Dibalik Dunia Nyata

Dibalik Dunia Nyata
Hari Ke-2 (Kebelet)


__ADS_3

Hari pertama sudah berlalu, semua berjalan dengan lancar, namun belum juga menemukan petunjuk, mereka mendirikan tenda di bawah rimbannya pohon.


Kini memasuki hari ke dua, dimana mereka harus berjalan lebih masuk kedalam hutan untuk menemukan sesuatu yang bisa digunakan sebagai petunjuk yang mereka cari.


"Bangun bangun bangun" Adi membangunkan Ali.


"Apaan sih baru jam berapa sudah membangunkan aku"


"Bangun ayo solat dulu, sudah jam 5 ini"


"Bentar, sana duluan saja, nanti bangunin kalau sudah selesai"


"Memang kebo kau ini ya, susah sekali bangunnya"


"Sudahlah aku solat duluan saja" lanjut Adi.


Membuka pintu tenda yang mereka buat untuk tidur semalaman, rasa dinginnya pagi, embun yang begitu menyejukkan, terasa sampai kedalam tubuh mereka. Adi tak hiraukan hal itu, yang terpenting ia bisa melaksanakan kewajibannya.


"Solat di dalam saja lah, diluar begitu dingin, tak kuat aku merasakan hawa seperti ini" batinnya.


Selesai solat, kembali Adi membangunkan sahabatnya yang masih tertidur pulas di dalam tenda dan berselimut sarung.


"Bangun, aku sudah selesai solat ini, ayo bangun solat" sambil menggoyang goyangkan badan Ali.


"Iya sebentar, lima menit lagi aku bangun" ucap Ali.


"Sekarang, jangan nanti nanti, ini kwajiban kita sebagai umat muslim"


"Iya iya aku bangun, bawel banget" gemam Ali sambil mengucek matanya.


Setelah terbangun dan wudhu dengan air yang mereka bawa, Ali melaksanakan solat subuh, lepas itu mereka memasak air untuk penghangat badan, memang itu yang dibutuhkan mereka.


"Ayo masak air, buat kopi dulu biar anget badannya" ucap Adi.


"Aku ambil kompor dulu, nanti kamu yang buat, sepertinya aku masuk angin karena semalaman terkena angin luar"


"Sini dulu buat anget anget biar enakan badannya"


"Aku pengen buang air, dimana nih?" Tanya Ali.


"Di belakang pohon itu saja, jangan lupa cebok, nanti bau"


"Santai saja wangi kok ini"


"Wangi apaan, sejak kapan baunya berubah?" Tanya Adi sambil bercanda.


"Tak percaya, ayo ikut, aku buktikan kalau ini wangi"


"Ogah banget, sudah buru, nanti keluar di celana malah repot"


"Buatin anget anget setelah ini ya Di"


"Iya ini baru masak air, buru sana ah"

__ADS_1


"Sabar napa, aku yang kebelet kenapa kamu yang sewot"


"Yaelah dibilangin malah kek gtu"


Berlarilah Ali menuju belakang pohon beringin besar di belakang tempat mereka mendirikan tenda, sambil membawa sebotol air untuk cebok.


"Ah lega rasanya" ucap Ali.


"Udah keluar semua?" Tanya Adi.


"Apanya yang keluar?" Membalikkan pertanyaan kepada Adi.


"Bokernya"


"Siapa juga yang boker, orang cuma buang air kecil" sambil tertawa.


"Sialan lu, ku kira buang air besar, eh ternyata cuma pipis"


Tertawalah mereka bersama sama. Sambil menunggu airnya mendidih, mereka saling mengejek dan bercanda seperti biasanya.


Beberapa menit kemudian mereka meracik kopi untuk di seduh, menunggu matahari terbit, mereka bernyanyi agar suasana hening dalam hutan menjadi ramai karena mereka.


Na na na na na nanananananananannaanan........


Bersorak gembira mereka, hingga terbitlah matahari, pagi itu sangatlah dingin, mereka memakai jaket tebal, namun masih saja terasa dingin.


"Dingin sekali disini" ucap Ali.


"Gantian lu yang masak ya tapi" jawab Adi.


"Tenang, ada ceff Ali disini, semua oasti beres"


"Gaya lu aja itu, biasanya juga ga bisa masak, cuma masak mie saja kau bisanya"


"Sok tau lu, gini gini aku pernah kerja di rumah makan"


"Ngibul lu ya Li?"


"Dibilangin ga percaya"


"Sejak kapan lu bekerja di rumah makan emangnya?" Tanya Adi kembali.


"Satu tahun yang lalu" jawabnya.


"Emang bisa masak?" Kembali bertanya kepada Ali.


"Ngga bisa" Jawabnya sambil tertawa.


"Kok kerja di rumah makan?"


"Kerja sebagai pencuci piring maksudnya, itupun pecah semua yang aku cuci, besoknya aku di pecat" canda Ali kepada sahabatnya.


"Ngaku juga akhirnya kalau lu anak manja"

__ADS_1


"Tau juga kau akhirnya ya Di"


Tertawalah mereka, sambil menunggu mie yang mereka masak selesai, mereka terus saling mengejek satu sama lain, namun tak ada permusuhan diantara mereka. Itulah mereka, saling menghina, namun tak saling marah ataupun terluka hatinya.


************************


Mie sudah siap untuk di makan, dua mangkuk mie instan menemani mereka di pagi hari.


Srutup.......


Segar memang jika oagi hari di suasana dingin menyantap mie seperti mereka itu.


"Enak juga rasanya di tempat seperti ini" gemam Ali.


"Kemarin kenapa takut saat mau masuk sini?" Tanya Adi.


"Kalau tahu begini ga akan taku gua" jawabnya.


"Songong amat nih anak ya"


"Bawa rokok ngga Li?" Lanjut tanya dari Adi.


"Bawa di saku celanaku, ada banyak rokok di tas pinggangku juga" jawabnya.


"Bagi dong, enak kayaknya dingin gini ngerokok"


"Enak lah, orang minta" canda Ali.


"Sini buru minta, biar anget nih badan"


Sambil menikmati rokok dan kopi, mereka melihat sekitar, rasanya tenang dalam jiwa mereka, tak ada yang mengusik, apalagi suara motor dan polusi udara dari asap kendaraan seperti di kota.


...***************************...


Jam sudah menunjukkan pukul 7.00 pagi hari, saatnya mereka membereskan tendan dan membawa sampah mereka.


Berjalan kembali menelusuri hutan, lebih lagi masuk kedalamnya dan semakin jauh dari pekarangan warga. Rasa takut sudah tidak ada dalam diri mereka, yang mereka rasakan hanyalah rasa nyaman dan tenang tanpa usikan dari siapapun itu.


"Jika suasana di kota seperti ini, aku tak akan pergi mendaki gunung" gemam Ali.


"Sama, aku juga demikian"


"Sayangnya kota sudah dipenuhi polusi udara, panas rasanya jika dikota"


"Lama kelamaan pasti semakin panas, bahkan bisa untuk memasak jalan depan rumahku nanti" ucap Adi.


"Ngelawak aja terus tong" jawab Ali.


"Gapapa lah sekali kali boleh seperti ini"


"Iya aku setuju dengan pendapatmu kali ini"


...************************************************************...

__ADS_1


__ADS_2