
"... "
"Iya Hallo pa." Balas Ahza dengan seseorang di sebrang sana.
"..."
"Iya pa, sebentar lagi Ahza kesitu." Jawab Ahza bergegas meletakkan ponselnya saat panggilan itu terputus.
"Bapak, Ibu Ahza ke ruang mas Denis dulu ya. Maaf Ahza tidak bisa temenin kalian." Kata Ahza gusar berulang kali mengusap wajahnya. Lelah tubuh dan pikiran benar-benar di rasakan nya. Masalah adiknya belum selesai kini tinggal suaminya yang mengalami musibah.
🐛🐛🐛
"Za tadi dokter bilang adikmu harus segera di tangani dokter kulit yang ahli karena luka bakarnya hampir 90℅." Lirih papa Denis.
"Kemungkinan besar tubuhnya tidak akan bisa kembali seperti semula, apa kamu masih mau mendampingi nya." Lanjut papa Denis bertanya pada Ahza.
"Ahza mencintai mas Denis apa adanya pa, meskipun sekarang keadaanya seperti itu aku tetap mencintai nya." Jawab Ahza yakin.
"Tapi masalah nya bagaimana mengobati Denis, sedangkan semua uangnya raib terbakar. Aku sih enggak ada uang, rencana nya juga aku mau minta uang Denis buat beli mobil untuk Renata." Sahut Kakak laki-laki Denis dengan tampang tanpa dosa.
"Bram !!! Keterlaluan sekali kamu. Apa tidak ada rasa simpati sedikitpun untuk adikmu yang baru saja tertimpa musibah." Bentak mama Denis yang sedari tadi diam akhirnya tidak tahan setelah mendengar putra sulungnya berbicara seolah tidak perduli dengan keadaan adik kandung nya.
"Huh kalian terlalu menyayangi Denis, sekarang kalian urus anak kesayangan kalian sendiri, jangan libatkan aku dan Renata." Ketus Bram berlalu meninggalkan tempat itu di susul oleh istrinya.
"Kenapa Bram seperti itu pa?" Tanya mama Denis sedih.
"Sudah lah pa, tidak usah pikirkan masalah lain. Sekarang cukup pikirkan bagaimana kita bisa mengobati Denis." Kata papa Denis menasehati istrinya.
__ADS_1
Mereka bertiga saling diam dengan pikiran masing-masing hingga suara Bram mengejutkan.
"Keluarga dari korban minta tanggung jawab atas apa yang menimpanya." Kata Bram santai.
"Jika tidak memberikan uang ganti rugi. Keluarga korban akan menuntut Denis ke penjara. Seperti itu yang ingin aku sampaikan, tapi ingat jangan memintaku untuk membantu anak kesayangan mu itu." Lanjut Bram berlalu meninggalkan keluarga nya karena tidak ingin ikut terseret masalah.
"Bagaimana ini pa, belum selesai masalah satu muncul masalah lain nya lagi." Lirih mama Denis frustasi.
"Entah lah ma, papa juga bingung." Kata papa Denis memijit pelipis matanya.
Ahza hanya diam tidak berkomentar, tetapi pikiran nya terus berkelana untuk mencari solusi agar adik dan suaminya bisa sembuh dan bisa mengganti uang ganti rugi untuk korban kebakaran yang sedang berada dalam tokonya.
Tapi bukan nya menemukan solusi otak Ahza terasa seperti terbakar, pusing sakit karena terlalu keras berfikir tapi tidak menemukan solusi apapun hingga batinnya berteriak frustasi.
🐛🐛🐛
3 hari berlalu...
Hingga akhir nya 2 keluarga itu pasrah pada takdir anaknya. Jika memang ini akhirnya mereka dengan rela tidak rela melepaskan. Ahza yang mendengar kedua keluarganya pasrah benar-benar tidak kuat untuk kehilangan suami yang di cintai nya dan adik yang disayangi nya. Jika ada orang yang baik hati mau menolongnya Ahza akan lakukan apapun asal dua orang penting dalam hidup Ahza itu bisa hidup sehat kembali.
"Sudahlah Ahza, ikhlas kan Denis pergi. Mama sudah ikhlas daripada melihat Denis seperti itu." Ujar wanita paruh baya menguatkan, padahal biasanya selalu terlihat ketus dan galak tetapi setelah kejadian ini sifat nya berubah pada Ahza.
"Saya bisa membantu." Ucap seorang lelaki berpakaian dokter tiba-tiba di hadapan Ahza, mama Denis dan papa Denis.
"Benarkah?" Tanya mam Denis dengan binar bahagia.
"Sungguh tuan anda bisa membantu?" Timpal papa Denis
__ADS_1
"Anda tidak sedang bercanda kan? Anda bukan pasien kabur dari tempatnya kan?" Ahza memicingkan matanya menatap lelaki yang masih terlihat muda itu curiga, Ahza curiga kalau ternyata lelaki di hadapannya adalah seorang pasien rumah sakit jiwa yang nyasar ke sini seperti vidio-vidio yang pernah di tonton nya. Sebab laki-laki itu tiba-tiba saja berkata seperti itu tanpa tahu apa permasalahan yang menimpa keluarga nya.
Mama Denis dan papa Denis menatap Ahza tidak suka. Bagaimana seorang Ahza bisa berkata seperti itu pada orang yang mau membantunya, apa otak perempuan ini terlalu keras berfikir hingga menyebabkan otaknya konslet.
Laki-laki itu menatap datar pada ketiganya.
"Kalian bisa ikut saya keruangan, jika mau." Ujar lelaki itu memberikan kartu namanya kemudian berlalu meninggalkan 3 orang yang masih diam menatapnya.
Ketiganya lantas mengalihkan kartu nama yang ada di tangan papa Denis setelah punggung lelaki itu menghilang.
"Dia seorang direktur pemilik rumah sakit besar ini." Kata papa Denis menatap mama Denis dan Ahza bergantian untuk melihat reaksi dua wanita beda generasi itu.
"Iya pa, pasti dia orang kaya makanya mau menolong kita." Ujar mama Denis bahagia.
Sedangkan Ahza diam saja, rasa bersalah muncul dalam hati nya karena telah curiga kepada orang yang hendak menolongnya.
Jika benar laki-laki itu mau menolong suaminya, Ahza juga akan minta untuk menolong Ryan juga agar dirinya tidak kehilangan salah satunya.
🐛🐛🐛
Malam harinya mama Denis dan papa Denis pergi menemui orang itu, Ahza yang hendak ikut tidak di perbolehkan oleh mertuanya karena tidak ada yang menjaga Denis jika sewaktu-waktu dia sadar. Dengan malu dan bingung Ahza mengatakan agar mertuanya menyampaikan permintaan nya agar menolong biaya operasi Ryan adiknya. Kedua paruh baya itu menyetujui nya karena mereka juga sadar bagaimana perasaannya sebagai orang tua saat melihat anaknya terkapar tidak berdaya di atas ranjang.
Ahza menunggu dengan perasaan yang tidak karuan. Hingga hampir 1 1/2 jam lamanya kedua paruh baya itu pulang.
Papa Denis dan mama Denis langsung memandang Ahza dengan perasaan yang sulit di artikan. Ahza yang merasa di perhatikan dengan tatapan berbeda membuatnya semakin penasaran.
"Ada apa ma, pa?" Tanya Ahza canggung menatap mama Denis dan papa Denis bergantian. Kedua paruh baya itu justru terlihat saling pandang dengan wajah gelisah.
__ADS_1
Hingga akhir papa Denis menghela nafas berat.
"Orang itu bersedia membantu pengobatan Denis dan adikmu juga menanggung semua kerugian yang di akibatkan dari musibah kebakaran yang terjadi tapi, dia memberikan syarat agar-" papa Denis menghentikan ucapannya justru menatap mama Denis yang memalingkan wajah dengan mata berkaca-kaca membuat Ahza semakin penasaran.