
.
.
Angel tersenyum lalu mengangguk, dia mulai meraih sendok dan menyuapi dirinya dengan makanan.
Rasa masakan itupun sangat enak, Angel selalu gembira saat memakannya, makanan penuh cinta yang dibuat oleh orang lain untuknya. Mungkin agak aneh karena Fano itu hanya teman Angel, tapi entah kenapa Angel tidak keberatan sama sekali dengan perhatian Fano, seakan itu hal yang natural.
Karena Angel yakin Fano perhatian karena dia memang perhatian, tidak mungkin ada niat khusus.
Ponsel Angel berbunyi, karena dia menyusui dan sedang makan, jadi dia menyerahkan ponselnya pada Laura untuk diangkat.
“Oh ini Travis! Tumben banget tuh anak nelfon” ucap Laura.
“Angkat aja” sahut Angel.
Laura mengangguk, lalu mengangkat telfonnya, “Halo, Vis?”
[Oh, Laura? Angel mana?]
“Lagi makan, ini ku speaker, ngomong aja” ucap Laura.
“Ada apa Vis?” tanya Angel.
[Aku sedang bisa kesana, ini dalam perjalanan, aku ingin mengunjungi kak Dexter juga, aku juga kangen dengan bayimu, apa dia sudah besar?]
“Besar sih belum... tapi dia sudah lebih besar sejak terakhir kamu melihatnya” ucap Angel.
“Memang kapan terakhir Travis melihat Jason?” tanya Laura.
[Kalau tidak salah itu tiga bulanan yang lalu lah, saat Jason baru satu atau dua bulanan] jawab Travis.
“Dasar super sibuk...” sahut Laura.
[Gitu deh, ya udah ya, tunggu kedatanganku!]
“Okay!” jawab Laura dan Angel kompak.
Telfon pun dimatikan.
Memang Travis menyibukkan dirinya sejak kematian Elle, sibuk dengan kuliahnya di negara orang. Meski begitu dia selalu meluangkan waktu untuk teman-temannya, walau hanya sekedar telfon saja.
“Aku melihat postingan Travis kemarin, sepertinya dia sudah lebih ceria ya” ucap Laura.
“Dia juga mulai menjadi playboy lagi, seperti dulu saat belum bersama dengan Elle” sahut Angel.
“Ya gak aneh lah, dia kan ganteng, pasti banyak cewek yang deketin dia juga kan?”
“Ngomong-ngomong Laura, Devon dan David tidak mengancam mu atau sesuatu seperti itu?” tanya Angel.
Laura mendadak gugup dengan pertanyaan tersebut, Angel masih belum tahu perihal Laura yang dimanfaatkan oleh anak kembar iblis itu. Mereka bahkan masih bersikeras jika janin yang Laura kandung itu anak mereka. Meski jika dilihat dari usia kandungan itu masuk akal, tapi Laura tidak bisa berpikir seperti itu. Laura tetap yakin jika ayahnya adalah Kaisar.
“Ti-tidak kok... hehe, mereka minta maaf dan aku memaafkan mereka, karena jika tidak begitu, aku tidak bisa mendapat restu untuk menikahi ayah mereka kan?”
Angel menatap Laura bingung, Laura seperti menyembunyikan sesuatu, tapi Angel tidak mau memaksa Laura juga, takutnya Laura malu atau memang memiliki alasan tersendiri.
__ADS_1
“Kak Angel!”
Mereka menoleh, lalu melihat Tari, adik sepupu Angel, datang menghampiri mereka dengan masih mengenakan seragam.
“Ini masih jam berapa, kok kamu udah dateng?” tanya Angel.
“Hari ini aku pulang lebih awal... aku buru-buru kemari karena takut kak Angel ga mau makan, jadi aku beliin ini, bakso aci, mau gak?” Tari memberikan bakso aci yang dia beli khusus untuk Angel.
“Ih, mau banget!” Angel pun bersemangat melihat makanan itu. Meski sudah makan makanan dari Fano, Angel masih saja semangat untuk satu makanan favoritnya.
“Aku minta dong” pinta Laura.
“Boleh, ini makan aja” Angel menyodorkan bakso aci untuk Laura, kemudian Laura menuangkannya ke mangkuk kosong.
Tari menggendong Jason yang sudah selesai minum susu, “kamu sama kak Tari aja ya, biar mama makan dulu – kak Angel, itu makanan siapa yang buat? Kak Bagas?” tanya Tari.
“Oh, bekal ini? Fano yang buat.”
Tari hanya mengangguk pelan, dia selalu merasa aneh dengan Fano itu. Padahal sepupu Dexter lainnya biasa saja, tapi Fano itu paling semangat untuk membantu Angel. Padahal Fano itu juga bukan pengangguran, dia selain berkuliah, dia juga membantu beberapa pekerjaan di perusahaan ayahnya.
Itu semenjak Dexter koma, Tari tahu betul sebelumnya Fano jika berkunjung selalu bersama kekasihnya, Lily. Tapi sekarang sendirian.
Laura yang melihat Tari tiba-tiba merenung akhirnya bertanya, “Tari kenapa?” tanya Laura.
“Ah, enggak itu... kok kak Fano sekarang selalu datang sendirian ya? Gak sama kak Lily lagi...”
“Mereka udah putus, ceritanya panjang, kamu gak perlu tahu” ucap Laura.
“Putus? Kok bisa? Padahal secocok itu!”
Laura mengedikkan bahunya, “mungkin memang bukan jodoh, ya kan? kita tidak bisa memaksa jika mereka memang tidak cocok.”
***
“Fano, kamu sungguhan tidak bisa baikan dengan Lily?”
Rasanya saat itu Fano ingin berteriak dan membanting apapun yang ada di sekitarnya. Dia sudah lelah dengan pertanyaan ibunya tentang Lily. Fano bukan manusia super yang bisa menerima kenyataan jika Lily berselingkuh darinya, walaupun kenyataannya Fano juga melakukan hal seperti itu.
Tapi dia mengerti jika dia meneruskan hubungannya dengan Lily, semua itu hanya akan menjadi hubungan toxic, tidak baik baik dirinya maupun Lily. Hingga akhirnya nanti yang jadi korban adalah anak-anak mereka nantinya, Fano tidak mau hal itu terjadi.
Fano pun melepas pandangannya dari layar laptop, kemudian menoleh pada ibunya, Keira yang sedang berdiri sambil melipat tangan di dadanya.
“Ma, jika seandainya mama sudah mencintai pria lain, lalu papa sudah mencintai wanita lain, apa itu masuk akal untuk mempertahankan hubungan itu? Aku tahu mama menyukai Lily dan tidak ingin dia pergi... aku mengerti ma, dia boleh tinggal disini kapanpun dia mau, tapi tolong ma, aku tidak bisa berpura-pura baik-baik saja. aku mencintai orang lain, begitupun dengan Lily, hubungan ini sudah rapuh, bahkan hancur, tak bisa diperbaiki lagi, tidak semuanya akan berjalan mulus, aku tau bahkan mama saja cinta kedua papa kan? jadi biarkan kami seperti ini, mungkin bukan jodohnya, jika jodoh nanti juga akan kembali lagi kok, mama tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.”
Keira menghembuskan nafas berat, kemudian dia mendekati Fano dan duduk di sebelahnya. Tanpa bicara apapun lagi, Keira memeluk putranya dari samping.
“Maafkan mama ya? Harusnya kamu bilang jika kamu mencintai perempuan lain... tidak apa, lalu – siapa perempuan itu?”
Mendadak Fano jadi gugup, tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya, jika masih ada Angel di hatinya. Padahal Angel masih memiliki suami, yang sedang koma.
“Aku tidak bisa mengatakannya pada mama, mungkin suatu saat nanti, maaf ya ma.”
Keira tersenyum lalu menggeleng, “tidak apa, mama mengerti... kamu butuh waktu kan? jika sudah dapat nanti, kenalkan pada mama ya?”
Fano mengangguk, “baiklah ma...”
__ADS_1
Keira kembali memeluk putranya, “mama tidak bermaksud menyakitimu atau memaksamu, mama hanya berpikir hubungan kalian ini aneh sekali tiba-tiba putus dijalan begitu saja.”
“Mungkin ini kesalahanku, aku terlalu sibuk sampai membiarkan Lily di dekati senior, tapi memang bahkan jurusan kami berbeda. Aku terlalu meremehkan Lily yang selama ini mencintaiku, aku lupa jika hati manusia bisa berubah, sama seperti hatiku sendiri.”
Keira terkekeh pelan lalu mencubit hidung mancung putranya, “kamu udah dewasa ternyata ya!”
“Ih, mama! Aku juga tumbuh ma, masa selamanya bayi terus, kan ga mungkin...”
“Tapi di mata mama kamu bayi, gimana dong?”
Obrolan mereka terhenti saat seseorang mengetuk pintu ruang kerja Fano.
Keira pun berdiri lalu membukakan pintu, dia heran melihat Lily berdiri disana.
“Lily?”
Lily sendiri terkejut melihat ada Keira juga di dalam ruangan Fano.
“Ada apa?” tanya Keira.
“It-itu... tante... aku ingin mengatakan sesuatu pada Fano” ucap Lily dengan nada gugup.
“Tidak apa, Ly, katakan saja, tidak masalah kan mama ikut mendengarnya” ucap Fano.
“Fano jangan gitu ah, mama pergi saja ya? Kalian mengobrol berdua, okay?”
“Tidak, mama tetap disini, biarkan Lily mengatakannya pada mama juga.”
Lily menundukkan kepalanya, tapi beberapa saat kemudian dia mulai mengangkat kepala lalu menatap Fano.
“Fano... aku akan menikah dengan kak Jeff bulan depan.”
Fano saat itu tidak tahu harus bereaksi seperti apa, dia sedih, dia marah, dia kesal... tapi dia juga tahu, dia tidak berhak merasa seperti itu. Mungkin, itu adalah karma bagi Fano karena selama ini menyianyiakan Lily. Fano harus terima dengan kenyataan itu.
“Apa kamu bahagia menikah dengannya?”
Lily hanya mengangguk saja untuk menjawab Fano.
“Jika kamu bahagia, menikahlah dengan pilihanmu, aku berharap, dia pria yang jauh lebih baik dariku...”
“Maaf, Fano... tante Keira... aku pergi.”
Setelah Lily pergi, Keira mendekati Fano lagi.
“Kamu baik-baik saja nak?”
Fano menggeleng pelan, lalu memeluk ibunya dengan erat... “aku tahu aku salah ma, tapi aku merasa sesak mendengarnya, bagaimana pun juga, kami pernah saling mencintai... aku masih tidak percaya kami akan menjadi seperti ini.”
“Fano... tidak apa nak, tidak apa, masih banyak wanita lain yang akan menjadi pasanganmu, okay? Kamu juga masih sangat muda, tidak perlu seperti kakakmu yang menikah muda, take your time, baby...”
“Aku bukan bayi lagi ma!”
“Mama kan sudah bilang, kamu itu masih bayinya mama!”
“Mama!”
__ADS_1
.
.