Dibalik Dunia Nyata

Dibalik Dunia Nyata
Hari ke-5 (Melanjutkan Masuk Ke Dalam Hutan)


__ADS_3

Setelah keesokan harinya, Adi bersama sahabatnya mengurungkan niatnya untuk lanjut perjalanan, namun entah kenapa perasaannya begitu kuat bahwa wanita yang dicari sudah ada didepan mata...


"Kenapa?" tanya Tama


"Ngga" jawab Adi


mereka berkemas memberesi tempat tidurnya (tenda) supaya bisa lanjut berkelana di gutan, namun tama kembali menyarankan agar mereka tidak melanjutkan perjalanan utu, sudah lama sekali mereka tidak melihat pemandangan luar selain pohon.


"Alangkah baiknya kita sudahi saja perjalanan ini, orang tuamu pasti mengkhawatirkan" ucap tama


"tidak akan ku akhiri jika belum bertemu dengan sosok itu"


"Ayo kita pulang saja tak usah dipikirkan lagi sosok tang belum tahu akan keberadaannya"


"jika memang tidak mau ikut, aku persilahkan untuk kembali, nitip salam buat papah mamah dirumah"


"aku akan menemanimu, aku sudah berjanji, namun jika dihari ke-7 kita belum menemukan, kita harus pulang"


"kamu saja yang pulang, aku akan tetap mencarinya"


"setelah gari ke 7 aku akan oulang, jika kamu mau melanjutkan semoga merhasil, aku akan menitipkan salam untuk irang tuamu, ayah dan ibu mu"


"terimakasih..." jawab adi dengan rasa versalah sudah mengajak tama pergi jauh kedalam hutan.


mereka kembali melanjutkan oerjalanan dengan perut josong yang memang belum terisi apapun semenjak pagi mereka bangun.


satu jam perjalanan tama merasa lelah dan lapar, akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak


"Aku lapar, kita makan dulu" ujar tama


"baik setelah utu kita lanjut perjalanan kembali" jawab adi


"Asal kau bahagia saja aku ikut senang"


"Aku buatkan mie instan ya, berasnya tinggal sedikit untuk nanti malam dan hari esok" ujar Adi


"No problem, apa saja yang penting bisa dimakan" jawab Tama


"oke tunggu bentar tak masakin mie instan dulu"


sambil menunggu Adi memasak mie instan, tama membuat kopi sambil bernyanyi.


nananannanananan nananannana.....

__ADS_1


"ngapain lu tam?" nyanyi ga jelas.


"biar suasananya tidak sunyi seperti di hutan" jawab tama dengan lawakannya.


"kita kan memang berada di hutan tam" kebingungan menjawabnya.


"Iya aku tahu utu, aku hanya bergurau saja denganmu, seperti biasa biar ngga tegang" jawabnya.


"oh gitu, oke lanjut saja buat kopi"


"aku mau buang air kecil dulu, udah sampe pucuk ini" ujar tama


"Dasar, ujungnya aku juga yang buat kopi" ucap Adi


"hehehe maaf udah kebelet" ucap Tama


"Sudah sana nanti ngompol aku ga tanggung jawab ya..." guyon Adi


"Tolong ya buatkan kopi dan mie, nanti aku sampe harus sudah jadi semuanya"


"Iya bos....." jawab Adi kesal.


memang setiap melakukan sesuatu Tama pasti ada alasan untuk menghindar apalagi memasak, ia sungguh paling membenci hal itu. Sebaliknya dengan Adi yang bisa menerima apapun tugas karena dirumah ia mandiri dikarenakan ia merupakan anak tunggal, tanpa saudara dan apapun yang dilakukan haruslah sendiri tanpa teman.


dalam hatinya berkata seperti itu, entah bagaimana caranya agar Adi segera bertemu dengan sosok wanita itu.


semoga saya bisa secepatnya bertemu, dalam hatinya selalu berbicara seperti itu...


tak lama setelah itu, Tama datang.


"Gimana kopinya sudah jadi apa belum?" tanya Tama kepada Adi.


"Adi... bagaimana malah bengong"


"Iya maaf aku lupa" jawab Adi.


"Pasti memikirkan perempuan itu, lagi lagi dia yang membuatmu seperti ini"


"Sudah tak apa, sudah terbiasa juga kan" jawab Adi.


"Sini biar aku saja yang buat kopi, kamu lanjut dulu masak mie biar cepat selesai terus melanjutkan lagi perjalanannya" ucap Tama.


"Baiklah..." jawab Adi.

__ADS_1


Tak lama Tama langsung meracik kopi, dan Adi memasak mie instan untuk sarapan mereka.


kopi dan mie instan sudah siap, mereka kembali melanjutkan perjalanan usai makan dan menikmati secangkir kopi hitam panas.


"Kita cari sumber mata air dulu untuk masak nanti sore dan mencuci alat masak kita tadi" ucap Tama kepada Adi.


"Siap bos, aku yang depan ya biar cepat sampai, kalo kamu pasti memperlambat langkah" jawab Adi


...****************...


usai melanjutkan perjalanan, 30 menit mereka berjalan bertemulah sumber mata air, tak berlama lama, Adi dan Tama langsung melepas pakaian dan mandi.


tak dirasanya, sudah 2 jam nereka di sana, mungkin karena sudah hampir semunggu belum merasakan segarnya air.


"Waduh sudah jam 12 nih, ayo kita ganti baju, terus solat dulu usai itu baru lanjut perjalanan" ujar Tama yang saat itu masih menggunakan jam ditangannya.


"ngga jerasa sudah ber jam jam kita mandi di sungai ini, airnya begitu sejuk, tanpa pencemaran sama sekali" jawab Adi.


"Sudah ayo buruan"


Bergegaslah mereka ganti pakaian dan melakukan solat berjamaah, usai itu lanjutlah kembali mereka berjalan menuju hutan yang semakin lebat, bahkan tidak ada penyinaran matahari sedikitpun.


"Sungguh hutan ini belum pernah di pinjak oleh manusia, suasananya begitu asri hingga matahari tidak terlihat" ujar Adi.


"Nanti kalo sudah bertemu sosok itu, mau tinggak disini apa di kota?" canda Tama kepadanya.


"Ya mungkin di sini tanpa tetangga, tetap kembali ke kota"


"Baguslah jadi bisa kuajak ngopi tiap malam, hehehe"


"Dasar emang kau ini, bisanya cuma ngopi, ngopi dan ngopi"


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, saatnya mereka mencari tempat untuk bermalam, saking lebatnya hutan, mereka bingung mencari tempat lapang untuk mendirikan tenda.


"Wah kok ga ada tempat sama sekali ya, lebat semua hutannya" ucap Adi.


"Sabar... siapa tahu di depan ada tanah lapang untuk mendirikan tenda, syukur syukur ada sumber mata air"


"aamiin, semoga saja tidak jauh, soalnya semakin lama semakin gelap"


lanjutlah mereka mencari tanah lapang untuk mendirikan tenda, sekitar pukul 5 petang, akhirnya mereka mendapatkan tempat mendurikan tenda, tanpa basa basi bergegas mendirikan lalu solat bersama.


...****************...

__ADS_1


Malam telah tiba, mereka menuju sumber mata air untuk mengambil air guna masak dan minum, kebetulan samping mereka mendirikan tenda terdapat aliran sungai kecil namun deras alirannya.


__ADS_2