Kenzie menganggukkan kepalanya sedang Galaxy hanya diam menyimak.
"Dimana orang tua kalian?" Tanya Pak Pranata dengan wajah penuh harap.
"Mama kerja kalau papa-" Lagi-lagi Kenzie menjawab tetapi kini dia menjeda kalimat nya dengan wajah sedih membuat Pak Pranata semakin berharap apa yang dipikirkan nya itu benar.
"Papa juga kerja, tapi biasanya menjemput kami." Lanjut Kenzie membuat wajah penuh harap Pak Pranata meredup.
"Ini tuan." Kata Ben tiba-tiba sudah ada di belakang nya.
"Terima kasih Kakek." Kata Galaxy yang sedari tadi diam.
Entah mengapa saat Galaxy memanggilnya Kakek ada rasa bahagia dalam hatinya.
"Iya habiskan ya, itu semuanya untuk kalian." Kata Pak Pranata tersenyum bahagia.
"Kakek tidak ikut makan?" Tanya Galaxy lagi sedangkan Kenzie sibuk memakan makanannya.
"Tuan nyonya menelfon katanya tuan muda tidak ada di sana." Kata Ben tiba-tiba saat Pak Pranata ingin menjawab pertanyaan Galaxy.
"Coba kamu telfon dia Ben." Kata Pak Pranata.
"Sudah, tapi tidak diangkat." Jawab Ben membuat Pak Pranata menghembuskan nafas berat.
"Apa kamu memberitahu sesuatu pada Galen Ben?" Tanya Pak Pranata memicingkan matanya curiga.
"Tidak tuan, saya tidak mengatakan apapun pada tuan muda." Jawab Ben yakin.
__ADS_1
"Bagaimana ini Ben, kamu tahu bagaimana nyonya mu itu akan berceloteh?" Tanya Pak Pranata ngeri.
"Di tambah anda juga, nyonya pasti akan semakin berceloteh panjang kali lebar kali tinggi atas bawah atas bawah." Ucap Ben dalam hatinya menggerutu kenapa tuan nya justru asik dengan dua anak yang tidak di kenalnya.
"Apa sampai segitu nya tuan menginginkan cucu, hingga anak kecil yang tidak di kenalnya di ajak ngobrol seperti itu." Batin Ben lagi saat Pak Pranata justru melupakan masalah nya dan memilih melayani kedua anak itu bercerita.
Ben mengamati kedua wajah anak itu bergantian, seperti tidak asing dengan salah satu wajah anak itu.
Hingga Ben mendekatkan wajahnya untuk mengamati dari dekat untuk memastikannya kembali.
"Apa-apa kamu Ben," Kata Pak Pranata memukul bokong Ben sebab bagi yang melihatnya Ben seperti ingin mencium Galaxy.
"Auwhhh." Ringis Ben mengusap-usap bokongnya yang sedikit panas sebab Pak Pranata memukulnya cukup keras.
"Apa yang kamu lakukan Ben, lihatlah mereka jadi ketakutan. Sudah seperti pedofil saja." Sindir Pak Pranata pada Ben yang tersenyum canggung sebab malu dengan apa yang baru saja di lakukan nya.
"Tuan menurut saya wajahnya seperti tuan muda Galen." Ucap Ben dengan ragu.
"Itu bukan menurutmu saja, tapi menurut ku juga Ben." Kata Pak Pranata cepat.
"Bahkan siapa saja yang melihat melihat mereka pasti akan berfikiran seperti itu." Sambung Pak Pranata menatap Galaxy yang sedang mendengarkan pembicaraan kedua orang di depannya.
"Sudah jangan takut dia bukan ingin mencium mu, dia hanya mengamati wajah tampan mu itu." Kata Pak Pranata yang menyadari jika Galaxy serius mendengarkan percakapannya.
"Kakek!! Kakek tahu tidak kenapa wajah kami berbeda? Katanya kalau kembar itu sama, tapi wajah kami berbeda tidak seperti Bima dan Rama." Kata Kenzie saat mengingat jika teman sekelasnya yang kembar.
"Lihat wajah kakak sangat tampan, kata orang-orang kakak seperti bolu." Kata Kenzie lagi membuat Pak Pranata dan Ben mengernyitkan dahinya sedang Galaxy hanya menghela nafas berat mendengarkan sebutan bolu padanya untuk yang ke beberapa kalinya.
"Bolu?" Tanya Pak Pranata bingung.
"Iya Bolu." Kata Kenzie membuat Ben berfikir keras. Sedangkan Pak Pranata masih sibuk dengan pemikiran nya.
"Itu seperti dia, kulitnya putih rambutnya coklat." Tunjuk Kenzie dengan semangat saat melihat ada seseorang yang warna kulit dan rambutnya seperti sang kakak.
Ben dan Kenzie membalikkan badannya untuk melihat seseorang yang di maksud oleh anak di depannya.
Keduanya terkejut saat melihat siapa yang di maksud oleh Kenzie.
Apalagi wajahnya terlihat marah saat menatap pada Ben dan Pak Pranata.
__ADS_1