
.
.
David pun menggeram kesal, kemudian menekan Laura ke ranjang, mengungkung tubuh mungil ibu tirinya diantara tubuh kekarnya.
“Apa kau bilang?”
“Apa? Kenyataannya begitu, David!”
“Tidak! Kamu bukan ibu tiriku... Kamu kekasihku, Laura.”
“Kamu masih saja keras kepal –aaahh! Berhenti!”
Laura mulai berontak saat David mengecupi leher Laura, menjilatinya, mengigit pelan.
“David!”
Laura akhirnya berhasil menjambak rambut David dan menjauhkan kepala David dari lehernya.
David hanya menyeringai seolah dia tidak bersalah sama sekali.
“Kau berharap aku memanggilmu mama? Jangan harap, Laura, sayangku... Aku membiarkanmu menikah dengan papa, tapi bukan berarti aku akan melepaskanmu!”
“kau sudah gila!”
“hahaha, aku memang gila.”
Cup.
David mengecup pipi laura, kemudian bangkit dari atas tubuh Laura.
“istirahatlah, kamu pasti lelah, ini sudah musim dingin, mau ku nyalakan penghangat ruangan?” Tanya David.
Laura bangkit duduk, kemudian mengangguk untuk pertanyaan David.
Setelah itu David pun membantu menyalakan penghangat ruangan.
Seseorang masuk, Laura terkejut melihat Kaisar.
“Oh? David membantu menyalakan penghangat ruangan? Laura kedinginan?” Tanya Kaisar.
David mengangguk, “iya, papa sudah selesai mengobrol?” Tanya David.
“iya, kamu di cari Devon dan Dojun.”
David mengangguk lalu berpamitan pergi.
Sepertinya, karena David selalu bisa berekspresi biasa saja dan tidak mencurigakan, jadi Kaisar tidak pernah curiga. Lagipula, tidak mungkin kaisar mencurigai kedua putranya, karena kaisar sangat menyayangi putranya tersebut.
“bukankah David anak yang manis, memang agak aneh karena dia lebih tua dari mu tapi, dia sekarang jadi anak tirimu, iya kan?” Ucap kaisar setelah David pergi.
__ADS_1
Laura tersenyum, lalu membantu Kaisar melepaskan atribut setelan jasnya.
“Aku rasa mereka bukanlah anak yang manis, mereka jahil... Mereka juga suka mengangguku” gumam laura, yang tentu saja dapat kaisar dengar dengan baik.
Kemudian Kaisar mengangkat dagu Laura dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
“Kau berkata begitu karena seumuran dengan mereka, nanti jika kau sudah menjadi orangtua, bagaimanapun kelakuan mereka, kamu tidak akan bisa marah meski kamu ingin marah, ada rasa ingin melindungi. Kau tahu, dulu mereka sangat lucu, mereka menjadi penyemangatku dikala aku gundah, mereka menjadi hiburan tersendiri. Melihat mereka sudah tumbuh besar seperti sekarang, aku sangat bahagia, jadi saat aku sudah tiada nanti, mereka sudah tidak membutuhkan bantuanku,” ucap Kaisar.
Laura bisa melihat di dalam mata kaisar, terdapat kelembutan dan rasa sayang untuk kedua putranya.
Jika sudah seperti itu, bagaimana bisa Laura mengatakan sesuatu yang buruk tentang mereka? Bagaimana Laura tega? Kaisar sangat menyayangi putranya, yang terlihat seperti iblis di mata Laura.
“maaf karena belum bisa menganggap mereka sebagai putraku” ucap Laura.
Kaisar menggeleng, “tidak perlu, kamu seumuran mereka, bahkan lebih muda, jadi kamu hanya perlu menjadi teman atau sahabat bagi mereka, kamu bisa kan? Bukankah kalian sudah akrab?”
Laura tersenyum, lalu mengangguk pelan, “tentu saja, kami sangat akrab.”
Bahkan, lebih dari sekedar ‘akrab.’
Kaisar mendekatkan wajahnya pada Laura lalu mengecup bibir Laura, sekali, dua kali... Hingga kemudian menjadi ciuman yang intens.
David yang sebenarnya belum pergi, mengintip dari celah pintu. Entah dia harus geram atau terharu dengan ucapan ayahnya.
Jujur, sebagai anak, ada perasaan bersalah karena sudah mendekati wanita yang ayahnya cintai. Tapi bahkan sebelum David tahu Laura itu ada hubungan dengan ayahnya... Ah, kenapa semua jadi rumit begini?
Akan tetapi, melihat ayahnya mencumbu laura, ada perasaan cemburu dan sesak dalam dada David.
Perlahan David berjalan menjauhi tempat itu, menuju tempat dimana Devon, Dojun dan yang lain berkumpul.
“kenapa ekspresimu begitu, David?” Tanya Jaden.
David menggeleng, “tidak, aku hanya melihat papa mencium Laura dan itu membuatku kesal” ucap David.
Yang lain terkekeh mendengar ucapan David, yang terdengar seperti lelucon bagi mereka, tapi tidak bagi David dan Devon, meski begitu keduanya tetap tertawa bersama yang lain.
***
“Angel!”
Laura berlari mendekati angel, sementara angel panik melihat ibu hamil itu berlarian.
“Laura, berhenti! Jangan lari-larian gitu, kamu lagi hamil besar ini!”
Laura hanya terkekeh saja melihat temannya itu panik.
Saat itu, kehamilan Laura sudah agak besar, menginjak usia tujuh bulanan, dia semakin gemuk saja karena sengaja harus gemuk, agar kandungan selamat nantinya. Laura banyak makan makanan bergizi, yang dimasakkan oleh kaisar, Devon, David atau Felly yang kadang-kadang berkunjung.
Laura sudah merasa hidupnya terjamin, tinggal di apartemen mewah di kota Seoul dengan pemandangan sungai han, ada suami tampan yang memperhatikannya.
Yah... Meski ada juga gangguan seperti David atau Devon.
__ADS_1
Jadi, Laura berharap dengan dia gemuk, Devon dan David akan melupakannya.
“hehe, baru berapa bulan gak ketemu kamu udah subur banget aja ya” ucap Angel.
“gak inget kamu waktu hamil gini juga, hah? Mentang-mentang langsung kurus pas udah lahiran!” Protes Laura.
Angel hanya terkekeh, lalu Laura mengajak Angel serta anaknya, Jason, masuk ke apartemennya.
“kenapa sepi sekali, hanya ada kamu sendirian disini?” Tanya Angel.
“kamu sendiri berangkat ke Korea sendirian?” Laura malah bertanya balik.
Angel mengangguk, “tentu saja aku sendiri, memangnya aku akan datang dengan siapa, aku sudah janda sekarang, tidak ada yang bisa ku andalkan” ucap Angel.
Laura hanya tertawa canggung mendengarnya, “lalu Fano?”
Angel menggeleng, “Fano? Kenapa dia? Dia sibuk mengurusi perusahaan – aku bersyukur dia mau membantu ku mengurusi perusahaan Dexter, aku memang tidak bisa tanpa dia, tapi bukan berarti aku ada hubungan apa-apa dengannya.”
Laura menatap sahabatnya tidak percaya, “Angel, kamu keterlaluan sekali... Fano melakukan semuanya karena dia mencintaimu!”
“dia itu playboy, dia tidak benar-benar mencintaiku... Aku tidak mau suami seperti dia, Laura!”
Laura memijit kepalanya yang pening, Angel memang jaim sekali, dia berbohong pada dirinya sendiri jika tidak menyukai Fano. Padahal dia tahu sendiri, berkali-kali dia jatuh pada pesona Fano. Bahkan, hanya Fano saat ini yang bisa membantunya.
Jika tidak ada Fano, perusahaan dexter yang susah payah dibangun itu akan jatuh ke tangan orang lain. Darren hanya bisa membantu untuk beberapa perusahaan saja, tapi dia juga punya bisnisnya sendiri yang sangat besar. Karena itu semuanya dialihkan pada Fano.
Lagipula, ternyata Fano memiliki hak waris atas Dexter.
Fano ada hak 10%, Jaden 10%, Darren 10%, lalu sisanya adalah angel dan Jason, yaitu 70 %. Darren tidak mau mengambil hak waris tersebut, jadinya dialihkan pada Fano, Jaden juga tidak mau mengambilnya, jadi dialihkan pada Fano juga.
Angel sendiri tidak masalah jika Fano mendapat bagian 30%, bagaimanapun juga, Fano adalah adiknya Dexter. Jadilah perusahaan itu berpindah ke tangan Fano, dengan sebagian besar saham menjadi milik Angel dan Jason.
Fano mati-matian mempertahankan saham besar milik Dexter agar tidak jauh ke tangan orang lain. Karena itu, Angel tidak perlu bekerja pun, pundi-pundi uang sudah masuk rekeningnya.
Angel berhutang banyak hal pada Fano, tapi bahkan untuk mengakui perasaannya pada Fano saja tidak mau.
Bodohnya lagi, Fano masih rela mengejar angel.
Memang kedua orang ini pasangan yang serasi karena sama-sama bodoh.
“jika kau tanya aku, kau itu sangat bodoh, Angel...”
“Ngomong-ngomong, aku saat ini dekat dengan Travis, secara romantis.”
Pengakuan Angel tersebut sangat mengejutkan bagi laura, dia menatap angel seakan angel melakukan kesalahan terbesarnya.
“kau – apa?”
.
.
__ADS_1