Dibalik Dunia Nyata

Dibalik Dunia Nyata
Nyawa Yang Hampir Melayang


__ADS_3

Tengah malam tiba, sekitar jam 12 tepat Adi dan Ali terbangun karena mendengar suara air hujan semakin deras dan angin yang berhembus semakin kencang. Mereka melanjutkan tidurnya karena masih sangat ngantuk dan kecapean, baru beberapa menit memejamkan mata, tiba tiba terdengar suara.


Brukk.....


Suara itu sangat kencang hingga membangunkan mereka kembali, Adi saat itu penasaran dengan suara yang ia dengar.


"Li, apakah kau juga mendengarkan suara itu?" Tanya Adi kepada Ali.


"Tentu saja aku mendengarnya, jika tidak mendengar mungkin tak akan terbangun kembali"


"Kira kira suara apa tadi ya?" Tanya Adi.


"Mana aku tahu, kan kita di dalam tenda"


"Aku jadi penasaran, ingin sekali aku melihat keluar, tapi masih hujan, sayang jika harus basah kuyup terkena air"


"Akupun demikian, kita lihat saja besok oagi, sekarang lanjutkan mimpi kita" ujar Ali.


"Semoga saja tidak terjadi apa apa, mari lanjutkan tidur kita"


Mereka sempat mau melihat ke luar tenda, dikarenakan hujan masih sangat deras, akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk mencari tahu apa yang terjadi di luar tenda. Sudah tak dihiraukan lagi suara itu, kembalilah mereka untuk melanjutkan mimpinya.


...*************************...


Keesokan harinya, keluar dari tenda untuk mengambil air wudhu, terkejutlah mereka karena pohon tepat dimana mereka mendirikan tenda rubuh, untungnya tidak menimpa tenda, hanya nyaris tertimpa, jaraknya sekitar 50 cm dari tenda mereka.


"Wah masih untung kita tidak tertimpa pohon ini" ujar Adi.


"Jika tertimpa, mungkin kita akan tidur selamanya" lanjutnya.


"Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita" balas Ali.

__ADS_1


Mereka saling memandang dan menggelengkan kepala, lalu segera mengambil wudhu dan melaksanakan kewajiban seperti biasanya.


Usai solat subuh, Adi yang saat itu sudah mulai keroncongan, segera keluar untuk membuat makanan, Ali malah kembali tidur karena hawa dingin di dalam hutan sungguh merasuki tubuhnya.


"Kebo kebo, tidur terus kerjanya" ucap adi menggelengkan kepalanya.


Keluar sedirian ditemani angin sepoi sepoi dipagi itu, dan berharap cuaca pagi itu bagus, supaya bisa mengeringkan tendanya.


"Yah masak sendiri, makan sendiri, nasib emang jika bawa teman kebo" ujarnya sambil memasak mie instan.


Bekal yang mereka bawa masih banyak, bahkan mereka baru berapa kali memasak nasi, karena mereka seharian kemarin makan mie instan.


"Nanti siang aku harus makan nasi biar tenagaku kuat untuk melanjutkan perjalanan yang masih jauh ini" ucap Adi dalam hati.


Setelah makanan yang ia masak jadi, ia langsung memakannya tanpa menyisakan untuk Ali yang asik tidur. Habislah sudah makanannya, baru Ali terbangun dari tidurnya, meminta Adi untuk membuatkan makanan untuknya.


"Buatin aku makanan dong, lapar nih" pinta Ali kepada Adi sambil mengelus perutnya.


"Yaelah, pelit amat lu"


"Udah sana masak, sekalian buat kopi"


"Iya tuan, yang bisanya cuma menyuruh saja" jawab Ali kesal kepada Adi.


"Aku mau olahraga sebentar, meregangkan otot"


"Terserah kau saja"


Adi melakukan olahraga kecil di depan tenda sambil melihat pohon yang rubuh itu, masih tak habis fikir jika seandainya pohon sebesar itu menimpanya.


"Huh, tuhan memang baik, menyelamatkan aku dan Ali dari runtuhan pohon ini" ujarnya.

__ADS_1


Kopi yang dibuatkan Ali sudah siap di seduh, kini mereka menikmati kopinya sambil merokok di atas pohon yang rubuh semalam.


"Pantas saja semalam suaranya sangat menegangkan, seakan ada sesuatu yang jatuh, ternyata ini" ucap Ali.


"Aku yang menyelamatkan nyawa kita, seandainya aku tidak meniup pohon ini pasti sudah menimpa kita" canda Adi pagi itu.


"Ya ya ya, kau ini memang sakti" jawab Ali sambil tertawa.


"Akhirnya kau menyadari hal itu"


"Biar kau senang saja aku berkata seperti ini, aku juga membantumu meniup pohon ini" canda Ali membalas perkataan Adi tadi.


"Oh iya ya, semalam pantas saja aku merasa bau ga enak, ternyata dari angin mulutmu itu" ejekan dari Adi.


"Kalau itu mulut kamu yang dekat dengan hidungmu" jawab Ali.


Mereka begitu terlihat sangat bahagia meskipun saling ejek, kini rasa tegang karena runtuhnya pohon yang hampir menghilangkan nyawa mereka sudah hilang, bahkan mereka menertawakan hal itu diatas pohon besar yang jatuh.


Sinar matahari pagi ini menghangatkan tubuh mereka, sambil meminum secangkir kopi membuat tubuh mereka semakin hangat. Mereka berniat untuk lanjut perjalanan setelah tendanya kering, mungkin sekitar pukul 10 pagi sudah bisa melanjutkan perjalanan.


Sambil menunggu, mereka membereskan sampah sisa semalam membuat mie instan dan membereskan barang bawaannya.


"Ayo kita bereskan ini, biar nanti tinggal memasukkan tenda saja" gemam Ali.


"Ide bagus itu, semakin cepat semakin baik"


"Ayo tak usah berlama lama kita duduk di sini"


Masuk ketenda membereskan barang barangnya, sambil menunggu tenda kering yang basah terkena air hujan semalaman.


...****************************************************************...

__ADS_1


__ADS_2