
Mas Denis!!"
"Denis!! "
Kedua wanita beda generasi itu berteriak histeris setelah mendengar ledakan cukup keras dari dalam, apalagi melihat api yang berkobar semakin besar. Ahza yang ingin masuk menyusul suaminya, tubuhnya langsung di tahan oleh orang-orang sekitar nya. Bahkan mama Denis jatuh pingsan.
Untungnya tidak lama mobil pemadam kebakaran sampai di lokasi dan api berhasil di lumpuhkan segera.
Beberapa petugas pemadam kebakaran masuk kedalam untuk mencari korban yang ada di dalam setelah di pastikan keadaan aman. Tubuh Ahza melemas setelah melihat keadaan tubuh seseorang yang sangat di kenalnya terkulai tidak berdaya dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.
Belum lagi beberapa korban lainnya dengan keadaan yang lebih memprihatinkan.
Ahza merasakan kakinya lemas, pandangan matanya mengabur hingga akhirnya menjadi gelap.
🐛🐛🐛
Ahza terbangun di kamarnya. Pertama kali yang dilihatnya adalah wajah ibunya.
"Ibu." Lirih Ahza memegangi kepala nya yang terasa sakit. Tiba-tiba ingatannya melayang ke kejadian yang membuatnya pingsan.
"Bu.. Bagaimana keadaan mas Denis?" Tanya Ahza panik apalagi saat mengingat waktu suaminya di gotong menuju mobil dengan luka bakar di sekujur tubuhnya.
"Kamu yang sabar nak." Ujar ibu Ahza memeluk putrinya erat mencoba menenangkan putrinya yang menangis histeris.
"Aku mau lihat Bu." Kata Ahza memaksa.
"Baiklah, sekalian kita bawa pakaian suamimu." Balas Ibu Ahza membuat Ahza segera beranjak untuk menyiapkan kebutuhan suaminya.
🐛🐛🐛
Terlihat wajah tegang dari Mama Denis yang duduk di depan UGD menunggu dokter yang tengah menangani anaknya.
"Bagaimana keadaan mas Denis ma?" Tanya Ahza khawatir.
"Denis belum selesai di periksa, padahal hampir 1 jam." Jawab mama Denis cemas dengan mata sendunya yang memancarkan kesedihan saat melihat Ahza tidak seperti biasanya.
Ahza ikut duduk di samping mama mertuanya di dampingi Ibu Ahza yang sedari tadi diam.
"Ma bagaimana keadaan Denis." Ucap seorang lelaki paruh baya yang baru saja tiba dengan dua orang di belakang nya.
__ADS_1
Mama Denis hanya menggelengkan kepalanya.
"Huh Denis nikah sama kamu langsung ketiban sial." Celetuk perempuan disamping lelaki paruh baya dengan tatapan tidak suka.
"Jaga bicara mu ya, jangan sembarangan. Semua ini sudah takdir. Jangan menyalahkan Ahza." Sahut Ibu Ahza emosi.
"Kenyataan kok, setelah nikah sama anak anda adik ipar ku langsung kena musibah seperti ini." Ucap perempuan itu tidak mau kalah.
"Renata jangan bicara seperti itu." Ucap lelaki paruh baya menatap tajam menantunya.
#Ceklek
"Dengan keluarga korban?" Tanya seorang lelaki muda serius dengan stetoskop yang melingkar di lehernya.
"Kami keluarga nya. Bagaimana keadaan putraku Dok?" Tanya papa Denis cemas.
"Salah satu dari kalian bisa ikut saya ke ruangan." Ucap Dokter muda.
"Kalian bisa melihatnya dari kaca dulu, karena untuk sementara korban belum bisa di temui." Lanjut dokter kemudian berlalu di ikuti oleh papa Denis di belakang nya.
Ahza mengalah dengan mama Denis agar bisa melihat keadaan putranya terlebih dahulu, dirinya bisa melihat bagaimana khawatirnya mama Denis sedari tadi.
Kakak nya dan sang istri lantas ikut melihat tanpa memperdulikan mamanya yang terduduk di lantai.
"Mas wajah Denis hancur bahkan seluruh tubuhnya." Teriak istri dari kakak kandung Denis heboh.
"Bahkan rambutnya habis terbakar." Lanjutnya membuat Ahza buru-buru ikut melihat keadaan suaminya.
"Astaga mas Denis." Ucap Ahza kasihan tanpa terasa air matanya ikut mengalir melihat tubuh suaminya benar-benar memprihatinkan.
Ibu Ahza dengan sigap menopang tubuh Ahza yang hampir roboh. Mencoba menenangkan agar putrinya kuat menghadapi keadaan.
"Bu bagaimana mas Denis, dia.. dia-" Ahza memilih menenggelamkan wajahnya ke dada sang ibu karena tidak sanggup melanjutkan perkataan nya.
"Denis pasti sembuh nak, nanti juga akan kembali seperti semula jika sudah sembuh." Ucap Ibu Ahza menenangkan meskipun tidak yakin apa yang di ucapkan itu benar saat melihat kondisi Denis yang sebenarnya.
"Tapi kalau aku yakin, Denis tidak akan bisa kembali seperti semula deh mas." Celetuk Renata saat semua orang tengah berusaha menenangkan.
"Iya kan parah seperti itu. Kalau bisa juga harus operasi mahal uang darimana." Sahut kakak kandung memanasi bukannya menasehati istrinya.
__ADS_1
"Bram, Renata tidak lihat kah keadaan Ibu dan Adik ipar mu. Bukannya menenangkan justru mulut kalian seperti ini. Kau juga Bram bukannya prihatin tapi seperti itu. Denis itu adikmu Bram!!" Bentak lelaki paruh baya yang baru saja tiba dengan emosi.
Kedua manusia itu hanya diam tidak perduli dengan sekitar nya. Tidak ada wajah bersedih yang terlihat di wajah keduanya atas apa yang telah terjadi pada keluarga itu.
Ponsel Ahza berdering terpampang nama Bapak di layar ponselnya.
".... "
"Apa pa? Keadaan Ryan memburuk." Kata Ahza terkejut saat berbicara dengan orang di sebrang telvon.
"... "
"Iya pa aku dan Ibu akan ke sana sekarang." Jawab Ahza menyimpan ponselnya di dalam tas setelah panggil itu terputus.
"Ada apa Za?" Tanya papa Denis khawatir.
"Ryan kritis pa, aku dan Ibu ke sana dulu ya pa, kalau ada apa-apa papa hubungi aku." Kata Ahza di balas anggukan kepala oleh lelaki paruh baya itu.
🐛🐛🐛
"Dokter bilang Ryan harus segera di operasi kalau tidak dokter bilang kemungkinan Ryan tidak bisa bertahan lebih lama lagi." Ucap Bapak saat Ibu dan Ahza sampai di ruangan Ryan. Ryan dan Denis di rawat di rumah sakit yang sama hanya beda ruangan dan lantai saja. Jadi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk jarak keduanya.
Ibu menghela nafas berat. Air matanya menetes deras saat tangannya mengelus rambut milik remaja yang sedang memejamkan matanya rapat.
"Kita tidak punya uang sebanyak itu Pak, bagaimana kita akan mengoperasinya." Ucap Ibu sedih tidak memalingkan wajahnya.
"Bahkan jika kita menjual rumah kita belum tentu uangnya cukup." Sambung Ibu dengan air mata yang semakin deras.
"Ibu pasrah jika Ryan tiada, daripada melihat nya tersiksa seperti ini." Pungkas Ibu.
"Bu jangan ngomong kayak gitu, aku akan berusaha dapetin uang nya." Kata Ahza tidak suka dengan perkataan ibunya. Meskipun dirinya juga bingung harus mendapatkan uang darimana apalagi di tambah keadaan suaminya Ahza yakin pasti memerlukan uang yang tidak sedikit untuk pengobatan nya.
"Selamat sore saya dokter yang akan memeriksa pasien." Kata seorang lelaki muda tiba-tiba.
"Sore Pak Dokter..Ah ya silakan Pak, kami akan tunggu di luar." Balas bapak mengajak istri dan anaknya keluar.
Ahza dan orang tuanya duduk di depan ruang rawat Ryan saat dokter itu memeriksa Ryan.
Hingga dering ponsel Ahza kembali berdering sekarang nama Papa yang terpapar jelas pada layar ponselnya.
__ADS_1