
"Kakak sini, kita makan sama-sama." Teriak seorang anak laki-laki dengan wajah manis menunjukkan satu ayam KFC di tangannya.
"Oma belikan untuk Kenzie, kan cuma 1." Kata mama Denis saat melihat Kenzie menawarkan KFC yang di belikan olehnya.
Galaxy yang sudah ingin mendekat ke arah Kenzie lantas membalikkan tubuhnya saat mendengar ucapan wanita yang di anggap nya seorang nenek, tapi tidak bagi mama Denis. Mama Denis hanya menyayangi Kenzie dan bersikap acuh pada Galaxy.
Galaxy mendudukkan tubuhnya di dekat kolam ikan yang Kenzie minta pada ayahnya.
Tatapannya mengarah pada ikan-ikan yang bergerak bebas.
"Heh jangan lempar-lempar batu. Nanti ikan Kenzie mati." Teriak seorang wanita tiba-tiba yang membuat Galaxy menoleh padanya dengan wajah bingung sebab dirinya tidak melakukan hal seperti yang di ucapkan oleh wanita itu.
"Ada apa mbak Renata?" Tanya Denis yang baru saja tiba.
"Anak itu lempar-lempar batu ke kolam." Bohong Renata.
"Ngapain kamu lempar-lempar batu hah !!" Bentak Denis pada Galaxy.
"A.. aku tidak-" Perkataan Galaxy segera di potong oleh Renata.
"Tidak mau mengaku kamu, padahal tadi aku melihatnya sendiri." Bohong Renata sambil memegangi perutnya yang membuncit sebab mengandung anaknya yang pertama.
"Nakal ya kamu, mau jadi apa kalau besar hah. Dasar anak s*tan!" Bentak Denis lagi membuat anak tampan itu berkaca-kaca.
"Nangis !! Pergi kamu jangan dekat-dekat kolam itu." Ucap Denis menyeret kasar lengan mungil itu tanpa merasa bersalah.
Denis kemudian mendorong tubuh mungil itu dengan cukup keras sehingga tubuh mungil itu terjerembab, beruntung tangannya masih sempat untuk menutupi kepalanya agar tidak terkena benturan pada lantai.
Sedangkan Renata tersenyum puas melihat adegan di depannya yang terjadi akibat ulahnya.
Dengan menahan sakit pada tangan dan kakinya Galaxy bangkit dari posisinya, Denis yang sedari tadi menatapnya tidak merasa kasihan sama sekali.
"Hari ini aku hukum kamu tidak boleh makan sampai pagi." Kata Denis pergi meninggalkan Galaxy yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Renata tersenyum mengejek pada anak kecil yang masih berdiri dengan menatap tajam padanya.
...🐛🐛🐛...
Seorang wanita menangis histeris sambil memeluk erat kedua anaknya yang baru saja tiba.
"Ma biarkan mereka duduk dulu." Kata seorang lelaki.
__ADS_1
"Apaan sih Pa mama sudah 4 tahun tidak bertemu dengannya. Mama kinangen tahu." Sahut wanita itu protes.
"Papa apa kabar?" Tanya seorang perempuan yang baru saja lepas dari pelukan ibunya.
"Baik nak." Balas Pak Pranata sambil merentangkan kedua lvngannya ke arah perempuan itu.
Kini giliran seorang laki-laki berusia 35 tahun yang memeluk tubuh laki-laki berusia setengah abad itu dengan penuh kerinduan.
"Bagaimana kabar Papa?" Tanya laki-laki itu dengan datar.
"Seperti yang kamu lihat." Balas laki-laki itu sambil memeluk tubuh putranya.
Keempat orang itu akhirnya sibuk berbincang melepas kerinduannya selama beberapa tahun tidak pernah bertemu secara langsung.
......🐛🐛🐛......
"Mama aku lapar." Ucap anak kecil yang tidak tidur saat mamanya baru saja pulang setelah seharian bekerja di salon.
"Galaxy tadi tidak makan malam?" Tanya Ahza berjalan mendekat pada putranya.
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya dengan polos.
"Kenzie sudah makan apa belum? Kalau belum sekalian kita ajak." Ujar Ahza pada anaknya.
Ahza yang paham dengan apa yang terjadi segera menggendong dan menciumi wajah putra sulungnya berkali-kali.
"Maafkan mama nak, maafkan mama." Ucap Ahza berderai air mata.
"Tidak apa-apa Ma, kan masih ada Mama dan Kenzie." Kata Galaxy sambil mengusap air mata Mamanya.
Ahza segera memeluk erat tubuh putra sulungnya. Perasaannya terombang-ambing antara ingin melanjutkan pernikahan ini tetapi dia tidak tahan dengan perlakuan Denis dan keluarganya pada putra sulungnya.
"Ayo kita makan sayang." Ajak Ahza menggendong putranya.
...🐛🐛🐛...
Saat ini Ahza tengah berada di sebuah kamar hotel untuk membantu teman dari Bibinya yang seorang MUA profesional.
"Nanti kamu yang membantu tuan muda Razzan ya Za." Kata Bibi Hesti seorang MUA profesional.
"Baik Bibi. Memangnya ini acara apa bi?" Tanya Ahza pada Hesti yang belum sempat menjawab sebab ponsel bibinya tiba-tiba berbunyi membuat Bibi Hesti beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Ahza mulai merapikan pakaian yang sudah di siapkan oleh Bibi Hesti yang masih ada di dalam koper.
Hingga terdengar langkah kaki seseorang di belakang nya membuat Ahza menoleh ke arahnya.
Ahza terbelalak kaget saat melihat wajah orang itu, begitupun orang itu sama terkejutnya seperti Ahza.
Ahza bergerak mundur saat laki-laki itu berjalan mendekatinya. Hingga tubuhnya menubruk tembok.
Laki-laki itu tersenyum smirk saat melihat wajah Ahza yang menurutnya semakin cantik dengan tubuh yang semakin seksi apalagi dengan pakaian yang sedang dipakainya.
"Akhirnya kita bertemu kembali?" Kata lelaki itu membuat Ahza semakin takut.
"Si.. siapa anda?" Tanya Ahza dengan gugup karena pura-pura tidak mengenal lelaki di hadapan nya.
"Kamu sudah melupakanku hem?" Tanya lelaki itu membelai wajah Ahza kemudian mencengkeram dagu Ahza dengan keras.
#Cuuuppp
Lelaki itu dengan kurang ajarnya mencium bibir Ahza dan meluma*nya dengan lembut. Ahza yang terkejut mendapatkan serangan mendadak sampai memelototkan matanya.
Lelaki itu menekan tengkuk Ahza dan memejamkan matanya menikmati hal yang selama ini seperti di rindukan nya.
Menggigit bibir Ahza agar lidahnya leluasa menyusuri rongga mulut wanita di depannya.
Entah mengapa Ahza tidak menolaknya sama sekali walaupun tidak membalasnya tapi bisa membuat lelaki itu senang.
Setelah beberapa saat yang sedang mereka lakukan itu berakhir saat wanita di depan nya seperti kesulitan untuk bernafas akibat lamanya mereka berciuman.
"Aku sangat merindukan bibir ini." Ucap lelaki itu mengusap bibir Ahza yang basah setelah bertukar saliva.
Ahza yang sadar dengan apa yang barusan di lakukan nya dengan lelaki itu segera menepis tangan lelaki itu karena malu.
Saat Ahza akan pergi melewatinya begitu saja lelaki itu dengan sigap memegangi tangan Ahza.
"Lepaskan aku." Kata Ahza mencoba melepaskan genggaman tangan lelaki itu dari pergelangan tangannya.
"Aku belum mengijinkan mu untuk keluar." Ucap lelaki itu membuat Ahza semakin ketakutan dan berlari ke arah pintu untuk keluar.
"Berani menentang ku, dapat aku pastikan jika karir nyonya Hesti akan hancur." Kata lelaki itu lagi membuat Ahza yang akan melangkahkan kakinya melewati pintu menghentikan langkahnya.
Tidak, Ahza tidak bisa membiarkan orang yang sudah menolong nya hancur. Bibi Hesti sangat berjasa padanya, banyak menolong nya saat berada dalam kesedihan bahkan beliau juga yang mengijinkan nya membawa Galaxy saat bekerja sewaktu masih bayi. Sebab di rumah tidak ada yang mau mengurusnya sedangkan Ahza juga bekerja untuk mencukupi kebutuhan Galaxy sebab Denis tidak mau mengeluarkan biaya sedikitpun untuk keperluan Galaxy.
__ADS_1
Saat mengingat Galaxy Ahza jadi ingat apa benar lelaki di depannya adalah ayah kandung dari Galaxy. Sebab Ahza hanya berhubungan dengan Denis dan lelaki di depannya, sedang hasil tes DNA Denis dan Galaxy tidak ada kecocokan sama sekali. Saat dilihat dari dekat wajah mereka berdua juga ada banyak kemiripan.
Ingin rasanya membicarakan hal itu pada lelaki di depan nya tetapi Ahza takut jika lelaki itu tidak mau menerima nya. Apalagi saat mengingat perlakuannya dulu padanya Ahza tidak yakin jika lelaki di depannya bisa menyayangi anak kecil.