
"Apa maksud mu?" Tanya Ahza pelan karena takut di dengar oleh pekerja rumah itu.
"Daripada kamu banyak bertanya, lebih baik buatkan aku minuman." Ucap lelaki itu santai membuat Ahza yang penasaran menjadi kesal.
" Dasar orang sinting." Kata Ahza bukannya melakukan apa yang diinginkan lelaki itu justru Ahza ikut duduk tidak jauh dari lelaki itu.
Lelaki itu membuka penutup kepalanya, Ahza yang melihatnya membelalakan mata.
Ahza ingat siapa lelaki di depan nya. Dia adalah tetangga samping rumahnya yang sering di lihatnya saat tengah berada di atas balkon.
Laki-laki yang selalu menatap nya dengan pandangan yang sulit di artikan, juga lelaki yang sama saat di rumah sakit.
"Kenapa?" Tanya lelaki itu dengan santai nya saat melihat wajah Ahza yang terkejut.
"Tidak usah berlebihan seperti itu, aku tahu aku memang tampan." Lanjut laki-laki itu dengan percaya diri membuat Ahza memutar bola matanya malas.
"Dasar sinting!!" Cibir Ahza.
"Keluar dari rumah ini sebelum pemilik rumah ini mengetahui keberadaan mu." Ucap Ahza mengusir lelaki di hadapannya.
"Tentu saja pemilik rumah ini bisa melihatku, memangnya kamu pikir aku makhluk halus yang tidak terlihat." Ucap lelaki itu ketus.
Ahza mengusap kasar wajahnya, karena berbicara dengan orang menyebalkan seperti lelaki di depannya benar-benar membuatnya frustasi.
"Aku mohon pergilah tuan, jangan buat posisiku semakin sulit." Kata Ahza dengan menekan kata-katanya.
"Aku hanya ingin membantumu saja." Ucap lelaki itu membuat Ahza mengernyitkan dahinya.
"Kau yakin bisa membantuku?" Tanya Ahza curiga.
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya mantap.
"Kau bukan pasien rumah sakit jiwa yang kabur kan?" Tanya Ahza dengan polosnya membuat lelaki itu mendengus sebal.
"Bukan, tapi aku jenazah yang kabur saat akan di kubur." Ucap laki-laki itu sekenanya dengan kesal.
Ahza tersenyum saat melihat wajah lelaki di hadapannya, membuat lelaki itu diam terpaku karena baru kali ini melihat senyum wanita yang sering di lihatnya dari balkon kamarnya.
__ADS_1
"Sudah sana pergi!!" Ujar Ahza menarik tangan lelaki itu agar pergi dari rumah Galen. Ahza sebenarnya khawatir jika pekerja di rumah ini melihatnya tengah bersama lelaki.
"Eh ada tuan muda Elard di sini." Kata seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk membawa beberapa kantong plastik.
"Bibi mengenal laki-laki ini?" Tanya Ahza sedikit terkejut.
"Tuan muda Elard adalah sepupu tuan muda Galen nona. Tuan muda Elard juga bertetangga dengan kita, tapi tuan Elard jarang ada di rumah." Kata Bibi Asti memberitahu.
"Kalau begitu bibi masuk dulu ya nona Azha, tuan muda Elard Bibi mau masak." Kata Bibi Asti.
"Ya Bi sana masak nanti aku mau sekalian makan disini." Jawab Elard tanpa malu.
Ahza hendak menyusul Bibi Asti tetapi laki-laki itu segera meraih tangan Ahza.
"Apa begitu caranya seorang istri dari pemilik rumah ini memperlakukan tamunya?" Tanya Elard masih memegang tangan Ahza.
"Kau bukan tamu. Tapi orang gila." Ketus Ahza menepis tangan Elard.
"Aku bisa membantu mu pergi dari rumah ini, jika kau mau." Kata Elard serius.
"Aku hanya kasihan melihatmu terus-terusan di siksa oleh Galen." Kata Elard yang langsung di tatap serius oleh Ahza.
"Kasihan? Bahkan kita tidak saling mengenal." Kata Ahza miris.
"Aku hanya tidak suka saat melihat wanita terluka karena perbuatan laki-laki. Apalagi laki-laki itu sepupu ku sendiri." Ucap Elard.
"Aku tahu kamu pasti tersiksa dan tertekan hidup dengan lelaki seperti Galen." Lanjut Elard menatap intens mata Ahza yang sedang berkaca-kaca karena baru kali ini ada yang perduli padanya.
...🐛🐛🐛...
Seorang lelaki tengah memperhatikan wajah seorang lelaki dari kaca di depannya.
"Fokuslah pada jalan Ben, sebab aku masih ingin hidup." Kata laki-laki yang sadar jika dirinya sedari tadi diperhatikan oleh seseorang.
"Maaf tuan Galen, saya hanya penasaran saat melihat wajah anda yang sekarang terlihat lebih bahagia." Jawab Ben kembali fokus pada jalanan.
"Bagaimana tidak bahagia Ben, orang yang aku suka sudah ada dalam genggaman." Kata Galen dengan tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan niat anda untuk balas dendam tuan?" Tanya Ben yang langsung mendapatkan tatapan yang sulit
di artikan dari tuannya.
"Balas dendam tetaplah balas dendam Ben. Aku baru saja akan memulai nya." Jawab Galen dengan senyum smirk.
Ben tidak habis fikir dengan pikiran tuannya. Ben mengira jika Galen sudah melupakan dendamnya tapi kenyataan nya dia menyiapkan sebuah rencana yang tidak bisa di tebak oleh akalnya.
Ben memilih fokus pada jalan nya, daripada memikirkan apa isi pikiran Galen. Ben akan sabar menanti apa yang kedepannya akan terjadi.
"Kita ke rumah utama Ben." Kata Galen yang sedang fokus dengan mobilnya berhenti mendadak.
"Tapi kita sudah hampir sampai Bandara tuan, bahkan tiket pesawat saja sudah kita beli dan tidak bisa di tunda." Kata Ben panjang lebar.
"Apa kamu pikir aku se-miskin itu Ben?" Tanya Galen.
"Bahkan membeli pesawat sekaligus bandaranya aku mampu." Lanjut Galen sombong membuat Ben berhenti berbicara.
Ben pikir ucapan tuannya benar. Kenapa dia harus mengkhawatirkan tentang jadwal pesawat, sedang tuannya bukanlah orang biasa melainkan orang kaya raya yang mampu membeli pesawat sekaligus bandaranya dengan sekali gesek.
Ben merutuki kebodohan nya hingga membuat fokus menyetirnya menghilang begitu saja.
#Ckittttt
"Apa-apaan kamu Ben. Aku belum ingin mati, bahkan aku masih ingin balas dendam." Kata Galen saat mobil yang di kemudikan Ben hampir saja menabrak mobil pembatas jalan.
"Ma.. maaf tuan, saya tidak sengaja." Kata Ben merasa bersalah.
"Jalan Ben !!!" Perintah Galen tidak menjawab permintaan maaf dari Ben.
Ben kembali melanjutkan perjalanannya dengan pelan-pelan dan fokus dengan apa yang di kerjakan, ketimbang harus pusing memikirkan tuannya yang arogan ini dan berakhir dengan kecelakaan yang dapat merenggut nyawanya. Meskipun dalam kecelakaan itu dirinya tidak terluka parah tetapi Ben yakin tuannya ini tidak akan tinggal diam karena secara tidak sengaja dirinya membahayakan tuannya.
Hingga ponsel milik Galen berbunyi, tanpa menunggu lama Galen mengangkat panggilan dari seseorang dengan ekspresi serius.
".... "
"Biarkan dia pergi dengan mudah." Kata Galen dengan seseorang yang menelponnya kemudian mematikan sepihak tanpa menunggu jawaban dari balik telpon.
__ADS_1