
.
.
Jalan-jalan di malam hari sangat menyenangkan. Laura dan Kaisar jalan kaki di sekitar sungai Han, kemudian tengah malah Laura merengek untuk pergi ke salah satu cafe di dekat sana. Mereka makan wafle dan minum kopi, setelahnya mereka pergi dengan mobil, untuk mengunjungi pasar tradisional yang menjual berbagai bahan masakan.
Kaisar bilang dia akan memasakkan sesuatu untuk Laura, dan permintaan Laura adalah masakan khas Korea atau China, yang pedas manis. Jadilah Kaisar memutuskan untuk membeli bahan-bahan untuk membuat hotpot, seperti sayur-sayuran, bumbu hotpot dan juga daging sapi Korea kualitas terbaik, Hanwoo.
Sampai di apartemen sudah sekitar jam dua pagi, Laura sih langsung tidur di kamar yang disediakan untuknya, kamar sendirian, Kaisar menempati kamar lain.
Laura sama sekali tidak melihat David ataupun Devon, jadi dia pikir anak kembar itu sudah pergi, mungkin ke apartemen Devon sendiri yang dekat dengan universitas, karena Devon melanjutkan kuliah di salah satu universitas terkenal di Korea, sudah mau semester akhir, itulah kenapa Devon tinggal di Korea, tapi tidak satu apartemen dengan ayahnya. Apartemen Kaisar sendiri memilih yang dekat dengan gedung perusahaannya dan bandara, karena Kaisar juga akan bolak-balik Korea-China untuk pekerjaannya.
Laura sudah merasa tenang, jadi dia pun langsung tertidur lelap sampai pagi.
Laura baru bangun agak siang, dia langsung melihat ponselnya, jam telah menunjukkan pukul 8.45 pagi. Ada pula pesan dari Kaisar jika dia pergi sekitar jam 8 tadi, hot pot untuk Laura sudah disiapkan, tinggal kompornya dinyalakan, sayur dan daging juga siap dimasukkan setelah kuahnya mendidih.
Sebenarnya Laura sedih, karena dia ingin makan berdua dengan Kaisar, pria yang dia cintai, tapi apa boleh buat jika Kaisarnya sangat sibuk, saat ini sedang mengurusi dua perusahaan besar. Satu perusahaan Korea milik keluarga Lisa, istrinya yang telah meninggal, rencananya perusahaan itu akan diwariskan pada Devon, yang berencana menikah dengan Wonhi yang asli Korea.
Lalu perusahaan lain ada di Shanghai, juga sudah besar, milik keluarga ibu dari Kaisar, yang rencananya akan diambil oleh David kelak.
Laura tidak masalah jika suatu saat anaknya dan Kaisar tidak memiliki apapun, asal dia tidak diganggu saja, untuk urusan uang atau warisan, sebenarnya Kaisar masih memiliki bagian di perusahaan milik keluarga besar ayahnya di Indonesia, yaitu keluarga Verdinand.
Laura sendiri, meski sedikit, ada warisan sendiri dari orangtuanya.
Laura pun meletakkan ponselnya kembali dan rebahan lagi sebentar.
GREP.
Mata Laura yang sebelumnya tertutup, langsung terbuka saat merasakan sebuah tangan besar melingkari perutnya. Kemudian nafas hangat seseorang juga menggelitik tengkuknya, lalu kecupan basah di leher juga terasa.
Jantung Laura berdebar-debar tidak karuan.
Dia sangat takut.
Apa yang terjadi?
“Ayo makan... aku ingin makan denganmu” suara berat David terdengar di telinga Laura, dia pun dengan cepat berbalik.
David disana, tiduran bersamanya dengan tidak memakai baju, hanya memakai celana panjang saja. rambutnya yang berantakan dan otot perut serta lengan itu terlihat sangat seksi... tapi, tidak!
BRUGH
Laura pun mendorong David agar jatuh dari ranjangnya, ranjang Laura tidak tinggi, dibawah juga ada karpet, jadi David tidak merasakan sakit meski terjatuh, dia malah terkekeh seperti psikopat.
“Untuk apa kau ada disini?”
“Aku mulai disini sejak papa pergi, papa bilang aku harus menjagamu, calon ibuku... hahaha.”
“Kau sudah gila, David!”
__ADS_1
David pun bangkit lalu kembali mendekati Laura, menekan Laura sampai mentok di tembok, membuat Laura ketakutan karena tatapan David yang begitu mengintimidasinya.
“Aku? Gila? Hahaha – kau benar sayang...”
Dengan jari telunjuknya, David membelai pipi Laura, kemudian turun ke bibir merah alami milik Laura, “Aku tergila-gila karenamu...”
“Brengsek!” Laura berusaha menjauhkan David darinya, tapi sayang sekali David jauh lebih kuat.
“Kamu sudah memiliki istri dan calon anak, David!”
“Bagaimana jika ini adalah anakku?” tanya David, sambil membelai perut Laura yang masih rata.
“Kau sudah gila! Ini adikmu, bukan anakmu!”
“Well, itu mungkin saja kan? karena kita sudah melakukannya... kamu hanya berpikir itu anak ayahku karena kau mengharapkan seperti itu.”
Bisikan David benar-benar membuat Laura ketakutan, David yang menyadari itu pun berhenti menekan Laura.
“Ah, maaf... aku tidak bermaksud membuatmu kepikiran... anggap saja aku hanya bercanda, keluarlah, aku akan panaskan hotpotnya!”
David pun pergi sambil memakai kaosnya kembali.
“Anggap bercanda? Aku jadi kepikiran, bodoh!” gumam Laura.
Dia sebenarnya bingung harus mana, disatu sisi, dia tertekan dan stress karena David dan Devon terus mengancamnya dan melecehkannya, tapi di satu sisi, dia takut jika terus seperti itu, dia akan kehilangan bayinya.
Laura tidak mau, tapi dia tidak memiliki pilihan lain, jika dia memang ingin bersama dengan Kaisar dan bayi mereka, maka Laura harus mencoba membiasakan diri.
“Anggap saja mereka tidak ada dan bukan ancaman yang berarti, lagipula, mereka menyukaiku...”
Laura pun masuk ke dalam kamar mandi, kemudian mencuci muka sebentar, tiba-tiba saja dia mual-mual.
Laura pikir David yang akan datang, tapi ternyata kembarannya, Devon.
Lebih parahnya lagi, ada kekasih Devon juga, Wonhi.
Wonhi membantu Laura dengan baik, dia juga membantu mengantar Laura ke tempat makan. Wonhi sangat dan baik, melihatnya dari dekat membuat Laura merasa bersalah, padahal Devon duluan yang menyentuh Laura dan Laura bahkan tidak menginginkannya, tapi Laura merasa sangat bersalah akan hal itu.
“Laura makan yang banyak ya, demi calon bayimu, makan daging dan sayur yang banyak...” Devon mengambilkan banyak sayur dan daging ke dalam mangkuk milik Laura.
“Ini nasi juga... makan yang banyak” ucap David, yang mengambilkan nasi, setelahnya dia mengusak kepala Laura gemas.
Anak kembar itu terlihat seakan-akan mereka tidak ada masalah dengan Laura, membuat Laura muak dibuatnya, apalagi dia harus pura-pura baik juga sama seperti mereka, karena ada Wonhi diantara mereka.
“Aku melihat dipostinganmu kamu dan Om Kai jalan-jalan ya?” tanya Wonhi.
“Iya, kami jalan-jalan di malam hari, ternyata seru juga,” ucap Laura.
“Dia stress selama kehamilannya, jadi harus banyak jalan-jalan biar tidak stress” ucap Devon.
__ADS_1
“Gimana kalo kita jalan-jalan saja, Kamu mau kemana, Ra?” tanya Wonhi.
Laura tersenyum malu-malu, “tidak perlu, tidak apa...”
“Hey, jangan gitu, kamu kan bakalan tinggal disini untuk sementara waktu kan, gimana kalau belanja aja pakaian atau kebutuhanmu, okay?” usul Wonhi.
Laura pun hanya mengangguk mengiyakannya.
Setelah makan hotpot yang hangat dan menyegarkan, Laura pun mandi untuk bersiap-siap pergi. Dia pikir sudah tenang karena ada Wonhi disana.
Dia tidak tahu jika Devon tiba-tiba datang saat Laura selesai mandi, membekap mulutnya agar tidak berteriak.
“Ssshh, jangan berteriak sayang, nanti pacarku denger gimana? Kan gak lucu” bisik Devon.
Yang tidak lucu itu kamu yang tiba-tiba datang, sialan!
Devon menekan Laura di tembok kamar, lalu menciumi leher Laura yang masih basah, kemudian mencium bibirnya, sambil tangannya tidak mau diam, melepas handuk Laura lalu meraba-raba tubuh polos Laura yang basah.
Devon merasakan itu sangat mendebarkan, apalagi ada kekasihnya, seperti adrenalinnya terpacu kencang.
Dia memang sudah gila.
Tanpa Devon ketahui, air mata Laura pun meluncur bebas, berbaur dengan air bekas mandinya, jika sekilas tidak akan tahu jika Laura menangis.
“Lepaskan aku, Devon...” mohon Laura.
Devon pun melepaskan Laura, tapi kemudian memeluk tubuh polos Laura.
“Apa kau percaya, jika aku bilang aku mencintaimu?”
“Tidak...”
Devon terkekeh pelan, “benar juga, kamu tidak akan percaya, tapi bisakah kamu tidak menikah dengan papa?”
“Tidak...”
“Laura...”
“Pergilah, Devon.”
Devon melepas pelukannya, “Baiklah, maaf... jangan menangis lagi,” ucap Devon, kemudian dia mengusap air mata Laura, lalu mengecup bibir merah itu sekali lagi.
“I love you.”
“Keluar!”
.
.
__ADS_1