
"Sebenarnya ada apa pa?" Tanya Ahza dengan wajah penasaran nya.
"Dia menginginkan mu." Jawab mama Denis cepat.
Ahza yang mendengar nya tertawa terbahak-bahak. Membuat dua orang paruh baya itu saling pandang dengan dahi mengkerut. Karena yang ada di bayangan kedua paruh baya itu tidak seperti ini reaksi Ahza setelah mendengar kenyataan nya? mungkinkah Ahza mengenal lelaki itu, sehingga tidak ada ekspresi terkejut sama sekali dari menantunya.
"Segitu bencinya kalian pada aku? sehingga masih ingin memisahkan aku dari mas Denis." Tanya Ahza sedih setelah menghentikan tawanya. Papa Denis dan mama Denis membelalakan matanya mendengar ucapan Ahza yang berfikir jika mereka akan memisahkan Ahza dan Denis.
Dulunya mama Denis membenci Ahza karena hasutan dari Renata. Renata bilang jika Ahza hanya mengincar harta Denis dan ingin menjauhkan Denis darinya agar bisa leluasa menguras harta Denis. Tapi lambat laun mama Denis bisa menilai sendiri bagaimana sifat Ahza sebenarnya. Bahkan saat Denis menginginkan untuk membangun rumah sendiri Ahza melarang nya dan mengatakan lebih baik tinggal bersama orang tuanya lagi pula sang mama dan papa nya hanya tinggal berdua uangnya bisa buat modal agar toko yang di kelolanya tambah besar. Tapi karena mama Denis sudah termakan hasutan Renata, dia menepis semua hal baik yang ada pada Ahza dan hanya melihat sisi buruknya saja.
Tetapi setelah kejadian ini dirinya sadar, siapa sebenarnya orang yang hanya memanfaatkan nya.
"Bu... bu-" Mama Denis terbata tapi buru-buru Ahza memotong ucapannya.
"Apa aku terlalu buruk untuk menjadi menantu kalian? untuk menjadi istri dari mas Denis ma, pa?" Ucap Ahza dengan air mata yang deras melewati pipi.
"Aku mencintainya ma, apapun keadaaan nya. Tapi aku mohon jangan pisahkan aku dan mas Denis." Kata Ahza dengan suara bergetar menjatuhkan tubuhnya di hadapan kedua mertuanya.
#Greeeppp
Mama Denis memeluk erat tubuh menantunya untuk pertama kalinya. Mama Denis ikut menangis saat memeluk tubuh menantunya yang bergetar.
"Bukan seperti itu Za, mama justru bangga punya kamu jadi menantu dan istri Denis. Tapi memang kenyataan nya seperti itu. Lelaki itu mau menolong kita asal kamu mau mau menjadi istrinya. Mama minta maaf karena selama ini sudah bersikap tidak baik padamu." Lirih mama Denis di sela tangisnya.
"Iya Za, laki-laki itu menginginkan mu untuk di jadikan istrinya." Tambah papa Denis.
__ADS_1
"Tapi jika kamu tidak mau tidak usah za, kita cari jalan keluar lainnya." Lanjut papa Denis sembari mengelus lembut rambut panjang Ahza.
🐛🐛🐛
1 minggu berlalu. . .
Pagi hari saat Ahza masih bergulung di bawah selimutnya. Nada ponsel benar-benar mengganggu tidur yang baru saja dapat di rasakan nya dengan nyaman setelah beberapa hari matanya tidak bisa terpejam dengan sempurna. Lelah badan dan pikiran membuat nya harus mengistirahatkan badannya agar kuat menghadapi kenyataan yang tengah di alaminya.
Dengan mata yang masih terpejam Ahza meraba sekitar nya untuk mencari keberadaan ponsel yang sedari tadi terus bersuara.
"Hallo." Sapa Ahza setelah menemukan ponselnya kemudian mendekatkan nya ke telinga tanpa melihat siapa yang menelfon karena matanya masih betah terpejam.
"..."
"Apa? Baik Ahza akan segera ke sana ma." Sahut Ahza dengan seseorang di balik telfon. Matanya yang sedari tadi sukar untuk di buka sekarang kantuk itu seperti hilang begitu saja.
🐛🐛🐛
mama Denis yang tengah menangis histeris juga Ibu yang mengelus bahu mama Denis yang bergetar. Ayah Ahza terlihat sedih saat menyadari ada anaknya yang berdiri mematung menatap semua orang yang sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Ayah berjalan menghampiri Ahza, memeluk penuh kasih sayang layaknya ayah dan anak.
"Kenapa pa? Ada apa dengan mas Denis?" Tanya Ahza dengan sedihnya menatap wajah keriput ayahnya.
"Sabar ya nak, tadi nak Denis tiba-tiba kejang, dokter sedang memeriksanya." Ujar Ayah Ahza menepuk pelan bahu anaknya yang terlihat bergetar.
__ADS_1
#Ceklek
Dengan tergesa-gesa seorang dokter keluar dari ruangan Denis sedang di periksa menjelaskan bagaimana kondisi Denis saat ini dan mengatakan apa langkah selanjutnya yang harus di lakukan, ingin menyerah atau mengusahakan kesembuhan Denis.
Ahza yang mendengar keadaan Denis memburuk terasa lemas tidak bertenaga tubuhnya akan ambrug jika tidak segera mungkin di tahan oleh sang ayah. Belum selesai syok mendengar keadaan suaminya, Ahza dikejutkan lagi dengan kedatangan seseorang yang membawa kabar yang tidak baik tentang kondisi Ryan.
Ayah dan ibu Ahza segera berlalu menuju ruangan anaknya yang tidak jauh dari tempat itu. Meninggalkan Ahza yang bersama kedua mertuanya yang sedang terpukul atas kabar yang di sampaikan oleh dokter.
Pikiran Ahza mulai kalang kabut memikirkan nya. Otaknya seakan mengajaknya pergi ke suatu tempat, agar semua masalah bisa segera teratasi.
"Kenapa takdir begitu kejam padaku." Gumam Ahza berlalu meninggalkan tempatnya.
🐛🐛🐛
Ahza terus berjalan mengikuti langkah kakinya yang akan membawanya ke suatu tempat. Menaiki beberapa tangga hingga sampai ke suatu tempat. Di lihatnya jalanan dan orang-orang yang berlalu lalang dengan mobil ataupun berjalan kaki yang terlihat lebih kecil dari tempatnya berdiri. Tangannya mencengkram erat pembatas besi sambil menimang apa yang akan di alaminya setelah mengambil tindakan yang akan di ambilnya sambil menatap ke arah bawah dengan intens dimana beberapa orang sedang menatapnya dengan pandangan panik
"Baiklah aku akan lakukan." Gumam Ahza mantap.
"Hey jangan lakukan itu, kau masih bisa mencari jalan keluar lainnya, jika di rasa masalahmu sangat berat. Tidak ada hal sia-sia jika kau mau terus berusaha tapi jangan sampai kau berputus asa dan memilih terjun dari sini." Ujar seorang lelaki tiba-tiba.
Ahza mengedarkan pandangannya untuk mencari siapa yang di maksud oleh lelaki muda itu dengan panik karena dirinya mengira ada seseorang yang ingin bunuh diri di sekitarnya.
Lelaki yang melihat Ahza seperti mencari sesuatu lantas mendekati nya dengan langkah lebarnya. Hingga sosok tinggi berkulit putih dengan wajah tampannya terlihat jelas di depan Ahza.
"Hay kalau kau mau bunuh diri jangan di sini, sekalian ke jurang saja. Kasihan mereka yang ada di bawah kalau harus menyaksikan tubuhmu hancur di depannya." Cerocos lelaki itu dengan tatapan tajamnya. Berbeda sekali cara berbicaranya dari saat pertama kali berbicara.
__ADS_1
"Si-" Ahza yang hendak berbicara segera di cegat oleh ucapan lelaki di hadapannya.
"Buruknya lagi tubuh mu itu menjatuhi seseorang yang tengah berdiri di bawah mu itu. Kau yang ingin mati tapi merugikan orang lain." Lanjutnya sinis.