
Keesokan harinya saat ini Riku sedang duduk didalam gubuknya sambil melihat kearah handphone nya, terlihat kalau saat ini masih jam 03:50.
Melihat ini langsung saja ia menyimpan handphone nya dan segera melihat status terbarunya setelah beberap tahun ia tidak lihat.
'buka status' batin Riku lalu muncul layar transparan dihadapannya.
____________________________
Nama : Nura Riku
Umur : 15 tahun
Jenis kelamin : Laki Laki
Pekerjaan : tidak ada
Judul : Jenius, Kutu Buku, Gamer, Sis-Con, [ ], Pencinta Hewan, Penulis Novel, Ahli Pedang, Bodyguard, Pemburu Iblis, Pembantai Iblis, Penggila Latihan, Master Cinta, Kakak Idaman
Atribut :
Kekuatan : 80 > 270
Kepintaran : 100 > 287
Kelincahan : 78 > 267
Stamina : 60 > 250
Pesona : 20 > 50
Skill : Photography Memory, Pikiran Tenang, Memasak (MAX), Emperor Eye, Menulis Kilat, Intuisi Penulis, Cold Reading, Teknik Pernafasan Bulan, Demon Slayer Mark (MAX), Teknik Pernafasan Konsentrasi Penuh, Meditasi
____________________________
'yahh.. sepertinya status ku ini sedikit lebih dengan yang aslinya bukan begitu, Schwi ? ' batin Sora ketika melihat status terbarunya pada Schwi.
[hmm.. benar, dengan status itu seharusnya Kak Riku sudah masuk jajaran 10 besar diantara Pro Hero itu] balas Schwi ketika mendengar perkataan kakaknya.
'hmm.. kau benar berarti sekarang aku tinggal melatih Quirk ku bukan ? kalau tidak salah namanya Demon Sword.. ' batin Riku sambil mengingat ingat nama Quirknya.
Ketika Riku datang kedunia ini ia memang sudah mendapatkan Quirknya dan nama Quirk itu adalah Demon Sword.
Sword Rebirth merupakan Quirk yang dapat membuat pedang melalui darah dan juga dagingnya, bukan itu saja bahkan Riku bisa mengubah tubuhnya menjadi seperti iblis seperti Kokushibo ketika dalam mode berserknya waktu itu.
[betul.. namun Quirk Kak Riku memiliki resiko yang sangat fatal yaitu jika Kak Riku membuat pedang itu ada selamanya maka umur kakak akan berkurang selama 50 tahun dan kakak akan cepat menua nantinya] ucap Schwi sambil menerangkan kelemahan Quirk miliknya.
'yah.. benar benar beresiko, tapi untungnya saja aku hanya bisa membuat satu katana saja dan itu sama persis dengan katana iblis itu, lagipula aku yakin kita akan menyelesaikan misi ini sebelum aku kehabisan waktu' batin Riku sambil mengeluarkan katana miliknya yang dia buat dari Quirknya melalui tangannya.
Terlihat kalau bentuk pedangnya memiliki beberapa daging pada sarungnya, lalu ada beberapa mata pada ornamen katananya yang terlihat menyeramkan bagi siapapun yang melihat pedang itu.
[meskipun begitu kau harus tetap menjaga kesehatanmu Kak.. kau tahu akhir akhir ini kau sering makan roti daripada makan nasi bukan ?] tanya Schwi dengan khawatir ketika melihat Riku tidak menjaga kesehatannya.
'ahahaha.. maaf habisnya roti itu enak sih jadi aku ingin terus membelinya' batin Riku sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan malu ketika mendengar perkataan Schwi padanya.
Ketika mereka berdua sedang mengobrol tiba tiba saja pintu gubuknya terdengar suara orang sedang memanggil Riku.
"Riku-San !! ini aku Midoriya !! apa kau didalam ?!" teriak Midoriya dari luar gubuk Riku sambil mengetuk pintunya.
Sedangkan Riku yang mendengar ini segera berjalan kearah pintu gubuknya dan segera membuka pintunya, terlihat kalau saat ini Midoriya sudah datang dengan keringat membasuhi keningnya ketika kemari.
__ADS_1
"a.. aku sudah sampai.." sahut Midoriya sambil tersenyum kearahnya
"hmm.. baiklah kalau begitu ikuti aku" balas Riku sambil menganggukkan kepalanya ketika melihat Midoriya sudah siap hari ini.
Sedangkan Midoriya yang mendengar ini langsung menganggukkan kepalanya saja sambil mengikuti Riku tepat dibelakang.
---
Diatas gunung saat ini terlihat kalau Riku dan juga Midoriya sedang berjalan disana, namun tiba tiba saja Riku berhenti yang membuat Midoriya juga ikut berhenti disana.
"ehh.. Riku-San sekarang apa ?" tanya Midoriya ketika melihat Riku tiba tiba saja berhenti.
"hmm.. seharusnya disini sudah cukup" gumam Riku tanpa memperdulikan perkataannya Midoriya.
"a.. anu Riku-San ?" tanya Midoriya sekali lagi pada Riku.
"hmm.. baiklah.. mulai saat sini kamu akan harus turun dari gunung ini hingga kegubukku yang ada dibawah sana sampai matahari terbit, kalau begitu aku tunggu dibawah.." ucap Riku sambil menjelaskan pelatihannya hari ini padanya dan segera menghilang dari hadapannya Midoriya hingga meninggalkan siluet angin dibelakangnya.
"ehh ?" gumam Midoriya yang terkejut ketika melihat Riku tiba tiba saja pergi meninggalkan dirinya diatas gunung sendirian.
Melihat Riku sudah pergi dari hadapannya langsung saja Midoriya mulai berjalan kembali kearah gubuknya Riku dan melakukan sesuai apa yang Riku katakan padanya
"itu saja.. aku kira itu akan menjadi su-" namun sebelum Midoriya menyelesaikan kata katanya tiba tiba saja dia terjatuh kedalam sebuah perangkap yang Riku buat sebelumnya hingga membuat dirinya masuk kedalam tanah.
"aduhh.. sakitnya.." ucap Midoriya sambil keluar dari jebakannya itu.
Namun sebelum melangkah keluar lagi lagi ia harus mengaktifkan perangkapnya dari tali yang baru saja dia aktifkan dengan tangannya, terlihat ada beberapa batu mulai terlempar kearahnya.
"ARGGGHHH !!" teriak Midoriya yang kesakitan ketika menerima serangan beberapa batu menuju kearahnya dan mulai terjatuh kembali kedalam lubang tersebut.
---
Namun ketika dirinya sedang sibuk memasak tiba tiba saja pintu gubuknya mulai terbuka dan menampilkan Midoriya yang saat ini sedang memiliki beberapa luka lebam disetiap tubuhnya.
Bahkan saat ini pun nafasnya mulai terengah engah ketika ia menuruni gunung itu dari atas sambil menghindari beberapa jebakan.
"ha.. ha.. aku.. sudah.. sampai.." gumam Midoriya sambil berjalan kearah Riku dengan kelelahan dan segera duduk sambil bersandar pada tembok kayunya.
"hmm.. kerja bagus.. sekarang istirahatlah terlebih dahulu baru kita bisa makan" ucap Riku yang tersenyum ketika melihat Midoriya sudah kembali sebelum matahari terbit.
---
"hmm.. kerja bagus.. sekarang istirahatlah terlebih dahulu baru kita bisa makan"
Mendengar ini aku langsung saja menghela nafas lega dan segera meluruskan kakiku agar tidak kram, setelah itu langsung saja mulai datang Riku kemari sambil memberikanku semangkok Sup Nabe dan juga Nasi.
"ahh.. terima kasih untuk makanannya, Riku-San" ucapku pada Riku sambil membungkukkan badanku kearahnya.
Tentu Riku yang melihat ini hanya menganggukkan kepalanya saja sambil berjalan kearah pancinya dan segera mengambil bagiannya lalu duduk disebelahku.
"kalau begitu tunggu apa lagi ayo makan.." ucapnya sambil memakan supnya.
Tentu aku yang mendengar ini segera memakan masakannya, bahkan aku tidak menyangka kalau masakannya Riku-San hampir selevel dengan menu direstoran.
"hmm.. aku tidak menyangka kalau kau bisa memasak Riku-San" kataku sambil memuji masakannya Riku-San.
"benarkah ? syukurlah kalau kau menyukainya" balasnya yang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kearahku.
__ADS_1
Tentu melihat senyumnya itu dulu sempat membuatku takut kalau dia adalah seorang Villain, namun sekarang berbeda karena dia adalah temanku dan juga guru bagiku.
Bahkan aku tidak menyangka kalau Riku bisa tinggal digubuk ini selama hidupnya, apa dia selalu sendirian disini bahkan gubuknya pun ia perbaiki sendiri.
"ada apa Midoriya kau terlihat banyak berpikir akhir akhir ini ?" tanya Riku ketika melihat aku sedang memikirkan sesuatu.
"ahh.. tidak.. itu.. aku hanya kepikiran saja, apa kau benar benar tinggal sendirian disini ?" tanyaku dengan gugup ketika Riku-San tiba tiba saja bertanya padaku.
Tentu Riku yang mendengar ini sempat membelakkan matanya karena terkejut, namun ia tetap menjawab pertanyaanku dengan santainya.
"kalau soal itu aku memang tinggal disini sendirian ketika aku berumur 7 tahun, dan untungnya saja aku bisa mendapatkan uang dari membuat iklan yang ada laptopku itu" balas Riku sambil menunjuk kearah laptopnya yang lumayan bagus.
"ehh.. tapikan disini tidak ada listrik bukan ?" tanyaku sambil melihat kearahnya, bahkan aku tidak menemukan satu saklar pun digubuk ini.
"ahh.. kalau soal itu aku menggunakan panel surya, kau tahu aku menemukan beberapa panel bekas yang masih bisa dipakai dari tepi pantai itu sambil memperbaikinya" ucap Riku dengan santainya padaku.
"seharusnya tadi kau dapat melihatnya bukan ? tepat diatas atapku ada beberapa panel surya bekas disana bukan ?" tanya Riku sambil menatapku dengan aneh.
"ahahaha.. aku tidak melihatnya" balasku ketika mendengar ini darinya.
Sedangkan Riku-San yang mendengar ini hanya menggelengkan kepalanya saja sambil meneruskan makannya dengan senyum diwajahnya.
Bahkan aku tidak menyangka kalau Riku benar benar cerdas, bahkan barang bekas pun masih bisa dia gunakan dengan baik.
Tapi aku masih benar benar tidak menyangka kalau Riku-San benar benar tinggal sendirian disini, apa orang tuanya sudah meninggal, sebaiknya aku tidak menanyakan hal ini padanya.
"baiklah kalau mari kita lanjutkan latihannya" ucapnya sambil membereskan peralatan makannya ketika dia sudah selesai sarapannya.
"ehh ?"
---
Dan 10 bulan telah berlalu ketika aku berlatih bersama dengan All Might dan juga Riku, hari hari yang aku lewati bersama mereka berdua benar benar neraka yang sesungguhnya.
Ketika Riku-San melatihku selama beberapa bulan ini dia hanya menyuruhku untuk menuruni gunung itu sambil menghindari beberapa jebakan yang dia buat.
Namun seiring berjalannya waktu maka setiap jebakan yang Riku-San buat maka tingkat kesulitannya pun ikut bertambah, bahkan jebakannya pun hampir membunuhku ketika menuruni gunung itu.
Udara disana benar benar tipis namun meskipun begitu Riku-San tetap memberitahukanku kalau semakin tipis udaranya maka aku akan terbiasa dengan udara tipis itu dan katanya ini adalah tahap awal dari mempelajari teknik pernafasannya.
Tentu sorenya juga aku tetap mengikut pelatihannya All Might, bahkan Riku-San sedikit membantuku dalam membereskan sampah sampah ini.
Lalu setelah 4 bulan aku berlatih dengannya, tiba tiba saja dia berkata kalau dia tidak memiliki hal lain lagi untuk melatihku meskipun begitu ia tetap memberitahukan tentang macam macam teknik pernafasan miliknya padaku.
Katanya teknik pernafasan ini merupakan teknik berpedang untuk mengalahkan iblis selama era sengoku, tentu aku yang mendengar ini terkejut sebab disejarah jepang tidak ada yang menulis hal ini dibuku.
Namun Riku tetap memberitahukan hal ini padaku kalau sebenarnya ada sebuah organisasi bernama Pemburu Iblis.
Sebenarnya organisasi tidak pernah ikut campur dengan pemerintahan makanya hal ini tidak pernah dicatat dalam sejarah.
Mendengar ini tentu saja aku terkejut namun aku tetap mendengarkannya dengan seksama, setelah itu langsung saja Riku-San mulai menjelaskan tentang Teknik Pernafasan Konsentrasi Penuh padaku sambil mengajarkanku beberapa seni bela diri yang ia ketahui.
Tentu aku mendengarkan setiap penjelasan yang Riku berikan padaku dengan seksama, dan katanya dengan mempelajari teknik ini aku bisa bertarung selama seharian penuh dengan teknik ini tanpa merasa lelah sekalipun, asalkan aku dapat menarik nafasku diwaktu yang tepat ketika bertarung.
Mendengar ini langsung saja Riku-San mulai mengajariku cara caranya secara bertahap hingga aku bisa, meskipun begitu aku tetap melanjukan latihannya sesuai yang Riku-San ajarkan padaku.
Memang perlu waktu selama 2 bulan untuk menyempurnakan teknik ini, namun aku tetap berhasil dalam pelatihan yang Riku-San berikan padaku.
Bahkan Riku-San yang melihat kalau aku berhasil melatih teknik pernafasan yang dia berikan padaku langsung tersenyum padaku sambil memujiku.
__ADS_1
Tentu aku yang mendengar pujiannya merasa senang bahkan aku sempat menangis dihadapannya sebab usaha kerasku salama ini akhirnya terbayar juga.