
"Hai kau mau membawa ku kemana orang gil." Tanya seorang wanita yang tengah berontak saat seorang lelaki menarik lengannya dengan kuat dan membawanya ke suatu ruangan.
#Ceklek
Tiba-tiba lemari bergeser kemudian munculah sebuah pintu saat lelaki itu menarik sebuah patung berbentuk kucing yang di anggap sebagai hiasan di atas meja.
Laki-laki itu bergegas menarik pelan tangan Ahza agar mengikuti nya. Tapi Ahza menolak karena ruangan itu cukup gelap.
"Tidak apa-apa, percayalah padaku." Kata laki-laki itu berusaha meyakinkan Ahza.
"Ini jalan keluar dari rumah ini." Lanjut laki-laki itu kembali menarik tangan Ahza.
Ahza diam saat tangannya di tarik, tetapi ada keraguan di setiap langkahnya.
Laki-laki itu terus berjalan hingga akhirnya laki-laki itu sampai di depan pintu belakang rumah milik lelaki itu.
"Kenapa kau membawaku kemari? Tadi kau bilang mau membawaku keluar dari rumah itu." Tanya Ahza sedikit karena laki-laki ini justru membawa ke rumah nya yang bersebelahan dengan rumah Galen.
"Memangnya kamu mau pergi dengan berjalan kaki?" Tanya laki-laki itu membuat Ahza membenarkan ucapan laki-laki di hadapan nya.
"Sekarang duduk dan minumlah atau makan terlebih dahulu." Kata laki-laki itu sambil membawa sebotol minuman dingin yang diambilnya dari dalam kulkas.
Ahza tidak menerima minuman botol dari lelaki yang belum di ketahui namanya itu. Lelaki itu menyadari jika Ahza ragu segera menunjukkan segel dari kemasan.
"Minuman nya masih bersegel dan kamu juga tadi melihatnya saat aku mengambilkan untukmu." Kata lelaki itu membuat Ahza segera meminum minuman yang sudah di pegang nya.
Lelaki itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saat melihat Ahza sudah menghabiskan minuman yang di berikan nya dalam sekejap.
"Ayo cepat." Kata Ahza setelah meletakkan botol minuman kosong ke atas meja.
"Ayo kemana?" Tanya lelaki itu pura-pura tidak tahu sambil berjalan mengambil roti yang cukup besar di dalam kulkas.
__ADS_1
"Yang penting jauh dari tempat tinggal lelaki itu." Kata Ahza kesal karena lelaki ini seperti mengulur waktu.
"Ohh nanti dulu, aku ingin menghabiskan roti ini dulu. Kamu tahu aku sebenarnya lapar sekali." Kata lelaki itu sebelum memasukkan potongan roti kedalam mulutnya.
"Siapa namamu?" Tanya Laki-laki itu yang sebenarnya sudah tahu tapi hanya ingin berbasa-basi atau memang lelaki ini benar-benar tidak tahu.
Ahza tidak menjawabnya, dia hanya memasang wajah kesal.
"Nama ku Elard. Aku sering melihatmu berdiri di atas balkon rumah Galen. Tapi aku benar-benar tidak tahu namamu. Tadi saat bibi Asti memanggilmu aku lupa namamu." Kata laki-laki itu terus membujuk Ahza. Tapi bujukan itu tidak mempan Ahza masih tetap diam membisu dengan wajah kesalnya.
Elard menghembuskan nafas berat, karena percuma saja dirinya berbicara sebab wanita itu tetap tidak memperdulikan nya.
"Ayo aku sudah selesai." Kata Elard dengan mulut yang penuh dengan roti itu beranjak berdiri dari kursi yang di duduki nya.
"Habis kan dulu roti yang ada di dalam mulut mu." Kata Ahza membuat Elard bedecak kesal dan menelan kasar semua makanan yang ada dalam mulutnya.
"Tadi kamu buru-buru, sekarang saat aku bekerja cepat menghabiskan roti-roti ini kamu protes. Dasar wanita menyebalkan." Cibir Elard.
Ahza memutar malas matanya mendengar ucapan lelaki itu.
Seorang lelaki menatap sang surya yang hampir tenggelam berharap dapat muncul kembali, seperti hatinya yang hampir putus asa menanti kedatangan istrinya yang sudah 1 bulan lebih tidak menemuinya setelah pertemuan terakhirnya di rumah sakit.
"Kamu mau menunggu di sini sampai matahari terbit kembali pun percuma karena istrimu itu sudah betah di samping bosnya." Kata seorang wanita yang sedang menyapu di belakang nya secara tiba-tiba.
Denis hanya diam tidak ingin meladeni ucapan wanita yang selama ini tidak menyukai istrinya karena alasan apa Denis tidak tahu.
"Huh, tidak istrinya tidak suaminya kalau ada orang ngomong pura-pura tidak dengar." Dengus wanita itu lagi sedikit keras.
"Ada apa Renata?" Tanya seorang lelaki yang baru saja datang dengan mendorong motornya, terlihat sekali wajah lelah dengan peluh yang membanjiri seluruh wajahnya.
"Itu adikmu di ajak ngobrol malah melamun, kesel aku mas." Kata Renata dengan melirik Denis dengan ekor matanya.
__ADS_1
"Dasar pengangguran, kerjaannya hanya melamun sepanjang waktu. Kalau di bayar sih tidak apa-apa. Lha ini nambah beban saja." Sahut lelaki yang baru saja mendudukkan bokongnya di samping Denis.
"Kenapa motor mu di dorong mas?" Tanya Renata saat menyadari suaminya tadi kembali dengan mendorong motor.
"Biasa mogok." Kata Bram sambil menyeruput kopi milik Denis yang belum tersentuh sama sekali.
"Mama ngabis-abisin uang untuk laki-laki tidak berguna seperti ini saja." Kata Bram membuat Denis menoleh ke arahnya.
"Apa mau protes?" Kata Bram yang melihat Denis menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Hentikan Bram. Kamu benar-benar keterlaluan." Kata seorang lelaki paruh baya dari dalam rumah dengan marah.
"Jaga bicaramu Bram. Anak papa tidak ada yang tidak berguna. Kamu dan Denis sama-sama anak papa yang papa banggakan. Denis sedang terkena musibah sama halnya dengan dirimu waktu kamu belum seperti ini." Kata lelaki paruh baya menjelaskan.
"Pa aku terus berusaha dan berusaha tidak seperti Denis yang semakin menunduk tidak berani berdiri setelah terkena musibah." Kata Bram sinis menatap Denis.
"Pahami kondisi Denis Bram, bukan malah kamu tambahin tekanan mentalnya." Kata papa Denis dengan nada pelan.
"Masalah nya Denis harus merasakan trauma atas kejadian kebakaran itu. Denis bukan hanya merasakan sakitnya terpanggang di dalam kobaran api juga kehilangan usaha dan segala harta bendanya tapi dia harus kehilangan istrinya juga." Ucap papa Denis yang tidak kuat menyimpan sebuah rahasia.
"Benar kan mas, jika Ahza memilih bosnya itu daripada hidup sulit bersama suaminya." Kata Renata memanasi.
"Diam kamu!!!" Kata papa Denis cukup keras dengan menunjuk wajah Renata dengan jari telunjuknya.
"Kamu tidak mungkin sanggup jika ada di posisi Ahza, mungkin kamu akan kabur dan meninggalkan suamimu ini jika Bram yang mengalami masalah seperti Denis." Kata papa Denis memberi kode agar Renata tidak menyela ucapannya.
"Dia harus menggadaikan hidupnya dengan lelaki kejam agar suaminya ini kembali hidup normal seperti sedia kala." Kata papa Denis yang membuat 3 orang itu menunjukkan raut wajah bingung.
"Apa maksud papa?" Tanya Denis dengan tidak sabar menunggu penjelasan papanya.
Papa pun mulai menceritakan kejadian itu dengan lengkap pada 3 orang di hadapannya.
__ADS_1
Denis terlihat terpuruk sedangkan kedua orang itu masih diam dengan pikirannya masing-masing.
"Mas Denis !!!" Teriak seorang wanita yang membuat semua orang menoleh padanya.