
.
.
Darren sampai di Korea pagi-pagi sekali, sekitar jam empat pagi, dia langsung tidur di tempat tidur David, sedangkan Davidnya kesal sekali. Akhirnya David tidak bisa tidur lagi, lanjut membuat sandwich untuk sarapan. Hari itu dia sudah harus kembali ke Indonesia, tidak bisa meninggalkan istrinya di Indonesia lebih lama, kalau masih mau di Korea, harus membawa Ruka ikut serta.
Berhubung sudah ada Airi dan Darren, jadinya David bisa lega, karena tidak mungkin Devon memonopili Laura sendirian.
Saat David sibuk membuat sandwich, Kaisar datang, mengusak rambut putranya pelan, membuat David berjengit terkejut.
“Ah, papa, ngagetin aja!”
“Hehe, kamu serius banget sih... kapan kamu pulangnya?” tanya Kaisar, dia mencomot salah satu daging cincang goreng yang David buat.
“Papa jangan diambil!”
“Buat lagi!”
“Cih, ya udah... aku pulang nanti lah, jam delapan atau sembilan baru berangkat ke bandara... kalo telat nanti pesawat selanjutnya sore” ucap David.
“Istrimu hamil juga kan... kamu harus bersama dengannya dan lebih memperhatikannya, David. Dulu saat mama mu hamil, papa tinggal sedikit saja dia langsung ngambek, hehe, jadi papa harap kamu memperhatikan dia.”
David hanya diam saja, andai papanya tahu, jika perasaan David sudah tidak menentu sekarang. Rasa cinta pada Istrinya luntur perlahan-lahan, di pikirannya hanya ada Laura, entah kenapa... dia malah berharap anak Laura adalah benihnya.
Tapi sepertinya itu tidak mungkin.
David ingin mencoba dulu menjadi orang baik dengan tetap berusaha mempertahankan pernikahannya dan rasa cinta pada istrinya.
Dia sendiri bingung kenapa dunianya tiba-tiba jungkir balik seperti itu, padahal dulunya dia hanya mencintai Ruka saja... tapi semua itu bisa berubah dalam sekejap.
Kaisar sendiri bukan pria sebaik itu, dia sempat mencintai perempuan lain saat masih bersama dengan ibunya David, tapi ayahnya tersebut bisa mempertahankan hubungan mereka pada akhirnya.
David mungkin harus begitu juga, bagaimanapun, anak istrinya itu anaknya, dia tidak mungkin mengabaikan anak hanya untuk nafsu semata. Apalagi, Laura tidak mencintainya.
“Papa dulu, sempat jatuh hati pada perempuan lain saat masih bersama mama kan?”
Senyum Kaisar luntur, tergantikan dengan kernyitan di dahi.
“Kamu tahu dari mana?”
“Jawab saja pertanyaanku pa, sebagai sesama pria dan seorang ayah, jujur saja padaku.”
Kaisar menghela nafas berat, “itu benar, papa dulu awalnya mabuk, meniduri seorang gadis cantik, tapi kemudian malah keterusan, papa hanya pria biasa, David... punya kesalahan juga dimasa lalu...”
David duduk di kursi sebelah papanya, lalu menatap Kaisar dengan tatapan serius, “Pa... seandainya – ini hanya seandainya... aku – seandainya aku juga seperti itu, apakah papa akan marah?”
“Seperti apa?”
“Hmm, misalnya, aku tiba-tiba tertarik dengan perempuan lain? Haruskah aku mempertahankan pernikahanku demi anak? Atau bagaimana?”
“Cerai saja, kau tahu, alasan mempertahankan anak itu bisa benar dan salah – masalahnya adalah jika sudah tidak ada cinta, hubungan suami-istri akan menjadi toxic, tidak baik untuk kalian berdua, terutama anak. Anak yang tumbuh dari lingkungan toxic seperti itu akan menjadi anak dengan mental yang hancur, kebanyakan psikopat atau penjahat tumbuh di lingkungan seperti itu, kamu mengerti maksud papa kan? papa ini orangtuamu, jika kamu melakukan kesalahan, papa akan marah dan mensehatimu, tapi selebihnya, papa akan berpihak padamu, nak.”
__ADS_1
David mendadak merasa bersalah karena dia mencintai kekasih ayahnya sendiri.
Kemudian David memeluk papanya, diam-diam menangis.
Sementara Kaisar hanya senang dan membalas pelukan putranya, “David... setelah mama tidak ada, kamu baik-baik saja kan, nak?”
“Tidak tahu pa... aku pikir aku baik-baik saja, tapi mungkin juga tidak, aku tidak tahu.”
Devon yang juga menginap di apartemen itu bangun dan heran melihat pemandangan manis di dapur, saat David memeluk ayah mereka.
“Ada apa ini aku gak diajak?” tanya Devon sambil berjalan mendekat.
“Kamu juga mau memeluk papa? Sini!”
Devon ikut memeluk papanya, meski tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, melihat ekspresi David, sepertinya David hanya merasa bersalah pada papanya tentang Laura.
“Ada apa sih?” tanya Devon lagi.
“Gak usah banyak bacot” balas David.
“Dih, ya udah!”
***
“Huwaa bagus sekali! Cantik!”
Laura berputar di depan yang lain, mengenakan pakaian tradisional hanbok yang disewa saat masuk ke istana. Dia senang sekali mendapat hanbok warna pink dengan jepit bunga sakura, sangat cantik. Wonhi dan Airi juga memakai pakaian hanbok, Airi merah dan Wonhi ungu. Kemudian si kecil Roun juga memakai hanbok untuk laki-laki, dia lucu sekali.
Saat itu keputusan ada di tangan Laura, jadi Laura memilih pergi ke restoran Thailand, dia sangat penasaran karena belum pernah merasakannya sekalipun.
“Coba ini?”
Laura menoleh pada seseorang disebelahnya yang menyuapinya dengan makanan, tadinya Laura pikir yang ada disebelahnya itu Kaisar, tapi ternyata Devon. Kaisar ternyata pergi ke toilet selama Laura sibuk memilih makanan, saking semangatnya dia tidak sadar Kaisar pergi dan Devon menduduki tempat Kaisar.
Setelah itu Laura menoleh pada Wonhi, yang sibuk mengobrol dengan Airi.
Apa ini? Kenapa Devon tidak berhati-hati saat masih ada orang lain bersama mereka? Kenapa dia – “Ayo buka mulutmu... ini camilan yang enak, kamu harus coba” ucap Devon, dia mendapat camilan itu dari tempat sebelumnya, saat mereka jalan-jalan di perkampungan rumah tradisional.
Darren menoleh memperhatikan Laura dan Devon, membuat Laura jadi tidak enak jika menolak.
Laura pun menerima suapan dari Devon.
Itu adalah camilan gula yang manis, dalgona namanya.
“Enak kan?” tanya Devon, Laura hanya mengangguk menjawabnya, karena gemas, kemudian Devon mengusak kepala Laura.
“Aku aku!” ucap Darren, kemudian dia membuka mulutnya.
Devon berdecak malas, tapi kemudian menyuapi Darren juga.
“Hmm, manis banget! Ini sih terlalu manis bagiku...” komentarnya.
__ADS_1
Laura hanya diam, lalu kembali memakan camilan dari Devon karena membeli banyak sekali.
Kaisar kembali lagi dari toilet, tapi kemudian ponsel Darren yang berdering.
“Sebentar ya, aku angkat telfon dulu.”
“Ini makanannnya, silahkan...” para pelayan datang menyajikan makanan pesanan mereka. Saat itu, Devon masih duduk di samping Laura, jadinya Kaisar duduk di depan Laura, Wonhi di sebelah Kaisar.
“APA?” teriakan Darren membuat mereka berhenti makan dan menoleh karena penasaran.
“Kamu jangan bercanda... tidak mungkin Dexter... baiklah, aku akan segera kembali bersama yang lainnya, iya...”
Perasaan yang lain sudah tidak enak mendengar ucapan Darren, apalagi setelah melihat ekspresi paniknya. Darren adalah pria yang pandai menyembunyikan perasaan, melihatnya seperti itu jelas pasti ada sesuatu.
“Darren kenapa?” tanya Kaisar.
Darren memberi isyarat jika dia masih belum selesai menelfon. Dia menelfon orang lain lagi.
Yaitu David.
[Kak, udah dikasih tau Bagas?] tanya David.
“Baru aja dia nelfon...”
[Aku membatalkan penerbanganku, di ganti dengan penerbangan sore, aku juga memesankan tiket untuk kalian semua, okay?]
“Iya, terimakasih, David.”
Darren pun mematikan telfonnya, lalu menatap yang lain, yang juga sedang menatap Darren penasaran.
“Itu tadi Bagas yang menelfon... dia – dia bilang jika Dexter mengalami kecelakaan, lalu masih ada di rumah sakit Malang, nanti di antar ke Jakarta, jadi, kita harus kembali sore ini juga... David sudah membelikan tiketnya” ucap Darren.
“Maaf, paman tidak bisa ikut karena besok ada pekerjaan, tapi aku usahakan datang kesana secepatnya ya? Laura ikut pergi bersama yang lain, okay? Pasti Angel sangat terpukul, kamu bantu tenangkan dia ya?” ucap Kaisar.
Laura mengangguk, dia jadi khawatir dengan Angel, sahabatnya.
Angel itu sudah kehilangan salah satu sahabatnya, Elle, kemudian ibu tirinya, Sarah... pasti dia sedih mendengar Dexter kecelakaan.
“Aku akan menjaga Laura, Wonhi jangan ikut ya, kamukan sibuk... apalagi besok ada acara” ucap Devon.
Laura sudah tidak memperhatikan ucapan Devon, dia bahkan sudah tidak waspada lagi dengannya. Pikiran Laura sudah sibuk dengan bagaimana perasaan Angel, beruntung ada Bagas disana.
“Aku ingin pergi... boleh ya?” pinta Airi.
“Boleh sayang, tapi sebelumnya, lebih bak kita makan dulu, tidak perlu panik, sudah ada yang menangani Dexter disana” ucap Darren. Padahal ucapan jangan panik itu harusnya ditujukan untuk Darren sendiri, dia terdengar sangat panik.
Airi sebagai istri yang baik menenangkan Darren dengan tersenyum dan memeluknya, “semuanya pasti baik-baik saja, kita harus banyak berdoa untuk kak Dexter... lagipula, semua ini terjadi karena sudah takdir kan? tidak apa... tenang.”
.
.
__ADS_1