Dihamili Tiga Pria

Dihamili Tiga Pria
Kepergian dan Pernikahan


__ADS_3

.


.


Malam ini terjadi kehebohan, Dexter akhirnya bangun, Angel sangat senang, dia memanggil dokter tapi Dexter melarangnya. Dexter sempat berbicara beberapa patah kata, sementara Laura keluar mencarikan dokter untuk Dexter.


“Sayang, maafkan aku... aku harus pergi meninggalkanmu, jaga anak kita baik-baik ya?”


Angel menangis keras mendengarnya, kemudian Fano datang menggong Jason.


“Kak!”


“Jason putraku, maaf kan papa ya nak...”


“Tidak, kamu harus sehat kembali, jangan mengatakan hal yang tidak perlu, Fano panggilkan dokter!” teriak Angel.


“Fano, tolong jaga Angel dan Jason ya...”


Angel menggeleng kuat-kuat, “Tidak! aku tidak mau kamu pergi... aku masih membutuhkanmu, ko mohon...”


Setelah itu Laura dan David datang, bersama seorang dokter.


Merekapun keluar agar dokter dan suter bisa memeriksa Dexter.


Fano segera menghubungi Darren saat itu, mengatakan Dexter sudah sadar.


Tidak lama kemudian dokter keluar lagi, mengatakan beberapa hal hingga kemudian diputuskan harus ada operasi.


Angel tidak mendengarkan dokter, dia hanya sibuk menangis karena terngiang-ngiang ucapan Dexter sebelumnya.


Laura memeluk Angel erat dan berusaha mengatakan beberapa hal untuk menenangkan Angel.


“Angel, kak Dexter harus dioperasi, dia butuh tandatangan keluarganya untuk itu,” ucap Fano.


“Hiks – dioperasi? Tapi...”


“Tidak ada cara lain, nyonya, suami anda tidak bisa bertahan lebih lama, kami akan segera melakukannya.”


“Baiklah dokter...”


Setelah itu, selama beberapa jam mereka menunggu, air mata Angel telah kering.


Kasihan sekali Jason yang terus menangis, bayi itu ingin digendong ibunya tapi keadaan Angel juga tidak baik.


Laura dan David sudah lelah, jadi mereka pergi dan tidur di mobil, sedangkan Darren baru datang bersama Airi.


Airi mengatakan dia bisa menggantikan Fano untuk menjaga Jason. Tidak lama kemudian Bagas dan Tari ikut datang, mereka menenangkan Angel.


Malam itu sangat kacau.


Sangat kacau.


Tapi tidak bisa lebih kacau dari keesokan paginya, tepat pukul tujuh pagi hari, dokter menyatakan jika Dexter telah meninggal.

__ADS_1


Angel pun pingsan saat itu.


Darren juga sangat terpukul, dia bahkan sampai menangis. Padahal dia itu ketua mafia yang terkenal kejam, namun dia menangis karena saudaranya telah meninggal.


Angel harus dirawat di rumah sakit, dia pingsan selama beberapa jam.


Jason menangis kencang sekali, untungnya ada Felly yang datang, dia membantu untuk menyusui Jason yang kelaparan.


“Fano...” Laura menepuk bahu Fano, saat itu Fano pun menangis.


“Laura, aku...”


“Kamu sedih karena Dexter atau Angel?”


“Dua-duanya, aku mencintai Angel, tapi Dexter itu sudah seperti kakakku sendiri... perasaanku hancur saat ini, terutama melihat keadaan Angel.”


“Fano!”


Ayahnya Fano, Chris datang menghampiri Fano, lalu memeluk putranya tersebut. Selain Angel dan Darren, entah kenapa Fano yang terlihat paling sedih.


Seluruh keluarga berkumpul saat itu, siap melakukan upacara pemakaman untuk Dexter, tapi mereka tidak bisa melakukannya sebelum Angel terbangun.


Setelah Angel terbangun, dia sangat pucat dan lemah, tapi dia masih bisa menangis untuk mengantar kepergian suaminya tercinta.


Angel tidak menyangka, satu persatu orang-orang terdekatnya pergi meninggalkannya.


Pertama ibu kandungnya, lalu ayahnya, kemudian sahabat terbaiknya, setelah itu ibu tirinya lalu... sekarang suaminya?


Angel tidak bisa berhenti menangis bahkan ketika air matanya telah mengering.


Angel memeluk putranya sambil menangis tanpa suara, hanya Jason satu-satunya yang dia miliki.


“Angel sayang, kami mengerti kamu sangat terpukul, tapi kamu harus bangkit lagi demi putramu ya nak?” ucap Keira, ibu dari Fano.


Setelah itu Keira memeluk Angel.


“Kamu boleh menangis, boleh sedih... tapi pikirkan putramu juga, dia membutuhkanmu, kami akan selalu ada untuk membantumu disini” ucap Keira lagi.


Air mata Angel kembali mengalir.


‘Maafkan mama, Jason.’


***


“Selamat atas pernikahanmu, Laura!”


“Terimakasih...”


Hari itu adalah hari bahagia Laura, dia akhirnya menikah dengan Kaisar. Tidak dia hiraukan berbagai cacian dan hinaan dari orang iri yang mengomentari pernikahannya.


Yang Laura pedulikan hanyalah dia menjadi istri sah dari Kaisar, dia kini adalah nyonya Verdinand.


Kehamilan Laura mulai besar, umurnya sekitar empat bulanan.

__ADS_1


Acara tersebut cukup meriah, meski Laura meminta tidak terlalu mewah.


Setelah acara selesai, Laura sangat capek, dia pergi ke kamarnya terlebih dahulu, sedangkan Kaisar masih mengobrol dengan beberapa pria lain seperti Chris, dan teman-temannya.


Teman-teman Kaisar yang Laura hanya beberapa saja, Danny si pemilik rumah sakit besar, Ian ayahnya Airi, Sunghun ayah mertuanya Felly... lalu yang lain hanya tahu saja, belum menghafal namanya.


Laura tergeletak di atas ranjang karena sangat capek.


Pintu kamar terbuka, Laura pikir itu pasti Kaisar, jadi dia tidak mau repot-repot membuka mata.


Sampai kemudian sosok itu duduk lalu merangkak ke atas tubuhnya.


Aroma parfum yang berbeda dengan parfum milik Kaisar membuat Laura mau tak mau membuka matanya juga.


Ternyata David.


“Kau –” David buru-buru menutup mulut Laura dengan telapak tangannya, “sshh, jangan berbicara kencang-kencang... nanti ada yang dengar.”


David dan Ruka belum bercerai, karena David tidak bisa membuktikan jika Ruka selingkuh dengan Reza, jadi mereka balikan lagi. Maksudnya balikan, mereka tidak bercerai, tapi keduanya sudah pisah tempat tinggal. David sesekali  pergi ke Sanghai untuk membantu perusahaan Kaisar yang ada disana, sementara Ruka sudah pergi ke Jepang untuk membantu perusahaan ayahnya.


Sebenarnya, itu sama saja sudah bercerai sih menurut Laura, bedanya hanya tidak ada surat. Mungkin David akan resmi menceraikan Ruka jika sudah terbukti anak itu bukan anaknya, lagipula Ruka juga aneh sekali, menutup mulut atas tuduhan itu. Padahal jika memang dia tidak selingkuh, dia bisa bilang saja.


Laura kadang merasa, Ruka mulai mengetahui hubungannya dengan David dan Devon, karena tiba-tiba saja Ruka sudah tidak mau berbicara pada Laura. Pergi menghadiri pernikahan Laura saja tidak.


Yah, memang jika menjadi Ruka, Laura mungkin tidak akan memaafkan dirinya sendiri, karena pasti kelihatannya dia yang menggoda David atau Devon.


“Baiklah, lalu, apa yang kau lakukan disini?”


“Hanya ingin melihatmu, aku kangen...”


Tiba-tiba David menarik tubuh Laura untuk dipeluknya dengan erat.


“David, jangan begini...”


Bahkan, Laura sudah lelah untuk menolak David, dia sangat keras kepala. David lebih sering pergi ke Shanghai-Seoul sekarang, alasannya untuk membantu pekerjaan ayahnya, padahal dia hanya ingin mengganggu Laura lebih sering.


Devon sendiri juga mulai sibuk dengan perusahaan yang ada di Korea, milik keluarga ibunya. Perusahaan itu selain Devon, ada juga paman Devon, atau adik tiri ibunya Devon yang membantu, intinya dibagi dua.


Walau Devon selalu merasa pamannya itu berusaha menyingkirkannya dari perusahaan. Devon sangat marah, karena dia sudah baik hati mau membagi dua dengan pamannya tersebut, padahal perusahaan itu harusnya utuh diwariskan pada Devon dan David. Untungnya David membantu Devon mempertahankan perusahaan itu.


Di dalam dunia bisnis, Devon dan David itu sangat hebat, padahal masih muda, tidak butuh bantuan ayahnya sama sekali. Mereka cerdas, sama seperti ayahnya. Bahkan mereka cukup terkenal diantara para wanita, selalu ada saja wanita yang menempel pada mereka.


Tapi anehnya, anak kembar genius, cerdas dan hebat itu, bisa-bisanya tergila-gila pada Laura, yang sekarang sudah resmi menjadi ibu tirinya.


Mereka memang gila.


“Kamu rindu padaku, David?” tanya Laura.


David melonggarkan pelukannya, lalu tersenyum “tentu sa –”


David langsung terdiam saat Laura tiba-tiba saja mengulurkan tangannya, kemudian mengusak pelan kepala David.


“Kamu sekarang anak tiriku, David... panggil aku mama.”

__ADS_1


.


.


__ADS_2