
Malam itu merupakan malam yang sangat dingin diselimuti dengan kabut putih yang mengepul menutupi daratan yang ada. Bagaimana mungkin ini terjadi? Itu kata Adi dalam hatinya.
Biasanya tidak sedingin ini, padahal hujan tidak datang, angin juga tidak kunjung tiba malam ini, tapi anehnya suasana yang tadinya hangat kini menjadi dingin, mereka kini terbangun dari tidurnya dan membuat minuman hangat agar tubuh mereka terasa sedikit tenang, nyaman, dan tentunya hangat.
“hei Li, mengapa malam ini bisa sedingin ini ya?” tanya Adi kepada Ali.
“mana saya tau, emangnya aku yang menciptakan alam ini?” pertanyaan itu dikembalikan kepada Adi.
“kamu ditanya malah balik tanya, jika tak tahu jawab saja tak tahu” bentak Adi.
“iya aku minta maaf, kan emang aku tak tahu” jawab Ali.
“ayo kita keluar, buat minuman hangat biar tidak kedinginan” ucap Adi kepada Ali.
“oke, ayo keluar” jawab Ali.
Mereka segera membuka pintu tenda dan keluar dengan membawa selimut yang mereka buat penghangat badan saat tidur.
Belom juga mereka melangkahkan kakinya keluar dari tenda, tatapan mereka begitu terlihat bingung yang mana keadaan diluar sangat buruk, kabut mengepung rumah kecil mereka, tak bisa melihat apa-apa disana.
“apaan ini, kok seperti ini?” ucap Ali.
“Entahlah, tumben sekali ini dingin dan diselimuti kabut” jawab Adi.
“sudah ayo kita masak air dulu tak usah hiraukan kabut ini” ucap Ali.
__ADS_1
“benar juga katamu, yang terpenting kita hangat, bukannya mati kedinginan”.
“cepat ambil kompornya” pinta Ali kepada Adi.
Adi bergegas mengambil kompor dan memberikannya kepada Ali.
“Ini kompornya, sekarang gantian kamu yang masak, kan aku sudah mengambil kompornya” gemam Adi.
“Yasudah sini, mau minum kopi atau susu?” tanya Ali kepada Adi.
“aku mau kopi saja buat peneman sepuntung rokok ini” sambil mengambil rokok yang ada di sakunya.
“kalau begitu aku juga demikian” jawab Ali.
Segeralah Ali menghidupkan kompor dan mulai memasak untuk membuat minuman hangat. Kini Adi yang meracik kopinya.
“memang Allah ini sungguh luar biasa, bisa membuat kabut setebal ini di sekeliling tenda kita” ucap Ali.
“Ya itulah hebatnya, manusia tak akan bisa menyainginya” jawab Adi.
“keadaan di kota bagaimana ya?” Tanya Ali kepada Adi.
“Mana saya tahu” jawab Adi.
“eh iya ya, kita kan bareng terus didalam hutan ini” jawab Ali.
__ADS_1
“ngomongin kota, aku jadi rindu dengan suasana disana” ucap Adi lalu merenung melihat kebawah.
“sabar dulu, sebentar lagi kita pulang” jawab ali sambil menepuk berkali-kali pundak Adi.
“Rasanya rindu dengan rumah, terutama dengan Ayah dan Ibu, aku sungguh merindukan mereka” Ucapan Adi kali ini benar-benar membuat Ali ikut bersedih.
“kita lanjutkan dulu perjalanan ini, 3 hari lagi kita keluar dari hutan ini dan kembali ke rumah” jawab Ali.
“sudahlah, ayo kita masuk lagi, lanjutkan tidur kita” pinta Adi.
“Ayo masuk” kawab Ali.
Mereka kembali masuk kedalam tenda, lalu menutup pintunya dan segera tidur. Ali yang sudah tak kuat dengan dinginnya udara malam ini, meminta Adi untuk memberikan selimutnya kepadanya.
“Sini selimutmu aku pake saja” pinta Ali kepada Adi.
“Ini pake saja, lagian aku belum bisa tidur” jawab Adi sambil memberikan selimutnya.
“makasih ya”
“Tak apa, nanti aku minta kembali jika aku kedinginan” ucap Adi.
“yaelah, baru saja diajak omong sudah mgorok” lanjut ucapnya.
Kini tinggal Adi sendirian di sana, masih merenung dan terbayang sosok ayah di depannya dan sosok ibu. Benar-benar kini ia merindukan ayahnya dan juga ibunya. Wajar saja jika rindu, karena ia adalah anak satu satunya dan anak yang dimanja dan di sayang.
__ADS_1
...*****************************************************************...