
"Kau semakin cantik saja." Kata lelaki yang sedang memakai kemeja di bantu oleh perempuan yang sudah melayani nya beberapa ronde.
Perempuan itu diam tidak menyahut apa yang di ucapkan lelaki di depannya itu, memilih fokus dengan aktifitas yang di lakukan nya yaitu memasang kancing kemeja milik pria di hadapannya.
"Hai lihat aku, kamu tahu aku itu masih suamimu." Kata Lelaki itu menyentuh dagu perempuan di hadapan nya agar melihat ke arahnya.
"Kita sudah berpisah selama hampir 6 tahun, pernikahan kita juga tidak sah." Jawab perempuan itu.
"Ahza Rumaisa!!" Teriak laki-laki itu marah saat mendengar apa yang di ucapkan perempuan itu padanya.
"Aku benar, pernikahan kita tidak sah di tambah sudah hampir 6 tahun kita berpisah. Jadi sekarang aku bukan istrimu lagi." Kata Ahza membuat Galen semakin marah.
Galen mencengkeram dagu Ahza dengan kasarnya membuat Ahza meringis kesakitan.
"Baiklah kalau itu mau mu." Kata Galen sambil menghempaskan wajah Ahza dari cengkraman tangannya.
"Kita akan menikah kembali." Kata Galen enteng membuat Ahza membelalakan matanya sebab terkejut dengan apa yang di ucapkan lelaki itu dengan entengnya.
"Tidak!! Tidak aku tidak mau, aku sudah punya suami dan anak." Balas Ahza cepat.
"Aku tidak memberimu pilihan tapi ini perintah." Kata Galen dengan kalimat yang menekan.
Galen mengambil ponsel kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya. Kemudian segera menyimpan ponsel itu kembali di atas meja.
Hingga tidak lama pintu terbuka dan munculah seorang lelaki dengan wajah datarnya menghampiri.
"Semuanya sudah saya siapkan tuan." Kata lelaki itu tanpa memandang ke arah Ahza sedikit pun.
"Terima kasih Aiden." Jawab Galen membuat lelaki itu membungkukkan badannya di hadapan Galen kemudian memutar tubuhnya keluar dari ruangan itu.
Galen menarik tangan Ahza membawanya ke ruangan yang tidak jauh dari ruangan tadi.
"Ada apa ini." Tanya Ahza memandang sekelilingnya dengan bingung karena sudah ada beberapa orang di sana.
"Jadi kalian yang akan menikah?" Tanya laki-laki yang sudah berumur setengah abad membuat Ahza terkejut sedangkan Galen menganggukkan kepalanya mantap.
"Aku-" Kata Ahza segera terpotong saat Galen membisikkan sesuatu di telinganya.
"Jika kamu berani menolak, aku tidak akan segan-segan menyuruh orang-orangku untuk mencelakai anakmu." Kata Galen membuat Ahza menatap tajam pada Galen.
__ADS_1
Galen yang di tatap Ahza dengan tajam tidak terpengaruh sedikitpun justru menarik tangan Ahza agar duduk.
Pernikahan itu terjadi dengan di hadiri oleh beberapa orang dengan mas kawin sebuah kalung yang tiba-tiba di bawa oleh lelaki yang menemui Galen di kamar sebelum nya.
Setelah menikah Galen membawa Ahza ke kamar sebelum nya bukan untuk malam pertama melainkan untuk menyelesaikan persiapan pesta yang di adakan oleh orang tua Galen untuk merayakan pernikahan ke 38 tahun pernikahan.
"Kamu benar-benar tidak ingin menemui kedua mertuamu dan adik ipar mu?" Tanya Galen untuk ke tiga kalinya yang tetap mendapatkan gelengan kepala dari Ahza.
Ahza mengeluarkan ponselnya dari dalam tas yang sedari tadi tidak berhenti berbunyi.
"Siapa?" Tanya Galen mencoba untuk melihat siapa yang menelpon perempuan di sampingnya yang kini telah menjadi istrinya.
Tertera nama *Suamiku❤* di layar ponsel Ahza membuat Galen tiba-tiba merasakan cemburu.
"A.. aku akan mengangkatnya siapa tahu saja penting." Kata Ahza dengan gugup hendak menjauh saat melihat wajah Galen
"Angkat di sini." Kata Galen memegang tangan Ahza agar tidak menjauh.
"Loud Speaker." Perintah Galen langsung di ikuti oleh Ahza.
"Hallo sayang." Ucap Denis di balik telpon.
"Kamu kenapa sayang, kok gitu ngomongnya." Tanya Denis heran.
"Tidak..ti.. dak apa mas. A. aku tidak apa-apa." Jawab Ahza masih sedikit gugup.
"Kamu pulang pukul berapa nanti?" Tanya Denis.
"E.. enggak tahu mas, soalnya a.. acaranya saja belum di mulai." Jawab Ahza.
Tapi kalau nanti malam kamu pulang kan?" Tanya Denis memastikan.
"Iya mas, nanti malam aku pulang." Jawab Ahza mantab.
"Soalnya aku udah kangen banget sama kamu." Kata Denis membuat Galen panas.
Ada rasa dalam hatinya, yang tidak rela jika membayangkan Ahza dan Denis melakukan hal yang sama seperti dirinya dan Ahza tadi.
Walaupun sebelum nya juga Ahza sudah biasa di sentuh oleh Denis, tapi kini setelah dirinya menyentuh Ahza Galen merasa tidak ingin Ahza di sentuh oleh Denis kembali.
__ADS_1
Andaikan dulu dirinya tidak langsung menyerah setelah mendengar Ahza hamil setelah bersama Denis mungkin saja kini Ahza hanya miliknya meskipun harus dengan cara apapun. Walaupun anak yang di kandung Ahza adalah anak Denis. Tapi Galen akan berusaha menyayanginya seperti dirinya menyayangi sang ibu.
"Em sayang apa boleh aku pinjam uangmu? Bulan depan aku ganti." Tiba-tiba ucapan dari Denis membuyarkan lamunannya.
Galen mulai berfikir curiga pada Denis bukankah usahanya sekarang sedang berkembang pesat kenapa sampai meminta uang pada Ahza. Sebab Galen yakin jika meminjam hanyalah istilah saja dalam hubungan suami istri.
"Ah ya kita bicarakan nanti malam saja mas, karena di sini ada Bibi Hesti." Bohong Asha sebab melihat wajah Galen yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Baiklah sayang." Jawab Denis.
"Pulanglah cepat karena aku sa-. " Perkataan Denis belum selesai namun panggilan itu sudah dulu di matikan oleh Galen yang tiba-tiba merebut telpon milik Ahsa.
"Huh tapi sayang nya aku tidak akan mengijinkan mu untuk pulang." Ketus Galen meletakkan ponsel milik Ahza dalam saku jas yang di kenakan nya.
"Ta.. tapi-"
#Cuppp
Galen sudah dulu mencium bibir Ahza sebelum Ahza menyelesaikan ucapannya.
...🐛🐛🐛...
"Papa dimana Kakak. Kenzie cari-cari kok tidak ada?" Tanya anak kecil itu pada lelaki yang sedang melamun.
"Tidak biasa-biasanya Ahza mematikan panggilan nya sebelum aku selesai berbicara seperti ini." Batin lelaki itu heran.
"Tapi tidak mungkin Ahza berani bermain-main di belakang ku. Dulu saja karena keterpaksaan. Yah walaupun sebenarnya aku sangat terluka apalagi saat melihat wajah anak si brengsek itu." Batin lelaki itu curiga tetapi segera di tepisnya.
"Papa! Papa kok melamun sih." Kata seorang anak kecil yang memegangi kaki lelaki itu membuyarkan lamunannya.
"Ah ya ada apa sayang?." Tanya lelaki itu dengan lembut.
"Kakak mana Pa?" Tanya Kenzie lagi.
"Kakak sedang papa hukum karena udah buat lutut kamu sampai seperti ini." Kata Denis menunjukkan lutut yang di plester.
"Tapi ini bukan salah kakak Pa, kakak tidak ikut main kok. Kenzie jatuh sendiri." Bela Kenzie.
"Ayo kita makan, setelah itu kita main ke mall beli yang apa Kenzie mau." Ucap Denis mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Horee.. Ayo pa. " Sambut Kenzie gembira melupakan pertanyaan nya.