
.
.
“Pagi, sayang...”
Angel baru saja membuka mata, dan sosok Fano yang bau alkohol sudah muncul di depan wajahnya, memeluknya erat.
“Fano... lepaskan aku!”
“Tidak! aku tidak mau melepasmu, kau... kau berkencan dengan Travis tanpa sepengetahuanku, padahal sudah jelas aku berjuang untukmu, kau bahkan banyak bergantung padaku, tapi semua pengorbananku sia-sia, karena kau memilih dia. Jika kamu masih memilihnya aku... akuuuzzzzzz.”
Fano pun ketiduran, meninggalkan Angel yang terbengong di tempatnya.
“Jadi, Fano sudah tahu tentang itu?”
Angel menggigit bibir bawahnya.
Dia memiliki alasan kenapa menerima Travis, tentu saja. Angel berpikir buruk tentang Fano, karena mungkin saja Fano hanya ingin mempermainkannya, Angel ingin tahu, apakah Fano itu serius dengannya atau tidak.
Kemudian, Travis datang mengatakan jika dia mau berpura-pura ada hubungan dengan Angel.
Iya, Travis dan Angel hanya berpura-pura, ingin tahu bagaimana reaksi Fano tentang hal itu. Tapi baru saja dimulai, Fano sudah beraksi seperti itu, sampai ikutan pergi ke Korea menemui Angel.
Angel hanya tidak ingin gagal.
Setelah punya anak, dia tidak mau main-main lagi, dia sudah kehilangan suami, jadi dia membutuhkan sosok suami yang benar-benar bisa mengayominya. Bukan suami yang suka main-main seperti Fano dahulu.
Tapi sepertinya Fano banyak berubah.
Angel menundukkan wajahnya untuk kemudian mengecup kening Fano.
“Apakah kamu memang suami yang cocok untukku?” gumam Angel.
Setelah itu Angel menjauhkan wajahnya, namun sebuah tangan besar menahan tengkuk Angel.
“Fano?”
Kedua mata Fano pun terbuka, lalu dia menyeringai.
“Kamu tidak percaya padaku ya, Angel?”
BRUK
Angel berkedip-kedip bingung saat tiba-tiba saja posisinya sudah terbalik. Kini Angel yang ada dibawah, sedangkan Fano ada diatasnya, menyeringai tampan.
Angel bingung, apakah Fano sudah bangun, atau dia hanya melantur?
“Fa-Fano?”
“Aku sudah sadar kok... aku bisa mendengar ucapanmu tadi, kenapa kamu bertanya seperti itu? Apakah aku suami yang baik? Mana aku tahu! Yang aku tahu, aku bisa melakukan apapun untukmu, setia padamu, berubah tidak brengsek lagi untukmu... namun, kamu harus tahu, aku tidak bisa seperti itu lagi jika kamu memilih orang lain, aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi, Devon benar, aku harus memikirkan perasaanmu juga, aku tidak mungkin memaksakan perasaanmu, jika kamu lebih menyukai Travis maka –”
Ucapan Fano terhenti sampai sana, karena Angel yang tiba-tiba saja menciumnya, mengalungkan lengannya di leher Fano.
Awalya Fano sanat bingung, namun beberapa detik berikutnya dia memutuskan untuk menimati ciuman tersebut.
“Angel...” panggil Fano saat ciuman tersebut selesai, Angel tersenyum kecil lalu mengecup bibir Fano lagi.
“Sebenarnya, itu hanya pura-pura saja, rencananya aku dan Travis akan pura-pura berkencan untuk membuatmu cemburu, tapi ternyata itu tidak perlu ya... aku yang bodoh, aku hanya belum sepenuhnya mempercayaimu” ucap Angel.
“Aku memang terlihat tak bisa dipercaya, tapi ku mohon percayalah padaku...”
Angel mengangguk pelan, “aku akan mencoba mempercayaimu mulai sekarang, Fano...”
Setelah itu mereka kembali berciuman, mereka baru berhenti saat mendengar tangisan Jason.
Fano buru-buru melepaskan Angel, membiarkan Angel berdiri untuk menghampiri Jason dan menggendongnya.
__ADS_1
“Kamu tidak bangun?” tanya Angel, dia menyadari jika popok Jason penuh, sepertinya sekalian dimandikan saja.
Fano menggeleng, kemudian menyelimuti dirinya, “enggak, aku ngantuk... semalam aku makan dan minum, sambil mengobrol panjang lebar, aku – hoahmm, ngantuk.”
Angel terkekeh lalu menepuk bokong Fano.
“ADUH!”
Tidak peduli dengan Fano yang kesakitan, Angel pun pergi begitu saja ke kamar mandi, siap memandikan Jason.
Sementara itu di kamar lain Kaisar sedang marah-marah.
Devon yang mabuk tidak sadar dia datang ke kamar papanya dan memeluk Laura sambil tidur nyenyak, Laura sendiri berpikir itu Kaisar, jadi dia tidak tahu apa-apa.
Kaisar sendiri terbangun karena merasa sempit, tidak menyangka itu adalah putranya yang nyempil diantara dia dan istri cantiknya.
Laura pun terbangun, mengusak matanya dengan tangan mungil yang sedikit gemuk itu.
“Ada apa?” tanya Laura.
“Devon tadi – oh, kau tidak perlu tahu, sayang... kamu bisa tidur lagi,” ucap Kaisar.
“Aku juga mau tidur lagi pa...” Devon kembali merebahkan dirinya, tapi Kaisar segera menyeretnya keluar dari kamar.
“Tidur di kamarmu sendiri, Devon! Apa-apaan itu, kamu udah gede, masih aja gangguin papa!”
Devon pasrah saja saat dirinya dilempar di tempat tidurnya sendiri, itu memang salahnya karena dia mabuk dan tidak sadar sudah salah kamar. Untung bukan kamar Angel, bisa gonjang-ganjing dunia ini, pasti dia sudah adu mekanik dengan Fano.
“Maaf pa...”
“Lagian kamu tuh kebiasaan mabuk-mabukan, mau jadi apa kamu hah?”
“Sekali-kali doang pa! Mumpung ada temen mabuknya!”
PLAK
“ADUH!”
Sementara itu Laura terkekeh mendengar pertengkaran antara suaminya dan kekasih gelapnya.
Kekasih gelap?
“Idih, enggak!” Laura pun kembali tidur, berusaha memejamkan matanya, tapi yang ada di dalam bayangannya malah wajah Devon, atau ... David? Entahlah, kan wajah mereka sama saja.
Laura berusaha mengusir bayangan tersebut, berganti dengan wajah Kaisar, tapi kenapa sulit sekali?
“Ugh!” mau tidak mau, dia harus bangun.
Setelah Laura selesai mencuci muka, dia pun keluar dari kamar, ternyata Kaisar sudah berada di dapur, jadi Laura menghampirinya lalu memeluknya dari belakang.
Kaisar berbalik lalu mengangkat tubuh Laura, membuat Laura hampir menjerit. Kaisar kuat sekali mengangkat Laura yang bobotnya sudah 63kg. Kaisar meletakkan Laura di atas meja makan.
“Aku kaget tahu!” protes Laura.
Kaisar terkekeh, lalu mengecup pipi chubby Laura.
“Maaf deh... habisnya kamu lucu banget, sayangku!” Kaisar mengangkup pipi Laura kemudian memencetnya karena gemas, membuat bibir Laura mengerucut seperti ikan, tapi itu sangat menggemaskan.
Jika sudah seperti itu, rasanya beban pikiran Laura terangkat semua, dia bahagia bisa menjadi istri Kaisar.
Entah siapa yang memulai, mereka pun berciuman di dapur. Suara decakan lidah dan kecupan terdengar cukup mengganggu, atau, paling tidak bagi Devon karena kamarnya lumayan dekat dengan dapur.
Devon pun meraih bantal lain lalu dia tutupkan pada wajahnya.
Membayangkan saja membuat hatinya sakit, tapi dia tidak bisa berbuat apapun dengan hal itu, meski hatinya terasa sakit seperti disayat-sayat.
Saat Laura dan Kaisar bermesraan, itu membuat Devon merasa hancur.
__ADS_1
Lebih hancur lagi karena dia tidak bisa berbuat apapun.
Menyedihkan sekali, bukan?
Kaisar melepaskan ciumannya, lalu tersenyum menatap Laura yang wajahnya telah memerah dengan sempurna.
“Kamu cantik sekali, sayang...”
“Sungguh? Aku tidak jelek?”
Kaisar menyerutkan dahinya, “jelek? Dari mana jeleknya? Kamu sangat cantik begini...”
Mata Laura mulai berkaca-kaca, dia tidak lebay atau apa, tapi ingatan saat istri Niko menghinanya kembali terlintas dan itu kembali menyakiti hati Laura.
“Aku... itu... ada yang mengatakannya padaku...” ucap Laura sambil masih terisak.
“Siapa sayang, coba katakan padaku.”
Laura hanya menggeleng lalu mengusap air matanya, “tidak, lupakan saja.”
“Mana bisa, ada orang jahat yang menghinamu, mana mungkin aku diam saja sih?”
Laura tetap diam dan terus terisak, sampai kemudian Angel datang bersama Jason yang sudah segar habis mandi.
“Istrinya kak Niko yang mengatakannya, kemarin tidak sengaja bertemu, dia mengatakan Laura jelek dan gendut, ku rasa Laura terus memikirkan itu, iya kan?” ucap Angel.
“Angel...”
“Kenapa kamu gak bilang pada Om Kaisar? Katakan saja...” sahut Angel.
“Tapi...”
“Angel benar, jika ada sesuatu, kamu bisa mengatakannya padaku, tidak perlu dipendam.”
“Tapi dia benar, aku jadi gendut dan jelek!” sahut Laura.
“Kamu hanya sedang hamil, Laura! Itu normal untuk ibu hamil... aku saja juga begitu kok” timpal Angel.
“Istri Niko hanya cemburu padamu, sayang... jangan pikirkan itu lagi, ya?” ucap Kaisar.
Laura mengangguk pelan lalu memeluk Kaisar.
Sementara itu, Devon yang mendengar percakapan mereka ikut emosi.
Istri Niko adalah wanita yang dijodohkan keluarga. Niko tidak mencintainya tapi tidak punya pilihan lain, padahal masih ada Laura di hatinya. Sepertinya istri Niko mengetahui hal itu lalu membenci Laura.
“berani sekali dia mengatakan hal buruk tentang Laura, aku harus memberinya perhitungan” gumaam Devon.
Entah perhitungan apa itu, yang pasti setelahnya Devon tertidur karena kelelahan.
Dia baru bangun saat merasakan pipinya ditampar oleh tangan mungil.
“Pa pa pa pa!”
“Bagus, Jason udah bisa ngomong... coba bilang, mama!”
“Ma!”
“Hehe, pintarnya, bangunkan lagi pamanmu...”
PLAK!
Devon pun akhirnya bangun dengan terpaksa, dia langsung menatap Angel dengan tatapan penuh permusuhan, “apa-apaan!”
“Bangunlah, udah waktunya makan siang nih!”
.
__ADS_1
.