
"Mama tadi kakak di tinggalin papa di supermarket." Kata seorang anak lelaki di dekat ibunya yang sibuk memasukkan beberapa alat-alat make up kedalam sebuah box khusus tempat untuk menyimpan alat make up.
Wanita itu menoleh ke arah anak yang sedang bermain robot. Sedang satu anak laginya fokus dengan ponsel di tangannya.
"Benar itu Gal?" Tanya wanita yang masih terlihat cantik itu pada anak yang masih fokus dengan ponselnya.
"Benar ma, tadi kakak hampir saja telat." Jawab anak yang bermain robot, sedangkan yang ditanya masih sibuk dengan ponselnya.
"Galaxy!" Teriak seorang wanita yang sudah tua dengan marahnya, bahkan membuat seorang anak yang sedang bermain robot ketakutan.
"Ada apa ma?" Tanya Ahza bingung kenapa tiba-tiba mertuanya datang dengan wajah marahnya.
"Anak kamu ini malu-maluin sekali Za, dia berantem sama Bimo hingga pipi Bimo bengkak." Kata mama Denis dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Mau jadi apa anak kecil tapi kelakuannya sudah begitu." Cerocos mama Denis berlalu meninggalkan tempat itu.
"Kenapa Galaxy pukul Bimo?" Tanya Ahza mensejajarkan tubuhnya dengan anak berusia 5 tahun itu.
Anak laki-laki dengan kulit putih, hidung mancung dengan mata berwarna biru dan wajah tampannya yang rupawan juga bibir tipis berwarna merah itu menatap mata coklat sang ibu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Galaxy tidak suka mama di hina oleh Bimo." Kata Galaxy tenang.
"Tapi tidak harus memukul kan sayang?" Tanya Ahza lagi dengan mengelus kepala anaknya dengan kasih sayang.
Galaxy hanya diam tidak menjawabnya membuat Ahza menghela berat nafasnya.
Bukan hanya dari kulit,rambut dan wajah kedua putranya memiliki sifat yang bertolak belakang. Kivandra Galaxy Dharmenda putra yang lahir lebih dulu terkesan lebih banyak diam, tetapi suka berbuat kasar dan pendendam. Sedangkan Kenzie Calvin Arsenio putra cerewet nya yang manja.
"Lihat papa bawa mainan." Ujar seorang lelaki yang baru saja datang.
"Horeee papa pulang, papa pulang." Sorak Kenzie senang.
__ADS_1
"Mobil-mobilan remote buat putra papa yang paling tampan." Kata Denis menyerahkan plastik yang berisi mainan yang di bawanya.
"Mas kenapa cuma beli 1, mana buat Galaxy?" Tanya Ahza.
"Uang ku hanya cukup untuk beli 1." Ucapnya tanpa menoleh ke arah anak yang tidak diberinya mainan kemudian beranjak memasuki kamar.
"Memangnya berapa harga mainan itu hingga mas bilang uangnya tidak cukup." Kata Ahza setelah menyusul suaminya. Ahza tidak menyangka jikq suaminya akan beralasan seperti itu sebab yang Ahza tau usaha suaminya kembali seperti dulu justru sekarang memiliki cabang toko di berbagai daerah.
"Kasihan Galaxy, kamu selalu perlakukan dia seperti itu." Lanjut Ahza dengan suara yang bergetar.
"Apa karena Galaxy bukan anak kandungmu?" Tanya Ahza lagi.
"Aku sedih mas sebagai ibunya, kamu dan keluargamu membeda-bedakan sekali antara Kenzie dan Galaxy." Pungkas Ahza dengan tangisnya.
Perasaan ibu mana yang tidak sedih saat melihat putranya di perlakukan tidak adil terutama oleh suaminya sendiri.
Anak yang di kandungnya bersama dan lahir bersama di beda-bedakan karena lahir dari ayah yang berbeda.
Karena cintanya pada Denis dan Kenzie, Ahza bertahan walaupun kenyataan nya Galaxy yang menjadi korban. Galaxy sejak bayi sudah menerima perlakukan tidak adil dari Denis dan keluarganya.
Di rumah itu hanya ada Ahza dan Kenzi yang menyayangi nya. Ahza pernah berfikir untuk berpisah dari Denis tapi lagi-lagi karena cinta dan Denis mengancamnya akan memisahkan nya dengan Kenzie akhirnya Ahza pasrah dan mengorbankan perasaan putra sulungnya.
"Kamu tahu, hati mas sakit saat melihat wajahnya, wajah anak itu akan terus mengingatkan mas akan peristiwa itu." Kata Galen tiba-tiba.
"Tapi Galaxy juga tidak tahu apa-apa mas, dia juga pasti tidak menginginkan lahir dari peristiwa seperti ini." Jawab Ahza lirih.
...🐛🐛🐛...
"Kapan nona Kirana akan kembali tuan Pranata ." Tanya seorang lelaki di samping nya.
"Nanti malam mereka akan sampai." Jawab lelaki paruh baya bernama Pranata.
__ADS_1
"Mereka?" Tanya lelaki itu lagi.
"Iya, mereka berdua. Entah mengapa anak itu tiba-tiba bilang ingin kembali ke negara ini lagi." Ujar Pak Pranata heran.
"Padahal dulu dia sendiri yang mengatakan tidak mau kembali lagi ke negara ini, setelah aku melarangnya untuk melanjutkan dendamnya dan menghancurkan hidup orang lain." Tambah Pak Pranata.
"Apa tuan akan kembali membalaskan dendamnya." Batin laki-laki itu bertanya-tanya.
"Aku hanya tidak suka kalau anak-anak ku memelihara dendam karena pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri Ben." Kata Pak Pranata lagi.
"Jika saja Elard tidak mengatakannya padaku dengan apa yang dilakukan Galen pada perempuan itu pasti dia akan terus melakukan balas dendamnya." Lanjut Pak Pranata menatap tajam Ben yang merahasiakan darinya.
Ben yang merasa jika dirinya ikut andil dalam masalah itu tersenyum canggung saat di tatap tajam oleh lelaki paruh baya dengan rambut yang hampir semuanya memutih.
Hingga kedatangan seorang lelaki membuat suasana tegang itu berakhir.
"Paman aku ada kabar mengejutkan untukmu." Kata seorang laki-laki yang baru saja masuk kedalam rumah.
"Kabar apa El?" Tanya Pak Pranata.
"Aku tadi lihat ada anak kecil yang wajahnya mirip sekali dengan Galen." Jawab lelaki itu saat menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Apa Elard?" Pekik seorang wanita tiba-tiba dari ruangan lain dengan antusias.
"Kamu melihatnya dimana? Ayo.. ayo kita lihat sekarang. Cepat Elard." Kata wanita itu kemudian menarik tangan Elard agar segera pergi ke tempat dimana Elard melihat seorang anak yang katanya mirip dengan putranya.
"Ma kita dengarkan dulu apa katanya." Ucap Pak Pranata membuat wanita itu menghentikan langkah kakinya yang sedang menyeret lelaki di sampingnya.
"Iya Bi, tadi aku lihat anak kecil yang wajahnya mirip dengan sepupu ku itu, kulitnya putih seperti bule tapi sangat menyebalkan." Kata Elard mengingat pertemuannya dengan anak kecil yang memintanya dengan tidak sopan untuk di antar ke sekolahan.
"Ayo kita ke sana? Siapa tahu saja Galen memiliki anak yang tapi tidak kita ketahui. Makanya dia tiba-tiba ingin kembali." Ucap wanita itu lagi dengan tidak sabaran.
__ADS_1
"Tapi Bibi Agatha, kalau saat ini pasti anak itu sudah tidak ada di sana sebab aku bertemu dengannya pagi tadi." Kata Elard yang membuat wanita itu sedikit kecewa.