
.
.
“Kamu sedang hamil?”
Laura berdebar-debar dan berkeringat dingin setelah mendengar pertanyaan tersebut, mereka sudah menjelaskan pada Kaisar jika Laura sedang hamil anak Kaisar.
Itu memang anak Kaisar, jika sampai itu anak dari David atau Devon, Laura akan mempertaruhkan nyawanya untuk menggugurkannya. Katakan saja Laura jahat, dia hanya tidak ingin hamil anak mereka. Atau paling tidak, itulah yang Laura percayai, jika anak itu anak dari Kaisar.
Selama ini Laura hanya menganggap David dan Devon teman dekat, tidak lebih dari itu, Laura juga dekat dengan kekasih mereka, mana mungkin Laura ada pikiran untuk mengkhianati? Laura tidak sejahat itu.
Akan tetapi, ternyata anak kembar itu memiliki perasaan lebih padanya.
Mungkin mereka hanya mempermainkan Laura saja, mereka senang jika Laura menderita. Atau, itu hanyalah nafsu semata, tidak lebih.
“Benar, aku hamil... aku akan mempertahankan anak ini meski kamu ingin aku –”
SRET
Laura membelalakkan matanya saat tiba-tiba Kaisar menyeretnya ke dalam pelukannya, lalu mengecup puncak kepalanya.
“Terimakasih Laura, aku sangat bahagia! Akhirnya aku bisa punya anak lagi... terimakasih!”
Kaisar berhenti melepaskan pelukannya dengan Laura setelah sadar Laura terisak.
“Hey, kamu menangis?”
Laura menyeka air matanya dengan lengan, lalu menggeleng pelan, “maaf...”
“Kenapa minta maaf?”
Kaisar menarik dagu Laura, kemudian mendongakkan kepala Laura agar menatap padanya. Dengan ibu jarinya dia menghapus air mata yang mengalir di pipi Laura, kemudian mengecup kedua kelopak mata Laura, lalu bibir Laura.
“Ayo kita menikah, maaf karena aku sangat sibuk sampai meninggalkanmu dan membuatmu pergi kemari, kamu mau kan?”
Laura mengangguk dengan cepat, “aku mau!”
Kaisar memeluk Laura dengan erat, “terimakasih.”
Sementara itu David dan Devon bertepuk tangan dengan malas.
“Kalian tidak keberatan kan papa menikahi Laura?” tanya Kaisar.
Anak kembar iblis itu menggeleng dan tersenyum manis, “tentu saja, kebahagiaan papa adalah yang paling utama! Papa bisa menikahi Laura duluan dari pada aku, aku dan Wonhi bisa menyusul nanti” ucap Devon.
“Aku juga tidak keberatan, Pa,” sahut David.
Bohong, jelas-jelas mereka keberatan, tapi tidak mungkin mereka menentang papa yang mereka sayangi. Mereka sayang papa mereka, mereka hanya pura-pura mendukung saja.
Entah sampai kapan mereka bisa terus berpura-pura seperti itu.
“Terimakasih kalian telah mendukung papa...”
__ADS_1
‘Tentu saja Pa, karena dengan begitu Laura juga bisa terikat denganku’ begitulah isi pikiran David dan Devon, mereka anak kembar yang sangat kompak.
Laura yang menyadari seringaian anak kembar itu merasa takut, merinding.
Akhirnya, saat Kaisar mandi, Laura bersembunyi di kamarnya. Saat itu David dan Devon memasak makan malam mereka.
Laura ketakutan sekaligus bahagia.
Bahagia karena akan menikah dengan Kaisar, takut karena David dan Devon sudah seperti iblis yang bisa kapan saja menerkamnya.
Laura ingin bercerita pada seseorang, tapi tidak tahu siapa. David dan Devon mengancam untuk tidak memberitahu Angel, Laura tidak mungkin bercerita pada Ruka atau Lily juga.
Apa yang harus Laura lakukan sekarang?
“Aaarrgghh!” Laura memegangi perutnya yang terasa sakit.
Kaisar yang baru selesai mandi langsung menghampiri Laura dengan panik, “sayang kamu kenapa?”
“Sakiiitt!! Perutku!!”
“Ayo kita ke rumah sakit sekarang, DEVON!!”
***
“Anda hanya terlalu stress, disarankan untuk relaks dan lebih santai, karena terlalu stress juga berakibat buruk terhadap janin, jika anda sedang ada masalah, lebih baik pergi berlibur, bersenang-senang, agar suasana hati lebih baik.”
Begitulah saran dokter Minkyung yang kebetulan bisa berbahasa Indonesia, dia berbicara langsung pada Laura.
“Saya memang ada banyak beban pikiran, dokter” ucap Laura.
Laura tersenyum pada dokter, “Terimakasih dok.”
Setelah dokter pergi, Kaisar datang ke kamar Laura.
“Kamu sedang banyak pikiran? Jangan terlalu memikirkan banyak hal, santai saja ya? Apa kamu memikirkan kehamilanmu? Kamu takut aku tidak bertanggung jawab?” tanya Kaisar.
Laura mengangguk pelan, “benar...”
Tidak mungkin Laura mengatakan pada Kaisar yang sebenarnya, jika dia stress karena anak kembarnya yang seperti iblis tersebut.
Kaisar menarik Laura ke dalam pelukannya, lalu mengecup kening Laura dengan lembut, “jangan khawatir sayang... aku tidak mungkin meninggalkanmu, setelah Lisa, aku tidak bisa mencintai perempuan lain, sampai kamu datang ke dalam kehidupanku, terimakasih ya?”
Laura mengangguk pelan, “aku sangat mencintaimu, jika kamu tidak ada, aku sangat takut...”
“Aku selalu ada bersamamu, aku akan menjagamu mulai sekarang.”
Banyak kekhawatiran yang Laura rasakan, namun semuanya sirna setelah Kaisar memeluknya.
“Aku akan cuti sebentar dari pekerjaanku untuk membawamu jalan-jalan, okay? Kita ajak David dan Dev –”
“Tidak! ku mohon jangan ajak mereka juga...”
“Kenapa sayang?”
__ADS_1
Jika mengajak mereka, Laura tidak akan tenang dan malah semakin stress.
“Lebih baik hanya kita berdua, maksudku – aku hanya ingin bersama denganmu, berdua, okay?”
Kaisar tersenyum lalu membelai pipi Laura dengan lembut, “baiklah jika itu yang kau inginkan, aku juga senang jika hanya kita berdua, kamu mau berkeliling seoul, atau pergi ke Jeju... eum – Busan mungkin? Apa yang ingin kamu lihat?”
“Eum, apa ya?” Laura berpikir sebentar, apa yang dia suka dari Korea Selatan?
“Aku mau ke Namsan tower, karena aku penasaran, itaewon, hongdae, gangnam... mau jalan-jalan di tapi sungai Han juga.”
Kaisar kemudian berjalan menuju jendela, lalu menyibak tirainya, “mau jalan-jalan kesana?” tanya Kaisar.
Laura mengangguk semangat.
Setelah makan malam, Kaisar mengajal Laura jalan-jalan, meninggalkan David dan Devon di dalam apartemen, mereka tidak mau ikut untuk memberi kesempatan pada Laura.
“Sepertinya gara-gara kita Laura seperti itu” ucap David.
“Apa maksudmu? Tentu saja itu karena kita, yang membuatnya stress...” sahut Devon, dia mengambil potongan pizza keju yang dia pesan sebelum makan malam dimulai.
“Haruskah kita membiarkan anak itu lahir?” tanya David.
“Kau ingin mengugurkannya? Kau sudah gila apa?” Devon menendang David dengan kaki kanannya, yang kemudian mendapat pukulan keras dari David.
“Dasar tidak sopan! Lagipula siapa tadi yang mau memaksa masuk?”
“Diamlah bodoh! Aku hanya terbawa suasana! Aku sangat menyukainya, ada perasaan tidak rela jika dia menikah dengan papa!”
“Kau yang bodoh, Devon... pacarmu itu aktris terkenal, punya banyak fans yang siap untuk memberikan apapun untuknya tapi kau malah begini?”
Devon buru-buru menelan pizzanya, lalu menyahut, “kau yang bodoh ya! Kau sudah menikah dengan Ruka, bisa-bisanya seperti itu dengan Laura! Kau yang gila... istrimu sedang hamil anakmu, aku sudah menyangka dari awal jika kamu hanya penampilan saja yang alim, tapi dalamnya seperti iblis!”
David yang tidak terima menarik kerah kemeja yang Devon kenakan, “Bangsat! Dari pada kau yang penampilan dan kelakuan sama-sama iblisnya!”
Devon menepis tangan David darinya, “bacot! Lihat saja aku akan mendapatkan hati Laura!”
“Laura akan menikah dengan papa!”
“David! Kau tidak mau melakukan ini lagi?”
David pun terdiam, jujur saja dia mulai menyukai Laura, tapi dia juga tahu Laura tertekan dengan kelakuannya dan Devon. David ingin berhenti mengganggu Laura, tapi ada perasaan lain dalam dirinya.
David tidak mau menyakiti Ruka, istrinya tercinta, tapi... entahlah.
“Aku juga menyukai Laura...”
“Kalau begitu jangan menyerah!”
“Apa yang kita lakukan ini benar?”
“Jelas tidak, tapi aku tidak peduli.”
.
__ADS_1
.