
.
.
Mood Laura sepertinya buruk sekali, sepulangnya dari berbelanja dia hanya diam. Ada David datang mendekatinya, dia malah menjauh. Padahal David baru saja datang, dia sudah disambut oleh muka jutek Laura.
David jadi khawatir, dia pun bertanya pada Devon, dia hanya mengedikkan bahunya, Devon bilang, Laura juga jutek padanya dan tidak mau bicara. Kemudian David mendatangi Angel dan Fano, bertanya pada mereka, apa yang terjadi dengan Laura.
Angel pun membawa Jason dan mendekati Laura yang diam saja, duduk di balkon sambil meminum secangkir besar ukuran 700 ml berisi coklat panas.
“Laura, kamu kenapa?” tanya Angel.
Laura tersenyum tipis, jelas itu senyuman palsu.
“Aku baik-baik saja Angel, bawa Jason ke dalam, kasihan dia kedinginan nanti” ucap Laura.
“Bagaimana denganmu? Kamu nanti kedinginan juga kan? masuklah ke dalam, Laura.”
Laura menggeleng pelan, “tidak, biarkan aku disini, merasakan dinginnya udaha New York.”
“Jangan bodoh, kamu itu hamil, kasihan janin dalam perutmu jika kamu bersikeras seperti itu, coba katakan kamu kenapa!”
Laura merapatkan selimut tebal yang melingkupi tubuhnya, “Biarkan disini sebentar, kamu masuklah, nanti aku juga masuk... aku baik-baik saja, Angel.”
Angel pun menyerah, kemudian kembali lagi ke dalam.
“Tidak berhasil, Laura tetap masih mau diam disana” ucap Angel.
Fano datang lalu mengambil alih Jason, “biar aku yang menjaga Jason, kamu bicaralah dengan Laura, okay?”
“Mungkin adakita disini, jadi Laura merasa tidak nyaman, kita pergi saja ke restoran di bawah sana” ucap Devon.
David dan Fano pun setuju, mereka meninggalkan Angel dan Laura di apartemen.
Angel kembali mendekati Laura yang masih belum beranjak bahkan meski coklatnya sudah habis.
“Laura, masuklah, David, Devon dan Fano pergi ke restoran, membawa Jason juga, ayo...”
Laura mendongak menatap Angel, kali ini dia menurut dan mau masuk ke dalam bersama Angel.
“Apa kamu ada masalah, Laura?” tanya Angel, dia membawa Laura ke depan penghangat ruangan, agar Laura kembali hangat. Angel juga membuatkan teh hangat untuknya juga membawakan kookie hangat.
Laura tidak menjawab, dia hanya memakan kookie satu gigit, kemudian meminum tehnya.
“Terakhir kamu kayak gini dulu pas insecure karena ucapan istrinya Niko kan?”
Laura menoleh pada Angel, matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Sudah Angel duga pasti ada sesuatu.
Angel pun mendekati Laura kemudian memeluknya, “udah... coba cerita sini biar kamu lega, ya?”
“Tante Yue... istri saudara tirinya suamiku, dia – ternyata mantan selingkuhan... hiks.”
“Tunggu, jangan cerita sambil nangis, Tante Yue yang tadi jalan-jalan sama kamu kan?” tanya Angel.
Laura mengangguk, “iya... dia selingkuhan – hiks.”
“Mantan selingkuhan Om Kaisar?”
Laura mengangguk lagi, tapi tangisannya makin kencang saja.
Angel sempat mengetahui tante Yue itu, tapi hanya sekilas juga, dulu pernikahan Laura juga dia datang, punya anak remaja laki-laki tampan kalau tidak salah bernama Guan. Angel tahu karena Guan jadi bahan perbincangan karena ketampanannya. Adik sepupu Angel yang bernama Tari saja menyukainya, tapi akhirnya Tari dibawa pergi pacarnya, Lucas.
Tante Yue itu cantik sekali, tidak terlihat sudah berumur, hanya terlihat seperti wanita berumur 25 sampai 30 tahunan. Tubuhnya juga masih langsing singset.
Tidak heran sih, jika mantan selingkuhan Kaisar seperti itu, Laura pasti tertekan.
“Apa dia menceritakan apa yang dulu terjadi padamu?” tanya Angel.
Laura mengangguk lagi, kali ini dia terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
“Dia bilang, waktu itu dia masih remaja, saat Kaisar mabuk dan menidurinya, setelah itu dia terus dipaksa melakukan itu... aku tidak tahu itu benar atau tidak, tapi...”
Laura mencoba menenangkan dirinya, menghapus airmatanya dengan lengan sweaternya.
“Dia bilang begini... ‘aku hanya baik ingin mengingatkan padamu, jika Kaisar itu sama seperti pria yang lainnya. Harusnya kau mengetahui cerita kak Kai yang mencintai istrinya yang telah meninggal itu, Kak Lisa. Kak Kai secinta itu, tapi masih bisa berselingkuh... dengan aku yang jauh lebih muda. Kemudian coba lihatlah dirimu ini... tapi yah, bukan salahmu juga, kamu sedang hamil, tubuhmu membengkak, apalagi kamu suka makan makanan manis begini... lalu lihat wajahmu, kusam begitu kan? aku takutnya kejadian dulu terulang kembali, tidak sulit bagi kak Kai untuk mencari wanita muda seksi yang seperti apapun yang dia inginkan, iya kan?’ itu yang dia bilang.”
Emosi Angel langsung tersulut mendengar ucapan Laura tersebut, “dia mengatakan seperti itu? Itu namanya bukan karena dia peduli lagi, tapi karena dia memang ingin membuatmu memikirkannya dan jadi seperti ini, dia mau kamu insccure, Laura... itu tujuannya. Terus cerita yang dia mantan Om Kaisar itu bagaimana?”
Laura kembali berpikir, “Begini, dia bilang ‘Kejadiannya saat aku berumur 17 tahunan dan Kak Kai sekitar 20 tahunan... dia mendatangiku yang sedang stress, kemudian meniduriku, keesokan harinya saat dia sadar, dia kembali melakukannya. Saat itu kak Kai dan kak Lisa masih berpacaran sih. Kak Kai tergila-gila denganku, dia sangat menyukai tubuhku yang indah ini...’ itu yang dia bilang. Kemudian aku bilang jangan dilebih-lebihkan, dan dia menjawabku ‘Saat itu masih menjadi idol di Korea Selatan, kak Kai mendatangiku, diam-diam menarikku ke tempat sepi, lalu melakukan sesuatu denganku... dia tidak mau berhenti, meski aku sudah melarangnya. Padahal kak Lisa sudah sangat cantik, aku tidak mengerti kenapa kak Kai bisa seperti itu’ aku mengerti dia melebih-lebihkan ceritanya, maksudku – meski itu benar sekalipun, kenapa dia mau menceritakannya, iya kan?”
Angel mengangguk setuju, “dia bilang begitu pasti ingin menjatuhkanmu saja... sepertinya tante itu masih menyukai suamimu, Laura... padahal suaminya sendiri udah ganteng banget lho, ga ngerti lagi.”
Laura mengedikkan bahunya, “ga tau... tapi – jika sainganku kayak gitu...”
“Laura, jangan insecure gini dong, kamu juga cantik banget kok, mungkin kamu ngrasanya kamu gendut dan semacamnya, tapi sebenernya kamu baik-baik aja... coba deh kamu inget-inget waktu aku dulu hamil Jason, apa aku langsung jelek banget karena gendutan?” tanya Angel.
Laura masih ingat saat sahabatnya hamil, Angel bahagia saat itu, karena Dexter, suaminya yang sudah meninggal itu ada disisinya, tidak ada yang membuat Angel stress selain pernah diculik satu kali. Angel diculik karena penculik salah orang.
Maksudnya, Laura memiliki banyak tekanan sekarang.
Tapi, Angel benar juga, meski Angel gendutan seperti Laura, Angel dulu tetap cantik kok.
“Gak tau lah, aku mu tidur aja Ngel, capek...”
__ADS_1
Angel hanya menatapi Laura yang berjalan gontai menuju kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Kaisar datang, lalu Devon, David dan Fano juga datang.
Kaisar memasuki kamarnya, melihat Laura yang tidur di atas ranjang sambil menutupi seluruh badannya dengan selimut.
“Laura, kamu sudah makan malam?” tanya Kaisar.
“Gak mau makan” jawab Laura dengan cepat sambil menggumam.
“Tapi kamu nanti sakit, sayang...”
“Ugh, jangan ganggu aku! Aku mau tidur aja!”
Kaisar mengernyitkan dahinya, sepertinya ada yang aneh dengan Laura. Setelah itu Kaisarpun pergi dari kamar, menemui Angel dan bertanya padanya.
“Angel, Laura kenapa?”
“Oh, moodnya sedang buruk sekali, Om...” jawab Angel, dia tidak berani mengatakan yang sesungguhnya tentang tante Yue.
“Oh, begitu ya? Oke, terimakasih.”
Kaisar kembali lagi ke kamar, tanpa banyak bertanya, dia naik ke ranjang lalu memeluk Laura dari belakang.
“Sayang, mood mu sedang buruk ya? Mau pergi jalan-jalan? Mumpung ada di Amerika, tempat mana yang mau kamu kunjungi?” tanya Kaisar.
Pertanyaan itu ternyata ampuh untuk membuat Laura berbalik pada Kaisar.
“Malibu, aku mau ke Malibu...”
Kaisar tersenyum, “janji moodmu akan lebih baik?”
Laura mengangguk kecil, “eum...”
Kaisar mengecup kening Laura, “kalau begitu, besok pagi kita kesana, okay? Kamu gak laper?”
Laura menggeleng lalu memeluk Kaisar erat, “enggak...”
Namun, tepat setelah itu perut Laura malah berbunyi keras.
“Kamu bohong, itu perutmu bunyi!”
“Hehe, tapi aku males makan...”
“Laura sayang, ga boleh males makan gitu dong...”
.
__ADS_1
.