
.
.
“Aku berkencan dengan travis... Kau tahu tidak, dia membuka bisnis barunya, restoran seafood juga, tapi tidak hanya menyajikan seafood, yang pasti sekarang dia sibuk karena bisnisnya itu – kenapa kau menatapku seperti itu? Kau marah padaku?” Tanya Angel.
Pasalnya Laura kini menatap Angel penuh amarah, tapi dia juga tidak mau marah, dia tahu itu kebebasan Angel mau berkencan dengan siapa, tapi itu sangat keterlaluan bukan?
Bahkan Dexter saja lebih mempercayai Fano, bagaimana bisa angel tiba-tiba mengatakan dia berkencan dengan pria lain bernama Travis. Yah, memang Travis itu sahabat Angel juga, tapi kan... ayolah!
Laura tidak habis pikir dengan kelakukan sahabatnya ini.
Belum lagi masalah Ruka yang belum selesai. Pria bernama Reza mendatangi David dan mengatakan Ruka itu hamil anaknya, gila sekali.
Masalah tidak kunjung usai.
Saat Angel akhirnya tenang setelah disuguhi cheese cake, Laura pun diam-diam pergi ke kamarnya untuk menghubungi Fano.
“Hei, Fano!”
[Kenapa Laura? Ada masalah? Aku habis ini ada rapat.]
“Apa kau tahu Angel berkencan dengan Travis?”
Terjadi keheningan untuk beberapa saat.
“Fano? Hei... jawab aku!”
[Brengsek! Aku akan segera kembali!]
“O-oke... jangan berbuat gegabah ya, ingat – ”
Telfon dimatikan oleh Fano.
“Ah, bocah ini baru tahu rupanya... Aduh, Angel... apa yang sedang dia pikirkan sampai berkencan dengan orang lain? Bagaimana jika Fano – ah, entahlah, kenapa juga aku mikirin percintaan orang, padahal percintaanku sendiri sedang buruk.”
Laura pun keluar lagi, Angel sudah berdiri di depan jendela, menunjukkan sungai Han pada Jason.
“Laura, ayo keluar jalan-jalan di sungai Han! Tapi apa tidak dingin ya? Ini sudah februari tapi ternyata masih dingin juga” ucap Angel.
“Pakai padding saja, Jason punya gak?” tanya Laura.
“Punya dong, kan dia tadi make padding pas dari bandara, itu dia jatuh ke lantai” Angel mengambil kembali padding bayi yang Jason jatuhkan ke lantai. Karena apartemen hangat, jadi dilepas.
“Huwaa lucu banget sih?” Laura gemas sendiri melihat Jason memakai padding dengan bulu-bulu yang lucu.
Jason terkekeh senang malihat Laura yang tersenyum padanya.
“Angel, bukannya harusnya Jason udah bisa ngomong ya?”
Angel mengedikkan bahunya, “Gak tahu, Jason malah udah bisa jalan duluan, tapi jalannya masih tertatih, dia lebih suka merangkak.”
“Oh gitu... cepet bisa ngomong ya, Jason... nanti aku jodohin sama anakku, okay?”
“Emang anak mu perempuan?” tanya Angel.
Laura mengangguk, “iya, kemarin periksa sih perempuan katanya, aku yang ga sabar pengen tahu perempuan atau laki-laki, jadi kemarin periksa.”
“Kalau perempuan seru juga ya, hehe... kamu akan dapat mertua kaya raya, Jason.”
__ADS_1
“Tapi punya kakak ipar iblis” sahut Laura.
“Ini sangat membingungkan, masa kakak iparnya lebih tua dari mertuanya, nanti Jason bingung, gak jadi dijodohin deh” ucap Angel.
“Angel kok gitu sih!”
Angel hanya tertawa menanggapi Laura.
Mereka pun berjalan sampai di tepi sungai, beberapa orang juga terlihat jalan-jalan, ada pula yang mengantri untuk membeli camilan.
“Beli itu yuk, hotteok, kayaknya enak anget-anget” ajak Laura.
Akhirnya yang mengantri hanya Angel, sedangkan Laura duduk menunggu sambil menggendong Jason.
Beberapa orang yang lewat melihat Laura, menatap dengan tatapan mengejek. Bahkan beberapa dari mereka Laura bisa mendengar ejekan mereka dengan jelas.
Seperti, ‘kasihan sekali, masih sangat muda, tapi sudah mau punya dua anak’
‘Dia cantik tapi sudah mau punya dua anak.’
‘Dimana suaminya ya? Apa dia tidak punya suami?’
Laura sih diam saja tidak mau menanggapi, karena mereka hanya menilai dari kelihatannya saja, padahal Jason bukan anaknya, dan dia punya suami. Bahkan suami Laura adalah pengusaha yang sering viral di negara itu karena ketampanannya yang tidak pernah luntur, bahkan masih terlihat seperti umur 30 tahunan.
Mereka tidak tahu apa-apa tapi sudah menilai yang tidak-tidak.
“Laura, ini...” Angel datang kembali membawakan hotteok untuk Laura.
“Terimakasih...”
Angel tidak terlalu mengerti ucapan penduduk lokal, jadi dia tidak tahu temannya dihina. Namun, Laura bersyukur Angel tidak mengerti. Laura tidak mau Angel mengamuk dan berakhir ada pertengkaran.
***
Fano sampai mempercepatnya hanya untuk pergi menemui Travis di restorannya.
Fano menyetir sendiri dengan mobil barunya, tidak ada asisten atau pun sekretaris yang mengantarnya, Fano hanya tidak ingin ada yang mencampuri urusannya. Lagi pula dengan dia pergi sendiri dia bisa terbebas untuk sejenak.
Sampai restoran, Fano memarkirkan mobilnya, lalu berjalan cepat menuju lantai atas, tempat ruangan Travis berada, dia tahu Travis berada di dalam ruangannya.
“Tunggu, anda ingin –”
“Jangan halangi aku, aku akan bertemu Travis!”
Seorang pelayan cantik menghentikan Fano, pelayan tersebut langsung menundukkan kepalanya karena tidak berani pada Fano.
“Baiklah, tuan Travis ada di dalam” ucap pelayan wanita itu.
Sekilas Fano melihat kiss mark di leher si pelayan.
Fano sangat tahu bagaimana kelakuan Travis, dia suka bermain wanita, sama seperti Fano dulu, tapi paling tidak Fano sudah berubah sekarang. sejak Lily meninggalkannya, dan Fano berjanji akan mencintai wanita yang sangat dia cintai sepenuh hati, yaitu Angel. Jadi Fano sudah tidak bermain wanita sama sekali.
Sekarang, setelah mengetahui Angel menerima pria seperti Travis, bagaimana Fano bisa tenang?
BRAK
Travis mendongak saat pintu ruangannya terbuka lebar, dia tersenyum melihat wajah marah Fano muncul di ruangannya.
“Hai, Fano, apa kabar?”
__ADS_1
Fano segera mendekat lalu memukul wajah Travis hingga terjatuh dari kursinya.
“Hei hei, tunggu dulu, apa yang terjadi?”
BUGH
BUGH
Fano yang kalap langsung memukul Travis beberapa kali, namun yang ketiga kali Travis dapat menahan tinju Fano.
“Tenangkan dirimu, katakan apa yang terjadi?”
“Kau brengsek, bajingan!”
Travis mendorong Fano menjauh dari tubuhnya, lalu mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya, kemudian terkekeh seperti psikopat.
“Apa maksudmu, brengsek?!”
“Kau berkencan dengan Angel, itu masalahnya!”
Travis kembali tertawa, kali ini lebih kencang.
“Jadi itu masalahnya? Memangnya kenapa? Kau tidak memiliki Angel, lagipula dengan Angel lebih memilihku dari pada kau yang sudah berbuat banyak untuknya... itu artinya – aku menang, iya kan?”
BUGH
Fano meninju perut Travis. Meski kesakitan, tapi Travis tetap bisa bangkit lagi, lalu membalas pukulan Fano. Keduanya bertengkar tanpa ada yang mampu untuk menghentikan.
“Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan? Kenapa kau –”
“Sebelum mengenalmu, aku sudah menyukai Angel, dia sempat menolakku karena Elle menyukaiku. Aku masih memendam perasaanku karena tahu aku akan kalah, entah oleh Jay atau dengan Dexter. Tapi sekarang Dexter dan Elle tidak ada, lalu aku harus diam saja, begitu? Aku mencintai Angel! Bukan hanya kau yang mencintainya, aku bahkan mampu melakukan dua atau tiga kali lipat dari apa yang kau lakukan untuk Angel! Tapi ingat Fano... Angel lebih memilihku, bukan kamu, jadi terima saja kenyataan ini.”
Fano meremat tinjunya, dia sangat geram dengan ucapan Travis, dia merasa dipecundangi, merasa kalah.
Jadi selama ini perjuangannya hanya dipandang sebelah mata oleh Angel?
Kenapa Fano bodoh sekali?
Fano pun bergi dari sana tanpa mengucapkan apapun lagi.
Sementara Travis meringis kesakitan, pukulan Fano sangat kuat, tidak main-main sama sekali.
Travis pun menelfon anak buahnya untuk membawakan kotak p3k ke ruangannya segera.
Semetara itu, Fano keluar dari restoran, lalu duduk diam di depan kemudi.
Fano merasa bodoh dan idiot saat itu.
“Angel... kenapa kau melakukan ini padaku? Apa aku sangat berdosa sampai kau memberiku rasa sakit seperti ini? Pengorbananku untukmu kau anggap apa? Kau membutuhkanku, tapi kau malah pergi dengan pria lain? Aku bukanlah pria baik dan naif yang bisa menerima semuanya dengan lapang dada... aku tidak bisa menerimanya, Angel.”
Setelah itu, Fano menelfon asistennya.
“Beli tiket untuk terbang ke Korea selatan sekarang juga, kalau bisa sore ini sudah berangkat.”
Setelah menelfon, Fano kembali melajukan mobilnya.
Fano bukan pria polos yang bisa dipermainkan, tidak peduli siapa itu yang mengusiknya, Fano tidak akan tinggal diam.
“Jangan pernah meremehkanku, kau pikir aku apa?”
__ADS_1
.
.